MINTA RP 50.000.000 DEMI SELAMATKAN KAKI DARI AMPUTASI, NISA MALAH DISURUH MANDIRI SAAT ORANG TUANYA MERAYAKAN HADIAH KAPAL MEWAH MIKHA RP 1,5 MILIAR!

Nisa tidak pernah menyangka harga sebuah kaki yang masih bisa diselamatkan ternyata jauh lebih murah daripada harga kasih sayang di rumah tempat ia dibesarkan.

Lima puluh juta rupiah.

Itulah biaya operasi saraf yang harus dilakukan secepat mungkin sebelum kerusakan di kaki kanannya menjadi permanen.

Namun malam itu, di ruang tamu rumah besar keluarganya di Surabaya, angka itu terdengar seperti permintaan yang keterlaluan.

“Kami tidak bisa terus-menerus menyelesaikan masalahmu, Nisa.”

Hendra bahkan tidak mengangkat wajah dari ponselnya.

Nisa berdiri sambil menahan nyeri yang menjalar dari lutut sampai telapak kaki. Dokter sudah memperingatkan bahwa ia hanya memiliki waktu beberapa minggu.

Rina menuangkan minuman ke gelas kristal.

“Kamu sudah dua puluh sembilan tahun. Belajarlah mandiri. Masa soal uang operasi saja masih meminta orang tua?”

Nisa menatap perempuan yang selama ini ia panggil Ibu.

Lalu matanya jatuh pada layar televisi besar di belakang mereka.

Foto Mikha sedang tersenyum di atas sebuah kapal pesiar kecil terpampang di sana. Kapal seharga satu setengah miliar rupiah itu baru diberikan Hendra kepada putri kesayangannya sebagai hadiah ulang tahun.

Sore tadi Hendra bahkan mengadakan pesta kecil di dermaga Tanjung Perak untuk merayakannya.

Nisa tersenyum getir.

“Baik.”

Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.

Ia berbalik dan berjalan pincang menuju pintu.

Tidak seorang pun menghentikannya.

Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kontrakannya.

Tio berdiri di luar dengan kaus bengkel yang masih berbau oli.

“Aku dengar soal operasi Mbak.”

Nisa memalingkan wajah.

“Aku bisa cari jalan sendiri.”

Tio masuk dan meletakkan sebuah kunci di atas meja.

Nisa langsung mengenalinya.

Kunci Triumph Bonneville kesayangan Tio.

Motor itu dibeli dalam kondisi rusak dan diperbaiki sendiri oleh Tio sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

“Kenapa kuncinya di sini?”

“Sudah bukan punyaku.”

Tio mengeluarkan bukti transfer.

Rp50.000.000.

Nisa menatap angka itu lama sebelum akhirnya memahami.

“Kamu jual motormu?”

Tio mengangguk.

Nisa berdiri begitu cepat hingga kakinya nyaris kehilangan keseimbangan.

“Kamu gila? Itu modalmu! Kamu mau buka bengkel sendiri tahun depan!”

Tio menahan bahunya.

“Bengkel bisa ditunda.”

“Tiga tahun kamu menabung!”

“Mbak.”

Suara Tio melembut.

“Bengkel bisa menunggu. Kaki Mbak tidak.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan Nisa.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis.

Bukan karena Hendra dan Rina menolaknya.

Melainkan karena akhirnya ia memahami bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kemampuan paling besar untuk membantu, tetapi siapa yang bersedia kehilangan sesuatu demi menyelamatkan kita.

Operasi dilakukan empat hari kemudian dan berjalan sukses.

Tiga minggu setelahnya, ketika Nisa mulai belajar berjalan kembali dengan bantuan fisioterapis, kabar duka datang.

Kakek Bambang meninggal dalam tidurnya.

Lelaki tua itu adalah satu-satunya orang di keluarga yang sejak kecil memperlakukan Nisa tanpa perbedaan.

Bambang meninggalkan sebuah bengkel kayu tua di Gresik, tempat puluhan tahun lalu ia membuat komponen kapal secara manual.

Sehari setelah pemakaman, Hendra memutuskan mengosongkan bengkel.

Namun malam sebelumnya, Tio pergi ke sana.

Kakek pernah berjanji bahwa meja kerja kayunya akan diberikan kepada Tio.

Pukul 21.17, telepon Nisa berdering.

“Mbak.”

Suara Tio terdengar aneh.

“Aku menemukan sesuatu.”

Nisa yang sedang mengompres kakinya langsung duduk tegak.

“Apa?”

“Ada kunci ditempel di bawah laci meja Kakek. Sama amplop.”

Tio berhenti sejenak.

“Ada nama Mbak.”

Ia membacakan tulisan di amplop.

“Jika suatu hari Nisa mencari kebenaran, berikan ini sebelum Hendra menemukannya.”

Jantung Nisa berdegup keras.

“Apa isinya?”

Belum sempat Tio menjawab, suara mesin mobil terdengar dari ujung telepon.

Kemudian pintu mobil dibanting.

“Mbak, ada mobil hitam.”

Beberapa detik kemudian terdengar benturan keras.

Pintu bengkel didobrak.

“Cari semuanya!”

Nisa mengenali suara Hendra.

“Mbah tua itu pasti menyembunyikannya di sini!”

Telepon terputus.

Nisa langsung menghubungi Surya, pengacara Kakek Bambang.

Kurang dari satu jam kemudian mereka tiba di Gresik.

Bengkel itu sudah berantakan.

Laci terbuka, papan kayu berserakan, dan beberapa lemari tua dijebol.

Hendra berdiri di tengah ruangan bersama Rina.

“Di mana Tio?” tanya Nisa.

Hendra tersenyum sinis.

“Mana aku tahu? Mungkin kabur setelah ketahuan mencuri.”

Nisa hendak membalas, tetapi matanya menangkap sesuatu di bawah kaki meja kerja Kakek.

Selembar kertas.

Ia menariknya perlahan.

Tulisan tangan Kakek Bambang memenuhi bagian atas.

Untuk cucuku yang ingin mereka hilangkan identitasnya.

Napas Nisa tercekat.

Saat itulah suara langkah terdengar dari pintu.

Mikha berdiri di sana.

Tidak ada riasan mahal seperti biasanya. Wajahnya pucat dan matanya sembap.

“Nisa.”

Hendra langsung membentak.

“Pulang!”

Mikha tidak bergerak.

“Kamu harus dengar aku sebelum Papa bohong lagi.”

“Mikha!”

“Cukup, Pa!”

Mikha menangis.

Ia mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya.

“Perusahaan yang membeli kapal itu bukan perusahaan Papa.”

Nisa mengernyit.

Mikha menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir Hendra menggunakan identitasnya sebagai direktur beberapa perusahaan bayangan. Pinjaman bernilai miliaran rupiah dibuat atas nama perusahaan-perusahaan itu.

Termasuk kapal yang disebut sebagai hadiah.

“Itu bukan hadiah,” bisik Mikha. “Itu dibeli dengan utang atas namaku.”

Hendra maju hendak merebut dokumen tersebut, tetapi Surya berdiri menghalangi.

Mikha kemudian menatap Nisa.

“Kakek pernah bilang ada satu hal yang lebih besar dari semua utang itu.”

“Apa?”

“Warisan ibu kandungmu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Nisa merasa seperti salah mendengar.

“Ibu kandungku?”

Rina tertawa hambar.

“Sudah cukup sandiwaranya.”

Namun Nisa menatapnya tajam.

“Siapa ibu kandungku?”

Rina akhirnya menjawab.

“Namanya Maya.”

Hendra memejamkan mata.

“Adik kandung Papa,” lanjut Rina. “Dia meninggal setelah melahirkanmu.”

Dunia Nisa seperti berhenti.

Selama dua puluh sembilan tahun ia percaya Hendra dan Rina adalah orang tua kandungnya.

“Kalian berbohong kepadaku seumur hidup?”

“Kami membesarkanmu!” bentak Rina. “Memberimu makan, sekolah, tempat tinggal. Jangan bersikap seolah kami tidak melakukan apa-apa!”

“Lalu kenapa identitasku harus disembunyikan?”

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang tumpukan papan.

“Karena kalau Mbak tahu siapa Mbak sebenarnya, semua yang mereka miliki bisa hilang.”

Tio muncul.

Bajunya kotor oleh debu.

Di tangan kirinya ada sebuah kunci tua, sementara tangan kanannya menggenggam flashdisk hitam.

Nisa hampir menangis lega.

“Tio.”

“Aku sembunyi waktu mereka masuk.”

Ia mengangkat flashdisk.

“Kakek sudah menduga mereka akan datang.”

Malam itu mereka berkumpul di kantor Surya.

Flashdisk dimasukkan ke komputer.

Sebuah video muncul.

Kakek Bambang duduk di bengkel yang sama.

“Nisa, kalau kamu melihat video ini, berarti Kakek sudah tidak ada.”

Nisa menggenggam tangan Tio.

“Maya, ibumu, bukan meninggal tanpa meninggalkan apa pun. Sebelum kamu lahir, dia memiliki saham di perusahaan galangan kapal bersama seorang pria bernama Adrian Kusuma.”

Hendra mendadak berdiri.

“Matikan!”

Surya menatapnya.

“Duduk.”

Video terus berjalan.

“Maya mengetahui Hendra menggunakan dokumen perusahaan untuk menutup utang pribadinya. Karena takut sesuatu terjadi, Maya mengalihkan kepemilikan sahamnya ke sebuah perwalian. Penerima manfaatnya adalah anaknya, Nisa Larasati.”

Nisa menutup mulut.

“Setelah Maya meninggal, Hendra mencoba mengambil alih aset itu. Dia tidak bisa melakukannya selama statusmu sebagai anak Maya tercatat. Karena itulah sebagian dokumenmu diubah.”

Kakek mengangkat sebuah foto lama.

Seorang perempuan muda berdiri di samping lelaki tinggi di sebuah galangan kapal.

Di belakang foto tertulis dua kata.

Ayah Nisa.

“Namanya Adrian Kusuma.”

Surya tiba-tiba menatap Nisa.

Ia tampak terkejut.

“Kenapa?” tanya Nisa.

Surya membuka laptopnya.

“Nisa, Adrian Kusuma bukan orang yang hilang.”

Ia mengetik beberapa kata lalu memutar layar.

Nama Adrian Kusuma muncul dalam profil sebuah perusahaan maritim besar di Batam.

Ia masih hidup.

Dan masih menjabat komisaris utama.

Keesokan paginya Surya menghubunginya.

Jawaban datang kurang dari satu jam.

Adrian terbang ke Surabaya sore itu juga.

Ketika lelaki berusia sekitar enam puluh tahun itu masuk ke kantor Surya, ia berhenti begitu melihat Nisa.

Tangannya gemetar.

“Kamu punya mata Maya.”

Nisa tidak langsung memeluknya.

“Kalau Bapak tahu tentang saya, kenapa baru datang sekarang?”

Adrian menunduk.

“Karena selama dua puluh sembilan tahun aku percaya kamu meninggal bersama ibumu.”

Ia mengeluarkan sebuah surat.

Surat kematian bayi atas nama Nisa Larasati.

Dokumen itu ditandatangani dua hari setelah Maya meninggal.

Tanda tangan saksi di bagian bawah adalah milik Hendra.

Adrian mengaku bertahun-tahun mencari kebenaran, tetapi Bambang memintanya berhenti setelah menerima ancaman bahwa Nisa akan dibawa pergi jika penyelidikan diteruskan.

Kakek memilih menjaga Nisa tetap dekat sambil diam-diam mengumpulkan bukti.

Hendra akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Semua itu aku lakukan untuk keluarga!”

“Untuk keluarga?”

Nisa menatapnya.

“Keluarga yang mana?”

Tidak ada yang menjawab.

Penyelidikan berikutnya membuka semuanya.

Pemalsuan dokumen kependudukan.

Penyalahgunaan aset perusahaan.

Pinjaman menggunakan identitas Mikha.

Dan upaya mengambil alih kepemilikan saham milik Maya.

Aset yang diwariskan kepada Nisa ternyata bernilai jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkannya.

Namun enam bulan kemudian, ketika proses hukum masih berjalan, Nisa melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.

Ia tidak membeli rumah mewah.

Tidak membeli kapal.

Ia membeli sebuah bangunan kecil di Sidoarjo.

Ketika Tio datang ke sana, ia melihat papan nama baru terpasang di depan.

Bengkel Tio.

Pemuda itu berdiri terpaku.

“Mbak, ini apa?”

Nisa meletakkan sebuah kunci di telapak tangannya.

“Utang lima puluh juta.”

Tio tertawa kecil.

“Aku tidak pernah menganggap itu utang.”

“Aku tahu.”

Nisa tersenyum.

“Makanya aku tidak membayarnya dengan lima puluh juta.”

Di dalam bengkel sudah tersedia lift motor, perkakas, kompresor, dan ruang kerja yang selama bertahun-tahun hanya bisa digambar Tio di buku catatannya.

Tio mengusap wajahnya.

“Mbak gila.”

“Mungkin.”

Mereka tertawa sambil menangis.

Beberapa bulan kemudian Mikha ikut datang.

Kapal pesiar itu sudah disita sebagai bagian dari penyelidikan utang perusahaan.

Anehnya, Mikha terlihat jauh lebih bahagia tanpa kapal tersebut.

Ia bekerja bersama Surya membereskan perusahaan-perusahaan yang menggunakan namanya.

Adrian tidak pernah memaksa Nisa memanggilnya Ayah.

Ia hanya datang sesekali, duduk bersamanya, menceritakan Maya, lalu membiarkan hubungan mereka tumbuh perlahan dari dua orang asing yang kehilangan dua puluh sembilan tahun.

Sementara Nisa terus menjalani fisioterapi.

Suatu sore, hampir setahun setelah operasi, ia datang ke bengkel Tio tanpa tongkat.

Tio sedang membungkuk memperbaiki sebuah motor ketika menyadari kakaknya berdiri di pintu.

Ia menatap kaki Nisa.

“Mbak jalan sendiri?”

Nisa mengangguk.

“Dokter bilang sarafnya pulih jauh lebih baik dari perkiraan.”

Tio tersenyum lebar.

Nisa lalu melihat sebuah motor di sudut bengkel.

Triumph Bonneville berwarna hitam.

Ia mengenal setiap lekuknya.

Nisa membeku.

“Bukannya motor itu sudah dijual?”

Tio tertawa.

“Pemilik barunya datang servis tiga bulan lalu. Begitu tahu bengkel ini punyaku, dia menawarkan menjualnya kembali.”

“Terus?”

“Ya kubeli.”

“Pakai uang dari mana?”

Tio menunjuk bengkel yang penuh pelanggan.

“Dari hasil kerja sendiri. Katanya harus mandiri, kan?”

Nisa tertawa begitu keras hingga air matanya keluar.

Untuk pertama kalinya, kalimat yang dulu digunakan untuk merendahkannya tidak lagi terasa menyakitkan.

Ia akhirnya memahami sesuatu.

Warisan terbesar yang ditinggalkan Kakek Bambang ternyata bukan saham, perusahaan, atau rekening bernilai miliaran rupiah.

Kakeknya hanya mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dirampas dari Nisa.

Identitasnya.

Sedangkan Tio telah memberikan sesuatu yang bahkan tidak bisa diwariskan lewat surat wasiat.

Ketika seluruh keluarga menghitung berapa banyak yang bisa mereka dapatkan dari Nisa, hanya Tio yang menghitung apa yang bisa ia korbankan untuknya.

Dan pada akhirnya, kapal seharga satu setengah miliar itu hilang.

Harta Hendra terancam disita.

Nama keluarga yang selama bertahun-tahun begitu dibanggakan runtuh dalam hitungan bulan.

Namun motor yang pernah dijual demi menyelamatkan satu kaki akhirnya kembali.

Begitu pula seorang ayah yang selama dua puluh sembilan tahun mengira putrinya telah mati.

Nisa menatap Tio yang kembali sibuk bekerja, lalu memandangi kedua kakinya sendiri.

Lima puluh juta rupiah pernah membuatnya mengetahui siapa yang menolak menyelamatkannya.

Tetapi lima puluh juta rupiah yang sama juga menunjukkan siapa yang benar-benar keluarganya.

Dan kali ini, Nisa tidak membutuhkan dokumen apa pun untuk membuktikannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang