“Nadia Pramesti, istri sah Dion Prasetya.”
Untuk beberapa detik, aku yakin aku salah dengar.
Aku berdiri di ruang kerjaku dengan ponsel menempel di telinga, sementara suara pendingin ruangan terdengar seperti dengungan dari tempat yang sangat jauh.
“Maaf, bisa diulangi?”
Sekretaris notaris itu menarik napas.

“Nama yang tercantum di surat pernyataan adalah Nadia Pramesti. Statusnya tertulis sebagai istri sah Bapak Dion Prasetya.”
Aku menutup mata.
Aneh sekali. Setelah semua yang kutemukan sejak kemarin, justru kalimat itu yang membuatku paling tenang.
Bukan karena tidak sakit.
Melainkan karena akhirnya aku tahu bahwa masalahku jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
“Jangan proses dokumen apa pun,” kataku. “Saya datang satu jam lagi.”
Sebelum berangkat, aku menghubungi pengacara perusahaan yang selama ini menangani kontrak besar di kantorku. Namanya Pak Haris.
Aku menceritakan semuanya.
Rekaman dari ruang 208.
Surat kuasa palsu.
Perjanjian pengalihan rumah.
Pengajuan kredit Rp1,9 miliar.
Transfer Rp185 juta.
Dan Nadia.
Pak Haris hanya mengatakan satu hal.
“Jangan konfrontasi siapa pun. Simpan dokumen asli. Mulai sekarang, anggap setiap orang yang terlibat bisa menghilangkan bukti.”
Kalimat itu mengubah caraku berpikir.
Aku berhenti menjadi istri yang ingin tahu mengapa suaminya berkhianat.
Aku kembali menjadi kepala keuangan yang sedang menghadapi indikasi fraud.
Di kantor notaris, aku mendapat kejutan berikutnya.
Surat yang dibawa perwakilan Nadia menyatakan bahwa Nadia mengetahui dan menyetujui penggunaan rumah di Citraland sebagai jaminan usaha suaminya.
Masalahnya, rumah itu bukan milik Dion.
Dan lebih aneh lagi, alamat tempat tinggal Dion dan Nadia dalam dokumen tersebut adalah sebuah rumah di Sidoarjo.
“Sejak kapan mereka menikah?” tanyaku.
Sekretaris itu memeriksa salinan dokumen.
“Menurut buku nikah yang dilampirkan, enam tahun lalu.”
Aku menikah dengan Dion empat tahun lalu.
Tanganku mengepal.
Artinya, kalau dokumen itu asli, aku bukan istri pertama yang dikhianati.
Aku bahkan mungkin menikahi seorang pria yang sejak awal menyembunyikan perkawinan lain.
Pak Haris segera meminta agar semua dokumen difotokopi secara resmi.
Sore itu, kami juga melapor ke bank dan meminta pemblokiran seluruh proses kredit yang berkaitan dengan rumahku.
Aku pulang pukul tujuh malam.
Dion sedang makan bersama Tessa.
Adikku sudah keluar dari rumah sakit lebih cepat dari perkiraanku. Bayinya tidur di keranjang portabel dekat sofa.
Begitu melihatku, Tessa tersenyum.
“Mbak, kemarin kenapa nggak datang?”
Aku menatap wajahnya.
Wajah yang kukenal sejak kecil.
Wajah anak perempuan yang dulu bersembunyi di belakangku ketika dimarahi Ayah.
Aku pernah menggunakan gaji pertamaku untuk membayar uang kuliahnya.
Ketika dia hamil dan menangis karena pacarnya menghilang, aku memeluknya sepanjang malam.
Sekarang aku tahu namanya ada sebagai saksi dalam dokumen yang bisa merampas rumahku.
“Banyak pekerjaan,” jawabku.
Dion menggeser map hitam ke arahku.
“Sekalian tanda tangan ini.”
Aku duduk.
“Kamu terburu-buru sekali soal renovasi.”
“Kontraktornya butuh kepastian.”
Aku mengambil pena.
Dion langsung memperhatikan tanganku.
Aku hampir tertawa.
Dia begitu yakin.
Empat tahun hidup bersamaku ternyata tidak membuatnya mengenalku sedikit pun.
Aku menulis sesuatu di kertas kecil di samping dokumen.
Bukan tanda tangan.
Aku menulis daftar belanja.
Dion mengerutkan dahi.
“Kamu ngapain?”
“Penanya macet.”
Aku berdiri.
“Besok saja.”
Wajahnya mengeras.
“Rani, cuma tanda tangan.”
“Kalau cuma tanda tangan, kenapa harus malam ini?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tessa menunduk.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di wajah adikku.
Bukan rasa bersalah.
Ketakutan.
Malam itu aku mengunci kamar kerja.
Pukul sebelas, terdengar ketukan.
Tessa.
“Mbak?”
Aku membuka pintu sedikit.
“Ada apa?”
Matanya sembap.
“Aku mau ngomong.”
Aku membiarkannya masuk.
Begitu pintu tertutup, Tessa langsung menangis.
“Mbak, aku minta maaf.”
Aku tidak memeluknya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Dia menggigit bibir.
“Dion bilang perusahaan temannya sedang kesulitan. Dia bilang cuma butuh dokumen sementara supaya dapat pembiayaan.”
“Kenapa namamu jadi saksi?”
“Aku nggak tahu isinya.”
“Kamu bohong.”
Tessa terdiam.
Aku menatapnya lurus.
“Aku dengar percakapan kalian di ruang 208.”
Wajahnya langsung pucat.
Tangannya memegang tepi meja.
“Mbak datang?”
“Aku berdiri di luar pintu.”
Air matanya jatuh semakin deras.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan Rp68 juta yang Dion transfer ke rekeningmu.”
Dia membeku.
Aku melanjutkan.
“Jelaskan juga kenapa kamu membahas cara mengusirku dari rumah yang kubeli dengan uangku sendiri.”
Tessa tiba-tiba berlutut.
“Mbak, aku terpaksa.”
Aku mundur.
“Jangan lakukan itu.”
“Dion punya sesuatu tentang aku.”
“Apa?”
Dia menangis sambil menutup wajah.
“Anakku.”
Aku menatap keranjang bayi di luar kamar.
“Apa maksudmu?”
Tessa mengangkat wajah.
“Dion ayahnya.”
Dunia seperti berhenti.
Aku bahkan tidak bisa marah.
Aku hanya menatap adikku seolah dia berubah menjadi orang asing.
“Sejak kapan?”
“Sekitar setahun lalu.”
Aku tertawa kecil.
Suara yang keluar terdengar mengerikan bahkan di telingaku sendiri.
“Jadi saat kamu bilang pacarmu meninggalkanmu…”
“Aku bohong.”
“Dan aku yang membayar pemeriksaan kehamilanmu.”
Tessa menangis semakin keras.
“Aku mau pergi, Mbak. Tapi Dion bilang kalau aku buka mulut, dia akan membuat semua orang percaya aku yang menggoda dia. Dia juga bilang dia akan mengambil anakku.”
Aku menggeleng.
“Lalu kamu membantu dia mengambil rumahku?”
Tessa terdiam lama.
“Aku pikir kalau rumah itu dialihkan, Dion akan menjualnya. Dia janji memberiku uang dan membawa aku serta bayi pergi.”
Aku memandangnya tanpa berkedip.
“Keluar.”
“Mbak…”
“Keluar dari kamar ini.”
Keesokan paginya Dion tidak ada.
Begitu juga Tessa.
Namun bayinya masih di rumah.
Di meja makan ada pesan dari Dion.
Kami pergi mengurus sesuatu. Jaga bayi sebentar.
Aku langsung tahu.
Mereka sedang mencoba menyelamatkan rencana mereka.
Aku menelepon Pak Haris.
Dua jam kemudian kami mendapat informasi bahwa PT Nusa Karya Sentosa ternyata bukan perusahaan aktif seperti yang kubayangkan.
Perusahaan itu hampir tidak memiliki kegiatan operasional.
Direktur bernama Armand Wijaya memang ada, tetapi dia hanyalah teman lama Dion yang memiliki utang besar.
Lebih mengejutkan lagi, rekening perusahaan itu beberapa kali menerima dana dari Dion lalu mengirimkannya kembali ke rekening lain.
Salah satunya milik Nadia Pramesti.
Siang itu aku akhirnya bertemu Nadia di sebuah kafe dekat Pengadilan Negeri Surabaya.
Perempuan itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun.
Ia datang membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Kamu Rani?”
Aku mengangguk.
Dia duduk perlahan.
“Aku kira kamu rekan bisnis Dion.”
“Aku istrinya.”
Nadia menutup mulut.
Beberapa detik kemudian dia tertawa getir.
“Hebat.”
“Apa?”
“Dia bilang kepadaku kamu investor yang terlalu terobsesi dengannya.”
Dadaku sesak.
Lalu Nadia membuka ponselnya.
Ia menunjukkan foto pernikahan.
Dion berdiri di sampingnya mengenakan beskap modern.
Tanggalnya jelas.
Enam tahun lalu.
“Aku sudah pisah rumah dengan Dion hampir lima tahun,” kata Nadia. “Tapi kami belum resmi bercerai.”
“Kenapa?”
“Dia selalu menghindar.”
Nadia menatapku.
“Dua bulan lalu dia datang lagi. Katanya punya bisnis properti dan butuh namaku untuk administrasi. Dia janji setelah bisnisnya berhasil, dia akan menandatangani perceraian.”
“Jadi kamu tanda tangan surat itu?”
“Iya. Tapi aku tidak tahu rumah itu milikmu.”
Aku menunjukkan foto dokumen pengalihan.
Nadia langsung menggeleng.
“Nilainya bukan ini.”
“Apa maksudmu?”
“Dion bilang rumah itu akan dijual Rp4,8 miliar.”
Aku terdiam.
Dokumenku tertulis Rp2,4 miliar.
Selisih Rp2,4 miliar.
Saat itulah semuanya mulai masuk akal.
Dion tidak sekadar ingin mengambil rumahku.
Dia berencana mengalihkan rumah melalui perusahaan boneka dengan harga rendah, menjualnya kembali pada harga pasar, lalu menyembunyikan selisihnya.
Rumahku adalah modal untuk kehidupan barunya.
Pertanyaannya hanya satu.
Dengan siapa?
Nadia?
Tessa?
Atau perempuan lain?
Jawabannya datang malam itu.
Tessa meneleponku sambil menangis histeris.
“Mbak, Dion pergi.”
“Apa?”
“Dia ambil semua uangku.”
“Tessa, kamu di mana?”
“Di apartemen.”
Apartemen?
Ternyata selama delapan bulan terakhir Dion menyewa sebuah unit kecil untuk Tessa di Surabaya Barat.
Transfer Rp68 juta bukan sekadar uang untuk Tessa.
Sebagian digunakan membayar sewa dan kebutuhan bayi.
Aku datang bersama Pak Haris.
Tessa duduk di lantai.
Di depannya ada laptop Dion yang tertinggal.
“Aku tahu kata sandinya,” katanya.
Di dalam laptop itu kami menemukan folder bernama C17.
Ada scan dokumen rumahku.
Draft AJB.
Contoh tanda tanganku.
Bahkan foto tanda tanganku dari kartu kredit lama.
Namun satu folder lain jauh lebih penting.
Namanya NEW START.
Di dalamnya ada tiket pesawat ke Singapura untuk tiga hari berikutnya.
Dua penumpang.
Dion Prasetya.
Dan Kezia Amanda.
Aku tidak mengenal nama itu.
Tessa juga tidak.
Nadia yang kami hubungi melalui video call pun tidak.
Pak Haris mencari nama tersebut.
Kezia adalah staf pemasaran di perusahaan properti yang pernah bekerja sama dengan PT Nusa Karya Sentosa.
Dion ternyata sedang menipu tiga perempuan sekaligus.
Aku.
Istri sahnya.
Dan adikku.
Sementara perempuan yang ingin dia bawa kabur adalah perempuan keempat.
Aku menatap Tessa.
“Kamu menghancurkan keluargamu sendiri demi laki-laki yang bahkan tidak memilihmu.”
Dia menangis tanpa suara.
Tiga hari kemudian, Dion tidak jadi terbang ke Singapura.
Pagi sebelum keberangkatannya, dia dipanggil untuk memberikan klarifikasi atas laporan dugaan pemalsuan dokumen dan penggunaan data pribadi tanpa izin.
Proses hukumnya tidak selesai dalam sehari.
Tapi rencananya selesai hari itu juga.
Bank membatalkan permohonan kredit.
Pengembang mencatat keberatan resmi atas seluruh permintaan dokumen.
Notaris menghentikan proses.
Dan rekening bersama yang selama ini digunakan Dion tidak lagi bisa disentuhnya setelah aku mengikuti prosedur pengamanan dari bank.
Dion meneleponku malam itu.
“Rani, kita bisa selesaikan baik-baik.”
Aku berdiri di balkon rumah yang hampir dia rampas dariku.
“Empat tahun lalu kamu menikahiku padahal pernikahanmu dengan Nadia belum selesai.”
Dia diam.
“Kamu tidur dengan adikku.”
“Rani…”
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kamu mencoba menjaminkan rumahku.”
“Itu untuk bisnis kita.”
Aku tertawa.
“Lalu tiket ke Singapura dengan Kezia juga untuk bisnis kita?”
Telepon sunyi.
Untuk pertama kalinya, Dion kehabisan kebohongan.
Aku memutus sambungan.
Beberapa bulan kemudian, hidupku berubah total.
Dion keluar dari rumah.
Proses hukum atas dokumen palsu terus berjalan sesuai bukti yang tersedia, sementara status perkawinan kami harus diurai melalui jalur hukum karena pernikahannya dengan Nadia ternyata belum pernah diputus secara resmi.
Tessa kembali tinggal bersama Ibu.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa.
Mungkin juga tidak.
Aku tetap membantu memastikan keponakanku mendapatkan kebutuhan dasar yang layak, tetapi aku tidak lagi membiarkan rasa kasihan menjadi alasan seseorang memasuki hidupku tanpa batas.
Suatu sore, Tessa datang ke rumah membawa sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Uang.”
Dia menyerahkan buku tabungan.
Jumlahnya tidak besar.
“Transfer dari Dion yang masih tersisa. Aku jual juga beberapa barang yang dia belikan.”
Aku mendorongnya kembali.
“Gunakan untuk anakmu.”
Tessa menggeleng.
“Aku mau mulai mengembalikan semuanya.”
Aku menatapnya lama.
Akhirnya aku menerima amplop itu.
Bukan karena aku membutuhkan uangnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya Tessa tidak datang meminta diselamatkan.
Dia datang untuk bertanggung jawab.
Sebelum pulang, dia berhenti di depan pintu.
“Mbak.”
“Ya?”
“Waktu di rumah sakit, sebenarnya aku sudah mau memperingatkan Mbak.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kapan?”
“Pagi sebelum melahirkan. Aku kirim pesan.”
“Aku nggak menerima apa pun.”
Tessa mengambil ponselnya.
Ia menunjukkan tangkapan layar.
Pesan itu memang dikirim ke nomorku.
Mbak, jangan tanda tangan dokumen apa pun dari Dion. Rumah Mbak sedang dia incar. Aku akan jelaskan semuanya setelah bayi lahir.
Pesan itu terkirim pukul 04.17.
Lalu di bawahnya ada pesan berikutnya.
Terbaca.
Pukul 04.19.
Aku tidak pernah membacanya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Malam sebelum Tessa melahirkan, aku tertidur di sofa.
Ponselku tergeletak di meja.
Dion masih terjaga.
Dia pasti membuka pesannya, menghapus percakapan, lalu pergi ke rumah sakit lebih awal untuk membungkam Tessa.
Aku menatap adikku.
“Kenapa setelah itu kamu tetap membantu dia?”
Wajah Tessa runtuh.
“Karena dia menunjukkan rekaman percakapan kami dan mengancam akan mengatakan kepada semua orang bahwa aku merencanakan semuanya sejak awal. Aku takut.”
Aku menarik napas panjang.
Takut tidak menghapus kesalahan.
Tapi kadang rasa takut menjelaskan mengapa seseorang jatuh begitu dalam.
Aku tidak memeluk Tessa.
Belum.
Namun saat dia melangkah keluar, aku berkata pelan,
“Besok bawa bayi ke sini. Ibu bilang dia mau masak sup.”
Tessa berhenti.
Dia menoleh dengan mata berkaca-kaca.
Lalu mengangguk.
Malam itu aku duduk sendirian di ruang kerja yang dulu hampir kujadikan kamar bayi untuk anak dari pengkhianatan suamiku sendiri.
Di atas meja tergeletak sertifikat rumah.
Namaku masih tercetak di sana.
Dulu aku mengira rumah adalah tembok, atap, cicilan, dan sertifikat kepemilikan.
Ternyata bukan.
Rumah adalah tempat di mana kita seharusnya tidak perlu takut kepada orang yang tidur di sebelah kita.
Dion hampir mengambil bangunanku.
Tapi yang benar-benar dia hancurkan adalah kepercayaanku.
Dan anehnya, setelah semuanya terbongkar, aku justru merasa mendapatkan sesuatu kembali.
Bukan rumah senilai miliaran rupiah.
Bukan uang.
Bukan pernikahan.
Melainkan diriku sendiri.
Aku memasukkan sertifikat itu ke brankas, menguncinya, lalu mematikan lampu.
Untuk pertama kalinya sejak berdiri di balik pintu ruang 208, aku tidak lagi bertanya apa lagi yang disembunyikan Dion.
Aku sudah tidak peduli.
Karena kali ini, pintu yang kututup bukan pintu untuk melarikan diri.
Itu pintu yang menutup Dion dari hidupku.
