Kakek Itu Hanya Butuh Rp350 Ribu untuk Pulang Terakhir Kali—Tapi Nama di Balik Jam Tuanya Membuat Seorang Pengendara Motor Mendadak Pucat

“Kalau kamu tahu nama itu… berarti selama lima puluh tujuh tahun saya telah menjaga jam ini untuk orang yang salah.”

Suara Pak Darma begitu pelan, tetapi kalimat itu membuat semua orang di tempat peristirahatan mendadak diam.

Dimas masih berdiri di hadapannya dengan wajah pucat.

Aku melirik jam tua yang kini digenggam erat oleh Pak Darma.

“Apa nama yang tertulis di sana?” tanyaku.

Dimas menelan ludah.

“Surya Atmadja.”

Pak Darma memejamkan mata.

Tangannya gemetar lebih hebat daripada ketika kami bertemu di toko barang bekas sehari sebelumnya.

Dimas segera membuka dompetnya. Dari salah satu lipatannya, ia mengeluarkan foto kecil yang warnanya sudah menguning. Foto seorang laki-laki muda berdiri di depan sebuah rumah sederhana, mengenakan seragam kerja dan tersenyum ke arah kamera.

Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan.

Surya Atmadja, Yogyakarta, 1968.

“Ini kakek saya,” kata Dimas.

Aku menatap Dimas, lalu Pak Darma.

“Pak, bagaimana jam Bapak bisa punya nama kakeknya Dimas?”

Pak Darma tidak langsung menjawab.

Ia hanya meminta kami membantunya masuk ke mobil pendamping.

Sepuluh menit kemudian, perjalanan dihentikan sementara. Kami berkumpul di sebuah warung kecil di pinggir jalan.

Pak Darma duduk sambil memandangi jam itu.

“Surya bukan pemilik jam ini,” katanya akhirnya.

Dimas mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Jam ini milik saya.”

Pak Darma membalik jam tersebut. Di bagian belakang memang terukir nama Surya Atmadja dengan huruf kecil yang nyaris terhapus.

“Nama itu saya ukir sendiri.”

“Kenapa?”

Pak Darma menarik napas panjang.

“Supaya saya tidak pernah lupa kepada orang yang pernah menyelamatkan hidup saya.”

Ia mulai bercerita.

Lima puluh tujuh tahun lalu, Darma dan Surya adalah dua pemuda berusia dua puluhan yang bekerja di sebuah bengkel mesin di Yogyakarta.

Darma berasal dari keluarga miskin. Ayahnya meninggal ketika ia masih remaja. Ibunya sakit-sakitan. Sementara Surya dikenal sebagai pemuda yang selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.

Mereka bersahabat seperti saudara.

Suatu malam, kebakaran terjadi di gudang belakang bengkel.

Darma terjebak di dalam.

Ketika semua orang berlari keluar, Surya justru kembali masuk.

Ia menyeret Darma keluar beberapa detik sebelum sebagian atap runtuh.

“Kalau dia terlambat sedikit saja,” kata Pak Darma, “saya tidak akan duduk di sini sekarang.”

Namun setelah kebakaran itu, sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Pemilik bengkel kehilangan sejumlah uang tunai dari ruang kantornya.

Kecurigaan jatuh kepada Surya.

“Ada uang ditemukan di tasnya,” lanjut Pak Darma.

Dimas langsung berdiri.

“Kakek saya pencuri?”

“Duduk dulu.”

Nada Pak Darma berubah.

“Karena justru itu alasan saya pulang.”

Ia menatap Dimas lurus-lurus.

“Surya tidak mencuri uang itu.”

Aku mulai merasakan ada sesuatu yang selama ini dipendam lelaki tua tersebut.

“Bapak tahu siapa yang melakukannya?”

Pak Darma mengangguk.

“Saya.”

Dimas membeku.

Beberapa anggota komunitas saling berpandangan.

Pak Darma menunduk.

“Saya yang mengambil uang itu.”

Malam sebelum kebakaran, ibu Darma mengalami pendarahan dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Ia tidak memiliki uang. Dalam keadaan panik, Darma mengambil uang dari laci kantor dengan niat mengembalikannya setelah menerima gaji.

Namun kebakaran terjadi.

Uang itu masih berada di sakunya.

Ketika polisi mulai menyelidiki, Darma ketakutan.

“Saya baru berumur dua puluh tujuh tahun. Saya pengecut.”

“Tapi bagaimana uangnya bisa ditemukan di tas Kakek saya?” tanya Dimas dengan suara bergetar.

Pak Darma menatapnya.

“Karena Surya yang memasukkannya.”

Dimas terdiam.

Aku pun tidak langsung memahami.

“Untuk apa?”

“Untuk mengaku sebagai pelakunya.”

Ternyata setelah menyelamatkan Darma dari kebakaran, Surya menemukan uang tersebut jatuh dari saku sahabatnya.

Ia langsung mengerti semuanya.

Surya tahu ibu Darma sedang sakit.

Ia juga tahu Darma adalah satu-satunya orang yang menanggung biaya hidup tiga adiknya.

Jika Darma dipenjara, keluarganya akan kehilangan satu-satunya pencari nafkah.

Malam itu Surya mengambil keputusan gila.

Ia menaruh uang tersebut di tasnya sendiri.

Surya kemudian mengaku mencurinya.

“Dia bilang kepada saya, ‘Kamu punya ibu dan adik-adik. Saya cuma punya diri sendiri.’”

Suara Pak Darma mulai pecah.

Surya akhirnya menjalani hukuman.

Setelah bebas, ia meninggalkan Yogyakarta karena hampir tidak ada bengkel yang mau menerimanya bekerja.

Nama buruk sebagai pencuri mengikutinya.

Sementara Darma melanjutkan hidup.

Ia bekerja.

Menikah.

Memiliki anak.

Membangun usaha kecil di Bandung.

“Selama bertahun-tahun saya mencari Surya,” katanya. “Tapi saya tidak pernah menemukannya.”

“Kenapa Bapak tidak mengaku sejak dulu?” Dimas bertanya.

Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan.

Dan memang seharusnya begitu.

Pak Darma tidak membela diri.

“Karena saya pengecut.”

Tidak ada alasan tentang keadaan.

Tidak ada pembenaran.

Hanya kalimat itu.

“Saya takut kehilangan keluarga. Takut dipenjara. Takut anak-anak saya tahu siapa ayah mereka sebenarnya.”

Ia mengangkat jam tuanya.

“Surya pernah memperbaiki jam ini. Sebelum pergi, saya mengukir namanya di belakang supaya setiap kali melihat waktu, saya ingat bahwa setiap hari yang saya jalani sebenarnya dibeli dengan pengorbanan orang lain.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Jadi Kakek saya hidup membawa cap pencuri karena Bapak?”

“Iya.”

“Dan Bapak hidup normal selama lima puluh tujuh tahun?”

“Iya.”

Dimas tiba-tiba menendang kursi di sebelahnya.

Semua orang terkejut.

Aku bangkit, tetapi Pak Darma mengangkat tangan.

“Biarkan.”

Mata Dimas memerah.

“Kakek saya meninggal ketika saya masih SMP. Sampai meninggal, beberapa keluarga kami masih menganggap dia pembuat malu.”

Pak Darma mulai menangis.

“Saya tahu permintaan maaf saya tidak cukup.”

“Memang tidak cukup.”

“Iya.”

“Jadi buat apa Bapak ke Yogya sekarang?”

Pak Darma membuka tas kanvasnya.

Dari bagian paling bawah, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

Di dalamnya terdapat surat pengakuan yang telah ditandatangani di hadapan notaris, salinan dokumen lama, alamat bengkel, beberapa kliping koran tentang kebakaran, dan sebuah buku tabungan.

Pak Darma meletakkan semuanya di meja.

“Saya mau membersihkan nama Surya sebelum saya mati.”

Dimas membuka buku tabungan itu.

Matanya melebar.

Jumlahnya bukan ratusan ribu.

Bukan pula beberapa juta.

Lebih dari enam ratus juta rupiah.

“Itu hampir seluruh tabungan saya,” kata Pak Darma. “Saya sudah menjual bengkel kecil saya tahun lalu.”

Dimas langsung menutup buku itu.

“Saya tidak mau.”

“Bukan untuk membeli maafmu.”

“Saya tetap tidak mau.”

“Kalau begitu gunakan untuk sesuatu atas nama kakekmu.”

Dimas terdiam.

Pak Darma berkata ia hanya ingin satu hal.

Pulang ke Yogyakarta.

Menemukan rumah masa kecilnya.

Lalu mencari makam Surya.

Perjalanan dilanjutkan dalam suasana yang jauh berbeda.

Dimas tidak lagi duduk bersama Pak Darma.

Ia memilih mengendarai motornya di barisan paling belakang.

Menjelang sore kami tiba di Yogyakarta.

Masalah berikutnya muncul ketika alamat lama yang dibawa Pak Darma ternyata sudah berubah total.

Rumah masa kecilnya telah lama dibongkar. Kawasan tersebut kini dipenuhi ruko dan rumah kos.

Pak Darma berdiri di pinggir jalan hampir lima menit tanpa berbicara.

“Sudah tidak ada,” gumamnya.

Aku mengira ia akan kecewa.

Namun lelaki itu justru tersenyum.

“Tidak apa-apa. Setidaknya saya tahu saya sudah kembali.”

Kami kemudian mencari makam Surya berdasarkan informasi dari Dimas.

Pemakaman itu berada di sebuah kampung di pinggiran Bantul.

Ketika rombongan motor memasuki jalan kecil menuju makam, warga keluar dari rumah karena penasaran.

Dimas berjalan paling depan.

Pak Darma mengikuti perlahan dengan tongkat.

Kami berhenti di sebuah makam sederhana.

Nama Surya Atmadja tertulis di batu nisannya.

Pak Darma mendadak kehilangan tenaga.

Ia berlutut.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada tangisan dramatis.

Ia hanya meletakkan jam tua itu di atas makam.

“Surya,” katanya lirih, “saya terlambat.”

Dimas berdiri beberapa meter di belakangnya.

“Saya menjalani hidup yang seharusnya mungkin tidak saya miliki.”

Pak Darma mengusap batu nisan.

“Kamu bilang waktu itu saya punya keluarga yang membutuhkan saya. Tapi saya menggunakan alasan itu terlalu lama.”

Ia kemudian mengeluarkan surat pengakuannya.

“Besok saya akan menyerahkan ini kepada siapa pun yang masih bisa mencatat kebenaran. Saya tidak peduli nama saya rusak. Saya cuma tidak mau nama kamu tetap kotor setelah saya mati.”

Dimas akhirnya berjalan mendekat.

Aku mengira ia akan mengambil jam tersebut.

Ternyata tidak.

Ia duduk di samping Pak Darma.

“Kakek saya pernah cerita tentang seorang teman bernama Darma.”

Pak Darma langsung menoleh.

“Apa?”

“Waktu saya kecil.”

Dimas mengusap wajahnya.

“Dia bilang, dulu ada sahabat yang hidupnya berantakan karena ibunya sakit. Kakek tidak pernah bilang soal pencurian.”

Pak Darma menatapnya tanpa berkedip.

Dimas melanjutkan.

“Dia cuma pernah bilang, kalau suatu hari orang bernama Darma datang mencarinya, jangan usir.”

Pak Darma mulai terisak.

“Surya bilang begitu?”

Dimas mengangguk.

“Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”

Dimas mengambil ponselnya lalu menelepon ayahnya.

Setelah berbicara sebentar, ia meminta seseorang di rumah membuka kotak kayu peninggalan Surya.

Beberapa menit kemudian sebuah foto dikirim.

Dimas memperlihatkannya kepada kami.

Di dalam kotak itu ternyata tersimpan sepucuk surat.

Surat tersebut ditulis Surya beberapa bulan sebelum meninggal.

Ayah Dimas tidak pernah membukanya karena di bagian depan tertulis satu nama.

Darma.

Malam itu, surat tersebut dibacakan melalui panggilan video.

Pak Darma menangis bahkan sebelum kalimat pertama selesai.

Surya ternyata tahu sahabatnya mencarinya selama bertahun-tahun.

Namun ia sengaja tidak pernah memberikan alamat.

Bukan karena membenci Darma.

Ia malu.

Setelah keluar dari penjara, Surya sempat terjerumus dalam perjudian dan utang. Ia merasa hidupnya terlalu kacau untuk kembali menemui sahabat lamanya.

Bagian terakhir surat membuat kami semua diam.

“Darma, kalau suatu hari kamu masih merasa berutang kepadaku, berhentilah. Aku mengambil keputusan itu sendiri. Kamu memang bersalah karena mencuri, tetapi aku juga memilih berbohong untuk melindungimu. Kita sama-sama membuat kesalahan saat masih muda. Kalau masih ada waktu, gunakan hidupmu untuk menolong orang yang membutuhkan. Dengan begitu, mungkin kebodohan kita dulu tidak sepenuhnya sia-sia.”

Pak Darma menutup wajahnya.

Selama lima puluh tujuh tahun ia membawa rasa bersalah.

Sementara lelaki yang ia pikir telah membencinya ternyata meninggalkan pengampunan.

Keesokan harinya kami membantu Pak Darma menyerahkan pengakuan tertulisnya kepada keluarga Surya dan mengurus dokumen yang diperlukan untuk meluruskan cerita lama tersebut.

Uang tabungannya akhirnya tidak diterima Dimas.

Sebagai gantinya, keluarga sepakat menggunakan sebagian dana itu untuk mendirikan program bantuan kecil bagi lansia yang ingin pulang ke kampung halaman tetapi tidak memiliki biaya.

Namanya Rumah Pulang Surya.

Pak Darma tinggal di Yogyakarta selama tiga minggu.

Kesehatannya memburuk dengan cepat.

Aku sempat menawarkan membawanya kembali ke Bandung.

Ia menolak.

“Saya sudah sampai rumah, Ka.”

Pak Darma meninggal dua bulan kemudian di sebuah rumah perawatan di Yogyakarta.

Aku dan Dimas datang ke pemakamannya.

Jam tua itu tidak dikuburkan bersamanya.

Dimas menyimpannya.

Setahun kemudian, saat komunitas motor kami mengantar seorang nenek berusia tujuh puluh sembilan tahun pulang dari Bandung ke Solo melalui program Rumah Pulang Surya, Dimas memakai jam tersebut di pergelangan tangannya.

Aku sempat bertanya kenapa.

Ia melihat jam itu lalu tersenyum.

“Karena ternyata jam ini bukan tentang kesalahan Pak Darma.”

“Lalu?”

“Ini tentang waktu yang masih tersisa untuk memperbaikinya.”

Aku tidak pernah melupakan jawaban itu.

Kadang hidup memang tidak memberi kita kesempatan untuk kembali ke masa lalu.

Kita tidak bisa menarik ucapan.

Tidak bisa menghapus keputusan buruk.

Tidak bisa mengembalikan puluhan tahun yang hilang.

Tetapi selama jarum jam masih bergerak, selalu ada pilihan tentang apa yang kita lakukan pada menit berikutnya.

Dan semua itu bermula dari seorang lelaki tua yang hampir menjual kenangan lima puluh tujuh tahunnya hanya karena kekurangan seratus tiga puluh ribu rupiah untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang