SAYA MENEMUKAN SURAT KUASA PALSU DENGAN TANDA TANGAN SAYA UNTUK MENGURUS SELURUH TABUNGAN SAYA. SAAT MEREKA MERAYAKAN UANG SAYA, SAYA DIAM-DIAM MEMBLOKIR SEMUA REKENING.

Langkah saya terhenti tepat di depan pintu.

Rian tidak menjawab teriakan kakaknya.

Namun wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik, tetapi cukup bagi saya untuk melihat kepanikan yang selama ini berhasil ia sembunyikan.

Saya berbalik perlahan.

“Dokumen apa?”

Sisca yang tadi masih memegangi pipinya langsung terdiam. Ibu Siska menatap tajam ke arahnya.

“Tidak ada apa-apa,” kata Rian cepat. “Kamu sedang emosi. Kita bicarakan di rumah.”

“Saya tanya sekali lagi. Dokumen apa?”

Rian berjalan mendekati saya.

Tangannya hendak meraih pergelangan tangan saya, tetapi saya mundur.

“Maya, jangan memperbesar masalah.”

Kalimat itu justru membuat kecurigaan saya semakin kuat.

Saya mengenal Rian hampir tiga tahun. Setiap kali berbohong, dia selalu berusaha mengakhiri percakapan secepat mungkin.

Saya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Saya membuka pintu dan pergi.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, pikiran saya terus memutar satu kalimat Sisca.

Kasih tahu dia soal dokumen itu sebelum semuanya terlambat.

Begitu tiba di Kuningan, saya tidak langsung menghubungi Rian.

Saya membuka laptop dan memeriksa seluruh rekening, deposito, investasi, serta portofolio obligasi yang saya miliki.

Semuanya tampak normal.

Tidak ada transaksi besar.

Tidak ada penarikan mencurigakan.

Saya hampir merasa konyol karena terlalu curiga sampai sebuah email lama menarik perhatian saya.

Email itu dikirim tiga hari sebelum pernikahan.

Subjeknya singkat.

Konfirmasi perubahan kuasa pengelolaan aset.

Jantung saya langsung berdegup lebih cepat.

Saya membukanya.

Di dalam email tertulis bahwa sebuah perusahaan manajemen aset telah menerima dokumen pemberian kuasa atas nama saya.

Saya tidak pernah memberikan kuasa kepada siapa pun.

Saya langsung menelepon relationship manager yang selama bertahun-tahun mengurus investasi saya.

“Pak Aditya, saya mau tahu apakah ada perubahan otorisasi di akun saya.”

Suara di seberang mendadak hati-hati.

“Bu Maya, bukankah Ibu yang mengajukan surat kuasa minggu lalu?”

Darah saya terasa turun ke kaki.

“Surat kuasa untuk siapa?”

Beberapa detik kemudian, sebuah salinan dokumen dikirim ke email saya.

Tangan saya gemetar ketika membukanya.

Nama saya tertulis lengkap.

Nomor identitas saya benar.

Alamat saya benar.

Bahkan tanda tangan di bagian bawah terlihat hampir identik dengan tanda tangan saya.

Namun saya tahu itu palsu.

Di bawahnya tercantum nama penerima kuasa.

Rian Pradana.

Suami saya.

Isi surat itu memberinya wewenang untuk mengurus deposito, mencairkan instrumen investasi tertentu, memindahkan dana, dan menandatangani beberapa dokumen finansial atas nama saya.

Nilai aset yang dapat disentuhnya mencapai belasan miliar rupiah.

Saya menatap layar cukup lama.

Anehnya, saya tidak menangis.

Saya justru menjadi sangat tenang.

Delapan tahun bekerja di bidang keuangan mengajari saya satu hal.

Ketika menemukan kecurangan, jangan langsung memperingatkan pelakunya.

Amankan aset terlebih dahulu.

Saya menelepon bank.

Kemudian perusahaan sekuritas.

Kemudian manajer investasi.

Saya meminta semua transaksi keluar dihentikan sementara, seluruh kuasa pihak ketiga dibekukan, dan setiap perubahan wajib mendapatkan verifikasi langsung dari saya.

Saya juga meminta catatan kapan dokumen itu diserahkan dan siapa yang mengajukannya.

Jawabannya membuat dada saya sesak.

Dokumen tersebut diserahkan Rian sendiri dua hari sebelum pernikahan kami.

Artinya, ketika saya sedang sibuk mencoba gaun pengantin, memastikan katering, dan menyiapkan hari yang saya kira akan menjadi awal kehidupan baru kami, calon suami saya sedang menyiapkan akses ke seluruh tabungan saya.

Saya menyimpan semua bukti.

Lalu saya melakukan sesuatu yang mungkin tidak mereka duga.

Saya tetap diam.

Malam itu Rian pulang sekitar pukul sebelas.

Dia membawa bunga.

“Maya.”

Saya sedang duduk di sofa sambil membaca laporan keuangan.

“Hmm?”

Rian meletakkan bunga di meja.

“Soal tadi siang, Kak Sisca memang keterlaluan. Aku sudah marahi dia.”

Saya hampir tertawa.

“Benarkah?”

“Iya. Ibu juga sebenarnya sayang sama kamu. Mereka cuma butuh waktu.”

Dia duduk di samping saya.

“Jangan karena masalah kecil kita jadi bertengkar.”

Masalah kecil.

Punggung tangan saya masih memiliki dua bekas luka merah.

Sementara laptop saya menyimpan bukti bahwa dia memalsukan tanda tangan saya.

Saya menutup laptop.

“Kamu benar.”

Rian tampak lega.

“Besok Ibu mengadakan makan malam kecil. Datang, ya? Biar semuanya selesai.”

Saya tersenyum.

“Baik.”

Keesokan malam saya kembali ke Pondok Indah.

Kali ini suasananya sangat berbeda.

Sisca mengenakan gaun baru dan sebuah tas bermerek tergeletak di kursinya.

Di meja terdapat dua botol sampanye mahal.

Bahkan adik laki-laki Rian, Dimas, yang kemarin hampir tidak berbicara kepada saya, terlihat sangat bersemangat.

“Sebenarnya malam ini ada kabar baik,” kata Ibu Siska.

Saya duduk tenang.

“Kabar apa?”

Sisca tersenyum.

“Kami sedang merencanakan bisnis keluarga.”

“Bisnis apa?”

“Properti.”

Saya hampir tersedak mendengarnya.

Rian bahkan tidak memiliki pengalaman di bidang itu.

Sisca mulai menjelaskan rencana membeli sebidang tanah di Tangerang Selatan dan membangun beberapa unit rumah mewah.

Modal awalnya hampir sepuluh miliar rupiah.

“Dari mana modalnya?” tanya saya.

Meja makan mendadak lebih sunyi.

Rian berdeham.

“Kami sedang mengaturnya.”

Ibu Siska tersenyum lebar.

“Kalau sudah menikah, rezeki suami istri itu satu.”

Kalimat itu membuat semuanya menjadi jelas.

Mereka bukan hanya tahu.

Mereka sudah merencanakannya bersama.

Saya menatap tas baru Sisca.

“Bagus tasnya.”

Wajahnya langsung berseri.

“Baru beli siang tadi.”

“Berapa?”

Sisca tertawa.

“Ah, tidak mahal.”

Dimas menyela, “Kak Rian bilang sebentar lagi kita tidak perlu terlalu hitung-hitungan uang.”

Rian langsung menendang kaki adiknya di bawah meja.

Saya melihat semuanya.

Mereka sedang merayakan uang yang bahkan belum berhasil mereka ambil.

“Kalau begitu,” kata saya sambil mengangkat gelas, “semoga rencananya lancar.”

Rian menatap saya beberapa detik.

Mungkin dia heran mengapa saya begitu tenang.

Ponselnya bergetar.

Dia melihat layar.

Wajahnya langsung pucat.

Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.

Kemudian lagi.

Sisca mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Rian berdiri dan menjauh dari meja.

Saya masih makan dengan tenang.

“Kenapa transaksi saya ditolak?” suara Rian terdengar dari ruang tengah.

Saya meletakkan sendok.

Beberapa kepala langsung menoleh.

Rian kembali dengan wajah merah.

“Maya.”

“Ya?”

“Kamu melakukan sesuatu pada rekening?”

Saya mengangkat alis.

“Rekening saya?”

“Jangan main kata-kata!”

Dia membanting ponselnya ke meja.

“Saya tidak bisa mengakses dana itu!”

Ibu Siska berdiri.

“Dana apa?”

Saya menatapnya.

“Bukankah Ibu sudah tahu?”

Wajah perempuan itu membeku.

Saya mengeluarkan sebuah map dari tas.

Salinan surat kuasa palsu saya letakkan di tengah meja.

Tidak ada lagi yang bicara.

“Menarik,” kata saya. “Tanda tangannya cukup bagus. Kalau saya tidak terbiasa menandatangani ratusan dokumen setiap bulan, mungkin saya sendiri hampir percaya.”

Rian pucat.

“Maya, dengarkan aku.”

“Dua hari sebelum menikah, kamu menyerahkan surat ini.”

“Saya bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Rian membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Akhirnya Ibu Siska yang bicara.

“Kalian sudah suami istri. Untuk apa mempermasalahkan hal seperti ini?”

Saya menatapnya tidak percaya.

“Memalsukan tanda tangan saya adalah hal kecil?”

“Rian suamimu. Dia bukan orang asing.”

“Justru karena dia suami saya, dia seharusnya tidak perlu mencuri.”

Rian menghantam meja.

“Aku tidak mencuri!”

“Lalu apa namanya mengambil kendali atas uang orang lain tanpa izin?”

“Aku cuma mau mengelolanya!”

“Untuk membeli tanah atas nama siapa?”

Rian terdiam.

Saya sudah mengetahui jawabannya.

Sore tadi pengacara saya mendapatkan salinan draft perjanjian pembelian tanah.

Calon pemiliknya bukan saya.

Bukan pula Rian.

Nama yang tercantum adalah Siska Prameswari.

Ibunya.

Saya mengeluarkan dokumen kedua.

“Tanah di Tangerang Selatan. Harga sembilan koma delapan miliar. Atas nama Ibu.”

Wajah Ibu Siska kehilangan warna.

Sisca menatap Rian.

“Kamu bilang Maya sudah setuju.”

Saya menoleh kepadanya.

“Jadi kamu tahu.”

Sisca langsung bungkam.

Rian mencoba memegang tangan saya.

“Maya, aku terpaksa.”

Saya menarik tangan.

“Kenapa?”

Dia menunduk.

Kemudian sesuatu yang tidak saya duga terjadi.

Dimas mulai menangis.

“Karena rumah ini mau disita.”

Semua orang menatapnya.

“Diam!” bentak Ibu Siska.

Namun Dimas sudah tidak bisa berhenti.

“Rumah ini sudah dijaminkan ke bank. Bisnis Papa sebelum meninggal punya utang. Kak Rian dan Ibu mau pakai uang Kak Maya buat nutup semuanya.”

Saya terpaku.

Ternyata rencana bisnis properti hanyalah kedok.

Rumah mewah tempat mereka duduk, makan dengan peralatan mahal, dan berbicara tentang status keluarga ternyata hampir hilang karena utang.

Rian menatap saya dengan mata merah.

“Aku takut kamu tidak mau menikah kalau tahu keluargaku punya utang.”

“Jadi solusimu adalah menikahi saya lalu mengambil uang saya?”

“Aku akan mengembalikannya.”

“Kapan?”

Dia tidak bisa menjawab.

Saya tiba-tiba teringat tiga tahun hubungan kami.

Rian selalu terlihat sederhana.

Dia tidak pernah meminta uang.

Bahkan beberapa kali menolak ketika saya menawarkan membayar liburan.

Dulu saya menganggap itu harga diri.

Sekarang saya sadar, mungkin dia hanya sedang menunggu sampai mendapatkan akses yang jauh lebih besar.

“Siapa yang memalsukan tanda tangan saya?”

Tidak ada jawaban.

Saya menatap satu per satu.

Lalu Sisca berkata pelan, “Rian.”

Rian langsung menoleh.

“Kak!”

“Aku tidak mau masuk penjara karena kamu!”

Rian membeku.

Sisca mulai bicara cepat.

“Dia mengambil contoh tanda tanganmu dari dokumen pemesanan gedung pernikahan. Dia latihan berhari-hari. Ibu cuma tahu setelah suratnya selesai.”

“Pembohong!” bentak Ibu Siska.

Dalam hitungan detik, keluarga yang kemarin begitu kompak merendahkan saya mulai saling menyalahkan.

Saya menyaksikan semuanya tanpa berkata apa-apa.

Kemudian bel rumah berbunyi.

Rian menatap pintu.

“Siapa?”

“Saya yang mengundang.”

Pengacara saya, Pak Surya, masuk bersama seorang pria dari kantor notaris.

Saya berdiri.

Rian mulai panik.

“Maya, apa yang kamu lakukan?”

“Saya memastikan tidak ada lagi dokumen yang dibuat menggunakan nama saya.”

Pak Surya meletakkan beberapa berkas di meja.

Seluruh kuasa sudah dicabut.

Bank sudah menerima laporan resmi mengenai dugaan pemalsuan dokumen.

Semua akses Rian terhadap aset saya telah diblokir.

Tetapi ada satu hal lagi.

Saya mengeluarkan amplop terakhir.

“Ini gugatan pembatalan perkawinan dan laporan pidana yang sedang disiapkan pengacara saya.”

Rian terhuyung mundur.

“Kita baru menikah lima hari.”

“Benar.”

Saya menatapnya.

“Dan dalam lima hari itu, saya sudah mengetahui siapa suami saya sebenarnya.”

Ibu Siska tiba-tiba berubah nada.

“Maya, jangan begini. Kita keluarga.”

Saya tersenyum tipis.

“Kemarin Ibu bilang saya orang luar.”

Dia terdiam.

“Saya rasa untuk sekali ini, saya setuju dengan Ibu.”

Saya berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Pak Surya memanggil saya.

“Bu Maya, ada satu informasi lagi.”

Saya berhenti.

Dia menyerahkan sebuah salinan dokumen.

Ternyata tiga bulan sebelum pernikahan, Rian telah mengajukan pinjaman pribadi hampir dua miliar rupiah.

Dalam formulir pengajuan, dia mencantumkan aset milik saya sebagai bagian dari kekayaan rumah tangga yang akan segera berada di bawah kendalinya setelah menikah.

Tanggal pengajuannya membuat saya tercekat.

Hari itu adalah hari yang sama ketika Rian melamar saya.

Saya masih mengingat malam tersebut.

Restoran kecil di rooftop.

Cincin sederhana.

Rian berlutut sambil mengatakan bahwa dia ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama saya.

Ternyata beberapa jam sebelumnya, dia sudah menggunakan nama saya untuk meyakinkan kreditur.

Saya menatap Rian.

Untuk pertama kalinya malam itu, saya merasa benar-benar kehilangan sesuatu.

Bukan uang.

Bukan pernikahan.

Melainkan tiga tahun kehidupan yang ternyata dibangun di atas kebohongan.

“Pernahkah kamu benar-benar mencintai saya?”

Rian menangis.

“Aku mencintaimu.”

Saya menggeleng.

“Orang yang mencintai tidak membuat tanda tangan palsu di belakang orang yang dicintainya.”

Saya pergi tanpa menoleh lagi.

Enam bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.

Rumah keluarga Rian akhirnya dilelang untuk membayar sebagian utang.

Sisca pindah ke apartemen kecil di Depok.

Dimas memilih bekerja dan menjauh dari keluarganya.

Rian kehilangan pekerjaannya setelah perusahaan tempatnya bekerja mengetahui kasus pemalsuan dokumen yang sedang diproses.

Saya menjual apartemen di Kuningan.

Bukan karena tempat itu memiliki kenangan buruk, melainkan karena saya ingin memulai dari tempat yang benar-benar baru.

Pada hari terakhir sebelum menyerahkan kunci kepada pemilik baru, saya menemukan sebuah kotak kecil di bagian belakang lemari.

Kotak cincin pernikahan saya.

Saya membukanya.

Di dalamnya masih ada secarik kertas dari Rian yang dulu saya simpan karena menganggapnya romantis.

Aku tidak punya banyak hal untuk diberikan kepadamu sekarang. Tapi suatu hari, semua yang kita punya akan menjadi milik kita bersama.

Dulu kalimat itu terdengar seperti janji.

Sekarang saya memahami maknanya dengan cara yang berbeda.

Saya melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Kemudian saya meninggalkannya di atas meja.

Saya tidak membenci Rian lagi.

Kebencian masih membutuhkan ruang di dalam hati, dan saya tidak ingin memberinya tempat sebesar itu.

Yang saya pelajari jauh lebih sederhana.

Pernikahan tidak menghapus batas antara cinta dan kepemilikan.

Kepercayaan bukan izin untuk mengendalikan.

Dan cincin di jari seseorang tidak pernah memberinya hak atas hidup, tubuh, keputusan, atau hasil kerja pasangannya.

Sebelum menutup pintu apartemen untuk terakhir kalinya, saya melihat bekas luka kecil di punggung tangan saya.

Bekas tusukan garpu Sisca masih samar terlihat.

Aneh sekali.

Luka yang awalnya saya anggap sebagai penghinaan ternyata menjadi peringatan pertama yang menyelamatkan seluruh hidup saya.

Kalau hari itu Sisca tidak menusuk tangan saya, mungkin saya tidak akan menamparnya.

Kalau saya tidak menamparnya, mungkin dia tidak akan marah.

Dan kalau dia tidak marah, mungkin dia tidak akan meneriakkan satu kalimat yang membongkar semuanya.

Saya tersenyum kecil.

Lalu menutup pintu.

Kadang-kadang kehancuran tidak datang untuk menghancurkan hidup kita.

Kadang-kadang ia datang tepat waktu untuk menunjukkan kehidupan mana yang sebenarnya harus kita tinggalkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang