SAAT TERGANTUNG DI TEBING ES, SAYA MENDENGAR SUAMI DAN SELINGKUHANNYA MENDOAKAN KEMATIAN SAYA. MEREKA TIDAK TAHU TELEPON SAYA MASIH MENYALAKAN REKAMAN!

Tiga hari setelah suaminya mendorongnya ke jurang di kawasan Gunung Bromo, Dewi menyaksikan laki-laki itu tersenyum di acara doa untuk kematiannya sendiri.

Dewi masih hidup.

Tubuhnya terbaring lemah di ruang perawatan Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang. Tulang rusuknya retak, kaki kirinya patah, dan bekas memar memenuhi punggungnya. Beberapa meter dari tempat tidurnya, bayi laki-laki yang baru dilahirkannya masih berjuang di dalam inkubator.

Namun, rasa sakit itu seolah menghilang ketika Dewi melihat layar tablet di hadapannya.

Siaran langsung dari rumah keluarganya di Jakarta memperlihatkan puluhan tamu mengenakan pakaian hitam.

Di tengah ruangan, Rian, suaminya selama enam tahun, berdiri sambil menerima ucapan belasungkawa.

Di sampingnya ada Siska, manajer keuangan perusahaan keluarga Dewi.

Perempuan yang selama ini ternyata menjadi selingkuhan Rian.

“Mas Rian harus kuat. Saya yakin almarhumah sudah tenang,” ujar seorang tamu.

Rian menundukkan kepala, lalu mengusap sudut matanya.

“Terima kasih. Saya hanya menyesal tidak bisa menyelamatkan istri dan anak kami.”

Dewi mencengkeram selimut.

Anak mereka.

Laki-laki itu bahkan sudah mengumumkan kematian bayi yang belum pernah dilihatnya.

“Bu Dewi, sebaiknya Ibu beristirahat,” kata Inspektur Aditya, penyidik yang berdiri di samping ranjang.

Dewi menggeleng.

“Saya ingin melihat sampai selesai.”

Di layar, Siska mendekati Rian dan membisikkan sesuatu. Rian tersenyum tipis sebelum kembali memasang wajah berduka.

Dewi mengenali senyum itu.

Senyum yang sama ketika Rian berdiri di atas tebing dan berkata bahwa semuanya akhirnya selesai.

Tiga hari sebelumnya, Dewi masih percaya bahwa pernikahannya bisa diselamatkan.

Rian mengajaknya berlibur ke kawasan Bromo dengan alasan ingin menghabiskan waktu berdua sebelum kelahiran anak pertama mereka.

Awalnya Dewi menolak.

Usia kandungannya sudah sembilan bulan. Dokter menyarankan agar ia tidak melakukan perjalanan jauh atau aktivitas berat.

Namun, Rian terus membujuk.

“Kita tidak perlu mendaki. Cuma menikmati pemandangan. Setelah Arka lahir, kita pasti sibuk mengurus bayi.”

Saat itu, mereka bahkan belum sepakat memberi nama anak mereka Arka.

Dewi akhirnya mengalah.

Tetapi sejak tiba di penginapan, kegelisahannya semakin kuat.

Rian berkali-kali menerima telepon sambil menjauh. Ia juga tampak kesal ketika mengetahui Dewi membawa ponsel cadangan.

Sebulan sebelumnya, Dewi menemukan dokumen asuransi jiwa senilai dua puluh miliar rupiah di meja kerja suaminya.

Nama tertanggung adalah dirinya.

Tanda tangannya terlihat sangat mirip, tetapi Dewi yakin tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Ketika ditanya, Rian menjawab bahwa semuanya hanya bagian dari perencanaan keuangan keluarga.

Dewi tidak langsung mempercayainya.

Apalagi sejak ayahnya meninggal dan mewariskan jaringan bisnis properti kepadanya, Rian semakin sering meminta surat kuasa pengelolaan aset.

Pagi ketika mereka menuju kawasan tebing, Dewi diam-diam mengaktifkan perekam suara di ponselnya.

Ia tidak menyangka keputusan sederhana itu akan menyelamatkan hidupnya.

Udara dingin menusuk kulit. Jalur yang mereka lalui basah oleh hujan dan kabut, sementara di beberapa bagian tanah terdapat lapisan es tipis akibat suhu rendah.

“Rian, kita kembali saja. Aku takut terpeleset.”

Rian tidak menjawab.

Dewi berbalik untuk melihat wajah suaminya.

Saat itulah dua tangan menghantam punggungnya.

Tubuhnya terlempar melewati tepian.

Dewi menjerit.

Ia jatuh beberapa meter sebelum tersangkut pada tonjolan batu yang dipenuhi semak.

Rasa sakit luar biasa menjalar dari pinggang hingga perutnya.

Di atas, Rian muncul.

Dewi mengulurkan tangan.

“Rian! Tolong aku! Anak kita!”

Namun, suaminya hanya menatap.

Kemudian terdengar suara perempuan.

“Kamu yakin dia tidak bisa naik lagi?”

Dewi mengenali suara itu.

Siska.

Rian tertawa pelan.

“Dengan kondisi seperti itu, dia tidak mungkin bertahan lama.”

“Bagaimana kalau ada orang menemukan tubuhnya?”

“Kita bilang dia terpeleset. Aku sudah menyiapkan semuanya.”

Dewi menahan napas.

Siska kembali bertanya, “Bagaimana dengan bayinya?”

Rian menjawab tanpa ragu.

“Justru lebih baik kalau keduanya tidak selamat. Tidak akan ada ahli waris yang merepotkan.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Dewi.

Selama enam tahun, ia mencintai laki-laki yang ternyata menganggap anak mereka sebagai penghalang.

Langkah kaki menjauh.

Dewi menangis tanpa suara.

Ia tidak tahu berapa lama bertahan di sana. Angin membuat tubuhnya menggigil, sementara rasa sakit di perut datang semakin sering.

Ketika hampir kehilangan kesadaran, ia merasakan gerakan kecil dari dalam rahimnya.

Anaknya masih hidup.

“Bertahan, Nak,” bisiknya. “Ibu masih di sini.”

Beruntung, seorang petugas pengelola kawasan melihat bekas longsoran tanah kecil dan jejak kaki di dekat tepian jalur. Setelah menemukan tas perempuan tersangkut di semak, petugas itu segera melapor.

Tim SAR melakukan pencarian menggunakan helikopter setelah kondisi cuaca memungkinkan.

Seorang penyelamat bernama Bayu akhirnya menemukan Dewi.

Ketika memasang tali pengaman, Bayu melihat ponsel dengan layar retak di saku jaketnya.

Indikator perekaman masih menyala.

“Bu, ponsel ini penting?”

Dewi mengangguk lemah.

“Suami saya… yang mendorong…”

Setelah mengatakan itu, ia pingsan.

Di rumah sakit, dokter segera melakukan operasi sesar darurat karena kondisi Dewi dan janinnya memburuk.

Bayi laki-lakinya lahir dengan berat dua kilogram empat ratus gram dan membutuhkan bantuan pernapasan sementara.

Dewi baru sadar keesokan harinya.

Hal pertama yang ditanyakannya bukan keadaan dirinya.

“Anak saya di mana?”

Dokter menjelaskan bahwa bayinya selamat, tetapi masih memerlukan pengawasan intensif.

Dewi menangis.

Ia menamainya Arka, nama yang berarti cahaya.

Sebab di tengah kegelapan paling mengerikan dalam hidupnya, gerakan kecil anak itulah yang membuatnya terus bertahan.

Sementara itu, polisi mulai menyelidiki rekaman ponselnya.

Suara Rian dan Siska terdengar jelas.

Penyidik juga menemukan polis asuransi dengan tanda tangan palsu, serta bukti bahwa Rian telah menghubungi perusahaan asuransi mengenai prosedur klaim kematian akibat kecelakaan.

Namun, satu hal membuat Inspektur Aditya semakin curiga.

Rian ternyata tidak pernah benar-benar melaporkan hilangnya Dewi kepada polisi.

Laporan pertama justru dibuat oleh petugas penginapan setelah Rian pergi terburu-buru.

“Dia ingin istrinya dinyatakan meninggal tanpa penyelidikan yang terlalu dalam,” kata Aditya.

Dewi memandang layar tablet yang masih menampilkan acara doa.

“Tangkap dia setelah kita tahu siapa lagi yang terlibat.”

Aditya mengangguk.

“Kami juga sedang memeriksa transaksi keuangan perusahaan.”

Malam itu, sebuah temuan baru mengubah arah penyelidikan.

Siska telah memindahkan dana perusahaan sebesar delapan belas miliar rupiah ke beberapa rekening yang terhubung dengan perusahaan cangkang.

Transfer dilakukan dua hari sebelum perjalanan ke Bromo.

Lebih mengejutkan lagi, ada pemesanan vila mewah di Bali atas nama Rian dan Siska untuk minggu berikutnya.

Tetapi Dewi menemukan sesuatu yang tidak disadari polisi.

Dalam salinan laporan transaksi, terdapat satu nama perusahaan yang sangat dikenalnya.

PT Cakrawala Investama.

Perusahaan itu pernah disebut ayahnya beberapa minggu sebelum meninggal.

Dewi masih mengingat percakapan terakhir mereka.

“Kalau suatu hari Ayah tidak ada, jangan pernah menyerahkan kendali perusahaan hanya karena kamu mencintai seseorang.”

Saat itu, Dewi mengira ayahnya terlalu mencemaskan pernikahannya.

Sekarang ia mulai memahami alasannya.

Ia meminta pengacaranya, Ratna, datang ke Malang.

Ratna tiba keesokan pagi membawa sebuah map cokelat.

“Bu Dewi, saya menemukan dokumen yang ditinggalkan almarhum Bapak.”

Di dalamnya terdapat salinan audit internal dan surat tertutup.

Dewi membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Tulisan ayahnya memenuhi satu halaman.

Ayahnya ternyata telah mencurigai Rian sejak setahun sebelumnya.

Audit menunjukkan adanya penggelembungan nilai proyek dan pembayaran kepada perusahaan yang tidak memiliki kegiatan usaha nyata.

Ayahnya belum sempat menyelesaikan pemeriksaan ketika meninggal akibat serangan jantung.

Namun, sebelum meninggal, ia sudah mengambil langkah perlindungan.

Sebagian besar saham perusahaan ditempatkan dalam struktur perwalian keluarga yang dikelola berdasarkan ketentuan hukum dan perjanjian khusus.

Rian tidak memiliki hak otomatis atas saham tersebut.

Bahkan jika Dewi meninggal, aset utama akan dikelola untuk kepentingan ahli waris yang sah.

Ratna menatap Dewi.

“Ada satu hal lagi. Bapak meninggalkan instruksi agar audit dilanjutkan apabila muncul transaksi mencurigakan.”

Dewi memejamkan mata.

Selama ini ia menganggap ayahnya terlalu keras terhadap Rian.

Ternyata ayahnya hanya melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

Dua hari kemudian, polisi memperoleh bukti tambahan.

Rekaman kamera pengawas penginapan memperlihatkan Siska memasuki kamar Rian pada malam sebelum kejadian.

Percakapan melalui aplikasi pesan yang berhasil dipulihkan dari perangkat Siska menunjukkan rencana mereka.

Rian menulis bahwa setelah Dewi meninggal, ia akan menggunakan surat kuasa palsu untuk mengambil kendali operasional perusahaan.

Siska menjawab bahwa dokumen pengalihan dana sudah siap.

Namun, ada satu pesan yang membuat Aditya terdiam.

Pesan itu dikirim Siska kepada seseorang dengan nama kontak Dokter H.

“Pastikan perempuan itu tidak sempat melahirkan kalau masih ditemukan hidup.”

Polisi segera menelusuri nomor tersebut.

Pemiliknya bukan dokter.

Ia adalah Haris, mantan kepala keamanan perusahaan keluarga Dewi yang dipecat ayahnya karena dugaan penggelapan.

Haris ternyata bertugas mengatur kendaraan dan memilih lokasi perjalanan yang sepi.

Kini penyelidikan bukan lagi sekadar kasus percobaan pembunuhan oleh suami yang berselingkuh.

Ini adalah kejahatan terencana yang melibatkan penggelapan aset dan pemalsuan dokumen.

Polisi memutuskan melakukan penangkapan.

Namun, Dewi meminta satu kesempatan terakhir.

“Saya ingin mereka mendengar sendiri bahwa saya masih hidup.”

Aditya sempat menolak karena mempertimbangkan keselamatannya.

Akhirnya mereka menyepakati cara yang tidak mengharuskan Dewi meninggalkan rumah sakit.

Di Jakarta, Rian sedang mengadakan rapat darurat dengan beberapa direktur perusahaan.

Ia mengenakan setelan hitam dan memasang wajah serius.

“Kepergian Dewi adalah kehilangan besar. Tetapi perusahaan harus tetap berjalan. Sebagai suaminya, saya siap mengambil tanggung jawab.”

Siska duduk di sebelahnya.

Di atas meja terdapat dokumen yang mereka siapkan untuk memperoleh akses pengelolaan rekening perusahaan.

Salah seorang komisaris bertanya, “Apakah sudah ada penetapan hukum mengenai kematian Bu Dewi?”

Rian terdiam sesaat.

“Sedang diproses.”

“Kalau begitu, kita tidak bisa menyetujui pengalihan kewenangan.”

Wajah Rian mengeras.

“Saya suaminya!”

Tiba-tiba layar besar ruang rapat menyala.

Wajah Dewi muncul melalui sambungan video.

Seluruh ruangan membeku.

Rian mundur hingga kursinya terjatuh.

Siska menutup mulut.

Dewi tampak pucat, tetapi sorot matanya tegas.

“Selamat pagi, Rian.”

Tidak ada yang berbicara.

“Kamu kelihatan sehat. Padahal tiga hari lalu kamu bilang aku tidak akan bertahan sampai malam.”

Rian menggeleng cepat.

“Dewi? Sayang? Kamu hidup? Ya Tuhan, aku mencarimu ke mana-mana!”

Dewi tersenyum getir.

“Benarkah?”

Rian mendekati layar.

“Aku pikir kamu sudah meninggal. Aku sangat takut!”

“Kalau begitu, kenapa kamu mengadakan doa untuk kematianku sebelum polisi memastikan keadaanku?”

Rian tidak mampu menjawab.

Dewi melanjutkan.

“Dan kenapa kamu sudah memesan vila di Bali bersama Siska?”

Siska langsung berdiri.

“Itu tidak seperti yang Ibu pikirkan!”

Dewi menatap perempuan itu.

“Siska, aku pernah membayar biaya operasi ibumu. Aku pernah membantumu ketika rumahmu hampir disita bank.”

Air mata mulai mengalir di wajah Siska.

“Tapi kamu justru membantu suamiku membunuh aku dan anakku.”

Rian tiba-tiba berteriak.

“Ini fitnah! Dewi sedang tidak stabil setelah kecelakaan!”

Dewi tidak membalas.

Ia hanya memberi isyarat kepada Ratna.

Beberapa detik kemudian, suara rekaman terdengar dari pengeras suara ruang rapat.

“Dengan kondisi seperti itu, dia tidak mungkin bertahan lama.”

Suara Rian.

Lalu suara Siska.

“Bagaimana dengan bayinya?”

“Justru lebih baik kalau keduanya tidak selamat.”

Rian membeku.

Seorang direktur menatapnya dengan wajah pucat.

“Rian… apa yang sudah kamu lakukan?”

Pintu ruang rapat terbuka.

Inspektur Aditya masuk bersama beberapa anggota kepolisian yang sejak tadi menunggu di luar.

“Saudara Rian dan Saudari Siska, kami membawa surat perintah penangkapan terkait dugaan percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana lain yang sedang diselidiki.”

Rian berusaha melarikan diri melalui pintu samping, tetapi dua petugas sudah berjaga.

Siska jatuh terduduk sambil menangis.

Rian terus berteriak bahwa semuanya hanya kesalahpahaman.

Dewi menyaksikannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menjelaskan dirinya kepada laki-laki itu.

Beberapa bulan kemudian, kasus tersebut memasuki persidangan.

Rekaman suara, bukti transaksi, keterangan saksi, dokumen palsu, dan komunikasi digital menjadi bagian penting dari pembuktian.

Haris juga ditangkap setelah penyidik menemukan keterlibatannya dalam persiapan perjalanan.

Di persidangan, Rian mencoba menyalahkan Siska.

Siska justru mengungkap bahwa Rian telah merencanakan penguasaan aset sejak jauh sebelum perjalanan ke Bromo.

Keduanya akhirnya dinyatakan bersalah atas sejumlah dakwaan yang terbukti di pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara.

Dewi tidak hadir ketika putusan dibacakan.

Hari itu ia sedang menemani Arka menjalani pemeriksaan kesehatan.

Bayi kecil itu sudah keluar dari inkubator dan tumbuh semakin kuat.

Ketika Ratna menelepon untuk menyampaikan hasil persidangan, Dewi hanya menjawab, “Terima kasih. Sekarang saya ingin pulang bersama anak saya.”

Setahun kemudian, Dewi kembali ke kawasan Bromo.

Bukan untuk mengenang Rian.

Ia datang bersama Arka, Ratna, dan Bayu, petugas SAR yang pernah menyelamatkannya.

Mereka tidak mendekati tebing berbahaya itu.

Dewi berdiri di area pandang yang aman sambil menggendong putranya.

Matahari pagi perlahan muncul di balik pegunungan.

“Bu Dewi tidak takut kembali ke sini?” tanya Bayu.

Dewi menatap wajah Arka yang tertidur.

“Dulu saya takut karena mengira hidup saya sudah berakhir di tempat ini.”

“Lalu sekarang?”

Dewi tersenyum.

“Sekarang saya tahu, justru di sinilah hidup saya dimulai lagi.”

Bayu mengangguk.

Sebelum pulang, Ratna menyerahkan sebuah amplop kecil yang baru ditemukan saat membereskan barang peninggalan ayah Dewi.

Di dalamnya ada foto Dewi ketika masih kecil, berdiri di samping ayahnya di depan rumah sederhana mereka.

Pada bagian belakang foto terdapat tulisan tangan.

Dewi membacanya perlahan.

“Anakku, kalau suatu hari dunia membuatmu merasa tidak berharga, ingatlah bahwa kamu sudah berharga bahkan sebelum memiliki apa pun.”

Air mata Dewi jatuh membasahi foto itu.

Selama bertahun-tahun ia mengira warisan terbesar ayahnya adalah gedung, tanah, dan perusahaan.

Ternyata bukan.

Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk tidak menyerahkan hidup kepada orang yang salah.

Arka terbangun dan menggenggam jari ibunya.

Dewi mencium kening putranya.

“Kita pulang, Nak.”

Namun, ketika hendak memasukkan foto itu kembali ke amplop, sebuah benda kecil terjatuh.

Sebuah kartu memori.

Ratna terkejut.

“Itu apa?”

Dewi tidak tahu.

Mereka memeriksanya setelah kembali ke penginapan.

Di dalam kartu memori terdapat video terakhir ayah Dewi, direkam beberapa hari sebelum kematiannya.

Wajah lelaki tua itu tampak lelah.

“Dewi, kalau kamu menonton ini, mungkin Ayah sudah tidak ada.”

Dewi menahan napas.

“Ayah menemukan sesuatu tentang Rian. Dia bukan hanya mencuri uang perusahaan. Dia pernah mencoba mengubah obat jantung Ayah melalui seseorang yang bekerja di rumah kita.”

Dewi membeku.

“Ayah belum punya cukup bukti untuk menuduh siapa pun. Karena itu Ayah menyimpan semua dokumen dan meminta Ratna meneruskannya kepada penyidik jika diperlukan.”

Video berhenti.

Dewi menatap layar yang menghitam.

Selama ini kematian ayahnya dianggap akibat penyakit jantung.

Kini muncul kemungkinan mengerikan bahwa Rian telah menargetkan keluarganya jauh lebih awal.

Ratna segera menghubungi Inspektur Aditya dan menyerahkan kartu memori tersebut untuk diperiksa keasliannya.

Dewi tahu temuan itu belum membuktikan adanya pembunuhan. Penyelidikan baru harus dilakukan, dan kebenaran mungkin membutuhkan waktu panjang untuk terungkap.

Namun, satu hal sudah jelas.

Rian tidak pernah benar-benar mencintai keluarga yang ingin dihancurkannya.

Malam itu, Dewi duduk di dekat jendela penginapan sambil menggendong Arka.

Di luar, kabut perlahan menutupi pegunungan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Inspektur Aditya muncul.

“Kami akan membuka penyelidikan baru berdasarkan bukti yang Ibu serahkan.”

Dewi membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya.

Ia tidak tersenyum penuh kemenangan.

Tidak ada kegembiraan dalam mengetahui bahwa orang yang pernah dicintainya mungkin telah menghancurkan lebih banyak kehidupan daripada yang ia bayangkan.

Tetapi kini ia tidak lagi takut menghadapi kebenaran.

Arka menggeliat dalam pelukannya.

Dewi memeluknya lebih erat.

Dulu, ketika tergantung di tebing, ia mendengar dua orang berharap dirinya mati.

Sekarang, di tempat yang sama, ia mendengar napas tenang anaknya yang sedang tidur.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara itu terasa lebih kuat daripada seluruh kebencian yang pernah hampir merenggut hidupnya.

Dewi menatap langit malam dan berbisik kepada ayahnya.

“Ayah, aku akhirnya mengerti.”

Ia mengecup kepala Arka.

“Orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan meminta kita mengorbankan hidup demi membuktikan cinta. Mereka akan melakukan apa saja agar kita tetap hidup.”

Di luar jendela, kabut mulai menipis.

Dan ketika cahaya bulan menyentuh wajah kecil Arka, Dewi menyadari bahwa keajaiban terbesar bukanlah selamat dari jurang.

Melainkan mendapatkan kesempatan kedua untuk membesarkan anaknya tanpa harus hidup dalam ketakutan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang