Aku tidak pernah menyangka dua garis merah di alat tes kehamilan akan membuka kebohongan yang telah disimpan sebuah keluarga selama bertahun-tahun.
Arjuna menatap layar ponselku. Wajahnya yang tadi dipenuhi kemarahan perlahan berubah.
“Berikan ponselmu.”
Aku refleks menarik tangan ke dada.
Bukan karena ingin menyembunyikan pesan itu, melainkan karena tatapan Arjuna membuatku takut. Bukan takut dia akan menyakitiku. Selama setahun menikah, lelaki itu tidak pernah sekalipun berlaku kasar kepadaku.
Aku takut dia tetap tidak percaya.
Arjuna mengulurkan tangan.
“Dewi, aku perlu membaca pesan itu.”
Akhirnya kuberikan ponselku.
Dia membaca dua pesan dari klinik itu berulang kali. Rahangnya mengeras.
Kemudian ponselku bergetar lagi.
Pesan ketiga masuk.
Dokter yang menangani Pak Arjuna saat itu masih menyimpan salinan hasil pemeriksaan. Jika Ibu bersedia, beliau ingin bertemu besok pagi.
Arjuna langsung mengetik balasan menggunakan ponselku.
Besok pukul sembilan. Saya ikut datang.
Aku terkejut dan menatapnya.

Dia mengembalikan ponsel itu kepadaku.
“Kita pergi bersama.”
Aku segera mengetik.
Aku belum selesai menjelaskan tentang bayi ini.
Arjuna membaca kalimatku. Matanya turun ke perutku yang masih belum terlalu terlihat.
“Besok saja.”
Dia berbalik, tetapi aku memberanikan diri menarik ujung lengan kemejanya.
Arjuna berhenti.
Aku mengetik lagi dengan tangan gemetar.
Bayi ini anakmu.
Lama sekali dia tidak bergerak.
Lalu perlahan dia menatapku.
“Apa?”
Aku menunjukkan layar.
Bayi ini anakmu. Malam ketika kamu demam tiga bulan lalu. Kamu mungkin tidak mengingatnya, tetapi malam itu kita bersama.
Wajah Arjuna kehilangan warna.
Dia mundur satu langkah.
“Tidak mungkin.”
Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semua ejekan yang pernah kudengar.
Aku menunduk.
Namun beberapa detik kemudian dia berkata lagi, kali ini suaranya jauh lebih pelan.
“Bukan berarti aku menuduhmu berbohong.”
Aku mengangkat kepala.
Arjuna mengusap wajahnya kasar.
“Aku memang tidak mengingat malam itu dengan jelas. Aku hanya ingat demam, lalu melihatmu di samping tempat tidur. Setelah itu semuanya seperti potongan mimpi.”
Aku mengetik.
Karena itu aku tidak pernah berani membicarakannya.
“Kenapa?”
Aku terdiam.
Lalu kutulis jawaban paling jujur.
Karena keesokan paginya kamu kembali bersikap seperti aku bukan siapa-siapa.
Arjuna terpaku.
Untuk pertama kalinya aku melihat rasa bersalah yang nyata di wajahnya.
Malam itu kami tidak berbicara lagi.
Pagi berikutnya, kami mendatangi sebuah klinik spesialis di Jakarta Selatan. Dokter yang menemui kami bernama dr. Haris. Rambutnya sudah memutih, tetapi dia masih mengingat Arjuna.
Begitu pintu ruangannya tertutup, dokter itu mengeluarkan sebuah map lama.
“Saya seharusnya mengatakan ini bertahun-tahun lalu.”
Arjuna duduk kaku.
“Apa sebenarnya hasil pemeriksaan saya?”
Dokter Haris membuka dokumen.
“Setelah kecelakaan, memang ada gangguan serius. Pada pemeriksaan pertama, peluang Anda memiliki keturunan dinilai sangat rendah. Tetapi itu bukan diagnosis infertilitas permanen.”
Arjuna mengepalkan tangan.
“Lalu?”
“Dua tahun kemudian Anda menjalani pemeriksaan ulang.”
Arjuna mengerutkan kening.
“Aku tidak ingat.”
“Saat itu Anda masih di bawah pengawasan keluarga. Pemeriksaan dilakukan atas permintaan kakek Anda.”
Dokter Haris mendorong hasil laboratorium ke depan kami.
“Kondisi Anda sudah membaik cukup signifikan. Kemungkinan memiliki anak tetap lebih rendah dibanding rata-rata, tetapi jelas bukan nol.”
Aku menatap Arjuna.
Dia tidak berkedip.
“Kenapa keluarga saya tidak tahu?”
Dokter Haris menghela napas.
“Dokumen aslinya diambil seseorang sebelum saya sempat menyerahkannya kepada Pak Bambang.”
“Siapa?”
Dokter Haris tampak ragu.
“Pak Surya.”
Arjuna langsung berdiri.
Surya adalah pamannya sendiri.
Adik kandung ayah Arjuna.
Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Di depan keluarga, Paman Surya selalu terlihat paling perhatian kepada Arjuna. Bahkan dia sering mengatakan bahwa jika Arjuna tidak mempunyai keturunan, kelak anak laki-lakinya, Kevin, bisa membantu mengurus perusahaan keluarga.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.
Jika Arjuna tidak memiliki anak, siapa pewaris berikutnya?
Kevin.
Dalam perjalanan pulang, Arjuna tidak mengatakan apa pun.
Begitu mobil memasuki halaman rumah, dia akhirnya berkata, “Jangan beri tahu siapa pun tentang kehamilanmu dulu.”
Aku menatapnya.
Dia cepat-cepat menambahkan, “Bukan karena aku malu.”
Aku menunggu.
“Aku ingin tahu siapa saja yang terlibat.”
Malam itu Kakek Bambang dipanggil ke rumah.
Begitu melihat hasil pemeriksaan lama, wajah lelaki berusia tujuh puluh tahun itu memerah.
“Surya mengambil dokumennya?”
Arjuna mengangguk.
Kakek Bambang menghantam tongkatnya ke lantai.
“Panggil dia sekarang!”
Namun Arjuna menahan.
“Jangan, Kek.”
“Kenapa?”
“Kalau kita menuduhnya sekarang, dia akan menyangkal.”
Arjuna kemudian menoleh kepadaku.
Tatapannya jatuh ke perutku.
“Kita beri dia kesempatan menunjukkan sendiri apa yang sebenarnya dia inginkan.”
Dua hari kemudian, kabar bahwa aku hamil entah bagaimana bocor.
Lebih buruk lagi, berita itu menyebar bersama rumor bahwa bayi tersebut bukan anak Arjuna.
Grup keluarga ramai.
Media sosial mulai dipenuhi gosip.
Beberapa akun bahkan mengunggah foto ketika aku berlari menuju toilet di pesta.
Istri CEO Diduga Hamil Meski Suami Dikenal Infertil.
Aku membaca komentar sampai tanganku dingin.
Ada yang menertawakanku.
Ada yang menyebutku perempuan murahan.
Ada pula yang mengatakan perempuan bisu sepertiku seharusnya sudah bersyukur dinikahi Arjuna.
Aku segera mematikan layar.
Saat itulah sebuah tangan mengambil ponsel dari genggamanku.
Arjuna.
Dia membaca beberapa komentar.
Wajahnya langsung mengeras.
Aku mencoba mengambil kembali ponsel itu, tetapi dia menahannya.
“Jangan baca lagi.”
Aku memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja.
“Tidak. Kamu tidak baik-baik saja.”
Aku terdiam.
Arjuna duduk di hadapanku.
“Selama ini aku pikir kalau aku tidak menyakitimu secara langsung, berarti aku sudah menjadi suami yang cukup baik.”
Dia tersenyum pahit.
“Ternyata mengabaikan seseorang juga bisa menyakitinya.”
Dadaku terasa hangat sekaligus sesak.
Dia melanjutkan, “Aku marah ketika mengetahui kamu hamil bukan hanya karena aku mengira anak itu milik orang lain.”
Aku menatapnya.
“Aku marah karena ternyata membayangkan kamu mempunyai anak dengan lelaki lain membuatku tidak bisa berpikir jernih.”
Aku membeku.
Arjuna tertawa kecil, getir.
“Mungkin aku lebih bodoh daripada yang kukira.”
Untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri menggenggam tangannya.
Arjuna membalas genggamanku.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sampai malam.
Bu Sari masuk ke kamar dengan wajah pucat.
“Pak Arjuna, ada tamu.”
“Siapa?”
“Bu Ayu.”
Tanganku langsung menegang.
Ayu.
Perempuan yang dulu meninggalkan Arjuna setelah kecelakaannya.
Dia berdiri di ruang tamu dengan gaun putih dan senyum sempurna.
Begitu melihatku, tatapannya langsung turun ke perutku.
“Aku dengar kabar bahagia.”
Arjuna berdiri di depanku seolah sengaja menghalangi pandangannya.
“Untuk apa kamu datang?”
Ayu mengeluarkan amplop.
“Untuk menyelamatkanmu dari penipuan.”
Dia meletakkan beberapa foto di meja.
Foto seorang lelaki keluar dari klinik kandungan.
Lalu foto aku memasuki klinik yang sama beberapa jam kemudian.
“Namanya Dimas,” kata Ayu. “Dokter kandungan yang memeriksa Dewi.”
Arjuna menatap foto itu.
Ayu tersenyum.
“Menarik, kan? Mereka kuliah di universitas yang sama.”
Aku langsung menggeleng.
Dimas memang teman kuliahku. Dia pula yang membantuku mencari dokter karena aku takut pergi sendirian saat pertama mengetahui kehamilan.
Ayu melanjutkan, “Kalau aku jadi kamu, aku akan tes DNA.”
Arjuna mengangkat wajah.
“Sudah selesai?”
Ayu terdiam.
“Arjuna, aku hanya mencoba membantumu.”
“Aku bertanya, kamu sudah selesai?”
Wajah Ayu berubah.
Arjuna mengambil foto-foto itu dan merobeknya menjadi dua.
“Aku mengenal istriku.”
Aku menatap punggungnya.
Kalimat sederhana itu membuat mataku panas.
Ayu tertawa sinis.
“Kamu mengenalnya? Bahkan kalian tidur terpisah hampir setahun.”
Ruangan langsung sunyi.
Bagaimana Ayu mengetahui itu?
Arjuna rupanya memikirkan hal yang sama.
“Siapa yang memberitahumu?”
Ayu tersadar telah salah bicara.
“Tidak penting.”
Dia mengambil tasnya dan buru-buru pergi.
Namun sebelum mencapai pintu, Kakek Bambang muncul bersama seorang pria.
Paman Surya.
Wajah Ayu langsung pucat.
Kakek Bambang melemparkan setumpuk dokumen ke meja.
“Cukup sandiwaranya.”
Ternyata sejak pagi, orang kepercayaan Kakek telah memeriksa rekening lama Paman Surya.
Ada transfer rutin kepada ibu Ayu sejak belasan tahun lalu.
Lebih mengejutkan lagi, terdapat pembayaran kepada salah satu pegawai administrasi klinik yang dulu menangani Arjuna.
Arjuna menatap pamannya.
“Paman yang mengambil hasil pemeriksaanku?”
Surya diam.
“Jawab!”
Akhirnya lelaki itu tertawa.
“Iya.”
Kakek Bambang hampir tidak percaya.
“Kenapa?”
“Karena sejak Arjuna lahir, semua selalu menjadi miliknya!”
Suara Surya meninggi.
“Perusahaan, saham, rumah, nama keluarga. Lalu anakku mendapat apa?”
“Jadi kamu menghancurkan masa depan keponakanmu?”
“Aku hanya memanfaatkan kesempatan.”
Surya menunjuk Arjuna.
“Dia sudah dianggap cacat. Aku cuma memastikan semua orang terus mempercayainya.”
Arjuna menatap Ayu.
“Dan dia?”
Surya tersenyum dingin.
“Ibunya menerima uang agar Ayu meninggalkanmu. Setelah kamu yakin tidak akan pernah punya anak, aku pikir kamu tidak akan menikah. Kalau pun menikah, tidak akan ada pewaris.”
Ayu mulai menangis.
“Aku waktu itu masih muda, Jun. Aku tidak tahu semuanya.”
Arjuna tidak menjawab.
Surya lalu menatapku.
“Tapi siapa sangka kakekmu justru menjodohkanmu dengan perempuan bisu ini.”
Aku menunduk.
Tiba-tiba Arjuna maju satu langkah.
“Jaga ucapan Paman.”
Surya tertawa.
“Kenapa? Sekarang kamu mencintainya?”
Arjuna diam.
Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Iya.”
Aku menatapnya.
Arjuna berbalik kepadaku.
“Aku mencintainya.”
Air mataku langsung jatuh.
Selama hidup, aku terbiasa tidak bisa mengatakan apa yang kurasakan.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya aku sadar bahwa ada kalanya seseorang tidak membutuhkan suara agar bisa didengar.
Surya akhirnya dikeluarkan dari perusahaan. Bukti manipulasi dokumen dan transaksi diserahkan kepada pengacara keluarga. Ayu pergi dari Jakarta beberapa minggu kemudian.
Namun masih ada satu hal yang belum selesai.
Tes DNA.
Bukan karena Arjuna memintanya.
Aku yang menginginkannya.
Saat usia kandunganku memungkinkan pemeriksaan yang aman sesuai saran dokter, aku meminta dokter menjelaskan pilihan pemeriksaan kepada kami.
Arjuna menolak.
“Aku tidak perlu.”
Aku mengetik di ponsel.
Aku perlu.
Dia mengerutkan kening.
Aku melanjutkan.
Aku tidak mau anak-anak kita lahir dengan membawa gosip yang dibuat orang lain.
Beberapa waktu kemudian hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis menunjukkan Arjuna adalah ayah dari kedua bayi yang kukandung.
Kembar.
Arjuna membaca hasil itu berkali-kali.
Lalu lelaki yang selama bertahun-tahun dikenal dingin itu menutup wajahnya.
Bahu lebarnya bergetar.
Aku baru sadar dia menangis.
Aku mendekat.
Dia memelukku sangat hati-hati.
“Dua?”
Aku tertawa tanpa suara sambil mengangguk.
“Benar-benar dua?”
Aku kembali mengangguk.
Dia menempelkan dahinya ke dahiku.
“Terima kasih.”
Aku menggeleng.
Bukan aku yang perlu menerima ucapan terima kasih.
Beberapa bulan kemudian aku melahirkan sepasang bayi, laki-laki dan perempuan.
Kakek Bambang menangis lebih keras daripada siapa pun.
Arjuna hampir pingsan ketika pertama kali diminta menggendong putrinya.
Namun kejutan terbesar terjadi dua tahun kemudian.
Kami menghadiri pesta keluarga yang diadakan di hotel yang sama tempat dulu aku berlari ke toilet karena mual.
Beberapa orang yang dahulu bergosip tentangku kini datang membawa hadiah untuk anak-anak kami.
Aku tidak peduli.
Aku sudah belajar bahwa penghormatan yang datang setelah kebenaran terbukti tidak selalu lebih berharga daripada ketulusan seseorang ketika semua orang masih meragukanmu.
Di tengah pesta, putra kami berlari menghampiriku.
“Mama!”
Aku berjongkok dan memeluknya.
Kemudian dia menunjuk meja makanan.
“Mama mau itu?”
Aku mengangguk.
Dia tertawa.
Saat itulah Arjuna datang membawa putri kami.
Dia berdiri di sampingku dan berbisik, “Aku masih punya satu rahasia.”
Aku mengangkat alis.
Dia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada dokumen yayasan baru.
Yayasan Dewi.
Sebuah lembaga yang menyediakan terapi, pendidikan, dan bantuan teknologi komunikasi untuk anak-anak dengan gangguan bicara dan pendengaran dari keluarga kurang mampu.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu tidak membutuhkan suara untuk menjadi kuat,” kata Arjuna. “Tapi aku ingin anak-anak lain mendapat kesempatan untuk menyampaikan isi hati mereka dengan cara apa pun yang mereka bisa.”
Aku memukul lengannya pelan sambil menangis.
Dia tertawa lalu menggenggam tanganku.
Dari kejauhan, seseorang memanggil Arjuna.
Namun sebelum pergi, dia menunduk dan berbisik di telingaku.
“Dulu semua orang menganggap aku lelaki yang tidak mungkin punya keturunan.”
Dia menatap kedua anak kami.
“Dan mereka menganggapmu perempuan yang tidak punya suara.”
Arjuna tersenyum.
“Ternyata mereka salah tentang kita berdua.”
Aku menatap suamiku, lalu dua anak yang berlari di antara para tamu.
Aku memang tidak pernah bisa mengatakan aku mencintainya dengan suara.
Namun malam itu, ketika Arjuna menatapku dari seberang ruangan, aku mengangkat tangan dan membentuk tiga kata dalam bahasa isyarat.
Aku mencintaimu.
Dia terdiam.
Lalu membalas dengan gerakan yang sama.
Aku tersenyum.
Karena akhirnya aku mengerti.
Menjadi bisu tidak pernah berarti aku tidak mempunyai suara.
Dan diagnosis yang pernah diberikan kepada Arjuna juga tidak pernah menentukan seluruh hidupnya.
Yang hampir menghancurkan kami bukanlah kekurangan yang kami miliki.
Melainkan kebohongan orang lain dan ketakutan kami sendiri untuk mengatakan kebenaran.
Untungnya, kebenaran selalu memiliki caranya sendiri untuk bersuara.
Bahkan ketika disampaikan oleh seseorang yang tak pernah mampu mengucapkan sepatah kata pun.
