Sejak Rangga Mengabaikan Telepon Darurat Istrinya, Laras Berhenti Menceritakan Apa Pun Tentang Hidupnya

Manajer itu tampak ragu.

“Bu Laras memang datang sendirian, Pak. Tapi malam pertama ada seorang pria yang mencarinya.”

Rangga yang semula hendak memasukkan SIM Laras ke dalam tas langsung berhenti.

“Pria?”

“Iya. Sekitar pukul sebelas malam. Dia bertanya apakah Bu Laras menginap di sini. Kami tidak memberikan nomor kamar karena kebijakan privasi.”

“Siapa namanya?”

“Dia tidak menyebutkan nama. Tapi…”

Manajer itu menelan ludah.

“Bu Laras melihat pria itu dari dekat lift. Beliau langsung kembali ke kamar dan meminta kami agar tidak memberikan informasi apa pun tentang keberadaannya.”

Dada Rangga terasa mengeras.

“Ciri-cirinya?”

“Sekitar lima puluhan. Rambut mulai beruban. Ada bekas luka di dekat alis kanan.”

Rangga langsung tahu siapa orang itu.

Hendra.

Ayah Laras.

Dia membuka ponsel dan mencari nomor lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dihubunginya.

Tidak aktif.

“CCTV.”

“Maaf?”

“Saya ingin melihat rekaman malam itu.”

Manajer tersebut tampak tidak nyaman.

“Untuk rekaman CCTV, kami tidak bisa memberikannya tanpa prosedur, Pak.”

Rangga mengeluarkan kartu namanya.

“Kalau begitu, jangan berikan kepada saya. Simpan. Saya akan meminta polisi yang mengambilnya.”

Nada suaranya membuat manajer itu langsung mengangguk.

Saat hendak memasukkan barang-barang Laras kembali ke tas, buku catatan kecil itu terjatuh.

Terbuka tepat di tengah.

Rangga sebenarnya tidak berniat membaca.

Namun matanya menangkap namanya sendiri.

Rangga.

Hanya satu kata.

Di bawahnya terdapat beberapa baris tulisan tangan Laras.

Aku pernah berpikir menikah berarti akhirnya punya seseorang yang bisa kutelepon ketika aku takut.

Ternyata aku salah.

Jari Rangga membeku.

Dia membalik halaman berikutnya.

Tulisan di sana bertanggal hampir setahun lalu.

Hari ini Rangga lupa ulang tahunku lagi. Tidak apa-apa. Dia sedang sibuk.

Halaman berikutnya.

Aku demam. Dia pulang pukul dua pagi. Aku pura-pura tidur supaya dia tidak merasa bersalah.

Halaman berikutnya.

Hari ini aku ingin cerita kalau hasil pemeriksaanku bagus. Tapi dia sedang menelepon. Besok saja.

Halaman berikutnya.

Hari ini aku tidak jadi cerita. Rasanya sudah tidak penting.

Rangga menutup buku itu begitu keras hingga manajer di depannya tersentak.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan mereka, Rangga merasa takut membaca pikiran istrinya.

Bukan karena Laras membencinya.

Justru karena di setiap halaman, perempuan itu terus-menerus memaafkannya.

Rangga membawa tas tersebut dan kembali ke mobil.

Sepanjang perjalanan, dia mencoba menghubungi Laras.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Nomornya tidak aktif.

Kemudian dia menelepon asistennya.

“Cari tahu semua yang terjadi di kantor polisi enam hari lalu. Jangan hanya tanya petugas jaga. Aku mau kronologinya.”

“Baik, Pak.”

“Dan cari Hendra.”

Ada keheningan sesaat.

“Ayah Bu Laras?”

“Iya.”

Empat puluh menit kemudian, saat Rangga masih terjebak kemacetan di Tol Dalam Kota, asistennya menelepon kembali.

“Pak, saya sudah mendapatkan informasi awal.”

“Bicara.”

Suara asistennya terdengar tidak seperti biasanya.

“Bu Laras bukan terlibat perselisihan biasa.”

Rangga memperlambat mobil.

“Lalu?”

“Beliau datang ke kantor polisi untuk melaporkan penguntitan dan pemerasan.”

Dunia di sekitar Rangga seolah kehilangan suara.

“Asisten yang saya kirim hari itu tidak mengetahui detailnya karena Bu Laras menolak menceritakan semuanya kepadanya. Tapi berdasarkan laporan, Pak Hendra datang beberapa kali ke tempat yang biasa dikunjungi Bu Laras.”

“Kenapa?”

“Dia meminta uang.”

“Berapa?”

“Dua miliar rupiah.”

Rangga mencengkeram kemudi.

“Untuk apa?”

“Utang. Tapi sepertinya bukan hanya utang judi.”

Asistennya berhenti sebentar.

“Pak Hendra mengancam akan menyebarkan sesuatu tentang keluarga Bu Laras kalau tidak diberi uang.”

“Apa?”

“Belum tahu. Polisi juga masih menyelidiki.”

Rangga teringat telepon lima kali dari Laras.

Empat kali dia abaikan.

Panggilan kelima dijawab oleh polisi.

Dan dia hanya mengatakan akan mengirim asisten.

Rangga menepi mendadak.

Klakson dari belakang terdengar panjang.

Dia tidak peduli.

“Cari dia.”

“Bu Laras?”

“Cari Laras sekarang.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rangga membatalkan seluruh jadwalnya.

Dia mendatangi apartemen sahabat Laras.

Kosong.

Rumah bibinya di Depok.

Tidak ada.

Studio keramik yang dulu sering dikunjungi Laras.

Tutup.

Hingga hampir pukul dua pagi, tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.

Ketika Rangga akhirnya pulang, rumah mereka terasa berbeda.

Tidak ada lampu kecil di dapur.

Tidak ada secangkir teh di meja.

Tidak ada sandal Laras di dekat pintu.

Selama ini dia mengira rumah itu sunyi karena dirinya menyukai ketenangan.

Malam itu dia baru sadar.

Rumah itu tidak pernah sunyi.

Laraslah yang selama ini mengisinya.

Pagi berikutnya, sebuah nomor tak dikenal menelepon.

“Pak Rangga?”

“Iya.”

“Saya dr. Maya dari sebuah rumah sakit di Jakarta Barat. Apakah Anda suami Ibu Laras?”

Rangga langsung berdiri.

“Apa yang terjadi?”

“Tenang, Pak. Kondisinya stabil. Tapi kami membutuhkan keluarga datang.”

Dua puluh menit kemudian, Rangga sudah berada di rumah sakit.

Dia menemukan Laras di ruang rawat.

Perempuan itu duduk di tepi tempat tidur dengan infus terpasang di tangan kiri.

Wajahnya pucat.

Ada memar samar di pergelangan tangannya.

Namun yang membuat langkah Rangga terhenti adalah ekspresinya.

Laras tidak terkejut melihatnya.

Tidak marah.

Tidak menangis.

Dia hanya menatapnya seperti menatap seseorang yang kebetulan dikenalnya.

“Kamu ngapain di sini?”

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tamparan.

“Rumah sakit meneleponku.”

“Oh.”

Hanya itu.

Rangga mendekat.

“Apa yang terjadi?”

“Aku pingsan.”

“Kenapa?”

“Kecapekan.”

“Laras.”

“Aku baik-baik saja.”

Rangga menatap memar di tangannya.

“Itu apa?”

Laras menarik lengan bajunya untuk menutupinya.

“Bukan apa-apa.”

“Ayahmu melakukan ini?”

Laras akhirnya menatapnya.

Ada sesuatu berubah di matanya.

Bukan ketakutan.

Kekecewaan.

“Sekarang kamu ingin tahu?”

Rangga tidak mampu menjawab.

Laras tersenyum tipis.

Enam tahun lalu, senyum seperti itu mungkin akan membuat Rangga lega.

Sekarang justru membuatnya merasa sesak.

“Waktu polisi meneleponmu,” kata Laras pelan, “aku sedang duduk di ruangan kecil dengan tangan gemetar. Ayah baru saja menyeretku dari parkiran dan mencoba memaksaku masuk mobil.”

Rangga membeku.

“Satpam melihat dan menolongku. Polisi datang. Aku meneleponmu empat kali sebelum mereka mengambil ponselku dan menelepon sendiri.”

Laras menunduk.

“Aku pikir kalau polisi yang bicara, mungkin kamu akan datang.”

Setiap kata terasa seperti sesuatu yang ditancapkan perlahan ke dada Rangga.

“Tapi kamu mengirim asisten.”

“Laras, aku tidak tahu…”

“Aku tahu.”

Laras memotongnya.

“Kamu tidak tahu.”

Matanya mulai memerah, tetapi suaranya tetap tenang.

“Dan itu masalahnya, Rangga. Kamu tidak pernah tahu.”

Rangga membuka mulut, tetapi Laras melanjutkan.

“Kamu tidak tahu aku berhenti melukis dua tahun lalu. Kamu tidak tahu aku pernah keguguran.”

Wajah Rangga seketika pucat.

“Apa?”

Laras tersenyum getir.

“Tiga tahun lalu.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku mencoba.”

Rangga seperti kehilangan napas.

“Kapan?”

“Malam kamu pulang dari Singapura. Aku menunggumu sampai jam satu. Begitu kamu datang, kamu bilang jangan bicara dulu karena besok ada presentasi.”

Laras menatap jendela.

“Besoknya aku sudah tidak ingin cerita.”

Rangga mundur satu langkah.

Ingatan samar muncul.

Laras berdiri di depan ruang kerja.

Wajahnya pucat.

Dia memang pernah berkata, “Aku mau ngomong sesuatu.”

Dan Rangga menjawab tanpa melihatnya.

“Besok saja.”

Ternyata beberapa kata bisa membutuhkan tiga tahun untuk menunjukkan betapa kejamnya mereka.

“Aku minta maaf.”

Laras mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Aku juga tahu.”

“Kalau begitu pulanglah. Kita bicarakan semuanya.”

Untuk pertama kalinya, Laras tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

“Pulang?”

Dia menatap Rangga.

“Ke rumah siapa?”

Rangga terdiam.

“Rumah kita.”

“Rumah itu milikmu, Rangga. Aku cuma tinggal di sana.”

Kalimat itu bahkan lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Sebelum Rangga sempat menjawab, pintu kamar terbuka.

Dua polisi masuk.

Di belakang mereka berdiri asistennya.

“Pak Rangga.”

Wajah asistennya tegang.

“Pak Hendra sudah ditemukan.”

Laras langsung menegang.

“Di mana?”

“Dia ditangkap pagi ini.”

Salah satu polisi kemudian menjelaskan bahwa Hendra tidak hanya memeras Laras. Selama beberapa tahun terakhir, dia menggunakan identitas putrinya untuk meminjam uang dari sejumlah pihak.

Namun itu belum semuanya.

Polisi meletakkan sebuah amplop plastik transparan di meja.

Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen.

“Kami menemukan ini di tempat tinggal Pak Hendra.”

Rangga mengambilnya.

Sebuah akta kelahiran.

Nama Laras tercantum di sana.

Namun nama Hendra tidak berada di kolom ayah.

Rangga mengangkat kepala.

Laras tampak sama bingungnya.

Polisi itu menarik napas.

“Pak Hendra bukan ayah kandung Ibu Laras.”

Ruangan menjadi hening.

Selama puluhan tahun, Hendra ternyata menyimpan rahasia itu dan menggunakannya untuk memeras Laras setelah menemukan bahwa ayah biologisnya berasal dari keluarga pengusaha lama di Surabaya.

Dia mengancam akan mendatangi media dan menciptakan skandal jika Laras tidak memberinya uang.

“Tapi kenapa dia mengejarku sampai hotel?” tanya Laras.

Polisi itu menatapnya.

“Karena Anda tidak punya uang sebanyak itu.”

Laras mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Dia tahu suami Anda punya.”

Rangga menatap dokumen di tangannya.

Tiba-tiba semuanya terasa jelas.

Hendra tidak pernah benar-benar mengejar Laras.

Dia sedang mencoba menggunakan Laras untuk mencapai dirinya.

Beberapa hari kemudian, Laras diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

Rangga datang menjemput.

Dia membawa mantel Laras dan berdiri di koridor seperti seorang pria yang tidak tahu lagi apa haknya sebagai suami.

“Aku sudah menyiapkan mobil.”

Laras mengangguk.

“Terima kasih.”

“Ke rumah?”

“Tidak.”

Rangga menatapnya.

“Aku sudah menyewa apartemen.”

“Berapa lama?”

Laras terdiam beberapa saat.

“Aku tidak tahu.”

Rangga ingin mengatakan jangan pergi.

Ingin mengatakan dia bisa berubah.

Ingin mengatakan enam tahun pernikahan mereka terlalu berharga untuk berakhir seperti ini.

Namun untuk pertama kalinya, dia sadar bahwa selama bertahun-tahun Laras selalu menjadi orang yang menyesuaikan diri.

Mungkin cinta kali ini berarti tidak memaksanya tinggal.

Rangga menyerahkan mantel itu.

“Aku akan mengantarmu.”

Dalam perjalanan, mereka hampir tidak berbicara.

Ketika sampai di depan apartemen, Laras membuka pintu mobil.

“Laras.”

Perempuan itu menoleh.

Rangga mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya.

“Aku membacanya.”

Laras diam.

“Maaf.”

Rangga menundukkan kepala.

“Bukan cuma karena aku membaca tanpa izin. Aku minta maaf karena ternyata aku harus membaca buku ini dulu untuk mengetahui kehidupan istriku sendiri.”

Mata Laras berkaca-kaca.

Rangga menyerahkan buku itu.

“Aku tidak akan meminta kamu pulang.”

Laras tampak terkejut.

“Aku juga tidak akan janji berubah supaya kamu percaya. Karena mungkin selama ini aku terlalu banyak menganggap keberadaanmu sebagai sesuatu yang pasti.”

Dia menarik napas.

“Kalau suatu hari kamu ingin cerita lagi, aku akan dengar.”

Laras menerima buku tersebut.

“Kalau aku tidak ingin?”

Rangga menatapnya.

“Berarti aku harus menerima bahwa aku terlambat.”

Laras turun tanpa menjawab.

Tiga bulan berlalu.

Mereka belum bercerai.

Namun Laras juga belum pulang.

Rangga mulai menjalani terapi dan mengurangi pekerjaannya. Bukan sebagai strategi untuk mendapatkan Laras kembali, tetapi karena untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa selama bertahun-tahun dia menggunakan kesibukan sebagai alasan untuk menghindari kedekatan.

Suatu malam, ponselnya berbunyi.

Pesan dari Laras.

Hanya sebuah foto.

Seekor burung kecil bertengger di pagar balkon apartemennya.

Di bawahnya ada satu kalimat.

“Burung ini datang tiap pagi. Berisik sekali.”

Rangga menatap layar sangat lama.

Dulu dia mungkin hanya akan menjawab, “Oke.”

Jarinya mulai mengetik.

Dia menghapus kalimat pertama.

Mengetik lagi.

Lalu menghapusnya.

Akhirnya dia menulis sesuatu yang sangat sederhana.

“Warnanya bagus. Dia datang jam berapa biasanya?”

Tiga menit kemudian, Laras membalas.

“Sekitar setengah tujuh.”

Rangga tersenyum.

Percakapan itu berlangsung dua puluh menit.

Tidak ada pembicaraan tentang pernikahan.

Tidak ada janji untuk kembali.

Hanya tentang burung kecil, tanaman balkon, dan hujan yang belakangan sering turun.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Laras menceritakan sesuatu tentang hidupnya.

Dan Rangga akhirnya mengerti bahwa kehilangan seseorang tidak selalu dimulai ketika dia menutup pintu dan pergi.

Kadang-kadang kehilangan dimulai jauh sebelumnya.

Ketika seseorang masih duduk di samping kita, masih memasakkan makan malam, masih mengirim foto hal-hal kecil, masih bertanya kapan kita pulang, tetapi perlahan berhenti percaya bahwa ceritanya akan didengar.

Dan mendapatkan seseorang kembali tidak dimulai dengan meminta mereka pulang.

Ia dimulai ketika kita akhirnya belajar mendengarkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang