Demam yang sengaja kubuat sendiri mungkin baru saja menyelamatkan hidupku.
Namun ketika Dinda dan Maya dibawa pulang sore itu, aku sadar keselamatan bukan berarti semuanya telah berakhir.
Dinda masuk ke rumah dengan selimut membungkus tubuhnya. Wajahnya pucat, bibirnya hampir tidak berwarna. Maya berjalan di belakangnya dengan langkah gemetar, ditemani dua polisi dan seorang perempuan dari tim medis.
Aku memaksakan diri turun dari tempat tidur.
“Dinda!”
Begitu melihatku, Dinda berhenti.
Matanya langsung merah.
Ia berlari memelukku begitu keras sampai tubuhku yang masih demam hampir kehilangan keseimbangan.
“Kak Rani…”
Tubuhnya gemetar hebat.
“Aku kira aku bakal mati.”
Aku memeluknya tanpa berkata apa-apa.
Di belakangnya, Maya menangis sambil menutup mulut.
“Laras mana?”
Pertanyaanku membuat ruang tamu mendadak sunyi.
Tante Ratih yang sejak tadi berdiri di dekat sofa langsung menatapku tajam.
“Jaga ucapanmu. Kakakmu juga korban.”

“Korban apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Seorang polisi bernama Inspektur Bima akhirnya memintaku duduk.
Ia menjelaskan bahwa kapal yang disewa Laras mengalami kerusakan mesin sekitar pukul sembilan malam. Menurut keterangan awal, listrik kapal mati ketika mereka berada cukup jauh dari dermaga.
Beberapa menit kemudian, air mulai masuk ke bagian belakang kapal.
Anehnya, pompa darurat tidak berfungsi.
Radio komunikasi juga mati.
Dinda dan Maya panik. Mereka berusaha mengambil jaket pelampung dari lemari penyimpanan.
Namun hampir seluruh jaket pelampung di sana rusak.
Tali pengikatnya telah dipotong.
Busa di beberapa jaket bahkan sudah dikeluarkan.
Aku merasakan telapak tanganku dingin.
“Laras pakai apa?”
Inspektur Bima menatapku.
“Jaket pelampung.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Yang normal?”
“Bukan hanya normal.”
Ia membuka sebuah foto di ponselnya.
“Ini jaket pelampung kelas premium dengan pemancar lokasi pribadi. Saat terkena air, perangkatnya otomatis mengirimkan sinyal darurat.”
Aku menatap foto itu lama.
Jaket berwarna merah terang dengan perangkat kecil di bagian bahu.
“Jadi hanya Laras yang punya pelampung seperti itu?”
“Benar.”
Dinda tiba-tiba berkata dengan suara serak.
“Dia memakainya bahkan sebelum kapal mati.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Dinda mengusap air mata.
“Sebelum makan malam, Kak Laras masuk kamar sebentar. Waktu keluar, dia sudah memakai jaket itu di balik mantel.”
Maya mengangguk.
“Aku sempat bercanda. Aku bilang dia berlebihan karena cuaca bagus. Tapi dia bilang angin malam di danau tidak bisa dipercaya.”
Dadaku seperti ditindih sesuatu.
“Lalu kalian?”
“Kami tidak diberi pelampung.”
Ruangan kembali sunyi.
Tante Ratih langsung menyela.
“Itu bukan bukti apa-apa. Laras memang lebih berhati-hati.”
Aku menatapnya.
“Kalau dia berhati-hati, kenapa dia tidak menyiapkan pelampung yang layak untuk adik-adiknya?”
Wajah Tante Ratih berubah.
“Rani!”
Inspektur Bima mengangkat tangan.
“Mohon tenang.”
Ia lalu menjelaskan bahwa mereka masih menyelidiki kapal tersebut. Kapten dan dua kru ditemukan selamat menggunakan perahu karet darurat. Mereka mengaku perahu itu diturunkan karena mengira para penumpang perempuan sudah menggunakan pelampung.
Namun ada satu hal yang membuat polisi curiga.
Kapal tersebut telah menjalani pemeriksaan keselamatan sehari sebelum keberangkatan.
Semua pelampung dinyatakan layak.
Radio berfungsi.
Pompa air juga normal.
Artinya, seseorang melakukan sesuatu setelah pemeriksaan.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul dua pagi, terdengar ketukan pelan.
Sari masuk sambil membawa sebuah tas.
“Non, saya menemukan ini di kamar Non Laras.”
Aku langsung menatapnya.
“Kenapa kamu masuk ke sana?”
“Tadi Tante Ratih menyuruh saya mengambil pakaian untuk dibawa ke rumah sakit.”
Laras masih dirawat karena hipotermia ringan.
Sari membuka tas itu.
Di dalamnya ada beberapa struk pembayaran, obat, dan sebuah amplop.
Aku mengambil salah satu struk.
Pembelian alat pelampung pribadi.
Tanggalnya dua minggu sebelum perjalanan.
Lalu aku menemukan sesuatu yang lebih aneh.
Empat polis asuransi perjalanan.
Atas nama Dinda.
Maya.
Nisa.
Dan aku.
Nilainya membuat tanganku gemetar.
Masing-masing lima miliar rupiah.
Penerima manfaatnya sama.
Laras Wiratama.
Aku menatap Sari.
“Kapan ini dibuat?”
“Sekitar sebulan lalu.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Keesokan paginya, aku menyerahkan dokumen itu kepada polisi.
Penyelidikan berubah total.
Polisi memeriksa perusahaan asuransi dan menemukan bahwa polis dibuat menggunakan tanda tangan digital kami.
Masalahnya, tidak satu pun dari kami merasa pernah menandatanganinya.
Lebih buruk lagi, ada salinan kartu identitas dan dokumen keluarga yang hanya bisa diakses orang dalam rumah.
Ketika Laras pulang dua hari kemudian, suasana rumah berubah seperti ruang interogasi.
Ia masih terlihat cantik meskipun wajahnya pucat.
Tante Ratih menggandengnya masuk.
Begitu melihatku, Laras berhenti.
“Syukurlah demammu sudah turun.”
Nada suaranya masih lembut.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku berdiri.
“Kenapa kamu membuat asuransi atas nama kami?”
Langkah Laras berhenti.
Tante Ratih langsung membentak.
“Rani, jangan mulai lagi!”
Aku meletakkan salinan polis di meja.
Wajah Laras kehilangan warna.
Hanya sebentar.
Lalu ia tersenyum.
“Itu bagian dari paket perjalanan.”
“Lima miliar per orang?”
“Perusahaan kapal menawarkan perlindungan tambahan.”
“Dan penerima manfaatnya kamu?”
Kali ini Laras tidak menjawab.
Dinda mulai menangis.
“Kak…”
Ia menatap Laras.
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang berbeda di mata Laras.
Bukan kelembutan.
Bukan ketenangan.
Melainkan rasa lelah yang sangat dalam.
“Aku tidak ingin membicarakannya sekarang.”
Ia berbalik.
Namun dua polisi muncul di pintu.
Inspektur Bima berjalan masuk.
“Sayangnya, kami harus membicarakannya sekarang.”
Laras dibawa untuk diperiksa.
Tetapi kejutan terbesar datang malam berikutnya.
Polisi menemukan rekaman kamera dari gudang kapal.
Seseorang masuk malam sebelum perjalanan dan merusak perlengkapan keselamatan.
Orang itu mengenakan topi dan masker.
Namun postur tubuhnya jelas seorang laki-laki.
Bukan Laras.
Aku bingung.
“Kalau bukan dia, siapa?”
Inspektur Bima menunjukkan foto hasil rekaman.
Aku mengenali jam tangan di pergelangan tangan laki-laki itu.
Aku pernah melihatnya ratusan kali.
“Itu Pak Hendra.”
Hendra adalah sekretaris pribadi ayah.
Ia sudah bekerja bersama keluarga kami hampir dua puluh tahun.
Polisi menangkapnya di sebuah hotel di Semarang.
Awalnya ia menyangkal.
Namun setelah rekening banknya diperiksa, ditemukan transfer dua ratus juta rupiah.
Pengirimnya sebuah perusahaan cangkang.
Perusahaan itu ternyata terhubung dengan Tante Ratih.
Aku merasa dunia berhenti berputar.
Tante Ratih.
Ibu Laras sendiri.
Polisi datang ke rumah malam itu.
Tante Ratih tidak melawan ketika dibawa pergi.
Ia hanya menatap Laras.
Tatapan mereka membuatku sadar ada sesuatu yang belum kami ketahui.
Tiga hari kemudian, Laras meminta bertemu denganku.
Kami duduk berhadapan di ruang pemeriksaan.
Tidak ada riasan di wajahnya.
Untuk pertama kalinya, kakakku terlihat seperti perempuan biasa yang sangat kelelahan.
“Aku memang tahu sesuatu akan terjadi di kapal,” katanya.
Aku mengepalkan tangan.
“Jadi kamu tahu?”
“Aku tahu Ibu merencanakan sesuatu.”
“Dan kamu tetap membawa kami?”
Air mata muncul di matanya.
“Aku tidak tahu rencananya akan sejauh itu.”
Aku tertawa pahit.
“Kamu membeli pelampung khusus.”
“Aku takut.”
“Lalu kenapa hanya untuk dirimu?”
Laras menunduk.
Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan terakhirnya.
“Aku pengecut.”
Aku terdiam.
Laras mulai menangis.
Sebulan sebelumnya, katanya, ia tanpa sengaja menemukan dokumen warisan ayah.
Selama ini kami mengira Laras akan menerima sebagian besar kekayaan karena ia anak dari istri pertama.
Ternyata tidak.
Ayah membagi saham perusahaan kepada kelima putrinya dengan porsi hampir sama.
Namun ada satu klausul.
Jika salah satu anak meninggal tanpa keturunan, kepemilikan sahamnya akan dibagi kepada saudara kandung yang masih hidup.
Tante Ratih mengetahui dokumen itu.
Ia marah.
Selama bertahun-tahun ia yakin Laras akan menjadi pewaris utama.
Lalu ia membuat rencana.
Jika empat anak dari perempuan lain meninggal dalam satu kecelakaan, seluruh saham mereka pada akhirnya akan terkonsentrasi pada Laras.
Laras mendengar sebagian percakapan ibunya dengan Hendra.
Ia curiga.
Namun tidak berani menghadapi ibunya.
“Aku pikir Ibu cuma mau menakut-nakuti kalian supaya Ayah mengubah pembagian warisan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu benar-benar berpikir begitu?”
“Aku ingin percaya begitu.”
Ia menghapus air matanya.
“Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Malam di kapal membuktikan semuanya.
Saat listrik mati, Laras melihat Hendra tidak ada di antara kru.
Kemudian air mulai masuk.
Ia menyadari ibunya benar-benar berniat membunuh kami.
Laras mencoba mengambil pelampung dari lemari.
Semuanya rusak.
Dinda dan Maya panik.
Nisa terjebak di kamar mandi ketika kapal mulai miring.
“Aku bisa saja melompat ke air,” kata Laras.
“Pelampungku punya pemancar. Tim penyelamat pasti menemukan aku.”
“Tapi kamu tidak melompat?”
Laras menggeleng.
“Aku melepasnya.”
Aku membeku.
Menurut Laras, ia memberikan pelampung itu kepada Nisa karena Nisa tidak bisa berenang.
Lalu Laras memaksa Dinda dan Maya memegang dua jeriken plastik kosong sebagai alat apung sementara.
Ia sendiri berenang ke bagian depan kapal untuk mencari radio cadangan.
Sinyal dari pelampung yang dipakai Nisa akhirnya diterima tim penyelamat.
Itulah alasan mereka semua selamat.
Aku menatapnya lama.
“Kenapa polisi bilang kamu ditemukan memakai pelampung?”
“Karena ketika petugas datang, Nisa sudah pingsan. Setelah dia dinaikkan ke perahu penyelamat, petugas memberikan pelampung itu kepadaku karena aku yang paling lama berada di air.”
Kesalahpahaman sederhana.
Namun justru itulah yang membongkar semuanya.
Kalau polisi tidak bertanya mengapa Laras memiliki pelampung berbeda, mereka mungkin menganggap kejadian itu kecelakaan biasa.
“Lalu polis asuransi?”
Laras menarik napas panjang.
“Aku yang membuatnya.”
Aku kembali marah.
“Tapi bukan untuk membunuh kalian.”
Ia menjelaskan bahwa setelah mencurigai ibunya, ia sengaja membeli polis atas nama kami untuk menciptakan jejak administratif.
Jika terjadi sesuatu, ia ingin ada alasan bagi pihak asuransi untuk menyelidiki.
“Aku menjadikan diriku penerima manfaat supaya polisi mencurigaiku lebih dulu.”
Aku terdiam.
“Itu rencanamu?”
“Rencana yang bodoh.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku terlalu takut melapor tanpa bukti. Aku pikir aku bisa mengendalikan keadaan.”
“Dan hampir membuat semua orang mati.”
“Iya.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya satu kata itu.
Iya.
Beberapa minggu kemudian, Tante Ratih dan Hendra resmi menjadi tersangka atas percobaan pembunuhan berencana. Penyelidikan juga menemukan bahwa Hendra telah memanipulasi catatan perawatan kapal dan menyuap seorang teknisi.
Ayah terpukul paling keras.
Dalam satu malam, ia kehilangan kepercayaan kepada istri yang telah hidup bersamanya puluhan tahun.
Ia mengumpulkan kami berlima di ruang keluarga.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kursi utama.
Tidak ada anak istri pertama.
Tidak ada anak istri kedua.
Tidak ada urutan berdasarkan ibu siapa yang lebih dihormati.
Kami duduk melingkar.
Ayah meletakkan dokumen warisan di meja.
“Aku kira membagi harta dengan adil akan membuat kalian aman.”
Suaranya bergetar.
“Ternyata aku lupa mengajarkan keluarga ini sesuatu yang lebih penting daripada cara membagi harta.”
Ia menatap kami satu per satu.
“Cara saling menganggap sebagai keluarga.”
Laras menangis.
Dinda menggenggam tangannya.
Maya menyandarkan kepala ke bahunya.
Nisa diam-diam mendekat.
Aku adalah orang terakhir yang tetap duduk di tempat.
Laras menatapku.
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia tersenyum kecil di tengah air mata.
“Karena aku sendiri belum bisa memaafkan diriku.”
Aku berdiri.
Kemudian duduk di sebelahnya.
Bukan karena semua kesalahan sudah hilang.
Bukan karena ketakutan malam itu bisa dilupakan.
Melainkan karena untuk pertama kalinya Laras berhenti menjadi kakak sempurna yang selalu tersenyum.
Ia akhirnya mengakui bahwa dirinya takut, lemah, dan pernah mengambil keputusan yang sangat salah.
Setahun kemudian, kami kembali ke Rawa Pening.
Bukan dengan kapal pribadi.
Kami duduk di sebuah warung sederhana dekat danau sambil menikmati teh hangat dan melihat matahari turun di balik perbukitan.
Dinda tiba-tiba tertawa.
“Lucu juga. Dulu Kak Rani sampai bikin diri sendiri demam supaya tidak ikut.”
Maya ikut tertawa.
“Strategi paling nekat dalam sejarah keluarga Wiratama.”
Aku memutar mata.
Laras yang duduk di depanku ikut tersenyum.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari tas.
Lima jaket pelampung baru.
Kami semua terdiam.
“Serius?” tanyaku.
Laras mengangkat bahu.
“Kalau suatu hari kalian mau naik kapal lagi.”
Dinda langsung melempar tisu ke arahnya.
Kami tertawa.
Untuk pertama kalinya, suara tawa itu tidak terasa palsu.
Aku memandang permukaan danau yang berkilau terkena cahaya senja.
Dulu aku mengira hal paling menakutkan malam itu adalah kapal yang hampir tenggelam.
Ternyata bukan.
Yang paling menakutkan adalah sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun tinggal di bawah satu atap, tetapi diam-diam saling memandang sebagai pesaing.
Dan hal yang menyelamatkan kami pada akhirnya bukan warisan, bukan uang, bahkan bukan pelampung mahal milik Laras.
Melainkan satu keputusan yang terlambat tetapi menentukan.
Keputusan untuk berhenti diam ketika sesuatu terasa salah.
Sejak hari itu, setiap kali seseorang berkata keluarga harus selalu dipercaya, aku hanya tersenyum.
Karena bagiku, keluarga bukan tentang percaya tanpa bertanya.
Keluarga adalah orang-orang yang cukup berani mengatakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu bisa menghancurkan rumah yang selama ini mereka sebut tempat pulang.
