Pintu lift pribadi itu terbuka tepat pukul 02.07 dini hari.
Nayla berdiri membeku di tengah ruang tamu apartemennya. Dari balik pintu utama, suara suaminya yang seharusnya sudah meninggal masih terdengar memanggil namanya. Sementara itu, dari arah lift yang terhubung langsung ke basement, terdengar langkah kaki seseorang memasuki rumahnya.
“Nayla, Sayang. Jangan takut. Aku cuma mau bicara.”
Suara dari arah lift itu membuat darah Nayla seolah berhenti mengalir.
Itu juga suara Rendy.
Dua suara yang sama, berasal dari dua tempat berbeda.
Nayla menutup mulutnya agar tidak menjerit.
Di layar ponselnya, kamera koridor masih memperlihatkan sosok Rendy berdiri di depan pintu utama, menggenggam sebatang besi pendek. Namun laki-laki yang baru keluar dari lift juga memanggilnya dengan suara yang persis sama.
“Nayla, aku tahu kamu masih di ruang tamu.”
Perlahan, sesosok laki-laki muncul dari balik dinding pembatas dapur.
Wajahnya menyerupai Rendy, tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Rambutnya lebih pendek. Rahangnya memiliki bekas luka tipis. Dan yang paling mengerikan, dia mengenakan kemeja putih milik Rendy yang terakhir kali Nayla lihat tergantung di lemari pakaian.
Laki-laki itu tersenyum.
“Sudah lama kita tidak bertemu, Nayla.”
Nayla mundur hingga punggungnya membentur meja makan.
“Siapa kamu?”

Laki-laki itu menghela napas.
“Pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan sejak lima tahun lalu.”
Tiba-tiba pintu utama kembali digedor.
“Raka! Jangan sentuh istri gue!”
Laki-laki berkemeja putih itu menoleh ke arah pintu.
Senyumnya menghilang.
“Sepertinya saudara kembarku masih belum belajar menerima kekalahan.”
Nayla merasa lantai di bawah kakinya bergoyang.
Saudara kembar?
Selama lima tahun menikah, Rendy selalu mengatakan dirinya anak tunggal.
Bahkan ketika Nayla bertanya mengapa tidak ada keluarga dari pihak suaminya yang menghadiri pernikahan mereka, Rendy hanya menjawab bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dan seluruh kerabatnya tinggal di luar negeri.
“Namaku Raka Pratama,” kata laki-laki itu. “Dan laki-laki yang kamu nikahi bukan orang yang kamu kira.”
Nayla segera mengangkat ponselnya.
“Aku sudah menghubungi polisi. Mereka sedang menuju ke sini.”
Raka melirik layar ponsel Nayla tanpa menunjukkan kepanikan.
“Bagus. Aku juga sedang menunggu mereka.”
Dari luar terdengar benturan keras. Besi menghantam pintu digital hingga panelnya bergetar.
“RAKA! BUKA PINTUNYA!”
Nayla menatap kedua arah bergantian.
“Polisi bilang Rendy meninggal dalam kecelakaan pukul setengah dua. Kalau dia masih hidup, siapa yang meninggal?”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
“Adikku, Dimas.”
Nayla menggeleng.
“Tidak mungkin.”
“Kami bertiga saudara kembar identik.”
Nayla menatapnya tidak percaya.
Raka mengambil sebuah foto lama dari saku celananya.
Dalam foto itu, tiga anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di depan rumah sederhana. Wajah mereka hampir tidak dapat dibedakan.
Di belakang foto tertulis tiga nama.
Raka. Rendy. Dimas.
“Tapi kenapa Rendy menyembunyikan kalian?”
“Karena dua belas tahun lalu, dia melakukan sesuatu yang membuat keluarga kami hancur.”
Belum sempat Raka melanjutkan, ponsel Nayla kembali bergetar.
Pesan dari nomor ayahnya muncul.
“Nayla, jangan percaya siapa pun yang mengaku keluarganya. Ayah sedang bersama polisi.”
Nayla membaca pesan itu dua kali.
Kemudian dia menatap Raka.
“Kenapa kamu ada di rumahku?”
“Aku datang untuk mengambil sesuatu yang Rendy sembunyikan.”
“Apa?”
“Sebuah kotak besi.”
Nayla teringat gudang di basement.
Raka melanjutkan dengan suara rendah.
“Dua minggu lalu, Rendy memindahkan kotak itu ke gudang apartemenmu. Di dalamnya ada bukti yang bisa membuat dia dipenjara seumur hidup.”
Nayla mulai memahami sesuatu.
Rendy tidak pernah benar-benar berangkat ke Surabaya.
Perjalanan bisnis itu hanyalah alasan.
Tetapi mengapa dia pergi ke rumah ayahnya?
Dan mengapa pecahan keramik dari teras rumah ayahnya tersangkut di sepatu Rendy?
“Apa hubungan semua ini dengan ayahku?”
Raka tidak langsung menjawab.
Dia justru mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah rekaman video.
Dalam rekaman itu, Pak Wijaya duduk di ruang kerjanya di BSD. Di depannya berdiri Rendy dan seorang laki-laki lain yang wajahnya tidak terlihat jelas.
Tanggal rekaman menunjukkan malam sebelumnya, pukul 23.48.
“Aku tidak akan menandatangani dokumen itu!” bentak Pak Wijaya.
Rendy membanting map ke meja.
“Bapak pikir masih punya pilihan?”
“Perusahaan itu milik keluarga saya. Kalian sudah mengambil terlalu banyak!”
Laki-laki ketiga mendekati Pak Wijaya.
Kemudian terdengar suara benda pecah.
Rekaman berhenti.
Nayla merasa mual.
“Apa yang mereka lakukan kepada ayahku?”
“Rendy sedang berusaha mengambil alih seluruh saham perusahaan ayahmu. Dia menggunakan identitas Dimas untuk membuat transaksi palsu.”
Nayla teringat beberapa bulan terakhir.
Ayahnya sering mengeluh tentang kejanggalan laporan keuangan perusahaan. Ada sejumlah transfer besar ke rekening yang tidak dikenalnya.
Rendy selalu menawarkan bantuan.
Dia bahkan mendesak Pak Wijaya agar memberikan akses penuh kepada tim audit pilihannya.
“Jadi selama ini…”
“Suamimu menikahimu bukan karena cinta.”
Kalimat itu menghantam Nayla lebih keras daripada suara besi di pintu.
Namun Raka belum selesai.
“Dia membutuhkan akses ke keluarga Wijaya. Dan setelah berhasil mendapatkan kepercayaan ayahmu, dia mulai memindahkan aset perusahaan sedikit demi sedikit.”
Air mata Nayla mengalir tanpa suara.
Lima tahun pernikahan.
Ratusan makan malam bersama.
Janji untuk memiliki anak.
Semua kenangan itu mendadak terasa seperti bagian dari kebohongan yang direncanakan dengan sangat rapi.
Dari balik pintu, suara Rendy kembali terdengar.
“Nayla! Jangan percaya Raka! Dia yang membunuh Dimas!”
Raka memejamkan mata.
“Dia selalu pandai membalikkan cerita.”
Nayla mengangkat tangannya.
“Cukup. Aku tidak percaya kalian berdua.”
Dia segera membuka aplikasi kamera keamanan dan memeriksa rekaman basement.
Pada pukul 01.46, sebuah mobil hitam memasuki area parkir.
Seorang laki-laki keluar dari kursi pengemudi.
Raka.
Namun ada sesuatu yang membuat Nayla merinding.
Raka tidak sendirian.
Dari kursi belakang, seorang perempuan turun mengenakan jaket hitam dan masker.
Perempuan itu membawa tas besar.
Nayla memperbesar gambar.
Di pergelangan tangan perempuan tersebut terdapat gelang emas dengan liontin berbentuk bunga melati.
Nayla mengenali gelang itu.
Gelang peninggalan ibunya.
Gelang yang sejak kematian sang ibu selalu disimpan ayahnya di brankas rumah BSD.
Nayla menatap Raka.
“Siapa perempuan yang datang bersamamu?”
Raka langsung menoleh ke layar.
Wajahnya berubah pucat.
“Kamu melihatnya?”
“Dia masuk ke basement bersama kamu.”
Raka mundur selangkah.
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena perempuan itu seharusnya masih berada di rumah ayahmu.”
Nayla menahan napas.
“Apa maksudmu?”
Raka tidak menjawab.
Dari arah kamar utama terdengar bunyi sesuatu jatuh.
Kemudian suara langkah kaki perempuan.
Pelan.
Teratur.
Seolah seseorang sedang berjalan tanpa terburu-buru.
Nayla berbalik.
Seorang perempuan keluar dari lorong kamar.
Dia mengenakan jaket hitam yang sama seperti dalam rekaman.
Maskernya sudah dilepas.
Nayla mengenali wajahnya.
“Tante Mira?”
Perempuan itu adalah adik kandung almarhumah ibunya.
Selama bertahun-tahun, Tante Mira tinggal di Singapura. Dia hanya sesekali pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga.
Nayla terakhir bertemu dengannya tiga bulan lalu.
“Nayla, Sayang,” ujar Tante Mira lembut. “Akhirnya kamu tahu semuanya.”
Nayla menatap gelang di pergelangan tangan bibinya.
“Kenapa Tante memakai gelang Ibu?”
Tante Mira tersenyum.
“Karena sebenarnya gelang ini milikku sejak awal.”
Raka langsung mengeluarkan ponselnya.
“Mira, kita sepakat tidak melibatkan Nayla.”
Tante Mira menoleh tajam.
“Diam. Kamu sudah terlalu banyak bicara.”
Nayla merasakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kebohongan suaminya.
Raka dan Tante Mira saling mengenal.
Dan keduanya memiliki rencana sendiri.
“Kalian bekerja sama?”
Tante Mira mendekat.
“Awalnya iya. Tapi Raka mulai merasa bersalah setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dimas.”
Nayla menggeleng.
“Aku tidak mengerti.”
Tante Mira menarik kursi dan duduk dengan tenang.
“Perusahaan ayahmu seharusnya tidak pernah menjadi milik keluarga Wijaya sepenuhnya. Dua puluh tahun lalu, ibumu dan aku membangunnya bersama. Tetapi setelah ibumu menikah, namaku perlahan disingkirkan dari seluruh dokumen kepemilikan.”
“Itu tidak benar.”
“Kamu masih kecil. Kamu tidak tahu apa-apa.”
Nayla teringat cerita ibunya tentang usaha keluarga yang dimulai dari sebuah toko kecil.
Ibunya memang pernah menyebut Tante Mira sebagai orang yang membantu pada masa awal.
Tetapi tidak pernah ada cerita tentang perebutan kepemilikan.
“Aku menggugat ayahmu bertahun-tahun lalu,” lanjut Tante Mira. “Aku kalah karena dokumen-dokumen penting menghilang.”
“Jadi Tante menggunakan Rendy untuk membalas dendam?”
“Rendy datang kepadaku enam tahun lalu. Dia menawarkan kerja sama. Dia akan menikahimu dan mendapatkan akses ke perusahaan. Sebagai imbalannya, aku akan menerima bagian yang menurutku menjadi hakku.”
Nayla memandang bibinya dengan mata berkaca-kaca.
“Tante tahu dia mendekatiku hanya untuk uang?”
Tante Mira tidak menjawab.
Keheningan itu sudah cukup.
Nayla teringat hari pernikahannya.
Tante Mira datang dari Singapura dan memeluknya paling lama.
Perempuan itu menangis sambil mengatakan bahwa almarhumah ibunya pasti sangat bahagia.
Ternyata perempuan yang dianggapnya sebagai pengganti ibu justru membantu menghancurkan hidupnya.
“Kenapa Dimas meninggal?” tanya Nayla.
Raka akhirnya berbicara.
“Dimas menemukan transaksi ilegal Rendy. Dia ingin melapor kepada polisi. Malam ini, Rendy memaksanya membawa dokumen ke bandara dengan mobilnya.”
“Kenapa menggunakan mobil Rendy?”
“Karena Rendy ingin membuat seolah-olah dirinya yang pergi ke Surabaya. Dimas membawa dompet dan dokumen atas nama Rendy untuk urusan perjalanan itu.”
Nayla terdiam.
“Dan kecelakaannya?”
Raka menatap Tante Mira.
“Itu yang ingin aku ketahui.”
Tante Mira berdiri.
“Jangan menatapku seperti itu.”
Raka menunjukkan sebuah pesan di ponselnya.
Pesan dari Dimas pada pukul 01.18.
“Rem mobil terasa aneh. Aku sedang cari tempat berhenti.”
Nayla merasa dadanya sesak.
“Siapa yang terakhir menggunakan mobil itu sebelum Dimas?”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian terdengar suara sirene dari kejauhan.
Tante Mira langsung bergerak menuju lift.
Namun Nayla sudah menekan tombol penguncian darurat melalui aplikasi apartemen.
Pintu lift tidak dapat dibuka.
Tante Mira berbalik dengan wajah penuh amarah.
“Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan!”
“Aku tahu,” jawab Nayla, suaranya bergetar. “Orang-orang yang selama ini kupanggil keluarga.”
Tante Mira meraih sebuah benda dari dalam tasnya.
Raka segera berdiri di depan Nayla.
“Jangan lakukan itu, Mira.”
Sebelum situasi semakin buruk, terdengar suara keras dari pintu utama.
“POLISI! SEMUA TETAP DI TEMPAT!”
Nayla segera menjawab melalui interkom dan meminta petugas menyebutkan identitas mereka.
Setelah memastikan petugas berseragam terlihat di kamera, dia membuka pintu menggunakan aplikasi.
Rendy yang berdiri di koridor langsung dijatuhkan dan diborgol oleh dua polisi.
Batang besi di tangannya terlempar ke lantai.
Beberapa petugas lain memasuki apartemen.
Tante Mira mencoba menyembunyikan benda yang baru dikeluarkannya, tetapi seorang polisi segera mengamankannya.
Benda itu ternyata sebuah alat penyimpan data kecil.
Ketika diperiksa kemudian, perangkat tersebut berisi salinan transaksi perusahaan dan rekaman percakapan yang menghubungkan Tante Mira dengan sejumlah penggelapan dana.
Namun kejutan terbesar baru datang ketika Nayla tiba di kantor polisi menjelang pagi.
Seorang penyidik mempersilakannya duduk.
“Ibu Nayla, kami perlu meluruskan informasi yang disampaikan sebelumnya.”
Nayla menatapnya dengan lelah.
“Suami saya masih hidup. Saya sudah tahu.”
“Bukan hanya itu. Identitas korban kecelakaan juga sudah kami konfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan. Korban benar Dimas Pratama.”
Nayla menunduk.
“Apakah rem mobilnya sengaja dirusak?”
“Kami sedang melakukan pemeriksaan teknis. Belum ada kesimpulan.”
Penyidik kemudian meletakkan sebuah amplop di meja.
“Ini ditemukan dalam tas korban.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.
Surat itu ditujukan kepada Nayla.
Dengan tangan gemetar, dia membukanya.
“Nayla, kamu mungkin tidak mengenalku. Namaku Dimas. Aku saudara kembar Rendy. Selama ini aku membiarkan kakakku menggunakan identitasku untuk beberapa urusan bisnis karena dia berjanji akan membantu biaya pengobatan putriku. Aku baru menyadari betapa besar kesalahanku setelah menemukan dokumen tentang keluargamu.”
Nayla berhenti membaca.
Putri?
Dimas memiliki seorang anak?
Dia melanjutkan.
“Aku sudah menyerahkan salinan bukti kepada seorang pengacara. Jika sesuatu terjadi padaku, dia akan menghubungimu. Ada satu hal yang harus kamu ketahui. Aku menemukan surat asli ibumu di antara dokumen perusahaan.”
Di bawah surat itu terdapat sebuah fotokopi dokumen lama.
Tulisan tangan ibunya memenuhi satu halaman.
Nayla mengenali bentuk hurufnya.
Dalam surat tersebut, sang ibu menjelaskan bahwa Tante Mira memang pernah membantu membangun usaha keluarga. Namun seluruh hak kepemilikannya telah dibeli secara sah bertahun-tahun lalu, dengan pembayaran yang dicatat dalam perjanjian notaris.
Ada pula bukti transfer dan tanda tangan Tante Mira.
Jadi cerita tentang saham yang dirampas bukanlah kebenaran.
Itu alasan yang digunakan Tante Mira untuk membenarkan tindakannya.
Nayla menangis.
Bukan karena kehilangan harta.
Melainkan karena menyadari betapa banyak orang telah terluka oleh keserakahan yang disamarkan sebagai keadilan.
Tiga hari kemudian, Pak Wijaya akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Malam kejadian, dia sempat dipukul saat menolak menandatangani dokumen pengalihan saham. Petugas keamanan kompleks menemukannya tidak sadarkan diri di ruang kerja.
Pesan peringatan yang diterima Nayla ternyata dikirim oleh ayahnya setelah sadar sebentar, sebelum petugas medis membawanya ke rumah sakit.
Rendy ditahan atas dugaan penipuan, pemalsuan dokumen, dan keterlibatannya dalam penyerangan terhadap Pak Wijaya. Tante Mira juga menjalani penyidikan atas dugaan penggelapan dan persekongkolan.
Sementara itu, kematian Dimas masih diselidiki.
Raka memberikan seluruh rekaman dan dokumen yang dimilikinya kepada penyidik.
Untuk pertama kalinya, Nayla merasa tidak perlu memercayai cerita siapa pun tanpa bukti.
Sebulan kemudian, dia mengunjungi makam Dimas.
Di sana, seorang perempuan muda berdiri sambil menggandeng anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai istri Dimas.
“Suami saya pernah bilang,” katanya lirih, “kalau suatu hari dia tidak pulang, saya harus mencari Ibu Nayla.”
Nayla berjongkok di hadapan anak perempuan itu.
“Siapa namamu?”
“Alina.”
Anak itu mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya.
“Ayah bilang ini buat Tante.”
Di dalam amplop terdapat sebuah foto.
Foto pernikahan Nayla dan Rendy lima tahun lalu.
Namun pada bagian belakangnya tertulis kalimat yang membuat Nayla terdiam lama.
“Aku pernah mencoba memperingatkanmu sebelum pernikahan, tetapi suratku tidak pernah sampai. Maaf karena aku terlalu takut untuk mencoba lagi.”
Nayla menatap foto itu.
Di sudut gambar, berdiri seorang laki-laki yang selama ini dia kira hanya tamu undangan biasa.
Dimas.
Laki-laki itu ternyata pernah datang ke pernikahannya, diam-diam berharap dapat menghentikan kebohongan saudaranya.
Nayla menggenggam foto tersebut.
Selama bertahun-tahun, dia mengira bahaya terbesar dalam hidupnya adalah orang asing yang mungkin datang mengetuk pintu pada malam hari.
Ternyata bahaya itu sudah lama tinggal bersamanya, makan di meja yang sama, dan tidur di sisinya.
Sore itu, sebelum meninggalkan pemakaman, Nayla menerima sebuah pesan dari pengacaranya.
Permohonan perceraiannya telah resmi terdaftar di pengadilan.
Dia membaca pesan itu, lalu memandang langit Jakarta yang mulai berubah keemasan.
Untuk pertama kalinya setelah malam mengerikan tersebut, Nayla tersenyum kecil.
Dia tidak bisa mengubah lima tahun yang telah hilang.
Tidak bisa menghidupkan kembali Dimas.
Tidak bisa menghapus pengkhianatan orang-orang yang pernah dicintainya.
Tetapi dia masih memiliki sesuatu yang tidak berhasil dirampas oleh siapa pun.
Kesempatan untuk memulai hidupnya kembali.
Dan ketika malam tiba, Nayla pulang ke apartemen barunya, menutup pintu, lalu menguncinya sendiri.
Bukan karena dia takut seseorang akan datang.
Melainkan karena kini dia tahu, tidak semua orang yang mengenal namanya berhak masuk ke dalam hidupnya.
