“Kalau kamu merasa rumah ini milikmu, silakan buktikan di depan semua orang!”
Suara ibu mertuaku menggema di ruang tamu, mengalahkan musik karaoke yang baru saja dimatikan.
Aku berdiri di dekat tangga sambil menggenggam ponsel. Di hadapanku, hampir dua puluh anggota keluarga suamiku menatap dengan berbagai ekspresi. Ada yang penasaran, ada yang mencibir, dan beberapa tampak menikmati pertengkaran kami seperti sedang menonton sinetron.
Namaku Jana Maharani. Usiaku tiga puluh empat tahun. Selama delapan tahun terakhir, aku membangun perusahaan distribusi alat kesehatan dari sebuah ruko kecil di Jakarta Barat hingga memiliki tiga kantor cabang.
Rumah mewah di kawasan Pondok Indah ini kubeli dua tahun lalu seharga dua belas miliar rupiah.
Tunai.

Uang hasil kerja kerasku sendiri.
Namun setelah tiga minggu melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, aku pulang dan mendapati rumahku berubah menjadi penginapan gratis bagi keluarga suamiku.
Bahkan tempat tidurku telah dipindahkan ke gudang.
“Jana, matikan telepon itu,” kata Carlo, suamiku, dengan suara tertahan.
Aku mengabaikannya.
“Pak Reyes, saya tunggu kedatangan Bapak. Tolong bawa salinan dokumen yang sudah kita bicarakan.”
Aku menutup telepon.
Wajah Carlo berubah pucat.
“Dokumen apa?”
Aku menatapnya.
“Dokumen yang seharusnya kuberikan kepadamu sejak enam bulan lalu.”
Ibu mertuaku, Bu Lorna, mendengus.
“Ancaman lagi! Perempuan zaman sekarang kalau punya uang sedikit langsung merasa bisa menginjak harga diri suami.”
Aku memandang jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya.
“Itu pakaian saya, Bu.”
Dia melirik jubah tersebut, lalu tersenyum mengejek.
“Memangnya kenapa? Barang di rumah ini sekarang milik keluarga. Kamu terlalu perhitungan.”
Aku mengangguk pelan.
“Baik. Kalau begitu, tolong kumpulkan semua barang pribadi saya yang sudah kalian pindahkan.”
Carlo segera mendekat.
“Jana, jangan membuat keributan. Mama cuma ingin keluarga kita lebih dekat.”
“Lebih dekat sampai harus tidur di tempat tidurku?”
“Itu cuma sementara.”
“Lalu kenapa kunci kamar kerjaku juga diganti?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Aku baru menyadarinya ketika melewati lorong lantai dua. Pintu ruang kerjaku yang biasanya menggunakan kunci digital kini dipasangi gagang baru.
Carlo mengalihkan pandangan.
“Mama butuh ruangan untuk menyimpan barang.”
“Barang apa?”
“Jana, cukup!”
Bentakannya membuat seorang anak kecil yang sedang duduk di sofa menangis.
Aku tidak membalas. Aku berjalan menuju gudang di belakang rumah.
Pintu besinya setengah terbuka.
Di dalam, kasur mahal yang kubeli setelah mengalami cedera punggung tergeletak miring, bersandar pada rak berdebu. Seprai putihnya kotor terkena cat. Dua koper pakaianku ditumpuk di atas kardus pupuk tanaman.
Namun bukan itu yang membuat dadaku sesak.
Di sudut ruangan terdapat sebuah kotak kayu kecil.
Aku mengenalinya.
Kotak peninggalan almarhum ayahku.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Jam tangan tua milik Ayah masih ada. Begitu pula beberapa foto keluarga. Tetapi sebuah amplop cokelat yang kusimpan di bawah lapisan kain beludru telah hilang.
Aku berdiri terpaku.
Amplop itu berisi surat tulisan tangan Ayah, yang selalu kubaca setiap kali merasa ingin menyerah.
Aku kembali ke ruang tamu.
“Siapa yang membuka kotak kayu di gudang?”
Tidak seorang pun menjawab.
“Aku bertanya sekali lagi. Siapa yang mengambil amplop cokelat dari kotak peninggalan ayahku?”
Bu Lorna mengangkat dagu.
“Oh, surat-surat lama itu? Mama sudah membuang beberapa kertas yang tidak penting. Gudang terlalu penuh.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Kertas tidak penting?”
“Memangnya surat lama bisa menghasilkan uang?”
Aku menatap perempuan itu lama sekali.
Selama dua tahun menikah, aku selalu berusaha menghormatinya. Ketika rumahnya di Bekasi mengalami kebocoran parah, aku membayar renovasi. Ketika adik Carlo kehilangan pekerjaan, aku membantu biaya sekolah anak-anaknya.
Bahkan setiap bulan aku mengirimkan uang belanja kepada Bu Lorna tanpa pernah mengungkitnya.
Tetapi hari itu, aku menyadari sesuatu.
Kebaikanku tidak pernah dianggap sebagai pemberian.
Mereka menganggapnya sebagai kewajiban.
“Di mana surat itu sekarang?” tanyaku.
“Sudah dibuang bersama sampah minggu lalu.”
Aku memejamkan mata.
Ayah meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Sebelum meninggal, beliau menuliskan pesan agar aku tidak pernah menyerahkan hidupku kepada seseorang hanya karena takut kehilangan cinta.
Surat itu adalah kenangan terakhir yang kuterima darinya.
Dan sekarang telah hilang.
“Keluar dari rumah saya,” kataku pelan.
Bu Lorna tertawa.
“Apa?”
“Saya meminta semua orang yang tidak tinggal di sini secara sah untuk mengemasi barang dan pergi.”
Carlo mencengkeram lenganku.
“Kamu sudah keterlaluan!”
Aku menepis tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Saat itulah seorang perempuan muda muncul dari dapur.
Namanya Melati, sepupu Carlo. Selama ini dia termasuk anggota keluarga yang jarang berbicara.
“Kak Jana,” bisiknya, “boleh aku bicara sebentar?”
Bu Lorna langsung menyela.
“Melati, masuk lagi ke dapur!”
Tetapi Melati tidak bergerak.
Wajahnya pucat.
“Ada sesuatu yang harus Kakak tahu.”
Carlo menatapnya tajam.
“Jangan ikut campur.”
Melati menelan ludah.
“Tiga hari lalu, aku diminta menjadi saksi saat mereka membawa seseorang ke rumah ini.”
Jantungku berdebar.
“Seseorang siapa?”
Melati melirik Carlo.
“Orang dari kantor notaris.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menoleh kepada suamiku.
“Untuk apa?”
Carlo menjawab terlalu cepat.
“Urusan keluarga. Tidak ada hubungannya denganmu.”
Melati menggeleng.
“Ada, Kak. Mereka membicarakan rumah ini.”
Bu Lorna berdiri.
“Anak tidak tahu diri! Kami menampungmu di sini, sekarang kamu mau mengkhianati keluarga sendiri?”
Melati mulai menangis.
“Aku tidak mau ikut berbohong lagi, Tante.”
Dia mengeluarkan ponsel.
“Aku merekam pembicaraan mereka karena takut nanti namaku ikut terseret.”
Carlo melangkah maju, tetapi aku berdiri di antara mereka.
“Putar rekamannya.”
Terdengar suara laki-laki menjelaskan bahwa pengalihan kepemilikan rumah tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan pemilik sah.
Kemudian suara Carlo terdengar jelas.
“Kalau istri saya menandatangani surat kuasa, semuanya bisa diproses, kan?”
Suara lain menjawab bahwa dokumen harus ditandatangani secara sah dan diverifikasi.
Lalu Bu Lorna berbicara.
“Jana itu terlalu sibuk bekerja. Suruh saja dia tanda tangan tanpa membaca. Bilang untuk urusan pajak.”
Aku merasa darahku membeku.
Rekaman berlanjut.
Carlo berkata, “Kalau sertifikatnya sudah bisa dijadikan jaminan, kita punya cukup uang untuk menutup utang proyek.”
Aku menatapnya.
“Utang proyek apa?”
Carlo tidak menjawab.
“Carlo!”
Dia mengusap wajah.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Sebelum dia membuka mulut, bel rumah berbunyi.
Pak Reyes datang bersama seorang asisten dan seorang perempuan berkacamata yang kukenal sebagai notaris rekanan perusahaanku.
Pak Reyes adalah pengacara keluarga yang telah mendampingiku sejak Ayah meninggal.
Aku mempersilakan mereka masuk.
Melihat kedatangan mereka, Carlo langsung berusaha mengubah sikap.
“Pak, ini cuma salah paham keluarga. Istri saya sedang emosional.”
Pak Reyes menatapnya tenang.
“Kalau begitu, kita selesaikan berdasarkan fakta.”
Beliau membuka map hitam.
“Bu Jana, sebelum membahas persoalan rumah, ada hal mendesak yang perlu Ibu ketahui.”
Aku mengangguk.
“Silakan.”
“Pagi tadi, kantor kami menerima permintaan verifikasi dari sebuah perusahaan pembiayaan. Mereka mendapatkan salinan sertifikat rumah ini dan dokumen yang diklaim sebagai persetujuan Ibu.”
Aku menoleh kepada Carlo.
Dia mundur selangkah.
Pak Reyes melanjutkan.
“Nilai pembiayaan yang diajukan mencapai enam miliar rupiah.”
Beberapa kerabat Carlo langsung berbisik.
Bu Lorna terduduk.
Aku menatap suamiku.
“Kamu mencoba menggadaikan rumahku?”
Carlo menggeleng.
“Bukan menggadaikan. Cuma pinjaman sementara.”
“Dengan menggunakan rumah yang bukan milikmu?”
“Aku suamimu!”
“Dan itu tidak memberimu hak memalsukan persetujuanku!”
Dia terdiam.
Pak Reyes mengeluarkan selembar dokumen.
“Tanda tangan pada salinan surat kuasa ini berbeda dari spesimen tanda tangan Bu Jana. Kami juga sudah meminta agar proses pembiayaan dihentikan sampai keabsahan dokumen diperiksa.”
Aku melihat kertas itu.
Di bagian bawah terdapat namaku.
Jana Maharani.
Tanda tangannya dibuat menyerupai milikku, tetapi lengkungan huruf terakhir salah.
Aku mengenali kesalahan itu.
Seseorang meniru tanda tanganku dari dokumen lama.
“Dari mana kamu mendapatkan contoh tanda tanganku?” tanyaku.
Carlo memandang lantai.
Bu Lorna tiba-tiba berseru.
“Jangan menuduh anak saya! Semua ini dilakukan demi keluarga!”
Aku menatapnya.
“Jadi Ibu tahu?”
Dia terdiam.
Jawaban itu sudah cukup.
Pak Reyes mengeluarkan dokumen lain.
“Rumah ini dibeli Bu Jana sebelum pernikahan dan tercatat atas nama beliau. Dalam perjanjian perkawinan yang telah dibuat secara sah, rumah tersebut juga ditegaskan sebagai harta pribadi Bu Jana.”
Carlo langsung mendongak.
“Perjanjian apa?”
Aku menatapnya dengan perasaan getir.
“Perjanjian yang kamu tanda tangani sebelum kita menikah.”
“Aku tidak ingat!”
“Karena waktu itu kamu bilang tidak peduli dengan hartaku. Kamu bilang menikahiku karena cinta.”
Dia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku masih ingat hari itu.
Carlo menggenggam tanganku di kantor notaris dan berkata bahwa uang tidak akan pernah menjadi masalah dalam pernikahan kami.
Aku mempercayainya.
Bahkan ketika usahanya mulai gagal, aku tetap mendukungnya.
Tetapi enam bulan lalu, aku menemukan tagihan pinjaman yang tidak pernah diceritakannya.
Awalnya hanya tiga ratus juta rupiah.
Kemudian bertambah menjadi hampir dua miliar.
Ketika kutanya, Carlo mengaku uang itu digunakan untuk membiayai proyek konstruksi bersama seorang teman.
Aku memintanya berhenti meminjam dan menyelesaikan utang dengan menjual aset usahanya.
Dia berjanji.
Ternyata janji itu tidak pernah ditepati.
“Enam bulan lalu,” kataku, “aku sudah meminta Pak Reyes menyiapkan dokumen perceraian.”
Carlo membeku.
“Apa?”
“Aku belum mengajukannya karena masih berharap kamu berubah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Jana, jangan lakukan ini.”
Aku menarik napas panjang.
“Sekarang aku tahu keputusan apa yang harus kuambil.”
Namun sebelum aku melanjutkan, Melati kembali mengangkat tangan.
“Kak, masih ada satu hal.”
Semua orang menoleh.
Melati menggenggam ponselnya erat-erat.
“Tadi pagi aku mendengar Tante Lorna menelepon seseorang. Katanya setelah rumah ini berhasil dijadikan jaminan, Kak Jana akan diminta pindah ke apartemen.”
Aku memandang ibu mertuaku.
Dia memalingkan wajah.
“Dan,” lanjut Melati dengan suara bergetar, “Tante bilang Carlo harus segera menikahi perempuan yang selama ini membantunya mengurus proyek.”
Suasana langsung kacau.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Carlo berteriak.
“Melati, diam!”
Tetapi Melati sudah terlanjur bicara.
“Namanya Vanessa.”
Nama itu tidak asing.
Vanessa adalah perempuan yang diperkenalkan Carlo sebagai konsultan keuangan perusahaannya.
Aku pernah bertemu dengannya dua kali.
Perempuan itu selalu bersikap ramah, bahkan pernah memujiku sebagai istri yang sangat mendukung suami.
“Vanessa?” ulangku.
Carlo menggeleng cepat.
“Dia cuma rekan bisnis.”
Melati membuka sebuah foto.
Di layar terlihat Carlo dan Vanessa duduk berdampingan di sebuah restoran. Tangan Carlo melingkar di pinggang perempuan itu.
Foto berikutnya memperlihatkan mereka berciuman di area parkir.
Aku tidak menangis.
Anehnya, setelah semua yang terjadi, hatiku justru terasa sangat tenang.
Mungkin karena pengkhianatan tidak lagi datang sebagai kejutan.
Ia hanya melengkapi sesuatu yang selama ini sudah kurasakan.
Bu Lorna tiba-tiba menangis.
“Jana, Mama mohon. Jangan hancurkan masa depan Carlo.”
Aku menatapnya.
“Ibu tidak memikirkan masa depan saya ketika membuang barang-barang saya?”
“Carlo anak laki-laki satu-satunya!”
“Dan saya juga anak seseorang, Bu.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Aku melanjutkan.
“Ayah saya bekerja hampir sepanjang hidupnya untuk membesarkan saya. Beliau mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan mahal, tetapi tempat seseorang merasa aman.”
Suaraku mulai bergetar.
“Dan kalian mengambil rasa aman itu dari saya.”
Pak Reyes kemudian menjelaskan bahwa pengacara kami akan mengurus laporan terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penggunaan data pribadi tanpa izin. Sementara itu, pihak keamanan diminta memastikan tidak ada barang yang dibawa keluar tanpa pemeriksaan.
Aku memberi waktu kepada para kerabat Carlo untuk mengemas barang pribadi mereka.
Tidak ada teriakan lagi.
Orang-orang yang tadi tertawa kini menunduk sambil menyeret koper menuju pintu.
Sebagian meminta maaf.
Sebagian lain menghindari tatapanku.
Carlo mencoba mendekat ketika ruang tamu mulai kosong.
“Jana, aku benar-benar mencintaimu.”
Aku memandang laki-laki yang pernah kupilih sebagai pasangan hidup.
“Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu membiarkan ibumu tidur di kamarku sementara barang-barangku dibuang ke gudang?”
Dia menangis.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
“Dan untuk menyelamatkan dirimu, kamu bersedia mengambil semuanya dariku.”
Carlo tidak bisa menjawab.
Sore itu, dia meninggalkan rumah dengan satu koper.
Bu Lorna berjalan di belakangnya. Jubah sutraku sudah dilepaskan dan diletakkan di atas kursi.
Sebelum keluar, perempuan itu menoleh.
“Kamu akan menyesal hidup sendirian.”
Aku menjawab pelan.
“Lebih baik sendirian di rumah sendiri daripada merasa asing di rumah yang penuh orang.”
Pintu tertutup.
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari Jepang, rumah itu benar-benar sunyi.
Aku duduk di lantai ruang tamu.
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Carlo.
Bukan karena uang.
Melainkan karena aku baru menyadari betapa lama aku memaksakan diri mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah hancur.
Malam itu, Pak Reyes menghubungiku kembali.
Beliau mengatakan perusahaan pembiayaan telah mengonfirmasi bahwa proses pengajuan dihentikan. Mereka juga menyimpan dokumen yang diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun ada kabar lain.
“Bu Jana, kami berhasil menemukan sesuatu.”
“Apa itu?”
“Rekaman kamera keamanan di area pembuangan sampah belakang rumah.”
Aku langsung berdiri.
Dalam rekaman itu terlihat Bu Lorna membawa beberapa kantong plastik hitam keluar dari rumah.
Salah satunya robek ketika diangkat.
Beberapa kertas berjatuhan.
Seorang petugas kebersihan memungutnya dan memasukkannya ke sebuah kotak terpisah karena mengira dokumen tersebut masih penting.
Pak Reyes telah menghubungi petugas itu.
Kertas-kertas tersebut masih disimpan.
Keesokan paginya, aku datang ke pos pengelolaan lingkungan bersama Melati.
Di sana, seorang pria paruh baya menyerahkan sebuah amplop cokelat yang sedikit kusut.
Tanganku gemetar saat menerimanya.
Tulisan tangan Ayah masih terlihat jelas.
Untuk Jana, putri kecil Ayah.
Aku membuka surat itu di dalam mobil.
Kalimat-kalimat yang sudah berkali-kali kubaca kembali menyambutku.
Ayah menulis tentang kerja keras, keberanian, dan pentingnya memilih orang-orang yang menghargai kita bahkan ketika kita tidak memiliki apa-apa.
Namun ada sesuatu yang belum pernah kusadari sebelumnya.
Di bagian belakang surat terdapat sebuah kalimat kecil.
Jika suatu hari kamu merasa kehilangan rumahmu, ingatlah bahwa rumah pertama yang Ayah bangun untukmu bukan terbuat dari batu bata, melainkan keberanian untuk berdiri di atas kakimu sendiri.
Aku menangis begitu keras hingga Melati harus memelukku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menahan air mata.
Tiga bulan kemudian, proses perceraianku masih berjalan.
Pemeriksaan dugaan pemalsuan dokumen juga berlanjut. Aku menyerahkan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan membiarkan proses hukum menentukan tanggung jawab masing-masing.
Perusahaan Carlo akhirnya menghentikan operasional setelah sejumlah kreditur menuntut penyelesaian kewajiban.
Aku tidak merasa senang mendengarnya.
Aku hanya merasa lega karena tidak lagi harus menyelamatkan seseorang yang terus-menerus menenggelamkan dirinya sendiri.
Rumahku telah direnovasi.
Gudang dibersihkan. Kamar utama kembali seperti semula. Ruang kerja dipasangi sistem keamanan baru.
Tetapi aku membuat satu perubahan yang tidak pernah kurencanakan.
Aku mengubah dua kamar tamu menjadi tempat tinggal sementara bagi perempuan yang sedang membangun kembali hidup mereka setelah mengalami kekerasan ekonomi atau kehilangan tempat tinggal.
Program itu dijalankan bersama sebuah lembaga pendamping perempuan, dengan aturan keamanan dan masa tinggal yang jelas.
Melati membantuku mengurus administrasinya.
Suatu sore, ketika kami sedang menyiapkan kamar, dia bertanya, “Kak Jana, apa Kakak tidak takut rumah ini jadi ramai lagi?”
Aku tersenyum.
“Dulu rumah ini ramai oleh orang-orang yang merasa berhak mengambil apa pun dariku.”
Aku membuka jendela, membiarkan cahaya sore masuk.
“Sekarang aku ingin rumah ini diisi orang-orang yang sedang belajar mendapatkan kembali hak atas hidup mereka.”
Melati mengangguk.
Beberapa hari kemudian, seorang perempuan muda datang bersama anak perempuannya yang berusia enam tahun.
Mereka hanya membawa dua tas pakaian.
Anak kecil itu berdiri ragu di depan kamar yang sudah kami siapkan.
“Bu,” bisiknya kepada ibunya, “kita boleh tidur di kasur ini?”
Ibunya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Aku berjongkok di depan anak itu.
“Tentu boleh.”
“Tidak akan dimarahi?”
Dadaku terasa sesak.
Aku menggeleng.
“Tidak. Selama kalian tinggal di sini, kamar ini adalah tempat kalian beristirahat dengan tenang.”
Anak itu tersenyum untuk pertama kalinya.
Malamnya, aku kembali membaca surat Ayah.
Di luar kamar, terdengar suara tawa kecil dari penghuni baru rumahku.
Aku memandangi foto Ayah yang kini terpasang di atas meja.
“Ayah,” bisikku, “akhirnya aku mengerti.”
Dulu aku mengira membeli rumah mewah secara tunai adalah bukti bahwa aku telah berhasil.
Aku mengira memiliki suami dan keluarga besar berarti hidupku sudah lengkap.
Tetapi ternyata keberhasilan bukan tentang seberapa mahal rumah yang kita miliki, dan keluarga bukan tentang berapa banyak orang yang berkumpul di bawah satu atap.
Rumah yang sesungguhnya adalah tempat kita tidak perlu meminta izin untuk menjadi diri sendiri.
Aku mematikan lampu dan berbaring di tempat tidurku.
Tempat tidur yang pernah dibuang ke gudang oleh orang-orang yang menganggapku tidak berharga.
Kini kasur itu telah dibersihkan dan dipasang kembali.
Sebelum memejamkan mata, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Jana, ini Vanessa. Aku tahu kamu membenciku. Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Carlo juga menggunakan tanda tanganku untuk mengajukan pinjaman. Aku baru mengetahuinya hari ini.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Aku sudah melapor ke polisi. Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu bukan satu-satunya orang yang dia bohongi.
Aku meletakkan ponsel.
Dulu, mungkin aku akan segera menelepon Vanessa, memarahinya, menuntut penjelasan, atau bahkan berusaha membuktikan bahwa penderitaanku lebih besar daripada penderitaannya.
Namun malam itu, aku hanya meneruskan pesan tersebut kepada Pak Reyes untuk ditindaklanjuti melalui jalur yang tepat.
Lalu aku membuka kembali surat Ayah.
Di bagian paling bawah, ada satu kalimat yang selalu membuatku tersenyum.
Jana, jangan pernah mengukur nilai dirimu dari cara orang lain memperlakukanmu. Emas tetaplah emas, sekalipun seseorang membuangnya ke dalam lumpur.
Aku melipat surat itu dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur tanpa menunggu seseorang pulang, tanpa mencemaskan utang orang lain, dan tanpa merasa harus meminta maaf karena memiliki sesuatu yang kuperjuangkan sendiri.
Aku kehilangan suami.
Aku kehilangan keluarga yang pernah kuanggap sebagai keluarga sendiri.
Tetapi aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diriku sendiri.
Dan akhirnya aku memahami satu hal.
Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan memindahkan tempat tidurmu ke gudang hanya agar dirinya bisa merasa menjadi pemilik rumah.
Dia justru akan memastikan bahwa setelah menghadapi kerasnya dunia, selalu ada tempat yang aman untukmu pulang.
