AKU MEMBUATKAN GIGI PALSU GRATIS UNTUK SEORANG PEMULUNG, TAPI MALAMNYA AKU MENEMUKAN NOMOR REKENING KLINIKKU TERUKIR DI KOIN BAYARANNYA YANG TAK PERNAH KUKENAL.

“Kalau Jumat belum ada pembayaran Rp186 juta, kursi dental dan kompresor ini kami tarik.”

Pria dari perusahaan pembiayaan menempelkan surat merah di pintu Klinik Senyum Aruna lalu pergi tanpa memberiku kesempatan menjelaskan untuk kesekian kalinya bahwa aku tidak pernah membeli peralatan itu.

Aku berdiri di depan pintu klinik dengan tangan dingin.

Namaku drg. Ayu Prameswari. Klinik kecil di Malang itu kubangun dari nol selama tujuh tahun. Aku bahkan masih ingat bagaimana dulu aku mengecat sendiri dinding ruang tunggu karena tidak punya cukup uang untuk membayar tukang.

Namun sekarang seseorang menggunakan namaku untuk membuat utang Rp186 juta.

Dan ternyata itu baru permulaan.

Seminggu setelah aku membuatkan gigi palsu gratis untuk Bu Marni, sebuah kepingan kuningan dari kaleng biskuitnya membawaku pada sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Di portal pengadaan, ada tiga puluh delapan tagihan atas nama Klinik Senyum Aruna.

Totalnya Rp312 juta.

Semua sudah dibayar.

Semua menggunakan nomor izin praktikku.

Dan seluruh uang masuk ke rekening bank berakhiran 7081 atas nama Drg. Ayu Prameswari.

Namaku sendiri.

Aku menatap layar sampai mataku perih.

Tidak mungkin.

Aku hanya memiliki dua rekening bank. Rekening pribadi dan rekening operasional klinik. Tidak satu pun berakhiran 7081.

Aku membuka detail dokumen pertama.

Program Senyum Lansia Kecamatan Klojen.

Penerima manfaat sebanyak delapan puluh orang.

Penyedia layanan Klinik Senyum Aruna.

Penanggung jawab Drg. Ayu Prameswari.

Tanda tangannya sangat mirip dengan milikku.

Bahkan stempel klinik tampak asli.

Aku memperbesar foto dokumentasi.

Seorang nenek berdiri sambil memegang token kuningan bertuliskan SA-7042. Di belakangnya ada spanduk besar dengan logo klinikku.

Tetapi aku tidak pernah bertemu perempuan itu.

Jantungku berdetak semakin cepat ketika mendengar suara pintu terbuka.

Lani masuk.

“Dok, belum pulang?”

Refleks aku menutup laptop.

“Belum.”

Lani meletakkan tasnya di meja.

“Besok saya datang agak siang, ya. Mau ke bank dulu.”

Aku menatap wajahnya.

Selama empat tahun Lani menjadi admin klinikku. Ia memegang jadwal pasien, dokumen pajak, fotokopi izin praktik, bahkan pernah membantuku mengurus pembaruan sertifikat elektronik.

Tiba-tiba semua itu terasa seperti daftar benda yang bisa digunakan untuk menghancurkanku.

“Bank mana?”

Lani berhenti.

“BCA.”

Rekening 7081 juga BCA.

Aku tersenyum tipis.

“Oh.”

Malam itu aku tidak tidur.

Pagi-pagi sekali aku pergi ke cabang bank membawa KTP, NPWP, dan dokumen praktik.

Petugas membutuhkan hampir satu jam sebelum akhirnya memanggil manajer cabang.

“Bu Ayu, memang ada rekening atas nama Ibu.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Dibuka kapan?”

“Delapan bulan lalu.”

“Saya tidak pernah membuka rekening itu.”

Manajer itu terdiam.

Aku meminta formulir pembukaan rekening.

Karena kasusnya dianggap sengketa identitas, mereka tidak bisa langsung menyerahkan seluruh dokumen. Namun setelah aku membuat laporan keberatan resmi, petugas memperlihatkan beberapa informasi dasar.

Nomor telepon yang terdaftar bukan nomorku.

Alamat emailnya juga bukan milikku.

Tetapi foto KTP, NPWP, dan tanda tangannya milikku.

“Transaksinya masih aktif?”

Manajer itu mengangguk.

“Saldo saat ini sekitar dua puluh sembilan juta rupiah.”

“Uang sebelumnya ke mana?”

“Kami harus menunggu prosedur resmi untuk memberikan mutasi lengkap.”

Aku menahan napas.

“Tolong blokir rekeningnya.”

Dalam perjalanan kembali ke klinik, teleponku bergetar.

Lani.

“Dok, Ibu di mana?”

“Sedang beli bahan.”

“Bahan apa?”

Aku terdiam.

Itu bukan pertanyaan yang biasa ia ajukan.

“Kenapa?”

“Enggak. Cuma nanya.”

Saat tiba di klinik, kursi Lani kosong.

Tasnya tidak ada.

Aku menelepon.

Nomornya sudah tidak aktif.

Aku membuka laci mejanya.

Kosong.

Bahkan buku catatan yang biasanya penuh dengan nomor pasien sudah hilang.

Di bawah meja hanya tersisa satu kartu nama laboratorium gigi.

Laboratorium Gigi Mandala.

Aku mengenal tempat itu.

Pemiliknya bernama Rudi Santoso, teknisi gigi yang pernah bekerja sama denganku sekitar tiga tahun lalu.

Aku langsung menelepon.

“Pak Rudi, ini Ayu.”

Suara di seberang mendadak gugup.

“Oh, Dok Ayu.”

“Saya mau tanya tentang Program Senyum Lansia.”

Sunyi.

“Program apa, Dok?”

“Yang memakai nama klinik saya.”

Telepon langsung ditutup.

Aku tahu saat itu juga aku tidak sedang menghadapi kesalahan administrasi.

Aku pergi ke kantor polisi sore itu.

Semua dokumen kuserahkan.

Rekening palsu.

Tagihan pengadaan.

Surat pembiayaan alat.

Pemalsuan tanda tangan.

Polisi menyarankanku tidak menghubungi Lani atau Rudi lagi.

Tetapi ada satu hal yang terus menggangguku.

Bu Marni.

Bagaimana ia mendapatkan token itu?

Aku mencari perempuan tua itu di sekitar Pasar Besar.

Dua jam kemudian aku menemukannya sedang memilah botol plastik di dekat tumpukan kardus.

Ketika melihatku, ia tersenyum lebar.

Gigi palsu yang kubuat terlihat sedikit terlalu putih dibanding wajahnya yang terbakar matahari.

“Dokter Ayu!”

Aku duduk di sampingnya.

“Bu, saya mau tanya soal koin yang Ibu berikan.”

Senyumnya menghilang.

“Koin kuningan?”

“Iya.”

Bu Marni menatap kanan kiri.

“Dulu ada orang datang ke kampung kami. Katanya ada program gigi gratis untuk lansia miskin.”

“Siapa?”

“Perempuan muda. Rambut sebahu. Pakai seragam klinik.”

Aku menunjukkan foto Lani.

Bu Marni langsung menunjuk.

“Dia.”

Dadaku serasa ditimpa batu.

“Lalu?”

“Kami difoto satu-satu. Disuruh pegang koin itu. Katanya sebagai bukti sudah menerima pelayanan.”

“Apakah Ibu dibuatkan gigi palsu?”

Bu Marni tertawa hambar.

“Tidak.”

Aku terdiam.

“Katanya antreannya panjang. Kami diminta tanda tangan dulu supaya dana dari pemerintah bisa cair. Setelah itu disuruh menunggu.”

“Berapa orang?”

“Banyak. Dari beberapa kampung.”

“Kenapa koinnya masih ada pada Ibu?”

“Harusnya dikembalikan. Tapi waktu itu saya masukkan ke saku dan lupa.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Mereka tidak hanya mencuri namaku.

Mereka menggunakan orang-orang miskin sebagai pasien fiktif.

Sore itu polisi menemukan sesuatu yang lebih besar.

Rekening 7081 menerima Rp312 juta dari program pemerintah, tetapi dalam delapan bulan total transaksi masuknya mencapai lebih dari Rp1,1 miliar.

Ada pembayaran dari program pemeriksaan gigi anak, pengadaan alat kesehatan, sampai subsidi perawatan lansia.

Sebagian uang dipindahkan ke rekening Lani.

Sebagian ke rekening Rudi.

Namun sekitar Rp540 juta mengalir ke satu rekening lain.

Pemiliknya membuatku hampir menjatuhkan ponsel.

Drg. Bima Adinata.

Mantan suamiku.

Aku menikah dengan Bima selama enam tahun.

Kami bercerai dua tahun lalu setelah aku mengetahui ia diam-diam menggunakan uang tabungan kami untuk investasi yang gagal.

Dulu ia juga dokter gigi.

Surat izin praktiknya dicabut sementara setelah terlibat pelanggaran administrasi di klinik tempatnya bekerja.

Aku tidak pernah membayangkan ia akan kembali menggunakan hidupku sebagai jalan keluar.

Malam itu aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Cabut laporanmu kalau tidak mau klinikmu benar-benar habis.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu sebuah foto masuk.

Foto Klinik Senyum Aruna dari seberang jalan.

Seseorang sedang mengawasiku.

Polisi meminta aku tidak pulang sendirian.

Dua hari kemudian, Lani ditangkap di sebuah penginapan di Batu.

Dari laptopnya, polisi menemukan puluhan dokumen yang menggunakan identitasku.

Namun saat diperiksa, Lani menangis dan mengatakan dirinya hanya mengikuti perintah.

“Pak Bima yang mengatur semuanya,” katanya.

Bima mengetahui seluruh sistem klinikku.

Ia tahu bentuk tanda tanganku.

Ia tahu nomor izin praktikku.

Ia bahkan masih memiliki salinan KTP dan NPWP-ku dari masa kami menikah.

Tetapi satu pertanyaan belum terjawab.

Mengapa ada utang alat kesehatan Rp186 juta?

Jawabannya muncul ketika polisi menggeledah gudang milik Rudi.

Di sana ditemukan dua kursi dental baru, satu kompresor, alat sterilisasi, dan puluhan kotak bahan kedokteran gigi.

Semuanya dibeli menggunakan pembiayaan atas nama Klinik Senyum Aruna.

Mereka berencana membuka klinik baru.

Nama yang sudah didaftarkan bahkan membuatku muak.

Senyum Arunika.

Logo dan warna identitasnya hampir sama dengan klinikku.

Bima tidak sekadar mencuri uang.

Ia sedang membuat salinan hidupku.

Tiga hari sebelum tenggat penyitaan, perusahaan pembiayaan akhirnya menghentikan penagihan setelah menerima surat penyidikan polisi.

Aku seharusnya merasa lega.

Tetapi Bima belum ditemukan.

Sampai Jumat malam.

Saat aku hendak menutup klinik, seseorang mengetuk pintu.

Bima berdiri di luar.

Tubuhnya lebih kurus daripada terakhir kali kulihat. Matanya merah dan rambutnya berantakan.

Aku tidak membuka pintu.

“Ayu, kita bicara.”

“Pergi.”

“Aku cuma butuh lima menit.”

“Aku sudah memberikan dua tahun hidupku untuk melupakanmu. Lima menit pun terlalu mahal.”

Wajahnya berubah.

“Aku melakukan semua ini karena tidak punya pilihan.”

Aku tertawa pendek.

“Memalsukan identitasku itu pilihan.”

“Aku punya utang.”

“Bukan urusanku.”

“Kalau bisnis ini berhasil, semua akan kukembalikan.”

Aku menatapnya melalui kaca pintu.

“Termasuk gigi palsu Bu Marni?”

Ia diam.

“Termasuk ratusan lansia yang kau foto seolah-olah sudah mendapat perawatan?”

“Ayu, mereka tidak rugi apa-apa.”

Kalimat itu membuat seluruh amarahku mendadak tenang.

Aku membuka pintu sedikit.

“Tidak rugi?”

“Mereka tidak membayar.”

“Bu Marni dua tahun makan bubur karena menunggu gigi palsu yang menurut dokumenmu sudah ia terima.”

Bima menunduk.

“Orang seperti mereka tidak akan mengerti administrasi.”

Aku menatapnya lama.

“Justru karena kau berpikir begitu, kau pantas kehilangan semuanya.”

Dari ujung jalan, dua mobil polisi bergerak mendekat.

Wajah Bima langsung pucat.

Ia berbalik untuk lari.

Tidak sampai tiga puluh meter, polisi menangkapnya.

Barulah setelah itu aku tahu polisi memang memintaku membiarkan percakapan berlangsung karena mereka sudah melacak ponselnya.

Kasus itu membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Namaku akhirnya dibersihkan.

Rekening palsu dibekukan.

Utang Rp186 juta dinyatakan sebagai transaksi yang sedang disengketakan akibat pemalsuan identitas dan akhirnya tidak dibebankan kepadaku.

Lani mendapat hukuman karena keterlibatannya, meskipun ia bekerja sama dengan penyidik.

Rudi dan Bima diproses atas pemalsuan dokumen, penipuan, serta penyalahgunaan dana program.

Kupikir semuanya selesai.

Ternyata belum.

Suatu pagi, seorang petugas dari dinas datang ke klinikku membawa sebuah kotak.

Di dalamnya ada puluhan token kuningan.

“Ini barang bukti yang sudah tidak diperlukan.”

Aku mengambil satu.

SA-7081.

Nomor yang hampir menghancurkan hidupku.

Petugas itu kemudian memberikan daftar nama.

Ada seratus dua puluh enam lansia yang identitasnya pernah digunakan dalam program fiktif tersebut.

Sebagian besar belum pernah menerima perawatan apa pun.

Malam itu aku duduk sendirian di ruang praktik.

Saldo klinikku bahkan belum benar-benar pulih. Aku masih punya cicilan. Tabunganku terkuras untuk biaya hukum.

Secara masuk akal, aku seharusnya membuang daftar itu.

Tetapi aku teringat satu kalimat.

Besok saya mau beli sate.

Keesokan harinya aku menelepon laboratorium gigi.

“Saya punya seratus dua puluh enam nama.”

Petugas laboratorium tertawa karena mengira aku bercanda.

“Semuanya mau dibuatkan gigi palsu?”

“Yang memang membutuhkan.”

“Dok, biayanya besar.”

“Aku tahu.”

Aku menjual mobilku.

Beberapa teman dokter mendengar ceritanya dan ikut membantu. Sebuah fakultas kedokteran gigi di Malang mengirim mahasiswa koas di bawah supervisi. Beberapa laboratorium memberikan potongan biaya.

Kami menamai kegiatan itu Senyum yang Dikembalikan.

Bu Marni menjadi pasien pertama yang datang sebagai relawan.

Tugasnya sederhana.

Membagikan pisang kepada para lansia setelah pemasangan gigi.

Enam bulan kemudian, pasien terakhir selesai dirawat.

Namanya Pak Sumarno, tujuh puluh enam tahun, pemulung kardus yang kehilangan hampir semua giginya.

Setelah gigi palsunya terpasang, ia berkali-kali melihat dirinya di cermin.

“Dokter.”

“Ya, Pak?”

“Sekarang saya kelihatan kaya.”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“Orang kaya kan kalau senyum giginya lengkap.”

Semua orang di ruangan tertawa.

Namun aku justru menangis.

Malamnya, saat membersihkan lemari, aku menemukan kaleng biskuit penyok milik Bu Marni.

Uang Rp47.500 masih ada di dalamnya.

Aku tidak pernah membelanjakannya.

Di bawah tumpukan koin terdapat secarik kertas kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat.

Tulisan tangan Bu Marni tampak gemetar.

Untuk dokter yang mau memperbaiki gigi orang miskin saat hidup dokter sendiri sedang rusak.

Aku duduk lama sambil memegang kertas itu.

Dulu aku mengira kepingan kuningan SA-7081 adalah benda yang membawa bencana ke dalam hidupku.

Karena koin itulah aku menemukan rekening palsu, pengkhianatan orang yang kupercaya, dan kejahatan mantan suamiku.

Namun kemudian aku menyadari sesuatu.

Jika sore itu aku menolak Bu Marni karena ia hanya membawa Rp47.500, aku mungkin tidak pernah membuka kaleng itu.

Aku tidak akan menemukan tokennya.

Aku tidak akan mengetahui rekening 7081.

Dan pada Jumat berikutnya, peralatan klinikku mungkin sudah diangkut sementara ratusan juta rupiah terus dicuri menggunakan namaku.

Perempuan yang datang meminta pertolongan justru menyelamatkan hidupku.

Setahun kemudian, token SA-7081 tidak lagi tersimpan sebagai barang bukti.

Aku membingkainya dan menggantungnya di ruang tunggu Klinik Senyum Aruna.

Di bawahnya kutulis satu kalimat.

Kadang-kadang, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tidak kembali sebagai uang.

Ia kembali sebagai jalan keluar yang tidak pernah kita tahu sedang kita butuhkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang