Suara gunting yang beradu terdengar begitu dekat dengan telinga Maya.
“Transfer lima ratus juta sekarang, atau rambutmu kugunting sampai habis!” bentak Aris.
Maya terbaring di lantai ruang tamu apartemennya. Kedua pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Bu Shinta, sementara suaminya berlutut di samping kepalanya sambil memegang gunting besar.
Tiga minggu lalu, laki-laki itu masih memanggilnya sayang.
Sekarang, matanya hanya dipenuhi kemarahan.
“Aris, kamu sadar sedang melakukan apa?” tanya Maya dengan suara bergetar.
“Aku sedang menyelamatkan keluargaku!”
“Dengan menyakiti istrimu sendiri?”
Aris tidak menjawab. Ia justru menjambak rambut Maya dan mengguntingnya dengan kasar.
Seikat rambut hitam panjang jatuh ke lantai.
Bu Shinta tersenyum puas.
“Begitu lebih baik. Perempuan sombong memang harus diberi pelajaran.”

Maya memejamkan mata. Kulit kepalanya terasa perih, tetapi rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan kenyataan bahwa dua orang yang pernah dianggapnya sebagai keluarga kini memperlakukannya seperti musuh.
Namun, mereka tidak mengetahui sesuatu.
Sejak tiga minggu sebelumnya, Maya sudah mulai mencurigai bahwa persoalan utang Rika jauh lebih rumit daripada yang mereka ceritakan.
Semuanya bermula setelah pertemuan keluarga yang berakhir dengan ancaman Bu Shinta.
Malam itu, ketika Aris tertidur, Maya menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
“Ibu Maya, hati-hati dengan dokumen yang akan diminta suami Anda. Utang Rika bukan satu-satunya masalah.”
Maya mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi tidak tersambung.
Keesokan harinya, ia meminta bantuan Dimas, rekan sesama pengacara yang berpengalaman menangani sengketa keuangan.
Maya menyerahkan salinan dokumen pinjaman yang sempat dipotretnya.
Dimas memeriksa berkas tersebut selama hampir satu jam.
“Ada yang aneh,” katanya.
“Aneh bagaimana?”
“Beberapa tagihan memang atas nama Rika. Tapi ada dua perjanjian pinjaman bernilai besar yang mencantumkan nama perusahaan logistik tempat Aris bekerja.”
Maya mengerutkan kening.
“Perusahaan suamiku?”
“Benar. Lebih aneh lagi, salah satu dokumen menggunakan tanda tangan digital yang diklaim milikmu.”
Maya langsung mengambil berkas itu.
Di halaman terakhir tercantum namanya sebagai penjamin pribadi.
Maya Pratiwi.
Di bawahnya terdapat tanda tangan yang sekilas terlihat sangat mirip dengan tanda tangannya sendiri.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Dimas menatapnya serius.
“Kalau begitu, kita perlu menyelidikinya.”
Selama beberapa hari berikutnya, Maya diam-diam mengumpulkan informasi.
Ia menemukan bahwa Aris ternyata sudah diberhentikan dari pekerjaannya dua bulan sebelumnya akibat dugaan penyalahgunaan dana operasional.
Namun, setiap pagi Aris tetap mengenakan seragam kantor dan berpamitan seperti biasa.
Selama ini, ia berbohong.
Lebih mengejutkan lagi, sebagian uang pinjaman yang dikumpulkan Rika ternyata masuk ke rekening sebuah perusahaan kecil bernama PT Cakrawala Niaga Bersama.
Perusahaan itu terdaftar atas nama seorang pria bernama Beni Saputra.
Beni merupakan teman lama Aris.
Ketika Maya menelusuri transaksi lebih jauh melalui dokumen yang berhasil diperoleh secara sah, ia menemukan pola mencurigakan.
Uang yang dipinjam Rika dipindahkan secara bertahap ke rekening perusahaan Beni, lalu digunakan untuk membayar sejumlah kewajiban pribadi Aris.
Maya akhirnya memahami sesuatu.
Rika memang hidup boros.
Namun, utang lima ratus juta itu bukan semata-mata akibat kebiasaan berbelanjanya.
Sebagian uang tersebut digunakan untuk menutupi masalah keuangan Aris.
Maya memutuskan menemui Rika secara pribadi.
Mereka bertemu di sebuah kafe di kawasan Senopati.
Rika datang mengenakan kacamata hitam besar. Wajahnya tampak pucat, jauh berbeda dari foto-foto glamor yang biasa diunggahnya.
“Rika, Mbak ingin kamu jujur.”
“Jujur soal apa?”
“Berapa banyak uang pinjamanmu yang sebenarnya digunakan Aris?”
Wajah Rika langsung berubah.
“Aku tidak tahu maksud Mbak.”
Maya mengeluarkan beberapa salinan bukti transfer.
“Ini uang yang kamu kirimkan ke perusahaan Beni. Totalnya hampir dua ratus delapan puluh juta.”
Rika terdiam.
Tangannya mulai gemetar.
“Mas Aris bilang uang itu untuk investasi.”
“Investasi apa?”
“Bisnis pengiriman barang. Katanya dalam tiga bulan uangnya bisa kembali dua kali lipat.”
“Lalu?”
“Awalnya dia mengirimkan keuntungan. Tapi setelah itu semuanya berhenti.”
Maya menatap adik iparnya dengan iba.
“Kenapa kamu tidak menceritakan ini dari awal?”
Air mata Rika mulai mengalir.
“Karena Mas Aris bilang kalau Mbak tahu, Mbak pasti akan menceraikannya.”
Maya menarik napas panjang.
“Rika, apakah ibumu mengetahui semua ini?”
Rika menunduk.
“Ibu tahu sebagian.”
“Sebagian yang mana?”
Rika tidak langsung menjawab.
Lalu ia berbisik.
“Ibu bilang kalau Mbak tetap tidak mau membantu, Mas Aris harus membuat Mbak takut.”
Darah Maya terasa membeku.
“Membuatku takut?”
Rika mengangguk pelan.
“Aku tidak tahu mereka akan melakukan apa. Tapi kemarin aku mendengar Ibu bilang bahwa perempuan seperti Mbak hanya akan menurut kalau harga dirinya dihancurkan.”
Maya pulang dengan perasaan tidak menentu.
Malam itu, ia menghubungi Dimas dan menjelaskan semuanya.
Dimas menyarankannya untuk segera membuat laporan mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan dan menyiapkan langkah perlindungan apabila ancaman keluarga Aris semakin serius.
Maya juga menyimpan seluruh dokumen pentingnya di tempat aman, mengganti kata sandi rekening, dan mengaktifkan kamera keamanan tambahan di ruang tamu apartemen.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa keputusan terakhir itulah yang kelak menyelamatkannya.
Tiga hari kemudian, Aris mulai menunjukkan perilaku semakin mencurigakan.
Ia beberapa kali menanyakan saldo tabungan Maya.
Ia juga meminta istrinya menandatangani dokumen yang disebutnya sebagai persetujuan pengelolaan aset keluarga.
Maya menolak.
“Kita bisa membicarakan masalah keuangan, tapi aku tidak akan menandatangani dokumen yang belum diperiksa.”
Aris membanting map ke meja.
“Kamu selalu menganggapku bodoh!”
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
“Tapi sikapmu selalu begitu!”
Maya memandang suaminya lama.
“Aris, aku tahu kamu sudah tidak bekerja.”
Wajah Aris seketika pucat.
“Apa?”
“Aku juga tahu tentang perusahaan Beni.”
Selama beberapa detik, Aris hanya berdiri membeku.
Kemudian wajahnya berubah merah.
“Kamu menyelidikiku?”
“Aku sedang mencari tahu kenapa namaku digunakan sebagai penjamin tanpa persetujuanku.”
Aris mengambil mapnya lalu pergi tanpa mengatakan apa pun.
Dua hari setelah pertengkaran itu, Maya mengajukan laporan kepada pihak kepolisian terkait dugaan pemalsuan dokumen.
Ia juga meminta pengelola apartemen mencabut akses masuk tambahan yang selama ini digunakan Bu Shinta.
Namun, Maya membuat satu kesalahan.
Ia masih berharap Aris mau mengakui perbuatannya dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Karena itulah, ketika Aris menelepon pada suatu Sabtu malam dan meminta bertemu untuk membicarakan pernikahan mereka, Maya setuju.
“Aku ingin kita bicara baik-baik,” kata Aris.
“Datang sendiri,” jawab Maya.
“Aku janji.”
Tetapi pukul delapan malam, ketika Maya membuka pintu apartemennya, Aris tidak datang sendirian.
Bu Shinta berdiri tepat di belakangnya.
Maya langsung berusaha menutup pintu.
“Kita sudah sepakat bicara berdua.”
Aris menahan pintu dengan bahunya.
“Sebentar saja.”
“Aris, keluar.”
Namun, laki-laki itu tiba-tiba mendorong pintu dengan keras.
Maya terhuyung mundur.
Bu Shinta segera masuk dan menutup pintu.
“Akhirnya kita bisa bicara tanpa kamu mengusir kami!” serunya.
Maya mengambil ponsel dari meja.
Aris langsung merampasnya.
“Tidak perlu menelepon siapa pun!”
“Aku minta kalian keluar sekarang.”
“Setelah kamu mentransfer lima ratus juta!”
Maya menatap suaminya dengan tidak percaya.
“Jadi ini tujuanmu datang?”
Bu Shinta mendekat.
“Kamu pikir kami akan membiarkan Rika dipermalukan penagih utang sementara kamu hidup mewah?”
“Utang itu sebagian digunakan Aris!”
“Diam!” bentak Aris.
Maya menatapnya tajam.
“Aku sudah tahu semuanya. Tentang Beni, tentang pekerjaanmu, juga tanda tanganku yang dipalsukan.”
Wajah Aris mendadak berubah.
“Kamu sudah melapor?”
Maya tidak menjawab.
Aris mencengkeram bahunya.
“Jawab!”
“Lepaskan aku!”
Ketika Maya berusaha menjauh, Aris mendorongnya hingga terjatuh.
Bu Shinta segera menahan kedua tangannya.
Aris mengambil gunting besar dari laci meja dekat sofa.
“Kamu selalu membanggakan jabatan dan uangmu, bukan? Sekarang kita lihat seberapa berani kamu!”
Maya meronta.
“Aris, jangan!”
Namun, gunting itu sudah bergerak.
Rambut panjang yang dirawat Maya selama bertahun-tahun terpotong tidak beraturan.
Bu Shinta tertawa pendek.
“Sekarang lihat! Tidak ada lagi yang bisa kamu sombongkan!”
Maya berhenti melawan.
Ia menatap wajah suaminya.
“Apakah setelah mendapatkan uang itu kamu akan berhenti?”
Aris terengah-engah.
“Transfer sekarang!”
“Kalau aku menolak?”
Aris mengangkat guntingnya lagi.
Tetapi sebelum ia sempat bergerak, terdengar suara ketukan keras dari luar.
“Keamanan gedung! Buka pintunya!”
Aris membeku.
Bu Shinta menoleh panik.
“Siapa itu?”
Ketukan terdengar semakin keras.
“Ibu Maya, kami menerima sinyal darurat dari unit ini!”
Maya akhirnya mengembuskan napas.
Sebelum kedatangan Aris, ia telah memberi tahu petugas keamanan bahwa suaminya akan datang untuk membicarakan persoalan keluarga. Ia meminta mereka memantau kamera koridor dan segera datang apabila tombol darurat di bawah meja ruang tamu diaktifkan.
Ketika Aris mendorongnya hingga terjatuh, Maya berhasil menekan tombol tersebut dengan tumitnya.
Aris menatap Maya dengan mata membelalak.
“Kamu menjebakku?”
Maya menjawab lirih.
“Tidak. Aku memberimu kesempatan untuk datang dan berbicara. Kamu sendiri yang memilih melakukan ini.”
Aris bergegas menuju pintu balkon.
Namun, apartemen itu berada di lantai dua puluh satu.
Tidak ada jalan keluar.
Beberapa saat kemudian, petugas keamanan memasuki ruangan menggunakan akses darurat yang dimiliki pengelola gedung.
Mereka menemukan Maya dengan rambut berantakan, kedua pergelangan tangan memerah, dan gunting tergeletak di lantai.
Aris masih berusaha membela diri.
“Ini cuma pertengkaran suami istri!”
Maya perlahan bangkit.
“Tidak, Aris. Ini kekerasan dan pemaksaan.”
Bu Shinta langsung menangis.
“Maya, Ibu cuma ingin menyelamatkan Rika!”
Maya menatap ibu mertuanya.
“Ibu bisa meminta bantuan. Ibu bisa mengajak kami mencari jalan keluar. Tapi Ibu memilih menahan tanganku saat anak Ibu menyakitiku.”
Malam itu, polisi datang setelah menerima laporan dari pihak keamanan.
Maya menjalani pemeriksaan medis untuk mendokumentasikan luka-lukanya.
Rekaman kamera ruang tamu memperlihatkan rangkaian kejadian sejak Aris dan Bu Shinta masuk secara paksa hingga keduanya menyerang Maya.
Gunting dan potongan rambut diamankan sebagai barang bukti.
Tetapi penyelidikan tidak berhenti pada kekerasan malam itu.
Dua minggu kemudian, pemeriksaan terhadap dokumen keuangan mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan.
Beni akhirnya memberikan keterangan bahwa perusahaan yang digunakan untuk menerima uang pinjaman Rika sebenarnya dikendalikan oleh Aris.
Beni hanya meminjamkan namanya sebagai direktur.
Sebagian dana memang digunakan untuk menutup kekurangan uang operasional yang sebelumnya disalahgunakan Aris.
Namun, ada sejumlah transaksi lain yang tidak diketahui Rika.
Aris ternyata mengalihkan sebagian uang itu untuk membayar uang muka sebuah rumah di kawasan Bekasi.
Rumah tersebut bukan disiapkan untuk Maya.
Rumah itu direncanakan sebagai tempat tinggal Aris bersama seorang perempuan bernama Selina, yang telah menjalin hubungan dengannya selama hampir setahun.
Ketika mengetahui hal itu, Maya tidak langsung menangis.
Ia hanya duduk diam di ruang kerja Dimas.
“Jadi selama ini dia bukan hanya berbohong tentang uang.”
Dimas mengangguk.
“Maaf, Maya.”
Maya memandang dokumen di hadapannya.
“Aku menikah dengan seseorang yang ternyata tidak pernah benar-benar kukenal.”
Namun, kejutan terbesar justru datang dari Rika.
Suatu sore, perempuan itu datang menemui Maya dengan wajah sembap dan tanpa riasan.
“Mbak, aku ingin menyerahkan sesuatu.”
Rika mengeluarkan sebuah ponsel lama.
“Ini ponsel yang dulu dipakai Mas Aris. Dia memberikannya kepadaku waktu membeli ponsel baru. Aku baru menemukan percakapannya dengan Ibu.”
Maya membuka beberapa tangkapan layar yang telah disimpan Rika.
Di sana terdapat pesan-pesan Aris kepada Bu Shinta.
“Kalau Maya tetap menolak, kita harus membuat dia takut kehilangan pekerjaannya.”
Pesan berikutnya jauh lebih mengerikan.
“Kalau dia melapor, bilang saja dia mengalami gangguan emosi dan menyerang kita duluan.”
Maya menatap Rika.
“Kamu tahu rencana ini?”
Rika menggeleng sambil menangis.
“Aku tahu mereka mau menekan Mbak, tapi aku tidak tahu sampai sejauh itu. Aku juga baru tahu Mas Aris menggunakan sebagian uangku untuk perempuan lain.”
Untuk pertama kalinya, Maya melihat Rika bukan sebagai selebgram manja yang selalu meminta uang.
Di hadapannya kini duduk seorang perempuan muda yang akhirnya menyadari betapa mahal harga kebohongan yang selama ini dipertahankannya.
“Aku salah, Mbak,” bisik Rika. “Aku berutang demi terlihat kaya. Aku menyalahkan orang lain karena tidak mau menanggung akibatnya sendiri.”
Maya terdiam.
“Lalu sekarang kamu mau bagaimana?”
“Aku sudah menjual tas, jam tangan, dan barang-barang mahal yang masih kumiliki. Aku juga sudah menghubungi pihak pemberi pinjaman untuk membicarakan pembayaran. Aku tahu uangnya belum cukup, tapi aku akan bekerja.”
Maya mengangguk.
“Itu awal yang baik.”
“Apakah Mbak bisa memaafkanku?”
Maya menatapnya lama.
“Aku bisa menghargai keberanianmu mengakui kesalahan. Tapi kepercayaan tidak akan kembali hanya karena satu permintaan maaf.”
Rika mengangguk sambil menghapus air mata.
“Aku mengerti.”
Beberapa bulan kemudian, perkara kekerasan dan dugaan pemalsuan dokumen memasuki proses persidangan.
Aris dan Bu Shinta harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka berdasarkan bukti dan keterangan para saksi.
Dalam proses hukum tersebut, rekaman kamera keamanan menjadi bukti penting yang membantah pengakuan Aris bahwa Maya lebih dahulu menyerangnya.
Potongan rambut yang ditemukan di lantai juga membantu memperkuat rangkaian bukti mengenai kekerasan yang dialami Maya.
Di persidangan, Bu Shinta sempat menangis dan meminta Maya mencabut keterangannya.
“Kita ini keluarga, Maya. Masa kamu tega melihat suamimu dihukum?”
Maya memandang perempuan yang dahulu dipanggilnya Ibu itu.
“Justru karena saya pernah menganggap kalian keluarga, saya memberi begitu banyak kesempatan.”
Bu Shinta terisak.
“Tapi Aris suamimu.”
Maya menjawab dengan tenang.
“Status sebagai suami tidak memberinya hak untuk menyakiti saya.”
Beberapa waktu kemudian, pengadilan menjatuhkan putusan atas perkara kekerasan tersebut. Sementara itu, proses hukum terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana ditangani secara terpisah.
Maya juga mengakhiri pernikahannya melalui jalur hukum.
Hari ketika perceraiannya resmi diputus, Maya tidak mengadakan pesta.
Ia hanya pulang ke apartemennya, membuka jendela, dan membiarkan angin sore Jakarta menyentuh wajahnya.
Rambutnya kini pendek sebahu.
Bekas luka di pergelangan tangannya telah memudar.
Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah untuk selamanya.
Enam bulan kemudian, Maya menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat foto seorang bayi laki-laki yang baru lahir.
Di belakang foto tertulis sebuah pesan.
“Namanya Arya. Dia anak Aris. Aku baru tahu tentang semua kebohongannya setelah polisi datang mencarinya. Maaf karena tanpa sadar aku menjadi bagian dari penderitaanmu.”
Pesan itu ditandatangani Selina.
Maya menatap foto tersebut cukup lama.
Anak itu tidak bersalah.
Ia lahir di tengah kekacauan yang diciptakan orang-orang dewasa.
Maya memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop.
Ia tidak membalas pesan Selina.
Bukan karena membenci bayi tersebut, melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa tidak semua persoalan harus menjadi tanggung jawabnya.
Setahun setelah kejadian itu, Maya mendirikan sebuah program bantuan hukum bagi perempuan yang mengalami kekerasan dan pemaksaan finansial dalam keluarga.
Pada acara pembukaan program tersebut, seorang jurnalis bertanya mengapa Maya memilih menggunakan pengalaman pribadinya untuk membantu orang lain.
Maya tersenyum kecil.
“Dulu saya mengira menjadi perempuan kuat berarti mampu menanggung semuanya sendirian.”
Ia berhenti sejenak.
“Ternyata saya keliru. Menjadi kuat juga berarti berani mengatakan tidak, meminta pertolongan, dan meninggalkan orang yang terus menyakiti kita.”
Seusai acara, seorang perempuan muda mendekatinya.
Perempuan itu tampak gugup.
“Bu Maya, saya membaca kisah Ibu. Suami saya sering mengambil gaji saya dan mengancam akan menyakiti saya kalau menolak. Saya takut melapor.”
Maya menggenggam tangan perempuan itu dengan lembut.
“Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Kita cari jalan keluarnya bersama.”
Malam harinya, Maya kembali ke apartemen.
Di depan cermin kamar, ia menyisir rambut pendeknya yang kini mulai tumbuh panjang.
Dahulu, setiap helai rambut yang jatuh ke lantai pada malam mengerikan itu terasa seperti bagian dari harga dirinya yang dirampas.
Sekarang, ia melihatnya dengan cara berbeda.
Rambutnya memang pernah dipotong paksa.
Pernikahannya memang telah hancur.
Namun, masa depannya tidak pernah benar-benar berhasil mereka ambil.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Rika.
“Mbak, hari ini aku berhasil melunasi satu lagi cicilan utangku. Masih panjang jalannya, tapi aku tidak akan menyerah. Terima kasih karena dulu Mbak tidak memberiku uang lima ratus juta itu. Kalau Mbak membayarnya, mungkin sampai sekarang aku tidak pernah belajar bertanggung jawab.”
Maya membaca pesan tersebut, lalu membalas singkat.
“Teruskan langkahmu. Bangun hidup yang benar-benar milikmu.”
Ia meletakkan ponsel dan memandang gemerlap lampu Jakarta dari jendela.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, apartemen itu terasa benar-benar seperti rumah.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tuntutan uang.
Tidak ada seseorang yang membuatnya merasa bersalah hanya karena berani mempertahankan haknya sendiri.
Maya menyentuh ujung rambutnya dan tersenyum.
Pada malam ketika Aris mengangkat gunting, ia mengira sedang menghancurkan harga diri istrinya.
Padahal, tanpa disadarinya, ia justru memutus ikatan terakhir yang selama ini membuat Maya bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan.
Dan dari semua hal yang pernah dirampas darinya, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka ambil.
Hak Maya untuk menentukan hidupnya sendiri.
