Seorang pemilik warung makan menerima seorang wanita pendiam untuk bekerja sebagai pelayan. Namun, setiap malam, wanita itu diam-diam meminta dan membungkus makanan sisa sebelum pulang. Ketika suatu hari sang pemilik memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam, kenyataan yang dilihatnya membuat air matanya tak terbendung…

“Jangan makan dulu, Pak. Tunggu sebentar, nasinya masih panas.”

Suara lembut Liza terdengar dari dalam rumah kecil itu.

Bu Rosa yang berdiri di balik pintu langsung membeku ketika melihat lima orang duduk mengelilingi sebuah meja kayu tua. Tiga di antaranya adalah lansia, sementara dua lainnya duduk di kursi roda.

Seorang nenek berambut putih tampak kesulitan memegang sendok karena tangannya terus gemetar. Di sebelahnya, seorang kakek kurus hanya bisa menatap makanan dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun duduk dengan tubuh sedikit miring, seolah separuh badannya sudah tidak mampu digerakkan.

Liza membuka kotak-kotak makanan yang dibawanya dari warung.

“Alhamdulillah, malam ini ada ayam kecap, sayur sop, sama ikan goreng. Pak Hasan suka ikan, kan?”

Kakek yang dipanggil Pak Hasan tersenyum lemah.

“Liza, kamu sendiri sudah makan?”

“Sudah, Pak. Tadi di tempat kerja.”

Padahal Bu Rosa tahu persis bahwa sejak siang Liza hanya memakan beberapa suap nasi dengan kuah sayur.

Ketika melihat Liza menyuapi nenek yang tangannya gemetar, dada Bu Rosa terasa sesak.

Namun, yang membuatnya benar-benar terkejut adalah sebuah papan kecil yang tergantung di dinding.

Di sana tertulis dengan tangan sederhana.

Rumah Singgah Kasih Ibu.

Di bawah tulisan itu terdapat lima nama penghuni, jadwal minum obat, dan catatan kebutuhan sehari-hari.

Bu Rosa menutup mulutnya.

Selama ini ia mengira Liza membawa pulang makanan untuk keluarganya. Ternyata wanita itu sedang merawat lima orang lanjut usia yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Tiba-tiba terdengar suara batuk keras.

Seorang nenek yang duduk di ujung meja mendadak membungkuk. Napasnya tersengal.

“Nek Sumi!”

Liza segera meletakkan kotak makanan dan menghampirinya.

“Pelan-pelan, Nek. Jangan dipaksakan.”

Ia membantu nenek itu duduk tegak, memastikan jalan napasnya tidak tersumbat, lalu mengambil air hangat.

Bu Rosa tanpa sadar mendorong pintu.

“Perlu saya bantu?”

Liza menoleh.

Wajahnya seketika pucat.

“Bu Rosa?”

Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.

Liza kemudian menundukkan kepala.

“Maaf, Bu. Saya tahu saya salah. Saya tidak seharusnya membawa makanan sebanyak itu tanpa menjelaskan semuanya.”

Bu Rosa menggeleng.

“Bukan itu yang mau saya tanyakan.”

Matanya menyapu ruangan sempit tersebut.

Ada lima kasur tipis yang disusun berdekatan. Sebuah kipas angin tua berputar lambat di langit-langit. Di sudut ruangan terdapat rak berisi obat-obatan, popok dewasa, dan beberapa botol minyak kayu putih.

“Kamu tinggal bersama mereka semua?”

Liza mengangguk.

“Mereka tidak punya tempat tinggal, Bu.”

“Bagaimana dengan keluarganya?”

Liza terdiam cukup lama.

“Ada yang ditinggalkan anaknya. Ada yang kehilangan rumah. Ada juga yang keluarganya sudah meninggal.”

Bu Rosa memandang kelima lansia itu.

“Lalu siapa yang membiayai semuanya?”

“Saya, Bu.”

Jawaban sederhana itu membuat Bu Rosa kehilangan kata-kata.

“Dengan gaji dari warung?”

Liza tersenyum getir.

“Sebisanya.”

Malam itu, setelah memastikan semua penghuni selesai makan, Liza akhirnya menceritakan kehidupannya.

Tiga tahun sebelumnya, ia bekerja sebagai perawat pendamping lansia di sebuah rumah singgah swasta di Bekasi.

Gajinya tidak besar, tetapi ia menyukai pekerjaannya.

Di sanalah ia bertemu Pak Hasan, Nek Sumi, Pak Darma, Bu Ratih, dan Pak Joko.

Kelima orang itu memiliki kisah yang berbeda.

Pak Hasan pernah menjadi guru sekolah dasar selama tiga puluh tahun. Setelah istrinya meninggal, rumahnya dijual oleh seorang kerabat yang menyalahgunakan surat kuasa miliknya. Ia akhirnya hidup berpindah-pindah.

Nek Sumi ditemukan petugas sosial dalam keadaan sakit di sebuah terminal.

Pak Darma mengalami stroke dan ditinggalkan keluarganya di rumah sakit setelah biaya perawatannya semakin besar.

Bu Ratih kehilangan tempat tinggal setelah rumah kontrakannya terbakar.

Sementara Pak Joko adalah mantan sopir angkutan umum yang tidak lagi mampu bekerja setelah mengalami kecelakaan.

“Mereka dulu tinggal di tempat saya bekerja,” jelas Liza.

“Tapi pemilik rumah singgah bangkrut. Bangunannya dijual, dan semua penghuni harus dipindahkan.”

“Bukankah ada dinas sosial?”

“Ada, Bu. Kami sudah menghubungi beberapa pihak. Sebagian penghuni berhasil mendapatkan tempat. Tapi proses penempatan lima orang ini belum selesai. Kondisi kesehatan mereka juga membutuhkan pendampingan.”

Liza menatap tangannya sendiri.

“Waktu itu saya diminta membantu sampai prosesnya selesai. Tapi kemudian pengelolanya pergi dan tidak bisa dihubungi lagi.”

“Jadi kamu membawa mereka ke sini?”

“Awalnya cuma sementara. Saya pikir paling lama dua minggu.”

Liza tersenyum sedih.

“Ternyata sudah hampir delapan bulan.”

Bu Rosa terdiam.

Delapan bulan.

Selama itu, seorang wanita berusia tiga puluh tahun menanggung kehidupan lima orang lansia seorang diri.

“Kenapa kamu tidak mencari bantuan?”

“Saya sudah mencoba, Bu. Saya mengurus dokumen mereka satu per satu. Ada yang KTP-nya hilang. Ada yang tidak punya keluarga yang bisa dihubungi. Beberapa permohonan bantuan masih diproses.”

“Kenapa tidak bilang kepada saya?”

Liza menunduk.

“Saya takut Ibu mengira saya sengaja mencari belas kasihan.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Saya cuma ingin bekerja, Bu. Saya tidak mau orang menerima saya karena kasihan.”

Bu Rosa merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya.

Ia teringat bagaimana Liza selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.

Bagaimana wanita itu tidak pernah meminta kenaikan gaji.

Bagaimana ia selalu menolak ketika pegawai lain mengajaknya makan di luar.

Ternyata setiap rupiah yang dihematnya memiliki tujuan.

Sebelum pulang, Bu Rosa mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet.

“Liza, pakai ini untuk membeli kebutuhan mereka.”

Namun, Liza langsung menggeleng.

“Jangan, Bu. Ibu sudah baik sekali mengizinkan saya membawa makanan.”

“Ini bukan pinjaman.”

“Saya tahu. Tapi saya masih bisa bekerja.”

Bu Rosa menatapnya lama.

Akhirnya, ia menyimpan kembali uang tersebut.

“Baiklah. Tapi mulai besok, kamu tidak perlu menunggu makanan sisa. Saya akan siapkan makanan khusus untuk mereka.”

Liza terkejut.

“Bu, jangan. Nanti warung Ibu rugi.”

“Biar saya yang menghitung untung ruginya.”

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di warung, Liza menangis di hadapan majikannya.

Namun, keesokan harinya, sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Ketika Bu Rosa datang ke warung, dua pegawainya sedang membicarakan sebuah video yang beredar di media sosial.

Video itu memperlihatkan Liza membawa beberapa kotak makanan dari pintu belakang warung.

Keterangan videonya berbunyi bahwa seorang pegawai diduga mengambil makanan dalam jumlah besar setiap malam.

Video tersebut sudah ditonton puluhan ribu kali.

Komentarnya bermacam-macam.

Ada yang menuduh Liza mencuri.

Ada pula yang mengatakan bahwa pegawai seperti itu seharusnya langsung dipecat.

Bu Rosa merasa darahnya mendidih.

“Siapa yang merekam ini?”

Seorang pegawai bernama Deni mengangkat tangan dengan wajah pucat.

“Saya, Bu. Tapi saya cuma kirim ke grup teman. Saya nggak tahu bakal disebarkan.”

“Kenapa kamu merekam orang tanpa tahu persoalannya?”

Deni menunduk.

“Saya curiga dia menjual makanan warung.”

“Pernah kamu lihat dia menjualnya?”

“Belum, Bu.”

“Lalu kenapa kamu membuat orang lain menganggapnya pencuri?”

Tidak ada jawaban.

Ketika Liza datang, suasana warung mendadak hening.

Ia sudah melihat video tersebut.

Matanya sembap, tetapi ia tetap mengenakan celemek dan mulai membersihkan meja.

Bu Rosa menghampirinya.

“Liza, kamu tidak perlu bekerja hari ini kalau belum siap.”

“Saya baik-baik saja, Bu.”

Namun, tangannya gemetar ketika menyusun piring.

Siang itu, seorang pelanggan mengenalinya.

“Eh, kamu yang viral itu, ya?”

Liza terdiam.

Pelanggan tersebut mengangkat ponselnya.

“Katanya kamu suka bawa makanan diam-diam?”

Bu Rosa segera mendekat.

“Pak, semua makanan itu saya izinkan untuk dibawa.”

“Tapi di video kelihatannya seperti mencuri.”

“Video tidak selalu menunjukkan seluruh kejadian.”

Pria itu akhirnya pergi, tetapi Liza sudah tidak mampu menahan air mata.

Sore harinya, ia menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?” tanya Bu Rosa.

“Surat pengunduran diri saya.”

Bu Rosa menatapnya tidak percaya.

“Kenapa?”

“Saya tidak mau warung Ibu kehilangan pelanggan gara-gara saya.”

“Liza, kamu tidak melakukan kesalahan.”

“Tapi orang-orang tidak tahu, Bu.”

Bu Rosa merobek surat itu menjadi dua.

“Kalau begitu, biar mereka tahu.”

Malam itu, Bu Rosa mengunggah video penjelasan melalui akun media sosial warungnya.

Ia tidak memperlihatkan wajah para lansia tanpa izin. Ia hanya menjelaskan bahwa makanan tersebut diberikan atas persetujuannya dan meminta masyarakat berhenti menyebarkan tuduhan yang tidak benar.

Kemudian ia menulis tentang seorang pegawai yang selama berbulan-bulan merawat lima lansia terlantar dengan penghasilannya sendiri.

Bu Rosa tidak menyebut alamat rumah singgah.

Ia juga meminta siapa pun yang ingin membantu agar menghubungi warung terlebih dahulu, sehingga bantuan dapat disalurkan dengan aman dan sesuai kebutuhan.

Keesokan paginya, telepon warung tidak berhenti berdering.

Ada pelanggan yang menawarkan beras.

Ada apotek yang bersedia menyumbangkan perlengkapan kesehatan.

Seorang dokter umum menawarkan pemeriksaan awal secara sukarela.

Bahkan, beberapa pelanggan tetap datang membawa popok dewasa dan bahan makanan.

Namun, di tengah semua perhatian itu, sebuah telepon membuat Bu Rosa terdiam.

Peneleponnya adalah seorang pria bernama Adrian Wijaya.

“Saya ingin bertemu dengan perempuan bernama Liza,” katanya.

“Untuk apa, Pak?”

“Saya rasa salah satu orang yang dirawatnya adalah ayah saya.”

Bu Rosa langsung waspada.

“Bapak yakin?”

“Saya melihat foto lama yang dibagikan seseorang yang pernah bekerja di rumah singgah itu. Namanya Hasan Wijaya.”

Bu Rosa teringat Pak Hasan.

“Boleh saya tahu kenapa Bapak baru mencarinya sekarang?”

Suara pria itu berubah berat.

“Karena selama lima tahun saya percaya ayah saya sudah meninggal.”

Sore itu, Adrian datang ke warung bersama seorang wanita yang memperkenalkan diri sebagai istrinya.

Ia membawa foto keluarga dan sejumlah dokumen lama.

Menurut Adrian, lima tahun sebelumnya ia bekerja di Singapura. Hubungannya dengan sang ayah memburuk setelah pertengkaran mengenai rumah keluarga.

Adrian mengaku pernah mengirim uang kepada seorang kerabat untuk membiayai kebutuhan ayahnya.

Namun, beberapa bulan kemudian, ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal akibat sakit.

“Kerabat itu mengirimkan foto makam,” katanya.

“Saya pulang, tapi rumah sudah dijual. Saya bahkan tidak sempat bertemu ayah untuk terakhir kali.”

Bu Rosa tidak langsung mempercayainya.

Ia meminta Adrian menunggu sementara Liza memeriksa foto-foto tersebut bersama Pak Hasan.

Ketika Liza menunjukkan foto seorang pria muda berkacamata, tangan Pak Hasan mendadak gemetar.

“Itu… Adrian.”

Matanya membesar.

“Anak saya.”

Liza berjongkok di hadapannya.

“Pak, Adrian ingin bertemu. Tapi kalau Bapak belum siap, kita tidak perlu memaksakan.”

Pak Hasan menutup wajahnya.

“Dia masih hidup baik-baik saja?”

“Iya, Pak.”

Kakek itu menangis.

“Dulu saya pikir dia sudah membuang saya.”

Pertemuan mereka berlangsung malam berikutnya.

Ketika Adrian melangkah masuk, Pak Hasan sedang duduk di kursi dekat jendela.

Keduanya saling menatap.

“Ayah?”

Pak Hasan mengangkat kepalanya perlahan.

“Adrian?”

Pria itu langsung berlutut di depan kursi ayahnya.

“Ayah… ini aku.”

Pak Hasan menyentuh wajah putranya dengan kedua tangan yang gemetar.

“Kamu ke mana saja, Nak?”

Adrian menangis tersedu-sedu.

“Aku mencari Ayah. Aku pikir Ayah sudah meninggal.”

“Bapak menunggu kamu.”

Kalimat itu membuat semua orang di ruangan tersebut terdiam.

Adrian memeluk ayahnya erat-erat.

Setelah emosi mereka mereda, keduanya mulai mencocokkan cerita.

Ternyata seorang kerabat telah menjual rumah Pak Hasan menggunakan dokumen yang diperoleh ketika kondisi kesehatannya memburuk. Uang yang dikirim Adrian tidak pernah sampai kepada ayahnya.

Kerabat tersebut kemudian menyampaikan kabar kematian palsu kepada Adrian.

Sementara kepada Pak Hasan, ia mengatakan bahwa Adrian tidak mau lagi berhubungan dengannya.

Adrian berjanji akan membawa persoalan itu melalui jalur hukum.

Namun, malam itu ia hanya ingin duduk di samping ayahnya.

Beberapa hari kemudian, Adrian datang kembali menemui Liza.

“Saya ingin membawa Ayah tinggal bersama keluarga saya,” katanya.

Liza mengangguk.

“Itu yang paling baik untuk Pak Hasan, selama beliau juga menginginkannya.”

“Saya juga ingin membantu empat orang lainnya.”

Liza tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Tapi mereka membutuhkan lebih dari sekadar uang. Mereka perlu tempat yang aman dan pendampingan yang teratur.”

Adrian memahami maksudnya.

Bersama Bu Rosa, ia membantu menghubungi dinas sosial setempat dan organisasi pelayanan lansia untuk mengurus penempatan serta kebutuhan medis para penghuni.

Sementara proses itu berlangsung, rumah singgah kecil tersebut mendapatkan bantuan makanan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Sebulan kemudian, keadaan mulai berubah.

Pak Hasan tinggal bersama Adrian dan keluarganya.

Bu Ratih memperoleh tempat di fasilitas pelayanan lansia yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pak Darma mendapatkan pendampingan rehabilitasi.

Nek Sumi dan Pak Joko juga mulai menjalani proses penempatan yang lebih layak.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Liza tidak perlu lagi menghitung uang belanja sampai larut malam.

Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Bu Rosa.

Suatu sore, Adrian datang membawa sebuah amplop tua.

“Bu Rosa, saya menemukan ini di antara barang-barang Ayah.”

Di dalamnya terdapat foto seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi.

Bu Rosa langsung mengenali wajah wanita tersebut.

Itu dirinya sendiri, lebih dari tiga puluh tahun lalu.

Tangannya gemetar.

“Dari mana Bapak mendapatkan foto ini?”

“Ayah menyimpannya sejak lama.”

Di belakang foto tertulis sebuah nama.

Rosa Santos.

Bu Rosa merasa lututnya melemas.

Tiga puluh dua tahun sebelumnya, ketika masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Bekasi, ia pernah mengalami masa paling sulit dalam hidupnya.

Suaminya meninggal ketika anak mereka baru berusia enam bulan.

Tanpa uang dan tanpa keluarga yang bisa membantu, Rosa hampir menyerah.

Pada suatu malam, bayi perempuannya mengalami demam tinggi.

Ia membawanya ke klinik, tetapi uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membayar pemeriksaan dan obat.

Seorang pria yang kebetulan berada di sana diam-diam melunasi seluruh biaya.

Pria itu juga membelikannya susu bayi dan memberikan sejumlah uang untuk ongkos pulang.

Ketika Rosa bertanya bagaimana ia bisa membalas kebaikannya, pria tersebut hanya menjawab,

“Kalau suatu hari Ibu sudah mampu, tolonglah orang lain yang sedang kesusahan.”

Bu Rosa tidak pernah mengetahui nama lengkap pria itu.

Ia hanya ingat bahwa orang tersebut adalah seorang guru bernama Pak Hasan.

Air matanya mulai jatuh.

“Jadi… Pak Hasan yang tinggal bersama Liza itu…”

Adrian mengangguk.

“Ayah saya.”

Bu Rosa terduduk.

Selama bertahun-tahun, ia menyimpan kenangan tentang pria yang pernah menyelamatkan anaknya.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut kini menjadi salah satu lansia yang selama ini diberi makan oleh pegawainya.

“Lalu kenapa Ayah Bapak punya foto saya?”

“Ayah pernah bercerita. Setelah membantu Ibu, beliau meminta foto itu karena Ibu ingin beliau mengenang bayi yang telah ditolongnya. Ayah menyimpannya sebagai pengingat bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas.”

Bu Rosa menutup wajahnya.

Ia teringat bayi perempuan yang dahulu digendongnya.

Bayi yang kini sudah dewasa dan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Bandung.

Anak itu bisa tumbuh sehat karena pertolongan seseorang yang bahkan tidak meminta imbalan.

Dan sekarang, tanpa ia sadari, makanan dari warungnya telah sampai kepada orang yang sama.

Malam itu, Bu Rosa pergi menemui Pak Hasan.

Begitu melihatnya, kakek itu tersenyum.

“Ibu pemilik warung, ya?”

Bu Rosa berlutut di hadapannya.

“Pak Hasan, Bapak masih ingat seorang ibu muda yang membawa bayi sakit ke klinik tiga puluh dua tahun lalu?”

Pak Hasan terdiam.

Matanya menyipit, berusaha mengingat.

“Bayi perempuan?”

Bu Rosa mengangguk sambil menangis.

“Itu anak saya, Pak.”

Pak Hasan memandangnya lama.

Kemudian senyumnya perlahan mengembang.

“Jadi bayinya selamat?”

“Selamat, Pak. Sekarang dia sudah menjadi perawat.”

Pak Hasan menghela napas lega.

“Alhamdulillah.”

Bu Rosa menggenggam tangannya.

“Saya mencari Bapak bertahun-tahun untuk mengucapkan terima kasih.”

Pak Hasan menggeleng lembut.

“Tidak perlu, Bu. Saya cuma melakukan apa yang saya bisa.”

“Tapi kalau bukan karena Bapak…”

Suara Bu Rosa terputus.

Pak Hasan menepuk tangannya.

“Sekarang Ibu juga sudah membantu orang lain, kan?”

Bu Rosa menoleh kepada Liza yang berdiri di dekat pintu.

Wanita pendiam itu tersenyum sambil mengusap air matanya.

Beberapa bulan kemudian, warung Bu Rosa mengalami perubahan kecil.

Di dekat kasir terdapat sebuah rak khusus berisi makanan yang disiapkan setiap sore.

Di atasnya tertempel tulisan sederhana.

Makanan Gratis untuk yang Membutuhkan.

Bu Rosa tidak lagi hanya mengandalkan makanan sisa. Ia menyisihkan sebagian keuntungan warung dan menerima bantuan sukarela dari pelanggan yang ingin ikut berbagi.

Liza tetap bekerja di sana.

Namun, kini ia juga membantu mengoordinasikan penyaluran makanan kepada lansia dan warga yang membutuhkan melalui komunitas setempat.

Suatu sore, seorang pria tua berpakaian lusuh berdiri ragu di depan warung.

“Bu… kalau saya tidak punya uang, boleh minta sedikit nasi?”

Liza segera mengambil sebuah kotak makanan.

“Tentu boleh, Pak. Silakan duduk dulu. Mau minum air hangat?”

Pria itu menerima makanan dengan tangan gemetar.

“Terima kasih, Nak. Saya sudah dua hari belum makan nasi.”

Bu Rosa memperhatikan dari belakang meja kasir.

Pemandangan itu mengingatkannya pada hari pertama Liza datang mencari pekerjaan.

Dulu ia mengira telah menolong seorang wanita miskin dengan memberinya pekerjaan.

Kini ia memahami bahwa justru Liza yang telah mengajarkannya arti kebaikan.

Malam itu, setelah warung tutup, Bu Rosa menemukan sebuah amplop kecil di atas meja.

Di dalamnya terdapat foto Pak Hasan bersama Adrian, Liza, dan empat lansia yang dahulu tinggal di rumah singgah.

Pada bagian belakangnya tertulis pesan dengan tulisan tangan yang sedikit gemetar.

“Untuk Rosa dan Liza. Terima kasih karena tidak membiarkan orang tua seperti kami merasa dilupakan. Dulu saya pernah membantu seorang bayi agar tetap hidup. Saya tidak menyangka, puluhan tahun kemudian, ibu dari bayi itulah yang membantu saya bertahan hidup. Rupanya kebaikan memang bisa pulang, meskipun harus menempuh perjalanan yang sangat panjang.”

Bu Rosa membaca tulisan itu berulang kali.

Air matanya menetes di atas foto.

Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta.

Liza sedang menutup pintu warung ketika Bu Rosa memanggilnya.

“Liza.”

“Iya, Bu?”

“Besok kita masak lebih banyak, ya.”

Liza tersenyum.

“Untuk dijual, Bu?”

Bu Rosa menggeleng sambil menatap rak makanan di dekat kasir.

“Untuk orang-orang yang mungkin belum makan hari ini.”

Liza mengangguk pelan.

Dan di tengah suara hujan malam itu, kedua wanita tersebut akhirnya memahami sesuatu yang sederhana.

Tidak semua orang yang membawa pulang banyak makanan sedang mengambil lebih dari yang dibutuhkannya.

Terkadang, ia justru sedang berusaha memastikan tidak ada orang lain yang tidur dalam keadaan lapar.

Sebab kebaikan yang paling tulus sering kali tidak datang dengan suara keras atau janji besar.

Kadang, kebaikan hanya berbentuk lima kotak nasi yang dibungkus diam-diam setiap malam, oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki cukup makanan untuk dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang