Pukul sebelas lewat tiga puluh malam, kesabaranku akhirnya habis.
Aku mengambil jaket, meraih kunci motor Bapak, lalu melaju menuju minimarket yang dimaksud Ratih. Jalan desa malam itu basah oleh sisa hujan. Suara takbir masih menggema dari masjid dan musala, tetapi entah mengapa, semakin dekat aku ke minimarket, dadaku semakin terasa sesak.
Begitu tiba, aku langsung memarkir motor sembarangan dan masuk.
“Mbak, tadi ada perempuan datang ke sini sambil membawa bayi? Tingginya sekitar segini, pakai blus krem, celana hitam, gendongan bayi warna hijau.”
Kasir perempuan di depan mesin pembayaran berpikir sejenak.
“Seingat saya nggak ada, Mas.”
Aku membeku.
“Coba diingat lagi. Sekitar jam sembilan. Namanya Ratih.”
Kasir itu menggeleng.
“Kalau bawa bayi harusnya saya ingat. Dari jam delapan saya jaga kasir. Nggak ada perempuan dengan bayi.”
Aku keluar dengan langkah terburu-buru.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar merasa takut.
Aku menyusuri jalan menuju rumah, berhenti di warung, bertanya kepada orang-orang yang masih berkumpul di pos ronda. Seorang pemuda akhirnya mengatakan bahwa dia melihat perempuan menggendong bayi berjalan ke arah jalan raya sekitar dua jam sebelumnya.
“Sendirian?”

“Iya.”
“Naik kendaraan?”
Pemuda itu menggeleng.
“Tapi kayaknya dia nunggu seseorang dekat pertigaan.”
Aku langsung menelepon Ratih lagi.
Nomornya tetap tidak aktif.
Pulang ke rumah, aku membangunkan semua orang. Ibu panik. Bapak mengambil senter. Pakde Harun menghubungi beberapa warga untuk membantu mencari.
Kami menyisir jalan desa, sawah, halte, bahkan klinik terdekat.
Tidak ada Ratih.
Tidak ada Daffa.
Menjelang pukul tiga pagi, Bapak mengajakku ke kantor polisi.
Aku menolak.
“Mungkin dia cuma ngambek, Pak. Besok juga pulang.”
Bapak menatapku lama.
“Perempuan pergi malam-malam membawa bayi, telepon mati, tidak datang ke minimarket yang katanya mau dia datangi, dan kamu masih bilang dia cuma ngambek?”
Aku tidak menjawab.
Bapak kemudian bertanya sesuatu yang membuat tengkukku terasa dingin.
“Kalian bertengkar sebelum dia pergi?”
“Tidak.”
Jawabanku terlalu cepat.
Ibu yang berdiri di belakang Bapak tiba-tiba memalingkan wajah.
Bapak menangkap perubahan ekspresi itu.
“Ada apa?”
Tidak seorang pun menjawab.
Akhirnya aku terpaksa mengaku bahwa sore sebelumnya aku dan Ratih memang bertengkar. Namun, aku tidak mengatakan semuanya.
Aku hanya bilang kami berselisih karena Ratih tidak mau membantu Ibu menyiapkan hidangan Lebaran.
Aku tidak mengatakan bahwa aku telah menamparnya.
Aku juga tidak mengatakan bahwa itu bukan pertama kalinya.
Pagi harinya, kami membuat laporan kehilangan.
Polisi mulai memeriksa rekaman CCTV dari beberapa toko dan rumah warga.
Sekitar pukul dua siang, sebuah rekaman akhirnya ditemukan.
Di layar terlihat Ratih berjalan sambil menggendong Daffa.
Namun, dia tidak menuju minimarket.
Dia berjalan lurus ke pertigaan besar.
Di sana sebuah mobil putih berhenti.
Pintunya terbuka.
Ratih masuk.
Mobil itu kemudian pergi menuju jalan utama ke arah Yogyakarta.
Aku langsung berdiri.
“Itu penculikan!”
Petugas bernama Pak Yudi menatapku.
“Pak Farhan, dari rekaman ini tidak terlihat ada paksaan.”
“Mana mungkin istri saya masuk mobil orang asing malam-malam?”
Pak Yudi tidak menjawab. Dia hanya memutar rekaman beberapa detik sebelumnya.
Ratih berdiri di pinggir jalan.
Mobil itu datang.
Sebelum pintu terbuka, Ratih mengangkat tangannya seolah memberi tanda.
Dia memang menunggu mobil tersebut.
Darahku mendidih.
Pikiran pertamaku bukan apakah Ratih aman.
Yang kupikirkan justru satu hal.
Laki-laki.
Pasti ada laki-laki lain.
Selama ini Ratih pura-pura menjadi istri baik, tetapi diam-diam dia berselingkuh.
Aku pulang dengan amarah yang hampir meledak.
Aku membongkar lemari, tas, dan semua barangnya.
Hampir seluruh pakaian Ratih masih ada.
Perhiasannya juga tidak dibawa.
Dokumen penting masih tersimpan di lemari.
Aku semakin yakin kepergiannya tidak direncanakan.
Sampai aku membuka laci kecil tempat Ratih biasanya menyimpan perlengkapan menjahit.
Di sana aku menemukan sebuah ponsel lama.
Bukan ponsel yang biasa digunakan Ratih.
Baterainya mati.
Aku mengisi dayanya.
Ketika menyala, ponsel itu meminta PIN.
Aku mencoba tanggal lahir Ratih.
Salah.
Tanggal lahir Daffa.
Terbuka.
Tanganku langsung gemetar.
Di dalamnya tidak ada media sosial, hanya WhatsApp dengan beberapa percakapan.
Salah satunya dengan kontak bernama Mbak Sari.
Pesan terakhir dikirim Ratih sore sebelum kami makan bersama.
Mbak, malam ini saya jadi pergi. Tolong jemput di tempat yang kita sepakati. Saya akan bawa Daffa. Kalau saya batal lagi, saya takut saya tidak akan pernah punya keberanian.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Percakapan sebelumnya jauh lebih panjang.
Dan semakin aku membacanya, semakin wajahku terasa panas.
Ratih mengirim foto pipinya yang lebam.
Foto lengannya yang memar.
Foto bibirnya yang pernah pecah.
Bahkan ada rekaman suara.
Dalam salah satu rekaman, terdengar suaraku sendiri berteriak.
“Kamu itu hidup dari uang saya! Jangan sok punya pilihan!”
Lalu suara benda jatuh.
Tangisan Daffa.
Dan suara Ratih memohon agar aku berhenti.
Aku melempar ponsel itu ke kasur.
“Dia menjebakku.”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku.
Bukan penyesalan.
Bukan rasa bersalah.
Aku justru merasa Ratih sedang mempermalukanku.
Aku menghubungi nomor Mbak Sari menggunakan ponsel tersebut.
Tidak aktif.
Namun polisi berhasil mengidentifikasi pemilik nomor itu.
Namanya Sari Wulandari.
Dia bukan selingkuhan Ratih.
Bukan pula anggota keluarga yang kukenal.
Sari adalah relawan sebuah lembaga pendampingan perempuan dan anak di Yogyakarta.
Saat itulah semuanya mulai berubah.
Polisi tidak lagi sekadar mencari Ratih sebagai orang hilang.
Mereka mulai bertanya tentang kehidupan rumah tangga kami.
Apakah aku pernah memukul Ratih?
Apakah aku mengendalikan uangnya?
Apakah aku melarangnya bertemu keluarga?
Apakah aku memeriksa ponselnya?
Apakah Ratih pernah mencoba meninggalkan rumah sebelumnya?
Aku membantah semuanya.
Namun, setiap kebohonganku seperti sudah memiliki jawabannya sendiri.
Ratih telah menyimpan bukti selama hampir dua tahun.
Diam-diam.
Sedikit demi sedikit.
Foto.
Rekaman.
Pesan.
Catatan medis.
Bahkan bukti transfer gajinya ke rekeningku.
Ternyata ponsel lama itu sengaja ditinggalkan.
Bukan karena lupa.
Ratih ingin seseorang menemukannya jika terjadi sesuatu kepadanya.
Pada hari ketiga, aku menerima kabar bahwa Ratih dan Daffa telah ditemukan.
Mereka selamat.
Namun polisi tidak memberitahuku lokasi mereka.
Aku mengamuk.
“Saya suaminya! Daffa anak saya! Saya punya hak tahu mereka di mana!”
Pak Yudi tetap tenang.
“Istri Anda menyatakan tidak ingin bertemu dengan Anda untuk sementara waktu.”
“Siapa dia berani melarang saya bertemu anak sendiri?”
Tatapan Pak Yudi berubah tajam.
“Pak Farhan, sebaiknya Bapak mulai memahami bahwa persoalan ini bukan lagi soal istri yang pergi tanpa izin.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Beberapa hari kemudian, aku menerima surat panggilan.
Ratih membuat laporan.
Kekerasan dalam rumah tangga.
Untuk pertama kalinya, keluargaku mengetahui semuanya.
Bude Lasmi yang sebelumnya paling sering menyindir Ratih mendadak diam. Pakde Harun tidak lagi mengajakku mengobrol. Bahkan Bapak hampir tidak menatapku.
Hanya Ibu yang masih membelaku.
“Namanya rumah tangga pasti ada pertengkaran. Ratih juga terlalu berlebihan. Masa ditampar sekali langsung kabur?”
Bapak menghantam meja.
“Sekali?”
Rumah langsung sunyi.
Bapak menatapku.
“Jawab. Sekali?”
Aku tidak sanggup menjawab.
Bapak berdiri lalu masuk kamar.
Sejak malam itu, dia tidak lagi berbicara kepadaku kecuali seperlunya.
Sebulan kemudian, Ratih mengajukan gugatan cerai.
Aku datang ke persidangan dengan keyakinan bahwa dia akan menyerah begitu melihatku.
Namun perempuan yang masuk ke ruangan itu terasa seperti orang berbeda.
Tubuhnya masih kurus.
Wajahnya tanpa riasan tebal.
Tetapi tatapannya tidak lagi menunduk.
Daffa tidak dibawa.
Saat mata kami bertemu, aku tersenyum tipis.
Ratih tidak membalas.
Di luar ruang sidang, aku berhasil mendekatinya.
“Ratih.”
Dia berhenti.
“Kita bicara sebentar.”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan.”
Aku menahan emosiku.
“Kamu mau hancurkan keluarga kita cuma gara-gara pertengkaran?”
Ratih menatapku cukup lama.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
“Mas, aku tidak pergi karena tamparan terakhir itu.”
Aku mengernyit.
“Aku pergi karena malam itu aku sadar suatu hari Daffa akan cukup besar untuk memahami apa yang dilakukan ayahnya kepada ibunya.”
Aku terdiam.
Ratih melanjutkan.
“Aku bisa terus berbohong pada diriku sendiri bahwa kamu akan berubah. Tapi aku tidak mau Daffa tumbuh dan belajar bahwa menyakiti perempuan adalah hal biasa.”
Aku mencoba memegang lengannya.
Ratih mundur.
Dua petugas pendamping langsung mendekat.
Aku melepaskan tangan.
“Setidaknya biarkan aku bertemu Daffa.”
“Kalau nanti semuanya sudah aman dan sesuai keputusan hukum, aku tidak akan menghalangi hak Daffa.”
“Kamu merampas anakku.”
Untuk pertama kalinya, Ratih tersenyum.
Senyum yang aneh.
Sedih, tetapi tenang.
“Bukan aku yang membuatmu kehilangan keluarga, Mas.”
Dia menatap mataku.
“Kamu sendiri.”
Setelah itu Ratih berjalan pergi.
Aku berdiri sendirian di koridor pengadilan.
Beberapa bulan berlalu.
Perceraian kami akhirnya dikabulkan.
Proses hukum atas laporan Ratih juga terus berjalan.
Aku kehilangan pekerjaanku setelah perusahaan mengetahui kasus tersebut. Beberapa teman menjauh. Saudara-saudara yang dulu tertawa bersamaku saat Lebaran tidak lagi sering menghubungiku.
Awalnya aku menyalahkan Ratih.
Lalu Sari.
Lalu polisi.
Lalu keluargaku sendiri.
Semua orang salah.
Kecuali aku.
Sampai suatu sore Bapak datang ke kamarku membawa sebuah kantong plastik minimarket.
Dia meletakkannya di meja.
Di dalamnya ada sebungkus popok bayi, minyak telon, dan bedak.
Aku menatapnya bingung.
“Apa ini?”
Bapak duduk di hadapanku.
“Malam Ratih pergi, besok paginya Bapak membeli semua ini.”
“Untuk apa?”
“Bapak pikir dia akan pulang.”
Aku menunduk.
Bapak menatap kantong plastik itu lama.
“Hampir setahun Bapak simpan.”
Dadaku mendadak sesak.
“Bapak mau buang sekarang?”
Dia menggeleng.
“Ini punya kamu.”
Aku menatapnya.
“Supaya kamu ingat.”
“Ingat apa?”
Bapak berdiri.
“Bahwa ada seorang perempuan yang pernah harus berpura-pura pergi membeli popok hanya untuk menyelamatkan dirinya dan anaknya dari rumah keluargamu.”
Setelah Bapak pergi, aku duduk sendirian.
Tanganku mengambil bungkus popok itu.
Aku teringat malam terakhir Ratih mencium tanganku.
Tangannya dingin.
Dulu kupikir karena udara malam.
Sekarang aku tahu.
Dia ketakutan.
Ratih sudah tahu bahwa begitu melangkah keluar dari pintu rumah malam itu, tidak ada jalan kembali.
Dia meninggalkan pakaian.
Perhiasan.
Tabungan.
Hampir seluruh barang miliknya.
Dia bahkan tidak membawa uang yang kusimpan di koper.
Dulu aku menganggap itu bukti bahwa dia bodoh dan tidak mungkin pergi jauh.
Padahal aku yang bodoh.
Ratih tidak membutuhkan uangku untuk pergi.
Dia hanya membutuhkan satu hal yang selama bertahun-tahun berusaha kuhancurkan.
Keberanian.
Dua tahun kemudian, aku melihat foto Daffa secara tidak sengaja melalui akun media sosial sepupuku.
Dia sudah masuk taman kanak-kanak.
Tubuhnya lebih tinggi.
Rambutnya dipotong pendek.
Dalam foto itu dia sedang memegang sebuah gambar keluarga.
Ada dirinya.
Ada Ratih.
Ada sebuah rumah kecil.
Ada matahari besar di atas mereka.
Tidak ada aku.
Aku menatap foto itu sangat lama.
Anehnya, kali ini aku tidak marah.
Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama ini selalu kutolak.
Menjadi suami tidak membuat seorang laki-laki memiliki istrinya.
Menjadi ayah tidak memberinya hak untuk menciptakan ketakutan di rumahnya sendiri.
Dan permintaan maaf tidak selalu berarti kita berhak mendapatkan kembali orang yang telah kita lukai.
Malam itu aku membuka lemari.
Kantong minimarket berisi popok, minyak telon, dan bedak masih tersimpan di sana.
Aku duduk di lantai sambil memegangnya.
Lalu aku menangis.
Bukan karena Ratih pergi.
Bukan karena Daffa tumbuh tanpa diriku.
Aku menangis karena akhirnya memahami bahwa malam ketika aku merasa kehilangan istri dan anakku adalah malam ketika mereka justru berhasil menemukan jalan pulang.
Bukan pulang kepadaku.
Melainkan pulang menuju kehidupan yang tidak lagi membuat mereka takut.
