HR BARU MENUDUHKU MEMAINKAN BIAYA BUS KARYAWAN, LALU MENGAMBIL ALIH SEMUA ARMADA—MALAMNYA AKU MENEMUKAN SATU NAMA ANEH DI SURAT PENAWARANNYA.

Pesan dari nomor tak dikenal itu membuat rasa kantukku lenyap seketika.

Bu Naya, sembilan bus pesanan kantor Ibu sebenarnya baru dicari malam ini.

Aku menatap foto bus tua yang dikirim bersamanya. Cat putih di bodinya sudah kusam. Kaca depan retak di sudut kanan. Yang paling membuatku merinding adalah ban belakangnya. Alurnya hampir tidak terlihat.

Aku langsung menelepon nomor itu.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Aku mengetik cepat.

Anda siapa?

Tiga menit kemudian balasan masuk.

Saya sopir. Nama saya Arif. Tadi orang bernama Rizky datang ke pool kami di Sidoarjo. Katanya butuh bus apa saja untuk berangkat ke Batu besok pagi. Bayarnya tunai.

Aku berdiri dari tempat tidur.

Berapa bus yang sudah dia dapat?

Baru tiga dari sini. Katanya masih cari enam lagi.

Aku melihat jam.

22.26.

Kurang dari tujuh jam sebelum 420 karyawan berkumpul.

Aku langsung menelepon Pak Rendra.

Sekali.

Dua kali.

Baru pada panggilan ketiga ia menjawab.

“Naya, ada apa malam-malam?”

“Pak, bus Dimas bermasalah.”

Aku menceritakan semuanya.

Alih-alih panik, Pak Rendra justru terdengar lelah.

“Naya, kamu sedang kecewa karena vendor pilihanmu dibatalkan. Saya paham.”

Aku membeku.

“Bapak pikir saya melakukan ini karena sakit hati?”

“Dimas sudah memastikan armadanya siap.”

“Dengan siapa dia memastikan?”

Pak Rendra terdiam.

Aku melanjutkan.

“Pak, saya punya foto salah satu bus. Bannnya botak. Sembilan unit bahkan baru dicari malam ini.”

“Naya, cukup.”

Nada suaranya berubah tegas.

“Besok kita lihat langsung. Jangan memperkeruh keadaan.”

Telepon ditutup.

Untuk beberapa detik aku hanya berdiri memegang ponsel.

Tujuh tahun bekerja.

Puluhan perjalanan perusahaan.

Ribuan karyawan pernah kutangani tanpa satu kecelakaan pun.

Namun malam itu, reputasiku kalah oleh sebuah penawaran murah.

Aku hampir menyerah.

Hampir.

Lalu aku teringat sesuatu.

Empat ratus dua puluh orang.

Sebagian besar membawa tas, laptop, dan perlengkapan pelatihan. Beberapa adalah ibu yang punya anak kecil di rumah. Beberapa baru menikah. Beberapa mungkin sedang ditunggu orang tua mereka.

Kalau sesuatu terjadi besok, masalahnya bukan lagi soal harga bus.

Aku membuka kontak Ratih.

Pukul 22.41 aku meneleponnya.

“Mbak Ratih.”

“Iya, Bu Naya?”

“Armada tadi sudah dilepas semua?”

Ratih terdiam sebentar.

“Tujuh sudah diambil klien lain. Dua masih ada.”

“Bisa tahan dua itu sampai besok pagi?”

“Untuk kantor Ibu?”

“Bukan. Untuk cadangan darurat.”

Ratih terdengar bingung.

“Bukannya perusahaan sudah ganti vendor?”

“Iya.”

Aku menarik napas.

“Tolong tahan dua bus. Kalau perusahaan tidak mau membayar, saya tanggung depositnya.”

“Bu Naya…”

“Tolong.”

Ratih akhirnya mengiyakan.

Setelah itu aku menelepon Arif lagi.

Kali ini ia menjawab.

Suaranya pelan.

“Bu?”

“Kenapa Bapak menghubungi saya?”

Arif menghela napas panjang.

“Karena saya kenal bus itu.”

“Bus yang di foto?”

“Iya. Dua bulan lalu remnya blong waktu turun dari Trawas.”

Darahku terasa dingin.

“Kenapa masih dipakai?”

“Pemiliknya cuma ganti kampas. Saya bilang tromolnya juga bermasalah, tapi tidak didengar.”

“Besok Bapak yang bawa?”

“Tidak. Saya menolak.”

“Kenapa Rizky mencari bus dari pool seperti itu?”

Arif tertawa hambar.

“Karena perusahaan yang tertulis di surat itu sebenarnya tidak punya sembilan bus, Bu.”

Aku memejamkan mata.

Dugaanku benar.

“PT Lintas Jaya Wisata punya berapa?”

“Setahu saya cuma dua. Itu pun minibus.”

“Lalu sembilan bus ini?”

“Pinjam sana-sini.”

“Dengan harga Rp2,6 juta?”

Arif diam beberapa detik.

“Yang ditawarkan ke pool kami Rp1,7 juta.”

Aku langsung memahami permainan itu.

Rp1,7 juta ke pemilik bus.

Rp2,6 juta ditagihkan ke perusahaan.

Selisih Rp900 ribu per unit.

Tapi itu belum menjelaskan Dimas.

“Pak Arif, Anda kenal Rizky?”

“Kenal.”

“Kenal Dimas?”

Kali ini keheningan berlangsung lebih lama.

“Bu Naya…”

“Jawab saja.”

“Mereka sepupu.”

Aku terduduk.

Tiba-tiba semua kepingan menyatu.

Vendor baru.

Harga fantastis.

Dokumen tergesa-gesa.

Rizky sebagai kontak darurat.

Dimas yang begitu yakin mengambil alih seluruh armada.

Ini bukan efisiensi.

Ini skema.

Pukul 04.12 aku sudah berada di halaman kantor.

Udara Surabaya masih gelap ketika karyawan mulai berdatangan.

Dimas berdiri di dekat pos keamanan sambil memegang kopi.

Begitu melihatku, ia tersenyum tipis.

“Wah, datang juga.”

“Aku panitia.”

“Kupikir setelah kemarin tersinggung, kamu tidak mau ikut.”

Aku tidak menjawab.

Pukul 04.28, bus pertama masuk.

Jantungku tenggelam.

Bus itu bukan unit yang ada di foto penawaran.

Nomor lambungnya bahkan ditutup stiker putih.

Lima menit kemudian bus kedua datang.

Lalu ketiga.

Sampai pukul 04.50 hanya ada enam bus.

Karyawan mulai gelisah.

Pak Rendra tiba dan langsung menghampiri Dimas.

“Katanya sembilan?”

“Sebentar lagi.”

“Keberangkatan jam lima.”

“Macet, Pak.”

Aku berjalan ke bus pertama.

Seorang sopir sedang merokok di samping kendaraan.

“Pak, STNK dan surat KIR boleh saya lihat?”

Dimas langsung mendekat.

“Naya, kamu bukan auditor.”

“Aku cuma memastikan.”

“Semua sudah saya cek.”

“Kalau begitu tunjukkan.”

Wajahnya mengeras.

Aku menatap sopir.

“Pak?”

Sopir itu ragu-ragu lalu mengambil map dari dashboard.

Aku membuka surat KIR.

Masa berlakunya sudah habis sebelas hari.

Aku menunjukkan kepada Pak Rendra.

Wajahnya berubah.

Dimas merebut map itu.

“Ini cuma masalah administrasi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Empat ratus dua puluh nyawa bukan administrasi.”

Dimas meninggikan suara.

“Jangan dramatis!”

Karyawan yang tadinya mengobrol mulai diam.

Aku berjalan ke bus kedua.

Ban depan kiri retak halus di sisi luar.

Bus ketiga hanya memiliki satu sopir.

Bus keempat tidak bisa menunjukkan bukti asuransi tambahan.

Dan bus kelima mengeluarkan bunyi gesekan setiap kali pedal rem diinjak.

Pak Rendra semakin pucat.

“Dimas, ini yang kamu bilang spesifikasinya sama?”

“Vendor menjamin aman.”

“Vendornya mana?”

“Sedang perjalanan ke sini.”

Aku menatap jam.

05.07.

Tiga bus sisanya belum datang.

Lalu sebuah Toyota hitam berhenti di depan gedung.

Seorang pria turun.

Aku langsung mengenalinya.

Rizky.

Begitu melihatku, langkahnya terhenti.

Aku berjalan mendekat.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Wajah Rizky pucat.

Dimas cepat-cepat datang.

“Kamu kenal?”

Aku menoleh kepadanya.

“Bukannya kamu yang seharusnya lebih kenal?”

Dimas terdiam.

Pak Rendra ikut mendekat.

Aku mengangkat formulir vendor yang sudah kucetak.

“Kontak darurat PT Lintas Jaya Wisata adalah Rizky Aditama. Mantan staf gudang yang dipecat perusahaan kita enam bulan lalu karena memalsukan kuitansi.”

Suasana langsung berubah.

Rizky memandang Dimas.

Dimas berkata cepat.

“Ini kebetulan.”

“Kebetulan juga kalian sepupu?”

Wajah Dimas seketika kehilangan warna.

Pak Rendra menatapnya.

“Benar?”

Dimas tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Vendor ini menagih Rp2,6 juta per bus kepada perusahaan. Tapi pool tempat mereka mengambil bus dibayar Rp1,7 juta.”

Pak Rendra menoleh tajam kepada Rizky.

“Benar?”

Rizky mulai berkeringat.

Dimas tiba-tiba menunjukku.

“Dia memfitnah! Dia sengaja mencari-cari masalah karena vendornya kalah!”

Aku sudah menduga kalimat itu akan keluar.

Karena itu aku tidak datang hanya membawa dugaan.

Aku memutar rekaman percakapanku dengan Arif.

Suara sopir itu terdengar jelas.

Bus dicari mendadak.

Armada tidak dimiliki vendor.

Salah satu bus pernah mengalami masalah rem.

Dimas mematung.

Tapi kejutan sebenarnya datang dari Sari.

Ia berlari keluar gedung sambil membawa laptop.

“Mbak Naya!”

Napasnya terengah.

“Aku cek rekening vendor.”

Semua orang menoleh.

“Rekening PT Lintas Jaya Wisata baru dibuka dua minggu lalu.”

Aku mengernyit.

Sari melanjutkan.

“Dan orang yang mengajukan vendor ini di sistem bukan cuma Dimas.”

Pak Rendra bertanya, “Siapa lagi?”

Sari memandangnya ragu.

“Pak Hendra.”

Aku membeku.

Pak Hendra adalah manajer procurement.

Orang yang tiga tahun lalu ikut menyetujui vendor bus pilihanku.

Pak Rendra langsung meneleponnya.

Tidak aktif.

Kami kemudian mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar daripada sembilan bus.

Selama beberapa bulan terakhir, Dimas dan Pak Hendra ternyata sudah memasukkan empat vendor baru.

Katering.

Seragam.

Perlengkapan kantor.

Dan transportasi.

Semua menawarkan harga lebih murah di atas kertas.

Namun pekerjaan sebenarnya dilempar ke pihak ketiga dengan kualitas jauh di bawah spesifikasi.

Selisih uangnya mengalir melalui beberapa rekening.

PT Lintas Jaya Wisata hanya perusahaan perantara.

Dan Rizky dipakai untuk mencari kendaraan termurah yang tersedia.

Dimas bukan sedang menghemat uang perusahaan.

Dia sedang membangun jalur pengadaan yang bisa mereka kendalikan.

Ironisnya, untuk membuat skema itu terlihat masuk akal, mereka membutuhkan seseorang sebagai pembanding.

Seseorang yang bisa digambarkan boros.

Aku.

Vendor lamaku yang mahal adalah alasan sempurna.

Pukul 06.10, Pak Rendra mengambil keputusan.

Semua bus dari PT Lintas Jaya Wisata dilarang berangkat.

Karyawan diminta menunggu di auditorium.

Dimas dan Rizky dibawa ke ruang keamanan.

Aku segera menelepon Ratih.

“Dua bus masih ada?”

“Masih, Bu.”

“Bisa kirim sekarang?”

“Bisa.”

“Dan tolong bantu carikan tujuh unit lain yang sesuai standar. Berapa pun waktunya.”

Ratih diam sejenak.

Lalu berkata, “Kami coba.”

Ternyata hubungan baik selama tiga tahun tidak sia-sia.

Ratih menghubungi beberapa operator bus yang selama ini bekerja sama dengan perusahaannya.

Pukul 08.20, sembilan bus mulai berjejer di halaman kantor.

Tidak semuanya berasal dari vendor yang sama.

Namun seluruh dokumen diperiksa.

KIR aktif.

Ban layak.

Dua sopir.

GPS.

Asuransi.

Semuanya sesuai.

Perjalanan akhirnya dimulai hampir empat jam terlambat.

Sebelum aku naik, Pak Rendra memanggilku.

“Naya.”

Aku berhenti.

Ia berdiri beberapa langkah dariku dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dibanding kemarin.

“Saya minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Bukan karena Bapak memilih vendor lain,” kataku akhirnya.

Pak Rendra menunduk.

“Aku tahu.”

“Perusahaan berhak mencari harga lebih murah. Yang menyakitkan adalah tujuh tahun integritasku bisa runtuh hanya karena seseorang menunjukkan angka lebih kecil di Excel.”

Ia tidak membela diri.

Dan mungkin karena itulah amarahku sedikit mereda.

Dua minggu kemudian, audit internal selesai.

Pak Hendra mengundurkan diri sebelum proses pemeriksaan berakhir.

Dimas diberhentikan.

Kasus Rizky dan dokumen vendor palsu diteruskan ke bagian hukum.

Namun ada satu hal yang membuatku paling terkejut.

Audit terhadap vendor lamaku menemukan bahwa Rp4,8 juta yang selama ini kami bayar sebenarnya bukan harga termurah.

Ada operator lain yang bisa memberikan spesifikasi hampir sama dengan harga sekitar Rp4,3 juta.

Ketika Pak Rendra menunjukkan hasil itu kepadaku, aku tersenyum.

“Berarti selama ini aku juga belum cukup efisien.”

Ia terlihat bingung.

“Kamu tidak marah?”

“Kenapa harus marah?”

Aku menutup laporan.

“Kalau ada yang lebih murah dengan standar keselamatan yang sama, kita pindah.”

Pak Rendra menatapku beberapa detik.

Mungkin baru saat itu ia benar-benar memahami perbedaannya.

Mempertanyakan harga bukan masalah.

Mencari efisiensi juga bukan masalah.

Yang berbahaya adalah ketika harga murah digunakan untuk membungkam pertanyaan.

Tiga bulan kemudian aku dipindahkan ke tim procurement compliance.

Tugas pertamaku adalah membuat standar baru untuk semua vendor transportasi.

Setiap penawaran harus mencantumkan nomor kendaraan.

Riwayat KIR.

Bukti kepemilikan atau kontrak armada.

Asuransi.

Nama pengemudi.

Riwayat perawatan.

Dan verifikasi lapangan secara acak.

Di halaman pertama prosedur baru itu, aku menambahkan satu kalimat sederhana.

Harga terendah tidak selalu berarti biaya terendah.

Setahun setelah kejadian itu, aku kembali bertemu Arif.

Ia ternyata sudah bekerja sebagai pengemudi tetap di salah satu operator rekanan baru kami.

Sebelum keberangkatan, aku menghampirinya.

“Pak Arif.”

Ia tersenyum lebar.

“Bu Naya.”

“Ada satu hal yang belum pernah saya tanyakan.”

“Apa?”

“Waktu itu Bapak dapat nomor saya dari mana?”

Senyumnya perlahan hilang.

Ia menatap ke arah bus, lalu kembali menatapku.

“Dari Rizky.”

Aku tertegun.

“Rizky?”

Arif mengangguk.

“Malam itu dia yang memberikan nomor Ibu.”

Aku tidak mengerti.

“Kenapa?”

Arif menarik napas.

“Karena sebenarnya dia takut.”

Menurut Arif, ketika Rizky melihat kondisi bus yang berhasil dikumpulkan malam itu, ia mulai panik. Ia tahu Dimas dan Pak Hendra sudah terlalu jauh. Tetapi kalau ia membatalkan semuanya, ia sendiri akan ikut terseret.

Jadi Rizky memilih cara pengecut untuk memperingatkanku.

Ia memberikan nomorku kepada Arif dan berkata satu kalimat.

Kalau bus ini benar-benar berangkat besok, cari perempuan bernama Naya.

Aku berdiri diam cukup lama.

Selama ini aku mengira cerita itu sederhana.

Ada orang jahat.

Ada orang baik.

Ada pelaku.

Ada penyelamat.

Ternyata kenyataan tidak pernah sesederhana itu.

Rizky tetap bersalah karena ikut memalsukan dokumen dan terlibat dalam skema mereka.

Dimas tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Pak Rendra tetap pernah meragukanku.

Dan aku sendiri tetap pernah memilih vendor yang ternyata belum paling efisien.

Tetapi satu keputusan kecil dari seseorang yang sudah terlanjur melakukan banyak kesalahan mungkin telah mencegah 420 orang menaiki kendaraan yang tidak layak.

Aku menatap sembilan bus yang pagi itu berjajar rapi.

Mesinnya menyala satu per satu.

Di dalamnya, para karyawan tertawa sambil mencari tempat duduk.

Aku baru memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertulis dalam laporan pengadaan mana pun.

Integritas bukan berarti tidak pernah salah.

Integritas adalah keberanian untuk memeriksa ketika semua orang ingin cepat percaya, mengakui ketika ternyata kita sendiri bisa lebih baik, dan menghentikan sesuatu yang salah bahkan ketika kitalah orang yang ikut memulainya.

Sebelum naik ke bus, Arif menutup pintu bagasi dan berkata kepadaku sambil tersenyum kecil.

“Bu, rem sudah saya cek dua kali.”

Aku tertawa.

“Kenapa dua kali?”

Ia menatapku seolah jawabannya sangat sederhana.

“Karena yang kita bawa bukan sembilan bus, Bu.”

Aku mengernyit.

Arif menunjuk ke arah ratusan karyawan di balik kaca.

“Kita bawa orang-orang yang ditunggu pulang.”

Untuk pertama kalinya sejak kejadian setahun lalu, aku tidak memeriksa dokumen di tanganku lagi.

Aku hanya mengangguk.

Karena akhirnya aku tahu, itulah satu-satunya perhitungan yang tidak boleh pernah dikalahkan oleh harga murah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang