Sore itu seharusnya menjadi sore biasa.
Aku baru saja menutup kios ketika langit Surabaya mulai berubah jingga. Alya sedang duduk di lantai ruang tengah, sibuk menyusun balok warna-warni sambil sesekali bernyanyi dengan bahasa yang hanya dia sendiri pahami.
Ardi belum pulang dari proyek.
Aku masuk ke kamar untuk mengambil uang belanja. Biasanya aku menyimpan sedikit uang cadangan di laci, tetapi hari itu uangnya habis karena pagi tadi kupakai membayar tagihan listrik.
Aku teringat Ardi pernah berkata ada uang seratus ribu di dompetnya kalau sewaktu-waktu aku membutuhkan sesuatu.
Dompet cokelat tua itu tergeletak di atas lemari.
Aku membukanya tanpa curiga.
Ada beberapa lembar uang, kartu identitas, kartu BPJS, dan beberapa nota yang sudah kusut.
Namun ketika aku menarik selembar uang, sesuatu jatuh ke lantai.
Sebuah foto kecil.
Aku membungkuk dan mengambilnya.
Saat itulah tubuhku seperti kehilangan tenaga.
Itu foto seorang perempuan.
Wajahnya masih muda, mungkin sekitar dua puluh tahun. Rambutnya sebahu dan senyumnya lembut.
Tetapi bukan wajah perempuan itu yang membuat tanganku gemetar.
Melainkan bayi yang sedang digendongnya.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan yang tintanya mulai memudar.
Untuk Ardi. Kalau suatu hari kamu punya keluarga sendiri, jangan pernah biarkan anakmu tumbuh tanpa seorang ayah seperti kita dulu.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Dadaku mendadak sesak.
Siapa perempuan ini?
Kenapa Ardi menyimpan fotonya selama bertahun-tahun?
Dan apa maksud kalimat seperti kita dulu?
Aku membalik foto itu sekali lagi.
Di sudut bawah terdapat tanggal.

Dua belas tahun lalu.
Terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
Aku tersentak.
Ardi pulang.
Entah kenapa, refleks pertamaku justru memasukkan foto itu kembali ke dompet.
Malam itu aku tidak bertanya apa pun.
Namun pikiranku tidak berhenti bekerja.
Selama empat tahun menikah, Ardi hampir tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Aku hanya tahu kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia mempunyai seorang kakak perempuan yang katanya juga sudah meninggal beberapa tahun sebelum kami bertemu.
Apakah perempuan dalam foto itu kakaknya?
Lalu siapa bayi tersebut?
Keesokan harinya, ketika Ardi mandi, aku membuka dompetnya lagi.
Kali ini aku memperhatikan foto itu lebih teliti.
Di balik lipatan foto, ada tulisan kecil yang sebelumnya tidak kulihat.
Nisa dan Raka.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Sepanjang hari nama itu terus memenuhi pikiranku.
Sampai akhirnya, dua hari kemudian, aku tidak tahan lagi.
Ardi baru selesai makan malam ketika aku meletakkan foto itu di atas meja.
Wajahnya langsung berubah.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Ardi benar-benar kehilangan ketenangannya.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Dari dompetmu.”
Ardi terdiam.
“Siapa Nisa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menahan napas.
“Siapa Raka?”
Ardi menundukkan kepala.
Diamnya membuat semua ketakutan buruk bermunculan di kepalaku.
“Dia anakmu?”
Ardi langsung menatapku.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Dia mengembuskan napas panjang.
“Nisa kakakku.”
Aku terdiam.
“Dan Raka anaknya.”
Perlahan Ardi mengambil foto itu.
Tangannya yang kasar mengusap bagian wajah perempuan tersebut.
“Kakakku meninggal dua belas tahun lalu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku sadar bahwa cerita itu jauh lebih besar daripada sebuah foto.
Ardi akhirnya mulai bicara.
Ayah mereka meninggalkan keluarga ketika Ardi berusia sebelas tahun.
Ibunya membesarkan Ardi dan Nisa sendirian dengan berjualan makanan.
Ketika Ardi berusia tujuh belas tahun, ibunya meninggal karena sakit.
Sejak saat itu, Nisa menjadi satu-satunya keluarga yang dia miliki.
“Kakakku berhenti sekolah supaya aku bisa tetap sekolah,” katanya.
Namun kehidupan mereka kembali berubah ketika Nisa hamil.
Pria yang menghamilinya menolak bertanggung jawab.
Nisa melahirkan seorang anak laki-laki bernama Raka.
Selama hampir dua tahun, Ardi membantu kakaknya merawat bayi itu.
“Sampai suatu malam Nisa sakit.”
Suara Ardi mulai serak.
Mereka terlambat membawanya ke rumah sakit.
Nisa meninggal karena komplikasi penyakit yang selama berbulan-bulan dia sembunyikan.
Sebelum meninggal, Nisa meminta Ardi menjaga Raka.
“Tapi waktu itu aku cuma buruh bangunan harian. Tempat tinggal saja numpang. Aku nggak punya uang.”
Keluarga dari pihak ayah Raka akhirnya mengambil anak tersebut.
Ardi berusaha tetap berhubungan, tetapi beberapa tahun kemudian keluarga itu pindah ke Kalimantan.
Sejak itu dia kehilangan jejak keponakannya.
“Foto ini satu-satunya yang tersisa.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Ardi tersenyum tipis.
“Karena nggak semua luka harus diwariskan ke orang yang kita sayang.”
Jawaban itu seharusnya membuat rasa penasaranku selesai.
Tetapi kemudian aku teringat sesuatu.
Kalimat di belakang foto.
Kalau suatu hari kamu punya keluarga sendiri, jangan pernah biarkan anakmu tumbuh tanpa seorang ayah seperti kita dulu.
Aku menatap Ardi.
“Jadi karena itu kamu menikahiku?”
Ardi terdiam.
“Karena Alya?”
Dia masih tidak menjawab.
Dadaku mulai terasa sakit.
“Jawab aku, Di.”
Akhirnya dia mengangguk pelan.
“Iya.”
Jawaban itu justru menusukku.
Selama beberapa tahun terakhir, diam-diam aku mulai mencintainya. Aku mengira mungkin dia juga mencintaiku sejak awal.
Ternyata dia menikahiku karena kasihan kepada anak yang bahkan bukan darah dagingnya.
Air mataku jatuh.
“Jadi aku cuma perempuan yang mengingatkanmu pada kakakmu?”
“Bukan begitu.”
“Kamu menikahiku karena merasa harus menyelamatkan aku?”
“Maya.”
“Karena kamu gagal menjaga Raka, lalu kamu merasa harus menjaga Alya?”
Ardi berdiri.
Aku mundur.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku merasa jarak di antara kami begitu jauh.
“Aku memang pertama kali menawarkan pernikahan karena Alya,” katanya.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Tapi dengarkan sampai selesai.”
Aku menatapnya dengan mata basah.
Ardi masuk ke kamar.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah kotak besi kecil.
Aku mengenal kotak itu. Selama ini dia menyimpannya di bagian atas lemari dan selalu mengatakan isinya dokumen proyek.
Dia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya ada puluhan amplop.
Semuanya bertuliskan nama Alya.
Alya usia satu tahun.
Alya usia dua tahun.
Alya masuk sekolah.
Alya kuliah.
Aku membeku.
Ardi mengambil satu amplop.
“Aku nggak tahu umurku sampai kapan. Kerja di proyek banyak risikonya. Jadi setiap ada uang lebih, aku sisihkan.”
Tanganku menutup mulut.
“Kalau suatu hari aku nggak ada, setidaknya dia punya sesuatu.”
Aku menangis.
Namun Ardi belum selesai.
Dia mengeluarkan sebuah buku tabungan.
Namaku tercetak di sana.
Saldo di dalamnya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ini apa?”
“Tabunganmu.”
“Kenapa atas namaku?”
“Karena kios itu baru awal.”
Ardi menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir dia mengambil pekerjaan tambahan pada malam dan akhir pekan. Dia ingin mengumpulkan modal agar suatu hari aku bisa menyewa tempat yang lebih besar.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Dia mengangkat bahu.
“Kalau dibilang nanti belum tentu kejadian.”
Kalimat itu begitu khas Ardi sampai aku justru semakin menangis.
Lelaki ini benar-benar tidak pandai berbicara.
Dia hanya pandai membuktikan.
Aku mendekatinya.
“Kalau memang awalnya karena Alya, lalu aku apa?”
Untuk pertama kalinya, Ardi tampak gugup.
Dia menggaruk tengkuk.
“Kamu istriku.”
“Bukan itu maksudku.”
Dia diam cukup lama.
Lalu berkata pelan, “Awalnya aku cuma nggak mau lihat seorang anak kehilangan ayah sebelum dia lahir.”
Dia menatapku.
“Tapi lama-lama aku takut kehilangan ibunya juga.”
Aku terdiam.
Itulah pengakuan cinta pertama Ardi selama empat tahun pernikahan kami.
Tidak ada bunga.
Tidak ada makan malam romantis.
Hanya seorang lelaki dengan kaus proyek yang masih berbau semen berdiri di depanku sambil mengatakan bahwa dia takut kehilanganku.
Aku memeluknya.
Malam itu aku akhirnya memahami alasan sebenarnya Ardi menikahiku.
Bukan karena aku.
Bukan pula sepenuhnya karena Alya.
Dia melakukannya karena bertahun-tahun sebelumnya, seorang perempuan yang sangat dia sayangi meninggal setelah menjalani hidup sendirian membesarkan anak yang ditinggalkan ayahnya.
Ardi pernah menyaksikan sendiri betapa beratnya kehidupan seorang ibu yang harus menghadapi semuanya tanpa pasangan.
Dan ketika dia melihatku dalam keadaan yang hampir sama, dia memilih melakukan sesuatu yang dulu tidak mampu dia lakukan untuk kakaknya.
Kupikir rahasia itu selesai di sana.
Ternyata belum.
Dua bulan kemudian, seorang pria datang ke kiosku.
Usianya sekitar tiga puluhan.
Dia bertanya, “Apa benar ini rumah Pak Ardi?”
Aku mengangguk.
“Anda siapa?”
Pria itu terlihat gugup.
“Nama saya Raka.”
Aku langsung membeku.
Keponakan Ardi.
Ternyata selama bertahun-tahun Raka juga mencari pamannya.
Dia menemukan alamat kami setelah menghubungi beberapa orang lama di kampung tempat Ardi pernah tinggal.
Ketika Ardi pulang sore itu dan melihat Raka berdiri di depan rumah, kantong plastik berisi jeruk yang dibawanya jatuh begitu saja.
Tidak ada kata-kata.
Raka berjalan mendekat.
“Paman?”
Bibir Ardi bergetar.
Lalu lelaki yang selama ini hampir tidak pernah menangis itu memeluk keponakannya seperti seseorang yang akhirnya menemukan bagian hidupnya yang hilang.
Aku berdiri di pintu sambil menggendong Alya.
Malam itu kami makan bersama.
Raka menceritakan bahwa hidupnya ternyata cukup baik. Keluarga ayahnya membesarkannya dan menyekolahkannya hingga lulus kuliah.
Sebelum pulang, dia menyerahkan sebuah amplop kepada Ardi.
“Ini titipan dari nenek. Katanya dulu ditemukan di barang-barang Ibu.”
Di dalamnya ada sepucuk surat tulisan tangan Nisa.
Ardi membacanya perlahan.
Kemudian menyerahkannya kepadaku.
Salah satu kalimat membuatku tidak mampu menahan tangis.
Di, kalau suatu hari kamu bertemu perempuan yang sedang sendirian menghadapi hidup, jangan kasihan kepadanya. Kasihan tidak cukup untuk membangun keluarga. Kalau kamu memilih tinggal, tinggal karena kamu benar-benar ingin menjadi rumah untuknya.
Aku menatap Ardi.
Dia tersenyum sambil mengusap matanya.
“Aku bahkan nggak pernah baca surat ini sebelumnya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi kamu melakukannya.”
Beberapa tahun setelah itu, kehidupan kami berubah perlahan.
Kios kecilku berkembang menjadi toko kelontong yang cukup ramai. Ardi berhenti menjadi buruh harian dan mulai menerima proyek renovasi kecil bersama dua teman kerjanya.
Kami tidak menjadi kaya.
Rumah kami tetap sederhana.
Motor Ardi bahkan masih motor lama yang beberapa kali mogok.
Tetapi ada satu hal yang berubah.
Aku tidak lagi menganggap pernikahan kami sebagai keputusan yang kubuat untuk menutupi sebuah kesalahan.
Dulu aku mengira hidupku hancur ketika ayah kandung Alya meninggalkanku.
Aku bahkan pernah merasa pernikahanku dengan Ardi hanyalah jalan darurat untuk menyelamatkan harga diri.
Ternyata aku salah.
Beberapa orang datang ke hidup kita membawa janji indah, lalu pergi ketika janji itu harus dibuktikan.
Sebagian lainnya datang tanpa janji apa pun.
Mereka hanya tinggal.
Suatu malam, ketika Alya berusia enam tahun, dia mendapatkan tugas sekolah untuk menggambar keluarganya.
Dia menggambar empat orang.
Aku.
Dirinya.
Ardi.
Dan seorang bayi kecil yang saat itu baru berusia tujuh bulan, anak keduaku dengan Ardi.
Di bawah gambar Ardi, Alya menulis dengan huruf besar yang masih berantakan.
AYAH PALING HEBAT.
Aku menunjukkan gambar itu kepada Ardi.
Dia hanya tertawa.
“Lebay anakmu.”
“Anakmu juga.”
Alya langsung protes dari ruang tengah.
“Aku anak Ayah sama Ibu.”
Kami berdua terdiam.
Ardi menoleh kepadaku.
Aku tersenyum.
Tidak ada seorang pun yang mengajarkan kalimat itu kepada Alya.
Baginya, tidak pernah ada ayah kandung dan ayah sambung.
Hanya ada satu lelaki yang menggendongnya ketika demam, mengantarnya ke sekolah, memperbaiki sepedanya, menyisihkan uang untuk masa depannya, dan selalu pulang ke rumah setiap sore.
Ardi.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang mungkin terlambat kusadari.
Darah bisa menentukan dari siapa seorang anak dilahirkan.
Tetapi cinta, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap tinggal menentukan siapa yang pantas dipanggil keluarga.
Empat tahun lalu, aku menerima Ardi karena aku membutuhkan seorang lelaki untuk menutupi kehamilanku.
Namun ternyata, lelaki yang kupilih sebagai penutup kesalahanku justru menjadi keputusan terbaik dalam hidupku.
Dan benda kecil yang kutemukan di dompetnya hari itu bukanlah bukti bahwa suamiku menyimpan rahasia tentang perempuan lain.
Foto itu adalah alasan mengapa, ketika seluruh dunia meninggalkanku, seorang tukang bangunan dengan tangan kasar memilih untuk tetap tinggal.
Bukan karena dia ingin menjadi pahlawan.
Melainkan karena dia tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang menunggu ayahnya pulang, tetapi lelaki itu tidak pernah kembali.
