TRUK PROYEK MENYANGKUT DI BAWAH JEMBATAN, PARA AHLI MAU MEMBONGKAR MUATANNYA—SAMPAI ANAK PENJUAL ES MENUNJUK SATU ANGKA ANEH DI TIMBANGAN PORTABEL.

“Jangan tarik lagi! Kalau dipaksa, jembatannya bisa rusak!”

Teriakanku membuat operator mobil derek langsung menghentikan mesin. Namun semuanya sudah terlambat untuk mencegah suara mengerikan yang terdengar dari atas kabin truk.

KRRRAAAK!

Balok baja jembatan kereta tua di Semarang bergetar. Serpihan karat berjatuhan ke aspal, membuat para petugas berhamburan menjauh.

Aku, Deni Prasetyo, hanya bisa berdiri dengan kedua kaki gemetar.

Selama delapan tahun menjadi sopir truk logistik, belum pernah aku mengalami kejadian sememalukan sekaligus semenakutkan ini.

Truk boks yang kukemudikan tersangkut di bawah jembatan. Bagian atap belakangnya terjepit begitu rapat hingga kendaraan tidak bisa bergerak maju ataupun mundur.

Padahal, aku sudah melewati jalur ini puluhan kali.

“Deni! Kamu mau bikin perusahaan bangkrut?”

Pak Hendra, kepala operasional perusahaan tempatku bekerja, menghampiriku dengan wajah merah padam.

“Batas ketinggian jembatan empat meter, Pak. Tinggi truk sesuai dokumen cuma 3,92 meter.”

“Kalau begitu kenapa bisa tersangkut?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itulah yang terus berputar di kepalaku sejak kejadian tadi.

Beberapa petugas Dinas Perhubungan menutup jalan. Antrean kendaraan sudah mengular hampir satu kilometer. Perjalanan kereta di atas jembatan pun dihentikan sementara.

Tak lama kemudian, seorang insinyur bernama Arief datang bersama tim pemeriksa struktur.

Setelah melakukan pengukuran, ia mengerutkan kening.

“Aneh. Bagian depan truk masih punya jarak aman. Yang menempel justru bagian belakang.”

“Potong saja atapnya!” bentak Pak Hendra.

“Tidak bisa sembarangan,” jawab Arief. “Struktur boks sedang menerima tekanan. Kalau dipotong tanpa perhitungan, rangkanya bisa melenting.”

“Jadi bagaimana?”

“Kita harus mengurangi muatan atau menyiapkan proses evakuasi menggunakan alat berat.”

Aku langsung menunjukkan dokumen pengiriman.

Di dalam truk terdapat enam peti besar yang menurut keterangan awal berisi peralatan diagnostik rumah sakit senilai Rp3,7 miliar.

Namun ada sesuatu yang membuatku gelisah.

Ketika berangkat dari gudang pagi tadi, aku hanya menerima daftar lima peti.

Peti keenam dimasukkan menjelang keberangkatan atas instruksi langsung Pak Hendra.

Saat itu aku tidak banyak bertanya.

Kesalahan yang kemudian hampir menghancurkan hidupku.

Di tengah keributan, seorang bocah kurus menghampiri kami sambil membawa termos plastik.

“Es teh, Pak? Air mineral dingin?”

Seorang petugas menyuruhnya menjauh.

Namun aku memanggilnya kembali dan membeli sebotol air.

“Namamu siapa, Dek?”

“Rafi, Om.”

“Enggak sekolah?”

“Sekolah pagi, Om. Sekarang bantu Ibu jualan.”

Aku memberikan uang sepuluh ribu rupiah dan menyuruhnya menyimpan kembalian.

Rafi tidak langsung pergi.

Ia memperhatikan trukku dengan saksama.

“Om, kenapa belakang truknya miring?”

Aku menoleh.

“Jalannya mungkin enggak rata.”

“Tapi mobil polisi di sebelah enggak miring.”

Aku terdiam.

Bocah itu menunjuk bagian belakang kendaraan.

“Kalau beratnya beda, rodanya turun sebelah, kan?”

Sebelum aku sempat menjawab, Pak Arief mendekat.

Ia berjongkok memeriksa suspensi, lalu meminta petugas mendatangkan timbangan roda portabel.

Pengukuran dilakukan secara bergantian dengan pengamanan yang ketat.

Ketika hasilnya muncul, wajah Arief berubah.

“Berat aktual kendaraan jauh lebih besar daripada yang tercantum di dokumen.”

“Selisih berapa?” tanyaku.

“Sekitar tiga ton. Dan sebagian besar kelebihan beban terkonsentrasi di belakang.”

Pak Hendra langsung merampas manifest dari tanganku.

“Kamu yang tanda tangan dokumen ini, Deni!”

“Saya tanda tangan setelah petugas gudang selesai memuat barang, Pak!”

“Artinya kamu bertanggung jawab!”

Aku hendak membantah, tetapi Arief mengangkat tangan.

“Jangan menyalahkan siapa pun dulu. Kita perlu mengetahui apa sebenarnya yang dibawa kendaraan ini.”

Rafi yang berdiri di dekat trotoar tiba-tiba menunjuk layar timbangan.

“Pak, angkanya tadi berubah waktu rodanya dinaikkan sedikit.”

Arief menoleh.

“Maksudmu?”

“Yang sebelah kiri sama kanan bedanya jauh. Padahal kotaknya kelihatan disusun di tengah.”

Arief memeriksa kembali hasil pengukuran.

Perkataan bocah itu benar.

Distribusi beban bukan sekadar berlebihan, melainkan juga tidak seimbang.

“Ada kemungkinan satu peti memiliki berat yang jauh melampaui perkiraan,” gumamnya.

Aku langsung teringat peti keenam.

“Pak, ada barang tambahan yang tidak tercatat.”

Wajah Pak Hendra mendadak pucat.

“Jangan asal bicara!”

Aku menunjukkan manifest.

“Cuma ada lima nomor seri. Tapi barang yang dimuat enam peti.”

Keheningan singkat menyelimuti kami.

Kemudian aku menunjuk pintu servis kecil di sisi boks.

“Kita bisa melihat peti terakhir dari sini.”

Pak Hendra langsung menghalangi jalanku.

“Tidak perlu! Itu barang pribadi direksi!”

Arief menatapnya tajam.

“Kalau memang barang pribadi, kenapa ikut dalam pengiriman alat medis?”

Pak Hendra tidak menjawab.

Dengan persetujuan petugas yang mengamankan lokasi, aku membuka pintu servis.

Peti keenam berada tepat di dekatnya.

Tidak ada label rumah sakit.

Tidak ada nomor pengiriman.

Hanya lakban hitam yang menutupi sebagian permukaannya.

Setelah panel inspeksi peti dibuka, kami menemukan puluhan balok logam keabu-abuan yang disusun rapat.

Arief segera melarang siapa pun menyentuhnya.

“Jangan dipindahkan sebelum kita tahu materialnya.”

Saat itulah Rafi menunjuk sebuah stiker yang terselip di bawah balok paling depan.

“Om, itu ada tulisannya.”

Aku mengarahkan senter.

PT SURYA METALINDO.

BARANG BUKTI SENGKETA PABEAN.

DILARANG DIPINDAHKAN.

Arief membaca tulisan itu dua kali.

Kemudian ia mengeluarkan ponsel.

“Pak Hendra, sebaiknya Bapak tidak meninggalkan lokasi.”

“Kenapa? Itu cuma stiker bekas!”

“Mungkin. Tapi kita harus memastikannya.”

Pak Hendra mendadak meraih lenganku.

“Deni, tutup petinya. Sekarang!”

Cengkeramannya begitu kuat sampai aku meringis.

“Pak, kenapa Bapak takut sekali?”

“Karena kamu enggak tahu sedang berurusan dengan siapa!”

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.

Pesan dari Yudi, petugas gudang.

Mas, jangan buka peti keenam. Pak Hendra bilang itu barang pribadi direksi. Aku disuruh hapus rekaman CCTV loading tadi pagi.

Jantungku berdegup kencang.

Aku segera mengambil tangkapan layar.

Belum sempat membalas, pesan kedua masuk.

Mas, hati-hati. Ada orang yang sedang menuju lokasi buat ambil peti itu.

Aku mengangkat kepala.

Di ujung jalan, sebuah SUV hitam baru saja berhenti melewati barikade petugas.

Dua pria berpakaian rapi turun.

Salah satunya membawa tas dokumen.

Pria yang lebih tua memperkenalkan diri sebagai Bima, perwakilan pemilik perusahaan logistik kami.

“Pak Hendra, ada masalah apa?”

Pak Hendra segera menghampirinya.

“Cuma kecelakaan kecil, Pak.”

Bima memandang truk, kemudian melihat peti yang terbuka.

Senyumnya menghilang.

“Siapa yang membuka itu?”

Aku mengangkat tangan.

“Saya, Pak.”

Ia berjalan mendekat.

“Deni, ya? Saya dengar kamu punya istri dan anak perempuan.”

Darahku serasa berhenti mengalir.

“Apa hubungannya dengan keluarga saya?”

“Tidak ada. Saya cuma mengingatkan, orang yang punya tanggungan sebaiknya tidak membuat keputusan gegabah.”

Arief segera berdiri di antara kami.

“Pak, kendaraan ini sedang dalam penanganan petugas. Tolong jangan mengintimidasi sopir.”

Bima tersenyum tipis.

“Bapak terlalu jauh mencampuri urusan perusahaan.”

“Kalau menyangkut keselamatan jembatan dan barang yang diduga bermasalah, ini bukan lagi sekadar urusan perusahaan.”

Bima mengeluarkan telepon.

“Baik. Kalau begitu, saya hubungi orang yang berwenang.”

Aku tidak tahu siapa yang diteleponnya.

Namun lima belas menit kemudian, dua kendaraan lain tiba.

Salah satunya membawa beberapa orang yang mengaku sebagai tim pengamanan barang.

Mereka meminta agar peti keenam segera diserahkan.

Arief menolak.

“Tanpa dokumen resmi dan koordinasi dengan petugas berwenang, tidak ada barang yang boleh dipindahkan.”

Suasana semakin panas.

Di tengah ketegangan itu, Rafi menarik ujung bajuku.

“Om Deni.”

“Apa, Fi?”

“Orang yang baru datang itu aku pernah lihat.”

Aku menoleh.

“Di mana?”

“Dekat tempat Ibu jualan. Dia sering datang malam-malam ke gudang belakang pasar.”

Aku mengerutkan kening.

“Gudang apa?”

“Gudang yang dulu kebakaran.”

Aku langsung teringat berita tiga bulan sebelumnya.

Sebuah gudang penyimpanan barang sitaan di kawasan industri Semarang mengalami kebakaran. Sejumlah dokumen rusak, tetapi pihak pengelola menyatakan barang-barang penting sudah dipindahkan sebelumnya.

Saat itu kasusnya tidak menarik banyak perhatian.

Namun sekarang, nama PT Surya Metalindo membuat semuanya terasa berhubungan.

Aku bertanya kepada Rafi, “Kamu yakin pernah melihat orang itu?”

Rafi mengangguk.

“Dia yang marah waktu Bapak memotret truk di sana.”

“Bapakmu?”

Wajah bocah itu berubah.

“Iya.”

“Sekarang Bapak di mana?”

Rafi menunduk.

“Sudah meninggal.”

Aku tidak langsung bertanya lagi.

Namun Rafi melanjutkan dengan suara pelan.

“Katanya kecelakaan motor. Padahal malam sebelumnya Bapak bilang menemukan sesuatu yang enggak boleh dilihat orang.”

Aku merasakan hawa dingin merambat di punggung.

“Bapakmu kerja apa?”

“Dulu petugas timbang di gudang itu.”

Aku menatap Rafi.

Lalu menatap angka pada timbangan portabel.

Tiba-tiba aku memahami mengapa bocah berusia tiga belas tahun itu begitu memperhatikan distribusi berat kendaraan.

“Ayahmu yang mengajarimu soal timbangan?”

Rafi mengangguk.

“Kalau libur sekolah, aku suka ikut Bapak kerja. Katanya angka enggak bisa bohong, tapi orang bisa bikin angka kelihatan benar.”

Kalimat sederhana itu menghantam dadaku.

Sementara kami berbicara, petugas kepolisian yang sebelumnya mengatur lalu lintas mulai mengamankan area di sekitar peti.

Arief sudah menghubungi pihak terkait untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bima tampak semakin gelisah.

Ia mendekatiku sekali lagi.

“Deni, saya kasih kamu dua ratus juta. Bilang saja peti itu kamu ambil sendiri tanpa izin.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Bapak mau saya mengaku mencuri?”

“Anggap saja kesalahan administrasi. Pengacara akan mengurus semuanya.”

“Kalau saya menolak?”

Bima menatapku tanpa berkedip.

“Kamu tahu sendiri akibatnya.”

Aku teringat istriku, Sari, yang sedang menunggu kelahiran anak kedua kami.

Teringat cicilan rumah.

Teringat putriku yang selalu berlari menyambutku setiap kali pulang.

Dua ratus juta bukan uang kecil bagi sopir sepertiku.

Namun ketika melihat Rafi berdiri dengan sandal berbeda warna dan termos plastik yang hampir kosong, aku merasa malu pada diriku sendiri.

Anak itu sudah kehilangan ayahnya.

Aku tidak ingin putriku mengalami hal serupa karena aku memilih menutupi kejahatan orang lain.

Aku mengaktifkan perekam suara di ponselku.

“Maaf, Pak. Saya tidak akan mengaku melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan.”

Wajah Bima mengeras.

“Kamu akan menyesal.”

“Kalau begitu, biar saya menyesal karena mengatakan yang benar.”

Tidak lama kemudian, penyidik yang berwenang tiba dan mengambil alih pemeriksaan barang.

Petugas juga meminta semua orang menjauh dari kendaraan sampai struktur jembatan dinyatakan aman.

Evakuasi truk tidak dilakukan dengan menariknya secara paksa.

Tim teknis terlebih dahulu menstabilkan kendaraan, memeriksa kondisi balok jembatan, lalu menyusun metode pengurangan beban dengan peralatan khusus.

Peti keenam baru dipindahkan setelah prosedur pengamanan disetujui.

Saat proses berlangsung, seorang petugas menunjukkan hasil pemeriksaan awal kepadaku.

Balok-balok itu bukan besi biasa.

Sebagian merupakan logam industri bernilai tinggi yang tercatat dalam sengketa impor PT Surya Metalindo.

Namun kejutan sebenarnya muncul ketika salah satu balok diperiksa lebih dekat.

Di balik lapisan logam luarnya ditemukan rongga tersembunyi.

Rongga itu berisi beberapa keping logam kuning yang kemudian diamankan untuk diuji.

Bima langsung meminta pengacara.

Pak Hendra duduk lemas di tepi trotoar.

Aku sendiri tidak sanggup berkata apa-apa.

Penyidik menjelaskan bahwa identitas dan asal barang harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium dan dokumen kepabeanan.

Tetapi satu hal sudah jelas.

Peti keenam tidak seharusnya berada di trukku.

Sore menjelang ketika petugas akhirnya berhasil membebaskan kendaraan dari bawah jembatan.

Arief mengembuskan napas panjang.

“Untung tadi dereknya langsung dihentikan.”

Aku mengangguk.

“Kalau enggak ada anak itu, mungkin kita masih sibuk menyalahkan ukuran truk.”

Kami sama-sama menoleh mencari Rafi.

Namun bocah itu sudah tidak berada di dekat trotoar.

Termos plastiknya pun menghilang.

Aku sempat khawatir sampai seorang petugas memberitahuku bahwa Rafi sedang duduk bersama seorang perempuan di pos keamanan.

Perempuan itu ibunya.

Namanya Bu Lestari.

Ketika aku menghampiri mereka, wajah perempuan itu terlihat sangat cemas.

“Rafi bilang dia membantu polisi, Pak. Anak saya bikin masalah?”

“Tidak, Bu. Justru dia membantu kami menemukan sesuatu yang penting.”

Bu Lestari memeluk putranya erat.

Air matanya menetes.

“Dulu suami saya juga bilang begitu. Katanya dia menemukan sesuatu yang penting.”

Aku duduk di hadapan mereka.

“Bu, apa sebenarnya yang terjadi pada suami Ibu?”

Perempuan itu ragu cukup lama.

Kemudian ia membuka tas lusuhnya dan mengeluarkan sebuah amplop plastik.

“Suami saya meninggalkan ini sebelum meninggal.”

Di dalamnya terdapat salinan catatan penimbangan, beberapa foto kendaraan, dan secarik kertas bertuliskan nomor kontainer.

Aku membacanya.

Salah satu nomor kontainer sama dengan kode yang tercetak samar pada peti keenam.

Tanganku gemetar.

“Kenapa Ibu tidak menyerahkan ini kepada polisi?”

“Sudah pernah, Pak. Tapi waktu itu kami cuma punya foto dan catatan. Tidak ada barang yang bisa diperiksa. Setelah suami saya meninggal, saya takut.”

Rafi menatap ibunya.

“Makanya Rafi selalu ingat angka yang Bapak ajarin.”

Bu Lestari menangis semakin keras.

Malam itu, seluruh dokumen diserahkan kepada penyidik.

Aku juga memberikan pesan Yudi, rekaman ancaman Bima, dan keterangan tentang peti tambahan.

Beberapa hari kemudian, Yudi bersedia memberikan kesaksian setelah mendapat pendampingan hukum.

Rekaman kamera gudang yang sempat diselamatkannya memperlihatkan peti keenam dimasukkan atas perintah Pak Hendra.

Penyelidikan kemudian berkembang.

Dari pemeriksaan dokumen dan sejumlah saksi, terungkap dugaan pemindahan barang sengketa menggunakan pengiriman resmi sebagai penyamaran.

Pak Hendra dan Bima ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik mengumpulkan bukti yang cukup.

Aku sendiri menjalani pemeriksaan berkali-kali sebelum akhirnya dinyatakan sebagai saksi.

Tetapi perkara yang paling membuatku sulit tidur bukanlah ancaman Bima.

Melainkan kematian ayah Rafi.

Enam minggu setelah kejadian di jembatan, seorang penyidik menghubungiku.

“Pak Deni, kami menemukan perkembangan penting terkait kecelakaan ayah Rafi.”

Aku langsung duduk tegak.

“Apa, Pak?”

“Kami belum bisa menyimpulkan semuanya. Tapi ada bukti baru yang membuat penyelidikan kematiannya dibuka kembali.”

Ternyata foto-foto yang disimpan Bu Lestari membantu penyidik menelusuri sebuah kendaraan yang diduga berada di sekitar lokasi kecelakaan.

Aku tidak tahu bagaimana akhir penyelidikan itu nantinya.

Namun untuk pertama kalinya, keluarga Rafi memiliki kesempatan mendapatkan jawaban.

Dua bulan kemudian, aku kembali melewati jembatan yang sama.

Kali ini menggunakan mobil pribadi.

Jembatan tersebut sudah diperiksa dan kembali digunakan setelah dinyatakan aman.

Di dekat persimpangan, aku melihat seorang bocah sedang membantu ibunya menjual minuman.

Rafi.

Aku menghentikan mobil.

“Es teh satu, Fi!”

Ia menoleh, lalu tersenyum lebar.

“Om Deni!”

Aku duduk di bangku plastik dekat gerobak.

Bu Lestari menyambutku dengan hangat.

Kami berbincang tentang sekolah Rafi, tentang pekerjaanku yang kini berpindah ke perusahaan lain, dan tentang kehidupan yang perlahan kembali tenang.

Kemudian aku mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini bukan hadiah karena kamu membantu mengungkap kasus kemarin,” kataku kepada Rafi.

Ia memandangku bingung.

“Terus buat apa, Om?”

“Buat biaya sekolahmu. Aku dan beberapa teman mengumpulkannya. Kami ingin kamu terus belajar.”

Rafi menatap amplop itu, lalu menggeleng.

“Om, aku enggak mau dikasih uang karena Bapak meninggal.”

Dadaku terasa sesak.

Aku meletakkan amplop di meja.

“Bukan karena itu, Fi. Karena kamu punya kemampuan dan keberanian. Sayang kalau berhenti sekolah.”

Rafi terdiam cukup lama.

Kemudian ia bertanya sesuatu yang membuatku hampir menangis.

“Om, kalau aku sekolah tinggi, bisa jadi insinyur kayak Pak Arief?”

“Tentu bisa.”

“Kalau jadi insinyur, aku bisa bikin timbangan yang enggak bisa diubah angkanya sama orang jahat?”

Aku menatap wajahnya.

Anak yang dulu berdiri di pinggir jalan dengan sandal berbeda warna itu kini berbicara tentang masa depan dengan mata berbinar.

“Kamu bisa mencoba membuatnya, Fi.”

Rafi tersenyum.

“Aku mau bikin alat yang bisa kasih tahu kalau barangnya enggak sesuai dokumen. Jadi sopir enggak disalahin lagi.”

Aku tertawa kecil.

Namun mataku terasa panas.

Sebelum pulang, Rafi berlari mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya.

Sebuah buku tulis bergambar truk.

Di halaman pertama terdapat sketsa sederhana timbangan roda.

Di bawahnya, ia menulis kalimat dengan huruf besar.

ANGKA YANG BENAR BISA MENYELAMATKAN ORANG.

Aku memandang tulisan itu lama sekali.

Lalu Rafi membuka halaman terakhir.

Ada foto kecil dirinya bersama ayahnya, berdiri di depan sebuah jembatan.

Aku mengenali jembatan tersebut.

Jembatan yang sama tempat trukku tersangkut.

“Bapak pernah bilang sesuatu di sini, Om,” ujar Rafi pelan.

“Apa katanya?”

“Kalau suatu hari aku melihat sesuatu yang salah, jangan diam cuma karena orang yang salah lebih kaya atau lebih kuat.”

Aku tidak mampu menjawab.

Rafi menutup bukunya.

“Waktu truk Om nyangkut, aku sebenarnya takut. Tapi aku ingat pesan Bapak.”

Aku menepuk bahunya.

“Kamu sudah melakukan hal yang benar.”

Ketika aku hendak berdiri, Bu Lestari memanggilku.

“Pak Deni, ada satu hal yang belum pernah saya ceritakan.”

Aku kembali duduk.

“Suami saya dulu pernah melamar kerja di perusahaan Bapak.”

Aku terkejut.

“Perusahaan logistik itu?”

Bu Lestari mengangguk.

“Dia ditolak setelah mempertanyakan selisih berat dalam beberapa pengiriman. Katanya ada orang yang lebih suka pekerja menurut daripada pekerja teliti.”

Aku terdiam.

“Sejak itu dia selalu bilang, suatu hari pasti ada sopir yang menjadi korban karena dokumen palsu.”

Bu Lestari mengusap air matanya.

“Dia berharap bisa memperingatkan orang itu sebelum terlambat.”

Aku menoleh kepada Rafi.

Bocah itu sedang merapikan botol minuman di dalam termos.

Barulah aku menyadari sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ayah Rafi tidak sempat memperingatkan sopir yang mungkin akan menjadi korban.

Tetapi putranya berhasil melakukannya.

Aku berpamitan ketika matahari mulai tenggelam.

Sebelum masuk mobil, aku melihat kembali jembatan tua yang berdiri di kejauhan.

Dulu aku menganggap hari ketika trukku tersangkut sebagai hari paling sial dalam hidupku.

Aku hampir kehilangan pekerjaan, kebebasan, bahkan keselamatan keluargaku.

Namun kini aku memahami bahwa terkadang sesuatu yang menghalangi perjalanan justru menyelamatkan kita dari bahaya yang jauh lebih besar.

Dan orang yang menunjukkan jalan keluar tidak selalu mengenakan seragam, membawa gelar, atau duduk di balik meja mahal.

Kadang dia hanya seorang bocah penjual es yang memperhatikan satu angka janggal ketika semua orang terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Sebelum aku menyalakan mesin, Rafi mengetuk kaca mobil.

“Om Deni!”

Aku menurunkan kaca.

“Apa lagi, Fi?”

Ia tersenyum malu-malu.

“Kalau nanti aku benar-benar jadi insinyur, Om mau jadi orang pertama yang coba alat timbanganku?”

Aku tertawa.

“Mau. Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Alatnya harus lebih pintar daripada orang-orang yang pernah mencoba membohongimu.”

Rafi mengangguk mantap.

“Pasti, Om.”

Aku menjalankan mobil perlahan.

Dari kaca spion, kulihat Rafi kembali membantu ibunya melayani pembeli.

Di samping gerobak kecil itu, sebuah buku tulis terbuka tertiup angin.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan di jembatan, aku merasa yakin bahwa kisah ini tidak berakhir pada sebuah truk yang tersangkut.

Kisah ini baru benar-benar dimulai ketika seorang anak yang kehilangan ayahnya memutuskan untuk tidak kehilangan keberanian yang diwariskan kepadanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang