Aku Memergoki Pembantu Memakai Gaun Pengantinku di Kantor Tunanganku—Lalu Dokumen Bank Membongkar Pengkhianatan yang Jauh Lebih Besar

Aku tidak berteriak ketika melihat Siska mengenakan gaun pengantinku.

Justru Adrian yang terlihat seperti baru saja melihat hantu.

“Nadira?”

Siska berbalik begitu cepat hingga ujung gaun menyapu meja kecil di belakangnya. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika.

Aku masuk dan menutup pintu.

“Lanjutkan,” kataku pelan. “Tadi kamu bertanya apakah kamu lebih cantik daripada aku, kan?”

“Saya cuma mencoba…”

“Mencoba gaun pengantinku?”

Siska menoleh kepada Adrian, seolah menunggu pertolongan.

Adrian mendekatiku.

“Nadira, dengarkan dulu. Gaunnya baru datang. Siska penasaran, lalu dia mencoba sebentar. Tidak ada maksud apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Kemarin kamu bilang sudah mengusir dia.”

“Aku memang menyuruhnya keluar dari rumah.”

“Lalu membawanya ke kantor?”

Adrian terdiam.

Aku berjalan mendekati Siska.

“Lepaskan.”

“Mbak…”

“Gaun itu dibuat sesuai ukuran tubuhku. Lepaskan sebelum kamu merusaknya.”

Wajah Siska memerah.

Dia masuk ke kamar kecil di samping ruang direktur. Beberapa menit kemudian dia keluar mengenakan blus dan rok hitam.

Gaunku diserahkan begitu saja.

Aku memeriksa bagian belakangnya.

Resletingnya rusak.

Di bagian pinggang terdapat sobekan kecil.

Siska mengangkat bahu.

“Namanya juga barang. Bisa diperbaiki.”

Untuk pertama kalinya hari itu aku hampir kehilangan kendali.

Namun kemudian aku melihat sesuatu di meja Adrian.

Sebuah amplop bank.

Nama yang tercetak di sana membuat amarahku mendadak berubah menjadi rasa dingin.

PT Pratama Household Management.

Perusahaanku.

Aku mengambil amplop itu.

Adrian langsung bergerak.

“Itu dokumen kantor.”

“Dokumen kantormu memakai nama perusahaanku?”

Tangannya berhenti.

Aku membuka amplop.

Di dalamnya terdapat pemberitahuan mengenai fasilitas kredit senilai dua puluh lima miliar rupiah.

Aku membaca halaman pertama.

Debitur adalah PT Wijaya Properti Nusantara, perusahaan Adrian.

Namun bagian penjamin membuat tengkukku terasa dingin.

PT Pratama Household Management.

Perusahaanku tercatat sebagai penjamin.

“Apa ini?”

Adrian tidak menjawab.

Aku membalik halaman berikutnya.

Ada tanda tanganku.

Setidaknya terlihat seperti tanda tanganku.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

Aku mengangkat kertas itu.

“Adrian, dari mana kamu mendapatkan tanda tanganku?”

Siska mendadak mundur.

Saat itulah aku tahu masalah ini jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Adrian menutup pintu.

“Nadira, jangan membuat kesimpulan sebelum aku menjelaskan.”

“Jelaskan.”

Dia menarik napas.

“Proyek apartemen kami sempat mengalami masalah arus kas. Bank meminta jaminan tambahan. Kita akan menikah dua minggu lagi. Setelah menikah, perusahaan kita juga akan saling terhubung. Jadi aku pikir…”

“Kamu pikir kamu boleh memalsukan tanda tanganku?”

“Aku tidak memalsukannya.”

“Lalu siapa?”

Tatapan Adrian bergerak sepersekian detik ke arah Siska.

Perempuan itu langsung pucat.

Aku menatapnya.

“Siska?”

“Saya tidak tahu apa-apa.”

Aku tertawa pendek.

“Menarik. Kemarin kamu bekerja di rumah keluarga Wijaya. Hari ini kamu berada di kantor direktur memakai gaun pengantinku. Sekarang dokumen perusahaanku ternyata ada di sini.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret setiap halaman.

Adrian mencoba merebutnya.

Aku mundur.

“Sentuh aku sekali lagi, aku telepon polisi.”

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya aku melihat Adrian yang sebenarnya.

Bukan sahabat masa kecilku.

Bukan laki-laki yang mengirim bunga setiap ulang tahunku.

Melainkan seorang pria yang ketakutan karena rahasianya terbongkar.

Aku menelepon kepala bagian hukum perusahaan keluargaku.

“Pak Rendra, bekukan seluruh akses digital PT Pratama Household Management. Jangan izinkan transaksi apa pun menggunakan otorisasi atas namaku. Hubungi bank dan periksa semua fasilitas kredit yang menggunakan perusahaan kita sebagai penjamin.”

“Nadira!” bentak Adrian.

Aku memutus sambungan.

Siska mulai menangis.

“Pak Adrian bilang semuanya legal.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu tahu.”

Dia langsung menutup mulut.

Adrian mengumpat pelan.

Namun semuanya sudah terlambat.

Aku mendekati Siska.

“Apa yang kamu lakukan?”

Air matanya jatuh.

“Saya cuma membantu mengurus dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Pak Adrian bilang Mbak Nadira sibuk di Singapura. Jadi beberapa dokumen harus diproses lebih cepat.”

“Bagaimana kamu mendapatkan tanda tanganku?”

Siska tidak menjawab.

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Selama dua tahun terakhir, hampir semua paket dan dokumen pribadi yang dikirim ke rumah keluarga Wijaya diterima staf.

Termasuk paspor lama, contoh tanda tangan untuk administrasi pernikahan, dokumen perusahaan, bahkan surat kuasa terbatas yang pernah kubuat untuk pengurusan rumah.

Siska memiliki akses ke semuanya.

Aku menatap Adrian.

“Sudah berapa lama?”

Dia mengusap wajah.

“Nadira, proyek itu akan menghasilkan keuntungan besar. Aku hanya membutuhkan jaminan sementara.”

“Berapa banyak?”

“Dua puluh lima miliar.”

Aku mengangkat dokumen.

“Yang ini dua puluh lima miliar. Aku bertanya total semuanya.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Lalu ponselku berbunyi.

Pak Rendra.

Aku mengangkatnya.

“Nadira, jangan tanda tangani apa pun. Kami menemukan setidaknya empat fasilitas pembiayaan yang mencantumkan perusahaan kita atau aset afiliasi sebagai penjamin.”

Jantungku berdegup keras.

“Total?”

“Untuk sementara sekitar delapan puluh tujuh miliar.”

Aku memejamkan mata.

Delapan puluh tujuh miliar rupiah.

Bukan perselingkuhan.

Bukan gaun.

Bukan kecemburuan.

Ini adalah perampokan yang direncanakan dengan kedok pernikahan.

Aku memandang Adrian.

“Delapan puluh tujuh miliar?”

Siska terduduk.

Adrian justru menjadi marah.

“Karena aku membangun masa depan kita!”

“Masa depan siapa?”

“Kita akan menikah! Apa bedanya asetku dan asetmu nanti?”

“Bedanya, aku tidak mencuri milikmu.”

Dia menghantam meja.

“Aku tidak mencuri!”

Aku mengangkat ponsel.

“Kalau begitu kita jelaskan kepada polisi.”

Adrian langsung diam.

Siska tiba-tiba berdiri.

“Saya tidak mau masuk penjara.”

Adrian menoleh tajam.

“Diam.”

“Saya cuma mengikuti perintah Bapak!”

“Diam, Siska!”

Namun perempuan itu sudah panik.

“Bapak bilang setelah menikah semua akan aman! Bapak bilang keluarga Nadira terlalu kaya untuk mempermasalahkan uang sebanyak itu!”

Aku membeku.

“Setelah menikah?”

Siska menutup mulut lagi.

Aku mendekatinya.

“Apa yang terjadi setelah menikah?”

Adrian mencengkeram lengannya.

“Siska, tutup mulutmu.”

Aku segera menyalakan perekam suara.

Siska menarik lengannya dari Adrian.

“Bapak yang bilang kalau pernikahan sudah terjadi, Mbak Nadira tidak mungkin membawa masalah ini ke polisi karena akan menghancurkan nama kedua keluarga!”

Adrian menatapnya dengan kebencian.

Siska menangis semakin keras.

“Bapak juga bilang pernikahan itu cuma perlu bertahan dua tahun.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Aku menatap Adrian.

“Dua tahun?”

Tidak ada jawaban.

Siska sudah tidak bisa berhenti.

“Setelah utang perusahaan selesai dipindahkan dan proyek baru mendapat investor, Bapak akan menceraikan Mbak Nadira.”

Aku tidak merasakan apa pun selama beberapa detik.

Aneh sekali.

Aku pernah membayangkan pengkhianatan akan terasa seperti dada ditusuk pisau.

Ternyata tidak.

Kadang pengkhianatan terasa seperti sebuah ruangan yang mendadak kehilangan udara.

“Kamu bohong,” kata Adrian.

Siska tertawa pahit.

“Saya punya rekamannya.”

Wajah Adrian langsung berubah.

Siska mengambil ponselnya.

“Saya merekam karena Bapak selalu bilang akan menikahi saya setelah menceraikan Mbak Nadira.”

Dia membuka sebuah rekaman suara.

Suara Adrian memenuhi ruangan.

“Sabar saja. Aku menikahi Nadira karena aku butuh keluarganya. Setelah proyek selesai dan semua pinjaman aman, aku akan urus perceraian. Dua tahun paling lama.”

Tanganku gemetar.

Lalu terdengar suara Siska.

“Terus saya?”

Adrian tertawa.

“Kamu tetap di sisiku. Makanya jangan bikin Nadira curiga.”

Aku mematikan rekaman.

Adrian menatap Siska seperti ingin menerkamnya.

Namun tiba-tiba Siska berkata sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan.

“Dan uang dua puluh lima miliar itu bukan untuk proyek apartemen.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Siska membuka aplikasi di ponselnya.

Ada foto dokumen transfer.

Sebagian dana ternyata dialihkan ke sebuah perusahaan bernama Mahardika Capital.

Aku mengenal nama pemiliknya.

Kevin Mahardika.

Sahabat Adrian sejak kuliah.

“Perusahaan itu kosong,” kata Siska. “Pak Adrian dan Pak Kevin membuatnya tahun lalu.”

Adrian bergerak maju.

Aku langsung mundur dan berteriak memanggil keamanan.

Sekretaris serta dua petugas keamanan masuk.

“Jangan biarkan siapa pun meninggalkan ruangan ini,” kataku.

Adrian tertawa sinis.

“Kamu pikir kamu bisa mempermalukanku di kantorku sendiri?”

Aku menatapnya.

“Ini bukan lagi masalah malu.”

Aku menunjukkan dokumen di tanganku.

“Ini dugaan pemalsuan dan penyalahgunaan dana.”

Dua jam kemudian, tim hukum keluargaku tiba.

Bank membekukan pencairan yang belum selesai.

Pemeriksaan internal dimulai.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku pulang tanpa cincin pertunangan di jariku.

Pernikahan dibatalkan.

Keluarga Adrian datang ke rumahku keesokan harinya.

Ibunya menangis.

Ayahnya meminta semuanya diselesaikan secara kekeluargaan.

“Nadira,” katanya, “kalian tumbuh bersama. Jangan hancurkan hidup Adrian karena kesalahan bisnis.”

Aku menatap lelaki yang dulu kupanggil Om.

“Kalau saya yang memalsukan tanda tangan Adrian dan menjadikan perusahaan keluarga Anda penjamin utang delapan puluh tujuh miliar, apakah Om juga akan menyebutnya kesalahan bisnis?”

Dia tidak bisa menjawab.

Penyelidikan selama beberapa minggu kemudian membongkar semuanya.

Adrian ternyata sudah mengalami kerugian besar akibat investasi properti yang gagal.

Dia membutuhkan nama keluargaku untuk menyelamatkan perusahaannya.

Pertunangan kami yang selama ini kuanggap sebagai kelanjutan kisah cinta masa kecil ternyata, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, telah berubah menjadi strategi finansial baginya.

Namun ada satu fakta terakhir yang baru kuketahui ketika pengacaraku menunjukkan hasil audit.

Tidak semua tanda tangan dipalsukan Siska.

Salah satu surat kuasa yang digunakan Adrian ternyata asli.

Aku memang pernah menandatanganinya tiga tahun sebelumnya.

Saat itu Adrian berkata dokumen tersebut diperlukan untuk mengurus pembelian rumah yang akan kami tempati setelah menikah.

Aku bahkan tidak membaca seluruh lampirannya.

Aku percaya kepadanya.

Kepercayaan itulah yang dia gunakan sebagai pintu pertama.

Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan cermin di apartemenku.

Gaun pengantin itu tergantung di belakang.

Sudah diperbaiki oleh desainernya.

Hari pernikahanku seharusnya sudah lama berlalu.

Aku sempat ingin membuang gaun itu.

Namun akhirnya aku melakukan sesuatu yang berbeda.

Aku melelangnya untuk acara amal.

Hasil penjualannya digunakan untuk mendanai pelatihan hukum dan literasi keuangan bagi perempuan pekerja rumah tangga.

Siska tidak pernah kembali bekerja untuk keluargaku.

Dia menjadi saksi dalam penyelidikan setelah menyerahkan rekaman, pesan, dan dokumen yang disimpannya.

Aku tidak memaafkannya.

Dia tetap mengambil bagian dalam pengkhianatan itu.

Namun aku juga akhirnya memahami sesuatu.

Adrian tidak hanya memanfaatkan satu perempuan.

Dia memanfaatkan kami berdua dengan cara berbeda.

Kepadaku, dia menjual cinta.

Kepada Siska, dia menjual harapan.

Dan ketika dua kebohongan itu bertabrakan di sebuah kantor di Kuningan, semuanya runtuh.

Beberapa bulan kemudian aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat fotokopi satu dokumen lama.

Dokumen pertama yang pernah Adrian gunakan untuk mendapatkan fasilitas kredit.

Di pojok bawah terdapat catatan tulisan tangan.

Jangan pernah menandatangani sesuatu hanya karena kamu mencintai orang yang memberikannya kepadamu.

Aku mengenali tulisan itu.

Tulisan Siska.

Aku melipat kertas tersebut dan menyimpannya.

Bukan sebagai pengingat tentang Adrian.

Melainkan tentang diriku sendiri.

Karena akhirnya aku memahami bahwa cinta memang membutuhkan kepercayaan.

Tetapi kepercayaan tidak pernah berarti menyerahkan mata kita untuk ditutup oleh orang lain.

Dan terkadang, benda yang kita kira paling menyakitkan untuk kehilangan ternyata justru menyelamatkan hidup kita.

Bagiku, benda itu adalah sebuah gaun pengantin yang tidak pernah kupakai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang