“Nak, kenapa lehermu penuh luka lagi?”
Tanganku berhenti tepat di atas bahu Alya.
Putriku yang baru berusia sembilan tahun itu langsung menarik kerah bajunya lebih tinggi. Wajahnya menunduk, sementara rambut panjangnya yang dipotong tidak beraturan menutupi sebagian pipi.
“Kesenggol ranting, Bu.”
“Ranting?”
Alya mengangguk cepat.
Aku menatap bekas kebiruan di sisi lehernya. Ada dua goresan kecil di dekat tengkuk. Luka itu tidak parah, tetapi bukan pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti itu.
Setiap kali kami pulang dari rumah ayahku di sebuah desa di Jawa Tengah, selalu ada sesuatu yang berubah pada Alya.
Kadang rambutnya menjadi lebih pendek. Kadang ada memar di leher atau bahunya. Dan setiap kali kutanya, jawabannya selalu berbeda.
Jatuh.
Tergores pohon.
Digigit serangga.
Terbentur pintu.
Semula aku mempercayainya.
Sampai suatu hari aku mengajaknya ke salon.
“Akhir pekan nanti kita potong rambut, ya? Ibu sudah cari salon anak yang bagus.”
Wajah Alya seketika pucat.
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Nggak mau, Bu!”
Nada suaranya berubah menjadi teriakan.
Ketika aku mencoba membujuknya, Alya malah menangis sambil memegangi rambutnya.
“Jangan dipotong! Alya nggak mau!”

Reaksinya terlalu berlebihan untuk seorang anak yang hanya takut pergi ke salon.
Yang membuatku semakin bingung, dua hari kemudian saat kami mengunjungi ayahku, Alya justru berkata dengan santai, “Kek, rambut Alya sudah panjang.”
Ayahku tersenyum.
“Nanti Kakek rapikan.”
Aku yang sedang menata makanan di meja langsung menoleh.
Ayahku bukan tukang cukur.
Tangannya bahkan sering gemetar sejak terkena stroke ringan dua tahun lalu.
Namun sore itu, seperti biasanya, ayah menggandeng Alya menuju gudang tua di belakang rumah.
Pintunya ditutup.
Lalu dikunci dari dalam.
Dadaku terasa sesak.
Aku mendekati gudang dan mengetuk.
“Ayah?”
“Kenapa?”
“Alya di dalam?”
“Iya.”
“Sedang apa?”
Hening beberapa detik.
“Potong rambut.”
Aku mencoba membuka pintu.
Terkunci.
“Ayah, kenapa harus dikunci?”
“Biar ayam nggak masuk.”
Jawaban itu terdengar konyol.
Aku berdiri di depan pintu hampir sepuluh menit.
Kemudian terdengar suara benda jatuh.
Disusul suara Alya mengerang pelan.
“Aduh…”
Aku langsung menggedor pintu.
“Alya!”
“Nggak apa-apa, Bu!” teriaknya cepat.
Aku ingin mendobrak masuk, tetapi kemudian ayah berkata dengan nada tegas yang jarang kudengar.
“Ratna, tunggu di rumah.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Bayangan paling buruk terus muncul di kepalaku.
Aku membenci diriku sendiri karena mencurigai ayah kandungku. Lelaki yang membesarkanku seorang diri setelah ibu meninggal. Lelaki yang menjual sawah agar aku bisa kuliah di Semarang.
Tetapi sekarang aku juga seorang ibu.
Dan jika ada kemungkinan sekecil apa pun seseorang menyakiti anakku, aku harus mengetahuinya.
Dua minggu kemudian kami kembali ke desa.
Aku sengaja berpura-pura tidur siang.
Sekitar pukul tiga, kudengar langkah kaki menuju halaman belakang.
Dari celah jendela, kulihat ayah membawa sebuah kotak perkakas. Alya berjalan di belakangnya.
Mereka masuk ke gudang.
Aku menunggu beberapa menit sebelum menyusul.
Ada celah kecil pada papan dinding gudang.
Aku mengintip.
Namun pandanganku terhalang lemari.
Yang terlihat hanya sebuah kursi kayu dan sebagian tubuh Alya.
Lalu mataku menangkap sesuatu di sudut atas ruangan.
Sebuah kamera kecil.
Lensanya mengarah tepat ke kursi.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Kenapa ada kamera?
Mengapa ayah merekam Alya?
Aku mundur dengan lutut gemetar.
Segala prasangka yang selama ini berusaha kutolak kini terasa semakin mengerikan.
Sekitar empat puluh menit kemudian pintu gudang terbuka.
Alya keluar lebih dahulu. Rambutnya kembali terlihat lebih pendek.
Di lehernya ada goresan merah.
Ayah berjalan di belakangnya sambil membawa sebuah kantong plastik hitam.
Aku bersembunyi di samping rumah.
Setelah mereka pergi, aku masuk ke gudang.
Tanganku gemetar ketika mengambil kamera itu.
Aku membawa laptop, mengunci pintu, lalu membuka kartu memorinya.
Ada puluhan rekaman.
Aku memilih video terbaru.
Gambar pertama memperlihatkan Alya duduk di kursi kayu.
Ayah berdiri di belakangnya.
Aku menahan napas.
“Alya siap?” tanya ayah.
“Siap, Kek.”
“Kalau sakit bilang.”
“Iya.”
Ayah mengambil gunting.
Kemudian perlahan memotong rambut Alya.
Aku memperbesar layar.
Barulah aku melihat sesuatu yang selama ini tidak kusadari.
Ayah tidak sekadar memotong rambutnya.
Ia memisahkan setiap helai dengan sangat hati-hati, mengukur panjangnya menggunakan penggaris kecil, lalu mengikatnya menjadi beberapa bagian sebelum dipotong.
Setelah selesai, rambut-rambut itu dimasukkan ke dalam kantong bening.
Aku mengerutkan kening.
Kemudian video berlanjut.
Ayah mengambil sebuah alat kecil dari kotak.
Tangannya gemetar.
Saat mencoba merapikan bagian belakang rambut Alya, ujung alat itu tanpa sengaja menyentuh kulit lehernya.
Alya meringis.
“Aduh.”
Ayah langsung berhenti.
“Maaf, Nak. Kakek sudah bilang tangan Kakek sekarang nggak seperti dulu.”
“Nggak apa-apa.”
“Kita berhenti saja.”
Alya menggeleng.
“Belum cukup, Kek.”
“Lehermu sudah merah.”
“Nggak apa-apa. Yang penting rambutnya bisa dipakai.”
Aku membeku.
Dipakai untuk apa?
Ayah lalu mengambil kotak dari bawah meja.
Di sana tertulis nama sebuah yayasan kanker anak di Semarang.
Aku menutup mulut.
Ayah mengangkat ikatan rambut yang baru dipotong.
“Ini sudah yang kelima.”
Alya tersenyum.
“Berarti tinggal berapa?”
“Kalau panjangnya memenuhi syarat, mungkin ini yang terakhir.”
Air mataku mulai jatuh.
Namun rekaman belum selesai.
Ayah duduk di samping Alya.
“Kamu yakin masih nggak mau bilang ke ibumu?”
Alya menggeleng.
“Jangan, Kek.”
“Kenapa?”
“Ibu nanti sedih.”
Ayah terdiam.
Alya kemudian mengatakan kalimat yang membuat seluruh tubuhku lemas.
“Waktu Ibu sakit dulu, rambut Ibu juga rontok semua.”
Aku seperti ditampar oleh ingatan yang selama bertahun-tahun berusaha kukubur.
Empat tahun sebelumnya, aku pernah didiagnosis kanker limfoma.
Alya masih berusia lima tahun.
Aku menjalani kemoterapi selama berbulan-bulan. Rambutku rontok sampai akhirnya harus dicukur habis.
Saat itu aku selalu memakai penutup kepala di depan Alya.
Kupikir dia terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi.
Ternyata aku salah.
Di layar, Alya melanjutkan.
“Waktu itu Alya dengar Ibu menangis di kamar mandi. Ibu bilang sama Tante Rika kalau Ibu takut Alya malu punya ibu yang botak.”
Aku menutup mulut agar isakanku tidak terdengar.
“Alya ingat?” tanya ayah.
“Ingat.”
“Padahal waktu itu kamu masih kecil.”
“Alya juga ingat Ibu pakai rambut palsu waktu datang ke sekolah.”
Ayah mengusap kepala cucunya.
“Itu sudah lama. Ibumu sekarang sehat.”
“Tapi anak-anak lain masih sakit, kan?”
Ayah mengangguk.
“Mereka juga kehilangan rambut?”
“Iya.”
“Makanya Alya mau kasih rambut.”
Ternyata beberapa bulan setelah aku dinyatakan sembuh, Alya pernah melihat tayangan tentang anak penderita kanker yang kehilangan rambut akibat kemoterapi.
Dia bertanya kepada kakeknya apakah rambutnya bisa diberikan kepada mereka.
Ayah kemudian mencari informasi tentang program donasi rambut.
Masalahnya, rambut Alya tumbuh lambat dan harus memenuhi panjang tertentu.
Sejak itu mereka memiliki rahasia kecil.
Alya memanjangkan rambut, kemudian ayah membantu memotong bagian yang memenuhi syarat.
Namun mengapa hasil potongannya selalu berantakan?
Jawabannya sederhana.
Ayah berusaha mengambil rambut sepanjang mungkin agar memenuhi persyaratan donasi. Karena tangannya gemetar, potongannya sering tidak rata.
Beberapa luka kecil di leher Alya juga terjadi ketika ayah tanpa sengaja menyentuh kulitnya dengan alat cukur.
Aku menangis semakin keras.
Namun masih ada satu pertanyaan.
Mengapa ada kamera?
Aku membuka rekaman lainnya.
Video pertama dibuat hampir setahun sebelumnya.
Dalam video itu, ayah duduk sendirian di depan kamera.
“Ratna, kalau suatu hari kamu melihat rekaman ini, mungkin kamu sedang marah sama Ayah.”
Aku terpaku.
Seolah-olah ayah sudah tahu aku akan menemukannya.
“Ayah pasang kamera ini karena tangan Ayah semakin sering gemetar. Ayah takut suatu hari Alya terluka dan kamu mengira yang bukan-bukan. Semua yang terjadi di sini harus terekam.”
Aku langsung menunduk.
Persis seperti yang kulakukan.
Aku sudah menuduh ayah dalam pikiranku.
Namun ucapan berikutnya membuat dadaku terasa lebih sakit.
“Ayah juga merekam karena dokter bilang ingatan Ayah mungkin akan semakin menurun.”
Aku menghentikan video.
Apa?
Aku memutar kembali.
“Ayah belum bilang kepadamu. Dokter menduga Ayah mengalami gejala awal demensia vaskular setelah stroke. Kadang Ayah lupa menaruh barang. Kadang Ayah bangun dan tidak ingat hari apa. Tapi Ayah masih ingat satu hal.”
Ayah tersenyum kecil ke kamera.
“Ayah masih ingat bagaimana kamu menangis waktu rambutmu rontok karena kemoterapi.”
Air mataku jatuh ke keyboard.
“Ayah nggak bisa menyelamatkan istri Ayah dulu. Waktu ibumu sakit, Ayah nggak punya uang. Lalu ketika kamu kena kanker, Ayah juga cuma bisa menemani. Sekarang cucu Ayah ingin membantu anak lain. Selama tangan ini masih bisa memegang gunting, Ayah ingin membantunya.”
Aku tidak sanggup melanjutkan.
Aku terduduk di lantai gudang sambil menangis.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Ayah berdiri di sana.
Alya berada di belakangnya.
Mereka melihat kamera di tanganku.
Wajah Alya langsung berubah.
“Ibu…”
Aku berdiri dan memeluknya.
“Kenapa nggak bilang sama Ibu?”
Alya mulai menangis.
“Karena Alya takut Ibu ingat waktu sakit.”
Aku memeluknya semakin erat.
“Luka di lehermu?”
“Kakek nggak sengaja.”
Ayah menunduk.
“Maaf. Tangan Ayah makin susah dikendalikan.”
Aku menatap ayah.
“Kenapa Ayah nggak bilang soal dokter?”
Ia tersenyum tipis.
“Kamu sudah terlalu banyak memikirkan hidupmu sendiri.”
Aku berjalan mendekatinya.
Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memeluk ayah seperti seorang anak kecil.
“Ayah bodoh.”
Ia tertawa pelan.
“Iya.”
“Aku hampir berpikir yang buruk tentang Ayah.”
“Makanya kamera itu dipasang.”
Aku memukul dadanya pelan sambil menangis.
“Kenapa semua orang di rumah ini hobinya menyimpan rahasia?”
Alya tiba-tiba ikut memeluk kami.
Hari itu aku membawa ayah ke Semarang.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan kondisi kognitifnya memang mulai menurun, tetapi dengan pengobatan, terapi, pola hidup yang baik, dan pendampingan keluarga, perkembangannya masih bisa diperlambat.
Aku juga membuat keputusan lain.
Tidak ada lagi kegiatan potong rambut diam-diam di gudang.
Bukan karena aku melarang Alya berdonasi.
Justru sebaliknya.
Beberapa bulan kemudian, kami pergi bertiga ke salon yang bekerja sama dengan komunitas pendamping pasien kanker.
Awalnya Alya gemetar ketika duduk di kursi.
Aku menggenggam tangannya.
“Kali ini Ibu di sini.”
Alya menatapku melalui cermin.
“Ibu nggak sedih?”
Aku tersenyum meski mata terasa panas.
“Sedih sedikit.”
“Karena ingat dulu?”
Aku mengangguk.
“Tapi Ibu lebih bangga.”
Rambut Alya dipotong dengan rapi dan dikemas sesuai standar donasi.
Untuk pertama kalinya dia tidak menangis di salon.
Beberapa minggu kemudian, kami menerima kabar bahwa rambutnya telah diterima.
Namun kejutan terbesar datang hampir setahun setelah itu.
Suatu hari sebuah paket tiba di rumah.
Di dalamnya ada sebuah foto.
Seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun tersenyum sambil mengenakan wig.
Aku tidak tahu apakah wig itu benar-benar dibuat dari rambut Alya atau gabungan rambut para donor lain. Pihak yayasan memang tidak pernah menjanjikan hubungan langsung antara donor dan penerima.
Namun di belakang foto terdapat tulisan tangan.
Terima kasih kepada semua orang yang telah menyumbangkan rambut. Putri kami akhirnya berani kembali ke sekolah tanpa menundukkan kepala.
Aku membacanya keras-keras.
Ayah yang duduk di kursi teras hanya terdiam.
Ingatan ayah saat itu sudah jauh menurun.
Ada hari-hari ketika ia lupa meletakkan kacamatanya.
Ada hari ketika ia memanggilku dengan nama ibu.
Bahkan terkadang ia lupa bahwa Alya adalah cucunya.
Namun sore itu, ketika Alya menunjukkan foto tersebut, ayah menatapnya lama.
“Cantik,” katanya.
Alya tersenyum.
“Iya, Kek.”
Ayah menunjuk rambut gadis dalam foto.
“Rambutmu?”
Alya terdiam.
Aku pun terdiam.
Kami tidak tahu apakah ayah benar-benar mengingat semuanya atau hanya sedang menebak.
Kemudian ia mengangkat tangannya yang gemetar dan mengusap kepala Alya.
“Tumbuhkan lagi.”
Alya langsung menangis.
Aku memalingkan wajah karena tidak mampu menahan air mata.
Beberapa detik kemudian ayah terlihat kebingungan.
“Kenapa kalian menangis?”
Aku berjongkok di depannya.
“Nggak apa-apa, Yah.”
Ia mengangguk, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Ingatan manusia bisa hilang.
Rambut bisa dipotong dan tumbuh kembali.
Tubuh bisa terluka dan sembuh.
Tetapi kebaikan memiliki caranya sendiri untuk bertahan lebih lama daripada orang yang melakukannya.
Bertahun-tahun aku mengira tugasku sebagai ibu adalah melindungi Alya dari rasa sakit.
Ternyata putriku yang masih kecil justru mengajariku bahwa terkadang seseorang bersedia menahan sedikit rasa sakit agar orang lain mendapatkan kembali keberaniannya.
Dan ayah mengajariku hal yang lebih sulit lagi.
Bahwa ketakutan bisa membuat kita mencurigai orang yang paling kita cintai.
Sejak hari itu, kamera kecil dari gudang tidak pernah kugunakan lagi.
Aku menyimpannya di sebuah kotak bersama ikatan rambut pertama Alya dan foto gadis kecil itu.
Bukan sebagai bukti atas sesuatu yang buruk.
Melainkan sebagai pengingat bahwa di ruangan yang pernah membuatku membayangkan rahasia paling mengerikan, ternyata tersembunyi salah satu bentuk kasih sayang paling tulus yang pernah kutemukan dalam hidupku.
