Malam itu, Bu Rosa pulang dari rumah putranya dengan membawa sekantong mi instan dan hati yang terasa lebih sakit daripada penyakit jantung yang dideritanya.
Namun, ketika perempuan berusia tujuh puluh tahun itu membuka kantong plastik pemberian Carlo, tangannya mendadak gemetar.
Di antara lima bungkus mi instan, terselip sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.
Bu Rosa terdiam.
Ia mengeluarkan amplop tersebut dengan hati-hati, lalu membukanya di bawah cahaya lampu ruang tamu yang redup.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, sebuah kartu ATM, dan secarik kertas yang dilipat menjadi empat bagian.
Air mata Bu Rosa langsung menggenang.
Ia mengira putranya sengaja menyembunyikan uang agar istrinya tidak mengetahui bahwa ia telah membantu ibunya.
Namun, ketika membaca tulisan pada kertas itu, senyum kecil yang sempat muncul di wajahnya perlahan menghilang.
“Ibu, maafkan aku. Jangan datang lagi ke rumahku. Ambil uang ini dan anggap saja kita sudah tidak memiliki urusan apa pun.”
Di bagian bawah tertulis nama Carlo.
Bu Rosa membaca kalimat itu berkali-kali.
Uang di dalam amplop berjumlah lima juta rupiah. Jumlah yang cukup besar untuk membeli obat selama beberapa waktu, tetapi masih jauh dari biaya operasi jantung yang dibutuhkannya.

Yang membuat dadanya sesak bukanlah jumlah uang tersebut.
Melainkan kenyataan bahwa putra yang pernah digendongnya sepanjang malam ketika demam kini menganggap keberadaan ibunya sebagai beban.
Bu Rosa duduk perlahan di kursi kayu.
Di luar, hujan semakin deras.
Ia memandangi foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu diambil hampir tiga puluh tahun lalu, ketika Carlo baru berusia sepuluh tahun dan adiknya, Dimas, masih berusia enam tahun.
Dalam foto tersebut, Carlo memeluk pinggang ibunya sambil tersenyum lebar.
Dahulu, anak itu selalu berkata bahwa suatu hari nanti ia akan membelikan rumah besar untuk ibunya.
“Kalau Carlo sudah kaya, Ibu tidak perlu bekerja lagi. Ibu tinggal duduk di rumah, nanti Carlo yang mencari uang.”
Bu Rosa tersenyum pahit mengingat janji polos tersebut.
Ia tidak pernah meminta rumah besar.
Ia hanya berharap anak-anaknya tetap mengingat jalan pulang.
Keesokan paginya, Bu Rosa terbangun karena suara ketukan di pintu.
Seorang perempuan muda bernama Sinta berdiri di depan rumah sambil membawa sekantong bubur hangat.
Sinta adalah perawat di puskesmas kecamatan yang sudah beberapa tahun mengenal Bu Rosa.
“Bu, kemarin Ibu tidak datang mengambil obat. Saya khawatir.”
Bu Rosa berusaha tersenyum.
“Ibu pergi menemui Carlo.”
Sinta memperhatikan wajah pucat perempuan tua itu.
“Bagaimana hasilnya, Bu?”
Bu Rosa tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjuk amplop cokelat yang tergeletak di atas meja.
Sinta mengambil kertas di dalamnya dan membaca tulisan tersebut.
Wajahnya berubah.
“Mas Carlo benar-benar menulis ini?”
Bu Rosa mengangguk pelan.
“Mungkin dia sedang banyak masalah, Nak. Ibu tidak mau menyalahkannya.”
Sinta menatap perempuan tua itu dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi Ibu harus segera dirawat. Dokter bilang kondisi jantung Ibu tidak boleh dibiarkan.”
Bu Rosa menggenggam tangan Sinta.
“Kalau uangnya belum cukup, Ibu tunggu saja. Barangkali masih ada jalan.”
Sinta hendak menjawab ketika ponselnya berdering.
Telepon itu berasal dari rumah sakit tempat Bu Rosa menjalani pemeriksaan sebelumnya.
Setelah mendengarkan penjelasan petugas, wajah Sinta mendadak tegang.
“Bu Rosa, kita harus ke rumah sakit sekarang.”
“Tapi kenapa?”
“Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisi Ibu memburuk. Dokter ingin melakukan evaluasi segera.”
Bu Rosa memandang uang di atas meja.
“Uangnya…”
“Kita urus nanti, Bu. Sekarang keselamatan Ibu lebih penting.”
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan Bekasi, Carlo sedang duduk di ruang kerjanya ketika istrinya, Melinda, masuk dengan wajah marah.
“Kamu memberikan uang kepada ibumu kemarin?”
Carlo mengangkat kepala.
“Uang apa?”
“Jangan berpura-pura. Aku melihat kamu mengambil amplop dari laci mobil.”
Carlo terdiam sesaat.
“Itu uang lima juta yang kusisihkan untuk Ibu.”
Melinda melipat tangan.
“Katanya kita sedang kesulitan. Kenapa kamu masih memberikan uang sebanyak itu?”
Carlo menghela napas.
“Dia sakit, Mel. Dia ibuku.”
“Kalau begitu, suruh adikmu yang mengurusnya. Bukankah Dimas tinggal di desa bersama ibumu?”
Carlo tidak menjawab.
Selama beberapa bulan terakhir, bisnis toko bahan bangunannya memang sedang mengalami kesulitan. Salah satu kontraktor besar belum melunasi pembayaran material senilai hampir dua miliar rupiah.
Namun, keadaan sebenarnya tidak separah yang ia ceritakan kepada ibunya.
Ia masih memiliki tabungan dan beberapa aset yang bisa dicairkan.
Masalahnya, Melinda tidak ingin uang keluarga mereka digunakan untuk membantu Bu Rosa.
Perdebatan itu terhenti ketika Carlo menerima pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
Pesan tersebut berisi foto ibunya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
Di bawah foto tertulis sebuah kalimat.
“Mas Carlo, saya Sinta. Ibu Rosa masuk rumah sakit pagi ini. Dokter sedang mempertimbangkan tindakan darurat. Tolong datang jika memungkinkan.”
Carlo berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Ada apa?” tanya Melinda.
“Ibu masuk rumah sakit.”
Melinda mendengus.
“Paling hanya ingin membuatmu merasa bersalah.”
Carlo menatap istrinya.
Untuk pertama kalinya, ucapan itu terdengar begitu kejam di telinganya.
“Aku akan ke sana.”
“Kalau kamu pergi, jangan harap aku mau ikut.”
Carlo mengambil kunci mobil tanpa menjawab.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya dipenuhi kenangan masa kecil.
Ia teringat ketika ayahnya meninggal akibat kecelakaan kerja. Saat itu Carlo baru berusia dua belas tahun.
Bu Rosa harus bekerja sebagai buruh cuci dan berjualan gorengan untuk menghidupi kedua putranya.
Pernah suatu malam, Carlo terbangun dan melihat ibunya duduk di dapur sambil memijat kaki yang bengkak.
Di hadapannya hanya ada segelas air putih.
Ketika Carlo bertanya apakah ibunya sudah makan, Bu Rosa tersenyum.
“Ibu sudah kenyang, Nak.”
Bertahun-tahun kemudian, Carlo baru mengetahui bahwa malam itu ibunya tidak makan karena uang terakhir digunakan untuk membeli buku sekolahnya.
Kenangan tersebut membuat genggaman Carlo pada kemudi semakin erat.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju ruang perawatan.
Sinta sedang berdiri di depan pintu.
“Bagaimana keadaan Ibu?” tanyanya terburu-buru.
“Dokter sedang memeriksa kondisi beliau. Mas Carlo, saya ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa Mas menulis surat seperti itu?”
Carlo mengerutkan kening.
“Surat apa?”
Sinta mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto kertas yang ditemukan dalam amplop.
Carlo membaca tulisan tersebut.
Wajahnya langsung pucat.
“Aku tidak pernah menulis ini.”
Sinta menatapnya tajam.
“Tapi Ibu bilang amplop itu dari Mas.”
“Uangnya memang dariku. Tapi surat ini bukan tulisanku.”
Carlo memperbesar foto tersebut.
Ia mengenali bentuk huruf dan cara penulisannya.
Melinda.
Tiba-tiba ia teringat bahwa sebelum memberikan kantong mi instan kepada ibunya, ia sempat meninggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci untuk mengambil dokumen dari ruang kerja.
Melinda berada di dekat mobil saat itu.
Carlo memejamkan mata.
Ia memang telah bersikap dingin kepada ibunya. Ia juga sengaja menyembunyikan uang di dalam kantong mi karena tidak ingin bertengkar dengan istrinya.
Tetapi ia tidak pernah berniat memutuskan hubungan dengan perempuan yang melahirkannya.
Meski demikian, ia sadar satu hal.
Surat itu mungkin bukan buatannya, tetapi sikapnya kemarin telah membuat ibunya percaya bahwa tulisan tersebut benar-benar berasal darinya.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Siapa keluarga Ibu Rosa?”
“Saya anaknya, Dok.”
Dokter menjelaskan bahwa Bu Rosa mengalami gangguan jantung serius dan membutuhkan tindakan operasi setelah kondisinya cukup stabil.
Carlo segera menyatakan kesediaannya menanggung biaya yang diperlukan.
Namun, dokter kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
“Sebagian besar dana untuk tindakan sudah tersedia. Adik pasien datang tadi pagi membawa bukti transfer dan dokumen penjaminan.”
“Dimas?”
Dokter mengangguk.
“Benar. Dia sedang mengurus administrasi.”
Carlo bergegas menuju bagian pendaftaran.
Di sana, ia melihat adiknya berdiri dengan pakaian sederhana dan wajah kelelahan.
Dimas baru berusia tiga puluh enam tahun. Selama ini ia bekerja sebagai petani sekaligus pengemudi angkutan hasil panen di kampung.
“Dim!”
Dimas menoleh.
Wajahnya langsung mengeras.
“Mas akhirnya datang.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku soal kondisi Ibu?”
Dimas tertawa getir.
“Mas serius bertanya begitu?”
Carlo terdiam.
“Selama tiga bulan aku menghubungi Mas berkali-kali. Aku mengirim hasil pemeriksaan Ibu, rincian biaya, bahkan meminta Mas membantu mencari rumah sakit. Tapi Mas selalu bilang sibuk.”
“Aku…”
“Kemarin Ibu tetap ingin datang sendiri. Aku sudah melarang. Dia bilang Mas Carlo pasti mau membantu kalau melihat keadaannya langsung.”
Dimas mengeluarkan sebuah map plastik.
“Aku menjual sebidang tanah warisan Ayah yang selama ini kukelola. Uangnya belum cukup, jadi aku juga mengambil pinjaman dengan jaminan kendaraan.”
Carlo menatap adiknya dengan perasaan campur aduk.
“Kenapa kamu sampai menjual tanah itu?”
“Karena aku tidak mau kehilangan Ibu.”
Kalimat sederhana itu membuat Carlo kehilangan kata-kata.
Dimas kemudian mengeluarkan sebuah buku tabungan tua.
“Ada sesuatu yang harus Mas tahu.”
Buku tersebut atas nama Bu Rosa.
Di dalamnya terdapat catatan transaksi selama bertahun-tahun.
Dimas membuka beberapa halaman dan menunjukkannya kepada kakaknya.
“Mas ingat waktu toko bahan bangunanmu hampir bangkrut tujuh tahun lalu?”
Carlo mengangguk.
Saat itu, ia membutuhkan modal hampir tiga ratus juta rupiah untuk melunasi utang pemasok.
Seorang investor anonim tiba-tiba memberikan pinjaman tanpa bunga melalui perantara seorang pengacara.
Berkat uang itulah bisnis Carlo berhasil diselamatkan.
“Kenapa?” tanyanya.
Dimas menatap kakaknya.
“Investor itu Ibu.”
Carlo merasa seluruh tubuhnya membeku.
“Tidak mungkin.”
“Ibu menjual rumah peninggalan Kakek dan dua petak sawah. Dia meminta pengacara merahasiakan identitasnya karena takut Mas merasa malu menerima bantuan dari seorang ibu yang hanya berjualan gorengan.”
Carlo membuka lembar demi lembar dokumen yang disodorkan Dimas.
Semuanya tercatat dengan jelas.
Nama Bu Rosa.
Tanggal penjualan tanah.
Bukti pengiriman dana.
Dan surat perjanjian pinjaman yang pernah ditandatanganinya sendiri.
Tangannya mulai gemetar.
“Tapi… uang itu sudah kukembalikan.”
Dimas mengangguk.
“Benar. Ibu menerima pengembaliannya lewat pengacara. Sebagian uang dipakai membeli lahan kecil di desa. Sisanya Ibu simpan untuk pendidikan cucu-cucunya.”
Carlo mengangkat wajah.
“Cucuku?”
“Anak-anak Mas, maksudku.”
Dimas menyerahkan sebuah amplop lain.
Di dalamnya terdapat dua buku tabungan pendidikan atas nama anak-anak Carlo.
“Ibu bilang dia tidak tahu berapa lama lagi bisa hidup. Jadi dia ingin meninggalkan sesuatu untuk cucunya.”
Carlo menundukkan kepala.
Selama ini ia mengira dirinya adalah anak yang berhasil membangun kekayaan tanpa bantuan siapa pun.
Ia sering merasa ibunya tidak memahami betapa beratnya menjalankan bisnis.
Padahal perempuan yang dianggapnya tidak mengerti apa-apa itulah yang pernah menyelamatkan seluruh usahanya.
“Aku bahkan tidak tahu,” bisiknya.
“Karena Ibu tidak pernah ingin Mas tahu.”
Dimas menarik napas panjang.
“Dan ada satu hal lagi. Ibu sebenarnya tidak ingin meminjam uang kemarin untuk seluruh biaya operasi.”
Carlo menatapnya.
“Maksudmu?”
“Biaya rumah sakit sudah kami bicarakan dengan dokter dan pihak penjamin. Masih ada kekurangan, tetapi aku sedang mengurusnya. Ibu hanya ingin meminta bantuan sementara untuk obat dan pemeriksaan lanjutan.”
Dimas berhenti sejenak.
“Lalu Ibu bilang, sekalian ingin melihat Mas Carlo. Sudah hampir dua tahun Mas tidak pulang.”
Carlo menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi pengusaha sukses, ia menangis tanpa mampu menahan diri.
Beberapa jam kemudian, Bu Rosa dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya lebih stabil.
Carlo masuk perlahan.
Ibunya sedang berbaring dengan selang oksigen terpasang di hidung.
Ketika melihat putranya, Bu Rosa berusaha tersenyum.
“Carlo… kenapa kamu datang? Bukankah kamu sedang sibuk?”
Carlo mendekat dan berlutut di samping ranjang.
“Maafkan aku, Bu.”
Bu Rosa mengangkat tangannya yang kurus.
“Kenapa minta maaf? Kamu sudah memberikan Ibu uang. Ibu tahu kamu sebenarnya masih peduli.”
Carlo menggenggam tangan itu erat.
“Surat di dalam amplop bukan dariku, Bu.”
Bu Rosa terdiam.
“Aku tidak pernah ingin Ibu menjauh dariku. Tapi aku memang salah karena membiarkan Ibu pulang sendirian dalam hujan. Aku terlalu pengecut untuk membela Ibu di rumahku sendiri.”
Air mata mengalir di pipi Bu Rosa.
“Carlo, Ibu tidak butuh rumah besar atau mobil mahal. Ibu cuma ingin sesekali mendengar suaramu.”
Carlo menangis semakin keras.
“Aku akan membayar semua biaya pengobatan Ibu. Aku juga akan mengurus semuanya mulai sekarang.”
Bu Rosa menggeleng lemah.
“Jangan berjanji karena merasa bersalah, Nak. Ibu hanya ingin kamu menjadi orang yang baik.”
Carlo mencium tangan ibunya.
“Aku ingin memperbaiki semuanya, Bu. Bukan hanya dengan uang.”
Malam itu, Carlo menelepon Melinda.
Ia meminta istrinya datang ke rumah sakit.
Ketika Melinda tiba, Carlo memperlihatkan surat yang ditemukan dalam kantong mi instan.
“Kamu yang menulis ini?”
Melinda sempat menyangkal.
Namun, ketika Carlo mengatakan bahwa ia telah memeriksa rekaman kamera keamanan di garasi, perempuan itu terdiam.
Rekaman tersebut memperlihatkan Melinda membuka kantong plastik dan menyelipkan sesuatu ke dalam amplop saat Carlo berada di dalam rumah.
“Aku hanya tidak ingin ibumu terus meminta uang!” bentaknya akhirnya.
Carlo menatapnya dengan mata merah.
“Dia tidak pernah meminta apa pun dariku selama bertahun-tahun.”
“Dia selalu membuatmu merasa bersalah!”
“Tidak, Melinda. Aku merasa bersalah karena aku memang bersalah.”
Melinda terdiam.
Carlo kemudian berkata dengan suara tenang.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina ibuku lagi. Termasuk kamu.”
Untuk sementara, Carlo memutuskan tinggal terpisah dari istrinya agar mereka dapat mempertimbangkan masa depan pernikahan mereka dengan kepala dingin.
Ia tidak ingin mengambil keputusan besar hanya karena kemarahan sesaat.
Namun, ada batas yang tidak akan ia izinkan dilanggar lagi.
Tiga minggu kemudian, Bu Rosa berhasil menjalani operasi jantung.
Masa pemulihannya tidak mudah. Beberapa kali kondisinya membuat keluarga khawatir, tetapi perlahan kesehatannya mulai membaik.
Carlo mengurangi jam kerjanya dan menyerahkan sebagian tanggung jawab toko kepada manajer kepercayaannya.
Setiap sore, ia datang membawa makanan dan menemani ibunya berbicara.
Dimas juga tetap berada di sisi mereka.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kedua bersaudara itu kembali makan bersama tanpa memperdebatkan uang atau pekerjaan.
Suatu sore, Bu Rosa meminta Carlo mengambil tas kain tuanya.
“Ada sesuatu di kantong kecil bagian dalam,” katanya.
Carlo membuka tas tersebut.
Ia menemukan sebuah dompet lusuh berisi foto masa kecilnya dan secarik kertas yang sudah menguning.
Di kertas itu terdapat tulisan tangan seorang anak kecil.
“Kalau aku besar nanti, aku akan menjaga Ibu sampai Ibu tua. Ibu tidak boleh menangis lagi. Janji Carlo.”
Carlo mengenali tulisan tangannya sendiri.
Ia menulisnya ketika masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, setelah melihat ibunya menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli beras.
Bu Rosa tersenyum.
“Ibu menyimpan surat itu hampir enam puluh tahun.”
Carlo tidak mampu berkata-kata.
“Ibu tidak pernah menagih janji itu, Nak. Karena Ibu tahu hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.”
Carlo memeluk ibunya dengan hati-hati.
“Tapi sekarang aku ingin menepatinya.”
Beberapa bulan kemudian, Bu Rosa kembali ke rumah kecilnya di desa.
Carlo sebenarnya ingin membawanya tinggal di rumah yang lebih besar, tetapi ibunya menolak.
“Di sini Ibu mengenal tetangga, bisa melihat kebun, dan mendengar suara ayam setiap pagi. Ibu bahagia di sini.”
Carlo akhirnya menghormati keinginannya.
Sebagai gantinya, ia memperbaiki rumah tersebut, memasang pegangan tangan di kamar mandi, dan memastikan ibunya memiliki akses pemeriksaan kesehatan rutin.
Ia juga mulai pulang setiap akhir pekan bersama anak-anaknya.
Suatu hari, cucu perempuan Bu Rosa menemukan sebuah kantong mi instan yang disimpan rapi di lemari.
“Nenek, kenapa kantong plastik jelek ini tidak dibuang?”
Bu Rosa tersenyum.
“Karena kantong itu pernah membawa Nenek pulang dengan hati yang sangat sedih.”
Anak kecil itu mengerutkan kening.
“Kalau begitu kenapa disimpan?”
Bu Rosa menatap Carlo yang sedang memperbaiki kursi kayu di teras.
“Karena dari kantong itulah Nenek belajar bahwa kadang-kadang manusia harus hampir kehilangan sesuatu sebelum menyadari betapa berharganya sesuatu itu.”
Carlo mendengar ucapan tersebut.
Ia berhenti bekerja dan menatap ibunya.
Di wajah perempuan tua itu kini terdapat senyum yang sudah lama tidak dilihatnya.
Sore itu, Carlo masuk ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan mi instan.
“Bu, jangan makan mi terus. Dokter sudah mengatur makanan Ibu.”
Bu Rosa tertawa kecil.
“Ini bukan untuk Ibu. Ini untukmu. Dulu waktu kecil, kamu paling suka mi pakai telur.”
Carlo terdiam.
Ia mengambil panci dari tangan ibunya.
“Biar aku yang masak sekarang.”
Bu Rosa duduk di kursi dapur sambil memperhatikan putranya.
Ketika mi matang, Carlo membaginya ke dalam dua mangkuk kecil.
Mereka makan bersama di meja kayu yang sama, tempat Bu Rosa pernah membuka amplop berisi uang dan surat menyakitkan beberapa bulan sebelumnya.
Carlo kemudian mengeluarkan sebuah amplop putih dari sakunya.
Bu Rosa langsung menggeleng.
“Carlo, Ibu tidak perlu uang lagi.”
“Ini bukan uang, Bu.”
Di dalam amplop terdapat sebuah foto keluarga terbaru.
Carlo, Dimas, anak-anak mereka, dan Bu Rosa berdiri bersama di halaman rumah.
Di belakang foto tersebut, Carlo menulis sebuah kalimat.
“Ibu, dulu aku memberimu sekantong mi karena mengira itulah yang mampu kuberikan. Sekarang aku tahu, yang paling Ibu butuhkan bukanlah uang atau makanan, melainkan seorang anak yang tidak melupakan ibunya.”
Bu Rosa membaca tulisan itu perlahan.
Kemudian ia memeluk putranya.
Di luar rumah, hujan mulai turun.
Sama seperti malam ketika ia pulang sendirian dengan sekantong mi instan di dada.
Namun kali ini, tidak ada gerbang besi yang tertutup di hadapannya.
Tidak ada langkah kaki yang tertatih di jalan berlumpur.
Dan tidak ada seorang ibu yang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa anaknya masih menyayanginya.
Sebab Carlo akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh keberhasilan bisnis maupun kekayaan.
Uang yang hilang masih bisa dicari kembali.
Rumah yang rusak masih bisa dibangun ulang.
Tetapi waktu bersama orang tua tidak pernah bisa dibeli, sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Bu Rosa akhirnya meninggal dunia dengan tenang pada usia delapan puluh satu tahun, Carlo menemukan kantong mi instan itu masih tersimpan di dalam lemarinya.
Di dalam kantong tersebut terdapat surat kecil yang belum pernah dilihatnya.
Tulisan tangan ibunya tampak sedikit gemetar.
“Untuk Carlo, jika suatu hari kamu menemukan surat ini, Ibu ingin kamu tahu bahwa Ibu tidak pernah membencimu, bahkan pada malam ketika kamu menutup gerbang itu. Ibu hanya takut kamu akan menghabiskan hidup mengejar uang sampai lupa bagaimana rasanya pulang.”
Carlo membaca surat itu sambil menangis.
Di bagian paling bawah, Bu Rosa menambahkan satu kalimat.
“Ibu sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf. Sekarang, maafkanlah dirimu sendiri, lalu jadilah ayah yang selalu punya waktu untuk anak-anakmu.”
Carlo melipat surat tersebut dan memeluknya erat.
Untuk pertama kalinya setelah kepergian ibunya, ia memahami mengapa Bu Rosa tidak pernah membuang kantong mi instan itu.
Bukan untuk mengingat penghinaan yang pernah diterimanya.
Melainkan untuk mengingat hari ketika seorang anak yang hampir kehilangan kasih sayang ibunya akhirnya menemukan jalan pulang.
Dan sejak hari itu, setiap kali hujan turun, Carlo selalu pulang lebih awal.
Bukan karena pekerjaannya sudah selesai.
Melainkan karena ia tidak ingin anak-anaknya suatu hari harus mengetuk pintu rumahnya hanya untuk meminta sedikit waktu dan kasih sayang.
