DI HARI PERNIKAHANNYA, ALYA SENGAJA JATUH UNTUK MENJEBAKKU—NAMUN PESAN RAHASIA KAKAKKU MEMBONGKAR SIAPA AYAH BAYI YANG DIKANDUNGNYA

Aku baru sadar bahwa firasat buruk dari cermin itu belum selesai ketika Alya tiba-tiba tersenyum.

Bukan senyum seorang pengantin yang baru saja dipermalukan.

Senyum itu terlalu tenang.

Dia menatap sepatu patah di tanganku, lalu menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa, Kak Nadira,” katanya lirih. “Aku pakai sepatu cadangan saja.”

Arga langsung menggenggam bahunya.

“Kamu terlalu baik.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Namun bayanganku di cermin sudah kembali normal. Tidak ada lagi perempuan misterius yang memperingatkanku. Yang kulihat hanya wajahku sendiri yang pucat.

Dua puluh menit kemudian, pesta dimulai.

Ballroom hotel dipenuhi ratusan tamu. Keluarga Wijaya duduk di barisan depan. Adrian Wijaya, calon suami Alya, berdiri di pelaminan dengan setelan hitam.

Aku memperhatikan laki-laki itu.

Adrian tampak bahagia.

Dan justru itulah yang membuat dadaku sesak.

Dia tidak tahu bahwa bayi yang selama ini dianggap sebagai anaknya mungkin bukan darah dagingnya.

Aku ingin memperingatkannya.

Namun dengan bukti apa?

Suara dari cermin?

Tidak seorang pun akan mempercayaiku.

Ketika Alya mulai berjalan menuju pelaminan, aku melihat Arga berdiri tidak jauh darinya.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup bagiku untuk melihat sesuatu yang aneh.

Ketakutan.

Bukan cinta.

Bukan pula kasih sayang seorang kakak.

Mereka seperti dua orang yang sedang memastikan sebuah rencana berjalan sesuai kesepakatan.

Aku langsung waspada.

Upacara berlangsung tanpa masalah.

Setelah itu, tamu mulai menikmati jamuan makan. Musik dimainkan. Fotografer sibuk mengambil gambar.

Kupikir mereka menyerah.

Sampai seorang pelayan menghampiriku.

“Mbak Nadira, pengantin perempuan memanggil Anda ke ruang keluarga.”

Aku menoleh ke pelaminan.

Alya sudah tidak ada.

Aku mengikuti pelayan menuju koridor belakang ballroom.

Ruang keluarga ternyata kosong.

“Alya?”

Tidak ada jawaban.

Aku baru hendak keluar ketika terdengar suara langkah.

Alya muncul dari ujung koridor.

Sendirian.

Dia sudah mengganti sepatu haknya dengan sepatu datar.

“Kak.”

“Ada apa?”

Dia berjalan mendekat.

“Aku mau minta maaf.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Selama ini aku mungkin terlalu takut kehilangan keluarga.”

Dia berhenti sekitar satu meter dariku.

“Aku dibesarkan Papa dan Mama sejak bayi. Ketika Kakak ditemukan tiga tahun lalu, aku takut semuanya akan kembali menjadi milik Kakak.”

Aku diam.

Untuk pertama kalinya, kata-katanya terdengar tulus.

Namun kemudian aku melihat tangannya.

Alya sedang memegang ujung taplak meja kecil di sampingnya.

Di atas meja itu terdapat vas bunga kaca besar.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Aku mundur satu langkah.

“Alya.”

Dia tersenyum.

Lalu menarik taplak itu.

Vas jatuh.

Pecahannya berserakan di lantai.

Sebelum aku memahami maksudnya, Alya tiba-tiba menginjak salah satu pecahan kaca.

Darah mengalir dari telapak kakinya.

Aku membelalak.

“Kamu gila?”

Dia justru mencengkeram pergelangan tanganku.

Lalu berteriak.

“Tolong!”

Aku berusaha melepaskan tangannya.

“Alya, lepaskan!”

“Tolong aku!”

Dia menarik tubuhku mendekat.

Kemudian menjatuhkan dirinya sendiri.

Tubuhnya menghantam lantai.

“AARGH!”

Jeritannya menggema di koridor.

Beberapa orang langsung berlari keluar dari ballroom.

Arga muncul paling depan.

Begitu melihat Alya terbaring sambil memegang perut dan aku berdiri di samping pecahan kaca, wajahnya berubah.

“NADIRA!”

Dia mendorongku.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku tidak melakukan apa pun!”

Alya menangis.

“Perutku sakit…”

Adrian datang dan langsung berlutut di samping istrinya.

“Alya?”

“Aku cuma mau minta maaf kepada Kak Nadira.”

Air matanya mengalir.

“Tapi Kak Nadira bilang… seharusnya aku tidak pernah masuk keluarga Pratama.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu bohong.”

Alya menggigil.

“Dia mendorongku.”

Bisikan langsung terdengar dari orang-orang yang berkumpul.

Aku melihat Mama menutup mulut.

Papa menatapku dengan wajah kecewa.

Arga menunjukku.

“Aku sudah bilang jangan membuat masalah!”

“Dia menjatuhkan dirinya sendiri!”

“Cukup!”

Arga membentakku.

Kemudian Alya menjerit lebih keras.

“Ada darah…”

Semua orang membeku.

Bercak merah mulai terlihat di gaun putihnya.

Adrian langsung mengangkat tubuh Alya.

“Panggil ambulans!”

Kekacauan terjadi.

Aku berdiri sendirian di tengah pecahan kaca.

Saat itulah aku menyadari sesuatu.

Sepatu hanyalah rencana pertama.

Mereka tetap membutuhkan satu hal.

Keguguran.

Dan aku harus menjadi penyebabnya.

Di rumah sakit, dokter membawa Alya ke ruang tindakan.

Keluarga Wijaya nyaris tidak mau melihat wajahku.

Ayah Adrian bahkan mengancam akan melaporkanku ke polisi.

Mama menangis.

Papa hanya berkata, “Kenapa kamu harus melakukan ini, Nadira?”

Aku menatap orang-orang yang selama tiga tahun terakhir berusaha kupanggil keluarga.

Tidak ada satu pun yang bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.

Hanya Adrian yang diam.

Sekitar satu jam kemudian dokter keluar.

“Kondisi Ibu Alya stabil.”

Semua orang mengembuskan napas lega.

“Namun kami tidak berhasil mempertahankan kehamilannya.”

Alya menangis histeris dari dalam kamar.

Adrian menutup wajah.

Arga membalikkan badan.

Tetapi aku melihatnya.

Tangannya mengepal.

Bukan karena sedih.

Seolah menahan sesuatu yang jauh lebih rumit.

Malam itu aku diusir dari rumah keluarga Pratama.

Papa memintaku tinggal di apartemen sampai masalah selesai.

Arga bahkan berkata,

“Kalau keluarga Wijaya melaporkanmu, jangan berharap kami melindungimu.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya membawa koper kecil dan pergi.

Pukul dua dini hari, ketika aku duduk sendirian di apartemen, ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Dari Arga.

Aku hampir tidak mau membukanya.

Namun isi pesannya hanya tiga kalimat.

Maafkan Kakak.

Jangan percaya siapa pun.

Buka email yang kukirim tiga tahun lalu.

Aku membeku.

Tiga tahun lalu?

Saat itu aku bahkan baru ditemukan keluarga Pratama.

Aku membuka kotak masuk dan mencari namanya.

Ada satu email lama yang tidak pernah kubuka karena masuk ke folder spam.

Subjeknya hanya satu kata.

Nadira.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Isinya sebuah dokumen dan pesan singkat.

Kalau suatu hari Alya hamil dan aku masih hidup, jangan percaya bahwa anak itu milikku. Kalau aku sudah mati, serahkan dokumen ini kepada polisi.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu membuka lampiran.

Itu hasil pemeriksaan medis Arga.

Diagnosisnya jelas.

Arga mengalami infertilitas permanen akibat komplikasi penyakit ketika remaja.

Kemungkinan memiliki anak secara biologis hampir tidak ada.

Aku menutup mulut.

Berarti suara di cermin salah?

Atau sengaja membuatku salah memahami sesuatu?

Ponselku tiba-tiba berdering.

Arga.

Aku mengangkatnya.

“Kak?”

Suara napas berat terdengar.

“Nadira, dengarkan baik-baik. Kakak tidak punya banyak waktu.”

“Bayi Alya bukan anak Kakak?”

“Bukan.”

“Lalu kenapa Kakak selalu melindunginya?”

Sunyi beberapa detik.

“Karena dia memeras Kakak.”

Aku berdiri.

“Dengan apa?”

“Dia tahu siapa yang sebenarnya menemukanmu tiga tahun lalu.”

Aku tidak mengerti.

Arga melanjutkan.

“Keluarga kita tidak menemukanmu secara kebetulan. Alya sudah tahu keberadaanmu sejak bertahun-tahun sebelumnya.”

Darahku terasa dingin.

“Kenapa dia menyembunyikannya?”

“Karena selama kamu tidak ada, dia pewaris utama keluarga.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Lalu ayah bayinya siapa?”

Suara Arga melemah.

“Nadira…”

Terdengar suara pintu dibuka di seberang telepon.

Kemudian Arga berkata cepat,

“Cari rekaman CCTV hotel. Jangan rekaman koridor. Lift parkir basement. Pukul sebelas lewat dua belas tadi malam.”

Telepon terputus.

Aku menelepon kembali.

Tidak aktif.

Keesokan paginya aku kembali ke hotel.

Manajer keamanan awalnya menolak memberikan rekaman tanpa izin polisi. Aku hampir menyerah ketika Adrian muncul.

“Aku yang minta mereka membukanya.”

Aku menatapnya.

“Kamu percaya kepadaku?”

“Belum.”

Wajahnya tampak sangat lelah.

“Tapi semalam Alya bilang sesuatu saat dibius.”

“Apa?”

Adrian menatapku.

“Dia menyebut nama ayahku.”

Kami pergi ke ruang keamanan.

Rekaman pukul 23.12 malam sebelum pernikahan diputar.

Lift basement terbuka.

Alya keluar.

Masih mengenakan pakaian biasa.

Beberapa detik kemudian seorang laki-laki keluar menyusulnya.

Aku tidak mengenalnya.

Namun Adrian langsung berdiri.

Wajahnya kehilangan warna.

“Itu Om Reza.”

“Siapa?”

“Adik ayahku.”

Rekaman berikutnya membuat ruangan sunyi.

Reza memeluk Alya.

Kemudian mencium keningnya.

Alya menyerahkan sebuah amplop.

Mereka berbicara cukup lama.

Untung kamera memiliki rekaman suara.

Suara Reza terdengar samar.

“Setelah keguguran, Adrian tidak akan meminta tes DNA lagi.”

Alya menjawab,

“Dan Nadira akan menjadi kambing hitam.”

Aku merasakan lututku lemas.

Reza melanjutkan,

“Setelah menikah, kamu tetap istri Adrian. Aku akan mengurus sisanya.”

Adrian mematikan video.

Tangannya gemetar.

Pernikahannya ternyata dibangun di atas kebohongan.

Tetapi rahasia sebenarnya belum selesai.

Polisi dipanggil.

Rekaman koridor diperiksa.

Kamera memperlihatkan dengan jelas Alya menjatuhkan vas, menginjak pecahan kaca, menarik tanganku, kemudian menjatuhkan dirinya sendiri.

Namaku akhirnya bersih.

Namun ketika polisi mendatangi kamar Alya, perempuan itu sudah menghilang.

Begitu juga Arga.

Selama dua hari tidak ada kabar.

Sampai aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Sebuah lokasi dikirimkan.

Rumah kosong di kawasan Bogor.

Aku datang bersama polisi dan Adrian.

Di dalam rumah itu kami menemukan Arga dalam keadaan terikat.

Dia masih hidup.

Alya duduk di sudut ruangan sambil menangis.

Tidak ada perlawanan.

Ketika polisi memborgolnya, dia hanya menatapku.

“Aku membencimu sejak sebelum mengenalmu.”

Aku terdiam.

Alya tertawa getir.

“Aku mendengar Papa dan Mama membicarakanmu sejak kecil. Putri kandung mereka yang hilang. Anak yang selalu mereka cari.”

Air matanya jatuh.

“Aku hidup sebagai penggantimu, Nadira.”

“Setiap ulang tahunku, aku bertanya dalam hati, kalau kamu pulang, apakah mereka masih akan mencintaiku?”

Aku menatapnya lama.

“Aku tidak pernah meminta mengambil tempatmu.”

“Tapi keberadaanmu saja sudah cukup.”

Ternyata Reza memanfaatkan ketakutan Alya selama bertahun-tahun. Dia mendekatinya, memberinya perhatian, lalu menjadikannya alat untuk masuk ke keluarga Pratama melalui pernikahan Alya dan Adrian.

Kehamilan itu tidak direncanakan.

Begitu Alya hamil, Reza takut rahasia mereka terbongkar melalui tes DNA.

Mereka pun merancang keguguran yang sekaligus bisa menghancurkanku.

Arga mengetahui hubungan mereka beberapa bulan sebelumnya.

Alya mengancam akan menyebarkan bukti transaksi lama yang bisa membuat Papa terseret kasus penggelapan pajak jika Arga membuka mulut.

Karena itu Arga diam.

Namun diamnya hampir menghancurkan semuanya.

Beberapa bulan kemudian, kasus itu masuk pengadilan.

Reza dijatuhi hukuman atas penculikan Arga dan beberapa tindak pidana finansial yang ditemukan selama penyelidikan. Pernikahan Adrian dan Alya dibatalkan melalui proses hukum.

Aku tidak pernah kembali tinggal di rumah keluarga Pratama.

Bukan karena membenci mereka.

Aku hanya akhirnya memahami bahwa hubungan darah tidak otomatis menciptakan kepercayaan.

Kepercayaan harus dibangun.

Suatu sore, Arga datang ke apartemenku.

Dia membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada pecahan hak sepatu yang kuhancurkan pada hari pernikahan Alya.

“Kamu simpan ini?”

Arga tertawa kecil.

“Bukti bahwa adikku ternyata lumayan barbar.”

Aku ikut tertawa.

Lalu aku bertanya sesuatu yang selama berbulan-bulan menggangguku.

“Kak, waktu itu… Kakak pernah mengirim pesan lewat cermin?”

Dia menatapku aneh.

“Cermin apa?”

Aku menceritakan semuanya.

Arga terdiam.

Kemudian wajahnya perlahan pucat.

“Ada apa?”

Dia mengeluarkan ponselnya.

Membuka galeri lama.

Lalu menunjukkan sebuah foto.

Foto seorang perempuan muda.

Aku membeku.

Wajah perempuan itu hampir sama persis denganku.

“Siapa dia?”

Arga menelan ludah.

“Ibu kandung kita.”

Aku menatapnya.

“Ibu meninggal ketika kamu hilang.”

Arga memperbesar foto itu.

Di leher perempuan tersebut tergantung sebuah kalung kecil berbentuk cermin.

“Beberapa hari sebelum meninggal, Ibu meninggalkan surat untukku.”

“Apa isinya?”

Mata Arga memerah.

“Dia bilang, kalau suatu hari kamu kembali dan keluarga ini gagal melindungimu, dia sendiri yang akan menunjukkan siapa yang harus kamu percayai.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Malam itu setelah Arga pulang, aku berdiri di depan cermin apartemen.

Untuk waktu yang lama, tidak terjadi apa-apa.

Aku tersenyum pada bayanganku sendiri.

“Terima kasih, Bu.”

Aku hendak berbalik ketika perempuan di dalam cermin tidak ikut bergerak.

Jantungku berhenti sesaat.

Dia tersenyum.

Namun kali ini wajahnya bukan wajahku.

Wajahnya adalah perempuan dalam foto Arga.

Bibirnya bergerak perlahan.

“Sekarang kamu tidak membutuhkan Ibu lagi.”

Air mataku jatuh.

Aku menggeleng.

Perempuan itu tersenyum semakin lembut.

Lalu mengucapkan satu kalimat terakhir.

“Hiduplah tanpa takut kehilangan keluarga, karena keluarga yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meminta orang lain hancur agar bisa memilihmu.”

Aku berkedip.

Bayangan itu menghilang.

Yang tersisa hanya diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali menjadi putri keluarga Pratama, aku tidak lagi melihat seorang anak yang takut kehilangan tempatnya.

Aku melihat Nadira.

Diriku sendiri.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang