BARU SAJA AKU MELANGKAH KELUAR DARI PINTU, BAHKAN BELUM SEMPAT MENGUCAPKAN SEPATAH KATA PUN, IBU MERTUAKU SUDAH MENYIRAMKAN SEEMBER AIR KOTOR KE SELURUH TUBUHKU, SEMENTARA SUAMIKU HANYA BERDIRI DIAM MENONTON! MEREKA TIDAK TAHU, DOKUMEN RAHASIA DI DALAM TAS YANG KUPEGANG ERAT AKAN MENGUBAH HIDUP MEREKA MENJADI MIMPI BURUK YANG MENGERIKAN DAN MEMBUAT MEREKA BERLUTUT MEMOHON AMPUN DENGAN PENYESALAN YANG TAK TERHINGGA!
Namaku Maya, usiaku dua puluh empat tahun. Jika melihat penampilanku, siapa pun pasti mengira aku hanyalah seorang wanita biasa. Aku selalu mengenakan pakaian sederhana, tidak pernah memakai riasan tebal, dan tidak pernah menghiasi tubuhku dengan perhiasan berlian yang mencolok. Itulah sebabnya, ketika aku menikah dengan suamiku, Anton, yang berusia dua puluh enam tahun, keluarganya langsung menghakimiku sebagai perempuan miskin yang hanya mengincar harta mereka.

Anton berasal dari keluarga Villareal, sebuah keluarga terpandang di Jakarta yang memiliki sejumlah perusahaan besar. Ibunya, Nyonya Carmen, berusia lima puluh lima tahun, adalah gambaran sempurna seorang wanita kalangan atas yang sombong dan angkuh. Dia sangat suka merendahkan orang lain dan percaya bahwa harga diri seseorang hanya bisa diukur dari seberapa banyak uang yang tersimpan di rekening banknya.
Namun, ada satu rahasia besar yang sama sekali tidak mereka ketahui.
Aku bukanlah gadis desa miskin seperti yang selama ini mereka bayangkan.
Aku adalah satu-satunya pewaris sekaligus CEO rahasia Imperial Holdings, salah satu konglomerasi investasi dan properti terbesar di seluruh Indonesia.
Aku sengaja menyembunyikan identitas dan kekayaanku karena ketika pertama kali bertemu Anton, aku ingin merasakan cinta sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang. Aku ingin dia mencintaiku sebagai Maya, seorang wanita biasa, bukan sebagai Maya Imperial, seorang pewaris kerajaan bisnis bernilai triliunan rupiah.
Pada awal hubungan kami, Anton memperlakukanku dengan sangat baik. Dia begitu perhatian, romantis, dan selalu mengatakan bahwa aku adalah wanita yang ingin dia dampingi seumur hidupnya.
Namun, semuanya perlahan berubah setelah kami menikah dan aku pindah ke rumah mewah keluarga Villareal.
Anton mulai menunjukkan sifat aslinya. Dia menjadi laki-laki yang selalu menuruti setiap perkataan ibunya, bahkan ketika ibunya memperlakukanku dengan sangat kejam.
Dia membiarkan aku diperlakukan seperti pembantu di rumah yang seharusnya juga menjadi tempat tinggalku sendiri.
Setiap hari, Nyonya Carmen memaksaku memasak semua makanan untuk keluarga. Aku juga harus mencuci pakaian-pakaian mahal miliknya dengan tangan karena dia tidak mau pakaian kesayangannya disentuh oleh para asisten rumah tangga.
Setiap kali keluarga Villareal mengadakan pesta atau menerima tamu dari kalangan sosialita, ibu mertuaku selalu mengusirku dari ruang tamu dan menyuruhku bersembunyi di kamar.
Menurutnya, penampilanku yang sederhana hanya akan mempermalukan keluarga mereka.
“Jangan sampai teman-temanku melihatmu! Mereka bisa mengira keluarga Villareal memungut perempuan gelandangan dari pinggir jalan!” begitulah hinaan yang sering dilontarkannya kepadaku.
Setiap kali mendengar perkataan itu, hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Namun, aku tetap diam.
Aku menelan semua penghinaan, kelelahan, dan perlakuan tidak manusiawi itu karena aku masih mencintai Anton.
Aku terus berharap suatu hari nanti suamiku akan sadar. Aku berharap dia akhirnya berani membelaku di hadapan ibunya dan memperlakukanku sebagai seorang istri yang pantas dicintai serta dihormati.
Aku ingin membuktikan bahwa cinta sejati tidak membutuhkan kekayaan, jabatan, ataupun nama keluarga yang terpandang.
Aku ingin Anton melihat nilai diriku tanpa mengetahui bahwa sebenarnya aku memiliki kekayaan yang jauh melampaui seluruh harta keluarganya.
Namun, semua harapan itu akhirnya hancur berkeping-keping.
Cintaku berubah menjadi kekecewaan yang begitu dalam, lalu perlahan menjelma menjadi kemarahan yang tak lagi bisa kubendung.
Semuanya terjadi pada suatu pagi yang dingin, sebuah pagi mengerikan yang tidak akan pernah bisa kulupakan sepanjang hidupku.
