Istri yang Selalu Disuruh Tunduk Itu Menolak Berlutut, Lalu Rekaman Penghinaan di Rumah Membuat Suaminya Membeku

“Aku bilang, minta maaf kepada Maya.”

Suara Raka terdengar rendah, tetapi seluruh orang di ruangan itu tahu ia sedang menahan amarah.

Aku justru mengambil gelas air mineral di meja dan meneguknya perlahan.

Di sofa, Maya masih memegangi lengannya sambil meringis. Matanya mulai berkaca-kaca, seolah aku baru saja melakukan kejahatan besar.

“Kenapa aku harus minta maaf?”

Raka menatapku tajam.

“Kamu memukulnya sampai seperti itu.”

Aku mengangkat tangan yang sejak tadi memerah karena sepuluh pukulan Maya.

“Dia juga memukulku.”

“Itu permainan.”

“Pukulanku juga bagian dari permainan.”

“Nadira!”

Bentakan Raka membuat beberapa orang terdiam.

Kalau Nadira yang lama berada di sini, mungkin tubuhnya sudah gemetar. Dari ingatan yang tersisa di tubuh ini, aku tahu perempuan itu sangat takut ketika suaminya meninggikan suara.

Selama tiga tahun, setiap pertengkaran selalu berakhir sama.

Nadira menangis.

Raka pergi.

Lalu Nadira yang meminta maaf.

Bahkan ketika Raka yang salah.

Aku meletakkan gelas.

“Jangan berteriak kepadaku.”

Raka seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Apa?”

“Aku tidak tuli.”

Aku berdiri.

“Kalau tidak ada urusan lain, aku pulang.”

Maya tiba-tiba memanggil dengan suara lemah.

“Raka, jangan marahi Kak Nadira. Mungkin dia hanya sedang emosi karena melihat kita terlalu dekat.”

Aku berhenti.

Perempuan ini rupanya benar-benar tidak tahu kapan harus menutup mulut.

Aku menoleh.

“Maya.”

“Iya?”

“Kamu suka sekali menyebut dirimu sahabat Raka, kan?”

Dia tersenyum tipis.

“Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku cuma ingin memastikan.”

Aku menunjuk Raka.

“Kalau begitu tolong jaga sahabatmu malam ini. Pastikan dia pulang dengan selamat.”

Lalu aku mengambil tas.

“Karena aku tidak akan melakukannya.”

Wajah Raka berubah.

“Nadira, tunggu.”

Aku sudah keluar dari ruangan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Nadira Maheswari meninggalkan suaminya tanpa meminta izin.

Begitu tiba di rumah, aku langsung memahami kenapa kehidupan perempuan ini begitu menyedihkan.

Rumah mewah tiga lantai di kawasan Pondok Indah itu bahkan tidak terasa seperti rumahnya sendiri.

Foto keluarga Raka memenuhi ruang tamu.

Barang-barang pilihan ibu mertuanya memenuhi lemari.

Bahkan kamar utama lebih banyak berisi pakaian Raka.

Aku membuka ponsel Nadira.

Ratusan pesan lama tersimpan.

Sebagian besar berasal dari Raka.

Pulang.

Siapkan jas abu-abu.

Mama datang besok, jangan keluar.

Transfer uang ke rekening ini.

Maya ikut makan malam. Jangan membuat masalah.

Tidak ada kata sayang.

Tidak ada pertanyaan apakah Nadira sudah makan.

Tidak ada ucapan ulang tahun.

Aku terus menggulir sampai menemukan percakapan dengan ibu Raka, Ratna Pratama.

Pesannya lebih buruk.

Seorang istri harus tahu cara melayani suami.

Jangan membuat Raka malu.

Kalau Maya saja bisa mengerti sifat Raka, kenapa kamu sebagai istrinya tidak bisa?

Besok datang ke rumah Mama. Ada tamu. Pakai baju yang sopan dan jangan banyak bicara.

Aku tertawa kecil.

Luar biasa.

Perempuan ini menikah atau mendaftar menjadi pegawai tanpa gaji?

Pukul satu dini hari, suara mobil terdengar di halaman.

Raka pulang.

Ia masuk ke kamar dengan wajah dingin.

“Kita bicara.”

“Aku mengantuk.”

“Nadira.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Maya harus ke rumah sakit.”

“Semoga cepat sembuh.”

Rahang Raka mengeras.

“Kamu sama sekali tidak merasa bersalah?”

“Tidak.”

“Kamu berubah.”

Nah.

Akhirnya dia menyadarinya.

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Raka mendekat.

“Jangan pikir karena aku selama ini membiarkanmu tinggal nyaman di rumah ini, kamu bisa bertindak sesuka hati.”

Aku hampir tertawa.

Rumah ini?

Ingatan Nadira memberiku informasi yang menarik.

Tanah tempat rumah itu berdiri dibeli ayah Nadira sebagai hadiah pernikahan.

Renovasinya pun sebagian besar menggunakan uang keluarga Nadira.

Aku mengambil map dari laci meja.

“Kamu sedang bicara tentang rumah yang sertifikat tanahnya atas namaku?”

Raka membeku.

Aku meletakkan dokumen itu di meja.

“Kalau mau mengusir seseorang, setidaknya pastikan dulu rumah itu milikmu.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak memiliki jawaban.

Keesokan paginya masalah baru datang.

Ratna menelepon.

“Kamu datang ke rumah Mama sekarang.”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan.

Aku menjawab santai, “Ada apa?”

“Kamu masih berani bertanya? Maya sampai harus diperiksa dokter gara-gara kamu.”

“Kalau begitu jenguk Maya.”

“Nadira!”

Aku menjauhkan ponsel dari telinga.

“Jam sepuluh. Jangan terlambat.”

Telepon diputus.

Aku melihat layar beberapa detik.

Kemudian kembali tidur.

Aku datang pukul sebelas lewat dua puluh.

Ruang keluarga rumah keluarga Pratama sudah penuh.

Ratna duduk di tengah sofa seperti hakim.

Raka ada di sebelahnya.

Maya juga ada di sana dengan pergelangan tangan dibalut perban tipis.

Menarik.

Sangat dramatis.

“Nadira.”

Ratna menunjuk lantai di depannya.

“Berlutut.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Kamu harus meminta maaf kepada Maya.”

Maya buru-buru berkata, “Tante, sebenarnya tidak perlu.”

Namun wajahnya jelas menikmati situasi itu.

Ratna kembali menunjuk lantai.

“Berlutut.”

Ingatan tiba-tiba menghantam kepalaku.

Nadira pernah berada dalam situasi seperti ini.

Setahun setelah menikah, ia dituduh membuat Ratna tersinggung saat acara keluarga.

Perempuan itu dipaksa berlutut hampir satu jam.

Raka berada di sana.

Ia tidak membela istrinya.

Ia bahkan berkata, “Turuti Mama saja supaya masalah selesai.”

Dadaku mendadak sesak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena marah untuk perempuan yang tubuhnya sekarang kutempati.

Aku menatap Raka.

“Kamu juga ingin aku berlutut?”

Raka menghindari tatapanku.

“Kalau kamu meminta maaf dengan tulus, masalah ini selesai.”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

Maya tersenyum.

Ratna terlihat puas.

Kemudian aku menarik sebuah kursi dan duduk.

“Tapi bukan aku yang akan berlutut.”

Wajah Ratna memerah.

“Kamu kurang ajar!”

Ia berdiri dan mengangkat tangan.

Refleks tubuhku bekerja lebih cepat.

Aku menangkap pergelangan tangannya beberapa sentimeter sebelum telapak itu mengenai wajahku.

Semua orang terkejut.

Aku tidak mencengkeram keras.

Cukup kuat agar dia tidak bisa bergerak.

“Bu Ratna.”

Aku menatap matanya.

“Mulai hari ini, siapa pun yang mencoba menamparku harus siap menerima konsekuensinya.”

“Kamu mengancam Mama saya?” Raka berdiri.

Aku melepaskan tangan Ratna.

“Tidak. Aku sedang menetapkan batas.”

Aku mengambil tas.

“Dan satu lagi.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Aku ingin bercerai.”

Ruangan seketika sunyi.

Maya bahkan berhenti berpura-pura kesakitan.

Raka menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

“Kamu bercanda.”

“Aku serius.”

“Kamu pikir perceraian permainan?”

“Tidak. Justru karena bukan permainan, aku akhirnya memutuskan berhenti membuang waktu.”

Aku pergi sebelum mereka sempat menghentikanku.

Tiga hari berikutnya menjadi lebih menarik.

Aku menghubungi pengacara.

Memisahkan rekening.

Mengganti kata sandi.

Memindahkan dokumen pribadi.

Lalu aku menemukan sesuatu.

Nadira ternyata jauh lebih kaya daripada yang selama ini diketahui keluarga Pratama.

Ayahnya meninggalkan saham di beberapa perusahaan properti dan instrumen investasi atas namanya.

Selama menikah, sebagian pengelolaannya diserahkan kepada Raka karena Nadira mempercayai suaminya.

Kesalahan besar.

Aku meminta audit.

Hasil awal membuat pengacaraku terdiam.

Ada sejumlah transaksi yang tidak pernah disetujui Nadira.

Beberapa dana dialihkan ke perusahaan afiliasi keluarga Raka.

Dan salah satu penerimanya memiliki hubungan dengan bisnis milik kakak Maya.

Jadi ini bukan sekadar perselingkuhan emosional.

Ada uang di dalamnya.

Banyak uang.

Sementara audit berjalan, Raka berubah strategi.

Awalnya marah.

Kemudian mengancam.

Setelah itu menjadi lembut.

Suatu malam ia menungguku di ruang makan.

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

Aku membuka kulkas.

“Selamat.”

“Kita tidak perlu bercerai.”

Aku mengambil jus.

“Aku perlu.”

“Nadira, tiga tahun pernikahan tidak bisa dibuang begitu saja.”

Aku menatapnya.

Aneh.

Ketika istrinya menangis selama tiga tahun, dia tidak pernah mengatakan itu.

“Kamu mencintai Maya?”

Pertanyaanku membuatnya terdiam.

“Maya hanya teman.”

“Bagus. Setelah kita bercerai, kamu bebas berteman dengannya dua puluh empat jam sehari.”

Raka memijat pelipis.

“Kenapa kamu menjadi seperti ini?”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin karena aku akhirnya sadar bahwa cinta yang membuat seseorang kehilangan harga dirinya bukan cinta.”

Dua minggu kemudian, ledakan sebenarnya terjadi.

Hari itu keluarga Pratama mengadakan makan malam besar untuk merayakan ulang tahun Ratna.

Aku datang karena pengacaraku menyarankan satu percakapan terakhir mengenai penyelesaian aset.

Maya juga hadir.

Tentu saja.

Di tengah makan malam, Ratna tiba-tiba berkata keras-keras, “Perempuan sekarang memang aneh. Sedikit masalah rumah tangga langsung minta cerai.”

Beberapa kerabat memandangku.

Aku tetap makan.

Ratna melanjutkan.

“Padahal selama ini hidupnya ditanggung suami.”

Aku meletakkan sendok.

“Benarkah?”

Raka berbisik, “Nadira, jangan mulai.”

Aku membuka ponsel.

“Justru saya ingin menyelesaikannya.”

Aku menampilkan dokumen audit pada layar tablet.

“Selama tiga tahun, lebih dari dua belas miliar rupiah aset pribadi saya dialihkan tanpa persetujuan tertulis.”

Wajah Raka berubah.

Maya langsung pucat.

Ratna berdiri.

“Kamu menuduh keluarga kami mencuri?”

“Aku tidak menuduh.”

Aku menatap Raka.

“Aku punya bukti.”

Raka bangkit.

“Nadira, kita bicara di rumah.”

“Kenapa?”

Aku tersenyum.

“Takut orang lain mendengar?”

Ia meraih lenganku.

Aku langsung melepaskannya.

Saat itulah Maya kehilangan kendali.

“Sudah cukup!”

Semua mata tertuju padanya.

“Kak Nadira memang dari dulu seperti ini. Selalu membuat Raka tertekan. Raka sendiri pernah bilang dia menyesal menikahi perempuan selemah dan semanja Kak Nadira!”

Aku terdiam.

Bukan karena sakit hati.

Melainkan karena satu ingatan muncul.

Beberapa bulan lalu, Nadira memasang kamera keamanan kecil di ruang keluarga setelah beberapa barangnya hilang.

Kamera itu terhubung ke penyimpanan cloud.

Dan ternyata belum pernah dinonaktifkan.

Aku membuka aplikasi.

Ada ratusan rekaman.

Aku mencari tanggal tertentu.

Lalu memutarnya.

Suara Raka terdengar jelas dari tablet.

“Nadira, berlutut dan minta maaf kepada Mama.”

Kemudian suara Ratna.

“Perempuan seperti kamu harus diajari cara menjadi istri.”

Rekaman berikutnya.

Suara bentakan.

Suara benda pecah.

Suara Nadira menangis.

Lalu suara Raka lagi.

“Berhenti menangis. Kamu membuatku muak.”

Ruang makan membeku.

Wajah Raka kehilangan warna.

Aku memutar rekaman terakhir.

Yang ini baru dua bulan lalu.

Maya berada di rumah kami.

Suaranya terdengar tertawa.

“Kalau Nadira tahu sebagian uangnya dipakai menutup kerugian investasi itu, dia bakal bagaimana?”

Raka menjawab pelan.

“Dia tidak akan tahu.”

Maya tertawa lagi.

“Kalaupun tahu?”

Ada jeda.

Lalu suara Raka terdengar.

“Dia tidak akan berani meninggalkanku.”

Tak seorang pun bergerak.

Aku mematikan rekaman.

Raka menatapku.

“Nadira…”

Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajahnya.

Hanya ketakutan.

Mungkin saat itu dia akhirnya memahami sesuatu.

Selama ini bukan Nadira yang tidak mampu pergi.

Nadira hanya terlalu mencintainya untuk pergi.

Dan dia mengira cinta itu kelemahan.

“Aku bisa jelaskan,” katanya.

Aku berdiri.

“Tidak perlu.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Aku sudah terlalu banyak mendengarkan selama tiga tahun.”

Aku mengambil tas.

Pengacaraku yang menunggu di ruangan sebelah masuk bersama dua orang staf.

Aku meletakkan salinan laporan audit di meja.

“Mulai hari ini, komunikasi mengenai perceraian dan aset dilakukan melalui pengacara.”

Maya berdiri dengan wajah panik.

“Kak Nadira, soal uang itu aku tidak tahu semuanya.”

Aku menatapnya.

“Kamu benar.”

Dia tampak lega sesaat.

“Aku tidak terlalu peduli apakah kamu tahu semuanya atau hanya sebagian.”

Wajahnya kembali pucat.

Aku berbalik meninggalkan rumah.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Audit keuangan berkembang menjadi sengketa perdata dan pemeriksaan internal perusahaan. Sebagian dana berhasil dikembalikan. Raka kehilangan posisinya sebagai direktur setelah dewan perusahaan mengetahui sejumlah transaksi yang dilakukan tanpa prosedur yang semestinya.

Maya menghilang dari lingkaran pertemanan mereka begitu masalah keuangan mulai mencuat.

Ironisnya, perempuan yang selalu berkata akan menjadi sahabat Raka dalam keadaan apa pun adalah orang pertama yang menjaga jarak ketika keadaan benar-benar memburuk.

Aku menjual rumah lama.

Bukan karena membencinya.

Aku hanya tidak ingin tinggal di tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan milik seseorang yang bahkan tidak sempat hidup untuk dirinya sendiri.

Dengan sebagian uangku, aku membuka sebuah pusat kebugaran dan studio bela diri khusus perempuan di Jakarta.

Pada hari pembukaan, seorang perempuan muda mendatangiku.

Ia menatap papan nama studio.

NADIRA.

Hanya satu kata.

“Kenapa namanya Nadira?” tanyanya.

Aku terdiam.

Sulit menjelaskan bahwa nama itu adalah milik perempuan yang tidak pernah kukenal secara langsung, tetapi kesedihannya tinggal di tubuhku seperti bekas luka.

Aku akhirnya tersenyum.

“Karena aku pernah mengenal seorang perempuan bernama Nadira.”

“Dia hebat?”

Aku memandang pantulan diriku di kaca.

“Tidak pada awalnya.”

Perempuan itu terlihat bingung.

Aku melanjutkan.

“Dia terlalu sering mengalah sampai semua orang mengira dia tidak punya batas.”

“Lalu?”

“Suatu hari dia berhenti berlutut.”

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Aku mengenal kalimatnya.

Aku minta maaf.

Raka.

Aku membaca dua detik.

Lalu menghapusnya.

Tidak membalas.

Di kehidupan sebelumnya, aku selalu berpikir kekuatan berarti mampu menjatuhkan tujuh orang sekaligus.

Setelah hidup sebagai Nadira, aku baru mengerti bahwa ada bentuk kekuatan yang jauh lebih sulit.

Mengatakan tidak kepada orang yang kita cintai.

Pergi dari tempat yang terus melukai kita.

Dan memilih berdiri ketika seluruh dunia sudah terbiasa melihat kita berlutut.

Aku mematikan layar ponsel, membuka pintu studio, lalu melangkah masuk.

Kali ini bukan sebagai istri seseorang.

Bukan sebagai menantu seseorang.

Bukan sebagai perempuan yang harus meminta izin untuk memiliki hidupnya sendiri.

Namaku Nadira Maheswari.

Dan akhirnya, nama itu benar-benar menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang