Nama pemegang kartu itu terpampang jelas di layar.
RIAN PRADANA.
Jam 23.58.
Dua menit sebelum aku sendiri tercatat masih berada di jalur sortir utama.
Aku menatap layar ponsel Pak Haris sampai huruf-huruf itu terasa kabur.
“Itu tidak mungkin,” kataku. “Jam segitu saya masih di meja sortir. Ada puluhan orang yang lihat.”
“Saya tahu.”
Jawaban Pak Haris justru membuatku semakin bingung.
Fikri berdiri di sampingku dengan wajah tegang.
“Kalau Mas Rian masih di jalur sortir, berarti kartunya dikloning.”
Pak Haris mengangguk pelan.
“Itulah yang sedang kami cari.”
Aku menatap paket IA-77 di tanganku.

“Jadi selama empat bulan ini Bapak sengaja menekan saya?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
Amarahku meledak.
“Empat bulan saya pulang jam tiga pagi. Saya dituduh kalau ada barcode salah. Saya bongkar ratusan paket sendirian. Itu semua cuma permainan?”
Pak Haris tidak membalas kemarahanku.
“Kalau pencuri tahu kamu bekerja sama dengan audit, dia akan berhenti memakai identitasmu.”
Aku tercekat.
“Memakai identitas saya?”
Pak Haris mengambil napas.
“Tiga bulan lalu audit menemukan ketidaksesuaian data. Setiap kali barang bernilai tinggi hilang dari jalur retur, sistem mencatat akses milikmu di sekitar lokasi.”
“Kenapa saya tidak langsung diperiksa?”
“Karena rekaman menunjukkan kamu berada di tempat lain.”
Pak Haris menunjuk paket itu.
“IA-77 dikirim untuk memberitahumu bahwa kamu dijadikan saksi sekaligus umpan. Tapi paket itu tidak pernah sampai.”
“Karena Bapak menolaknya.”
Wajah Pak Haris berubah.
“Bukan saya.”
Aku menunjukkan data yang tadi kutemukan.
“Nama petugas pengembaliannya Haris Setiawan.”
Dia mengeluarkan kartu aksesnya, lalu meletakkannya di atas meja.
“Persis seperti kartumu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dua kartu identitas.
Dua nama yang dipakai tanpa izin.
Seseorang bukan hanya mencuri barang.
Dia sedang membangun jejak palsu untuk menyeret kami berdua.
Tiba-tiba Fikri mundur selangkah.
Gerakan kecil itu membuatku menoleh.
Pak Haris juga melihatnya.
“Fikri,” katanya, “kamu tadi bilang server CCTV dimatikan dari terminal supervisor?”
“Iya.”
“Terminal mana?”
Fikri terdiam.
Pak Haris mendekat.
“Ada tiga terminal supervisor.”
“Ruang B.”
Pak Haris langsung menggeleng.
“Ruang B dicabut dari jaringan sejak minggu lalu.”
Wajah Fikri memucat.
Aku perlahan menjauh darinya.
“Mas?”
Fikri menatap kami bergantian.
Kemudian tertawa pendek.
“Serius? Sekarang kalian curiga sama aku?”
Tangannya bergerak ke sakunya.
Pak Haris langsung berkata, “Jangan.”
Namun Fikri hanya mengeluarkan kartu teknisi.
“Lihat sendiri. Akses saya cuma panel listrik dan server.”
Aku hampir merasa bersalah sampai melihat sesuatu.
Di ujung tali kartunya tergantung benda kecil berwarna hitam.
Seperti adaptor USB.
Aku pernah melihat benda yang sama tiga minggu lalu ketika Fikri memperbaiki scanner barcode.
Pak Haris melihatnya juga.
“RFID cloner?”
Fikri langsung menarik napas.
Lalu lampu padam.
Gelap total.
Aku mendengar langkah kaki berlari.
“Rian, paketnya!”
Aku memeluk IA-77 dan merunduk.
Sesuatu menghantam meja.
Aku mendengar Pak Haris mengumpat.
Pintu terbuka.
Ketika lampu darurat menyala beberapa detik kemudian, Fikri sudah menghilang.
Pak Haris berdiri sambil memegang bahunya.
“Kita keluar.”
“Tapi paket ini?”
“Bawa.”
Kami berlari menuju area sortir.
Anehnya, gudang benar-benar kosong.
Padahal petugas keamanan seharusnya masih berjaga.
Kepala keamanan yang tadi datang bersama Pak Haris pun tidak terlihat.
Pak Haris langsung berhenti.
“Jangan ke pintu utama.”
“Kenapa?”
“Kalau Fikri bekerja sendirian, dia tidak mungkin bisa memindahkan barang senilai hampir dua miliar selama berbulan-bulan.”
Aku baru memahami maksudnya ketika suara pintu rolling door terdengar dari sisi belakang gudang.
Pak Haris menarikku menuju lorong rak.
Dari sela-sela kardus, kami melihat sebuah mobil boks mundur ke loading dock.
Pintu belakangnya terbuka.
Dua orang mulai memasukkan kardus.
Salah satunya mengenakan seragam keamanan.
Aku mengenalinya.
Kepala keamanan.
Pak Haris berbisik, “Sekarang kamu tahu kenapa audit tidak berani bergerak terbuka.”
Teleponku bergetar.
Laila.
Aku mengangkatnya.
“Bu.”
“Rian, dengarkan saya. Tim kami sudah di gerbang. Jangan lakukan apa pun. Kami butuh mereka tertangkap bersama barang.”
Aku menatap mobil boks.
“Fikri ada di sana.”
“Kami tahu.”
Aku terdiam.
“Kalian tahu?”
“Kami mengikuti akses palsu sejak seminggu lalu.”
Rasa marah kembali muncul.
“Jadi saya benar-benar umpan?”
“Bukan. Paket IA-77 bukan umpan.”
“Lalu apa?”
Sebelum Laila menjawab, seseorang menarik ponselku dari belakang.
Fikri.
Dia mendorongku hingga jatuh.
Paket terlepas.
Fikri mengambilnya.
Pak Haris mencoba menerjang, tetapi kepala keamanan muncul sambil membawa tongkat besi.
“Jangan macam-macam, Haris.”
Pak Haris berhenti.
Fikri memegang paket itu sambil tersenyum.
“Empat bulan, Mas Rian. Empat bulan aku bikin semua orang percaya kamu ceroboh.”
Dadaku sesak.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu gampang.”
Dia tertawa.
“Anak baru. Butuh uang. Sering ambil lembur. Kalau suatu hari ketahuan, orang tinggal bilang kamu mencuri karena terdesak kebutuhan.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dua orang sebelum aku?”
Senyumnya menghilang.
“Mereka terlalu banyak bertanya.”
“Makanya mereka resign?”
“Yang satu kami bikin takut. Yang satu kami jebak dengan pelanggaran prosedur.”
Aku menatap Pak Haris.
Jadi perlakuannya selama ini bukan sekadar tekanan.
Dia sedang memastikan aku selalu bekerja sesuai prosedur agar tidak mudah dijebak.
Fikri merobek paket IA-77.
Pak Haris berteriak, “Jangan!”
Terlambat.
Isi paket jatuh ke lantai.
Bukan dokumen.
Hanya sebuah flashdisk kecil dan kartu bertuliskan satu kalimat.
UNTUK SAKSI YANG MASIH BERTAHAN.
Fikri tertawa.
“Ini yang kalian lindungi?”
Dia mengambil flashdisk.
Laila masih terdengar samar dari ponselku yang jatuh.
“Rian, jangan biarkan dia menghancurkannya.”
Fikri mengangkat flashdisk.
“Akhirnya.”
Lalu mematahkannya menjadi dua.
Kepala keamanan tertawa lega.
Pak Haris justru tersenyum.
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat tenang.
“Kenapa senyum?” bentak Fikri.
Pak Haris menunjuk flashdisk yang patah.
“Karena itu kosong.”
Wajah Fikri berubah.
Pak Haris melanjutkan.
“IA-77 tidak pernah berisi bukti. Paket itu dibuat untuk melihat siapa yang paling takut kalau Rian menemukannya.”
Suara sirene terdengar dari luar.
Fikri langsung berlari menuju mobil boks.
Namun rolling door tiba-tiba turun.
Brak.
Mobil itu terjebak.
Beberapa petugas audit, keamanan pusat, dan polisi masuk dari pintu depan.
Kepala keamanan menjatuhkan tongkatnya.
Fikri berdiri membeku.
Aku masih terduduk di lantai.
Laila masuk beberapa detik kemudian.
Perempuan berkemeja putih itu menghampiriku dan mengambil kartu dari paket.
“Maaf kami membuatmu melewati malam seperti ini.”
Aku berdiri perlahan.
“Jadi semua ini sudah direncanakan?”
“Tidak semuanya.”
Dia menatap Fikri yang sedang diborgol.
“Kami menduga ada jaringan internal. Tapi kami tidak tahu siapa saja.”
Aku menunjuk Pak Haris.
“Dan dia?”
Laila tersenyum tipis.
“Pak Haris melapor pertama kali empat bulan lalu.”
Aku membeku.
Pak Haris memalingkan wajah.
“Tapi cara Bapak memperlakukan saya…”
“Karena kamu ceroboh.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
Dia melanjutkan datar.
“Kamu sering meninggalkan kartu akses di meja. Pernah tiga kali lupa logout terminal. Dua kali meninggalkan manifest terbuka. Orang seperti kamu sasaran paling mudah untuk dijadikan kambing hitam.”
Aku ingin membantah.
Tapi semuanya benar.
Pak Haris menatapku.
“Kalau saya tiba-tiba baik sama kamu setelah audit datang, orang-orang itu akan curiga.”
“Jadi Bapak sengaja jadi supervisor paling menyebalkan sedunia?”
“Kurang lebih.”
Aku tidak tahu harus marah atau tertawa.
Namun ternyata kasus itu belum selesai.
Ketika polisi memeriksa mobil boks, mereka menemukan tujuh puluh enam paket elektronik bernilai hampir empat ratus juta rupiah.
Dari ponsel Fikri ditemukan percakapan dengan beberapa penadah.
Kepala keamanan mengatur kendaraan keluar masuk.
Fikri menggandakan kartu akses pegawai.
Sementara seorang admin retur memanipulasi status barang.
Tetapi ada satu nama lain yang membuat semua orang terdiam.
Nama orang yang menerima bagian terbesar dari penjualan.
Bukan Fikri.
Bukan kepala keamanan.
Melainkan kepala operasional cabang.
Atasan langsung Pak Haris.
Tiga hari kemudian, kantor pusat membekukan seluruh manajemen malam.
Penyelidikan berkembang.
Total kerugian selama hampir setahun ternyata bukan Rp1,9 miliar.
Jumlahnya melewati Rp4,7 miliar.
Aku dipanggil untuk memberikan keterangan berkali-kali.
Awalnya aku takut kehilangan pekerjaan.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Dua minggu kemudian, Laila memanggilku ke ruang rapat.
Di sana ada Pak Haris.
Aku duduk di hadapan mereka.
Laila mendorong sebuah amplop.
“Perusahaan memberikan kompensasi lembur yang sebelumnya tidak tercatat.”
Aku membuka amplop itu.
Jumlahnya cukup untuk membayar uang kuliah adikku selama satu semester.
Tenggorokanku tercekat.
“Tapi ada satu hal lagi,” katanya.
Dia menyerahkan surat.
Aku membacanya dua kali.
Promosi menjadi petugas kontrol inventaris.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa saya?”
Pak Haris menjawab lebih dulu.
“Karena kamu mencatat nomor resi, waktu scan, kode operator, dan posisi troli sebelum melakukan apa pun.”
Dia bersandar.
“Itulah yang menyelamatkanmu.”
Aku tersenyum kecil.
“Padahal itu kebiasaan yang Bapak paksa.”
“Makanya jangan banyak protes.”
Untuk pertama kalinya aku tertawa di depannya.
Tiga bulan kemudian, aku sudah bekerja di ruang kontrol.
Shift-ku tidak lagi berakhir dengan membongkar ratusan paket sendirian.
Adikku tetap kuliah.
Aku bahkan berhasil pindah ke kontrakan yang sedikit lebih layak.
Pak Haris masih menjadi supervisor.
Dan ya, dia tetap menyebalkan.
Suatu malam, ketika memeriksa laporan retur, aku menemukan sebuah paket kecil di mejaku.
Tanpa resi.
Tanpa nama pengirim.
Hanya tertulis:
UNTUK RIAN PRADANA.
Aku menatap Pak Haris dari balik kaca.
Dia pura-pura sibuk.
Aku membuka paket itu.
Di dalamnya ada tempat kartu akses baru dengan tali pengaman yang bisa dikaitkan ke sabuk.
Dan secarik kertas.
JANGAN TARUH KARTU AKSES SEMBARANGAN LAGI.
Aku tertawa.
Namun ketika hendak membuang bungkusnya, sesuatu jatuh dari bagian bawah kotak.
Sebuah fotokopi label lama.
IA-77.
Di belakangnya ada tulisan tangan Laila.
Paket ini sebenarnya pernah sampai ke kontrakanmu tiga bulan lalu.
Aku berhenti bernapas.
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
Seseorang yang mengaku sebagai kakakmu menolaknya.
Tanganku dingin.
Aku tidak punya kakak.
Malam itu aku menelepon Laila.
“Bu, siapa yang menolak paket pertama?”
“Kami belum tahu. Kenapa?”
Aku menatap salinan tanda tangan di label.
Tiga bulan lalu aku menganggapnya hanya coretan.
Sekarang, setelah melihatnya lebih dekat, aku mengenali bentuk huruf R yang aneh di awal tanda tangan itu.
Aku pernah melihatnya ratusan kali.
Di kuitansi kontrakan.
Di catatan pembayaran listrik.
Di formulir fotokopi KTP yang pernah kuberikan saat pertama menyewa kamar.
Pemilik kontrakanku.
Pak Darto.
Aku langsung membuka laptop dan memeriksa daftar rekening penadah yang diberikan penyidik kepada tim inventaris untuk pencocokan data.
Salah satu rekening menggunakan alamat yang terasa sangat familiar.
Gang kecil di Bekasi tempat aku tinggal.
Rumah nomor sebelas.
Rumah Pak Darto.
Aku menelepon polisi.
Malam itu juga mereka datang.
Namun Pak Darto sudah pergi.
Kamarnya kosong.
Di belakang lemari ditemukan puluhan kartu SIM, beberapa stempel toko daring, dan salinan identitas penghuni kontrakan.
Termasuk milikku.
Barulah semuanya masuk akal.
Fikri tidak memilihku secara acak.
Data pribadiku sudah lebih dulu dijual seseorang.
Orang yang setiap bulan menerima fotokopi identitas para penghuni.
Orang yang tahu tempat kami bekerja.
Orang yang tahu siapa yang sedang kesulitan uang.
Dua minggu kemudian Pak Darto ditangkap di Cirebon.
Dia bukan otak pencurian gudang.
Namun selama bertahun-tahun dia menjual data pribadi penyewa kepada jaringan penipu dan pencuri identitas.
Namaku hanyalah salah satu dari puluhan korban.
Ketika polisi membawanya kembali untuk pemeriksaan, dia sempat menatapku.
“Kamu cuma anak kontrakan,” katanya lirih. “Saya pikir kalau ada masalah, siapa juga yang akan percaya sama kamu?”
Aku menatapnya lama.
Dulu mungkin kalimat itu akan membuatku marah.
Sekarang tidak.
Aku hanya menjawab, “Makanya saya simpan bukti.”
Beberapa bulan kemudian, kasus itu selesai.
Sebagian besar barang berhasil dikembalikan. Para pelaku diproses hukum. Sistem akses gudang diganti total dengan autentikasi ganda. Tidak ada lagi kartu yang bisa dipakai sendirian untuk membuka area sensitif.
Aku masih bekerja di tempat yang sama.
Kadang sampai larut malam.
Kadang masih mengeluh.
Tapi sejak malam IA-77, aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di pelatihan kerja mana pun.
Orang yang berniat jahat tidak selalu menghancurkan bukti.
Kadang mereka justru menciptakan terlalu banyak bukti palsu sampai kita mulai meragukan diri sendiri.
Mereka memakai nama kita.
Identitas kita.
Kesalahan kecil kita.
Bahkan kesulitan hidup kita.
Karena itu, ketika suatu hari seorang operator baru datang kepadaku dengan wajah pucat karena menemukan ketidaksesuaian data, aku tidak memarahinya.
Aku menarik kursi.
“Duduk.”
Dia terlihat takut.
“Pak Rian, saya benar-benar tidak tahu kenapa kartu saya tercatat di sana.”
Aku mengangguk.
“Aku percaya.”
Matanya langsung memerah.
Aku membuka laporan.
“Tapi percaya saja tidak cukup.”
Aku mengambil pena dan meletakkannya di depannya.
“Sekarang kita catat semuanya.”
Sebab pada akhirnya, malam paling buruk dalam hidupku tidak diselamatkan oleh keberanian besar atau keberuntungan.
Aku selamat karena satu kebiasaan sederhana yang dulu paling kubenci.
Mencatat setiap detail.
Dan terkadang, satu catatan kecil adalah satu-satunya jarak antara seseorang yang tidak bersalah dan kebohongan yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya.
