Cuma Menerima Satu Butir Telur, Nadira Dipaksa Menikah—Lalu Ia Menemukan Foto-Foto Dirinya Diam-Diam Disimpan Selama Lima Tahun

Aku tidak tidur malam itu.

Setiap kali memejamkan mata, foto dari selebaran itu muncul kembali di kepalaku. Aku berdiri di dalam rumah dinas, mengenakan pakaian rumah, sama sekali tidak sadar ada seseorang di luar jendela yang mengarahkan kamera kepadaku.

Lima tahun lalu.

Berarti sejak awal aku datang ke Desa Sukamaju, Arga sudah mengawasiku.

Pukul dua dini hari, aku bangkit dan memeriksa seluruh rumah. Jendela kamar, ventilasi, celah pintu, bahkan langit-langit. Rumah dinasku kecil, hanya dua kamar dengan dinding yang mulai lembap. Selama ini tempat itu terasa sederhana tetapi aman.

Malam itu, semuanya berubah.

Aku menemukan bekas goresan kecil di kusen jendela kamar.

Tiba-tiba aku teringat ucapan Arga ketika memperbaikinya bertahun-tahun lalu.

Kalau malam, gordennya ditutup saja, Bu. Kalau lampu kamar menyala, dari luar kelihatan jelas.

Tanganku gemetar.

Dia bukan sedang memperingatkanku.

Dia sedang memberitahuku bahwa dia tahu.

Pagi-pagi sekali aku memasukkan pakaian, dokumen, laptop, dan beberapa barang penting ke dalam koper. Surat mutasiku berlaku minggu depan, tetapi aku tidak berniat menunggu.

Aku akan pergi hari itu juga.

Satu-satunya angkutan menuju kecamatan lewat pukul enam pagi. Dari sana aku bisa naik bus ke Semarang.

Namun ketika aku menyeret koper ke jalan utama desa, aku berhenti.

Sebuah pohon besar tumbang melintang di jalan.

Di sebelahnya berdiri Arga.

Dia mengenakan jaket hitam dan memegang rokok. Motornya terparkir tak jauh dari sana.

“Mau ke mana pagi-pagi, Bu Nadira?”

Aku menatap pohon itu.

“Ini kamu yang lakukan?”

Arga tertawa kecil.

“Hujan semalam deras.”

Semalam tidak hujan.

Aku meraih ponsel.

Masih tidak ada sinyal.

“Singkirkan pohonnya.”

“Kenapa buru-buru? Seminggu lagi juga kita menikah.”

“Aku tidak akan menikah denganmu.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Nadira, saya sudah menunggu lima tahun.”

Kalimat itu membuat darahku serasa membeku.

“Lima tahun?”

Dia mendekat satu langkah.

“Saya yang pertama membantu waktu kamu datang. Saya yang memperbaiki rumahmu. Kalau kamu sakit, siapa yang mengantar obat? Kalau motormu rusak, siapa yang membantu? Semua orang di desa tahu saya menjaga kamu.”

“Aku tidak pernah meminta semua itu.”

Rahangnya mengeras.

“Saya melakukan semuanya karena saya tahu suatu hari kamu akan sadar.”

“Sadar apa?”

“Bahwa kamu cocok tinggal di sini. Bersama saya.”

Aku mundur.

Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.

Bagi Arga, semua kebaikan yang dia berikan bukanlah kebaikan.

Itu investasi.

Dan sekarang dia merasa berhak menagihnya.

Aku kembali ke rumah dinas dan mengunci pintu.

Aku tidak pergi ke sekolah.

Sekitar pukul sembilan, terdengar ketukan pelan.

Aku mengintip dari balik tirai.

Bu Sari, salah satu wali murid, berdiri sendirian.

Aku membukakan pintu sedikit.

“Bu Nadira, saya cuma sebentar.”

Wajahnya tegang.

Dia menyerahkan sebuah kantong plastik.

Di dalamnya ada puluhan lembar foto.

Aku hampir menjatuhkannya.

Foto-foto diriku.

Saat berjalan ke sekolah.

Saat membeli sayur.

Saat menyapu halaman.

Saat duduk membaca di teras.

Bahkan ada foto ketika aku tertidur di kursi dekat jendela.

Tanggalnya tersebar sepanjang lima tahun.

“Bu dapat dari mana?”

Bu Sari menelan ludah.

“Anak saya menemukan ini di rumah kosong milik Pakde Arga.”

Aku menatapnya.

“Kenapa baru diberikan sekarang?”

Matanya berkaca-kaca.

“Karena saya takut.”

Dia menoleh ke jalan sebelum melanjutkan.

“Bu Nadira, orang-orang di sini tidak semuanya setuju dengan Arga. Tapi keluarganya punya banyak tanah. Banyak warga bekerja di sawah mereka. Kepala dusun juga masih pamannya.”

Aku merasa mual.

“Apakah polisi tahu?”

Bu Sari menggeleng.

“Di desa ini orang lebih takut kehilangan pekerjaan daripada bicara.”

Aku membuka foto demi foto.

Kemudian aku menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.

Sebuah denah rumah dinasku.

Posisi kamar.

Jendela.

Pintu belakang.

Bahkan jadwal mengajarku ditulis dengan tangan.

Senin pulang 13.30.

Selasa rapat sampai 15.00.

Jumat belanja ke pasar.

Aku mengenali tulisan itu.

Tulisan Arga.

Aku pernah melihatnya ketika dia mengisi formulir bantuan sekolah.

Di bagian bawah denah terdapat satu kalimat.

Setelah mutasi turun, jangan biarkan dia pergi.

Aku langsung memotret semua bukti dengan ponsel.

“Bu Sari, saya harus keluar dari desa.”

“Ada jalan kebun menuju Desa Karangrejo. Motor bisa lewat, mobil tidak.”

“Siapa yang bisa mengantar saya?”

Bu Sari terdiam.

Lalu terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Wajahnya langsung pucat.

Arga.

Bu Sari buru-buru menyembunyikan kantong plastik di bawah meja.

Pintu diketuk.

“Nadira.”

Aku tidak menjawab.

“Nadira, buka.”

Ketukan berubah menjadi pukulan.

“Saya tahu Bu Sari di dalam.”

Bu Sari menutup mulutnya.

Arga tertawa dari luar.

“Bu Sari, suami Ibu masih menggarap sawah keluarga saya, kan?”

Perempuan itu mulai menangis.

Aku menggenggam tangannya.

“Jangan keluar.”

Lalu terdengar suara lain.

“Pak Arga!”

Itu suara anak laki-laki.

“Dari balai desa ada yang cari!”

Arga berhenti mengetuk.

Beberapa detik kemudian suara motornya menjauh.

Bu Sari berdiri.

“Kita cuma punya waktu sedikit.”

Kami keluar lewat pintu belakang.

Anak Bu Sari sudah menunggu dengan motor di dekat kebun kopi.

Aku hanya membawa tas ransel berisi dokumen dan bukti. Koper kutinggalkan.

Motor melaju melewati jalan tanah sempit di antara kebun.

Baru sekitar dua kilometer, suara mesin lain terdengar dari belakang.

Aku menoleh.

Arga.

Dia mengejar kami.

“Jangan berhenti!” teriakku.

Motor kami melaju semakin cepat.

Jalan licin dan berbatu. Di sisi kanan terdapat lereng curam.

Arga semakin dekat.

“Nadira!”

Aku mendengar teriakannya.

“Kamu pikir bisa kabur begitu saja?”

Tiba-tiba dia menyalip dan menghadang.

Anak Bu Sari mengerem mendadak.

Aku hampir terlempar.

Arga turun dari motor.

Wajahnya tidak lagi seperti pemuda ramah yang kukenal.

“Turun.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kamu mendekat, semua foto ini akan kukirim ke polisi.”

Dia tertawa.

“Tidak ada sinyal.”

“Memang.”

Aku mengangkat ponsel.

“Tapi ponselku sedang merekam.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan.

“Ulangi lagi. Katakan kamu memotretku selama lima tahun. Katakan kamu sengaja menutup jalan.”

Arga maju hendak merebut ponsel.

Namun suara motor lain muncul.

Lalu satu lagi.

Bu Sari datang bersama beberapa warga.

Di belakang mereka, kepala sekolahku, Pak Rahmat, ikut turun dari motor.

Arga berhenti.

Pak Rahmat menatapnya tajam.

“Cukup, Ga.”

“Ini urusan saya sama calon istri saya.”

“Dia bukan calon istrimu.”

“Ibu saya sudah menentukan hari.”

“Menentukan hari bukan berarti mendapatkan persetujuan.”

Arga berteriak, “Dia menerima seserahan!”

Aku mengeluarkan telur rebus dari bekal anak Bu Sari yang tadi sempat diberikan kepadaku.

Aku mengangkatnya.

“Kalau menerima telur berarti setuju menikah, berarti hari ini aku bisa menikahi siapa pun yang menerima telur ini?”

Tak seorang pun menjawab.

Beberapa warga menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di wajah mereka.

Aku memandang satu per satu.

“Lima tahun saya mengajar anak-anak kalian. Saya datang ketika mereka sakit. Saya membantu mengurus beasiswa. Saya mengajar tambahan tanpa meminta bayaran.”

Suaraku bergetar.

“Tapi ketika seorang laki-laki mengatakan saya miliknya hanya karena saya menerima satu butir telur, sebagian dari kalian tertawa.”

Suasana mendadak sunyi.

“Kalau hari ini kalian membiarkan saya dipaksa, besok hal yang sama bisa terjadi pada anak perempuan kalian.”

Seorang bapak di belakang Pak Rahmat maju.

“Biarkan Bu Nadira pergi.”

Lalu seorang perempuan ikut bicara.

“Dia benar.”

Arga menatap mereka tidak percaya.

“Kalian lupa kerja di tanah siapa?”

Pak Rahmat menjawab pelan.

“Tanah bisa dicari. Harga diri tidak.”

Wajah Arga merah padam.

Dia tiba-tiba menerjangku.

Namun beberapa warga langsung menahannya.

Aku tidak menunggu.

Aku naik kembali ke motor dan pergi menuju Karangrejo.

Begitu mendapatkan sinyal, hal pertama yang kulakukan adalah mengirim seluruh foto, rekaman, dan lokasi kepada kakakku di Semarang.

Hal kedua adalah menelepon polisi.

Tiga hari kemudian, aku kembali ke Sukamaju.

Bukan sendirian.

Aku datang bersama dua polisi, seorang petugas dari dinas pendidikan, dan kakakku.

Rumah kosong milik keluarga Arga diperiksa.

Apa yang ditemukan di sana jauh lebih buruk daripada dugaanku.

Ada ratusan foto.

Bukan hanya foto diriku.

Ada buku catatan tentang rutinitasku, salinan jadwal sekolah, foto rumah orang tuaku di Semarang, bahkan cetakan tangkapan layar akun media sosialku.

Di sebuah lemari terkunci, polisi menemukan kotak berisi barang-barang kecil.

Jepit rambutku yang pernah hilang.

Kartu perpustakaan lama.

Saputangan.

Bahkan sebuah cangkir retak yang pernah kubuang.

Namun penemuan terbesar justru berada di rumah baru Arga.

Di kamar utama sudah tergantung foto pernikahan.

Tubuh pengantin perempuan dalam foto itu mengenakan kebaya putih.

Wajahnya adalah wajahku.

Hasil editan.

Di bawahnya tertulis tanggal delapan bulan depan.

Arga tidak sedang merencanakan pernikahan.

Dalam pikirannya, pernikahan itu sudah terjadi.

Ketika polisi membawanya, ibunya berteriak bahwa aku menghancurkan hidup anaknya.

Aku menatap perempuan itu.

“Bukan saya yang menghancurkan hidupnya. Selama bertahun-tahun Ibu membiarkan dia percaya bahwa keinginannya lebih penting daripada persetujuan orang lain.”

Perempuan itu terdiam.

Sebulan kemudian aku resmi pindah ke Semarang.

Kupikir semuanya selesai.

Sampai suatu sore aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu foto.

Foto diriku pada hari pertama tiba di Sukamaju lima tahun lalu.

Aku berdiri di pinggir jalan dengan koper yang rodanya terjebak lumpur.

Di belakangku terlihat Arga muda sedang berjalan mendekat.

Awalnya aku tidak memahami apa yang aneh.

Lalu aku membalik foto itu.

Ada tulisan tangan.

Saya minta maaf karena baru berani mengirim ini sekarang.

Foto ini bukan milik Arga.

Saya yang memotretnya.

Di bawah tulisan itu ada nama.

Dimas.

Aku mengingatnya.

Dimas adalah teman masa kecil Arga yang pindah ke Kalimantan empat tahun lalu.

Nomor telepon tercantum di bawah nama.

Aku meneleponnya.

Seorang laki-laki menjawab.

“Bu Nadira?”

“Foto ini maksudnya apa?”

Dia terdiam cukup lama.

“Saya harus mengatakan sesuatu yang seharusnya saya katakan lima tahun lalu.”

Dadaku sesak.

“Apa?”

“Hari pertama Ibu datang, Arga belum mengenal Ibu.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Dia melihat foto yang saya ambil. Setelah itu dia meminta salinannya.”

Dimas menarik napas.

“Besoknya dia sengaja menunggu di jalan yang biasa dilewati guru baru. Koper Ibu bukan kebetulan terjebak lumpur.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

“Arga yang membuat lubang itu lebih dalam malam sebelumnya.”

Tanganku menjadi dingin.

Berarti pertemuan pertama kami pun sudah direncanakan.

Namun Dimas belum selesai.

“Saya pindah bukan karena pekerjaan seperti yang orang desa bilang. Saya pergi karena pernah bertengkar dengan Arga. Waktu itu saya menemukan kotak foto Ibu. Saya bilang akan memberi tahu Ibu.”

“Lalu kenapa tidak?”

“Dia mengancam keluarga saya.”

Aku memejamkan mata.

“Kenapa sekarang kamu berani?”

“Karena setelah dia ditangkap, saya sadar diam saya selama ini ikut membuat semuanya menjadi lebih buruk.”

Aku menatap foto itu lagi.

Diriku yang berusia dua puluh empat tahun berdiri tersenyum di tengah jalan, tidak tahu bahwa beberapa meter di belakangnya ada seseorang yang sebentar lagi akan memasuki hidupnya dengan berpura-pura menjadi penolong.

Sebelum menutup telepon, Dimas berkata pelan.

“Bu Nadira, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Arga pernah bilang dia tidak takut Ibu menolaknya.”

“Kenapa?”

“Karena katanya, kalau seseorang cukup lama dibuat merasa berutang budi, suatu hari dia akan sulit membedakan rasa terima kasih dengan cinta.”

Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika murid-muridku bertanya mengapa aku selalu mengajarkan mereka untuk berani mengatakan tidak, aku tidak pernah menceritakan seluruh kisah Sukamaju.

Aku hanya mengatakan satu hal.

Kebaikan yang tulus tidak pernah menagih kepemilikan.

Hadiah bukan kontrak.

Pertolongan bukan utang perasaan.

Dan tidak peduli berapa lama seseorang menunggu, berapa banyak uang yang dia keluarkan, berapa besar rumah yang dia bangun, atau berapa banyak kebaikan yang pernah dia lakukan, tidak ada seorang pun yang berhak mengubah kata tidak menjadi iya.

Karena cinta yang membutuhkan jebakan untuk mendapatkannya bukanlah cinta.

Itu hanya obsesi yang sedang mencari nama yang lebih indah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang