Setiap Minggu Adik Iparku Pulang Membawa Beras, Minyak, dan Daging dari Dapur Kami—Empat Bulan Setelah Aku Pindah, Suamiku Menelepon Sambil Menangis: “Dapur Ibu Kosong!” dan Semua Orang Saling Menuding

Empat bulan setelah aku meninggalkan rumah Ibu Sulastri, suara tangis Budi menjadi hal terakhir yang ingin kudengar di tengah malam.

“Nabila… tolong kami. Dapur Ibu benar-benar kosong. Kami tidak punya makanan lagi, dan Ibu sama Rani sekarang saling mencakar di depan polisi.”

Aku menatap jam di meja samping tempat tidur.

Pukul 00.47.

Di sebelahku, Rizky tertidur pulas sambil memeluk boneka dinosaurusnya. Tubuhnya sudah jauh lebih berisi dibanding empat bulan lalu. Pipinya mulai bulat, wajahnya tidak lagi pucat, dan dokter mengatakan berat badannya naik hampir empat kilogram.

Aku menarik selimut menutupi bahunya sebelum menjawab pelan.

“Kenapa ada polisi?”

Budi terdiam.

Dari seberang telepon terdengar suara perempuan berteriak. Aku mengenali suara Ibu Sulastri.

“Kamu yang habiskan semuanya, Rani! Kamu maling!”

Lalu terdengar suara Rani membalas lebih keras.

“Jangan tuduh aku! Mas Budi juga makan di sini setiap hari!”

Suara benda pecah menyusul.

Aku memejamkan mata.

Empat bulan lalu, dapur itu selalu penuh.

Bukan karena keajaiban.

Bukan pula karena Ibu Sulastri pandai mengatur uang.

Dapur itu penuh karena aku yang mengisinya.

Setiap tanggal satu, aku membeli beras, minyak, telur, susu, ayam, ikan, daging, sayuran, buah, bumbu dapur, sabun, hingga tisu. Rata-rata pengeluaranku untuk kebutuhan rumah mencapai enam sampai tujuh juta rupiah sebulan.

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menghitungnya.

Aku menganggap semuanya sebagai kewajibanku sebagai istri.

Sampai suatu hari anakku sendiri takut meminta susu karena neneknya melarang.

Tiga hari setelah pertengkaran terakhir itu, aku benar-benar pergi.

Budi mengira aku hanya menggertak.

Pagi ketika truk pindahan datang, dia masih duduk santai di teras.

“Kamu paling bertahan seminggu,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Aku memasukkan pakaian Rizky, dokumen, komputer kerja, buku, beberapa peralatan pribadi, lalu pergi.

Aku bahkan meninggalkan kulkas, mesin cuci, televisi, dan sebagian besar perabot yang kubeli dengan uangku sendiri.

Ibu Sulastri berdiri di pintu sambil mencibir.

“Nanti kalau uangmu habis, jangan pulang sambil menangis.”

Aku hanya menggenggam tangan Rizky.

Anakku menoleh sekali ke belakang.

Bukan kepada ayahnya.

Melainkan kepada dapur.

“Mama, di rumah baru nanti susuku boleh aku minum setiap hari?”

Pertanyaan itu menghancurkan hatiku.

Aku berjongkok dan memeluknya.

“Boleh. Itu rumah kita. Tidak ada yang akan mengambil makanan Rizky lagi.”

Sejak hari itu, kehidupan kami berubah.

Rumah baruku memang tidak besar. Hanya dua kamar tidur di sebuah perumahan sederhana di Jakarta Timur. Tetapi rumah itu terasa jauh lebih luas daripada rumah tiga lantai milik Ibu Sulastri.

Karena di sana aku bisa bernapas.

Aku memasak apa pun yang disukai Rizky.

Aku membawanya ke dokter gizi.

Aku mengatur jam makannya.

Setiap pagi ia minum susu tanpa takut seseorang akan memarahinya.

Anehnya, pengeluaranku justru turun drastis.

Dulu gajiku selalu habis sebelum tanggal dua puluh.

Sekarang aku bahkan bisa menabung.

Barulah aku menyadari betapa banyak uang yang selama ini mengalir untuk membiayai orang-orang yang menganggap penghasilanku milik bersama.

Budi beberapa kali datang.

Awalnya dia marah.

“Kamu istri. Seharusnya tinggal sama suami.”

Aku menjawab, “Suami juga seharusnya melindungi istri dan anaknya.”

Minggu berikutnya dia datang membawa bunga.

Aku tidak membukakan pintu.

Bulan berikutnya dia mulai mengirim pesan tentang tagihan listrik rumah ibunya.

Tidak kubalas.

Sampai akhirnya malam itu dia menelepon sambil menangis.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

Budi mengembuskan napas panjang.

“Tiga hari lalu Ibu kehilangan uang dua belas juta.”

Aku mengernyit.

“Terus?”

“Ibu menuduh Rani mengambilnya.”

“Kenapa?”

“Karena Rani masih sering datang mengambil makanan.”

Aku hampir tertawa.

Ternyata kebiasaan itu tidak berhenti setelah aku pergi.

Bedanya, sekarang tidak ada lagi Nabila yang mengisi kembali dapur.

Pada bulan pertama, stok makanan peninggalanku masih banyak.

Pada bulan kedua, Budi mulai membeli beras dan telur menggunakan gajinya.

Masalahnya, penghasilan Budi tidak pernah cukup untuk gaya hidup rumah itu.

Ia mendapat sekitar lima juta rupiah sebulan. Sebelumnya sebagian besar uang itu digunakan untuk kebutuhan pribadinya karena aku menanggung rumah tangga.

Sekarang ia harus membayar listrik, air, gas, kebutuhan dapur, BPJS orang tuanya, serta berbagai cicilan.

Belum dua minggu gajinya sudah habis.

Sementara Rani tetap datang setiap akhir pekan.

Beras dibawa.

Minyak dibawa.

Telur dibawa.

Susu dibawa.

Bahkan kopi dan gula ikut masuk ke bagasi motornya.

Awalnya Ibu Sulastri masih membelanya.

“Kasihan Rani. Suaminya sedang susah.”

Tetapi ketika dapur mulai kosong, rasa kasihan berubah menjadi kemarahan.

Puncaknya terjadi sore itu.

Ibu Sulastri baru menerima uang dua belas juta dari hasil mencairkan arisan. Uang itu disimpan di lemari kamar karena hendak digunakan memperbaiki atap.

Malamnya uang tersebut hilang.

Karena Rani berada di rumah sepanjang sore, Ibu langsung menuduhnya.

Rani mengamuk.

Mereka saling menarik kerudung, mencakar, hingga tetangga berdatangan.

Salah satu tetangga akhirnya memanggil polisi karena mengira terjadi perampokan.

“Nab,” suara Budi melemah. “Kamu bisa datang?”

“Untuk apa?”

“Ibu belum makan sejak siang.”

Aku menatap wajah Rizky.

Empat bulan lalu, anakku pernah tidur dengan perut kosong karena daging makan malamnya dibawa Rani.

Tak seorang pun menelepon siapa pun untuk menolongnya.

“Pesan makanan,” jawabku.

“Aku nggak punya uang.”

“Pinjam Rani.”

“Dia juga bilang nggak punya.”

“Kalau begitu besok pagi beli beras.”

Budi mendadak meninggikan suara.

“Pakai uang apa?”

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu aku bertanya, “Selama enam tahun, menurutmu aku beli beras pakai apa?”

Telepon sunyi.

Aku bisa mendengar napas Budi.

“Nabila…”

“Aku tidur dulu.”

“Tunggu!”

Nada suaranya berubah panik.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aku berhenti.

“Polisi menemukan uang Ibu.”

“Di mana?”

Budi tidak langsung menjawab.

“Di kamarku.”

Aku duduk tegak.

“Apa?”

“Di dalam tas kerja.”

Aku benar-benar tidak memahami situasinya.

“Kamu mengambilnya?”

“Tidak!”

Budi terdengar putus asa.

“Aku bersumpah.”

Lalu dari belakang terdengar Rani berteriak.

“Bilang ke istrimu! Bilang semuanya!”

Beberapa detik kemudian telepon berpindah tangan.

Suara Rani muncul.

“Mbak Nabila, selama ini Mas Budi bohong sama kita semua.”

“Apa maksudmu?”

“Dia punya utang.”

Aku membeku.

“Utang apa?”

Rani tertawa pahit.

“Pinjaman online.”

Dadaku terasa dingin.

Ternyata setelah aku pergi, Budi tidak hanya kesulitan membiayai rumah.

Dia mulai meminjam uang.

Awalnya dua juta.

Lalu lima juta.

Kemudian sepuluh juta.

Untuk menutup pinjaman pertama, dia mengambil pinjaman kedua.

Ketika jatuh tempo, ia meminjam lagi.

Dalam empat bulan, total utangnya mencapai hampir empat puluh juta rupiah.

Dan uang dua belas juta milik ibunya ditemukan di tas kerja Budi karena sore tadi ia berniat menggunakannya membayar sebagian utang sebelum ketahuan.

“Itu fitnah!” Budi berteriak dari belakang.

Rani membalas, “Polisi sudah lihat pesan penagih di ponselmu!”

Aku menutup mata.

Tiba-tiba semuanya menjadi masuk akal.

Selama enam tahun, Budi tidak pernah benar-benar memahami biaya hidup.

Dia mengira makanan muncul begitu saja di meja.

Dia mengira listrik selalu menyala tanpa seseorang membayarnya.

Dia mengira gas, beras, sabun, susu, dan kebutuhan rumah adalah hal kecil.

Karena setiap kali habis, aku membeli lagi.

Tanpa sadar, aku telah membuat seorang lelaki dewasa hidup tanpa memahami tanggung jawabnya sendiri.

“Nabila.”

Suara Budi kembali terdengar.

Kali ini sangat pelan.

“Aku salah.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir kamu terlalu perhitungan. Aku pikir uang belanja memang nggak sebesar itu.”

Dia terisak.

“Sekarang aku baru tahu.”

Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin menangis.

Bagaimanapun, lelaki itu pernah menjadi orang yang kucintai.

Tetapi aku juga teringat bagaimana ia memegang bahuku ketika Rani membawa makanan anak kami.

Aku teringat Rizky yang ketakutan meminta susu.

“Nab, pulanglah,” bisiknya. “Kita mulai lagi.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku tidak akan pulang.”

Tangisnya berhenti.

“Tapi aku masih suamimu.”

“Dan Rizky masih anakmu.”

Aku berbicara pelan agar tidak membangunkan Rizky.

“Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya, mulai dari menjadi ayah. Bukan meminta aku kembali menjadi dompet keluarga.”

Budi tidak mampu menjawab.

Aku menutup telepon.

Kupikir masalah selesai malam itu.

Ternyata belum.

Dua hari kemudian Rani datang ke rumahku.

Wajahnya kusut. Tidak ada lagi kesombongan perempuan yang dulu membawa tiga karung beras dari dapurku.

Dia meletakkan sebuah amplop di meja.

“Apa ini?”

“Uang.”

Aku membuka amplop itu.

Dua juta rupiah.

“Aku jual gelang.”

Aku menatapnya.

Rani menunduk.

“Buat ganti sebagian makanan yang selama ini aku ambil.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kamu nggak perlu melakukan ini.”

“Perlu.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku baru sadar setelah Mbak pergi. Selama ini aku datang ke rumah Ibu seperti datang ke gudang gratis.”

Dia tersenyum getir.

“Aku selalu bilang suamiku sedang susah. Padahal aku juga malas mengatur uang. Kalau habis, tinggal datang ke rumah Ibu. Dan karena Mbak selalu mengisi dapur, aku nggak pernah merasa sedang mengambil milik orang.”

Aku mendorong amplop itu kembali.

“Simpan untuk anak-anakmu.”

Rani menggeleng.

“Kalau Mbak nggak mau ambil, tabungkan buat Rizky.”

Aku akhirnya menerima.

Bukan karena membutuhkan uangnya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, Rani mengakui bahwa yang dia lakukan salah.

Sebelum pulang, dia berdiri lama di depan pintu.

“Mbak… soal daging Rizky waktu itu, aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Jangan minta maaf kepadaku.”

Rani memahami maksudku.

Dia menghampiri Rizky yang sedang menggambar di ruang keluarga.

“Tante pernah ambil makanan Rizky.”

Rizky mengangkat wajah.

“Kenapa?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Rani menangis.

“Tante egois.”

Rizky berpikir sebentar, kemudian mengambil satu bungkus biskuit dari meja dan memberikannya kepada Rani.

“Kalau Tante lapar, bilang saja. Jangan ambil diam-diam.”

Rani langsung memeluknya sambil terisak.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka dengan dada sesak.

Kadang anak kecil memahami batas antara berbagi dan merampas jauh lebih baik daripada orang dewasa.

Tiga bulan kemudian, aku resmi mengajukan gugatan cerai.

Budi tidak menolak.

Ia menjual motornya untuk membayar sebagian utang dan mulai mengambil pekerjaan tambahan sebagai pengemudi pada malam hari. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, ia mengirim uang kebutuhan Rizky secara rutin tanpa kuminta.

Ibu Sulastri berubah paling lambat.

Hampir dua bulan dia tidak menghubungiku.

Sampai suatu sore dia datang membawa satu kantong kecil.

Isinya bukan uang.

Bukan hadiah mahal.

Hanya mangga dari pohon belakang rumah.

Dia berdiri di terasku dengan wajah jauh lebih tua daripada yang kuingat.

“Ibu boleh ketemu Rizky?”

Aku mempersilahkannya masuk.

Saat melihat cucunya sedang minum susu, matanya langsung berkaca-kaca.

Dia duduk di samping Rizky.

“Sekarang masih takut minum susu?”

Rizky menggeleng.

“Di sini nggak ada yang marah.”

Wajah Ibu Sulastri berubah.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kemarahanku dulu.

Dia menatapku.

“Nabila… Ibu salah.”

Tidak ada alasan.

Tidak ada pembelaan.

Hanya tiga kata.

Anehnya, itu cukup.

Bukan untuk menghapus semuanya.

Tetapi cukup untuk menghentikan kebencian tumbuh lebih besar.

Setahun setelah aku pindah, hidup kami semua berubah.

Rani membuka usaha katering kecil bersama suaminya. Lucunya, perempuan yang dulu paling gampang mengambil bahan makanan kini menjadi orang paling teliti menghitung harga beras, minyak, gas, dan daging.

Budi masih tinggal bersama ibunya. Utangnya hampir lunas. Hubungan kami tidak kembali seperti dahulu, tetapi ia mulai menjadi ayah yang lebih baik untuk Rizky.

Sedangkan aku akhirnya mengerti sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.

Keluarga bukan tempat seseorang bebas mengambil karena merasa berhak.

Kasih sayang bukan alasan untuk membiarkan batas dilanggar.

Dan membantu orang bukan berarti harus menghancurkan diri sendiri.

Suatu Sabtu pagi, aku sedang memasak semur ketika bel rumah berbunyi.

Rani berdiri di depan pintu bersama kedua anaknya.

Di tangannya ada satu kantong besar.

Aku spontan menatapnya curiga.

Rani tertawa.

“Tenang, Mbak. Sekarang bukan mau ambil.”

Dia membuka kantong itu.

Beras lima kilogram, minyak dua liter, telur, susu, dan sekilo daging sapi.

Aku terdiam.

“Buat apa ini?”

Rani tersenyum.

“Dulu setiap minggu aku pulang dari rumah Mbak membawa makanan.”

Dia menyerahkan kantong itu kepadaku.

“Sekarang sekali-sekali biar aku datang membawa makanan.”

Rizky berlari keluar.

“Tante Rani!”

Rani berjongkok memeluknya.

Aku memandang kantong belanja di tanganku dan tiba-tiba teringat dapur lama yang selalu penuh.

Dulu aku mengira dapur penuh berarti sebuah keluarga hidup berkecukupan.

Ternyata aku salah.

Sebuah rumah bisa memiliki kulkas penuh tetapi penghuninya kosong dari rasa menghargai.

Sebaliknya, rumah kecilku pernah hanya memiliki telur, sayur, dan sebungkus daging di dalam kulkas, tetapi aku dan Rizky makan dengan tenang tanpa rasa takut.

Hari itu kami makan semur bersama.

Tidak ada yang menghitung siapa mengambil berapa potong.

Tidak ada yang merasa paling berhak.

Ketika makanan hampir habis, Rani membantu mencuci piring.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang memberi makan orang-orang yang memanfaatkanku.

Aku merasa sedang makan bersama keluarga.

Aku baru memahami satu hal ketika kehilangan hampir menghancurkan kami semua.

Dapur Ibu Sulastri sebenarnya tidak pernah kosong karena tidak ada beras.

Dapur itu kosong karena selama bertahun-tahun kami mengira kasih sayang berarti satu orang harus terus memberi, sementara yang lain bebas mengambil.

Dan malam ketika rak-rak itu akhirnya benar-benar kosong, justru menjadi malam ketika kami semua mulai belajar mengisinya kembali dengan sesuatu yang jauh lebih penting daripada makanan.

Rasa tahu diri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang