PENGUSAHA KAYA DATANG MENAGIH TUNGGAKAN SEWA 3 BULAN. NAMUN DI BALIK PINTU, DIA MENEMUKAN BOCAH 7 TAHUN MENJAHIT HINGGA JARINYA TERLUKA DEMI MENYELAMATKAN IBUNYA!

Tak… tak… tak…

Suara mesin jahit tua itu kembali terdengar, tetapi kali ini Arya tidak lagi melihatnya sebagai suara pekerjaan biasa.

Setiap denting jarum terasa seperti pukulan kecil di dadanya.

Ia mengambil sarung bantal yang terbungkus plastik bening itu, lalu memperhatikan logo perusahaan di sudut kemasan.

Pratama Living.

Salah satu anak perusahaan miliknya yang memasok perlengkapan tekstil untuk hotel, apartemen, dan rumah sakit di berbagai kota.

Arya mengeluarkan ponsel.

Ia memotret label produksi, kode barang, serta tumpukan sarung bantal di lantai.

Kemudian ia menelepon seseorang.

“Dimas.”

“Ya, Pak Arya.”

“Cari semua dokumen pengadaan Pratama Living untuk produk sarung bantal kode PL-47. Saya mau tahu vendor, harga kontrak, jumlah produksi, dan siapa yang menyetujuinya.”

“Baik, Pak. Kapan Bapak butuh?”

“Sekarang.”

Arya memutus telepon.

Cinta menatapnya dengan gugup.

“Om mau ambil mesin jahitnya?”

Pertanyaan itu membuat Arya tercekat.

“Tidak.”

“Terus… kami harus pindah?”

Arya berjongkok agar wajah mereka sejajar.

“Kamu tidak perlu memikirkan uang sewa malam ini.”

“Tapi Ibu bilang utang harus dibayar.”

Arya menatap mata anak itu.

“Ibumu benar. Tapi ada hal yang lebih penting sekarang. Ibumu dirawat di mana?”

Cinta menyebut nama sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta.

Arya langsung berdiri.

“Kita pergi menemui Ibumu.”

Cinta justru mundur.

“Saya belum selesai.”

Ia menunjuk tumpukan kain.

“Bu Ratna bilang kalau terlambat, bayarannya dipotong.”

Rahang Arya mengeras.

“Mulai hari ini, tidak ada lagi yang memotong bayaranmu.”

Beberapa menit kemudian, Arya membawa Cinta keluar dari unit 4B.

Sebelum pergi, ia sempat melihat uang yang tadi diletakkannya di meja masih utuh.

Cinta bahkan tidak menyentuhnya.

Di dalam mobil, anak itu duduk kaku sambil memeluk tas kecil berisi beberapa potong pakaian ibunya.

Interior mobil mewah Arya mungkin bernilai lebih mahal daripada seluruh isi unit 4B, tetapi Cinta tidak menunjukkan kekaguman sedikit pun.

Ia hanya bertanya satu hal.

“Om, Ibu bisa sembuh, kan?”

Untuk pertama kalinya hari itu, Arya tidak mempunyai jawaban pasti.

“Saya akan cari tahu.”

Setibanya di rumah sakit, mereka menemukan Maya di bangsal kelas tiga.

Perempuan berusia tiga puluh empat tahun itu tampak jauh lebih tua. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan selang infus terpasang di tangan kirinya.

Begitu melihat Cinta masuk, Maya langsung berusaha bangun.

“Cinta? Kamu ke sini sama siapa?”

Tatapannya kemudian jatuh kepada Arya.

Wajah Maya mendadak pucat.

“Bapak pemilik rusun?”

Arya mengangguk.

Maya langsung panik.

“Pak, tolong jangan usir kami. Saya akan bayar. Beri saya waktu dua minggu. Tidak, satu bulan. Saya akan cari cara.”

“Mbak Maya, saya tidak datang untuk membicarakan sewa.”

Arya meletakkan sarung bantal berlogo Pratama Living di atas meja kecil di samping ranjang.

“Saya mau tahu soal ini.”

Maya membeku.

Matanya perlahan beralih kepada Cinta.

“Kamu menjahit lagi?”

Cinta menunduk.

“Biar Ibu bisa beli obat.”

Air mata langsung memenuhi mata Maya.

“Ibu sudah bilang jangan.”

“Tapi uang kita habis.”

Maya menutup wajahnya.

Arya berdiri tanpa bicara.

Beberapa detik kemudian, Maya akhirnya menjelaskan semuanya.

Sebelum sakit, ia bekerja sebagai penjahit rumahan. Dua tahun lalu, Ratna datang menawarkan pekerjaan dari sebuah perusahaan besar.

Maya dan belasan perempuan lain diminta menjahit sarung bantal, seprai, dan berbagai produk tekstil.

Mereka dibayar berdasarkan jumlah barang.

Awalnya Rp20.000 per sarung bantal.

Enam bulan kemudian turun menjadi Rp15.000.

Lalu Rp12.000.

“Kami protes,” kata Maya. “Bu Ratna bilang kalau tidak mau, masih banyak orang lain yang butuh pekerjaan.”

“Perusahaan saya membayar vendor berapa?”

Maya menggeleng.

“Kami tidak tahu, Pak.”

Ponsel Arya bergetar.

Pesan dari Dimas masuk.

Arya membuka dokumen yang dikirimkan.

Matanya berhenti pada satu angka.

Rp58.000.

Perusahaan membayar Rp58.000 untuk biaya produksi setiap sarung bantal.

Pekerja menerima Rp12.000.

Arya terus membaca.

Vendor resmi yang tercatat adalah PT Cahaya Tekstil Mandiri.

Direkturnya bernama Bagus Santoso.

Arya tidak mengenal nama itu.

Namun ketika ia membuka data pemegang saham, darahnya seperti naik ke kepala.

Salah satu pemegang saham perusahaan tersebut bernama Ratna Wulandari.

Supervisor pengadaan Pratama Living.

Maya melihat perubahan wajah Arya.

“Ada apa, Pak?”

Arya mematikan layar.

“Sudah berapa lama Ibu bekerja untuk Ratna?”

“Hampir dua tahun.”

“Berapa banyak pekerja seperti Ibu?”

“Terakhir sekitar tiga puluh orang. Mungkin lebih.”

“Anak-anak juga bekerja?”

Maya terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

Arya keluar dari bangsal dan menelepon Dimas.

“Jangan hubungi Ratna. Jangan beri tahu siapa pun bahwa saya sedang memeriksa ini.”

“Baik, Pak.”

“Audit semua pembayaran ke Cahaya Tekstil selama tiga tahun terakhir.”

“Pak, nilainya mungkin besar.”

“Saya tidak peduli seberapa besar.”

Arya memandang Cinta dari balik kaca pintu bangsal.

“Saya mau tahu setiap rupiahnya.”

Keesokan paginya, Arya datang ke kantor seperti biasa.

Ratna sedang memimpin rapat pengadaan ketika pintu ruang konferensi terbuka.

Arya masuk.

Semua orang berdiri.

Ratna tersenyum.

“Selamat pagi, Pak Arya.”

Arya meletakkan sebuah sarung bantal di tengah meja.

Senyum Ratna hilang.

“Kenal barang ini?”

Ratna masih berusaha tenang.

“Tentu, Pak. Produk Pratama Living.”

“Berapa biaya produksinya?”

“Sekitar lima puluh delapan ribu per unit.”

“Berapa yang diterima penjahit?”

Ruangan mendadak sunyi.

Ratna menelan ludah.

“Itu tergantung vendor, Pak. Kami tidak mengatur upah pekerja mereka.”

Arya menatapnya.

“Kalau begitu kenapa penjahit menerima pekerjaan langsung darimu?”

Wajah Ratna berubah.

“Saya tidak mengerti maksud Bapak.”

Arya melemparkan beberapa foto ke meja.

Foto Cinta.

Mesin jahit.

Tumpukan produk.

Jari-jari kecil yang terluka.

“Anak ini tujuh tahun.”

Ratna tidak berkata apa-apa.

“Dia menjahit produk perusahaan saya sampai jarinya tertusuk jarum supaya ibunya bisa membeli obat.”

Ratna mulai berkeringat.

“Pak, saya bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Ratna menarik napas.

“Vendor memang memakai pekerja rumahan. Saya hanya membantu koordinasi.”

Arya mengangguk pelan.

Lalu Dimas masuk membawa map tebal.

“Pak, audit sementara sudah selesai.”

Ia menyerahkan dokumen itu.

Selama tiga tahun, Pratama Living telah membayar lebih dari Rp11 miliar kepada PT Cahaya Tekstil Mandiri.

Sebagian besar pekerjaan ternyata dialihkan kepada pekerja rumahan dengan bayaran sangat rendah.

Selisih uang mengalir melalui beberapa rekening.

Salah satunya milik suami Ratna.

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Dimas membalik halaman terakhir.

“Pak, ada satu orang lagi yang terlibat.”

Arya membaca nama tersebut.

Wajahnya berubah.

Rendra Pratama.

Sepupunya sendiri.

Direktur Operasional Pratama Living.

Orang yang selama lima tahun dipercaya Arya mengurus seluruh kegiatan operasional perusahaan.

Arya tidak langsung marah.

Justru ketenangannya membuat seluruh ruangan terasa lebih menakutkan.

“Panggil Rendra.”

Tiga puluh menit kemudian, Rendra datang.

Ia masih mencoba tertawa ketika melihat dokumen di meja.

“Arya, ini pasti salah paham.”

“Salah paham?”

“Kita bisa bicara sebagai keluarga.”

Arya menatapnya tajam.

“Justru karena selama ini saya terlalu percaya pada keluarga, saya tidak pernah melihat apa yang terjadi di bawah.”

Rendra mulai kehilangan ketenangan.

“Bisnis memang begitu. Kita tekan biaya supaya margin naik.”

“Menekan biaya bukan berarti membayar anak tujuh tahun dua belas ribu rupiah untuk menjahit sampai jarinya berdarah.”

“Saya tidak pernah menyuruh anak kecil bekerja!”

“Tapi kamu membuat sistem yang memungkinkan itu terjadi.”

Rendra terdiam.

Arya berdiri.

Hari itu juga, Ratna dan Rendra dinonaktifkan dari seluruh jabatan mereka.

Audit independen dilakukan.

Kasus tersebut kemudian diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti sesuai hasil pemeriksaan.

Tetapi bagi Arya, masalahnya belum selesai.

Ia kembali ke rumah susun.

Bukan dengan pengacara.

Bukan dengan petugas penagihan.

Ia datang bersama tim teknik.

Untuk pertama kalinya, Arya berjalan dari lantai pertama hingga lantai paling atas.

Ia melihat pipa bocor.

Kabel terbuka.

Tangga retak.

Lampu mati.

Anak-anak bermain di dekat saluran air yang rusak.

Dan setiap kerusakan itu terasa seperti tuduhan.

Selama enam tahun, laporan yang diterimanya selalu mencantumkan biaya pemeliharaan gedung.

Namun kenyataan di hadapannya menunjukkan uang itu tidak pernah benar-benar sampai kepada penghuni.

Audit kedua dimulai.

Ternyata pengelola rusun juga melakukan manipulasi anggaran.

Arya merasa muak.

Selama ini ia bangga karena bisnisnya berkembang pesat.

Pendapatan naik.

Aset bertambah.

Cabang dibuka di berbagai kota.

Namun di bawah grafik pertumbuhan yang ia banggakan, ada orang-orang yang tidak pernah ia lihat.

Ada Maya.

Ada Cinta.

Ada puluhan pekerja lain.

Tiga minggu kemudian, Maya akhirnya keluar dari rumah sakit.

Ketika kembali ke rusun, ia berhenti di depan gedung.

Dinding mulai dicat ulang.

Lampu lorong telah diganti.

Tangga diperbaiki.

Ada petugas kesehatan melakukan pemeriksaan gratis di lantai dasar.

Maya menatap Arya yang berdiri di dekat pintu masuk.

“Pak… ini semua apa?”

“Perbaikan yang seharusnya sudah dilakukan sejak lama.”

Maya menunduk.

“Bagaimana dengan tunggakan saya?”

Arya terdiam sesaat.

Kemudian mengeluarkan amplop kusut yang pernah diberikan Cinta kepadanya.

Rp630.000 itu masih lengkap.

Ia menyerahkannya kembali.

“Simpan.”

Maya menggeleng cepat.

“Saya tidak mau dikasihani.”

“Saya juga tidak sedang mengasihani Ibu.”

Arya menunjukkan sebuah dokumen.

Pratama Living kini membentuk unit produksi baru dengan kontrak langsung kepada para penjahit rumahan.

Tanpa perantara.

Upah minimum per produk dinaikkan dan pekerja mendapatkan jaminan kesehatan serta perlindungan kerja.

Maya membaca dokumen itu dengan tangan gemetar.

“Kenapa Bapak melakukan semua ini?”

Arya menoleh kepada Cinta.

Anak itu sedang berdiri di dekat ibunya.

Luka di jarinya mulai sembuh.

“Karena saya baru sadar perusahaan saya terlalu besar sampai saya berhenti melihat manusia di balik angka.”

Beberapa bulan berlalu.

Maya mulai bekerja kembali setelah kesehatannya membaik.

Namun Cinta tidak pernah lagi menyentuh mesin jahit untuk mencari uang.

Ia kembali sekolah.

Suatu sore, Arya datang ke rusun setelah menghadiri rapat.

Cinta berlari menghampirinya.

“Om Arya!”

Ia membawa sesuatu di tangannya.

Sebuah saputangan kecil.

Jahitannya tidak terlalu lurus.

Di salah satu sudut terdapat huruf A yang disulam sederhana.

“Saya bikin sendiri,” kata Cinta bangga.

Arya langsung mengernyit.

“Kamu menjahit lagi?”

Cinta tertawa.

“Bukan buat kerja. Buat hadiah.”

Arya menerima saputangan itu.

“Kenapa untuk saya?”

Cinta berpikir sebentar.

“Karena dulu Om datang buat nagih uang.”

Arya tertawa kecil.

“Terus?”

“Tapi akhirnya malah nolong banyak orang.”

Arya menatap saputangan itu cukup lama.

Ada sesuatu yang tidak diketahui Cinta.

Sejak kasus tersebut terbongkar, Arya mengubah sistem pengawasan di seluruh grup perusahaannya. Setiap kontrak pemasok kini wajib mencantumkan transparansi rantai produksi dan perlindungan pekerja.

Namun perubahan terbesar justru terjadi pada dirinya sendiri.

Dulu Arya hanya membaca laporan dari ruang rapat berpendingin udara.

Sekarang ia rutin turun ke lokasi.

Gudang.

Pabrik.

Rumah susun.

Tempat-tempat yang sebelumnya hanya muncul sebagai angka di layar laptopnya.

Suatu malam, ketika sedang merapikan dokumen lama di kantornya, Arya menemukan laporan pembelian rumah susun enam tahun sebelumnya.

Ia membukanya tanpa sengaja.

Pada halaman terakhir terdapat sebuah catatan.

Daftar penghuni lama.

Mata Arya berhenti pada satu nama.

Sulastri Lestari.

Alamat unit 4B.

Arya merasa ada sesuatu yang aneh.

Keesokan harinya ia bertanya kepada Maya.

“Itu nama ibu saya,” jawab Maya.

Arya terdiam.

“Ibu tinggal di sana?”

“Sejak saya masih kecil. Setelah beliau meninggal, kontraknya diteruskan atas nama saya.”

Arya tidak berkata apa-apa.

Malam itu ia membuka arsip perusahaan lebih dalam.

Dan akhirnya ia menemukan dokumen yang membuat tangannya gemetar.

Dua puluh delapan tahun lalu, ketika keluarga Arya belum kaya, ayahnya pernah hampir kehilangan usaha kecil mereka karena utang.

Seorang perempuan bernama Sulastri Lestari meminjamkan tabungan sebesar Rp8 juta.

Tidak ada bunga.

Tidak ada jaminan.

Hanya sebuah catatan tulisan tangan.

Saya membantu karena suatu hari mungkin anak saya juga membutuhkan pertolongan orang lain.

Arya duduk terpaku.

Ia segera menelepon ayahnya.

Lelaki tua itu terdiam cukup lama setelah mendengar nama Sulastri.

“Ayah mencarinya bertahun-tahun,” katanya akhirnya. “Tapi kami kehilangan kontak setelah pindah.”

Arya memandang saputangan pemberian Cinta yang tersimpan di mejanya.

Tiba-tiba semuanya terasa seperti lingkaran yang kembali bertemu di titik awal.

Perusahaan yang sekarang bernilai triliunan rupiah mungkin tidak pernah berdiri jika puluhan tahun lalu seorang penjahit sederhana tidak memberikan seluruh tabungannya kepada ayah Arya.

Dan hampir tiga dekade kemudian, cucu perempuan penjahit itu justru duduk di depan mesin tua, menusuk jari kecilnya sendiri demi menghasilkan produk untuk perusahaan yang lahir dari kebaikan neneknya.

Keesokan sore, Arya kembali ke unit 4B.

Maya membuka pintu.

“Pak Arya?”

Arya menyerahkan salinan catatan lama itu.

Maya membacanya.

Air matanya langsung jatuh.

“Ini tulisan Ibu saya.”

Arya mengangguk.

“Perusahaan keluarga saya berdiri karena bantuan ibu Anda.”

Maya menutup mulutnya.

Arya kemudian berjongkok di depan Cinta.

Dulu, ketika pertama kali berdiri di tempat yang sama, ia datang membawa tagihan Rp18 juta.

Sekarang ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih berat.

Utang kebaikan yang tidak pernah bisa dihitung dengan uang.

Cinta memandangnya polos.

“Om kenapa nangis?”

Arya baru sadar matanya basah.

Ia tersenyum.

“Ternyata saya memang datang untuk menagih utang hari itu.”

Cinta kebingungan.

“Tapi bukan utang kalian.”

Arya memandang Maya.

“Utang keluarga saya.”

Sejak hari itu, unit 4B tidak pernah lagi menjadi sekadar nomor dalam laporan aset Arya.

Begitu pula mesin jahit tua di sudut ruangan.

Mesin itu tetap disimpan Maya.

Bukan lagi sebagai alat yang memaksa seorang anak bekerja demi membeli obat, melainkan sebagai pengingat tentang satu hal yang akhirnya dipahami Arya.

Angka bisa menunjukkan seberapa besar sebuah perusahaan tumbuh.

Namun hanya cara kita memperlakukan manusia yang menunjukkan seberapa besar kita sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang