Seorang Siswi Menghilang Setelah Ritual Gelang Biru, Guru Ini Menemukan Bukti yang Membongkar Rahasia Gelap Sekolah Mereka Malam Itu Juga

Aku baru menuruni tiga anak tangga menuju ruang bawah tanah ketika terdengar suara benda logam jatuh dari bawah.

Klang.

Aku berhenti.

Pak Dedi, petugas keamanan yang berjalan di belakangku, langsung menyalakan senter ponselnya.

“Bu Rani, tunggu polisi saja.”

“Kalau Nisa masih di bawah, kita tidak punya waktu.”

Bau lembap bercampur cat menusuk hidung saat kami mencapai lorong basement gedung laboratorium. Lampu di sana hanya menyala separuh. Di ujung koridor berdiri pintu besi gudang perlengkapan yang dicat merah.

Aku mendekat.

Ada goresan baru di sekitar gagang pintu.

“Nisa?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk.

“Nisa, ini Bu Rani. Kalau kamu ada di dalam, jawab Ibu.”

Sunyi.

Lalu terdengar sesuatu yang nyaris tak terdengar.

Gesekan.

Seperti sepatu menyeret lantai.

Pak Dedi langsung mengambil kunci cadangan dari sakunya. Tangannya gemetar saat mencoba memasukkannya ke lubang kunci.

Tidak bisa.

“Dikunci dari luar pakai gembok tambahan, Bu.”

Aku melihat sebuah gembok kecil menggantung di pengait bagian bawah. Warnanya hitam dan tampak baru.

“Potong.”

Pak Dedi berlari mengambil tang besar dari ruang teknisi.

Begitu gembok terlepas, kami mendorong pintu.

Aku tidak akan pernah melupakan pemandangan di baliknya.

Nisa meringkuk di antara tumpukan kardus.

Tangannya terikat dengan lakban.

Mulutnya ditutup kain.

Seragam putihnya kotor oleh debu dan cat merah. Pergelangan tangan kirinya lecet. Salah satu sepatunya hilang.

“Nisa!”

Aku berlutut dan melepaskan kain dari mulutnya.

Tubuh gadis itu langsung gemetar hebat.

“Bu…”

Hanya satu kata itu yang keluar sebelum ia menangis.

Pak Dedi memanggil polisi dan ambulans.

Aku hendak bertanya siapa yang melakukan ini, tetapi Nisa justru memegang lenganku kuat-kuat.

“Jangan bawa saya ke atas.”

“Kenapa?”

“Mereka masih di sana.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

Nisa tidak menjawab. Matanya terpaku pada gelang biru yang masih melingkar di pergelangan tanganku.

Aku baru sadar Keisya memberikannya kepadaku beberapa menit sebelum pelajaran dimulai.

Katanya sebagai tanda bahwa wali kelas juga bagian dari XI IPA 2.

Nisa tiba-tiba panik.

“Buang gelangnya, Bu!”

Aku segera melepaskannya.

“Kenapa?”

Nisa menunjuk simbol panah putih di gelang itu.

“Itu bukan simbol kelas.”

Polisi tiba beberapa menit kemudian. Nisa dibawa ke ambulans untuk diperiksa. Tidak ada cedera yang mengancam nyawanya, tetapi dokter menemukan memar di bahu dan belakang kepalanya.

Sebelum ambulans berangkat, aku duduk di sampingnya.

“Nisa, Ibu perlu tahu apa yang terjadi.”

Ia memandang ke luar jendela.

“Mereka bilang cuma permainan.”

“Siapa mereka?”

“Keisya, Bagas, dan beberapa anak lain.”

Menurut Nisa, gelang biru sudah menjadi tradisi tidak resmi selama hampir tiga tahun.

Setiap awal tahun ajaran, sekelompok siswa senior memilih beberapa murid yang dianggap berbeda.

Anak yang pendiam.

Anak penerima beasiswa.

Anak yang dianggap aneh.

Anak yang tidak punya banyak teman.

Mereka diberi gelang biru.

Di permukaan, gelang itu disebut simbol kekompakan.

Namun sebenarnya ada permainan tersembunyi bernama “Ritual Biru”.

Korban diberi tantangan yang semakin lama semakin mempermalukan.

Menyanyi sendirian di kantin.

Mengirim pesan cinta kepada guru.

Berdiri di lapangan saat hujan.

Masuk ke ruangan gelap sendirian.

Semua direkam.

Video itu kemudian disimpan sebagai bahan ancaman agar korban tidak bicara.

“Tapi kenapa seluruh kelas memakai gelangnya?” tanyaku.

Nisa tersenyum pahit.

“Supaya orang tidak tahu siapa korbannya.”

Dadaku terasa sesak.

“Lalu malam ini?”

Air mata Nisa kembali mengalir.

“Mereka bilang saya harus datang ke atap jam sembilan karena saya menolak tantangan terakhir.”

“Tantangan apa?”

Nisa menunduk.

“Mereka menyuruh saya melepas alat bantu dengar lalu berdiri di tengah lapangan saat latihan basket. Anak-anak akan melempar bola sambil saya menutup mata.”

Tanganku mengepal.

“Saya menolak. Jadi Keisya bilang saya harus menjalani ritual terakhir.”

Namun sesuatu berubah sore tadi.

Saat Nisa hendak mengambil tas dan pulang, Bagas serta dua siswa lain membawanya ke basement dengan alasan Keisya ingin meminta maaf.

Di sana mereka mengambil alat bantu dengarnya.

Nisa melawan.

Alat itu jatuh dan terinjak.

Noda cat merah yang kutemukan berasal dari lantai gudang.

“Mereka memukulmu?”

Nisa menggeleng.

“Bagas mendorong saya. Kepala saya kena rak.”

“Lalu darah di atap?”

Nisa tampak bingung.

“Saya tidak pernah ke atap.”

Aku langsung memahami rencananya.

Seseorang telah membawa potongan gelang, rambut, dan darah ke atap untuk menciptakan jejak palsu.

Pertanyaannya hanya satu.

Darah siapa?

Polisi kembali ke kelas dan memeriksa gelang setiap siswa.

Ketika giliran Bagas tiba, wajahnya berubah.

Noda kecokelatan pada gelangnya ternyata darah.

Tetapi bukan darah Nisa.

Itu darah Bagas sendiri.

Ada luka kecil di telapak tangannya.

“Aku kepotong kawat pagar,” katanya.

Seorang polisi bertanya, “Kapan?”

Bagas terdiam.

Aku melihat Alya.

Gadis itu menunduk.

“Alya.”

Ia tidak bergerak.

Aku mendekat.

“Kamu tidak harus melindungi siapa pun.”

Keisya langsung berdiri.

“Bu Rani, berhenti menekan teman saya!”

Alya tiba-tiba menangis.

“Bagas yang motong gembok atap!”

Kelas seketika hening.

Keisya menatap Alya seperti ingin menerkamnya.

“Diam!”

Namun semuanya terlambat.

Alya mulai bicara.

Bagas memang memotong gembok atap.

Ia juga meletakkan gelang dan beberapa helai rambut Nisa yang mereka ambil dari sisirnya.

Darah di lantai berasal dari luka tangan Bagas.

Tujuannya bukan benar-benar membuat Nisa jatuh.

Mereka ingin membuat seolah-olah Nisa sempat naik ke atap lalu menghilang.

Setelah kepanikan terjadi, Nisa akan dikeluarkan diam-diam melalui pintu servis belakang dan ditinggalkan beberapa kilometer dari sekolah.

Mereka ingin membuat video tentang “siswi hilang misterius” sebagai konten.

“Kalian melakukan semua ini demi konten?” tanyaku.

Bagas menunduk.

Namun Alya menggeleng.

“Bukan cuma itu, Bu.”

Keisya membentak, “Alya!”

“Cukup, Kei!”

Untuk pertama kalinya suara Alya terdengar keras.

Ia mengambil ponselnya.

“Aku capek.”

Kemudian ia membuka sebuah grup percakapan bernama Blue Circle.

Ada lebih dari dua ratus file di dalamnya.

Foto.

Video.

Daftar nama.

Catatan tantangan.

Bahkan tabel poin.

Setiap tindakan terhadap korban diberi nilai.

Membuat korban menangis, sepuluh poin.

Membuat korban bolos, dua puluh.

Membuat korban pindah sekolah, seratus.

Aku merasa mual.

Yang lebih mengerikan, grup itu sudah dibuat tiga tahun lalu.

Artinya Keisya bukan pendirinya.

“Siapa yang membuat grup ini?” tanyaku.

Alya menggigit bibir.

“Angkatan sebelumnya.”

“Siapa yang meneruskan tradisinya?”

Semua mata perlahan mengarah kepada Keisya.

Ibunya langsung berdiri.

“Jangan berani-berani memfitnah anak saya!”

Polisi meminta ponsel Keisya.

Keisya menolak.

Ibunya ikut menghalangi.

Namun setelah dijelaskan bahwa perangkat tersebut dapat menjadi barang bukti, perempuan itu akhirnya mundur.

Saat ponsel diperiksa, ditemukan sesuatu yang tidak kami duga.

Keisya bukan administrator utama.

Ada akun lain.

Nama pengguna itu hanya terdiri dari dua huruf.

BK.

Aku menatap layar.

BK.

Bimbingan Konseling?

Aku langsung teringat satu orang.

Pak Surya, guru BK yang telah bekerja di sekolah itu hampir delapan tahun.

Polisi meminta kami tidak menyimpulkan apa pun sebelum ada bukti.

Namun malam itu juga mereka memeriksa rekaman CCTV.

Pukul 15.17, terlihat Bagas dan dua siswa membawa Nisa menuju gedung laboratorium.

Pukul 15.26, Keisya menyusul.

Lalu pada pukul 16.03, seseorang masuk ke basement.

Pak Surya.

Ia berada di sana selama sebelas menit.

Ketika polisi mendatanginya, ia mengatakan hanya sedang memeriksa ruang penyimpanan.

“Tapi Nisa ada di dalam,” kataku.

Wajahnya tidak berubah.

“Saya tidak melihat siapa pun.”

“Mustahil.”

“Mungkin dia bersembunyi.”

Aku hampir kehilangan kendali.

Namun seorang polisi menghentikanku.

Kemudian ditemukan rekaman kamera lain.

Pukul 16.11, Pak Surya keluar dari basement membawa sebuah tas hitam.

Di dalam gudang, polisi menemukan tripod, kamera kecil, puluhan gelang biru, serta hard disk eksternal.

Isi hard disk itulah yang akhirnya membongkar semuanya.

Ritual Biru memang dimulai sebagai perundungan antarsiswa tiga tahun lalu.

Namun Pak Surya mengetahuinya sejak tahun pertama.

Alih-alih menghentikannya, ia memanfaatkan situasi itu.

Setiap kali ada korban yang mengadu, ia memanggil pelaku dan korban secara terpisah.

Kepada korban, ia mengatakan masalah tersebut akan diselesaikan secara internal demi nama baik sekolah.

Kepada pelaku, ia meminta seluruh video diserahkan sebagai “bukti”.

Namun video-video itu tidak pernah dihapus.

Ia menyimpannya.

Lebih buruk lagi, beberapa rekaman digunakan untuk menekan siswa yang terlibat agar tidak bicara ketika kasus lain muncul.

Sebuah lingkaran ketakutan tercipta.

Korban takut dipermalukan.

Pelaku takut masa lalunya terbongkar.

Sekolah terlihat tenang.

Dan orang dewasa yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan semuanya tumbuh.

Tetapi ada satu hal yang masih tidak masuk akal.

“Kalau Pak Surya tahu Nisa dikunci di gudang, kenapa dia membiarkannya?” tanyaku.

Jawabannya ditemukan di dalam tas hitam.

Ada salinan formulir pengaduan.

Nama pelapor tertulis jelas.

Nisa Aulia.

Ternyata tiga minggu sebelum tahun ajaran baru dimulai, Nisa sudah datang ke sekolah bersama ibunya.

Ia melaporkan bahwa kakaknya, Nadia, pernah menjadi korban Ritual Biru dua tahun sebelumnya.

Nadia akhirnya pindah sekolah setelah mengalami tekanan berat.

Nisa sengaja mendaftar ke sekolah yang sama karena ingin mencari bukti.

Ia menemukan akun lama milik kakaknya dan memperoleh akses ke beberapa percakapan Blue Circle.

Keisya mengetahui hal itu.

Pak Surya juga mengetahuinya.

Malam itu seharusnya bukan sekadar lelucon.

Mereka hendak mengambil ponsel Nisa dan menghapus bukti.

Rencana atap hanyalah pengalihan.

“Lalu tulisan pukul sembilan?” tanyaku kepada Nisa keesokan harinya di rumah sakit.

Ia terdiam lama.

“Aku yang menulis.”

Aku tercengang.

“Kertas segitiga itu?”

Nisa mengangguk.

“Saya tahu mereka akan melakukan sesuatu setelah sekolah. Saya sengaja menulis lokasi yang sering mereka gunakan untuk ritual, supaya kalau saya hilang, seseorang mulai mencari.”

“Kenapa tidak langsung cerita kepada Ibu?”

Nisa tersenyum sedih.

“Karena Ibu baru datang.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun.

Seorang anak tidak tahu orang dewasa mana yang bisa dipercaya.

Seminggu kemudian, sekolah membentuk tim investigasi independen. Pak Surya dinonaktifkan selama proses hukum dan pemeriksaan berlangsung. Beberapa siswa yang terbukti terlibat mendapat sanksi sesuai tingkat keterlibatan mereka, sekaligus diwajibkan mengikuti pendampingan psikologis.

Keisya akhirnya mengakui bahwa dirinya juga pernah menjadi korban Ritual Biru ketika kelas sepuluh.

Ia kemudian memilih menjadi bagian dari kelompok itu.

“Kalau aku jadi orang yang memilih korban,” katanya sambil menangis di ruang pemeriksaan, “berarti aku tidak akan dipilih lagi.”

Aku tidak bisa membenarkan tindakannya.

Namun untuk pertama kalinya aku memahami bagaimana kekerasan bisa diwariskan.

Korban tidak selalu berubah menjadi penyelamat.

Kadang korban yang ketakutan memilih berdiri di sisi orang yang pernah menyakitinya.

Tiga bulan kemudian aku kembali mengajar XI IPA 2.

Tidak ada lagi gelang biru.

Kursi Nisa tidak kosong.

Ia duduk di belakang bersama Alya, memakai alat bantu dengar baru.

Saat aku masuk, kelas menjadi hening.

Aku meletakkan buku di meja.

Sebelum memulai pelajaran, Nisa mengangkat tangan.

“Bu, boleh saya tanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Waktu itu kenapa Ibu langsung curiga saya belum pulang?”

Aku memandangnya.

Aku tentu tidak bisa menjelaskan tulisan merah yang pernah muncul di depan mataku.

Anehnya, sejak malam itu tulisan tersebut tidak pernah muncul lagi.

Aku hanya tersenyum.

“Karena tasmu masih ada.”

Anak-anak tertawa kecil.

Nisa ikut tersenyum.

Namun setelah pelajaran selesai, ketika semua siswa meninggalkan kelas, aku melihat sesuatu di bawah meja guru.

Sebuah gelang plastik.

Bukan biru.

Merah.

Aku mengambilnya.

Tidak ada nama.

Tidak ada simbol panah.

Hanya sebuah kalimat kecil yang ditulis dengan spidol hitam.

TERIMA KASIH SUDAH MENCARI SEBELUM SEMUA ORANG PERCAYA AKU PERGI.

Aku menoleh ke pintu.

Nisa sudah berdiri di sana.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya mengangguk kecil sebelum berjalan pergi bersama Alya.

Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama ini luput dari kami semua.

Bahaya terbesar di sekolah bukan selalu anak yang paling nakal atau perundungan yang paling terlihat.

Kadang bahaya tumbuh justru ketika puluhan orang mengetahui sesuatu yang salah, tetapi masing-masing berharap orang lain yang akan menghentikannya.

Dan malam ketika Nisa menghilang, yang menyelamatkannya bukan keajaiban.

Melainkan satu keputusan sederhana yang seharusnya dilakukan setiap orang dewasa sejak awal.

Tidak menganggap ketakutan seorang anak sebagai permainan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang