Suamiku Mengusirku Saat Hamil Tanpa Uang—Malam Itu Aku Membongkar Plafon Kamar dan Menemukan Emas Miliaran yang Disembunyikannya

Arga tidak tahu bahwa saat ia berdiri di hadapanku dengan wajah penuh kemenangan, aku sudah memegang rahasia yang bisa menghancurkan hidupnya.

Aku memungut lembar demi lembar surat cerai dari lantai.

“Besok aku tanda tangan,” kataku pelan.

Arga mengerutkan kening. Mungkin ia berharap aku menangis, memohon, atau berlutut agar tidak ditinggalkan.

“Kenapa besok?”

“Aku lelah.”

Keisha yang berdiri di belakangnya menyilangkan tangan di dada. Perempuan itu mengenakan salah satu jubah sutra yang pernah kubeli saat ulang tahun pernikahan kami.

“Jangan cari alasan untuk memperpanjang masalah,” katanya.

Aku menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Tenang. Aku tidak tertarik mempertahankan sesuatu yang sudah busuk.”

Wajah Keisha berubah.

Arga hendak membentak, tetapi aku sudah menutup pintu kamar.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku duduk di lantai dengan koper berisi emas, mata uang asing, dan dua jam tangan mewah di sampingku.

“Sekarang jelaskan soal tiket lotre itu,” bisikku.

Suara kecil dalam kepalaku langsung menjawab.

Tiketnya dijual di kios kecil dekat minimarket tempat Papa biasa membeli rokok. Besok pukul delapan lewat sedikit, ada seorang laki-laki tua yang akan membelinya.

“Nomornya?”

Anakku menyebutkan deretan angka.

Aku mencatatnya tiga kali.

“Bagaimana kau bisa mengingat semuanya?”

Beberapa saat tidak ada jawaban.

Kemudian suaranya terdengar lebih pelan.

Karena di kehidupan sebelumnya, Papa sering menunjukkan tiket itu di televisi. Semua orang bilang dia beruntung setelah meninggalkan istrinya.

Aku mengepalkan tangan.

“Lalu kita?”

Hening.

Aku dan Mama tinggal di kontrakan. Mama bekerja sampai malam. Setelah aku lahir, Mama sakit.

Jantungku seperti diremas.

“Sakit apa?”

Kali ini ia tidak langsung menjawab.

Mama meninggal ketika aku berumur empat tahun.

Aku membeku.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Jadi anak yang sedang kukandung ini bukan hanya memberiku kesempatan kedua.

Ia juga pernah kehilangan aku.

Tanganku mengusap perut yang membesar.

“Kali ini Mama tidak akan meninggalkanmu.”

Pagi-pagi sekali aku keluar membawa koper.

Arga masih tidur bersama Keisha di kamar tamu.

Aku menitipkan koper itu di safe deposit box sebuah bank atas namaku sendiri, lalu pergi menuju kios yang disebut anakku.

Pukul tujuh lima puluh lima aku sudah berdiri di sana.

Kios itu kecil, terjepit di antara laundry dan warung kopi.

Seorang bapak tua sedang menyusun lembaran tiket.

Aku menyebutkan angka yang sudah kuhafal.

Penjual itu memeriksa komputer.

“Ada, Bu.”

Tanganku dingin saat menyerahkan uang.

Tiket itu akhirnya berada di tanganku.

Delapan puluh juta rupiah.

Bukan jumlah yang membuatku kaya raya, tetapi cukup untuk membuatku berdiri di atas kaki sendiri.

Namun ketika aku hendak pergi, suara anakku tiba-tiba berteriak.

Mama, beli satu lagi.

Aku berhenti.

“Kenapa?”

Nomor yang di bawahnya. Cepat.

Aku menatap layar kecil di meja.

“Aku mau yang ini juga.”

Penjual memberikannya.

Aku keluar dari kios dengan dua tiket di dalam tas.

“Yang kedua kenapa?”

Aku tidak tahu, Ma. Tapi aku pernah melihat nomornya.

“Kapan?”

Di koran lama Papa. Katanya tiket itu tidak pernah diklaim.

Aku terdiam.

Mungkin ingatan anakku tidak sempurna. Namun setelah semua yang terjadi semalam, aku tidak berani mengabaikannya.

Siang harinya aku menemui seorang pengacara bernama Maya Prameswari, teman kuliahku yang sudah bertahun-tahun tidak kutemui.

Begitu mendengar ceritaku, Maya tidak langsung membahas perceraian.

Ia justru bertanya, “Nadira, emas itu benar-benar ada di rumah kalian?”

“Iya.”

“Punya bukti asal-usulnya?”

Aku menggeleng.

Maya menatapku serius.

“Jangan jual apa pun. Jangan pindahkan ke orang lain. Kita harus tahu dari mana barang-barang itu berasal. Kalau ternyata aset perusahaan atau berkaitan dengan tindak pidana, posisimu bisa berbahaya.”

Aku langsung teringat betapa Arga selalu merahasiakan urusan keuangan perusahaan.

Maya kemudian memeriksa dokumen yang kubawa.

Tiba-tiba ia berhenti pada salinan akta pendirian perusahaan lama.

“Nadira, kamu bilang perusahaan sepenuhnya milik Arga?”

“Begitu katanya.”

Maya menunjuk sebuah halaman.

“Modal awal perusahaan berasal dari hasil penjualan apartemen ibumu, kan?”

“Iya.”

“Transfernya masih ada?”

Aku mengangguk.

“Rekening lama mungkin masih menyimpan mutasinya.”

Maya tersenyum tipis.

“Kalau begitu jangan tanda tangan apa pun sebelum kita menelusuri semuanya.”

Sore harinya aku pulang.

Arga sudah menunggu di ruang tamu.

“Dari mana?”

“Jalan-jalan.”

“Dengan uang siapa?”

Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.

“Aku masih istrimu.”

“Tidak lama lagi.”

Ia meletakkan sebuah dokumen di meja.

“Tanda tangan. Aku akan memberimu lima belas juta sebagai uang pisah.”

Tujuh tahun hidupku dihargai lima belas juta.

Aku duduk di hadapannya.

“Lima belas juta?”

“Harusnya kau bersyukur.”

“Bagaimana kalau aku minta lima miliar?”

Wajahnya berubah sesaat.

Hanya sesaat.

Namun aku melihatnya.

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada.”

Aku bangkit.

Saat melewatinya, aku mendengar suara anakku.

Papa takut.

Aku tahu.

Malam itu Arga masuk ke kamar utama ketika mengira aku sudah tidur.

Aku mendengar suara tangga.

Jantungku berdegup kencang.

Ia membuka panel plafon.

Beberapa menit kemudian terdengar suara tas ditarik.

Lalu sunyi.

Aku menahan napas.

Arga membuka tas kanvas itu.

“Bangsat!”

Aku segera memejamkan mata.

Langkah kakinya mendekat.

Pintu kamar terbuka keras.

“Nadira!”

Aku berpura-pura terbangun.

“Apa?”

“Di mana barangku?”

“Barang apa?”

Ia mencengkeram pergelangan tanganku.

“Jangan bermain-main denganku!”

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

“Emasnya di mana?”

Aku tersenyum.

“Jadi memang ada emas?”

Arga membeku.

Ia baru sadar telah membongkar rahasianya sendiri.

Aku menarik tanganku.

“Kenapa kau menyimpan emas miliaran di plafon sementara untuk biaya USG anakmu sendiri kau meminta kuitansi?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kalau bukan urusanku, kenapa kau menuduhku mengambilnya?”

Wajahnya memerah.

Ia mengangkat tangan.

Namun sebelum telapak itu menyentuh wajahku, pintu terbuka.

Mbak Sari berdiri di sana sambil memegang ponsel.

“Pak, saya sudah rekam semuanya.”

Arga langsung menurunkan tangannya.

Aku sendiri terkejut.

Mbak Sari menatapku.

“Bu Nadira, malam ini Ibu tidur di tempat lain saja.”

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa selama ini ada seseorang di rumah itu yang memperhatikan semuanya.

Aku pergi malam itu.

Tiga hari kemudian, hasil undian keluar.

Tiket pertama benar-benar memenangkan delapan puluh juta rupiah.

Aku menangis ketika melihat angka-angkanya.

“Terima kasih,” bisikku sambil memegang perut.

Sama-sama, Ma.

“Kalau tiket kedua?”

Aku memeriksanya.

Lalu tanganku gemetar.

Nomor itu memenangkan hadiah utama.

Bukan puluhan juta.

Bukan ratusan juta.

Dua belas miliar rupiah.

Aku membaca hasilnya berkali-kali.

Anakku sendiri terdiam lama.

Akhirnya suara kecil itu berkata.

Di kehidupan sebelumnya tidak ada yang mengambil hadiah itu.

Aku tertawa sambil menangis.

Untuk pertama kalinya sejak diusir Arga, aku merasa masa depan bukan lagi sesuatu yang menakutkan.

Namun masalah terbesar ternyata bukan perceraian.

Dua minggu kemudian Maya menelepon.

“Nadira, jangan ke rumah lama. Jangan hubungi Arga.”

“Ada apa?”

“Emas yang kamu temukan bermasalah.”

Darahku terasa dingin.

Maya menjelaskan bahwa nomor seri beberapa batang emas ternyata berkaitan dengan pembelian dalam jumlah besar menggunakan dana sebuah perusahaan pemasok milik rekan bisnis Arga.

Lebih buruk lagi, perusahaan Arga sedang diperiksa terkait transaksi fiktif.

“Jadi emas itu hasil penggelapan?”

“Belum bisa disimpulkan. Tapi kita harus menyerahkannya melalui prosedur hukum.”

Aku setuju.

Aku tidak membutuhkan emas itu lagi.

Aku punya uang yang sah atas namaku sendiri.

Penyelidikan berjalan cepat setelah bukti diserahkan.

Arga panik.

Ia meneleponku puluhan kali.

Aku tidak menjawab sampai suatu malam ia mengirim pesan.

Aku tahu kau mengambilnya. Kalau aku jatuh, kau ikut jatuh.

Aku menyerahkan pesan itu kepada Maya.

Beberapa hari kemudian, Arga datang ke apartemen sewaan baruku.

Ia berdiri di depan pintu dengan wajah kusut.

“Nadira, kita bicara.”

“Aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan.”

“Aku bisa membatalkan perceraian.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kenapa aku harus mau?”

“Karena kita punya anak.”

Aku tertawa kecil.

Dulu kalimat itu mungkin akan membuatku luluh.

Sekarang terdengar seperti lelucon.

“Kau ingat anakmu setelah hidupmu berantakan?”

“Nadira, aku salah.”

“Bukan. Kau hanya ketahuan.”

Wajahnya mengeras.

“Aku tahu kau menang lotre.”

Aku terdiam.

Dari mana ia tahu?

Arga tersenyum.

“Jadi benar.”

Aku baru sadar ia hanya memancing.

“Berapa?”

Aku tidak menjawab.

“Delapan puluh juta?”

Aku tersenyum.

“Kalau cuma segitu, kenapa kau datang?”

Ia kehilangan kata-kata.

Aku menutup pintu.

Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan.

Dalam penyelidikan berikutnya, terungkap bahwa Arga selama bertahun-tahun memindahkan dana perusahaan melalui transaksi palsu dan membeli aset yang tidak tercatat.

Keisha ternyata bukan sekadar selingkuhannya.

Ia bekerja di bagian keuangan perusahaan dan ikut mengatur sejumlah transaksi.

Begitu mengetahui penyidik mulai memeriksa rekeningnya, Keisha memberikan bukti untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Perempuan yang dibawa Arga ke rumah untuk mempermalukanku justru menjadi orang yang menyerahkan dokumen yang menjatuhkannya.

Aku tidak pernah menyentuh emas itu lagi.

Seluruh barang diserahkan sebagai barang bukti.

Sebaliknya, melalui proses perdata, aku berhasil membuktikan kontribusi finansial dari penjualan apartemen ibuku pada masa awal perusahaan. Penyelesaiannya tidak membuatku memiliki seluruh bisnis Arga, tetapi cukup untuk mengembalikan bagian yang selama bertahun-tahun ia pura-pura tidak pernah ada.

Delapan bulan setelah malam di jembatan itu, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku menamainya Aluna.

Begitu perawat meletakkannya di dadaku, aku menunggu suara kecil yang selama berbulan-bulan menemaniku.

Tidak ada.

“Aluna?” bisikku.

Bayi itu hanya menangis.

“Sayang?”

Tetap tidak ada suara dalam kepalaku.

Aku mendadak panik.

“Kenapa diam?”

Aluna berhenti menangis.

Matanya yang masih kecil terbuka perlahan.

Untuk sesaat, ia menatapku.

Lalu bibir mungilnya seperti membentuk senyum.

Dan untuk terakhir kalinya, aku mendengar suara itu.

Karena kali ini Mama akan hidup lama.

Air mataku langsung mengalir.

“Tunggu.”

Tidak ada jawaban.

“Aluna?”

Sunyi.

Aku memeluknya erat.

Setahun kemudian, aku membeli sebuah apartemen sederhana.

Bukan penthouse.

Bukan rumah mewah.

Aku memilih tempat yang memiliki jendela besar dan taman kecil di bawahnya.

Dengan sebagian uang hadiah, aku membangun bisnis desain interior yang dulu pernah menjadi impianku sebelum menikah. Sebagian besar sisanya kusimpan untuk masa depan Aluna dan investasi yang dikelola secara transparan.

Pada ulang tahun pertama Aluna, sebuah surat datang dari lembaga pemasyarakatan.

Pengirimnya Arga.

Aku tidak membukanya.

Aku memasukkannya ke laci dan membawa Aluna berjalan-jalan.

Sore itu, saat melewati sebuah jembatan penyeberangan, langkahku berhenti.

Tempatnya berbeda, tetapi suara kendaraan di bawah membuatku teringat malam ketika aku hampir menyerah.

Aku menatap putriku yang tertidur di kereta bayi.

Dulu kupikir malam itu aku kehilangan semuanya.

Suami.

Rumah.

Uang.

Masa depan.

Ternyata aku hanya sedang kehilangan kehidupan yang memang seharusnya kutinggalkan.

Aku membungkuk dan mencium kening Aluna.

Saat itulah sebuah pikiran tiba-tiba muncul.

Aku tidak pernah bertanya kepada Aluna tentang satu hal.

Jika ia benar-benar pernah hidup sebelumnya, bagaimana ia bisa kembali ke dalam kandunganku?

Angin sore berembus.

Aluna yang sedang tidur tiba-tiba tersenyum.

Tangannya yang mungil menggenggam jariku.

Dan meski tidak ada suara apa pun di kepalaku, entah kenapa aku merasa sudah mendapatkan jawabannya.

Mungkin kesempatan kedua tidak selalu diberikan untuk memperbaiki masa lalu.

Kadang kesempatan kedua datang agar kita cukup berani memilih masa depan yang berbeda.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang