Saat Kunjungan Murid, Nadira Memergoki Suaminya yang “Dinas Luar Kota” Hidup Bahagia sebagai Ayah di Rumah Wanita Lain

Aku tidak ingat bagaimana caranya aku menyelesaikan kunjungan murid hari itu.

Yang kuingat hanya suara ibu mertuaku dari pengeras suara ponsel Raka.

Raka, nanti kalian bertiga jangan pulang terlalu malam. Ibu sudah masak ayam untuk ulang tahun Luki.

Kalian bertiga.

Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan perselingkuhan mana pun.

Maya menatap Raka sambil tersenyum.

“Ibu sudah menunggu kita?”

Raka buru-buru mematikan sambungan telepon.

“Iya. Nanti kita bahas.”

Lalu dia menatapku.

Tatapan itu bukan tatapan seorang suami yang baru ketahuan berselingkuh.

Itu tatapan seseorang yang takut rahasianya terbongkar.

Aku menutup buku catatan.

“Luki berkembang dengan baik. Kemampuan bahasanya bagus, interaksi sosialnya juga sesuai usia. Saya rasa kunjungannya cukup.”

“Bu Nadira mau makan dulu?” tanya Maya.

“Tidak. Saya ada urusan.”

Aku berdiri.

Luki berlari mengambil sebuah kotak kecil dari meja.

“Bu Guru, tunggu!”

Dia memberiku sepotong kue ulang tahun yang dibungkus plastik.

“Ini buat Bu Guru. Papa yang bikin!”

Aku menatap anak itu.

Matanya jernih.

Dia tidak tahu apa-apa.

Dia tidak pernah meminta dilahirkan dalam kebohongan orang dewasa.

Aku menerima kue itu.

“Terima kasih, Luki.”

Saat hendak keluar, Raka mengejarku.

“Nadira.”

Aku terus berjalan.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku.

“Kita harus bicara.”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya sendiri.

“Bicara tentang apa?”

“Nanti aku jelaskan semuanya.”

Aku tertawa kecil.

“Semuanya?”

Raka terdiam.

“Apakah termasuk alasan kenapa anak itu lahir tepat pada hari putri kita meninggal?”

Wajahnya memucat.

“Nadira, bukan di sini.”

“Bagus. Berarti memang ada yang harus dijelaskan.”

Aku masuk ke mobil dan mengunci pintu.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Lima tahun lalu, ketika Aluna meninggal, aku menangis sampai suaraku hilang.

Ketika dokter mengatakan jantung bayi kami berhenti, aku memeluk selimut kecil berwarna putih sambil memanggil nama Raka berkali-kali.

Saat itu Raka baru tiba hampir enam jam kemudian.

Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan.

Dia mengatakan ada masalah besar di kantor.

Aku mempercayainya.

Bahkan aku meminta maaf karena membuatnya meninggalkan pekerjaan.

Betapa bodohnya aku.

Sesampainya di rumah, aku membuka lemari kerja Raka.

Selama tiga tahun terakhir dia hanya pulang beberapa hari setiap bulan. Katanya proyek Surabaya membutuhkan pengawasan langsung.

Aku mulai mencari.

Dokumen.

Kuitansi.

Buku tabungan.

Semuanya tampak normal sampai aku menemukan sebuah amplop cokelat terselip di belakang laci.

Di dalamnya ada fotokopi akta kelahiran.

Nama anak: Lukman Aditya.

Nama ibu: Maya Kusuma.

Nama ayah tidak tercantum.

Tanganku gemetar.

Tanggal lahirnya sama dengan tanggal kematian Aluna.

Di bawah dokumen itu ada bukti transfer rutin dari rekening pribadi Raka kepada Maya sejak hampir enam tahun lalu.

Artinya hubungan mereka dimulai sebelum aku kehilangan Aluna.

Pintu rumah terbuka pukul sembilan malam.

Raka masuk sendirian.

Aku duduk di meja makan dengan dokumen-dokumen itu berjajar di depanku.

Dia berhenti.

“Nadira.”

“Duduk.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Duduk.”

Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun pernikahan kami, Raka menurut tanpa membantah.

Aku mendorong akta kelahiran itu ke arahnya.

“Luki anakmu?”

Dia menutup mata.

“Iya.”

Satu kata.

Cukup untuk menghancurkan sembilan tahun.

“Sejak kapan?”

“Aku kenal Maya enam tahun lalu.”

“Ketika aku hamil Aluna?”

Dia mengangguk.

Aku menggigit bibir sampai terasa asin.

“Pada hari Aluna meninggal, kamu di mana?”

“Nadira.”

“Jawab.”

“Maya juga melahirkan hari itu.”

Dadaku seperti dihantam benda berat.

“Jadi ketika aku sendirian di rumah sakit kehilangan anak kita, kamu menemani perempuan lain melahirkan anakmu?”

“Keadaan Maya waktu itu juga gawat.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Dia buru-buru melanjutkan.

“Aku berniat datang kepadamu. Tapi Maya mengalami pendarahan. Dokter bilang kondisinya berbahaya.”

“Dan Aluna?”

Raka menunduk.

“Aku tahu dokter dan ibumu ada bersamamu.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursi jatuh.

“Aluna anakmu!”

“Aku tahu!”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Suaraku pecah untuk pertama kalinya.

“Kamu tahu apa yang kulakukan malam itu? Aku memeluk tubuh anak kita sendirian. Aku terus bilang kepada perawat jangan membawanya pergi karena papanya belum melihat wajahnya.”

Raka menangis.

Namun anehnya, melihat air matanya tidak membuatku iba.

“Aku salah.”

“Bukan salah. Salah itu lupa hari ulang tahun. Salah itu terlambat pulang. Kamu membangun keluarga lain selama enam tahun sambil membiarkanku berkabung sendirian.”

Aku mengeluarkan koper kecil dari kamar.

Raka mengikutiku.

“Kamu mau ke mana?”

“Bukan aku.”

Aku melempar koper itu ke kakinya.

“Kamu yang pergi.”

Dia memandangku lama.

“Nadira, tolong. Kita bisa memperbaiki ini.”

Aku hampir tertawa.

“Besok aku ke pengacara.”

“Nadira.”

“Keluar.”

Pagi berikutnya, ibu mertuaku datang.

Kupikir dia akan meminta maaf.

Ternyata aku masih terlalu naif.

Begitu masuk, dia langsung berkata, “Ibu tahu kamu marah, tapi jangan menghancurkan keluarga hanya karena emosi.”

Aku menatapnya.

“Keluarga yang mana, Bu?”

Dia terdiam.

“Keluarga saya atau keluarga Maya?”

“Nadira, Luki tidak bersalah.”

“Saya tidak pernah menyalahkan Luki.”

“Kalau begitu mengertilah. Anak itu membutuhkan ayah.”

Aku tersenyum pahit.

“Aluna juga membutuhkan ayah.”

Wajah ibu mertuaku berubah.

“Itu berbeda.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku mati.

“Apa yang berbeda?”

“Aluna sudah tidak ada.”

Aku menatap perempuan yang selama sembilan tahun kupanggil Ibu.

Dia baru sadar apa yang diucapkannya.

“Nadira, maksud Ibu bukan begitu.”

“Keluar.”

“Ibu cuma ingin kalian mencari jalan tengah.”

“Keluar dari rumah saya.”

“Nadira.”

“Rumah ini dibeli ayah saya sebelum saya menikah dengan Raka. Jadi silakan keluar sebelum saya panggil keamanan.”

Dia pergi sambil menangis.

Sore harinya Maya meneleponku.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

“Bu Nadira?”

Suaranya gemetar.

“Saya baru tahu.”

Aku diam.

“Saya benar-benar tidak tahu Mas Raka masih menikah.”

Aku tertawa kecil.

“Enam tahun dan kamu tidak pernah tahu?”

“Dia bilang istrinya meninggal.”

Aku membeku.

“Apa?”

Maya menangis.

“Mas Raka bilang istrinya meninggal saat melahirkan lima tahun lalu.”

Dunia seakan berhenti.

“Namanya siapa?”

“Nadira.”

Aku menutup mulut.

Maya melanjutkan dengan suara terisak.

“Dia pernah menunjukkan foto Ibu. Katanya itu istrinya yang sudah meninggal.”

Aku merasa mual.

Ternyata Raka tidak hanya menghapus pernikahan kami.

Dia menguburku hidup-hidup dalam cerita yang dibuatnya sendiri.

Dua hari kemudian aku bertemu Maya di sebuah kafe.

Dia membawa sekotak dokumen dan ponsel lama.

“Ada sesuatu yang harus Mbak lihat.”

Dia menunjukkan percakapannya dengan Raka bertahun-tahun lalu.

Tanggalnya membuat darahku dingin.

Tiga hari sebelum Aluna meninggal.

Maya menulis bahwa dia takut Raka akan kembali kepadaku setelah anak kami lahir.

Raka membalas.

Aku sudah mengurus semuanya. Setelah bayi Nadira lahir, aku akan mengajukan cerai perlahan. Kamu dan anak kita tetap prioritasku.

Aku menggulir layar.

Kemudian menemukan pesan lain.

Tanggal kematian Aluna.

Maya bertanya, bagaimana istrimu?

Raka menjawab, bayinya tidak selamat.

Maya bertanya lagi, kamu mau ke sana?

Jawaban Raka hanya satu kalimat.

Tidak perlu. Ibunya ada di sana.

Tanganku bergetar hebat.

Maya menangis di depanku.

“Saya minta maaf.”

Aku mengembalikan ponselnya.

“Kamu juga dibohongi.”

“Tapi saya tetap bagian dari semua ini.”

Aku menatap perempuan itu.

Selama beberapa hari aku membayangkan Maya sebagai monster.

Ternyata monster sebenarnya tidur di sampingku selama bertahun-tahun.

Proses perceraian dimulai.

Raka berubah panik ketika tahu Maya juga meninggalkannya.

Dia datang ke sekolahku.

Mengirim bunga.

Menunggu di depan rumah.

Bahkan menghubungi teman-temanku.

Suatu malam dia berdiri di depan pagar dalam hujan.

“Nadira, aku kehilangan semuanya.”

Aku berdiri di balik pagar.

“Kamu tidak kehilangan semuanya.”

“Aku kehilangan kamu. Maya membawa Luki pergi. Ibu juga marah kepadaku.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Tidak. Kamu hanya kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kebohonganmu.”

Dia berlutut.

“Aku mencintaimu.”

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar menjijikkan.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa melakukan semua ini?”

Raka menangis.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut menjadi ayah.”

Aku mengernyit.

Dia menatap tanah.

“Ketika kamu hamil Aluna, aku merasa hidupku berubah terlalu cepat. Kamu bicara tentang kamar bayi, tabungan pendidikan, masa depan. Aku panik.”

“Lalu Maya?”

“Dengan Maya semuanya terasa ringan. Dia tidak menuntut apa pun.”

Aku tersenyum pahit.

“Sampai dia hamil.”

Raka mengangguk.

“Ketika Luki lahir dan Aluna meninggal pada hari yang sama, aku merasa itu seperti hukuman.”

“Jangan bawa Tuhan untuk membenarkan pilihanmu.”

Dia terdiam.

Aku membuka pagar sedikit.

Bukan untuk mempersilahkannya masuk.

Aku meletakkan sebuah kotak di tanah.

“Ini barang-barangmu yang tersisa.”

“Nadira.”

“Besok jangan datang lagi.”

Aku menutup pagar.

Enam bulan kemudian perceraian kami resmi.

Aku tidak meminta apa pun selain apa yang memang menjadi hakku.

Rumah tetap milikku.

Tabunganku tetap milikku.

Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, hidupku juga kembali menjadi milikku.

Maya pindah ke Bogor bersama Luki.

Kami tidak menjadi sahabat.

Tidak perlu.

Namun sesekali dia mengirim kabar tentang Luki karena anak itu pernah menjadi muridku.

Suatu sore, hampir setahun setelah semuanya terbongkar, sebuah amplop tiba di sekolah.

Pengirimnya Luki.

Di dalamnya ada gambar dengan krayon.

Seorang perempuan berdiri di depan kelas.

Di sebelahnya ada seorang anak kecil.

Di bagian atas tertulis dengan huruf besar yang tidak rata.

BU NADIRA GURU PALING HEBAT.

Aku tersenyum.

Lalu mataku jatuh pada tanggal di sudut kertas.

Tanggal ulang tahun Luki.

Tanggal kematian Aluna.

Selama bertahun-tahun aku membenci tanggal itu.

Namun hari itu aku memutuskan pergi ke makam Aluna tanpa menangis.

Aku membawa bunga putih.

“Maaf Mama terlalu lama merasa hari ini adalah hari ketika Mama kehilangan segalanya.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku menyentuh batu nisan kecil itu.

“Ternyata bukan begitu.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Hari itu Mama kehilangan kamu. Dan itu akan selalu menjadi luka terbesar Mama.”

Aku berhenti sejenak.

“Tapi bertahun-tahun kemudian, pada tanggal yang sama, Mama menemukan kebenaran.”

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Aku membukanya.

Itu dari Raka.

Nadira, hari ini aku ke makam Aluna. Aku ingin minta maaf kepadanya.

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian muncul pesan kedua.

Aku baru tahu sesuatu dari Ibu. Ada rahasia tentang hari Aluna lahir yang selama ini bahkan aku tidak tahu.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Belum sempat aku membalas, sebuah mobil berhenti di depan area pemakaman.

Ibu mertuaku turun.

Wajahnya jauh lebih tua dibanding setahun lalu.

Di tangannya ada sebuah amplop rumah sakit.

Dia berjalan mendekat dengan langkah gemetar.

“Nadira.”

Aku berdiri.

“Ada apa?”

Dia menyerahkan amplop itu.

Tangannya dingin.

“Ibu seharusnya memberikan ini lima tahun lalu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat surat dari rumah sakit dan sebuah formulir persetujuan.

Mataku langsung tertuju pada satu nama.

Raka Pratama.

Tanda tangan di bawahnya bukan tanda tangan Raka.

Aku mengenalnya.

Itu tanda tangan ibu mertuaku.

“Apa ini?”

Dia mulai menangis.

“Ketika kondisimu memburuk, rumah sakit berkali-kali menghubungi Raka. Dia tidak datang. Dokter membutuhkan keputusan keluarga untuk tindakan darurat.”

Aku membaca dokumen itu lagi.

“Tapi kenapa nama Raka?”

“Ibu menandatangani atas namanya.”

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa?”

“Karena Ibu takut kamu tahu dia tidak ada.”

Dadaku sesak.

Dia menutup wajah.

“Ibu sudah tahu tentang Maya sejak sebelum Luki lahir.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu yang meminta Raka merahasiakannya darimu karena kamu sedang hamil. Setelah Aluna meninggal, Ibu pikir semuanya sudah terlalu terlambat untuk dibongkar.”

Aku menggenggam surat itu.

“Jadi selama lima tahun, Ibu membiarkan saya menyalahkan diri sendiri?”

Dia menangis semakin keras.

Aku teringat semua malam ketika aku bertanya apakah stresku menyebabkan Aluna pergi.

Semua terapi.

Semua rasa bersalah.

Semua kali ibu mertuaku memelukku dan berkata aku harus ikhlas.

Ternyata perempuan itu memelukku sambil menyimpan kebenaran.

Aku mengembalikan amplop itu.

“Simpan.”

“Nadira.”

“Saya tidak membutuhkannya lagi.”

“Tapi kamu berhak tahu.”

“Saya memang berhak tahu lima tahun lalu.”

Dia terdiam.

Aku mengambil bunga yang tersisa dan meletakkannya di makam Aluna.

Kemudian aku berjalan pergi.

“Nadira, kamu tidak mau memaafkan Ibu?”

Aku berhenti.

Dulu mungkin aku akan mengatakan tidak.

Namun sekarang aku memahami sesuatu.

Memaafkan bukan berarti membuka pintu agar orang yang sama bisa kembali menyakiti kita.

Aku menoleh.

“Saya memaafkan Ibu.”

Wajahnya sedikit cerah.

“Tapi saya tidak ingin Ibu kembali menjadi bagian dari hidup saya.”

Senyumnya menghilang.

Aku melanjutkan langkah.

Hari itu aku akhirnya memahami mengapa kebenaran terasa begitu menyakitkan.

Bukan karena kebenaran menghancurkan hidup kita.

Kebenaran hanya menghancurkan kebohongan yang selama ini kita kira sebagai kehidupan.

Di depan pemakaman, matahari sore menyinari jalan.

Aku berjalan sendirian menuju mobil.

Namun untuk pertama kalinya, kesendirian tidak terasa seperti ditinggalkan.

Kesendirian terasa seperti kebebasan.

Dan mungkin, pikirku sambil tersenyum, itulah hadiah terakhir Aluna untuk ibunya.

Keberanian untuk berhenti mempertahankan orang-orang yang telah lama memilih meninggalkanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang