Putri Tiri Suamiku Datang Membawa Koper Retak dan Hanya Berani Minum Air Saat Lapar—Delapan Tahun Kemudian, Satu Kalimatnya di Stasiun

“Tante jangan marah sama Mama.”

Alya menggenggam ponselnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Mama cuma takut kalau aku juga nggak boleh tinggal di sini.”

Kalimat itu membuatku tidak bisa tidur sampai pagi.

Bukan karena marah kepada Melinda. Setidaknya, bukan hanya karena itu.

Aku takut membayangkan berapa lama seorang anak harus hidup dalam ketidakpastian sampai ia percaya bahwa tempat tinggal, makanan, bahkan kasih sayang bisa dicabut kapan saja kalau dirinya dianggap merepotkan.

Pagi berikutnya aku menceritakan pesan suara itu kepada Fajar.

Dia mendengarkan rekamannya dua kali.

Setelah itu, suamiku duduk diam di meja makan.

“Aku gagal jadi ayahnya.”

“Jangan bicara begitu.”

“Aku transfer uang tiap bulan. Aku jemput dia dua minggu sekali. Aku pikir itu cukup.”

Fajar menutup wajahnya.

“Ternyata aku nggak tahu anakku takut mengambil telur.”

Aku tidak tahu bagaimana menghiburnya.

Jadi aku hanya berkata, “Kalau merasa terlambat, jangan habiskan waktu dengan menyesal. Mulai sekarang lakukan yang seharusnya.”

Hari itu Fajar menelepon Melinda.

Kali ini perempuan itu mengangkat.

“Alya tinggal sama aku,” kata Fajar tanpa basa-basi.

“Memangnya selama ini aku bilang tidak boleh?”

“Bukan sementara.”

Hening.

“Maksudmu?”

“Aku mau Alya tinggal di sini secara tetap.”

Nada suara Melinda langsung berubah.

“Jangan berlebihan cuma gara-gara anak itu mengadu.”

“Dia nggak mengadu.”

“Terus?”

“Justru itu masalahnya. Dia nggak pernah mengadu.”

Fajar menceritakan semuanya.

Tentang Alya yang takut makan.

Tentang dirinya yang meminta izin memakai sabun.

Tentang bagaimana dia langsung mengaku salah setiap kali terjadi sesuatu.

Melinda membela diri.

Katanya Alya memang sensitif.

Katanya sejak kecil Alya terlalu pendiam.

Katanya dirinya hanya mengajari anak supaya tahu diri karena sekarang dia sudah menikah lagi.

Lalu sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

“Aku juga harus menjaga rumah tanggaku, Jar.”

Fajar terdiam.

Aku bisa melihat sesuatu berubah di wajah suamiku.

Mungkin saat itulah dia akhirnya mengerti.

Bukan Alya yang membuat rumah tangga Melinda sulit.

Keberadaan Alya hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dikorbankan supaya rumah tangga baru itu tetap nyaman.

“Baik,” kata Fajar. “Kalau begitu aku yang jaga anakku.”

Telepon ditutup.

Kami mengira masalah selesai.

Ternyata baru dimulai.

Dua minggu kemudian Melinda datang bersama Hendra.

Alya sedang mengerjakan PR bersama Raka di ruang keluarga.

Begitu melihat ibunya, wajahnya langsung tegang.

“Ayo kemasi barangmu,” kata Melinda.

Alya menoleh kepadaku.

Aku tidak menjawab.

Fajar keluar dari kamar kerja.

“Dia nggak pergi ke mana-mana.”

Melinda tertawa sinis.

“Dia anakku.”

“Dan anakku.”

“Aku ibunya yang mengasuh dia sejak kecil.”

“Lalu kenapa semua barangnya kamu antar ke sini dalam satu koper?”

Melinda kehilangan kata-kata.

Hendra ikut bicara.

“Kami cuma lagi ada masalah keluarga waktu itu.”

Fajar menatapnya.

“Masalah keluarga sampai anak sepuluh tahun harus disingkirkan?”

“Jaga ucapanmu.”

“Aku sedang menjaganya.”

Suasana semakin panas sampai tiba-tiba terdengar suara kecil.

“Ma.”

Semua menoleh.

Alya berdiri di belakang sofa.

Tangannya gemetar.

“Aku boleh tinggal di sini sampai sekolah selesai?”

Melinda langsung mendekatinya.

“Jangan dengarkan orang lain. Kamu pulang sama Mama.”

Alya mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu membuat semua orang terdiam.

Melinda pun berhenti.

“Alya?”

“Aku takut bikin Mama susah.”

Wajah Melinda berubah.

“Kamu ngomong apa?”

“Aku nggak mau bikin Mama sama Om Hendra bertengkar.”

“Kami nggak bertengkar gara-gara kamu.”

Alya menatap lantai.

“Tapi waktu aku makan ayam yang terakhir, Om Hendra marah.”

Hendra langsung menyela.

“Itu cuma sekali.”

Alya melanjutkan.

“Waktu aku pakai AC, Om bilang listrik mahal.”

“Alya.”

“Waktu aku minta uang buat buku sekolah, Mama bilang tunggu Ayah transfer.”

Melinda mulai panik.

“Sudah. Jangan ngomong sembarangan.”

“Tapi uang dari Ayah sudah masuk tiga hari sebelumnya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Fajar menoleh tajam kepada mantan istrinya.

“Apa?”

Melinda memucat.

Belakangan kami baru mengetahui sebagian uang bulanan yang Fajar kirim untuk kebutuhan Alya dipakai membayar cicilan mobil Hendra dan kebutuhan rumah tangga mereka.

Tidak semuanya.

Namun cukup banyak untuk membuat Fajar merasa dibohongi selama bertahun-tahun.

Perselisihan mengenai pengasuhan berlangsung berbulan-bulan.

Untuk pertama kalinya, Fajar tidak hanya mengirim uang dan berharap semuanya baik-baik saja.

Dia datang ke sekolah Alya.

Berbicara dengan wali kelas.

Menyimpan bukti transfer.

Mencatat kebutuhan putrinya.

Dan yang terpenting, dia mulai bertanya kepada Alya apa yang dia inginkan.

Pada akhirnya Alya tetap tinggal bersama kami.

Bukan karena kami menang melawan siapa pun.

Melainkan karena ketika diminta bicara, Alya mengatakan dengan suara pelan bahwa dia ingin tinggal bersama ayahnya.

Bulan-bulan pertama tidak mudah.

Alya masih menyimpan makanan.

Aku pernah menemukan tiga biskuit di dalam kotak pensilnya.

Pernah juga menemukan roti yang sudah mengeras di laci.

Aku tidak memarahinya.

Aku membeli sebuah kotak makanan kecil dan meletakkannya di dapur.

Kutempel kertas bertuliskan nama Alya dan Raka.

“Ini buat apa?” tanyanya.

“Tempat camilan.”

“Punya siapa?”

“Kalian.”

“Kalau habis?”

“Diisi lagi.”

“Kalau aku makan banyak?”

“Ya nanti Tante beli lagi.”

Dia menatap kotak itu seperti aku baru menunjukkan sesuatu yang mustahil.

Butuh hampir satu tahun sampai Alya berhenti bertanya apakah boleh mengambil makanan.

Butuh lebih lama sampai dia berani berkata kalau tidak suka sesuatu.

Suatu malam aku memasak sup wortel.

Alya memakannya pelan.

“Kamu nggak suka?”

Dia buru-buru menggeleng.

“Enak.”

Aku tersenyum.

“Kalau nggak suka, bilang.”

Dia diam cukup lama.

Kemudian berbisik, “Aku nggak terlalu suka wortel.”

“Baik.”

Wajahnya langsung panik.

“Tapi aku bisa habiskan.”

“Nggak perlu.”

“Serius?”

“Serius.”

Raka yang duduk di sebelahnya langsung mendorong mangkuk.

“Aku suka wortel. Kasih aku.”

Untuk pertama kalinya Alya tertawa keras di meja makan.

Sejak hari itu rumah kami perlahan berubah.

Atau mungkin Alya yang berubah karena akhirnya merasa rumah itu miliknya juga.

Kopernya yang rusak baru benar-benar dibongkar hampir enam bulan setelah dia datang.

Aku masih ingat sore itu.

Alya memanggilku ke kamar.

“Tante.”

“Ya?”

“Aku boleh taruh baju di lemari?”

Aku menahan air mata.

“Boleh.”

“Semua?”

“Semua.”

Dia membuka koper birunya.

Kami memindahkan pakaian satu per satu.

Di bagian paling bawah ada album foto kecil.

Sebagian besar berisi foto Alya bersama Melinda ketika masih kecil.

Aku tidak pernah menyuruhnya membuangnya.

Aku justru membeli kotak penyimpanan agar album itu tidak rusak.

“Ini tetap Mama kamu,” kataku.

Alya menatapku.

“Tante nggak marah?”

“Kenapa harus marah?”

Dia tidak menjawab.

Hubungannya dengan Melinda tidak langsung membaik.

Ada ulang tahun yang dilewatkan.

Ada janji bertemu yang dibatalkan.

Ada telepon yang datang hanya ketika Melinda sedang bertengkar dengan Hendra.

Namun aku tidak pernah mengajari Alya membenci ibunya.

Fajar juga tidak.

Kami hanya berhenti memaksanya mengejar seseorang yang berkali-kali memilih menjauh.

Tahun berganti.

Alya tumbuh menjadi remaja yang berbeda dari anak kecil yang pernah berdiri di depan kulkasku sambil meminta izin mengambil susu.

Dia pintar.

Nilainya bagus.

Dan anehnya, dia sangat menyukai memasak.

Katanya dapur membuatnya merasa tenang.

Saat berusia tujuh belas tahun, Alya diterima di salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Hari keberangkatannya datang terlalu cepat.

Kami mengantarnya ke Stasiun Pasar Senen.

Raka, yang sekarang sudah lima belas tahun, sibuk mengangkat koper kakaknya sambil mengeluh karena berat.

Koper itu bukan koper biru lama.

Fajar membelikannya koper baru sebagai hadiah kelulusan.

Namun koper biru dengan tiga roda itu tetap disimpan Alya di rumah.

Katanya dia belum siap membuangnya.

Kami sedang berdiri di dekat pintu keberangkatan ketika seseorang memanggil.

“Alya.”

Aku langsung mengenali suara itu.

Melinda.

Dia datang sendirian.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding delapan tahun sebelumnya.

Belakangan kami tahu pernikahannya dengan Hendra sudah berakhir.

Alya terdiam.

Melinda mendekat sambil membawa sebuah amplop.

“Ini buat kamu.”

“Apa?”

“Uang. Buat kuliah.”

Alya tidak mengambilnya.

“Ayah sudah menyiapkan.”

“Mama tahu.”

Melinda tersenyum canggung.

“Tapi Mama juga mau kasih sesuatu.”

Alya akhirnya menerima amplop itu.

Melinda terlihat lega.

Lalu matanya beralih kepadaku.

Senyumnya menghilang.

“Alya.”

“Ya, Ma?”

“Kamu masih ingat kan siapa ibu kandungmu?”

Fajar langsung bergerak, tetapi aku menahan lengannya.

Alya sudah bukan anak sepuluh tahun yang perlu kami jawabkan semua pertanyaan.

Dia menatap ibunya lama.

Orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami.

Pengumuman keberangkatan terdengar dari pengeras suara.

Kemudian Alya berkata pelan.

“Aku ingat.”

Melinda tersenyum.

Namun kalimat berikutnya membuat senyumnya berhenti.

“Aku juga ingat siapa yang membuatku takut makan saat lapar.”

Melinda menunduk.

“Alya…”

“Aku ingat siapa yang menyuruhku selalu mengalah supaya aku tidak dianggap merepotkan.”

Mata Melinda mulai berkaca-kaca.

Aku ingin menghentikan Alya kalau dia mulai berkata kasar.

Tapi dia tidak melakukannya.

Suaranya justru sangat tenang.

“Aku juga ingat siapa yang mengajariku bahwa aku boleh makan kalau lapar, boleh menangis kalau sedih, dan boleh bilang tidak kalau aku nggak suka sesuatu.”

Melinda menatapku sekilas.

Lalu kembali kepada putrinya.

“Jadi sekarang Mama nggak berarti apa-apa?”

Alya menggeleng.

“Mama tetap Mama.”

Melinda terlihat terkejut.

“Aku nggak membenci Mama.”

“Terus kenapa kamu bicara seperti ini?”

Alya menarik napas.

“Karena dulu Mama bilang aku harus pintar bawa diri supaya orang mau menerima aku.”

Dia berhenti sebentar.

“Sekarang aku sudah besar dan baru paham. Anak seharusnya nggak perlu mengecilkan dirinya supaya pantas tinggal di sebuah rumah.”

Melinda menunduk.

Untuk beberapa detik, tak ada yang bicara.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Melinda menangis.

Bukan tangisan keras.

Dia hanya menutup mulut sambil membiarkan air matanya jatuh.

“Aku salah,” katanya.

Itu pertama kalinya aku mendengar perempuan itu mengakuinya.

“Aku pikir kalau kamu tinggal sama Fajar, hidupku akan lebih gampang. Aku terus bilang itu cuma sementara. Lama-lama aku terbiasa hidup tanpa harus memikirkan kebutuhanmu.”

Alya diam.

“Mama minta maaf.”

Aku tahu permintaan maaf tidak bisa menghapus delapan tahun.

Alya juga tahu.

Karena itu dia tidak langsung memeluk ibunya seperti adegan dalam film.

Dia hanya mengangguk.

“Aku dengar permintaan maaf Mama.”

Melinda menangis semakin keras.

“Mama boleh telepon?”

Alya berpikir sejenak.

“Boleh.”

“Kalau Mama mau datang?”

“Telepon dulu.”

Melinda tertawa kecil di sela tangis.

“Baik.”

Pengumuman terakhir terdengar.

Alya memeluk Fajar.

Kemudian Raka.

Terakhir, dia berdiri di depanku.

Aku membuka tangan, tetapi dia tidak langsung memelukku.

Sebaliknya dia mengeluarkan sesuatu dari tas.

Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk telur.

Aku tertawa sambil menangis.

“Ini apaan?”

Alya tersenyum.

“Biar Tante ingat.”

“Ingat apa?”

Dia memelukku.

“Telur pertama yang aku makan tanpa harus membayarnya dengan rasa takut.”

Dadaku terasa sesak.

Lalu dia berbisik di telingaku.

“Dan Tante…”

“Ya?”

“Mulai sekarang jangan panggil diri Tante lagi.”

Aku membeku.

Alya mundur sedikit.

Matanya basah, tetapi dia tersenyum.

“Delapan tahun lalu aku datang ke rumah Ibu sambil takut mengambil sebutir telur.”

Itulah pertama kalinya dia memanggilku Ibu.

“Sekarang aku pergi kuliah sambil tahu aku selalu punya rumah untuk pulang.”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku hanya memeluknya.

Di belakang kami, Fajar mengusap matanya diam-diam.

Raka pura-pura sibuk dengan ponsel.

Bahkan Melinda menundukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.

Kereta akhirnya membawa Alya pergi.

Malamnya, ketika kami pulang, aku masuk ke kamar Alya.

Kamar itu rapi.

Di sudut lemari masih ada koper biru tua dengan satu roda yang hilang.

Aku hendak menutup pintu ketika melihat secarik kertas ditempel di atasnya.

Tulisan tangan Alya.

Aku mendekat.

Di sana hanya ada satu kalimat.

Koper ini rusak, tetapi rumah yang menerimanya tidak pernah membuatku merasa rusak.

Aku berdiri lama di sana.

Dan akhirnya aku mengerti sesuatu.

Menjadi orang tua ternyata bukan tentang siapa yang pertama kali menghadirkan seorang anak ke dunia.

Kadang, menjadi orang tua adalah tentang siapa yang tetap membuka pintu ketika anak itu datang membawa seluruh hidupnya dalam sebuah koper rusak.

Tentang siapa yang menyediakan makanan tanpa membuatnya merasa berutang.

Tentang siapa yang mengajarinya bahwa cinta tidak harus diminta dengan izin.

Dan tentang siapa yang memastikan, ketika suatu hari anak itu pergi mengejar hidupnya sendiri, dia tidak pernah lagi bertanya apakah dirinya masih boleh pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang