Sepuluh Menit Sebelum Konser Dimulai, Aku Mencabut Hak 32 Lagu Mantan Suamiku—Lalu Satu Dokumen Palsu Menghancurkan Segalanya Malam Itu

Tiga puluh detik setelah kukirim pesan itu, layar raksasa di luar stadion yang semula menampilkan wajah Arga mendadak berubah.

Bukan karena aku meretasnya.

Bukan pula karena timku sengaja mempermalukannya.

Sebuah portal berita hiburan nasional baru saja menerbitkan hasil investigasi eksklusif mengenai sengketa hak cipta tiga puluh dua lagu Arga Pradana.

Judulnya hanya satu kalimat.

Dokumen Kepemilikan Lagu Arga Pradana Diduga Dipalsukan.

Aku masih berdiri di balik kaca ketika ponselku bergetar tanpa henti.

Puluhan pesan masuk.

Wartawan.

Produser.

Musisi.

Teman lama.

Bahkan beberapa orang yang bertahun-tahun tidak pernah menghubungiku tiba-tiba menanyakan hal yang sama.

Maya, apa ini benar?

Aku tidak menjawab.

Di panggung, Arga masih berusaha menyelamatkan konsernya.

Dia menyanyikan lagu-lagu baru ciptaan Selina. Band memainkan aransemen lebih keras, penari memenuhi panggung, laser ditembakkan ke segala arah.

Namun sesuatu telah berubah.

Penonton mulai membuka ponsel.

Satu demi satu kepala menunduk membaca berita.

Sorakan perlahan melemah.

Lalu sebuah nama mulai terdengar dari tribun timur.

“MAYA!”

Aku membeku.

Teriakan itu awalnya kecil.

Namun beberapa detik kemudian terdengar dari sisi lain stadion.

“MAYA!”

“MAYA!”

Arga jelas mendengarnya.

Rahangnya mengeras.

“Teman-teman,” katanya sambil tersenyum kaku, “jangan percaya semua yang kalian baca di internet.”

Kalimat itu justru membuat lebih banyak orang membuka ponsel.

Berita tersebut memuat salinan dokumen pendaftaran hak cipta dari dua belas tahun lalu.

Namaku tercantum sebagai pencipta.

Maya Kusuma.

Bukan Arga Pradana.

Bukan Mahardika Entertainment.

Dan bukan Selina Wijaya.

Tetapi itu belum bagian terburuknya.

Pak Yudhistira menelepon lagi.

“Bu Maya, artikel kedua sudah naik.”

“Apa isinya?”

“Dokumen pengalihan hak tahun 2018.”

Aku memejamkan mata.

Akhirnya.

Selama hampir empat tahun, aku menunggu saat ini.

Pada 2018, ketika pernikahan kami mulai retak, Mahardika Entertainment tiba-tiba memiliki dokumen yang menyatakan bahwa aku telah mengalihkan seluruh hak ekonomi tiga puluh dua lagu kepada perusahaan.

Ada tanda tanganku di sana.

Ada fotokopi identitasku.

Ada meterai.

Bahkan ada saksi.

Masalahnya sederhana.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Saat pertama kali mengetahuinya setelah perceraian, Arga mengatakan aku hanya lupa.

“Maya, kamu menandatangani ratusan dokumen selama kita menikah.”

“Aku tidak pernah menyerahkan lagu-laguku.”

“Kamu terlalu emosional.”

Kalimat itu terus menghantuiku.

Aku hampir mempercayainya.

Sampai aku menemukan satu detail kecil.

Tanggal penandatanganan dokumen itu adalah 17 Oktober 2018.

Hari itu aku tidak berada di Jakarta.

Aku berada di Singapura menemani ibuku menjalani operasi jantung.

Paspor, tiket pesawat, catatan rumah sakit, dan rekaman imigrasi membuktikannya.

Mustahil aku duduk di kantor Mahardika Entertainment pukul dua siang untuk menandatangani dokumen tersebut.

Aku mulai menyelidiki diam-diam.

Semakin dalam kugali, semakin busuk semuanya.

Tanda tanganku memang terlihat hampir sempurna.

Karena seseorang menggunakan salinan tanda tangan dari kontrak album lama.

Nomor identitasku benar.

Alamatku benar.

Namun ada satu kesalahan yang tidak mereka sadari.

Dokumen itu menyebut nomor rekening bank yang baru kubuka pada Desember 2018.

Dua bulan setelah dokumen tersebut konon ditandatangani.

Seseorang membuat pemalsuan dengan data yang dikumpulkan belakangan, lalu memundurkan tanggalnya.

Aku tidak langsung menyerang.

Aku menunggu.

Mengumpulkan bukti.

Memeriksa royalti.

Mengikuti aliran uang.

Dan malam ini, semuanya akhirnya bertemu di satu titik.

Pintu ruang VIP terbuka keras.

Selina masuk dengan wajah pucat.

“Maya.”

Aku menoleh.

Gaun hitamnya masih sempurna, tetapi tangannya gemetar memegang ponsel.

“Kamu gila?”

Aku tidak menjawab.

“Enam puluh ribu orang ada di bawah! Sponsor sudah mengeluarkan ratusan miliar. Tur ini melibatkan ratusan kru. Kamu mau menghancurkan semua orang hanya karena dendam pada Arga?”

“Kalau memang hak lagunya milik kalian, kenapa takut?”

Selina terdiam.

Aku menatapnya.

“Dokumen itu palsu, Selina.”

“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Benarkah?”

Wajahnya berubah sedikit.

Cukup untuk memberiku jawaban.

Aku mendekat.

“Yang membuatku penasaran selama ini bukan siapa yang memalsukan tanda tanganku.”

Aku menurunkan suara.

“Melainkan siapa yang tahu nomor rekening yang baru kubuka pada Desember 2018.”

Selina menelan ludah.

Aku tersenyum tipis.

“Rekening itu kubuka karena saranmu.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Enam tahun lalu, Selina belum menjadi pacar Arga.

Dia adalah manajer keuanganku.

Sahabatku.

Perempuan yang datang ke rumah ketika aku sakit.

Perempuan yang duduk di sampingku ketika aku menangis karena curiga Arga mulai berselingkuh.

Dan perempuan yang berkata kepadaku, “Kalau semua orang meninggalkanmu, aku tetap di sini.”

Ternyata dia memang tetap di sana.

Hanya saja bukan untukku.

“Keluar,” katanya pelan.

“Apa?”

“Keluar dari stadion ini sekarang. Kita bisa selesaikan semuanya besok.”

“Kenapa harus besok?”

“Maya.”

“Takut aku melihat sesuatu malam ini?”

Pintu kembali terbuka.

Kali ini Arga masuk.

Keringat membasahi rambutnya. Konser sedang dihentikan sementara dengan alasan masalah teknis.

Begitu melihatku, dia langsung berjalan mendekat.

“Kamu puas?”

Aku memandang lelaki yang pernah menjadi seluruh hidupku.

Aneh.

Aku membayangkan akan merasa marah ketika hari ini tiba.

Ternyata tidak.

Yang kurasakan justru tenang.

“Belum.”

Arga tertawa sinis.

“Empat puluh delapan miliar kamu tolak. Kamu tahu berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan kalau tur ini batal?”

“Jangan gunakan kru untuk menutupi apa yang kalian lakukan.”

“Apa yang kami lakukan?”

Aku mengangkat ponsel dan menunjukkan dokumen palsu itu.

Arga hanya melirik.

“Aku tidak mengurus administrasi.”

Selina langsung menoleh kepadanya.

Ada sesuatu dalam tatapan mereka.

Ketakutan.

Namun bukan ketakutan yang sama.

Saat itulah aku sadar.

Mereka saling menyembunyikan sesuatu.

Aku menatap Arga.

“Kamu benar-benar tidak tahu dokumen itu palsu?”

Dia tidak menjawab.

Selina menyela.

“Jangan bodoh, Maya. Pengacaramu pasti sudah mengajarimu cara menjebak orang.”

Aku justru tersenyum.

“Terima kasih.”

Selina mengernyit.

“Untuk apa?”

“Karena baru saja memastikan bahwa Arga memang tidak tahu.”

Arga menoleh tajam kepadanya.

“Selina?”

“Jangan dengarkan dia.”

“Selina, kamu tahu dokumen itu palsu?”

“Aku bilang jangan dengarkan dia!”

Suasana mendadak sunyi.

Lalu ponsel Arga berbunyi.

Manajernya menelepon.

Dia mengangkatnya.

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.

“Apa?”

Dia menatap Selina.

“Ulangi.”

Kami hanya bisa mendengar suara samar dari seberang.

Arga menurunkan ponsel perlahan.

“Polisi datang ke kantor label.”

Selina mundur selangkah.

Arga melanjutkan.

“Mereka menyita server bagian keuangan.”

“Arga, dengarkan aku.”

“Kenapa polisi menyita server?”

Selina tidak menjawab.

Aku akhirnya mengeluarkan satu dokumen lain dari tasku.

“Karena tanda tanganku bukan satu-satunya yang dipalsukan.”

Arga menatap kertas itu.

Itulah kejutan yang bahkan pengacaraku baru temukan tiga minggu sebelumnya.

Selama bertahun-tahun, royalti tiga puluh dua lagu dibagi berdasarkan laporan internal Mahardika Entertainment.

Sebagian untuk label.

Sebagian untuk Arga.

Dan sejumlah kecil tercatat dikirim kepadaku.

Padahal aku tidak pernah menerima uang itu.

Awalnya kupikir uang tersebut disembunyikan Arga.

Ternyata bukan.

Ada rekening atas namaku.

Rekening palsu.

Selama enam tahun, royalti senilai lebih dari Rp27 miliar mengalir ke sana.

Kemudian uang tersebut dipindahkan melalui beberapa perusahaan.

Salah satunya dimiliki oleh kakak Selina.

Arga membaca dokumen itu dengan tangan gemetar.

“Kamu mengambil royalti Maya?”

Selina mulai menangis.

“Aku melakukan semuanya untuk kita.”

“Untuk kita?”

“Kamu tidak mengerti bagaimana industri ini bekerja!”

“Aku tanya sekali lagi. Kamu mengambil uangnya?”

Selina tiba-tiba berteriak.

“Karena dia akan meninggalkanmu!”

Aku terdiam.

Begitu pula Arga.

Selina menunjuk ke arahku.

“Tahun 2018 dia sudah menemui pengacara perceraian. Kalau dia pergi dan membawa katalog lagu itu, kariermu bisa hancur. Label tidak mau mengambil risiko.”

Arga memandangku.

“Kamu mau menceraikanku sejak 2018?”

Aku hampir tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Karena sejak 2017 kamu tidur dengan perempuan lain.”

Wajah Arga menegang.

Selina menatapnya.

“Perempuan lain?”

Aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya.

Dan tiba-tiba potongan terakhir teka-teki itu jatuh ke tempatnya.

Selina mengira dirinya adalah perempuan pertama.

Ternyata bukan.

Arga duduk perlahan.

Untuk pertama kalinya malam itu, Raja Pop Indonesia terlihat seperti lelaki biasa yang kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Namun kejutan terakhir belum datang.

Pak Yudhistira masuk bersama dua orang penyidik.

Salah satu dari mereka menunjukkan identitas.

“Saudari Selina Wijaya?”

Selina mundur.

“Kami perlu meminta keterangan Anda terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan royalti.”

Selina menatap Arga.

“Bilang sesuatu.”

Arga diam.

“Arga!”

Dia tetap diam.

Saat Selina dibawa keluar, aku berpikir semuanya sudah selesai.

Ternyata salah.

Salah satu penyidik berhenti di depan Arga.

“Saudara Arga Pradana, kami juga meminta Anda hadir untuk pemeriksaan.”

Arga langsung berdiri.

“Saya?”

Penyidik menyerahkan salinan dokumen.

“Ada transaksi dari rekening royalti tersebut ke perusahaan investasi milik Anda.”

Arga menatap angka di kertas.

Rp9,4 miliar.

Wajahnya pucat.

“Aku tidak tahu soal ini.”

Aku memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya aku tidak tahu apakah dia berbohong.

Dan anehnya, aku sudah tidak peduli.

Dari stadion terdengar suara penonton.

Mereka masih menunggu.

Enam puluh ribu orang.

Arga menatapku.

“Maya.”

Aku berjalan menuju pintu.

“Maya, tunggu.”

Aku berhenti.

“Aku bisa memperbaiki ini.”

Aku menoleh.

“Dulu mungkin.”

Dia terdiam.

“Waktu aku masih memohon supaya namaku dicantumkan sebagai pencipta. Waktu aku meminta kamu membela aku saat media menyebutku numpang tenar. Waktu aku menemukan kamu berselingkuh dan kamu bilang aku terlalu sibuk menulis lagu sampai lupa menjadi istri.”

Matanya memerah.

“Tapi malam ini bukan tentang pernikahan kita lagi, Arga.”

Aku membuka pintu.

“Ini tentang tiga puluh dua karya yang selama bertahun-tahun membuat semua orang mengenal suaramu, sementara penciptanya dibuat seolah tidak pernah ada.”

Aku pergi.

Konser akhirnya dibatalkan.

Namun yang terjadi setelah malam itu jauh lebih mengejutkan.

Enam bulan kemudian, penyelidikan menemukan bahwa Selina memang menjadi otak pemalsuan dokumen dan pengalihan royalti. Dua mantan pegawai label ikut terseret.

Arga tidak terbukti terlibat dalam pembuatan dokumen palsu, tetapi penyelidikan terhadap transaksi keuangannya membuat kontraknya dengan Mahardika Entertainment berakhir.

Sponsor mundur.

Tur dibatalkan.

Namanya menghilang dari televisi selama berbulan-bulan.

Orang-orang mengira aku akan menjual tiga puluh dua lagu itu kepada penyanyi lain.

Aku tidak melakukannya.

Aku juga tidak kembali menyanyikannya sendiri.

Setahun kemudian, aku mendirikan sebuah yayasan kecil yang memberikan bantuan hukum kepada pencipta lagu muda yang tidak mampu membayar pengacara.

Royalti dari tiga puluh dua lagu menjadi sumber dananya.

Suatu sore, aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada sebuah kaset lama.

Rekaman Hujan Tengah Malam dari festival kecil di Bandung dua belas tahun sebelumnya.

Di akhir rekaman terdengar suara Arga muda tertawa.

“Kalau suatu hari aku terkenal, semua orang harus tahu lagu ini ditulis Maya.”

Lalu terdengar suaraku sendiri.

“Sudahlah. Yang penting lagunya didengar orang.”

Aku mematikan rekaman.

Untuk waktu yang lama aku hanya duduk diam.

Dulu aku benar-benar percaya bahwa selama karya kita dicintai, tidak masalah siapa yang mendapat tepuk tangan.

Aku salah.

Karena ketika seorang pencipta membiarkan namanya dihapus sekali, orang lain akan belajar bahwa mereka bisa menghapusnya untuk kedua kali.

Aku mengambil spidol dan menulis satu kalimat di kotak kaset itu.

Karya boleh diberikan kepada dunia.

Nama penciptanya tidak.

Lalu aku menyimpannya di laci.

Bukan sebagai kenangan tentang Arga.

Melainkan sebagai pengingat tentang perempuan yang dulu menulis tiga puluh dua lagu untuk membuat orang lain bersinar, sebelum akhirnya belajar bahwa dirinya sendiri tidak pernah membutuhkan panggung untuk membuktikan bahwa cahayanya ada.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang