Selama Bertahun-Tahun Ibu Menentukan Nasibku dengan Koin, Sampai Aku Menemukan Rahasia Kejam yang Mengubah Seluruh Hidupku Selamanya di Hari Itu

Koin itu terasa dingin di telapak tanganku.

Aku membaliknya sekali.

Angka.

Kubalik lagi.

Angka.

Tidak ada gambar garuda seperti koin yang baru saja dilempar Ibu.

Tidak ada kemungkinan lain.

Selama hampir sepuluh tahun, setiap kali Ibu berkata nasibku akan ditentukan oleh keberuntungan, sebenarnya keputusan itu sudah dibuat bahkan sebelum koin dilempar.

Aku memang tidak pernah diberi kesempatan untuk pulang.

“Ibu tahu soal ini?” tanyaku.

Tak ada yang menjawab.

Ayah yang sejak tadi berdiri di dekat mobil menundukkan kepala. Siska membuang muka. Bahkan Dimas yang biasanya paling ribut mendadak diam.

Aku menatap Ibu.

“Ibu tahu?”

“Rani, jangan bikin keributan di depan rumah Nenek.”

Aku tertawa kecil.

Aneh sekali.

Setelah bertahun-tahun menangis setiap kali mobil mereka pergi meninggalkanku, hari itu aku justru tidak bisa menangis.

“Jadi selama ini bukan karena aku sial.”

“Sudah kubilang jangan mulai.”

“Jawab aku!”

Suara itu keluar begitu keras sampai aku sendiri terkejut.

Ibu menatapku tajam.

“Kamu mau tahu jawabannya?”

Nenek langsung memotong.

“Marni, jangan.”

Namun Ibu seperti sudah kehilangan kesabaran.

“Iya. Koin itu memang sudah diatur.”

Dadaku sesak.

“Kenapa?”

“Karena kalau Ibu bilang terus terang kamu tidak boleh ikut, kamu pasti menangis. Dengan koin itu, setidaknya kamu belajar menerima kenyataan.”

“Menerima kenyataan apa?”

Ibu terdiam.

Aku menatap Ayah.

“Ayah?”

Ayah mengusap wajahnya.

“Kita bicarakan nanti.”

“Tidak. Sekarang.”

Aku menunjuk mobil.

“Setiap tahun kalian datang. Setiap tahun aku menunggu. Aku menghitung hari. Aku bahkan tidur memakai baju bagus malam sebelumnya karena kupikir besok aku akan pulang bersama kalian.”

Bibirku mulai gemetar.

“Aku cuma mau tahu kenapa.”

Nenek tiba-tiba mencengkeram lenganku.

“Masuk rumah, Rani.”

“Nek…”

“Masuk.”

Nada suaranya berbeda.

Ada ketakutan di sana.

Saat itulah aku sadar.

Nenek mengetahui sesuatu.

Aku menatapnya lama.

“Nenek tahu?”

Wajah perempuan yang membesarkanku sejak kecil itu langsung pucat.

Ibu mendecakkan lidah.

“Sudahlah. Kalau memang mau tahu, sekalian saja.”

“Marni!” bentak Nenek.

Namun Ibu sudah menunjuk ke arahku.

“Karena dia bukan anakku.”

Dunia seperti berhenti.

Aku bahkan tidak langsung memahami kalimat itu.

“Apa?”

“Kamu bukan anak kandungku.”

Aku memandang Ayah.

Ayah tidak menyangkal.

Lututku mendadak lemas.

“Kalau begitu… aku anak siapa?”

Ibu tertawa hambar.

“Itu yang seharusnya kamu tanyakan kepada nenekmu.”

Aku menoleh.

Nenek menangis.

“Nek?”

Ia menarik tanganku masuk ke rumah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan yang selalu kukenal kuat itu gemetar hebat.

Di kamar belakang, Nenek membuka lemari kayu tua. Dari bagian paling bawah, ia mengeluarkan sebuah kotak besi berkarat.

Di dalamnya ada kain bayi, gelang rumah sakit, dan sebuah foto.

Tanganku membeku saat mengambilnya.

Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda menggendong bayi.

Perempuan itu sangat cantik.

Dan wajahnya…

Mirip denganku.

“Nenek, siapa dia?”

Nenek duduk di tepi ranjang.

“Namanya Ratih.”

Aku menunggu.

“Dia anak sulung Nenek.”

Aku menatap foto itu lagi.

“Berarti dia…”

“Ibumu.”

Napas seakan berhenti di tenggorokanku.

Selama hidup, aku mengira Ibu Marni adalah anak perempuan satu-satunya Nenek.

Ternyata ada seseorang sebelum dia.

Ratih.

Ibuku.

“Di mana dia sekarang?”

Nenek menutup wajah.

“Sudah meninggal.”

Aku terduduk.

Nenek kemudian menceritakan semuanya.

Ratih menikah muda dengan seorang pria bernama Bagus. Mereka tinggal di Semarang dan membuka usaha percetakan kecil. Bisnis itu berkembang cepat. Beberapa tahun kemudian mereka membeli tanah, rumah, dan beberapa kios.

Saat aku berusia dua tahun, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Yogyakarta.

Mereka meninggal pada hari yang sama.

Sebelum meninggal, Ayah kandungku ternyata membuat surat wasiat.

Sebagian besar aset mereka diwariskan kepadaku.

Namun karena aku masih kecil, aset itu harus dikelola wali sampai aku berusia delapan belas tahun.

Wali yang ditunjuk adalah adik ibuku.

Marni.

Perempuan yang selama ini kupanggil Ibu.

Aku memandang Nenek tidak percaya.

“Kalau aku punya warisan, kenapa aku hidup seperti ini?”

Pertanyaan itu membuat Nenek menangis lebih keras.

Ia mengambil sebuah map plastik dari kotak besi.

Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen.

Sertifikat tanah.

Surat kepemilikan kios.

Buku tabungan lama.

Dan surat wasiat.

Namaku tercetak jelas di sana.

Rani Kusuma Ratih.

“Marni bilang semua aset itu sudah habis untuk membayar utang orang tuamu,” kata Nenek. “Nenek percaya.”

Aku membaca dokumen satu demi satu.

Lalu menemukan sesuatu yang aneh.

Salah satu kios beralamat di Bekasi.

Perumahan Taman Bahagia.

Blok C.

Nomor 11.

Tanganku langsung dingin.

“Itu rumah mereka.”

Nenek terdiam.

Aku menunjukkan dokumen itu.

“Rumah yang katanya dibeli Ayah dan Ibu setelah bertahun-tahun menabung… ini milik orang tua kandungku?”

Tak ada jawaban.

Aku langsung keluar.

Ibu masih berdiri dekat mobil.

Aku mengangkat dokumen itu.

“Rumah di Bekasi itu milikku?”

Wajah Ibu berubah.

Ayah segera maju.

“Rani, dengarkan dulu.”

“Rumah itu milikku?”

Siska merebut dokumen dari tanganku.

“Apa-apaan sih?”

Ia membacanya.

Wajahnya ikut pucat.

Aku menatap Ibu.

“Selama ini kalian tinggal di rumah warisanku?”

Ibu mendengus.

“Kami yang merawatmu.”

“Kapan?”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

“Kapan Ibu merawatku?”

Aku menunjuk rumah Nenek.

“Sejak kecil aku tinggal di sini. Nenek yang membayar sekolahku. Nenek yang memasak untukku. Waktu aku demam, Nenek yang menggendongku ke puskesmas.”

Aku menunjuk mobil mereka.

“Sedangkan kalian datang setahun sekali untuk melempar koin palsu.”

“Jaga bicaramu!”

“Uang warisanku ke mana?”

Ayah akhirnya bicara.

“Sebagian dipakai untuk kebutuhan keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Sunyi.

Aku tertawa pahit.

“Ternyata benar. Keluarga kalian memang cuma empat orang.”

Siska tiba-tiba berkata, “Jangan sok jadi korban. Kalau bukan karena Mama, aset itu mungkin sudah hilang.”

Aku menatap sepatu mahalnya.

Lalu mobil keluarga.

Lalu ponsel terbaru yang digenggam Dimas.

Untuk pertama kalinya, semuanya terasa jelas.

“Uang kuliahmu?”

Siska membeku.

“Lesmu?”

Ia mundur.

“Mobil ini?”

Ayah memalingkan muka.

“Renovasi rumah?”

Tak seorang pun menjawab.

Ibu akhirnya meledak.

“Memangnya salah kalau kami memakai sedikit? Kami wali kamu!”

“Sedikit?”

“Kamu pikir membesarkan anak gratis?”

“Tapi Ibu tidak membesarkanku!”

Kalimat itu membuat semua orang diam.

Ibu menatapku penuh kemarahan.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Seharusnya kamu bersyukur kami masih mengakuimu sebagai anak.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena ibumu yang menghancurkan hidupku!”

Nenek menjerit, “Marni!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Ternyata ada luka lama yang selama ini disembunyikan.

Saat muda, Marni selalu hidup di bawah bayang-bayang Ratih.

Ratih lebih pintar. Lebih disayang keluarga. Menikah dengan pria mapan. Memiliki usaha yang berhasil.

Sementara Marni berkali-kali gagal dalam pekerjaan dan terlilit utang bersama suaminya.

Ketika Ratih meninggal dan Marni ditunjuk sebagai wali, menurutnya itu seperti penghinaan terakhir.

“Kakakmu sudah mati,” kata Nenek dengan suara bergetar. “Tapi kamu masih iri kepadanya?”

Ibu tertawa getir.

“Bahkan setelah mati, dia meninggalkan anak yang punya lebih banyak harta daripada anak-anakku sendiri.”

Akhirnya aku memahami semuanya.

Aku bukan dibuang karena membawa sial.

Aku dibuang karena setiap kali melihatku, Ibu melihat kakak yang dibencinya.

Namun hartaku tidak pernah dibenci.

Malam itu mereka pergi tanpa aku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak mengejar mobil mereka.

Aku juga tidak menangis.

Keesokan paginya, aku membawa semua dokumen bersama Nenek menemui seorang pengacara di Magelang.

Awalnya kupikir semuanya sudah terlambat.

Ternyata belum.

Karena aku masih di bawah umur ketika sebagian transaksi dilakukan, beberapa pengalihan aset membutuhkan prosedur khusus. Pengacara menemukan tanda tangan yang tidak sesuai, laporan pengelolaan aset yang tidak pernah dibuat, dan transaksi yang mencurigakan.

Yang lebih mengejutkan, rumah Bekasi ternyata belum pernah berpindah kepemilikan secara sah.

Namaku masih tercantum sebagai penerima manfaat dalam dokumen warisan.

Beberapa kios memang sudah dijual.

Namun jejak uangnya masih dapat ditelusuri.

Enam bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Ibu menelepon hampir setiap hari.

Awalnya marah.

Kemudian membujuk.

Lalu menangis.

“Rani, pikirkan Dimas. Dia masih sekolah.”

Aku menjawab pelan, “Waktu aku masih sekolah, siapa yang memikirkan aku?”

Siska mengirim pesan panjang.

Katanya aku egois karena menghancurkan keluarga hanya karena uang.

Aku tidak membalas.

Ayah datang ke desa sendirian.

Ia duduk di teras rumah Nenek hampir satu jam.

“Ayah minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Ayah tidak pernah menghentikan Ibu?”

Ia tidak bisa menjawab.

Dan saat itu aku memahami satu hal penting.

Kadang orang yang diam saat ketidakadilan terjadi bukan berarti tidak mengetahui apa yang salah.

Mereka hanya memilih kenyamanan mereka sendiri.

Setelah aku berusia delapan belas tahun, proses hukum memasuki tahap penting.

Sebagian aset berhasil dikembalikan.

Rumah di Bekasi harus dikosongkan.

Aku tidak pernah melupakan hari ketika datang ke sana bersama pengacara.

Rumah itu masih sama seperti yang kulihat dua tahun sebelumnya.

Namun foto keluarga empat orang di ruang tamu sudah tidak ada.

Ibu berdiri di tengah ruangan dengan mata sembap.

“Kamu puas sekarang?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu mengusir keluarga sendiri.”

Aku memandang sekeliling.

Lalu mataku berhenti pada dinding tempat foto keluarga itu dulu tergantung.

“Aku pernah berdiri di luar pagar rumah ini,” kataku.

Ibu terdiam.

“Dua tahun lalu. Waktu ulang tahun Dimas.”

Wajahnya berubah.

“Aku melihat kalian makan kue bersama.”

Aku menahan napas.

“Aku melihat foto keluarga kalian di dinding.”

Ibu tidak berkata apa-apa.

“Waktu itu aku cuma ingin masuk. Bahkan kalau harus tidur di lantai, aku mau.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tapi ternyata rumah yang membuatku merasa seperti orang asing itu adalah rumah peninggalan orang tuaku sendiri.”

Ibu duduk perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.

Aku tidak mengambil semua yang bisa kuambil.

Atas saran Nenek, sebagian uang hasil pemulihan aset kusisihkan untuk pendidikan Dimas karena dia tidak pernah benar-benar memahami apa yang dilakukan orang tuanya.

Namun ada satu syarat.

Uang itu tidak boleh dikelola Ibu atau Ayah.

Siska marah ketika tahu.

“Kenapa Dimas dapat, aku tidak?”

Aku hanya menjawab, “Karena aku tidak ingin dia tumbuh dengan membayar kesalahan orang lain.”

Beberapa bulan kemudian aku diterima di sebuah universitas di Yogyakarta.

Hari sebelum keberangkatan, Nenek memberiku kotak besi peninggalan ibuku.

Di dalamnya aku menemukan satu amplop yang belum pernah kulihat.

Tulisan di bagian depan sudah memudar.

Untuk Rani ketika dewasa.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Itu surat dari ibu kandungku.

Ia menulis surat tersebut sebelum perjalanan terakhirnya.

Di bagian akhir ada satu kalimat yang membuatku menangis sampai sulit bernapas.

Jika suatu hari Ibu tidak bisa menemanimu memilih jalan hidupmu, jangan biarkan siapa pun membuatmu percaya bahwa nasibmu ditentukan oleh keberuntungan. Hidupmu adalah milikmu. Pilihlah sendiri.

Aku teringat koin dua sisi.

Bertahun-tahun aku percaya sebuah benda kecil menentukan apakah aku pantas memiliki keluarga.

Padahal bukan koin itu yang menentukan hidupku.

Bukan pula Marni.

Aku memasukkan surat itu ke dalam tas.

Sebelum berangkat, aku berjalan ke belakang rumah dan mengambil koin palsu yang selama ini kusimpan.

Nenek melihatku.

“Mau dibuang?”

Aku menggeleng.

Aku memasukkannya ke dalam dompet.

“Buat apa disimpan?”

Aku tersenyum.

“Supaya aku ingat.”

“Ingat apa?”

Aku memandang jalan di depan rumah, jalan yang dulu kulewati setiap pagi menuju sekolah sambil bertanya-tanya mengapa aku selalu menjadi anak yang tertinggal.

“Bahwa kalau seseorang memberiku pilihan yang sudah diatur supaya aku kalah, aku tidak harus terus melempar koinnya.”

Nenek tersenyum sambil menangis.

Aku memeluknya erat.

Kemudian aku melangkah pergi.

Bukan menuju rumah di Bekasi.

Bukan menuju keluarga yang selama bertahun-tahun menolakku.

Aku menuju hidup yang kupilih sendiri.

Dan sejak hari itu, setiap kali harus mengambil keputusan besar, aku tidak pernah lagi melempar koin.

Karena akhirnya aku tahu.

Nasib bukanlah sisi gambar atau angka yang jatuh di telapak tangan orang lain.

Nasib adalah keberanian untuk mengambil kembali hidup kita ketika seseorang telah terlalu lama memilihkannya untuk kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang