Maya tidak pernah menyangka sebuah map merah bisa membuat tujuh orang kehilangan selera makan dalam waktu kurang dari lima menit.
Namun sebelum hari Minggu itu tiba, Aris masih merasa dirinya memegang kendali.
Jumat malam, Aris pulang dengan wajah kusut. Sejak pagi ia hanya makan bubur ayam di dekat proyek dan kopi sachet dari kantor. Biasanya, ketika membuka pintu apartemen, aroma masakan Maya sudah menyambutnya.
Malam itu dapur bersih.
Tidak ada sayur asem.
Tidak ada ayam goreng.
Tidak ada sambal buatan Maya yang biasanya selalu tersedia.
Di meja makan hanya ada satu piring berisi salmon panggang, tumis sayuran, dan nasi merah.
Aris langsung menarik kursi.
“Kelihatannya enak.”
Tangannya baru hendak mengambil sepotong salmon ketika Maya menggeser piring itu menjauh.
“Itu makan malamku.”
Aris menatapnya tak percaya.
“Kamu serius?”
“Sangat serius.”
“Aku suamimu.”

“Dan menurut keputusanmu kemarin, kita membayar kebutuhan masing-masing.”
Wajah Aris memerah.
“Cuma gara-gara aku bilang soal keuangan, kamu jadi pelit begini?”
Maya mengunyah makanannya dengan tenang.
“Bukan pelit. Aku sedang menghormati keputusan kepala keluarga.”
Kalimat terakhir itu membuat Aris terdiam.
Malam tersebut ia akhirnya memesan nasi goreng melalui aplikasi. Ketika tagihan sebesar seratus ribu rupiah muncul, untuk pertama kalinya Aris menggerutu karena harus membayar makan malamnya sendiri.
Sabtu pagi keadaan semakin buruk.
Petugas pengelola apartemen menelepon Aris.
“Pak, kami ingin mengingatkan tagihan maintenance bulan ini belum dibayar.”
Aris mengernyit.
“Biasanya autodebet.”
“Rekening pembayaran sebelumnya atas nama Ibu Maya. Kemarin beliau menghubungi kami untuk mengubah penagihan sesuai pembagian baru.”
Aris menoleh ke arah Maya yang sedang membaca buku di sofa.
“Berapa?”
Petugas menyebut jumlahnya.
Hampir tiga juta rupiah.
Aris langsung menutup telepon.
“Kamu memindahkan tagihan apartemen kepadaku?”
Maya mengangkat wajah.
“Bukan memindahkan. Itu setengah bagianmu.”
“Setengah?”
“Bukankah kamu ingin semuanya adil?”
Aris tidak bisa menjawab.
Barulah hari itu ia mulai menyadari bahwa selama bertahun-tahun ada banyak tagihan yang bahkan tidak pernah dilihatnya.
Sabtu malam, Ibu Mirna menelepon.
“Ris, besok Ibu datang jam sebelas. Rina minta rendang dua kilo. Anak-anak pengin udang saus mentega. Jangan lupa puding buahnya Maya.”
Aris melirik Maya.
Perempuan itu sedang memasukkan beberapa dokumen ke map merah.
“Bu, besok mungkin makanannya sederhana.”
Suara Ibu Mirna langsung meninggi.
“Kenapa?”
“Maya lagi tidak masak.”
“Lho, dia sakit?”
“Enggak.”
“Terus?”
Aris menelan ludah.
“Pokoknya besok datang saja.”
Ibu Mirna mendengus.
“Jangan bilang istrimu mulai malas melayani keluarga suami.”
Maya mendengar semuanya.
Namun dia hanya tersenyum.
Minggu pagi pukul sembilan, Aris berdiri kebingungan di supermarket.
Harga daging sapi premium membuat matanya membesar. Udang segar, santan, bumbu, buah, minuman, dan makanan ringan memenuhi troli.
Totalnya hampir tiga juta rupiah.
Itu bahkan belum separuh dari hidangan yang biasanya disiapkan Maya.
Aris akhirnya mengembalikan beberapa barang.
Ia membeli ayam goreng siap saji, dua kotak nasi, minuman bersoda, dan kue dari toko.
Pukul sebelas lewat dua puluh menit, bel apartemen berbunyi.
Ibu Mirna masuk paling depan membawa tas kain dengan sepuluh wadah plastik kosong seperti biasa.
“Mana bau rendangnya?”
Tidak ada jawaban.
Rina masuk di belakangnya.
“Kak Maya belum masak?”
Maya muncul dari kamar mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang hitam.
“Selamat datang.”
Ibu Mirna memandang meja makan.
Hanya ada beberapa kotak makanan.
“Astaga, Maya. Kamu tahu kami datang setiap Minggu.”
“Tahu.”
“Terus kenapa makanannya begini?”
Maya tersenyum.
“Karena mulai minggu ini biaya menjamu keluarga Mas Aris menjadi tanggung jawab Mas Aris.”
Ruangan mendadak sunyi.
Rina menoleh kepada kakaknya.
“Mas, maksudnya apa?”
Aris buru-buru menjawab.
“Cuma masalah pembagian keuangan. Maya sedang sensitif.”
Maya tidak membantah.
Mereka mulai makan.
Belum sepuluh menit, Ibu Mirna sudah mengeluh.
“Ayamnya kering.”
Kemudian ia menatap Maya.
“Perempuan kalau sudah punya penghasilan sendiri memang suka lupa kewajiban.”
Maya meletakkan sendoknya.
Aris langsung menyela.
“Sudahlah, Bu.”
Namun Ibu Mirna belum selesai.
“Ibu cuma kasihan sama kamu. Lima tahun kerja keras, tapi uangmu habis untuk istri. Dari dulu Ibu sudah bilang, perempuan harus tahu diri. Jangan menumpang hidup pada suami.”
Maya menatap ibu mertuanya cukup lama.
Lalu dia berdiri.
“Baik. Sepertinya sekarang waktu yang tepat.”
Ia berjalan menuju kamar.
Ketika kembali, map merah berada di tangannya.
Aris langsung pucat.
“Maya, enggak perlu.”
“Justru perlu.”
Maya mengeluarkan laptop, menghubungkannya ke televisi besar di ruang keluarga, lalu membuka sebuah folder.
Layar pertama menampilkan tabel pengeluaran rumah tangga selama lima tahun.
“Karena saya disebut menumpang hidup, hari ini saya ingin tahu siapa sebenarnya yang selama ini menanggung siapa.”
Rudi berhenti mengunyah.
Rina meletakkan gelasnya.
Maya menampilkan rekening korannya.
“Pendapatan bersih saya rata-rata tiga puluh delapan juta rupiah per bulan, belum termasuk bonus tahunan.”
Aris langsung berdiri.
“Maya!”
“Duduk.”
Nada Maya tidak keras.
Namun Aris benar-benar duduk.
Maya membuka dokumen berikutnya.
“Pendapatan Mas Aris rata-rata empat belas sampai tujuh belas juta per bulan.”
Ibu Mirna terbelalak.
“Aris bilang gajinya tiga puluh juta.”
Maya menoleh kepada suaminya.
“Nah, itu saya juga baru tahu.”
Aris menunduk.
Layar berikutnya memperlihatkan daftar transfer.
Sewa apartemen.
Listrik.
Air.
Internet.
Belanja bulanan.
Asuransi.
Biaya parkir.
Perawatan kendaraan.
Makan keluarga setiap Minggu.
“Selama lima tahun, total pengeluaran rumah tangga yang saya bayarkan mencapai lebih dari satu miliar rupiah.”
Tidak seorang pun berbicara.
Maya mengganti halaman.
“Kontribusi Mas Aris selama periode yang sama kurang dari tiga ratus juta.”
Rina menatap kakaknya seperti melihat orang asing.
“Tapi Mas selalu bilang semua biaya rumah Mas yang bayar.”
Aris mengepalkan tangan.
“Itu urusan rumah tangga kami.”
“Benar,” jawab Maya. “Seharusnya begitu. Sampai urusan rumah tangga kami dijadikan bahan cerita kepada seluruh keluarga.”
Ibu Mirna mulai gelisah.
“Ya sudah, mungkin Aris cuma salah bicara.”
Maya tersenyum tipis.
“Belum selesai, Bu.”
Klik.
Layar berubah.
Muncul puluhan bukti transaksi dengan nama Ibu Mirna dan Rina.
“Selama lima tahun, saya juga mengirim uang kepada Ibu rata-rata tiga juta rupiah setiap bulan.”
Wajah Ibu Mirna seketika pucat.
Rina menatap ibunya.
“Ibu dapat uang bulanan dari Kak Maya?”
Ibu Mirna tergagap.
“Itu… Aris bilang uang itu dari dia.”
Maya menoleh kepada Aris.
Untuk pertama kalinya, ekspresi laki-laki itu benar-benar runtuh.
“Mas Aris meminta saya mentransfer ke rekening Ibu. Katanya Ibu tidak boleh tahu uang itu berasal dari menantu karena Ibu bisa merasa tidak enak.”
Rina tertawa pendek karena tak percaya.
“Jadi selama ini Mas mengaku itu uang dari Mas?”
Aris tidak menjawab.
Maya membuka bukti berikutnya.
“Biaya sekolah anak pertama Rina tahun lalu, dua belas juta.”
Rina langsung berdiri.
“Kak Maya yang bayar?”
Maya mengangguk.
“Mas Aris bilang kalian sedang kesulitan.”
Rina menutup mulutnya.
“Kak Aris bilang dia yang pinjam uang dari kantor.”
Maya membuka halaman lain.
“Biaya rumah sakit Ibu dua tahun lalu, dua puluh delapan juta.”
Ibu Mirna mulai berkaca-kaca.
“Aris bilang… dia jual motornya.”
Maya menarik napas.
“Motornya tidak pernah dijual, Bu.”
Tidak ada lagi yang menyentuh makanan.
Sepuluh wadah plastik kosong di samping kursi Ibu Mirna mendadak terlihat seperti lelucon yang menyedihkan.
Namun Maya belum mencapai halaman terakhir.
Ia mengeluarkan satu dokumen dari map merah.
“Saya sebenarnya masih bisa memaafkan Mas Aris karena berbohong soal siapa yang membayar kebutuhan keluarga.”
Aris menatapnya.
“Tapi Jumat kemarin saya menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Maya menampilkan mutasi rekening tabungan bersama mereka.
Ada beberapa transfer besar menuju rekening pribadi Aris.
Totalnya seratus delapan puluh juta rupiah.
Wajah Aris berubah.
Maya melanjutkan.
“Uang ini berasal dari rekening yang saya siapkan untuk uang muka rumah.”
Ibu Mirna menatap putranya.
“Kamu ambil uang Maya?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Aris berdiri.
“Aku berniat mengembalikannya!”
“Untuk apa uangnya?” tanya Maya.
Aris terdiam.
Maya membuka halaman terakhir.
Bukti pembayaran sebuah mobil.
Atas nama Aris Pratama.
Rina mengernyit.
“Mobil?”
Maya mengangguk.
“Mas Aris membeli mobil baru tiga bulan lalu.”
Ibu Mirna kebingungan.
“Mobilnya mana?”
Maya memandang suaminya.
“Itu juga yang ingin saya tanyakan.”
Aris kehilangan kata-kata.
Rudi yang sejak tadi diam tiba-tiba berbicara.
“Ris… jangan bilang mobil putih yang sering dipakai perempuan dari kantormu itu?”
Aris menoleh cepat.
Semua mata tertuju kepada Rudi.
“Kamu tahu?” tanya Maya.
Rudi terlihat salah tingkah.
“Bulan lalu aku pernah ke proyek Aris. Ada perempuan menjemput dia pakai mobil putih baru. Aku pikir mobil kantor.”
Maya terdiam beberapa detik.
Anehnya, dia tidak menangis.
Justru ada ketenangan aneh di wajahnya.
Kini semuanya terasa masuk akal.
Sikap defensif Aris.
Tuduhan soal uang.
Keinginan memisahkan keuangan.
Orang yang menyembunyikan kesalahan memang sering kali menjadi orang pertama yang menuduh orang lain.
“Maya, dengarkan aku,” kata Aris panik. “Dia cuma teman kantor.”
Maya mengangkat tangan.
“Saya tidak tertarik membahas siapa perempuan itu hari ini.”
Ia mengeluarkan amplop terakhir dari map merah dan meletakkannya di depan Aris.
“Apa ini?”
“Surat dari pengacara saya.”
Aris membukanya.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Permohonan perceraian.
Ibu Mirna berdiri.
“Maya, jangan gegabah. Rumah tangga itu harus dipertahankan.”
Maya menatap perempuan yang selama bertahun-tahun ia panggil Ibu.
“Lima tahun saya mempertahankannya.”
Suaranya mulai bergetar, tetapi bukan karena takut.
“Saya bekerja. Saya memasak. Saya membayar rumah. Saya membantu keluarga Mas Aris tanpa pernah menghitungnya sebagai utang. Saya melakukannya karena saya pikir kalian keluarga saya juga.”
Air mata mulai memenuhi mata Rina.
Maya melanjutkan.
“Tapi kebaikan yang terus-menerus dianggap kewajiban akhirnya berubah menjadi kesempatan bagi orang lain untuk merendahkan kita.”
Ibu Mirna menunduk.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu tidak memiliki komentar tentang rasa rendang, kewajiban istri, atau perempuan yang menumpang hidup.
Aris mendekati Maya.
“Kita bisa memperbaikinya.”
Maya mundur satu langkah.
“Yang rusak bukan pembagian uang kita, Mas.”
Ia menunjuk dadanya sendiri.
“Yang rusak adalah caramu melihat saya.”
Tiga minggu kemudian, Aris meninggalkan apartemen.
Mobil yang dibelinya ternyata memang digunakan oleh seorang perempuan bernama Selvi, rekan administrasi proyeknya. Hubungan mereka belum sampai pada pernikahan rahasia seperti yang sempat dicurigai Rina, tetapi pesan-pesan yang ditemukan kemudian cukup menunjukkan bahwa kedekatan mereka sudah melewati batas profesional.
Maya tidak lagi membutuhkan penjelasan.
Proses perceraian berjalan.
Dua bulan kemudian, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Rina datang sendirian ke apartemen.
Di tangannya tidak ada wadah plastik.
Ia membawa satu kotak kecil.
“Aku mau mengembalikan ini.”
Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas.
“Dulu Mas Aris kasih ini waktu anakku masuk sekolah. Katanya hadiah karena dia dapat bonus.”
Rina menarik napas panjang.
“Sekarang aku tahu mungkin uangnya juga dari Kak Maya.”
Maya mendorong kotak itu kembali.
“Simpan.”
“Tapi…”
“Anggap hadiah untuk keponakanku.”
Rina menangis.
“Kenapa Kak Maya masih baik sama kami?”
Maya tersenyum.
“Saya tidak menyesal pernah membantu kalian. Saya cuma menyesal terlalu lama membiarkan orang lain membuat saya merasa bantuan itu tidak berarti.”
Setahun kemudian, Maya akhirnya membeli rumah yang dulu ingin ia beli bersama Aris.
Bukan rumah besar.
Sebuah townhouse dua lantai di pinggiran Jakarta Selatan dengan halaman kecil yang cukup untuk menanam melati dan cabai.
Pada Minggu pertama setelah pindah, bel rumah berbunyi.
Rina datang bersama kedua anaknya.
Di belakangnya berdiri Ibu Mirna.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ibu Mirna membawa dua panci makanan.
Bukan sepuluh wadah kosong.
“Saya masak soto,” katanya kikuk.
Maya tersenyum dan membuka pintu lebih lebar.
Mereka makan bersama.
Tidak ada yang meminta membawa pulang sisa makanan.
Tidak ada yang membahas siapa pencari nafkah.
Tidak ada yang menghitung siapa membayar lebih banyak.
Sebelum pulang, Ibu Mirna berdiri di depan pintu cukup lama.
“Maya.”
“Ya, Bu?”
“Saya pernah bilang kamu menumpang hidup pada anak saya.”
Maya diam.
Ibu Mirna menelan ludah.
“Ternyata selama ini justru anak saya yang menumpang pada kehidupan yang kamu bangun.”
Maya tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Setelah mereka pergi, Maya kembali ke ruang tamu.
Di salah satu lemari terdapat map merah yang kini sudah berdebu.
Ia mengambilnya, memandangnya beberapa saat, kemudian memasukkannya ke dalam kotak penyimpanan.
Map itu pernah berisi bukti pembayaran, rekening koran, tagihan, dan angka-angka yang membuktikan siapa yang memberikan lebih banyak.
Namun setahun setelah semuanya berakhir, Maya akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak tagihan yang mampu ia bayar.
Dan cinta bukan soal siapa yang paling banyak berkorban.
Cinta adalah ketika pengorbanan itu dilihat, dihargai, dan tidak pernah digunakan sebagai alasan untuk merendahkan orang yang memberikannya.
Maya menutup kotak itu.
Kali ini, untuk selamanya.
