KETIKA ADIK PEREMPUANKU MENCOBA GAUN PENGANTINNYA, AKU MELIHAT MEMAR DI SISI TUBUHNYA YANG TAK MAMPU IA SEMBUNYIKAN. SAMBIL MENANGIS, IA MENGAKU BAHWA JIKA MENINGGALKAN TUNANGANNYA, AYAH PRIA ITU AKAN MEREBUT SELURUH HARTA KELUARGA KAMI. AKU MEMELUKNYA DAN BERBISIK, “KITA LANJUTKAN SAJA PERNIKAHAN INI.” MALAM ITU, AKU MULAI MERUNTUHKAN KERAJAAN BISNIS YANG MEREKA KIRA TAK AKAN PERNAH TUMBANG…

Malam itu, pukul dua lewat tiga belas menit, aku duduk sendirian di ruang kerja apartemenku dengan tiga layar menyala di hadapan wajahku.

Di layar pertama ada laporan keuangan Villanueva Capital.

Di layar kedua ada daftar perusahaan cangkang yang terhubung dengan Renato Villanueva.

Di layar ketiga ada foto punggung Nina.

Aku menatap foto itu paling lama.

Lalu aku menelepon seseorang yang sudah hampir empat tahun tidak kuhubungi.

“Dimas?”

Suara laki-laki di seberang terdengar mengantuk.

“Siapa ini?”

“Alena.”

Hening beberapa detik.

Kemudian suaranya berubah.

“Kamu menelepon jam dua pagi. Berarti ada orang yang akan masuk penjara.”

“Belum tentu.”

Aku membuka satu dokumen.

“Mungkin lebih dari satu.”

Dimas Prakoso adalah mantan penyidik kejahatan finansial yang sekarang bekerja sebagai konsultan forensik independen. Kami pernah menangani kasus penggelapan dana investasi senilai ratusan miliar rupiah.

Aku mengirimkan beberapa dokumen yang diberikan Nina.

Email ancaman.

Rekaman percakapan.

Foto luka.

Dan satu hal yang menurut Nina tidak penting.

Salinan kontrak restrukturisasi utang perusahaan ayahku.

Dimas menelepon kembali dua puluh menit kemudian.

“Alena.”

Nada suaranya serius.

“Kamu sudah membaca klausul nomor dua puluh tujuh?”

“Sudah.”

“Kalau begitu kamu tahu ini bukan cuma soal utang.”

Aku tahu.

Renato sengaja membeli piutang perusahaan ayahku melalui tiga perusahaan berbeda.

Secara hukum, semuanya tampak tidak saling berhubungan.

Namun pemilik manfaat akhirnya mengarah ke satu keluarga.

Villanueva.

Renato tidak ingin sekadar menjadikan Nina menantunya.

Ia sedang mengambil alih perusahaan keluargaku sedikit demi sedikit.

Pernikahan itu hanyalah borgol yang dibungkus bunga.

“Cari semuanya,” kataku.

“Perusahaan cangkang, rekening, transaksi lintas negara, kreditur. Apa pun.”

“Berapa banyak waktu yang kita punya?”

Aku melihat undangan pernikahan Nina di meja.

“Enam hari.”

Dimas menghela napas.

“Kamu gila.”

“Mungkin.”

Aku menutup laptop.

“Tapi mereka menyentuh adikku.”

Keesokan paginya aku pulang ke rumah orang tuaku.

Ayah sedang membaca koran di ruang makan. Mama sibuk memeriksa daftar tamu pernikahan.

Mereka tidak tahu apa pun.

Aku memandang wajah ayah yang tampak jauh lebih tua dibandingkan enam bulan sebelumnya.

“Ayah.”

Ia mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Seberapa parah kondisi perusahaan?”

Tangannya berhenti.

Mama ikut menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Jangan bohong.”

Ayah menatapku lama sebelum akhirnya meletakkan koran.

“Arus kas sedang sulit.”

“Sulit atau hampir bangkrut?”

Mama langsung berdiri.

“Alena.”

“Aku perlu tahu.”

Ayah menarik napas panjang.

“Kalau kreditur utama menarik fasilitas pinjaman secara bersamaan, kita mungkin hanya bertahan dua bulan.”

“Dan Renato tahu?”

Ayah tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku berdiri.

“Pernikahan tetap berlangsung.”

Mama terkejut.

“Tentu saja. Kenapa tiba-tiba membicarakan itu?”

Aku menatap ayah.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di matanya.

Rasa malu.

Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Mungkin ia tidak tahu Marco memukul Nina.

Tetapi ia tahu pernikahan itu telah berubah menjadi transaksi.

Aku mendekatinya.

“Ayah menjual Nina?”

Wajahnya seketika berubah.

“Jaga ucapanmu.”

“Jawab.”

“Aku tidak pernah menjual adikmu!”

“Lalu kenapa Renato bisa mengendalikan perusahaan kita?”

Ayah berdiri dengan wajah memerah.

“Aku mencoba menyelamatkan perusahaan yang dibangun kakekmu selama empat puluh tahun!”

“Dengan membiarkan Nina menikahi anaknya?”

“Aku tidak tahu Marco seperti itu!”

Suara lain terdengar dari tangga.

“Tapi Ayah tahu aku tidak ingin menikah dengannya.”

Nina berdiri di sana.

Wajah ayah kehilangan warna.

Mama memandang kami bergantian.

“Nina?”

Nina berjalan turun.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan apa pun.

Ia menarik sedikit bagian belakang bajunya.

Mama menjerit ketika melihat luka itu.

Ayah seperti kehilangan kemampuan bicara.

“Itu… siapa?”

“Marco.”

Ayah langsung meraih ponselnya.

“Aku akan menelepon Renato.”

Aku menahan tangannya.

“Jangan.”

Ayah menatapku marah.

“Dia menyiksa anakku!”

“Dan kalau Ayah menelepon sekarang, mereka akan menghapus bukti, memindahkan uang, dan menyerang perusahaan sebelum kita siap.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap mereka satu per satu.

“Kita tetap tersenyum.”

“Undangan tidak dibatalkan.”

“Dekorasi tetap dipasang.”

“Semua orang harus percaya pernikahan ini akan terjadi.”

Mama menatapku ngeri.

“Kamu mau menjadikan adikmu umpan?”

“Tidak.”

Aku menggenggam tangan Nina.

“Aku mau membuat mereka datang sendiri ke perangkap.”

Tiga hari berikutnya terasa seperti hidup di dua dunia.

Pada siang hari, keluarga kami sibuk mempersiapkan pernikahan.

Pada malam hari, aku, Dimas, dan dua analis forensik membongkar kerajaan Villanueva lapis demi lapis.

Kami menemukan pembayaran kepada pejabat perusahaan pembiayaan.

Tagihan fiktif.

Perusahaan konstruksi tanpa pegawai yang menerima transfer puluhan miliar rupiah.

Pinjaman yang dijamin dengan aset yang nilainya digelembungkan.

Tetapi penemuan terbesar datang dua malam sebelum pernikahan.

Dimas datang ke apartemenku membawa laptop.

“Kamu harus melihat ini.”

Ia membuka dokumen lama.

Sebuah akta pengalihan saham.

Aku membacanya.

Lalu membacanya sekali lagi.

Tanganku perlahan menjadi dingin.

“Ini tanda tangan ayahku.”

“Benar.”

“Tapi tanggalnya tiga tahun lalu.”

Dimas mengangguk.

“Menurut dokumen ini, ayahmu menjaminkan tiga puluh lima persen saham perusahaan keluarga kepada salah satu perusahaan Renato.”

“Ayah tidak pernah mengatakan ini.”

“Karena mungkin dia tidak pernah menandatanganinya.”

Aku menatap Dimas.

Ia memperbesar tanda tangan tersebut.

“Kami membandingkannya dengan dua puluh tujuh dokumen asli.”

“Hasilnya?”

“Indikasi pemalsuan sangat kuat.”

Aku bersandar.

Sekarang aku mengerti.

Renato tidak hanya memanfaatkan utang.

Ia telah menyiapkan jalan untuk mencuri perusahaan kami.

Pernikahan Nina adalah tahap terakhir.

Jika keluarga kami terikat dengannya, pengambilalihan itu akan terlihat seperti restrukturisasi bisnis antarkeluarga.

Sangat bersih.

Sangat elegan.

Sangat Renato.

Ponselku berdering.

Marco.

Aku mengangkatnya.

“Kak Alena.”

Suaranya santai.

“Aku dengar Kakak banyak bertanya soal perusahaan.”

“Benarkah?”

“Jangan ikut campur.”

Aku tersenyum.

“Kenapa? Takut?”

Ia tertawa.

“Kakak pikir punya beberapa teman jaksa membuat Kakak berkuasa?”

Kemudian suaranya berubah dingin.

“Setelah aku menikahi Nina, dia menjadi urusanku.”

Aku mencengkeram meja.

“Sentuh dia sekali lagi.”

“Apa?”

“Aku bilang, sentuh dia sekali lagi dan kamu akan menyesal pernah mengenal keluarga kami.”

Marco tertawa.

“Kita lihat siapa yang menyesal.”

Telepon terputus.

Aku menatap Dimas.

“Dia baru saja memberi kita sesuatu.”

“Apa?”

Aku menunjukkan layar ponsel.

Panggilan itu direkam.

Hari pernikahan tiba.

Hotel bintang lima di Jakarta dipenuhi hampir lima ratus tamu.

Politikus.

Pengusaha.

Bankir.

Selebritas.

Semua orang yang dianggap penting oleh Renato hadir.

Itulah kelemahannya.

Renato tidak pernah hanya ingin menang.

Ia ingin orang lain menyaksikan kemenangannya.

Nina berdiri di ruang pengantin.

Tangannya dingin.

“Aku takut.”

Aku membetulkan veil-nya.

“Kalau kamu ingin berhenti sekarang, kita berhenti.”

Ia menatapku.

“Bagaimana dengan perusahaan?”

“Persetan dengan perusahaan.”

Matanya berkaca-kaca.

Aku menggenggam tangannya.

“Tidak ada gedung, saham, atau warisan yang lebih berharga daripada hidupmu.”

Nina mengangguk perlahan.

Kemudian ia menarik napas.

“Aku mau lanjut.”

Aku tersenyum.

“Baik.”

Upacara dimulai pukul empat sore.

Marco berdiri di depan altar dengan setelan putih.

Renato duduk di barisan depan.

Ketika melihatku, ia tersenyum tipis.

Senyum seorang pria yang yakin dirinya sudah menang.

Nina berjalan memasuki ruangan bersama ayah.

Semua tamu berdiri.

Aku melihat Marco tersenyum.

Namun aku juga melihat bagaimana rahangnya mengeras ketika Nina tidak membalas senyumnya.

Prosesi berlangsung sampai pembawa acara meminta kedua mempelai menyampaikan janji.

Marco berbicara lebih dulu.

Ia mengucapkan kalimat indah tentang cinta, perlindungan, dan kesetiaan.

Aku hampir muak mendengarnya.

Kemudian giliran Nina.

Ia menerima mikrofon.

Tangannya gemetar.

“Aku pernah berpikir bahwa cinta berarti bertahan.”

Ruangan menjadi hening.

Marco menatapnya.

“Tapi seseorang mengajariku bahwa bertahan dalam ketakutan bukanlah cinta.”

Wajah Renato berubah.

“Nina,” bisik Marco.

Nina menatap para tamu.

“Jadi sebelum aku menjawab apakah aku bersedia menikah dengan Marco… ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Layar besar di belakang altar menyala.

Foto pertama muncul.

Luka di punggung Nina.

Terdengar suara keterkejutan dari ratusan tamu.

Marco langsung maju.

“Matikan!”

Foto kedua.

Memar di lengannya.

Foto ketiga.

Pesan ancaman.

Kemudian rekaman suara terdengar melalui pengeras suara.

Suara Marco.

“Kalau kamu pergi, Papa akan membuat keluargamu kehilangan semuanya.”

Ruangan meledak dalam bisikan.

Renato berdiri.

“Ini fitnah!”

Aku berjalan ke depan.

“Belum selesai.”

Renato menatapku.

Untuk pertama kalinya, senyumnya hilang.

Layar menampilkan diagram perusahaan.

Dua belas perusahaan.

Enam rekening.

Empat yurisdiksi.

Dan jalur uang yang semuanya kembali kepada Villanueva Capital.

Aku mendengar beberapa bankir di ruangan mulai berbisik.

Wajah Renato memucat.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Membuka hadiah pernikahan.”

Pintu ballroom terbuka.

Beberapa pria dan wanita berpakaian formal masuk bersama petugas keamanan hotel.

Aku tidak menyebut mereka sebagai pahlawan.

Mereka hanya orang-orang yang akhirnya menerima cukup dokumen untuk mulai bekerja.

Renato memandang sekeliling.

“Kalian tidak bisa melakukan ini!”

Dimas berjalan masuk paling belakang.

Ia menyerahkan sebuah map kepada Renato.

“Bisa.”

Marco menerjang ke arah Nina.

“Kamu jalang!”

Aku berdiri di depannya.

Namun sebelum ia mencapai kami, ayah menahan tubuhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ayah memukul seseorang.

Satu pukulan.

Marco jatuh.

Ayah berdiri di depannya dengan napas berat.

“Jangan pernah menyentuh anak saya lagi.”

Renato masih mencoba mempertahankan ketenangannya.

“Kalian pikir ini mengubah sesuatu? Utang perusahaan kalian tetap ada.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Ia tersenyum kembali.

“Besok pagi aku akan menarik semua pinjaman.”

“Silakan.”

Senyumnya menghilang.

Aku mengambil satu dokumen.

“Karena tiga kreditur yang Anda gunakan untuk mengendalikan perusahaan kami sudah menjual piutang mereka.”

“Kepada siapa?”

“Kepada konsorsium baru.”

“Siapa pemiliknya?”

Aku menatap ayah.

Lalu Nina.

Kemudian kembali kepada Renato.

“Aku.”

Untuk pertama kalinya, Renato Villanueva benar-benar kehilangan kata-kata.

Aku telah menggunakan jaringan investor yang pernah bekerja denganku untuk membeli utang tersebut dengan diskon setelah bukti manipulasi jaminan ditemukan.

Aku tidak menghancurkan perusahaan keluargaku.

Aku memindahkan tali yang selama ini mencekiknya.

Dari tangan Renato.

Ke tanganku sendiri.

Namun kejutan terakhir bukan dariku.

Nina melepas cincin pertunangannya.

Ia berjalan mendekati Marco yang masih terduduk di lantai.

Marco menatapnya dengan marah.

“Kamu akan menyesal.”

Nina berjongkok.

Aku mengira ia akan mengembalikan cincin itu.

Ternyata tidak.

Ia meletakkannya di lantai.

“Aku memang menyesal.”

Marco tersenyum sinis.

“Menyesal melawanku?”

Nina menggeleng.

“Menyesal karena terlalu lama percaya bahwa aku harus kehilangan diriku sendiri untuk menyelamatkan keluarga.”

Ia berdiri.

Kemudian menginjak cincin itu dengan hak sepatunya.

Enam bulan kemudian, Villanueva Capital tidak lagi menjadi kerajaan yang sama.

Beberapa kasus hukum masih berjalan.

Sebagian aset dibekukan selama pemeriksaan.

Beberapa mitra bisnis meninggalkan mereka.

Marco menghadapi proses hukum berdasarkan bukti yang disimpan Nina.

Namun hal yang paling mengejutkan justru terjadi pada perusahaan keluarga kami.

Ayah menjual rumah besar kami.

Ia juga menjual dua aset yang selama bertahun-tahun dianggap simbol keberhasilan keluarga.

Uangnya digunakan untuk membayar sebagian kewajiban perusahaan.

Suatu malam aku bertanya kepadanya apakah ia menyesal.

Ayah menatap rumah baru kami yang jauh lebih kecil.

Kemudian ia melihat Nina tertawa bersama Mama di dapur.

“Dulu Ayah pikir tugas kepala keluarga adalah menjaga harta warisan.”

Ia tersenyum pahit.

“Ternyata Ayah hampir kehilangan anak sendiri karena terlalu sibuk menjaga bangunan dan angka.”

Nina tidak langsung pulih.

Ada malam-malam ketika ia masih terbangun karena mimpi buruk.

Ada hari ketika suara pintu dibanting membuat tubuhnya gemetar.

Tetapi perlahan ia kembali menjadi Nina yang kukenal.

Bahkan mungkin menjadi seseorang yang lebih kuat.

Setahun kemudian, kami kembali melewati butik tempat ia mencoba gaun pengantin itu.

Nina berhenti di depan kaca.

“Kak.”

“Hmm?”

“Waktu itu Kakak bilang kita akan tetap melanjutkan pernikahan.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu marah?”

“Sedikit.”

Kami berjalan lagi.

“Tapi sekarang aku mengerti.”

Aku menoleh.

Nina tersenyum.

“Kita memang melanjutkan pernikahannya.”

Ia menggenggam tanganku.

“Hanya saja pengantin prianya tidak tahu bahwa itu bukan hari dia akan mendapatkan seorang istri.”

Aku tersenyum.

“Itu hari dia kehilangan semuanya?”

Nina menggeleng.

“Bukan.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Itu hari aku mendapatkan diriku kembali.”

Dan untuk pertama kalinya sejak melihat luka di punggungnya setahun sebelumnya, aku menyadari bahwa kemenangan terbesar kami bukanlah runtuhnya kerajaan Villanueva.

Bukan pula perusahaan yang berhasil kami selamatkan.

Kemenangan terbesar adalah melihat adikku berjalan di sampingku tanpa lagi menundukkan kepala.

Karena keluarga bukanlah rumah, saham, perusahaan, atau nama besar yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semua itu bisa hilang dalam satu malam.

Keluarga adalah orang yang berdiri di sampingmu ketika seluruh dunia mencoba membuatmu percaya bahwa kamu tidak punya jalan keluar.

Dan terkadang, untuk menyelamatkan orang yang kita cintai, kita memang harus membiarkan musuh merasa sudah menang.

Sampai mereka sendiri melangkah masuk ke perangkap yang mereka bangun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang