Rina tersenyum kecil sambil mengusap kepala Daffa.
“Ya sudah. Mulai minggu depan, Mama minta Pak Rudi yang jemput kamu. Nenek juga sebentar lagi pulang ke Solo.”
Aku berdiri mematung.
Jadi, keputusan itu ternyata sudah dibuat tanpa sepengetahuanku.
Aku menatap tiga orang yang selama sembilan tahun menjadi pusat hidupku. Putriku sendiri, menantuku, dan cucu yang sejak bayi tidur dalam pelukanku.
Tak satu pun tahu bahwa sejak pagi tadi, dunia yang selama puluhan tahun sunyi tiba-tiba kembali memiliki suara.
Namaku Sulastri.
Aku kehilangan pendengaran ketika berusia dua puluh sembilan tahun akibat infeksi berat. Suamiku, almarhum Pak Hadi, tidak pernah meninggalkanku. Ia belajar bahasa isyarat, mengajar Rina berkomunikasi denganku, bahkan selalu berkata bahwa aku tidak kehilangan apa pun selain suara.
Setelah Pak Hadi meninggal sepuluh tahun lalu, Rina memintaku pindah dari Solo ke Jakarta.
“Ibu tinggal sama Rina saja. Biar Rina yang merawat Ibu.”
Aku percaya.
Rumah peninggalan suamiku di Solo kukunci. Tabungan pensiun Pak Hadi kusimpan. Lalu aku datang ke Jakarta hanya membawa pakaian dan beberapa foto keluarga.
Saat Daffa lahir, akulah yang menjaganya.
Rina dan Bagas bekerja dari pagi sampai malam. Aku bangun pukul lima, menyiapkan sarapan, mengantar Daffa ke sekolah, membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan menunggu mereka pulang.
Aku tidak pernah menganggap itu pengorbanan.
Aku menganggapnya kasih sayang.
Sampai hari ini.
Aku masuk ke kamar tanpa mengatakan apa pun.

Kakiku perih karena terkena sup panas, tetapi rasa sakit itu kalah oleh sesuatu yang jauh lebih dalam.
Malamnya, aku berpura-pura tetap tuli.
Saat makan malam, Bagas dan Rina berbicara seperti biasa di hadapanku.
“Besok Mama datang jam sebelas,” kata Bagas.
“Terus Ibu bagaimana?”
“Suruh di kamar saja.”
Rina menatapku sebentar.
“Kasihan juga.”
Bagas tertawa pendek.
“Kasihan apanya? Ibumu makan di rumah kita gratis sembilan tahun.”
Tanganku yang memegang sendok berhenti.
Rumah kita?
Aku menunduk agar mereka tidak melihat perubahan wajahku.
Rumah dua lantai di Bekasi itu memang atas nama Bagas. Tetapi mereka mungkin lupa, tujuh tahun lalu uang muka rumah itu berasal dari tabunganku.
Seratus delapan puluh juta rupiah.
Waktu itu Bagas menangis di depanku karena pengajuan KPR hampir gagal.
Aku memberikan uang itu tanpa surat utang.
Karena dia suami anakku.
Karena kupikir keluarga tidak perlu menghitung.
Ternyata hanya aku yang berpikir begitu.
Setelah makan malam, aku kembali ke kamar dan mengeluarkan sebuah ponsel lama dari lemari.
Aku mengirim pesan kepada seseorang di Solo.
Pak Wiryo, tetanggaku sekaligus notaris yang dahulu mengurus surat warisan Pak Hadi.
Aku hanya menulis satu kalimat.
Besok pagi saya pulang. Tolong jangan beri tahu Rina.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Baik, Bu Lastri. Ada sesuatu tentang rumah itu yang memang sudah lama harus saya sampaikan.
Aku mengernyit.
Namun sebelum sempat membalas, terdengar suara langkah mendekati kamar.
Cepat-cepat kusimpan ponsel.
Rina masuk tanpa mengetuk.
Ia duduk di sampingku dan mulai menggunakan bahasa isyarat.
“Ibu, besok teman-teman Bagas datang. Ibu istirahat saja di kamar, ya.”
Aku mengangguk.
Kemudian ia tersenyum manis.
“Ibu, soal rumah Solo, bagaimana kalau dijual? Ibu kan tidak tinggal di sana lagi.”
Jantungku berdegup.
Jadi Bagas benar.
Aku pura-pura tidak memahami.
Rina mengambil kertas dan menulis.
Rumah itu sudah tua. Kalau dijual sekarang mungkin bisa dapat satu setengah miliar. Uangnya disimpan saja. Biar Rina yang urus.
Aku menatap tulisan itu lama.
Lalu aku mengambil pena dan menulis.
Ibu pikirkan.
Wajah Rina terlihat kecewa.
Ia berdiri dan keluar.
Belum sempat pintu tertutup sempurna, aku mendengar Bagas bertanya dari lorong.
“Gimana?”
“Belum mau.”
“Bujuk terus. Aku sudah kasih uang muka mobil.”
Aku memejamkan mata.
Jadi rumahku bahkan sudah mereka belanjakan sebelum berhasil menjualnya.
Keesokan harinya, ulang tahun ibu Bagas berlangsung meriah.
Rumah dipenuhi tamu. Makanan katering datang sejak pagi. Bunga menghiasi ruang tamu.
Aku tetap memasak beberapa hidangan karena Rina memintaku.
Menjelang siang, Bu Mira, ibu Bagas, datang mengenakan gaun mahal dengan tas bermerek di tangannya.
Begitu melihatku, ia menutup hidung.
“Lho, masih di sini?”
Bagas tertawa canggung.
“Besok atau lusa pulang, Ma.”
Bu Mira mendekatiku.
“Kasihan juga ya. Sudah tua, tuli lagi.”
Semua orang tertawa kecil.
Aku mendengarnya.
Setiap kata.
Setiap tawa.
Anehnya, aku tidak lagi merasa hancur.
Aku justru merasa tenang.
Karena untuk pertama kalinya, aku tahu persis siapa mereka.
Saat makan siang, Bu Mira kembali membicarakan mobil.
“Kamu itu sudah manajer. Masa masih pakai mobil tujuh tahun lalu? Malu sama tetangga.”
Bagas menjawab, “Tenang, Ma. Sebentar lagi ganti.”
Rina melirik ke arahku.
Aku tahu apa maksud tatapan itu.
Setelah para tamu pulang, Rina membawa sebuah map ke kamarku.
Ia meletakkannya di atas meja.
Surat kuasa penjualan rumah.
“Ibu tinggal tanda tangan,” katanya sambil tetap menggunakan bahasa isyarat.
Aku membaca dokumen itu.
Harga yang tercantum hanya sembilan ratus juta rupiah.
Padahal semalam Rina sendiri menulis perkiraan harga rumah satu setengah miliar.
Aku hampir tertawa.
Mereka bahkan berniat mengambil selisih enam ratus juta dariku.
Aku mengambil pena.
Rina tersenyum.
Bagas yang berdiri di pintu ikut mendekat.
Namun alih-alih menandatangani, aku menutup map itu.
Lalu untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, aku membuka mulut dan berbicara sambil mendengar suaraku sendiri.
“Enam ratus juta sisanya mau kalian bagi berdua?”
Pena di tangan Rina jatuh.
Bagas pucat.
Ruangan mendadak sunyi.
Rina menatapku seperti melihat hantu.
“I… Ibu?”
Aku menatapnya.
“Aku bisa mendengar.”
Bibir Rina gemetar.
“Sejak kapan?”
“Sejak kemarin pagi.”
Wajahnya kehilangan warna.
Ia pasti sedang mengingat semua perkataan yang diucapkannya.
Bagas mencoba tersenyum.
“Bu, mungkin Ibu salah dengar.”
“Aku dengar kau bilang ibumu tidak suka bau orang desa.”
Ia terdiam.
“Aku juga dengar kau ingin menjual rumahku untuk membeli mobil baru.”
“Bu, itu cuma bercanda.”
“Dan aku dengar putriku sendiri mengatakan sebentar lagi aku hanya akan menjadi beban.”
Rina langsung menangis.
“Ibu, Rina khilaf.”
Aku menggeleng.
“Orang bisa khilaf satu kalimat, Rina. Bukan sembilan tahun.”
Aku masuk ke kamar dan keluar membawa koper yang sudah kusiapkan sejak subuh.
Rina panik.
“Ibu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ibu jangan begini. Kita bicara baik-baik.”
Aku menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
“Dulu kau bilang aku harus tinggal bersamamu supaya kau bisa merawatku. Ternyata selama sembilan tahun, aku yang merawat keluarga kalian.”
Daffa keluar dari kamar.
Ketika melihat koperku, wajahnya berubah.
“Nenek mau pergi?”
Aku menatap cucuku.
Anak itu baru sembilan tahun. Kata-katanya menyakitkan, tetapi aku tahu seorang anak sering kali menjadi cermin dari apa yang ia dengar di rumah.
Aku berjongkok di hadapannya.
“Nenek pulang ke Solo.”
Daffa tampak bingung.
“Karena aku bilang Nenek bau?”
Aku mengangguk perlahan.
Wajahnya langsung menunduk.
Aku tidak memarahinya.
“Daffa, suatu hari kamu akan besar. Kamu akan tahu bahwa pakaian mahal bisa dibeli, mobil bagus bisa dicicil, rumah besar bisa dibangun. Tapi kalau kamu kehilangan rasa hormat kepada orang yang menyayangimu, tidak ada toko yang menjual penggantinya.”
Aku berdiri dan pergi.
Tiga hari kemudian, aku tiba di Solo.
Pak Wiryo sudah menungguku di rumah.
Rumah peninggalan Pak Hadi masih berdiri kokoh. Halamannya memang dipenuhi daun kering, tetapi ketika membuka pintu, aku mencium aroma kayu tua yang membuat dadaku sesak oleh kenangan.
“Bu Lastri,” kata Pak Wiryo, “ada hal penting.”
Ia membuka sebuah map.
Ternyata enam tahun lalu, tanpa sepengetahuanku, Bagas pernah mencoba menggunakan fotokopi sertifikat rumahku sebagai dokumen pendukung untuk pinjaman bisnis.
Untungnya, pihak bank meminta dokumen asli dan persetujuan pemilik sehingga pengajuan gagal.
Pak Wiryo mengetahuinya karena seseorang pernah menghubungi kantornya untuk menanyakan status sertifikat.
Aku terdiam lama.
Jadi rencana menjual rumah bukanlah keserakahan pertama mereka.
Hari itu juga aku membuat keputusan.
Rumah tidak akan dijual.
Aku merenovasi bagian depan dan menyewakan dua kamar kepada mahasiswa. Sebagian tabungan kupakai membuka usaha katering rumahan bersama tetangga.
Pendengaranku memang belum sempurna. Dokter mengatakan pemulihan mendadak yang kualami perlu terus diperiksa dan dibantu alat dengar.
Tetapi setiap pagi ketika mendengar suara burung di halaman, aku merasa seperti dilahirkan kembali.
Dua bulan berlalu.
Suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Rina turun.
Ia tampak jauh lebih kurus.
Daffa bersamanya.
Begitu melihatku, Daffa berlari dan memeluk pinggangku.
“Nenek, maaf.”
Aku membeku.
Anak itu menangis.
“Aku tidak malu punya Nenek. Aku bohong waktu itu. Temanku memang pernah bilang begitu, terus Mama bilang jangan terlalu dekat sama Nenek kalau bajunya bau masakan. Aku ikut-ikutan.”
Rina menutup wajahnya.
Aku menatap putriku.
“Ada apa?”
Rina menangis.
“Bagas pergi, Bu.”
Ternyata Bagas terlilit utang karena memesan mobil baru sebelum rumahku berhasil dijual. Ia meminjam uang dari beberapa aplikasi pinjaman dan menggunakan kartu kredit untuk membayar uang muka.
Ketika masalah membesar, ia menyalahkan Rina.
Lalu dua minggu sebelumnya, Rina mengetahui Bagas sudah hampir setahun menjalin hubungan dengan rekan kerjanya.
“Aku menggugat cerai,” katanya.
Aku tidak merasa puas.
Tidak juga senang.
Aku hanya merasa sedih melihat anak yang pernah kugendong kini duduk di teras rumah masa kecilnya dengan hidup berantakan.
Rina menggenggam tanganku.
“Boleh aku pulang ke sini, Bu?”
Pertanyaan itu menusukku.
Dahulu aku datang ke rumahnya karena percaya seorang ibu akan selalu diterima anaknya.
Sekarang ia datang kepadaku dengan harapan yang sama.
Aku bisa saja membalas.
Aku bisa mengatakan rumah ini bau orang desa.
Aku bisa mengatakan aku tidak ingin menanggung beban.
Tetapi kalau kulakukan itu, apa bedanya aku dengan mereka?
“Kamu boleh tinggal sementara,” kataku.
Rina langsung memelukku.
Namun aku melanjutkan.
“Tapi ada syarat.”
Ia melepaskan pelukannya.
“Rumah ini tetap milik Ibu. Tabungan Ibu tetap milik Ibu. Kamu bekerja, mengurus Daffa, dan ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu bukan pembantu.”
Rina menangis semakin keras.
“Iya, Bu.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan ajari anakmu menilai manusia dari pakaian, pekerjaan, asal daerah, atau bau dapurnya.”
Rina mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Daffa mendapat tugas sekolah untuk menulis tentang orang yang paling ia kagumi.
Ia pulang membawa kertas dan membacakannya di teras.
Judulnya sederhana.
Nenekku.
Ia menulis tentang seorang perempuan tuli yang membesarkan anak dan cucunya. Tentang tangan keriput yang selalu memasak sarapan. Tentang rumah tua di Solo. Tentang kesalahan yang pernah ia lakukan.
Di bagian terakhir, Daffa membaca dengan suara bergetar.
“Dulu aku pernah malu karena Nenekku dianggap bau orang kampung. Sekarang aku tahu bau yang menempel di bajunya adalah bau masakan yang dibuatnya setiap pagi untukku. Kalau suatu hari aku sudah besar dan mencium bau itu lagi, aku berharap masih ada seseorang yang menyayangiku sebesar Nenek.”
Aku tidak sanggup menahan air mata.
Rina yang berdiri di pintu ikut menangis.
Aku kehilangan pendengaran selama puluhan tahun.
Namun ternyata, ketulian terbesarku bukanlah ketika telingaku tidak mampu menangkap suara.
Ketulian terbesarku adalah ketika aku terlalu lama menutup hati dari tanda-tanda bahwa kasih sayangku sedang dimanfaatkan.
Dan ketika akhirnya aku kembali bisa mendengar, suara pertama yang benar-benar mengubah hidupku justru bukan ucapan cinta.
Melainkan penghinaan.
Dulu aku mengira hari itu adalah hari paling menyakitkan dalam hidupku.
Sekarang aku tahu, itu adalah hari ketika Tuhan mengembalikan bukan hanya pendengaranku.
Tetapi juga keberanianku untuk mendengar harga diriku sendiri.
