Di dalam amplop itu bukan uang.
Bu Sulastri menemukan selembar surat yang dilipat rapi dan sebuah kunci kecil berwarna perak. Di sudut kertas, ada tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan yang dulu sering memenuhi buku-buku sekolah anak laki-laki yang dibesarkannya seorang diri.
Ibu, maafkan aku.
Diam-diam aku sangat menyayangimu.
Bu Sulastri menutup mulutnya dengan tangan. Dadanya terasa sesak.
Ia membaca kalimat berikutnya dengan mata yang mulai kabur.
Kalau Ibu menemukan surat ini, berarti Ibu sudah sampai di rumah. Tolong jangan kembali ke rumahku malam ini. Apa pun yang terjadi, jangan telepon aku. Besok pagi pukul sembilan, datanglah ke kantor Notaris Bima Santoso di Jalan Kaliurang. Bawa kunci yang ada di dalam amplop ini.
Percayalah kepadaku untuk terakhir kalinya.
Ardi.
Bu Sulastri membaca surat itu berulang kali.
Semakin dibaca, semakin ia tidak mengerti.
Kalau Ardi menyayanginya, mengapa tadi membiarkan Rina mengusirnya di tengah hujan?
Mengapa putranya tidak memberikan uang ketika tahu ibunya kelaparan?
Dan untuk apa kunci kecil itu?

Malam itu Bu Sulastri hampir tidak tidur.
Suara hujan menghantam atap seng rumahnya. Sesekali ia memandang kantong beras di sudut dapur, lalu kembali menggenggam kunci tersebut.
Kenangan puluhan tahun lalu datang satu per satu.
Suaminya meninggal ketika Ardi baru berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, Bu Sulastri bekerja apa saja demi anaknya. Ia menjual gorengan sebelum subuh, mencuci pakaian tetangga, bahkan pernah menjual satu-satunya gelang emas peninggalan ibunya agar Ardi bisa membayar uang masuk sekolah.
Ketika Ardi membuka toko bangunan pertamanya, Bu Sulastri juga menjual sebidang sawah warisan keluarganya.
Saat itu Ardi memeluknya sambil menangis.
Suatu hari aku akan membuat Ibu hidup enak.
Bu Sulastri tersenyum pahit mengingat janji itu.
Entah kapan anak kecil yang dulu tidur sambil memeluk lengannya berubah menjadi lelaki yang bahkan tidak berani membelanya di depan istrinya.
Pagi berikutnya, Bu Sulastri mengenakan kebaya sederhana yang paling rapi. Ia menyimpan surat dan kunci di dalam tas kain, lalu naik angkot menuju Jalan Kaliurang.
Tepat pukul sembilan, ia berdiri di depan kantor notaris.
Seorang pegawai langsung menghampirinya.
“Ibu Sulastri?”
“Iya.”
“Pak Bima sudah menunggu.”
Bu Sulastri semakin heran.
Di dalam ruangan, seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun berdiri menyambutnya.
“Silakan duduk, Bu.”
Setelah Bu Sulastri duduk, Pak Bima mengeluarkan sebuah map tebal.
“Sebelum saya menjelaskan semuanya, saya perlu memastikan sesuatu. Apakah Ibu menerima kunci dari Pak Ardi?”
Bu Sulastri meletakkannya di meja.
Pak Bima mengangguk.
“Berarti beliau berhasil.”
“Berhasil apa, Pak?”
Pak Bima terdiam beberapa detik.
“Melindungi Ibu.”
Bu Sulastri menatapnya tak mengerti.
Pak Bima kemudian membuka map.
“Tiga bulan lalu, Pak Ardi datang menemui saya. Beliau meminta saya mengurus pengalihan beberapa aset atas nama Ibu.”
“Aset?”
“Rumah yang sekarang ditempati Pak Ardi dan istrinya berdiri di atas tanah yang secara hukum masih menjadi milik Ibu.”
Bu Sulastri terbelalak.
“Tapi tanah itu sudah saya berikan kepada Ardi.”
“Tidak pernah ada akta hibah, Bu. Sertifikatnya masih atas nama Ibu.”
Pak Bima mengeluarkan fotokopi sertifikat.
Tangan Bu Sulastri bergetar.
Ia baru teringat. Belasan tahun lalu, ia memang mengizinkan Ardi membangun rumah di tanah tersebut. Karena Ardi anak satu-satunya, ia tidak pernah memikirkan urusan surat-menyurat.
Pak Bima melanjutkan.
“Bukan hanya itu. Modal awal toko bangunan Pak Ardi berasal dari hasil penjualan sawah Ibu. Pak Ardi menyimpan semua bukti transfer dan dokumen lama.”
“Kenapa Ardi melakukan semua ini sekarang?”
Wajah Pak Bima berubah serius.
“Karena istrinya berencana menjual rumah itu.”
Bu Sulastri membeku.
Pak Bima menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir usaha Ardi mengalami masalah. Bukan karena tokonya merugi, tetapi karena Rina diam-diam menggunakan uang perusahaan untuk investasi daring dan terlilit utang hampir satu miliar rupiah.
Untuk menutup utang, Rina meminta Ardi menjual rumah.
Namun ketika memeriksa dokumen, Rina baru mengetahui tanah tersebut masih atas nama Bu Sulastri.
Sejak saat itu, sikapnya kepada sang mertua berubah semakin kasar.
“Pak Ardi menduga istrinya akan memaksa Ibu menandatangani surat pengalihan hak,” kata Pak Bima.
Bu Sulastri teringat beberapa minggu sebelumnya Rina memang pernah datang membawa beberapa lembar dokumen.
Katanya hanya surat administrasi keluarga.
Bu Sulastri hampir menandatanganinya.
Untung saat itu kacamatanya hilang sehingga ia meminta Rina datang lagi lain waktu.
“Lalu kenapa Ardi tidak mengatakan semuanya kepada saya?”
“Karena ponsel dan transaksi Pak Ardi diawasi istrinya.”
Bu Sulastri terdiam.
Pak Bima kemudian menunjukkan beberapa tangkapan layar percakapan.
Rina ternyata berkomunikasi dengan seorang penagih utang. Dalam salah satu pesan, perempuan itu menulis bahwa ia akan mendapatkan tanda tangan Bu Sulastri secepat mungkin.
Pesan berikutnya membuat darah Bu Sulastri terasa dingin.
Kalau perempuan tua itu tidak mau tanda tangan, aku akan memasukkannya ke panti jompo. Ardi tidak akan berani melawanku.
Air mata Bu Sulastri jatuh.
Bukan karena ucapan Rina.
Melainkan karena akhirnya ia memahami tatapan Ardi malam sebelumnya.
Putranya tidak terlihat marah.
Ia terlihat takut.
“Pak Ardi sengaja memberikan kantong beras itu sendiri,” lanjut Pak Bima. “Beliau tahu istrinya tidak akan memeriksa beras yang diberikan kepada Ibu.”
“Lalu kunci ini?”
Pak Bima tersenyum tipis.
“Itu kunci kotak penyimpanan bank.”
Siang itu mereka pergi ke sebuah bank di pusat Yogyakarta.
Di dalam ruang penyimpanan, Bu Sulastri membuka kotak bernomor 117.
Isinya membuatnya terduduk.
Ada sertifikat tanah, buku tabungan atas namanya, beberapa dokumen, dan sebuah buku kecil berwarna cokelat.
Saldo rekening itu lebih dari tiga ratus juta rupiah.
Bu Sulastri menatap Pak Bima.
“Uang siapa ini?”
“Pak Ardi menyisihkannya selama bertahun-tahun untuk Ibu.”
Bu Sulastri membuka buku cokelat.
Di halaman pertama tertulis sebuah tanggal dari sebelas tahun lalu.
Hari ini toko mendapat keuntungan pertama. Aku menyimpan lima ratus ribu untuk Ibu. Belum banyak, tetapi suatu hari akan cukup untuk membuat Ibu tidak perlu bekerja lagi.
Halaman berikutnya berisi catatan serupa.
Setiap bulan.
Selama bertahun-tahun.
Ada satu halaman yang membuat tangannya berhenti.
Hari ini Rina marah karena aku kembali mengirim uang kepada Ibu. Kami bertengkar besar. Aku salah karena memilih diam. Kupikir diam akan menjaga rumah tanggaku. Ternyata diam justru membuat Ibu semakin terluka.
Bu Sulastri menangis tanpa suara.
Selama ini ia mengira putranya telah melupakannya.
Namun rupanya ada sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar cinta dan kebencian.
Ada ketakutan.
Ada kelemahan.
Dan ada kesalahan yang terlalu lama dibiarkan.
Ketika Bu Sulastri kembali ke rumah sore itu, sebuah mobil sudah terparkir di depan halaman.
Rina berdiri di sana.
Wajahnya merah padam.
“Dari mana Ibu?”
Bu Sulastri menggenggam tongkatnya.
“Dari kantor notaris.”
Wajah Rina langsung berubah.
“Notaris apa?”
Belum sempat Bu Sulastri menjawab, Rina merebut tas kain dari tangannya.
“Mana suratnya?”
“Rina!”
Suara keras terdengar dari belakang.
Ardi turun dari mobil lain.
Untuk pertama kalinya, Bu Sulastri melihat putranya berdiri tegak di hadapan istrinya.
“Kembalikan tas Ibu.”
Rina tertawa sinis.
“Jadi ini rencanamu? Diam-diam memindahkan harta kepada ibumu?”
“Itu bukan hartaku.”
“Rumah itu rumah kita!”
“Bangunannya mungkin kita yang membayar. Tapi tanahnya milik Ibu.”
Rina mendekati suaminya.
“Aku istrimu!”
“Dan dia ibuku.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Ardi berjalan menghampiri Bu Sulastri.
Matanya merah.
“Maafkan aku, Bu.”
Bu Sulastri tidak menjawab.
“Aku terlalu pengecut. Bertahun-tahun aku tahu Rina memperlakukan Ibu dengan buruk, tapi aku selalu berpikir kalau aku diam, masalah akan selesai.”
Suaranya mulai bergetar.
“Ternyata setiap kali aku diam, aku sedang membiarkan Ibu terluka.”
Rina mendengus.
“Jangan sok menjadi anak berbakti! Kemarin siapa yang mengusir ibunya sendiri?”
Ardi menatapnya.
“Aku sengaja membiarkan Ibu pergi karena malam itu kau sudah menyiapkan surat pengalihan tanah.”
Rina terdiam.
“Aku melihat dokumennya di kamar.”
Wajah perempuan itu memucat.
“Aku tahu kalau aku memberikan uang kepada Ibu atau mengantarnya pergi, kau akan curiga. Jadi aku memasukkan surat dan kunci ke dalam beras.”
Rina mulai panik.
“Kamu tidak punya bukti apa pun!”
“Punya.”
Sebuah suara muncul dari belakang.
Pak Bima datang bersama dua orang pria.
Salah satunya adalah petugas kepolisian.
Rina mundur selangkah.
Ardi ternyata sudah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana perusahaan beberapa hari sebelumnya.
Setelah pemeriksaan panjang, terungkap bahwa tanda tangan Ardi pada beberapa dokumen pinjaman telah dipalsukan. Rina juga menggunakan rekening toko untuk menjamin utang investasinya.
Namun kejutan terbesar baru muncul beberapa minggu kemudian.
Ardi datang ke rumah Bu Sulastri membawa sebuah koper kecil.
“Aku akan pindah sementara, Bu.”
“Ke mana?”
“Kontrakan dekat toko.”
Bu Sulastri menatap anaknya.
“Bagaimana dengan Rina?”
Ardi menunduk.
“Kami sedang mengurus perceraian.”
Bu Sulastri tidak merasa senang mendengarnya.
Ia hanya merasa lelah.
“Ardi.”
“Iya, Bu?”
“Duduklah.”
Ardi duduk di kursi bambu di samping ibunya.
Bu Sulastri mengambil surat yang ditemukan dalam kantong beras malam itu.
“Kamu menulis bahwa kamu sangat menyayangi Ibu.”
Ardi menunduk.
“Kenapa harus diam-diam?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Ardi tidak mampu menjawab.
Bu Sulastri menggenggam tangan anaknya.
“Kasih sayang yang hanya disimpan dalam hati kadang tidak cukup, Nak.”
Air mata Ardi jatuh.
“Ibu tidak membutuhkan rumah besar. Tidak membutuhkan mobil. Bahkan uang tiga ratus juta itu bukan yang paling Ibu inginkan.”
“Apa yang Ibu inginkan?”
“Anak Ibu.”
Ardi langsung memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bu Sulastri kembali merasakan pelukan anak kecil yang dulu berjanji akan membuatnya bahagia.
Beberapa bulan kemudian, Ardi memperbaiki rumah bambu ibunya.
Namun Bu Sulastri menolak ketika Ardi ingin membangun rumah mewah.
“Cukup perbaiki atapnya. Ibu tidak mau lagi kehujanan.”
Ardi tertawa sambil mengusap air mata.
Setiap pagi sebelum membuka toko, ia datang membawa sarapan.
Kadang bubur ayam.
Kadang gudeg.
Kadang hanya teh hangat dan pisang goreng.
Bu Sulastri tidak pernah lagi meminta uang.
Bukan karena rekeningnya kini berisi ratusan juta.
Melainkan karena Ardi akhirnya memahami bahwa yang dibutuhkan seorang ibu di usia senja sering kali bukanlah uang, melainkan kepastian bahwa dirinya masih dianggap bagian dari kehidupan anaknya.
Suatu sore, ketika mereka sedang minum teh di teras, Ardi melihat kantong beras lama tergantung di dapur.
“Ibu masih menyimpan karung itu?”
Bu Sulastri tersenyum.
“Masih.”
“Untuk apa?”
“Supaya Ibu tidak lupa.”
“Tidak lupa apa?”
Bu Sulastri menatap putranya lama.
“Bahwa kadang-kadang sesuatu yang terlihat seperti penghinaan bisa menyimpan kasih sayang. Tapi Ibu juga menyimpannya supaya kamu tidak lupa bahwa kasih sayang seharusnya tidak perlu disembunyikan.”
Ardi terdiam.
Lalu ia menggenggam tangan ibunya.
Keesokan harinya, ketika Bu Sulastri membuka pintu rumah, ia menemukan sekantong beras baru di teras.
Di atasnya ada sebuah amplop putih.
Jantungnya berdegup ketika membukanya.
Namun kali ini hanya ada satu kalimat.
Bu, hari ini tidak ada rahasia di dalam beras ini. Aku cuma mau bilang aku sayang Ibu, dan kali ini aku tidak akan mengatakannya diam-diam lagi.
Bu Sulastri tertawa sambil menangis.
Dari ujung halaman, Ardi berdiri membawa dua bungkus gudeg.
“Ibu sudah baca?”
Bu Sulastri mengangguk.
“Sudah.”
“Marah?”
“Tidak.”
“Terus kenapa menangis?”
Bu Sulastri menghapus air matanya.
“Karena akhirnya anak Ibu belajar bahwa seorang ibu tidak seharusnya menunggu sampai menemukan surat tersembunyi di dalam sekantong beras hanya untuk tahu bahwa anaknya masih menyayanginya.”
Ardi berjalan mendekat dan memeluk ibunya.
Di bawah langit Yogyakarta yang mulai berubah jingga, Bu Sulastri akhirnya memahami satu hal.
Harta yang ia kumpulkan seumur hidup ternyata bukan tanah, bukan rumah, bukan pula uang di bank.
Harta itu adalah seorang anak yang pernah tersesat dalam ketakutannya sendiri, tetapi masih menemukan jalan pulang sebelum semuanya terlambat.
