Dua hari kemudian, aku pulang lebih cepat dari jadwal kontrol.
Dan mungkin, kalau hari itu aku pulang tiga puluh menit lebih lambat, pernikahanku akan bertahan sedikit lebih lama di atas kebohongan.
Arga pagi-pagi sekali mendapat panggilan dari rumah sakit. Katanya ada rapat mendadak dan ia tak bisa menemaniku kontrol.
“Aku sudah minta perawat menyiapkan semuanya. Tinggal datang saja,” katanya sambil memasang jam tangan.
Aku tidak kecewa.
Entah sejak kapan, tidak berharap ternyata jauh lebih ringan daripada terus-menerus dikecewakan.
Setelah kontrol, dokter mengatakan pemulihanku cukup baik. Aku memesan taksi dan tiba di apartemen menjelang siang.
Begitu pintu terbuka, aku mendengar suara pengering rambut.
Aku berhenti.

Suara itu berasal dari ruang tamu.
Dengan tongkat di tangan, aku berjalan perlahan melewati lorong.
Lalu aku melihatnya.
Nabila duduk di sofa rumah kami.
Rambutnya basah. Tubuhnya dibalut kemeja putih kebesaran yang langsung kukenal sebagai kemeja Arga.
Dan Arga berdiri di belakangnya sambil mengeringkan rambut perempuan itu dengan hair dryer milikku.
Tangannya sesekali mengangkat rambut Nabila dengan gerakan hati-hati.
Pemandangan itu begitu sederhana.
Justru karena itulah rasanya sangat menyakitkan.
Aku pernah demam sampai menggigil di kamar mandi dan Arga hanya meletakkan obat di meja sebelum berangkat.
Aku pernah meminta bantuannya mengeringkan rambut karena tanganku terkilir setelah kecelakaan kecil di kantor.
Jawabannya waktu itu singkat.
“Kamu bukan anak kecil, Maya.”
Sekarang lelaki yang sama berdiri dengan sabar di belakang perempuan lain.
Arga melihatku lebih dulu.
Tangannya langsung berhenti.
“Maya?”
Nabila menoleh. Wajahnya pucat.
“Kok kamu sudah pulang?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Arga.
Bukan, “Bagaimana kontrolmu?”
Bukan, “Kakimu sakit?”
Melainkan kenapa aku sudah pulang.
Seolah aku tamu yang datang terlalu cepat ke rumah sendiri.
Aku menatap Nabila.
“Kenapa dia memakai bajumu?”
Arga mematikan hair dryer.
“Tadi dia kehujanan.”
“Di mana?”
“Dekat rumah sakit.”
“Lalu?”
“Aku membawanya ke sini karena apartemennya jauh. Bajunya basah.”
Aku mengangguk perlahan.
“Dan dari seluruh tempat di Jakarta, pilihan paling masuk akal adalah membawa dia ke rumah kita, menyuruhnya mandi, memakaikan kemejamu, lalu mengeringkan rambutnya?”
“Maya, jangan mulai.”
Kalimat itu.
Lagi-lagi kalimat itu.
Nabila berdiri.
“Mbak Maya, jangan salah paham. Aku bisa jelaskan.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak bertanya kepadamu.”
Dia terdiam.
Arga meletakkan hair dryer dengan kasar.
“Dia hampir pingsan karena kedinginan. Aku dokter.”
Aku tertawa kecil.
“Dokter ortopedi?”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan, “Bukankah itu jawabanmu waktu aku demam? Kamu bilang kamu dokter tulang, bukan dokter penyakit dalam.”
“Maya.”
“Sekarang ternyata spesialisasimu juga termasuk mengeringkan rambut pasien?”
Nabila mengambil tasnya.
“Aku pergi saja.”
Arga menahan lengannya.
“Tidak perlu. Kamu belum benar-benar sehat.”
Gerakan itu kecil.
Namun cukup.
Aku melihat tangan suamiku menggenggam pergelangan tangan perempuan lain dengan kelembutan yang selama bertahun-tahun kuminta tanpa pernah mendapatkannya.
Sesuatu di dalam diriku akhirnya mati.
Bukan cinta.
Mungkin harapan.
Aku masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa.
Arga menyusul.
“Maya, dengarkan aku.”
Aku membuka lemari.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Mengambil barang.”
“Kamu mau pergi hanya karena hal seperti ini?”
Tanganku berhenti.
Aku menoleh.
“Hal seperti ini?”
“Kamu tahu maksudku. Tidak ada apa-apa antara aku dan Nabila.”
“Aku tidak pernah bilang kalian tidur bersama.”
Arga terdiam.
Aku tersenyum tipis.
“Lucu, ya? Selama ini kamu selalu berpikir pengkhianatan hanya dimulai kalau dua orang masuk ke ranjang yang sama.”
Aku memasukkan pakaian ke koper kecil.
“Padahal setiap kali aku membutuhkanmu dan kamu memilih dia, kamu sudah mengkhianatiku sedikit demi sedikit.”
“Itu tidak adil.”
“Yang tidak adil adalah aku patah tulang sendirian sementara suamiku menemani perempuan lain di acara peluncuran produk.”
“Nabila kesakitan.”
“Aku juga.”
Untuk pertama kalinya Arga kehilangan jawaban.
Aku mengeluarkan sebuah map dari laci.
Di dalamnya ada dokumen yang sudah kusiapkan sejak semalam.
Permohonan konsultasi perceraian.
Arga merampasnya.
“Kamu serius?”
“Ya.”
“Maya, kita cuma sedang bertengkar.”
“Tidak. Kita sudah selesai.”
Dia menatapku lama, lalu tertawa pendek seperti tak percaya.
“Kamu mau menghancurkan pernikahan dua tahun karena cemburu kepada Nabila?”
Aku menggeleng.
“Aku pergi bukan karena Nabila.”
“Lalu karena apa?”
“Karena aku baru sadar, selama dua tahun aku hidup seperti perempuan lajang yang kebetulan punya buku nikah.”
Wajahnya berubah.
Dari ruang tamu terdengar suara sesuatu jatuh.
Nabila rupanya masih di sana.
Aku menutup koper.
Arga berdiri menghalangi pintu.
“Kamu tidak pergi dalam kondisi begini.”
“Minggir.”
“Kakimu belum pulih.”
“Aneh. Seminggu lalu aku operasi sendirian dan kamu tidak merasa itu masalah.”
Kalimat itu membuatnya mundur.
Aku berjalan keluar.
Saat melewati Nabila, perempuan itu tiba-tiba berkata, “Mbak Maya, sebenarnya aku dan Arga pernah punya hubungan.”
Langkahku berhenti.
Arga membentak, “Nabila!”
Namun Nabila menatapku.
“Waktu kuliah.”
Aku sudah tahu mereka berteman sejak fakultas kedokteran, tetapi Arga selalu mengatakan mereka hanya sahabat.
Nabila melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kami pacaran hampir tiga tahun.”
Aku menatap Arga.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
“Karena itu masa lalu.”
Nabila tersenyum pahit.
“Bukan cuma masa lalu.”
“Nabila, cukup!”
“Tidak, Ga. Sudah cukup.”
Dia mengambil ponselnya.
“Aku juga capek dijadikan alasan.”
Aku mengernyit.
Nabila membuka percakapan dan menyerahkan ponselnya kepadaku.
Pesan dari Arga memenuhi layar.
Namun bukan pesan cinta.
Arga berkali-kali menawarkan bantuan.
Aku bisa jemput.
Kalau kamu sakit, telepon aku.
Aku akan datang.
Jangan sendirian.
Beberapa balasan Nabila justru pendek.
Aku bisa sendiri.
Tidak perlu datang.
Maya tidak keberatan?
Salah satu pesan membuat tanganku dingin.
Maya tidak membutuhkan aku seperti kamu.
Aku mengangkat wajah.
Nabila berkata pelan, “Aku memang salah karena terlalu sering membiarkan dia datang. Tapi beberapa bulan terakhir aku sudah berusaha menjauh. Hari ini aku bahkan tidak minta dibawa ke sini.”
Arga merebut ponsel itu.
“Kamu mau apa sekarang?”
“Aku mau berhenti menjadi alasanmu memperlakukan istrimu seperti sampah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nabila mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian ia keluar sudah mengenakan bajunya sendiri yang masih sedikit lembap.
Sebelum pergi, dia menatapku.
“Maaf.”
Pintu tertutup.
Tinggal aku dan Arga.
Untuk pertama kalinya, tidak ada Nabila yang bisa disalahkan.
Arga duduk di sofa.
“Maya.”
Aku berdiri di depan pintu dengan koper.
“Kenapa?”
Dia menunduk.
Lama sekali.
“Aku tidak tahu.”
“Coba pikirkan.”
Dia mengusap wajah.
“Mungkin karena bersamamu aku merasa tidak dibutuhkan.”
Aku hampir tidak percaya.
“Apa?”
“Kamu selalu bisa melakukan semuanya sendiri.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena ironis.
“Arga, aku menjadi seperti itu karena kamu.”
Dia membeku.
“Dulu aku meminta ditemani. Kamu bilang aku manja. Aku meminta kamu pulang saat aku sakit. Kamu bilang aku bisa ke rumah sakit sendiri. Aku meminta waktu di hari ulang tahunku. Kamu bilang aku menuntut.”
Suaraku mulai bergetar.
“Setiap kali aku membutuhkanmu, kamu mengajariku untuk berhenti membutuhkanmu.”
Matanya memerah.
Aku melanjutkan.
“Sekarang kamu menyalahkanku karena akhirnya aku belajar?”
Arga tidak menjawab.
Aku pergi hari itu.
Aku tinggal sementara di apartemen sahabatku, Siska.
Selama beberapa minggu berikutnya Arga menelepon puluhan kali.
Aku tidak menjawab.
Dia mengirim bunga ke kantorku.
Aku kembalikan.
Dia menunggu di depan tempat fisioterapi.
Aku berjalan melewatinya.
Sampai suatu sore dia berkata, “Aku akan berhenti menemui Nabila.”
Aku menatapnya.
“Kamu masih belum mengerti.”
“Aku akan blokir nomornya.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Aku akan pindah rumah sakit kalau perlu.”
“Arga.”
Dia diam.
“Aku tidak membutuhkan kamu menjauhi Nabila. Aku membutuhkan suami yang memilihku tanpa harus kehilangan aku terlebih dahulu.”
Wajahnya runtuh.
Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami dimulai.
Namun kejutan terbesar datang bukan dari Arga.
Melainkan dari Nabila.
Suatu sore dia meminta bertemu di sebuah kafe di Menteng.
Aku hampir menolak, tetapi akhirnya datang.
Dia terlihat berbeda tanpa riasan kamera.
Lebih lelah.
Lebih manusiawi.
“Aku akan menikah,” katanya.
Aku menatapnya.
“Dengan siapa?”
“Bukan Arga.”
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Nabila tersenyum tipis.
“Aku tahu mungkin kedengarannya aneh, tapi aku ingin kamu tahu satu hal. Arga tidak pernah benar-benar menginginkanku.”
Aku mengerutkan kening.
“Dia menginginkan perasaan ketika seseorang membutuhkan dia.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Nabila menatap cangkir kopinya.
“Waktu kami pacaran dulu, aku sangat bergantung padanya. Mungkin itu membuatnya merasa penting. Setelah kami putus dan aku menjadi lebih mandiri, dia menjauh. Tapi setiap kali aku sakit atau punya masalah, dia kembali menjadi Arga yang dulu.”
Aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak terlihat.
Bukan Nabila yang menjadi pusat masalah.
Arga membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa seperti penyelamat.
Dan ketika istrinya perlahan belajar berdiri sendiri karena berkali-kali ditinggalkan, dia justru mencari tempat lain untuk memainkan peran itu.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Hari keluar dari pengadilan, aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat.
Arga menungguku di tangga.
Dia terlihat lebih kurus.
“Maya.”
Aku berhenti.
“Aku dengar kamu pindah rumah sakit.”
Dia mengangguk.
“Aku juga mulai terapi.”
Aku sedikit terkejut.
“Bagus.”
“Aku baru sadar selama ini aku selalu ingin menjadi orang yang dibutuhkan semua orang, tapi tidak pernah belajar menjadi orang yang bisa diandalkan oleh orang terdekatku.”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum sedih.
“Andai aku sadar lebih cepat.”
“Kalau kamu sadar lebih cepat, mungkin ceritanya berbeda.”
“Masih ada kemungkinan?”
Aku memandang lelaki yang pernah sangat kucintai.
Anehnya, tidak ada lagi marah.
Hanya jarak.
“Ada beberapa hal yang bisa diperbaiki, Ga. Tapi tidak semuanya harus dikembalikan seperti semula.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku berjalan turun.
Beberapa langkah kemudian dia memanggil.
“Maya.”
Aku menoleh.
“Maaf karena membuatmu belajar hidup tanpa aku.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih juga.”
Dia terlihat bingung.
“Untuk apa?”
“Karena ternyata aku memang bisa.”
Setahun kemudian, aku kembali ke rumah sakit tempat kakiku dulu dioperasi.
Bukan sebagai pasien.
Aku datang membawa makanan untuk seorang perempuan dari kantorku yang baru menjalani operasi dan tidak memiliki keluarga di Jakarta.
Ketika hendak pulang, aku melewati kamar tempat dulu aku dirawat.
Seorang perempuan muda duduk sendirian di ranjang sambil berusaha mengambil botol air yang terlalu jauh dari jangkauannya.
Aku masuk dan membantunya.
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama.”
Di luar kamar, aku berhenti sebentar.
Dulu aku mengira menjadi kuat berarti mampu melakukan semuanya sendirian.
Ternyata aku salah.
Kekuatan bukan tentang tidak membutuhkan siapa pun.
Kekuatan adalah mengetahui bahwa kita pantas meminta bantuan tanpa dianggap beban, pantas dicintai tanpa harus pura-pura lemah, dan pantas meninggalkan seseorang ketika cinta membuat kita merasa sendirian.
Kakiku pernah patah karena satu langkah yang salah.
Namun justru setelah tulang itu pulih, aku akhirnya berani mengambil langkah paling benar dalam hidupku.
Pergi dari seseorang yang selalu sibuk menyelamatkan orang lain, tetapi lupa bahwa rumahnya sendiri sedang tenggelam.
