“Joy… tolong aku… Joy…”
Suara itu membuat lututku seketika lemas.
Aku mengenal suara Marco lebih baik daripada suara siapa pun. Aku mengenal caranya menarik napas sebelum berbicara, nada seraknya ketika kelelahan, bahkan kebiasaannya menyebut namaku sedikit lebih panjang saat sedang takut.

Dan suara dari balik dinding itu adalah suara suamiku.
Bukan rekaman.
Bukan khayalan Penny.
Aku bisa mendengar napasnya.
“Marco?”
Aku menempelkan telinga ke dinding.
Terdengar bunyi benda bergeser, lalu suara tertahan.
“Joy… jangan panggil Roger.”
Aku membeku.
Paman Roger adalah kakak mendiang ibuku. Rumah besar ini miliknya. Sejak Marco berangkat ke Kanada, Roger mengizinkan aku dan Penny tinggal di sini hampir tanpa biaya.
Dia pula yang selalu membantu ketika aku sakit, mengantar Penny ke sekolah, bahkan menemaniku mengurus dokumen ketika kiriman uang Marco terlambat masuk bank.
Selama tiga tahun, aku menganggapnya seperti ayah sendiri.
“Mama…”
Penny menarik ujung bajuku.
Aku segera menggendongnya.
“Kita masuk kamar.”
“Tapi Papa…”
“Papa akan Mama keluarkan.”
Aku mengatakannya meski aku sendiri tidak tahu bagaimana.
Aku mengunci kamar dan mencoba menelepon polisi. Namun sinyal tiba-tiba hilang.
Aneh.
Beberapa menit sebelumnya aku masih menerima pesan dari akun Marco.
Aku membuka percakapan kami.
Marco sedang aktif.
Tanganku gemetar saat mengetik.
“Kamu sebenarnya ada di mana?”
Balasannya muncul hampir seketika.
“Toronto. Kenapa?”
Aku menatap layar.
Lalu ke arah lorong.
Dari balik dinding terdengar tiga ketukan pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku kembali mengetik.
“Kirim foto wajahmu sekarang.”
Lama tidak ada jawaban.
Kemudian sebuah pesan muncul.
“Joy, jangan mulai lagi. Aku sedang bekerja.”
Saat itulah sesuatu dalam diriku berubah.
Aku membuka foto-foto Toronto yang selama ini dikirim Marco. Selama tiga tahun aku terlalu percaya untuk memeriksanya.
Malam itu aku menggunakan pencarian gambar.
Foto pertama muncul di sebuah situs perjalanan.
Foto kedua berasal dari akun media sosial seorang fotografer Kanada.
Foto ketiga adalah foto kantor yang diunggah perusahaan properti dua tahun lalu.
Tanganku menjadi dingin.
Semua foto itu palsu.
Seseorang selama ini membangun kehidupan palsu Marco di Kanada.
Tiba-tiba gagang pintu depan terdengar bergerak.
Aku langsung mematikan layar ponsel.
Pintu terbuka.
Langkah kaki memasuki rumah.
“Penny?”
Suara Paman Roger.
“Joy?”
Aku menahan napas.
Jam menunjukkan pukul dua lewat dua puluh tiga menit.
Mengapa Roger datang tengah malam?
Langkahnya berhenti di lorong.
Tepat di depan dinding.
Aku mendengar bunyi logam.
Seperti kunci.
Kemudian suara bagian dinding bergeser.
Jadi memang ada pintu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Roger.
“Kubilang jangan membuat suara.”
Aku menutup mulut agar tidak menjerit.
Lalu terdengar suara pukulan.
Marco mengerang.
Penny mulai menangis tanpa suara.
Aku memeluknya erat.
“Kenapa kamu masih memanggil anak itu?” Roger berbisik tajam. “Kamu ingin Joy tahu semuanya?”
“Aku cuma ingin melihat putriku.”
“Kamu sudah melihatnya.”
“Aku ingin keluar.”
Roger tertawa kecil.
“Keluar?”
Nada suaranya begitu dingin hingga aku hampir tidak mengenal orang yang selama ini kupanggil Paman.
“Kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan, aku akan membiarkanmu keluar?”
Aku segera menyalakan perekam suara di ponsel.
Marco berkata sesuatu yang tidak jelas.
Kemudian Roger menjawab.
“Selama Joy percaya kamu ada di Kanada, semuanya aman.”
Darahku seperti membeku.
“Uang itu milik Joy,” kata Marco.
“Uang itu milik keluarga kita.”
“Kamu mencuri darinya.”
Suara benturan keras terdengar.
Setelah itu sunyi.
Aku tahu satu hal.
Aku tidak bisa menghadapi Roger sendirian.
Aku membawa Penny ke kamar mandi yang memiliki jendela kecil menghadap halaman belakang.
“Sayang, dengarkan Mama.”
Penny menatapku dengan mata basah.
“Mama mau kamu keluar lewat jendela. Pergi ke rumah Tante Rina. Jangan berhenti, jangan menoleh.”
“Tapi Mama?”
“Mama akan menyusul.”
“Aku takut.”
Aku mencium dahinya.
“Mama juga takut.”
Itu pertama kalinya aku mengakuinya.
“Orang berani bukan orang yang tidak takut, Penny. Orang berani tetap berjalan meskipun takut.”
Aku membantu tubuh kecilnya keluar.
Setelah memastikan Penny berlari menuju rumah tetangga, aku kembali ke lorong.
Dinding itu tampak normal.
Namun sekarang aku tahu rahasianya.
Aku meraba bagian bawah panel dan menemukan celah tipis.
Tiba-tiba lampu lorong menyala.
Aku menoleh.
Roger berdiri di belakangku.
Wajahnya tidak lagi ramah.
“Sedang apa kamu?”
Aku memaksakan senyum.
“Mencari Penny.”
“Di dinding?”
Aku tidak menjawab.
Tatapannya turun ke ponsel di tanganku.
“Mana Penny?”
“Di kamar.”
Roger berjalan mendekat.
“Lihat aku, Joy.”
Aku menatapnya.
“Berikan ponselmu.”
“Kenapa?”
“Berikan.”
Aku mundur.
Saat itulah dia tahu.
Wajahnya berubah.
Roger menerjang.
Aku berlari ke dapur.
Dia mengejarku dan berhasil menarik rambutku.
Ponselku jatuh.
“Dasar bodoh!” bentaknya. “Kamu seharusnya hidup nyaman saja!”
Aku berusaha melepaskan diri.
“Marco di mana?”
Roger menamparku.
Aku jatuh menghantam meja makan.
“Suamimu menghancurkan semuanya!”
“Apa yang kamu lakukan kepadanya?”
“Aku menyelamatkan keluargamu!”
Aku menatapnya tidak percaya.
Roger tertawa seperti orang yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia.
Tiga tahun lalu, katanya, Marco tidak pernah pergi ke Kanada.
Marco sebenarnya menemukan sesuatu tentang Roger.
Sejak mendiang ibuku meninggal, Roger diam-diam mengelola beberapa aset keluarga yang seharusnya menjadi warisanku ketika aku berusia tiga puluh tahun.
Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Bukan ratusan juta.
Puluhan miliar rupiah.
Marco mengetahui Roger memalsukan beberapa dokumen kepemilikan.
Ia berniat melaporkannya.
Malam sebelum keberangkatannya ke Kanada, Roger mengundang Marco untuk berbicara.
Marco tidak pernah keluar dari rumah ini lagi.
“Lalu uang seratus juta setiap bulan?”
Roger tersenyum.
“Uangmu sendiri.”
Aku merasa mual.
Roger mengambil sebagian kecil keuntungan dari aset milikku, lalu mengirimkannya seolah-olah berasal dari Marco.
Dengan begitu aku percaya suamiku hidup sukses di Kanada.
“Pesan-pesan Marco?”
“Aku.”
“Panggilan telepon?”
Roger terdiam.
Aku langsung memahami jawabannya.
“Itu benar-benar Marco.”
Roger mengangguk.
“Aku membiarkannya menelepon beberapa kali. Dengan pengawasan.”
Aku teringat setiap percakapan singkat kami.
Marco selalu terdengar lelah.
Ia tak pernah mau berbicara lama.
Aku mengira perbedaan waktu membuatnya kelelahan.
Ternyata selama ini suamiku berbicara kepadaku hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.
Air mataku jatuh.
“Kenapa dia tidak bilang?”
“Karena aku mengatakan kalau dia bicara, kamu dan Penny akan mati.”
Suara Roger terdengar begitu tenang.
Aku hampir muntah.
“Monster…”
Roger tersenyum tipis.
“Jangan sok suci. Kamu hidup enak selama tiga tahun.”
“Itu uangku!”
“Dan siapa yang menjaga semuanya tetap berjalan?”
“Kamu mengurung suamiku!”
“Dia yang memaksaku!”
Roger melangkah mendekat.
Aku mundur.
Lalu terdengar suara sirene.
Wajah Roger berubah.
Ia menoleh ke jendela.
Aku tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
“Penny tidak ada di kamar.”
Roger langsung menerjangku.
Namun sebelum tangannya mencapai leherku, pintu depan dihantam dari luar.
Beberapa petugas polisi masuk bersama Pak Hendra, suami Tante Rina.
Roger mencoba melarikan diri melalui dapur.
Dia tidak sempat mencapai pintu belakang.
Dua polisi menjatuhkannya ke lantai.
Aku berlari menuju dinding.
“Marco!”
Petugas menemukan mekanisme pintu tersembunyi di balik rak kayu.
Ketika panel itu terbuka, bau lembap langsung memenuhi lorong.
Di baliknya ada ruangan sempit.
Bukan ruang bawah tanah.
Lebih mirip kamar tersembunyi yang dibangun di antara gudang lama dan dinding belakang rumah.
Di dalamnya ada kasur tipis.
Toilet kecil.
Botol air.
Obat-obatan.
Dan seorang pria kurus duduk di lantai dengan rantai di pergelangan kaki.
Rambutnya panjang.
Janggutnya tidak terurus.
Tubuhnya begitu kurus hingga tulang pipinya menonjol.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Namun matanya masih sama.
“Marco…”
Dia mengangkat kepala.
Bibirnya bergetar.
“Joy?”
Aku berlari memeluknya.
Tubuhnya sangat ringan.
Marco menangis di bahuku.
Aku juga menangis.
Lalu terdengar langkah kaki kecil.
“Papa!”
Penny menerobos masuk sebelum seorang polisi sempat menghentikannya.
Marco menatap putrinya.
Terakhir kali dia melihat Penny bebas, anak kami bahkan belum berusia dua tahun.
Kini Penny berumur empat tahun.
Marco membuka kedua tangannya.
Penny memeluknya.
“Papa jangan tinggal di tembok lagi.”
Marco menangis lebih keras.
“Ayah nggak akan tinggal di tembok lagi.”
Kupikir malam itu seluruh kebenaran sudah terbuka.
Ternyata belum.
Beberapa hari kemudian, ketika Marco dirawat di rumah sakit, polisi menemukan sesuatu di ruang tersembunyi itu.
Sebuah laptop.
Marco ternyata berhasil menyembunyikannya selama hampir setahun.
Laptop lama itu tidak terhubung ke internet, tetapi berisi ratusan catatan.
Tanggal.
Nomor rekening.
Nama perusahaan.
Salinan dokumen.
Marco selama ditahan diam-diam mencatat percakapan Roger dan menyusun kembali jejak transaksi yang pernah dia lihat sebelum dikurung.
Bukti itu membuka kasus yang jauh lebih besar.
Roger tidak bekerja sendirian.
Pengacara keluarga, seorang pegawai bank, dan mantan manajer aset ibuku ternyata ikut terlibat.
Mereka menggunakan aset warisanku sebagai jaminan untuk berbagai transaksi ilegal.
Roger hanya orang yang memastikan aku tidak pernah curiga.
Namun ada satu pertanyaan yang terus menggangguku.
Bagaimana Marco bisa mendapatkan laptop?
Jawabannya datang dari Penny.
Suatu sore di rumah sakit, dia sedang menggambar ketika aku bertanya bagaimana pertama kali dia tahu ayahnya berada di balik tembok.
Penny menjawab polos.
“Papa kasih aku mobil-mobilan.”
“Mobil-mobilan?”
“Yang merah.”
Aku teringat mainan kecil yang tiba-tiba dimiliki Penny sekitar setahun lalu.
Kupikir Roger yang membelikannya.
“Papa kasih dari lubang kecil.”
Marco tersenyum lemah.
Ternyata ada ventilasi kecil di bagian bawah dinding yang tertutup lemari.
Suatu malam, Penny menjatuhkan bola ke belakang lemari dan menemukan lubang itu.
Marco mendengar suaranya.
Sejak itu mereka sering berbicara diam-diam.
Penny membawa biskuit.
Pensil.
Kertas.
Kadang mainan.
Dan suatu hari, Penny membawa tablet lamaku yang rusak karena mengira Papa bisa memperbaikinya.
Marco tidak bisa.
Namun dari percakapan itu, dia mengetahui aku masih menyimpan laptop lamanya di gudang.
Dia meminta Penny mengambilnya.
Entah bagaimana, anak berusia empat tahun itu berhasil menyeret laptop tersebut ke ventilasi sedikit demi sedikit.
Aku menatap putriku lama sekali.
Selama ini aku mengira Penny hanya bermain sendiri setiap malam.
Ternyata dia sedang menjaga ayahnya tetap waras.
Roger akhirnya dijatuhi hukuman penjara setelah proses hukum panjang.
Sebagian besar aset berhasil dikembalikan kepadaku.
Namun uang tidak pernah benar-benar terasa penting lagi.
Marco membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Dia takut ruangan gelap.
Takut suara kunci.
Kadang terbangun tengah malam dengan napas terengah-engah.
Aku juga tidak pernah lagi bisa mendengar suara garukan di dinding tanpa merasakan tubuhku menegang.
Kami menjual rumah itu.
Aku tidak sanggup tinggal di sana.
Setahun kemudian kami pindah ke rumah kecil di pinggiran Bandung.
Tidak mewah.
Tidak sebesar rumah Roger.
Namun rumah itu memiliki banyak jendela.
Marco sendiri yang memilihnya.
Katanya dia ingin bisa melihat langit dari setiap ruangan.
Suatu malam, aku menemukan Penny sedang menggambar di ruang keluarga.
Ada tiga orang bergandengan tangan.
Aku, Marco, dan dirinya.
Di atas kami ada matahari besar.
Aku tersenyum.
“Ini rumah kita?”
Penny mengangguk.
Aku melihat bagian kanan gambar.
Ada sebuah tembok.
Di balik tembok itu ada sosok kecil berwarna hitam.
Jantungku berdegup cepat.
“Siapa ini?”
Penny menatap gambar itu.
Lalu menatapku.
“Monster.”
Aku menelan ludah.
“Monster yang dulu?”
Penny menggeleng.
“Monster itu bukan Paman Roger.”
Aku membeku.
“Lalu siapa?”
Penny menunjuk sosok hitam tersebut.
“Orang yang sering datang waktu Paman Roger nggak ada.”
Aku merasa udara di ruangan mendadak dingin.
Marco yang sedang membaca di sofa langsung berdiri.
“Penny, orang apa?”
Penny mengangkat bahu.
“Om yang kasih obat ke Papa.”
Marco pucat.
“Apa kamu pernah melihat wajahnya?”
Penny mengangguk.
Lalu dengan santai mengambil pensil dan menggambar sebuah tanda kecil di dada sosok itu.
Logo.
Aku mengenal logo tersebut.
Logo perusahaan keamanan yang selama bertahun-tahun menjaga gedung tempat aset keluargaku dikelola.
Kasus Roger memang selesai.
Tetapi ternyata jaringan itu belum sepenuhnya terbongkar.
Marco menggenggam tanganku.
Kali ini kami tidak menunggu.
Kami membawa gambar Penny dan seluruh informasi itu kepada penyidik.
Enam bulan kemudian, penyelidikan baru membongkar keterlibatan direktur perusahaan keamanan tersebut dalam pencucian uang dan penyekapan Marco.
Orang terakhir yang merasa rahasianya aman akhirnya ditangkap.
Pada malam setelah berita penangkapan itu keluar, Marco berdiri lama di halaman belakang.
Aku menghampirinya.
“Kamu baik-baik saja?”
Dia menatap langit.
“Aku dulu berpikir kalau berhasil keluar dari ruangan itu, semuanya akan langsung terasa normal.”
“Dan ternyata tidak?”
Marco menggeleng.
“Luka tidak hilang hanya karena pintunya sudah terbuka.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi sekarang kamu nggak sendirian.”
Marco menatapku.
Kemudian Penny berlari keluar sambil membawa selimut.
“Papa! Mama! Lihat bintang!”
Kami bertiga duduk di rumput.
Tidak ada Toronto.
Tidak ada foto salju palsu.
Tidak ada rekening rahasia.
Tidak ada dinding yang memisahkan kami.
Hanya langit malam dan tangan kecil Penny yang menggenggam jari kami.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama tiga tahun aku mengira kebohongan terbesar dalam hidupku adalah bahwa suamiku tinggal di Kanada.
Ternyata bukan.
Kebohongan terbesar adalah keyakinanku bahwa rumah yang terlihat aman pasti benar-benar aman.
Kadang orang yang paling berbahaya bukan orang asing yang berdiri di luar pintu.
Melainkan orang yang kita beri kunci untuk masuk.
Dan terkadang kebenaran tidak datang lewat polisi, pengacara, atau orang dewasa yang merasa dirinya paling tahu.
Kadang kebenaran datang melalui suara kecil seorang anak berusia empat tahun yang berbisik di tengah malam.
“Mama… Papa tinggal di balik tembok.”
