ADIKKU TIBA-TIBA MENYELIPKAN OBAT KE GELASKU DI HARI PERTUNANGANNYA—LALU AKU MENEMUKAN REKAMAN YANG MENUNJUKKAN SIAPA TARGET SEBENARNYA.

Aku baru mengetahui bahwa adikku telah memasukkan obat tidur ke minumanku ketika sebuah rekaman kamera memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Selama ini, ternyata bukan aku yang menjadi sasaran utamanya.

Melainkan Reza, laki-laki yang akan bertunangan dengannya dua jam lagi.

Dan yang membuat darahku terasa membeku, Reza sendiri tampaknya sudah mengetahui semuanya.

Aku berdiri di tengah ruang keluarga rumah orang tuaku di Solo, menggenggam ponsel dengan tangan gemetar.

Di layar masih terlihat rekaman dari kamera kecil yang kupasang di ruang kerja dua minggu lalu.

Pagi itu, Nisa masuk ke kamarku bersama Reza. Nisa membuka tasku, sementara Reza memasukkan strip kosong obat zolpidem ke dalamnya.

Setelah itu, Nisa menyerahkan amplop cokelat kepada Reza.

Di dalam amplop terdapat hasil pemeriksaan toksikologi darah atas nama Reza Pradana.

Catatan yang diberi stabilo merah membuat tengkukku merinding.

Ditemukan zolpidem berulang kali dalam darah pasien. Pasien menyatakan tidak pernah mengonsumsi obat tersebut.

Aku mengangkat wajah.

Reza berdiri di dekat pintu, pucat seperti orang yang baru melihat hantu.

Sementara Nisa masih menangis dalam pelukan Mama.

“Papa,” kataku perlahan. “Sebelum Papa mengusirku, ada sesuatu yang harus Papa lihat.”

Papa menghela napas kesal.

“Rani, cukup. Jangan mempermalukan keluarga kita di depan tamu.”

“Kalau setelah melihat ini Papa masih ingin aku pergi, aku akan pergi.”

Aku memutar rekaman itu

Mama langsung melepaskan pelukannya dari Nisa.

Papa mendekat, menyipitkan mata.

Di layar terlihat jelas tangan Reza memasukkan strip obat ke tasku.

“Reza?” suara Papa meninggi. “Apa maksudnya ini?”

Reza tidak menjawab.

Nisa justru berhenti menangis.

Perubahan wajahnya begitu cepat hingga aku hampir tidak mengenali adikku sendiri.

“Kakak memasang kamera di kamar?” tanyanya.

“Sejak dokumen keuanganku hilang.”

“Kakak merekam orang tanpa izin?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Nisa.”

Aku memperbesar bagian rekaman yang memperlihatkan hasil laboratorium.

“Kenapa obat tidur ditemukan berulang kali dalam darah Reza?”

Ruangan mendadak sunyi.

Reza menatap Nisa.

“Nisa, aku rasa sudah waktunya.”

“Diam!” bentak Nisa.

Semua orang terkejut.

Sepanjang hidupku, Nisa memang keras kepala. Namun aku belum pernah mendengar dia membentak calon suaminya dengan nada sedingin itu.

Reza menarik napas panjang.

“Mbak Rani, saya yang meminta Nisa masuk ke kamar Mbak.”

Aku tertegun.

“Apa?”

“Saya yang memasukkan strip obat itu.”

“Kenapa?”

Reza memandang Papa dan Mama, lalu kembali menatapku.

“Karena saya sedang berusaha membuktikan sesuatu.”

Nisa tertawa sinis.

“Jangan mulai lagi, Reza.”

Namun Reza mengabaikannya.

“Tiga bulan lalu, saya pingsan di gudang tempat saya bekerja. Dokter menemukan zolpidem dalam darah saya. Saya tidak pernah mendapat resep obat itu.”

Aku menelan ludah.

“Setelah kejadian pertama, saya mengira ada kesalahan pemeriksaan. Tetapi dua minggu kemudian, saya mengalami hal serupa.”

Reza mengeluarkan ponselnya.

“Saya mulai mencatat semua makanan dan minuman yang saya konsumsi. Anehnya, setiap kali saya mengalami gejala, sebelumnya saya selalu bertemu Nisa.”

Nisa melangkah maju.

“Kamu menuduh aku?”

“Aku belum selesai.”

“Reza!”

“Aku kehilangan pekerjaan karena dianggap tidak layak bertugas di gudang farmasi. Aku hampir menabrak pengendara motor ketika pulang dari rumahmu. Kamu tahu itu.”

Mama menutup mulutnya.

Aku teringat memar di pergelangan tangan Reza.

“Itu bukan bekas pemeriksaan kantor, ya?”

Reza menggeleng.

“Bekas pengambilan darah untuk pemeriksaan lanjutan.”

Aku menoleh kepada Nisa.

“Jadi kamu memang memasukkan obat ke minuman Reza?”

“Tidak!”

“Kalau begitu kenapa tadi kamu memaksanya menghabiskan jus?”

Nisa terdiam.

Reza memejamkan mata.

“Karena dia tahu aku mulai curiga.”

Aku mengira kebenarannya sudah jelas.

Ternyata aku salah.

Reza membuka sebuah folder di ponselnya dan menunjukkan rekaman percakapan.

Dalam rekaman itu terdengar suara Nisa.

“Kalau kamu terus menolak, semua rencana kita bisa hancur.”

Lalu suara Reza menjawab.

“Aku tidak mau melakukannya lagi.”

“Jangan sok suci. Kamu sudah menerima uangnya.”

Aku menatap Reza.

“Uang apa?”

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya, laki-laki itu benar-benar terlihat ketakutan.

“Nisa,” bisiknya, “kamu bilang uang itu untuk melunasi utang katering.”

Nisa tidak menjawab.

Aku mendadak teringat pinjaman Rp480 juta yang pernah dimintanya.

Enam bulan lalu, Nisa memohon agar aku menjadi penjamin pinjaman usaha kateringnya.

Aku menolak karena laporan keuangannya tidak masuk akal.

Pendapatan yang dicatat terlalu besar dibandingkan jumlah pesanan sebenarnya. Beberapa kuitansi bahkan menggunakan nama pelanggan yang tidak pernah bertransaksi.

Sejak itu, Nisa membenciku.

“Reza,” kataku, “uang apa yang kamu terima?”

Reza menunduk.

“Dua ratus juta rupiah.”

Papa hampir menjatuhkan ponselnya.

“Dua ratus juta?”

“Nisa bilang itu uang investor untuk mengembangkan usaha. Sebagian ditransfer ke rekening saya karena rekening usahanya sedang bermasalah.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Saya mencintainya, Pak.”

Nisa tertawa pendek.

“Cinta? Kalau cinta, kenapa kamu malah menyelidikiku?”

Reza menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena aku mulai takut tidur setelah minum sesuatu yang kamu berikan.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Aku segera menghubungi Dimas dan memintanya menyimpan catatan pemeriksaan awal sampel minumanku. Ia mengingatkan bahwa hasil skrining tersebut belum cukup menjadi bukti laboratorium resmi.

Aku kemudian menelepon polisi.

Nisa langsung merebut pergelangan tanganku.

“Kak, jangan!”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Ini hari pertunanganku!”

“Justru karena itu aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Nisa mulai menangis lagi.

Namun kali ini tangisannya berbeda.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tuduhan.

Hanya ketakutan yang tampak nyata.

“Aku bisa jelaskan semuanya,” bisiknya.

Aku menarik tanganku.

“Jelaskan sekarang.”

Nisa menoleh kepada Papa.

“Papa, suruh Kak Rani berhenti.”

Papa berdiri diam.

“Jawab pertanyaan kakakmu.”

Nisa menggigit bibir.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Aku melakukan semuanya karena Papa.”

Mama tersentak.

“Apa maksudmu?”

Nisa menunjuk Papa dengan tangan gemetar.

“Tanya Papa kenapa enam bulan lalu dia memintaku menyelamatkan rumah ini.”

Aku menoleh.

Wajah Papa seketika kehilangan warna.

Selama ini Papa mengelola toko bahan bangunan kecil di kawasan Laweyan. Usahanya memang menurun sejak pandemi, tetapi kami tidak pernah mendengar bahwa kondisinya separah itu.

“Papa?” panggilku.

Papa duduk perlahan.

“Toko Papa punya utang.”

“Berapa?”

Ia tidak menjawab.

“Pa, berapa?”

“Delapan ratus lima puluh juta.”

Mama terduduk di sofa.

Aku merasa lantai bergeser di bawah kakiku.

“Sejak kapan?”

“Dua tahun lalu.”

Ternyata Papa pernah meminjam uang untuk memperluas toko. Ketika proyek pembangunan yang diharapkannya batal, ia menggunakan pinjaman lain untuk menutup cicilan sebelumnya.

Bunga dan denda terus bertambah.

Nisa mengetahuinya lebih dulu karena Papa pernah memintanya membantu mengurus pembayaran.

“Aku mencoba mencari uang,” kata Nisa sambil terisak. “Aku pikir kalau usaha katering berkembang, aku bisa membantu Papa.”

“Tapi kenapa harus melibatkan Reza?” tanyaku.

Nisa menunduk.

“Karena aku kehabisan cara.”

Reza menggeleng perlahan.

“Kamu masih belum mengatakan semuanya.”

Nisa mendongak.

“Reza, tolong.”

“Ada orang lain, Mbak Rani.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

“Seorang laki-laki bernama Hendra. Dia mengaku konsultan keuangan. Nisa memperkenalkannya kepadaku delapan bulan lalu.”

Reza menjelaskan bahwa Hendra menawarkan bantuan mencarikan investor untuk usaha katering Nisa.

Sebagai syarat, mereka harus menunjukkan adanya transaksi usaha dalam jumlah besar.

Reza diminta menerima transfer dan meneruskannya ke sejumlah rekening pemasok yang ternyata tidak dikenalnya.

Awalnya ia menurut.

Namun setelah menemukan transaksi mencurigakan, Reza menolak melanjutkan.

Tidak lama kemudian, ia mulai mengalami pusing berat dan kehilangan kesadaran.

“Aku tidak tahu siapa yang memberiku obat,” kata Reza. “Tapi Hendra pernah mengancam akan melaporkanku sebagai pelaku utama transaksi itu.”

Aku menatap Nisa.

“Apakah kamu sengaja membuat Reza tidak berdaya supaya dia tidak bisa melawan?”

Nisa menangis.

“Aku cuma ingin dia berhenti menyelidiki!”

Jawaban itu cukup membuatku merinding.

“Jadi kamu mengaku?”

Nisa menutup wajah.

“Hendra memberiku obat itu. Dia bilang dosis kecil bisa membuat Reza tenang dan mudah tidur.”

“Dan kamu percaya?”

“Aku takut dia membatalkan pertunangan!”

Reza mundur satu langkah.

“Aku hampir mati di jalan, Nisa.”

“Aku tidak pernah ingin kamu mati!”

“Tapi kamu tetap melakukannya.”

Tidak ada seorang pun yang membela Nisa.

Untuk pertama kalinya, Mama hanya duduk memandang putri bungsunya dengan mata kosong.

Aku masih memiliki satu pertanyaan.

“Kenapa obat itu dimasukkan ke gelasku?”

Nisa terdiam cukup lama.

Akhirnya dia menjawab.

“Karena Hendra tahu Kakak sedang memeriksa laporan keuanganku.”

Darahku terasa dingin.

“Bagaimana dia tahu?”

Nisa menatapku.

“Dia yang mengambil dokumen dari meja kerja Kakak.”

Aku teringat berkas-berkas yang hilang dua minggu lalu.

“Hendra pernah masuk ke kamarku?”

Nisa mengangguk.

“Dia datang waktu Kakak bekerja. Aku membiarkannya masuk.”

Aku hampir tidak bisa berbicara.

“Kenapa?”

“Dia bilang kalau Kakak menemukan transaksi itu, Reza bisa masuk penjara. Papa juga bisa kehilangan rumah.”

“Jadi kamu memilih membiusku?”

Nisa menangis semakin keras.

“Dia menyuruhku membuat Kakak tertidur beberapa jam. Setelah itu dia akan mengambil laptop Kakak.”

Aku terdiam.

Selama enam bulan, aku mengira Nisa membenciku karena persoalan pinjaman.

Ternyata seseorang telah menggunakan rasa takut dan utang keluarga kami untuk mengendalikan tindakannya.

Namun ada sesuatu yang masih tidak masuk akal.

“Kalau Hendra ingin mengambil laptopku, kenapa Reza ikut menaruh obat di tasku?”

Reza mengeluarkan sebuah perekam suara kecil dari saku celananya.

“Karena saya sudah bekerja sama dengan pengacara untuk mengumpulkan bukti.”

Ia menjelaskan bahwa Nisa memintanya datang pagi-pagi untuk membantu menaruh strip obat di tasku.

Nisa ingin menjadikanku kambing hitam apabila hasil pemeriksaan Reza kembali menunjukkan zat tersebut.

Menurut rencananya, strip kosong itu akan menjadi alasan untuk menuduhku diam-diam memberikan obat kepada Reza karena menentang hubungan mereka.

Reza pura-pura setuju.

Ia memasukkan strip obat itu sambil merekam percakapan mereka.

Namun ia tidak mengetahui bahwa Nisa sebelumnya telah memasukkan tablet lain ke minumanku.

“Aku pikir hanya soal menjebak Mbak dengan barang bukti palsu,” katanya. “Aku tidak tahu Nisa benar-benar akan memberikan obat.”

Aku memandangnya lama.

“Kamu seharusnya memperingatkanku.”

Reza menunduk.

“Saya tahu. Saya salah.”

Aku tidak membantah.

Karena keberaniannya mengumpulkan bukti tidak menghapus kenyataan bahwa ia telah membiarkanku berada dalam bahaya.

Tidak lama kemudian, polisi tiba.

Para kerabat yang sejak tadi menunggu acara pertunangan mulai berbisik ketika melihat dua petugas masuk.

Aku menyerahkan rekaman kamera, pesan Dimas, dan sisa kemasan obat yang ditemukan dalam tasku.

Reza menyerahkan hasil pemeriksaan laboratorium serta rekaman percakapannya.

Nisa akhirnya bersedia menunjukkan seluruh pesan dengan Hendra.

Salah satu pesan membuat penyidik langsung meminta kami tidak menyentuh barang apa pun lagi.

Pesan itu dikirim pukul tujuh pagi.

“Pastikan Rani minum sebelum keluarga Reza datang. Setelah dia tertidur, ambil laptop dan semua salinan dokumen.”

Namun pesan berikutnya jauh lebih mengerikan.

“Kalau Reza mulai bicara, berikan lagi seperti biasanya.”

Mama menangis tanpa suara.

Papa memegangi kepalanya.

Aku memandang Nisa.

“Berapa kali kamu memberikan obat itu kepada Reza?”

Nisa menjawab hampir tidak terdengar.

“Empat kali.”

Reza memalingkan wajah.

Di luar rumah, mobil keluarga calon besan baru saja berhenti.

Aku melihat seorang perempuan paruh baya turun sambil membawa kotak hantaran.

Ibu Reza.

Ia tersenyum ketika melihat dekorasi bunga di teras.

Namun senyum itu hilang saat melihat polisi.

Hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru anaknya berubah menjadi hari ketika ia mengetahui bahwa putranya telah berkali-kali diberi obat tanpa persetujuannya.

Pertunangan dibatalkan saat itu juga.

Nisa dibawa untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Hendra tidak ditemukan di alamat yang diberikannya kepada keluarga kami.

Tetapi rekening penerima transfer dan nomor teleponnya menjadi petunjuk penting bagi penyidik.

Tiga minggu kemudian, polisi menemukan Hendra di sebuah rumah kontrakan di Yogyakarta.

Penyelidikan mengungkap bahwa ia menggunakan identitas bisnis palsu untuk meyakinkan sejumlah pemilik usaha kecil agar menyerahkan akses rekening dan melakukan transaksi atas nama mereka.

Nisa bukan satu-satunya orang yang terlibat.

Namun dia juga bukan korban yang sepenuhnya tidak bersalah.

Ia telah mengetahui sebagian transaksi itu mencurigakan. Ketika Reza mulai menyelidiki, ia memilih mengikuti perintah Hendra daripada mengakui kesalahannya.

Bukti pemberian obat tanpa persetujuan membuat persoalannya semakin serius.

Reza harus menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan dan memberikan keterangan berulang kali.

Aku pun menjalani pemeriksaan setelah kejadian tersebut.

Untungnya, aku tidak sempat meminum es teh itu.

Papa akhirnya menjual toko untuk membayar sebagian utangnya. Rumah kami masih bisa dipertahankan setelah ia mencapai kesepakatan pembayaran dengan pihak pemberi pinjaman.

Mama berhenti menyalahkanku.

Namun hubungan kami tidak langsung membaik.

Ada luka yang tidak sembuh hanya karena seseorang mengucapkan maaf.

Dua bulan kemudian, aku menerima sepucuk surat dari Nisa melalui pengacaranya.

Tulisan tangannya berantakan.

“Kak Rani, selama ini aku selalu mengira Kakak membenciku karena Kakak tidak pernah mau memberikan apa yang kuminta.

Sekarang aku baru mengerti bahwa orang yang benar-benar menyayangiku justru orang yang berani mengatakan tidak.

Kakak menolak menjadi penjamin pinjamanku karena Kakak melihat sesuatu yang tidak ingin kulihat.

Aku marah karena Kakak benar.

Aku takut kehilangan Papa, takut kehilangan Reza, takut dianggap gagal.

Akhirnya aku melakukan hal-hal yang membuatku kehilangan semuanya.

Aku tidak meminta Kakak memaafkanku sekarang.

Aku hanya ingin Kakak tahu bahwa aku menyesal.”

Aku membaca surat itu tiga kali.

Lalu menyimpannya di laci.

Aku belum siap membalas.

Beberapa hari kemudian, Reza datang ke rumah.

Tubuhnya terlihat lebih kurus, tetapi wajahnya tidak lagi sepucat dulu.

Ia membawa sebuah amplop.

“Saya menemukan ini di antara dokumen yang diserahkan penyidik kepada pengacara saya,” katanya.

Di dalamnya terdapat fotokopi surat perjanjian pinjaman.

Aku membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Ketika sampai pada bagian tanda tangan, napasku tertahan.

Nama yang tercantum sebagai calon penjamin bukan Nisa.

Bukan Reza.

Melainkan aku.

Rani Kusumawardani.

Di samping namaku terdapat tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tanganku sendiri.

Namun aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

“Ini palsu,” bisikku.

Reza mengangguk.

“Pengacara saya juga menduga begitu.”

Aku membalik halaman terakhir.

Di sana terdapat catatan tangan yang tidak asing bagiku.

Tulisan Papa.

“Jika Rani menolak, gunakan salinan tanda tangan dari berkas administrasi toko.”

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Selama ini aku mengira Papa hanya seorang ayah yang putus asa karena terlilit utang.

Ternyata ia pernah mempertimbangkan menggunakan identitasku tanpa persetujuan.

Malam itu aku membawa dokumen tersebut kepada Papa.

Ia tidak membantah.

Hanya menangis.

“Papa tidak pernah menyerahkan surat itu ke bank,” katanya.

“Tapi Papa menyiapkannya.”

Ia menunduk.

“Papa takut kita kehilangan rumah.”

Aku meletakkan dokumen itu di meja.

“Papa hampir kehilangan anak-anak Papa karena berusaha menyelamatkan rumah.”

Tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meninggalkan rumah orang tuaku bukan karena diusir.

Melainkan karena aku memilih pergi.

Aku meminta bantuan pengacara untuk memastikan tidak ada pinjaman yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin. Papa kemudian mengakui perbuatannya kepada pihak terkait dan menyerahkan dokumen asli untuk diperiksa.

Aku tetap membantu Mama mencari tempat tinggal apabila rumah itu suatu hari harus dijual.

Namun aku tidak lagi bersedia menanggung utang yang dibuat tanpa sepengetahuanku.

Enam bulan kemudian, aku mengunjungi Nisa.

Kami duduk berhadapan di ruang kunjungan, dipisahkan sebuah meja.

Wajahnya tampak lebih dewasa.

“Kak,” katanya lirih, “Papa cerita soal surat itu.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

Nisa menunduk.

“Aku dulu pikir semua yang kulakukan demi keluarga.”

Aku menatap adikku lama.

“Kita semua bilang begitu, Nis. Papa berutang demi keluarga. Kamu berbohong demi keluarga. Reza menyembunyikan kecurigaannya karena ingin mempertahankan hubungan. Mama memilih tidak melihat karena takut rumah ini berantakan.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Lalu Kakak?”

Aku menarik napas.

“Aku hampir kehilangan diriku sendiri karena terlalu lama merasa wajib menyelamatkan kalian.”

Nisa menangis.

Aku menggenggam tangannya untuk pertama kali sejak hari pertunangan itu.

“Aku masih kakakmu. Tapi mulai sekarang, kita harus belajar bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.”

Nisa mengangguk sambil terisak.

Ketika waktu kunjungan berakhir, dia memanggilku sekali lagi.

“Kak Rani.”

Aku menoleh.

“Terima kasih karena hari itu Kakak tidak meminum tehnya.”

Aku tersenyum sedih.

“Aku juga bersyukur.”

Dalam perjalanan pulang, aku teringat gelas es teh yang dulu terletak di meja ruang keluarga.

Sebuah tablet kecil hampir menghancurkan hidupku.

Namun ternyata bahaya terbesar dalam keluarga kami bukanlah obat yang disembunyikan dalam minuman.

Melainkan kebohongan yang selama bertahun-tahun kami telan tanpa pernah berani mempertanyakannya.

Dan hari ketika aku akhirnya menolak menelan kebohongan itu, adalah hari pertama aku benar-benar menyelamatkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang