Mas! Turunkan aku!” protes Aruna dengan suara tertahan.

“Aku tetap akan mengantarmu, Aruna. Mau kamu marah atau tidak, aku tidak akan membiarkanmu menyetir dengan kaki seperti itu.”

Aruna menatap Radit dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena rasa sakit di pergelangan kakinya, melainkan karena pria yang berdiri di hadapannya itu baru saja mengakui sesuatu yang selama ini paling ditakutinya.

Radit telah menyelidiki anak-anaknya.

“Sejauh apa kamu mencari tahu tentang keluargaku, Mas?” tanya Aruna lirih.

Radit tidak langsung menjawab.

Keheningan itu justru membuat dada Aruna semakin sesak.

“Jawab aku!”

“Aku tahu Ruby bersekolah di Yayasan Putra Bangsa. Aku juga tahu kamu punya seorang putra bernama Raka.”

Wajah Aruna seketika memucat.

“Dan aku tahu usia Ruby enam tahun.”

“Berhenti!”

Suara Aruna menggema di ruang loker. Beberapa karyawan yang sedang melintas menoleh, tetapi wanita itu tidak peduli.

“Kamu tidak punya hak mencampuri kehidupan anak-anakku!”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa kamu melakukannya?”

Radit menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Karena enam tahun lalu, kamu menghilang tanpa memberiku kesempatan menjelaskan apa pun.”

Aruna tertawa getir.

“Menjelaskan apa? Bahwa kamu akan menikahi perempuan lain? Atau bahwa keluargamu menganggap aku tidak pantas menjadi bagian dari kehidupanmu?”

“Aruna, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Cukup, Mas. Aku harus menjemput anakku.”

Aruna mengambil tasnya dan berjalan tertatih menuju pintu keluar. Namun, sebelum mencapai lobi, ponselnya berdering.

Nama Bu Sinta, wali kelas Ruby, muncul di layar.

“Halo, Bu?”

“Bu Aruna, maaf mengganggu. Apakah Ibu sudah dalam perjalanan?”

“Iya, Bu. Ada apa dengan Ruby?”

Di seberang telepon terdengar keributan kecil.

“Ruby menangis sejak tadi. Ada seorang wanita yang datang mengaku sebagai neneknya dan ingin membawanya pulang.”

Langkah Aruna terhenti.

“Neneknya?”

“Iya, Bu. Tapi Ruby menolak. Dia bilang tidak mengenal wanita itu.”

Jantung Aruna berdegup semakin kencang.

“Jangan izinkan siapa pun membawa Ruby! Saya segera ke sana!”

Telepon terputus.

Radit yang berdiri tidak jauh darinya langsung mendekat.

“Ada apa?”

Aruna menatapnya dengan wajah pucat.

“Ada orang yang mau mengambil Ruby dari sekolah.”

Tanpa bertanya lagi, Radit meraih kunci mobilnya.

“Kita berangkat sekarang.”

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Aruna terus menghubungi Bu Sinta. Tangannya gemetar, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan terburuk.

Radit mengemudi dengan tenang, meskipun rahangnya terlihat mengeras.

“Siapa yang mungkin datang menjemput Ruby?” tanyanya.

“Aku tidak tahu.”

“Apakah ayah anak-anakmu tahu alamat sekolah mereka?”

Aruna menoleh tajam.

“Jangan mulai lagi, Mas.”

“Aku hanya ingin memastikan mereka aman.”

Aruna memalingkan wajah ke jendela.

“Ayah mereka tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.”

Kalimat itu membuat Radit terdiam.

Beberapa menit kemudian, mobil mereka memasuki halaman sekolah.

Aruna bahkan tidak menunggu Radit selesai memarkir kendaraan. Ia segera membuka pintu, tetapi rasa sakit di kakinya membuatnya hampir terjatuh.

Radit langsung menopangnya.

“Pelan-pelan!”

“Ruby ada di dalam!”

“Aku tahu. Tapi kamu juga harus hati-hati.”

Mereka bergegas menuju ruang administrasi.

Di sana, seorang anak perempuan berambut sebahu sedang menangis dalam pelukan gurunya.

“Ruby!”

“Mama!”

Ruby berlari menghampiri Aruna.

Aruna berlutut meskipun pergelangan kakinya terasa nyeri. Ia memeluk putrinya erat-erat, seolah takut seseorang akan merebut anak itu dari pelukannya.

“Mama di sini, Sayang. Mama sudah datang.”

Ruby terisak.

“Tadi ada nenek jahat, Ma. Katanya Ruby harus ikut dia.”

“Siapa, Sayang?”

Ruby menggeleng.

“Ruby nggak kenal. Tapi dia tahu nama Mama sama Kak Raka.”

Aruna merasakan darahnya seakan berhenti mengalir.

Bu Sinta mendekat dan menjelaskan bahwa wanita tersebut datang membawa kartu identitas, mengaku sebagai kerabat Aruna, lalu meminta izin membawa Ruby karena ada keadaan darurat keluarga.

Namun, ketika pihak sekolah meminta konfirmasi langsung kepada Aruna, wanita itu marah dan pergi.

“Apakah ada rekaman CCTV?” tanya Radit tiba-tiba.

Bu Sinta mengangguk.

“Ada, Pak.”

“Bisakah kami melihatnya?”

Aruna hendak menolak keterlibatan Radit, tetapi sesuatu dalam nada suara pria itu membuatnya mengurungkan niat.

Mereka menuju ruang keamanan.

Petugas memutar rekaman dari kamera gerbang utama.

Seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun terlihat turun dari mobil sedan hitam. Ia mengenakan blus krem, celana panjang putih, dan membawa tas kulit mahal.

Begitu wajah wanita itu terlihat jelas, Radit langsung membeku.

Aruna memperhatikan perubahan ekspresinya.

“Mas?”

Radit tidak menjawab.

“Mas Radit, kamu kenal wanita itu?”

Pria itu mengembuskan napas berat.

“Itu ibuku.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aruna menatap layar, kemudian beralih kepada Radit.

“Ibumu?”

Radit mengangguk perlahan.

“Namanya Ratna.”

Aruna merasa lututnya kehilangan kekuatan.

Enam tahun lalu, wanita itulah yang berdiri di hadapannya sambil menyerahkan sebuah amplop berisi uang.

Wanita yang mengatakan bahwa Aruna hanya perempuan miskin yang berusaha memanfaatkan putranya.

Wanita yang mengancam akan menghancurkan masa depan Aruna apabila ia tidak meninggalkan Radit.

Dan sekarang, wanita itu datang mencari Ruby.

“Kamu yang menyuruh ibumu datang?” tanya Aruna dengan suara bergetar.

“Tidak!”

“Jangan bohong!”

“Aruna, aku bahkan tidak tahu beliau mengetahui sekolah Ruby!”

Aruna menggendong Ruby meskipun kakinya sakit.

“Jauhi kami, Mas. Tolong, jangan ganggu anak-anakku lagi.”

Radit hendak mendekat, tetapi Ruby tiba-tiba menatapnya.

“Om…”

Radit berhenti.

Anak perempuan itu mengusap air matanya.

“Om yang tadi gendong Mama, ya?”

Radit mengangguk.

“Iya, Sayang.”

“Om jangan bikin Mama nangis lagi.”

Kalimat sederhana itu membuat Radit kehilangan kata-kata.

Aruna segera membawa Ruby pergi.

Namun, sebelum mencapai mobil, ponsel Radit berdering.

Nama ibunya muncul di layar.

Radit menjawab dengan suara dingin.

“Mama datang ke sekolah Ruby?”

Di seberang telepon terdengar suara Ratna yang tenang.

“Jadi kamu sudah tahu.”

“Kenapa Mama melakukan itu?”

“Karena Mama ingin melihat cucu Mama sendiri.”

Radit memejamkan mata.

“Mama tidak berhak mendekati anak itu tanpa izin ibunya.”

Ratna tertawa kecil.

“Jangan menggurui Mama, Radit. Kamu pikir Mama tidak tahu siapa Ruby sebenarnya?”

Radit terdiam.

“Apa maksud Mama?”

“Datang ke rumah malam ini. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Telepon terputus.

Radit berdiri beberapa saat sambil memandangi layar ponselnya.

Selama enam tahun, ia berusaha mencari Aruna.

Wanita itu menghilang begitu saja setelah hubungan mereka berakhir dengan pertengkaran yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Ketika Radit akhirnya menemukan Aruna bekerja di perusahaan yang baru diakuisisi keluarganya, ia mengira takdir memberinya kesempatan kedua.

Namun, keberadaan Ruby mengubah segalanya.

Usia anak itu terlalu dekat dengan waktu perpisahan mereka.

Dan semakin lama Radit memikirkan hal tersebut, semakin besar ketakutan yang muncul dalam hatinya.

Bagaimana jika Ruby adalah putrinya?

Sore itu, Aruna membawa Ruby pulang ke rumah kecil mereka di kawasan Depok.

Raka, putra sulungnya yang berusia sembilan tahun, sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu.

Begitu melihat ibunya berjalan pincang, ia langsung berdiri.

“Mama kenapa?”

“Cuma keseleo sedikit.”

Raka mengambil bantal dan meletakkannya di sofa.

“Mama duduk dulu. Aku ambilin air.”

Aruna tersenyum lelah.

Raka selalu seperti itu.

Sejak kecil, anak laki-laki tersebut tumbuh menjadi sosok yang terlalu cepat memahami kesulitan ibunya.

Ketika Aruna bekerja lembur, Raka membantu menjaga Ruby.

Ketika uang belanja menipis, Raka tidak pernah meminta mainan.

Bahkan ketika teman-temannya membicarakan ayah masing-masing, Raka hanya diam.

Malam itu, setelah Ruby tertidur, Raka menghampiri Aruna yang sedang mengompres pergelangan kakinya.

“Ma, tadi Ruby cerita ada nenek yang mau jemput dia.”

Aruna mengangguk.

“Sudah selesai, Kak. Mama sudah bicara dengan sekolah.”

Raka duduk di sampingnya.

“Nenek itu keluarganya Papa?”

Tangan Aruna berhenti bergerak.

“Kenapa Kakak tanya begitu?”

Raka menunduk.

“Soalnya Ruby bilang ada Om yang bantu Mama. Terus Om itu kelihatannya sedih waktu Ruby bilang jangan bikin Mama nangis.”

Aruna mengusap rambut putranya.

“Kakak nggak perlu memikirkan itu.”

“Tapi aku ingin tahu, Ma.”

Raka mengangkat wajah.

“Papa kami sebenarnya orang jahat, ya?”

Pertanyaan itu menghantam hati Aruna.

Selama bertahun-tahun, ia selalu mengatakan bahwa ayah mereka berada jauh dan tidak bisa pulang.

Ia tidak pernah mengatakan bahwa Raka dan Ruby memiliki ayah yang berbeda.

Raka lahir dari pernikahan pertamanya dengan seorang pria bernama Dimas, yang meninggal akibat kecelakaan ketika Raka masih bayi.

Sementara Ruby lahir setelah Aruna berpisah dari Radit.

Radit tidak pernah mengetahui kehamilannya.

Bukan karena Aruna sengaja ingin menghukum pria itu, melainkan karena pada saat itu ia benar-benar percaya bahwa Radit telah memilih perempuan lain.

Aruna menarik Raka ke dalam pelukannya.

“Papa Kakak orang baik. Dia sangat sayang sama Kakak.”

“Kalau papanya Ruby?”

Aruna terdiam lama.

“Dia juga bukan orang jahat, Kak. Hanya saja, dulu Mama dan dia pernah salah memahami satu sama lain.”

Raka mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, kenapa nggak bicara baik-baik?”

Aruna tidak mampu menjawab.

Pertanyaan seorang anak sembilan tahun ternyata jauh lebih sulit daripada semua persoalan yang pernah dihadapinya.

Pada saat bersamaan, Radit tiba di rumah ibunya di kawasan Pondok Indah.

Ratna sedang duduk di ruang keluarga ketika putranya masuk.

“Mama mau menjelaskan apa?”

Ratna menunjuk sebuah map cokelat di atas meja.

“Buka.”

Radit mengambil map itu.

Di dalamnya terdapat salinan akta kelahiran Ruby, beberapa foto Aruna saat hamil, serta laporan penyelidikan pribadi.

Radit membaca setiap halaman dengan tangan gemetar.

Nama ayah pada akta kelahiran Ruby tidak tercantum.

Namun, tanggal kelahirannya membuat Radit langsung menghitung mundur.

“Ruby anakku?” bisiknya.

Ratna menghela napas.

“Menurut laporan orang yang Mama sewa, kemungkinan besar begitu.”

Radit menatap ibunya.

“Sejak kapan Mama tahu?”

Ratna tidak menjawab.

“Mama!”

“Sejak Aruna melahirkan.”

Radit merasa seolah seseorang menghantam dadanya.

“Enam tahun?”

Ratna menunduk.

“Mama hanya ingin melindungimu.”

“Melindungiku dari apa?”

“Dari perempuan yang tidak punya apa-apa itu!”

Radit tertawa pahit.

“Jadi Mama membiarkan aku kehilangan enam tahun kehidupan anakku hanya karena Aruna bukan berasal dari keluarga kaya?”

Ratna berdiri.

“Kamu tidak tahu apa yang terjadi waktu itu!”

“Kalau begitu, ceritakan semuanya!”

Ratna terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka laci meja.

Ia mengeluarkan sebuah ponsel lama.

“Enam tahun lalu, Aruna menghubungi Mama setelah kalian berpisah. Dia bilang sedang hamil.”

Radit membeku.

“Kenapa Mama tidak memberitahuku?”

“Karena saat itu perusahaan keluarga sedang menghadapi masalah besar. Pernikahanmu dengan Clarissa sudah direncanakan untuk menyelamatkan kerja sama bisnis.”

Radit menggeleng tidak percaya.

“Aku tidak pernah menyetujui pernikahan itu!”

“Tapi Mama sudah telanjur mengumumkannya.”

“Dan Mama membiarkan Aruna percaya aku akan menikahi Clarissa?”

Air mata mulai mengalir di pipi Ratna.

“Mama pikir setelah beberapa tahun semuanya akan selesai.”

“Justru Mama menghancurkan semuanya.”

Radit mengambil ponsel lama itu dan menemukan sebuah pesan suara.

Suara Aruna terdengar lemah.

“Bu Ratna, saya tidak meminta uang. Saya hanya ingin Radit tahu bahwa saya sedang mengandung anaknya. Kalau dia tidak mau bertanggung jawab, saya akan membesarkan anak ini sendiri. Tapi tolong, jangan buat anak saya tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahnya sengaja membuang dia.”

Radit menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis di hadapan ibunya.

“Dia memohon agar aku diberi tahu, Ma. Dan Mama menyembunyikannya.”

Ratna mendekat.

“Radit, Mama menyesal.”

Namun, Radit mundur.

“Penyesalan Mama tidak bisa mengembalikan enam tahun yang hilang.”

Keesokan paginya, Aruna menerima sebuah amplop melalui kurir.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat salinan pesan suara yang pernah ia kirim kepada Ratna, serta sepucuk surat tulisan tangan.

Aruna mengenali tulisan Radit.

Ia membaca surat itu sambil duduk di meja makan.

Radit meminta maaf karena telah menyelidiki kehidupan anak-anaknya tanpa izin.

Ia mengaku baru mengetahui kebenaran tentang kehamilan Aruna.

Ia juga menjelaskan bahwa pernikahannya dengan Clarissa tidak pernah terjadi.

Namun, bagian terakhir surat itu membuat Aruna menangis.

Radit menulis bahwa ia tidak akan menuntut tempat dalam kehidupan Ruby hanya karena hubungan darah. Ia ingin mendapatkan kepercayaan Aruna terlebih dahulu, dan bersedia menjalani pemeriksaan DNA apabila Aruna mengizinkan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Aruna merasakan kemarahan dan kerinduannya bertabrakan.

Sore harinya, ia menghubungi Radit.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat sekolah Ruby.

Aruna datang dengan sepatu datar dan pergelangan kaki yang masih dibalut.

Radit berdiri ketika melihatnya.

“Bagaimana kakimu?”

“Sudah lebih baik.”

Mereka duduk berhadapan.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Akhirnya Aruna membuka percakapan.

“Kenapa kamu tidak pernah mencariku setelah hari itu?”

Radit menatapnya.

“Aku mencarimu. Tapi nomor teleponmu tidak aktif, kontrakanmu kosong, dan tempat kerjamu bilang kamu sudah mengundurkan diri.”

“Aku pindah ke Bandung. Aku takut ibumu akan mengambil anakku.”

Radit menunduk.

“Aku baru tahu kemarin bahwa Mama menyembunyikan pesanmu.”

Aruna menggigit bibir.

“Aku pikir kamu memang tidak menginginkan kami.”

“Aku bahkan tidak tahu ada kami, Runa.”

Air mata Aruna jatuh tanpa bisa dicegah.

Radit tidak mencoba menyentuhnya.

Ia hanya mendorong sekotak tisu ke arah Aruna.

“Aku tidak akan memaksamu memaafkan aku. Tapi kalau Ruby memang anakku, izinkan aku mengenalnya.”

Aruna menghapus air matanya.

“Ruby tidak tahu siapa ayahnya.”

“Aku mengerti.”

“Dan Raka…”

Radit mengangkat wajah.

“Raka juga bagian dari keluargaku. Aku tidak akan membedakan mereka.”

Aruna menatapnya lama.

“Kamu bahkan belum mengenal Raka.”

“Kalau kamu mengizinkan, aku ingin mengenalnya juga.”

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan DNA keluar.

Radit adalah ayah biologis Ruby dengan probabilitas paternitas lebih dari 99,9 persen.

Namun, Aruna tidak langsung mempertemukan mereka sebagai ayah dan anak.

Radit mulai datang setiap akhir pekan sebagai teman keluarga.

Ia menemani Ruby menggambar, membantu Raka mengerjakan tugas matematika, dan sesekali mengantar mereka membeli es krim.

Aruna mengamati semuanya dari kejauhan.

Radit tidak pernah memaksa Ruby memanggilnya Papa.

Ia juga tidak pernah meminta Raka memperlakukannya seperti ayah.

Suatu sore, ketika mereka sedang bermain di taman, Ruby tiba-tiba bertanya.

“Om Radit, kenapa Om sering datang ke rumah Ruby?”

Radit berjongkok di hadapannya.

“Karena Om senang menghabiskan waktu sama Ruby dan Kak Raka.”

Ruby memiringkan kepala.

“Tapi kata Kak Raka, Om sebenarnya Papa Ruby.”

Radit terdiam.

Dari bangku taman, Aruna langsung menoleh.

Raka berdiri beberapa langkah di belakang Ruby, wajahnya tampak gugup.

“Maaf, Ma. Aku nggak sengaja bilang.”

Aruna menghampiri mereka.

Namun, sebelum sempat berbicara, Ruby kembali bertanya.

“Kalau Om Papa Ruby, kenapa dulu Papa nggak ada?”

Radit merasakan tenggorokannya tercekat.

Ia menatap Aruna, meminta izin tanpa kata-kata.

Aruna mengangguk pelan.

Radit menggenggam tangan kecil Ruby.

“Karena dulu Papa tidak tahu Ruby sudah lahir. Papa dan Mama pernah terpisah karena ada kesalahpahaman.”

Ruby mengerutkan kening.

“Terus sekarang Papa mau pergi lagi?”

Radit menggeleng.

“Papa ingin tetap ada untuk Ruby. Tapi Papa juga harus belajar menjadi papa yang baik.”

Ruby terdiam beberapa saat.

Kemudian ia memeluk leher Radit.

“Kalau begitu, Papa jangan telat jemput Ruby lagi, ya.”

Radit memejamkan mata.

Air matanya jatuh ke bahu kecil putrinya.

Di belakang mereka, Raka berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Radit mengulurkan tangan kepadanya.

“Kak Raka mau ikut peluk?”

Raka ragu sejenak.

“Kalau aku peluk Om, apa Om nanti cuma sayang Ruby?”

Pertanyaan itu membuat Radit terdiam.

Ia kemudian menjawab dengan suara mantap.

“Sayang itu bukan kue yang kalau dibagi jadi berkurang, Kak. Justru semakin banyak orang yang kita sayangi, semakin besar keluarga kita.”

Raka perlahan mendekat.

Untuk pertama kalinya, ketiganya berpelukan.

Aruna berdiri di samping mereka dengan air mata mengalir.

Namun, kebahagiaan itu belum menjadi akhir dari perjalanan mereka.

Beberapa bulan kemudian, Ratna datang ke rumah Aruna.

Kali ini tanpa sopir, tanpa pengawal, dan tanpa membawa hadiah mahal.

Ia hanya membawa sebuah kotak kecil berisi sepatu bayi berwarna merah muda.

“Ini sepatu pertama Ruby,” katanya dengan suara gemetar.

Aruna terkejut.

“Bagaimana Ibu memilikinya?”

Ratna menunduk.

“Enam tahun lalu, setelah Ruby lahir, aku diam-diam datang ke rumah sakit. Aku melihatnya dari balik kaca ruang bayi.”

Aruna menahan napas.

“Aku membelikan sepatu ini, tetapi tidak berani memberikannya.”

Ratna meletakkan kotak itu di meja.

“Aku datang bukan untuk meminta kamu langsung memaafkanku. Aku hanya ingin mengakui bahwa aku telah mengambil sesuatu yang tidak akan pernah bisa kukembalikan.”

Aruna memandang wanita yang pernah menghancurkan hidupnya.

Dulu, ia membayangkan akan merasa puas melihat Ratna menyesal.

Namun, kini yang ia rasakan hanyalah kesedihan.

“Bu, saya bisa memaafkan Ibu suatu hari nanti. Tapi kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan permintaan maaf.”

Ratna mengangguk sambil menangis.

“Aku mengerti.”

Aruna kemudian membuka pintu ruang tamu.

Di sana, Ruby sedang menggambar bersama Raka.

“Ruby, ada seseorang yang ingin berkenalan denganmu.”

Ratna menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.

Namun, sebelum mendekat, ia berhenti dan bertanya kepada Aruna.

“Bolehkah aku masuk?”

Aruna terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Boleh, Bu. Tapi pelan-pelan saja. Ruby perlu waktu.”

Setahun kemudian, Radit dan Aruna belum menikah.

Mereka memilih membangun kembali hubungan tanpa terburu-buru.

Radit belajar menjadi ayah yang hadir, sementara Aruna belajar bahwa menerima bantuan tidak selalu berarti kehilangan kemandirian.

Pada hari ulang tahun Ruby yang ketujuh, keluarga kecil itu berkumpul di halaman rumah.

Raka membantu memasang balon, Radit menyiapkan kue, dan Aruna mengatur makanan di meja.

Ketika semua orang selesai menyanyikan lagu ulang tahun, Ruby mengangkat sebuah gambar.

Di atas kertas itu terdapat empat orang yang bergandengan tangan.

Mama, Papa, Kak Raka, dan Ruby.

Namun, di sudut gambar terdapat satu sosok lagi.

Seorang pria dengan sayap kecil di punggungnya.

Radit menunjuk gambar tersebut.

“Ini siapa, Sayang?”

Ruby menjawab dengan polos.

“Itu papanya Kak Raka yang ada di surga.”

Semua orang terdiam.

Ruby melanjutkan sambil tersenyum.

“Kata Kak Raka, papanya dulu sayang banget sama Mama. Jadi Ruby gambar dia juga, supaya dia tahu sekarang Mama nggak sendirian.”

Aruna menutup mulutnya, menahan tangis.

Raka menatap Radit dengan ragu.

“Om nggak marah, kan?”

Radit menggeleng.

Ia merangkul bahu Raka.

“Nggak, Kak. Justru Om senang kamu masih mengingat Papa Dimas.”

Raka tersenyum lega.

Kemudian, untuk pertama kalinya, ia memanggil Radit dengan suara pelan.

“Terima kasih, Papa Radit.”

Radit menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air matanya.

Aruna memandangi mereka dari seberang meja.

Enam tahun lalu, ia meninggalkan Radit karena percaya bahwa cinta hanya akan membawa luka.

Kini ia memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Keluarga tidak selalu terbentuk dari orang-orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Kadang keluarga justru tumbuh dari mereka yang berani mengakui kesalahan, memperbaiki kerusakan, dan memilih untuk tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, Radit menemukan Aruna duduk sendirian di teras.

Ia menghampirinya sambil membawa dua cangkir teh hangat.

“Runa,” panggilnya lembut.

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti aku melamarmu lagi, apa kamu akan langsung menolak?”

Aruna menoleh, lalu tersenyum kecil.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Apakah kamu masih suka memaksakan kehendak seperti waktu menggendongku di kantor?”

Radit tertawa pelan.

“Aku sedang belajar untuk tidak melakukannya.”

“Bagus.”

Radit duduk di sampingnya.

Beberapa saat kemudian, Aruna menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

“Mas…”

“Iya?”

“Kalau nanti kita menikah, aku mau satu hal.”

“Apa pun.”

“Jangan pernah membuat anak-anak merasa harus memilih siapa yang paling mereka sayangi.”

Radit menggenggam tangannya.

“Aku janji.”

Dari balik jendela kamar, Raka yang ternyata belum tidur melihat kedua orang dewasa itu duduk berdampingan.

Ia tersenyum, kemudian menatap sebuah foto lama ayah kandungnya di meja belajar.

“Papa Dimas,” bisiknya, “sekarang Mama sudah punya teman lagi.”

Raka meletakkan foto itu di samping gambar ulang tahun Ruby.

Lalu ia mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia tertidur tanpa merasa harus menjadi satu-satunya laki-laki yang menjaga ibunya.

Dan di luar sana, Aruna akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berarti mendapatkan kembali masa lalu.

Terkadang, kebahagiaan adalah keberanian membuka pintu bagi masa depan, tanpa harus menghapus orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang