Pukul dua dini hari, seluruh kamera CCTV di rumahku mendadak mati. Tiga orang asisten rumah tanggaku tidak menjawab telepon. Namun, yang paling membuat darahku terasa membeku adalah pesan singkat yang tiba-tiba masuk dari nomor tak dikenal.
“Pulanglah sekarang. Kalau terlambat, mungkin Ibu Carmen tidak akan bertahan sampai pagi.”
Tanganku langsung gemetar.
Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap seseorang hanya sedang mempermainkanku. Namun, beberapa detik kemudian, sebuah foto menyusul.
Foto itu memperlihatkan balkon lantai dua rumahku.
Di sana, seorang perempuan tua mengenakan daster tipis berwarna biru duduk meringkuk di lantai. Rambut putihnya berantakan, sementara kedua tangannya memeluk lutut.
Aku mengenali daster itu.
Itu milik ibu mertuaku, Nenek Carmen.
“Ya Tuhan, Ibu!”

Aku langsung menelepon nomor tersebut, tetapi tidak tersambung. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil tas dan kunci mobil, lalu meninggalkan hotel tempat konferensi bisnisku berlangsung.
Namaku Clara. Usiaku baru dua puluh empat tahun. Dua tahun lalu, aku kehilangan suamiku, Arthur, dalam kecelakaan mobil. Sejak saat itu, satu-satunya keluarga yang benar-benar dekat denganku adalah ibunya, Nenek Carmen.
Beliau tidak pernah memperlakukanku sebagai menantu. Bahkan ketika Arthur masih hidup, beliau selalu memperkenalkanku kepada orang lain sebagai putrinya.
Karena itulah aku berjanji akan merawatnya sampai akhir hayat.
Aku mempekerjakan tiga orang asisten rumah tangga dengan gaji tinggi. Bu Mercy, perempuan berusia empat puluh lima tahun yang sudah bekerja hampir dua tahun. Brenda, keponakannya yang berusia dua puluh empat tahun. Dan Ricky, pria berusia tiga puluh delapan tahun yang bertugas menjaga rumah sekaligus mengurus pekerjaan berat.
Selama ini, mereka selalu melaporkan bahwa Nenek Carmen makan teratur, minum obat tepat waktu, dan tidur dengan nyaman.
Aku bahkan memasang kamera CCTV di hampir seluruh bagian rumah.
Namun, malam itu semua kamera mendadak kehilangan koneksi.
Dari Bandung menuju Jakarta, aku menyetir dengan perasaan tidak karuan. Aku mencoba menghubungi petugas keamanan kompleks perumahan kami, tetapi nomor pos penjagaan tidak aktif.
Akhirnya, aku menelepon Pak Darto, tetangga sebelah yang sudah mengenal keluarga suamiku selama puluhan tahun.
“Pak, maaf mengganggu malam-malam. Bisa tolong lihat rumah saya?”
Suara Pak Darto terdengar mengantuk.
“Ada apa, Clara?”
“Saya khawatir Ibu Carmen kenapa-kenapa. CCTV mati semua.”
Beberapa menit kemudian, beliau menelepon kembali.
“Clara, lampu rumahmu menyala. Saya dengar orang tertawa dari dalam. Tapi pintu gerbang terkunci.”
“Bagaimana dengan Ibu?”
“Saya tidak melihat beliau.”
Aku meminta Pak Darto tetap memperhatikan rumah dari tempat aman dan menghubungi keamanan kompleks jika melihat sesuatu yang mencurigakan.
Perjalanan yang biasanya terasa biasa saja malam itu seperti tidak berujung.
Ketika akhirnya mobilku memasuki halaman rumah sekitar pukul setengah lima pagi, aku melihat sesuatu yang membuatku semakin curiga.
Mobil Ricky terparkir di dekat garasi, padahal menurut jadwal, malam itu dia seharusnya sedang cuti.
Aku mematikan mesin tanpa menyalakan lampu depan.
Dari jendela ruang keluarga, terlihat cahaya terang dan bayangan beberapa orang bergerak.
Aku membuka pintu samping menggunakan kunci cadangan.
Begitu masuk, suara tawa langsung terdengar jelas.
“Mahjong! Aku menang lagi!” teriak Brenda.
“Curang kamu! Dari tadi kartu bagus semua!” sahut Ricky.
Aku melangkah perlahan menuju ruang keluarga.
Di sana, ketiga orang yang kupercaya sedang duduk mengelilingi meja.
Ada makanan berserakan, botol minuman, dan tumpukan uang tunai di atas meja.
Bu Mercy tertawa sambil menghitung lembaran uang.
“Tenang saja. Nyonya Clara baru pulang lusa. Kita masih punya banyak waktu.”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Benarkah?”
Seketika ruangan menjadi sunyi.
Wajah Bu Mercy berubah pucat.
“Nyonya Clara?”
Brenda menjatuhkan kepingan mahjong dari tangannya.
Ricky langsung berdiri.
“Kenapa Nyonya pulang? Bukannya konferensinya masih dua hari?”
Aku tidak menjawab.
“Di mana Ibu Carmen?”
Bu Mercy tersenyum kaku.
“Sedang tidur, Nyonya.”
“Di kamarnya?”
“Iya. Beliau sudah tidur sejak jam sembilan.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Kalau begitu, ikut saya.”
Aku berjalan menaiki tangga.
Mereka mengikuti dengan langkah ragu.
Ketika membuka kamar Nenek Carmen, ranjangnya kosong.
Selimutnya terlipat rapi, tetapi bantalnya dingin.
Aku menoleh kepada Bu Mercy.
“Katanya Ibu sedang tidur?”
Perempuan itu menelan ludah.
“Mungkin beliau pergi ke kamar mandi.”
Aku langsung menuju balkon.
Pintu kacanya terkunci dari dalam.
Di balik kaca, kulihat tubuh kecil yang selama ini sangat kusayangi sedang meringkuk di sudut lantai.
“Ibu!”
Aku berteriak sambil membuka kunci.
Udara dingin dini hari langsung menerpa wajahku.
Nenek Carmen duduk tanpa alas kaki. Daster tipisnya basah oleh embun dan gerimis yang terbawa angin. Bibirnya tampak pucat, sementara kedua tangannya gemetar hebat.
Aku berlutut dan memeluknya.
“Ibu, ini Clara. Aku sudah pulang.”
Beliau mengangkat wajah perlahan.
Matanya yang biasanya hangat tampak kosong.
“Clara?”
“Iya, Bu. Ini aku.”
Tiba-tiba beliau menangis.
“Nak, Ibu sudah mengetuk pintu berkali-kali. Ibu bilang kedinginan, tapi mereka tidak mau membuka.”
Dadaku terasa seperti diremas.
“Sejak kapan Ibu di sini?”
Nenek Carmen mencoba mengingat.
“Tadi sore… atau mungkin malam. Ibu lupa. Mereka bilang Ibu berisik.”
Aku langsung melepaskan jaket dan menyelimutkannya ke tubuh beliau.
Ketika membantu beliau berdiri, aku melihat pergelangan tangannya memerah.
“Apa yang terjadi dengan tangan Ibu?”
Beliau buru-buru menarik lengannya.
“Tidak apa-apa, Nak.”
Aku tahu beliau sedang ketakutan.
Aku menoleh kepada ketiga asisten rumah tangga yang berdiri di belakangku.
“Siapa yang mengunci pintu ini?”
Tidak ada jawaban.
“Jawab!”
Bu Mercy akhirnya angkat bicara.
“Nyonya, jangan salah paham. Ibu Carmen tadi gelisah. Beliau terus berjalan ke sana kemari. Kami hanya ingin beliau mendapat udara segar.”
“Udara segar?” suaraku bergetar. “Kalian membiarkan perempuan berusia delapan puluh tahun di balkon sepanjang malam?”
Brenda mulai menangis.
“Kami tidak bermaksud begitu, Kak.”
Aku mengangkat tangan.
“Cukup. Jangan mendekati Ibu.”
Aku segera membawa Nenek Carmen ke kamar, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, lalu menelepon ambulans.
Sambil menunggu, aku menghubungi keamanan kompleks dan polisi.
Ricky mendadak panik.
“Nyonya, tidak perlu sampai melibatkan polisi. Kita bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan.”
Aku menatapnya tajam.
“Keluarga tidak mengurung orang tua di balkon.”
Tidak lama kemudian, petugas keamanan datang. Ketiga asisten itu diminta tetap berada di ruang keluarga sambil menunggu polisi.
Nenek Carmen dibawa ke rumah sakit terdekat.
Dokter mengatakan suhu tubuhnya terlalu rendah dan beliau mengalami dehidrasi. Untungnya, kondisinya segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi keadaan yang lebih berbahaya.
Namun, ada sesuatu yang membuat dokter mengerutkan kening.
“Bu Clara, apakah ibu mertua Anda memiliki riwayat jatuh?”
“Kenapa, Dok?”
Dokter memperlihatkan beberapa memar lama di lengan dan punggung beliau.
“Memar ini tampaknya muncul pada waktu yang berbeda. Kami perlu memastikan penyebabnya.”
Aku merasa lututku melemas.
Selama ini, setiap kali aku melihat memar pada tubuh Nenek Carmen, Bu Mercy selalu mengatakan bahwa beliau terjatuh karena sudah pikun.
Aku mempercayainya.
Sekarang aku mulai mempertanyakan semuanya.
Pagi itu, setelah kondisi Nenek Carmen stabil, polisi memeriksa rumahku.
Rekaman CCTV utama ternyata tidak hilang karena gangguan internet.
Kabel jaringan di ruang penyimpanan sengaja dicabut.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui ketiga asisten rumah tanggaku.
Beberapa bulan sebelumnya, teknisi keamanan memasang kamera cadangan dengan penyimpanan terpisah di dekat tangga belakang, setelah pernah terjadi percobaan pencurian di kompleks kami.
Kamera itu tetap merekam meskipun jaringan utama terputus.
Ketika rekamannya diputar, aku hampir tidak sanggup menonton.
Pukul sembilan malam, terlihat Bu Mercy menyeret kursi roda Nenek Carmen menuju balkon.
Nenek Carmen berusaha menahan pintu.
“Mercy, Ibu mau masuk. Di luar dingin.”
Bu Mercy menjawab dengan wajah kesal.
“Kalau Ibu terus memanggil-manggil, kami tidak bisa istirahat!”
Brenda terlihat berdiri di dekat pintu.
“Biarkan saja, Tante. Nanti juga diam sendiri.”
Kemudian pintu dikunci.
Sekitar pukul sebelas malam, Ricky masuk membawa makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
Tidak seorang pun memeriksa keadaan Nenek Carmen.
Aku menutup mulut untuk menahan tangis.
Namun, rekaman berikutnya jauh lebih mengejutkan.
Pukul satu lewat empat puluh menit, Bu Mercy masuk ke ruang penyimpanan bersama Ricky.
“Cabut saja kabelnya,” kata Bu Mercy.
“Kalau Nyonya Clara memeriksa CCTV?”
“Bilang saja internet mati. Dia percaya semua yang kita katakan.”
Ricky kemudian mencabut kabel jaringan.
Aku menggenggam tangan begitu erat sampai kuku-kukuku menekan telapak.
Selama ini aku merasa sudah melakukan segalanya untuk melindungi ibu mertuaku.
Ternyata aku hanya membangun rumah yang nyaman bagi orang-orang yang menyakitinya.
Tetapi penyelidikan belum selesai.
Ketika polisi memeriksa kamar Bu Mercy, mereka menemukan beberapa barang milik Nenek Carmen yang selama ini dilaporkan hilang.
Sebuah gelang emas.
Dua cincin tua.
Dan beberapa amplop berisi uang tunai.
Aku mengenali gelang tersebut. Itu hadiah ulang tahun terakhir dari almarhum suamiku untuk ibunya.
Bu Mercy selalu mengatakan bahwa Nenek Carmen lupa menaruhnya.
Di dalam lemari yang sama, polisi juga menemukan buku catatan kecil.
Isinya daftar pengeluaran rumah tangga.
Awalnya terlihat biasa.
Namun, setelah kuperiksa, banyak angka yang tidak masuk akal.
Biaya obat Nenek Carmen tercatat hampir delapan juta rupiah setiap bulan.
Padahal obat rutinnya tidak pernah mencapai jumlah sebesar itu.
Ada pula pengeluaran untuk pemeriksaan dokter yang tidak pernah dilakukan.
Aku segera meminta salinan seluruh bukti pembayaran.
Saat itulah Brenda tiba-tiba meminta berbicara denganku.
Dia menangis di hadapan petugas.
“Kak Clara, saya mau mengaku.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Silakan.”
“Selama beberapa bulan, Tante Mercy mengambil uang belanja dan menjual barang-barang Nenek. Ricky membantu menjualnya.”
“Dan kamu?”
Brenda menunduk.
“Saya ikut menerima uang.”
Aku menghela napas panjang.
“Kenapa kalian memperlakukan Ibu seperti itu?”
Brenda terisak.
“Awalnya cuma uang, Kak. Tapi Nenek mulai curiga. Beliau beberapa kali bilang mau mengadu kepada Kak Clara.”
Aku terdiam.
“Jadi kalian sengaja membuatnya terlihat semakin pikun?”
Brenda mengangguk pelan.
“Tante Mercy bilang kalau Nenek terus dianggap pelupa, Kak Clara tidak akan percaya apa pun yang beliau katakan.”
Kalimat itu menghancurkan hatiku.
Aku teringat setiap kali Nenek Carmen berusaha menyampaikan sesuatu.
“Clara, uang Ibu hilang.”
“Clara, Mercy marah-marah kalau kamu tidak ada.”
“Clara, Ibu takut tidur sendirian.”
Dan setiap kali itu pula aku menenangkan beliau.
“Ibu mungkin lupa. Jangan terlalu dipikirkan.”
Aku tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu percaya kepada laporan yang dikirim Bu Mercy.
Terlalu sibuk melihat layar kamera.
Terlalu yakin bahwa uang bisa menjamin kasih sayang.
Namun, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa yang mengirimkan foto Nenek Carmen kepadaku?
Nomor pengirim tidak dapat dihubungi.
Aku meminta Pak Darto datang ke rumah sakit untuk menanyakan apakah beliau mengetahui sesuatu.
Ketika kutunjukkan foto tersebut, wajahnya berubah.
“Clara, ini diambil dari arah rumah belakang.”
“Rumah siapa, Pak?”
“Rumah Bu Sari. Beliau punya anak perempuan bernama Intan.”
Aku mengenal Intan sekilas. Gadis itu berusia sekitar tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku SMA.
Sore harinya, aku mendatangi rumah mereka.
Begitu melihatku, Intan langsung tampak gugup.
“Kak Clara?”
“Kamu yang mengirim foto itu?”
Gadis itu menunduk.
“Iya, Kak.”
Aku memegang kedua tangannya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan ibu mertuaku.”
Matanya berkaca-kaca.
“Tapi saya terlambat, Kak.”
Aku mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Intan mengambil ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto.
Foto pertama diambil dua minggu sebelumnya.
Nenek Carmen terlihat duduk sendirian di balkon pada malam hari.
Foto kedua memperlihatkan beliau menangis di dekat pintu kaca.
Foto ketiga menunjukkan Brenda sedang menarik lengan Nenek Carmen.
Aku merasa napasku terhenti.
“Kenapa kamu tidak memberi tahu lebih awal?”
Intan mulai menangis.
“Saya pernah datang ke rumah Kakak. Saya bilang kepada Bu Mercy kalau saya melihat Nenek dikunci di balkon. Tapi dia marah dan mengancam akan melaporkan saya karena mengintip rumah orang.”
Gadis itu mengusap air matanya.
“Saya juga pernah menitipkan surat untuk Kakak lewat satpam, tetapi tidak tahu apakah surat itu sampai.”
Aku teringat sebuah amplop tanpa nama yang pernah diberikan petugas keamanan beberapa minggu lalu.
Saat itu aku sedang terburu-buru menghadiri rapat.
Amplop tersebut kusimpan di laci mobil dan terlupakan.
Dadaku terasa sesak.
Intan melanjutkan dengan suara lirih.
“Malam itu saya melihat Nenek dari jendela kamar. Beliau mengetuk kaca lama sekali. Saya takut terjadi sesuatu, jadi saya memotret dan mengirimkannya ke nomor Kakak yang saya dapat dari papan informasi pengurus kompleks.”
“Kenapa kamu tidak menelepon?”
“Saya takut Bu Mercy mendengar. Saya juga menelepon petugas keamanan, tapi mereka tidak bisa masuk karena gerbang terkunci.”
Aku memeluk Intan.
“Kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak akan tahu.”
Beberapa hari kemudian, polisi melanjutkan penyelidikan berdasarkan rekaman, keterangan saksi, dan barang bukti. Bu Mercy dan Ricky menghadapi proses hukum terkait dugaan pencurian dan perlakuan buruk terhadap lansia. Brenda juga dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatannya.
Aku tidak berusaha menyelesaikan semuanya hanya dengan uang atau permintaan maaf.
Apa yang mereka lakukan bukan sekadar kelalaian.
Mereka memanfaatkan kepercayaan dan ketidakberdayaan seseorang yang seharusnya mereka lindungi.
Setelah seminggu dirawat, Nenek Carmen akhirnya diperbolehkan pulang.
Aku menyiapkan kamar yang lebih nyaman di lantai bawah agar beliau tidak perlu menaiki tangga.
Aku juga mengurangi perjalanan bisnis dan menunjuk seorang manajer operasional untuk membantu mengurus usahaku.
Untuk perawatan Nenek Carmen, aku meminta bantuan perawat lansia profesional dengan jadwal yang jelas, sambil memastikan aku tetap terlibat langsung dalam kesehariannya.
Suatu sore, ketika kami duduk bersama di taman belakang, Nenek Carmen tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Clara, Ibu mau minta maaf.”
Aku terkejut.
“Kenapa Ibu minta maaf?”
Beliau menatap bunga melati di dekat kursinya.
“Karena Ibu sering lupa. Karena Ibu membuat kamu repot.”
Air mataku langsung mengalir.
Aku berlutut di hadapannya.
“Ibu tidak pernah merepotkan aku.”
“Tapi Mercy bilang kalau Ibu terus mengeluh, kamu akan memasukkan Ibu ke panti jompo.”
Aku terdiam.
“Dia bilang begitu?”
Nenek Carmen mengangguk.
“Makanya Ibu takut bercerita. Ibu tidak mau kehilangan kamu juga setelah Arthur pergi.”
Aku memeluknya erat.
“Ibu tidak akan kehilangan aku. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak mendengarkan Ibu.”
Beliau mengelus rambutku.
“Arthur pasti bangga punya istri sepertimu.”
Aku menangis semakin keras.
Beberapa minggu kemudian, ketika membereskan barang-barang lama di kamar Nenek Carmen, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya ada foto pernikahanku bersama Arthur dan sebuah surat dengan tulisan tangan yang mulai gemetar.
Surat itu ditujukan kepadaku.
Aku membukanya perlahan.
“Untuk Clara, anak perempuan yang Tuhan titipkan kepada Ibu.”
Tanganku langsung bergetar.
Dalam surat itu, Nenek Carmen menulis bahwa beliau sadar ingatannya semakin melemah. Ada hari-hari ketika beliau lupa tanggal, nama tetangga, bahkan tempat menyimpan kacamatanya.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah beliau lupakan.
Kebaikan menantunya.
Beliau juga menulis tentang rasa takutnya.
Bukan takut menjadi tua.
Bukan takut meninggal.
Melainkan takut suatu hari nanti tidak ada seorang pun yang mempercayai perkataannya.
Di bagian akhir surat, ada kalimat yang membuatku menangis lama sekali.
“Kalau suatu hari Ibu tidak bisa lagi mengingat namamu, jangan berpikir Ibu sudah berhenti menyayangimu. Ingatan Ibu mungkin hilang, tetapi kasih sayang Ibu tidak akan pernah berubah.”
Aku memeluk surat itu ke dada.
Namun, ketika hendak mengembalikannya ke dalam kotak, aku menemukan sebuah amplop lain.
Amplop itu berisi salinan dokumen kepemilikan rumah dan surat dari notaris.
Ternyata beberapa bulan sebelum kejadian tersebut, Nenek Carmen telah membuat wasiat yang menetapkan bahwa rumah peninggalan keluarga Arthur akan menjadi milikku setelah beliau meninggal, sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Aku terkejut karena selama ini tidak pernah memikirkan soal warisan.
Di balik dokumen itu, terdapat catatan pendek.
“Clara, Ibu tahu kamu tidak membutuhkan rumah ini. Kamu sudah mampu membangun kehidupanmu sendiri. Tapi Ibu ingin kamu selalu punya tempat untuk pulang. Dulu Arthur menitipkan kebahagiaannya kepadamu. Sekarang Ibu menitipkan rumah ini, supaya suatu hari nanti kamu tidak merasa sendirian.”
Aku menangis tanpa suara.
Perempuan yang selama ini kukira hanya bergantung kepadaku ternyata diam-diam masih memikirkan masa depanku.
Malam itu, aku duduk di samping tempat tidurnya.
Nenek Carmen sedang menyisir rambut putihnya ketika aku masuk.
“Ibu, aku menemukan suratnya.”
Beliau tersenyum bingung.
“Surat apa, Nak?”
“Surat yang Ibu tulis untukku.”
Beliau berpikir sejenak, lalu tertawa kecil.
“Ibu sudah lupa.”
Aku ikut tersenyum sambil menahan air mata.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku yang akan mengingatnya.”
Beliau mengulurkan tangan.
Aku menggenggamnya.
“Clara, boleh Ibu minta sesuatu?”
“Apa saja, Bu.”
“Besok pagi, kita sarapan bersama, ya? Sudah lama rasanya Ibu tidak makan ditemani anak sendiri.”
Aku mengangguk.
“Tentu, Bu.”
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mematikan notifikasi pekerjaan selama sarapan.
Aku membuatkan bubur ayam kesukaan Nenek Carmen.
Beliau duduk di meja makan sambil tersenyum, sesekali bertanya tentang Arthur, seolah putranya masih hidup.
Aku menjawab dengan lembut, mengingatkan beliau tanpa membuatnya merasa malu.
Di tengah sarapan, Nenek Carmen tiba-tiba berkata, “Clara, kamu tidak berangkat kerja?”
“Hari ini aku bekerja dari rumah, Bu.”
“Bisnismu bagaimana?”
“Ada orang-orang baik yang membantu mengurusnya.”
Beliau mengangguk puas.
“Bagus. Tapi jangan terlalu percaya kepada orang lain, ya.”
Aku terdiam sebentar, lalu tersenyum.
“Iya, Bu. Sekarang aku sudah belajar.”
Sejak kejadian itu, aku memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupikirkan.
Merawat seseorang bukan hanya tentang menyediakan rumah besar, makanan mahal, obat-obatan, atau pengawasan kamera selama dua puluh empat jam.
Semua itu penting, tetapi tidak dapat menggantikan perhatian.
Karena terkadang, orang yang paling membutuhkan pertolongan bukanlah mereka yang berteriak paling keras.
Melainkan mereka yang sudah terlalu lama tidak didengarkan.
Dan malam ketika seluruh CCTV di rumahku mati, aku akhirnya melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah tertangkap oleh kamera mana pun.
Kesepian seorang ibu yang hanya ingin dipercaya.
Kini setiap pagi, sebelum membuka laporan bisnis, aku selalu mengetuk pintu kamar Nenek Carmen.
Kadang beliau mengenaliku.
Kadang beliau memanggilku dengan nama orang lain.
Namun, setiap kali aku menggenggam tangannya, beliau selalu tersenyum dengan cara yang sama.
Suatu pagi, beliau menatapku cukup lama sebelum bertanya, “Nak, kamu siapa?”
Dadaku terasa nyeri, tetapi aku tetap tersenyum.
“Aku Clara, Bu. Menantu Ibu.”
Beliau menggeleng perlahan.
“Bukan.”
Aku terdiam.
Lalu beliau menggenggam tanganku lebih erat.
“Kamu anak Ibu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Arthur meninggal, aku merasa rumah besar itu benar-benar kembali menjadi rumah.
