Aku menyewa kamar paling murah di Caloocan demi menghemat uang… tetapi pada malam pertama, seseorang mengetuk pintu belakang tepat pukul tiga dini hari. Dan keesokan paginya, apa yang kutemukan di bawah pot bunga membuat bulu kudukku berdiri….

Pintu belakang itu terbuka perlahan, padahal aku yakin sudah menguncinya sebelum keluar rumah.

Aku berdiri mematung di tengah halaman, menggenggam sebuah tas hitam yang baru saja kutemukan di bawah pot bunga kamboja.

Dari balik pintu, muncul wajah seorang perempuan tua.

Bu Rosa.

Pemilik rumah kontrakan yang baru kutempati semalam.

Wajahnya pucat. Matanya terpaku pada tas di tanganku, seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan.

“Marco,” panggilnya dengan suara bergetar. “Dari mana kamu mendapatkan benda itu?”

Aku menelan ludah.

“Dari bawah pot bunga, Bu. Kenapa? Apa ini punya Ibu?”

Bu Rosa tidak langsung menjawab.

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti ketika jaraknya tinggal dua meter dariku.

“Masukkan kembali ke tempat semula.”

“Tapi, Bu…”

“Sekarang juga!”

Bentakannya membuatku tersentak.

Perempuan yang kemarin menyambutku dengan senyum ramah itu mendadak terlihat seperti orang lain.

Aku menunduk memandangi tas tersebut.

Plastik pembungkusnya sudah kusam. Ada bekas tanah yang menempel pada setiap lipatannya. Di salah satu sisinya terdapat noda kecokelatan yang sulit dikenali.

“Kalau memang barang Ibu, kenapa harus disembunyikan?”

Bu Rosa memejamkan mata.

“Karena ada sesuatu yang lebih baik tidak kamu ketahui.”

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan masuk ke rumah.

Aku masih berdiri di halaman ketika terdengar suara pintu kamarnya ditutup.

Entah mengapa, perkataannya justru membuat rasa penasaranku semakin besar.

Aku membawa tas tersebut ke kamar.

Setelah memastikan pintu terkunci, aku meletakkannya di atas meja dan mulai membuka lapisan plastiknya menggunakan gunting kecil.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak besi berwarna abu-abu.

Kotak itu tidak terkunci.

Ketika kubuka, napasku seketika tertahan.

Ada sebuah telepon genggam model lama, beberapa lembar dokumen, foto seorang perempuan muda, dan sebuah gelang perak dengan ukiran nama.

Maya.

Perempuan dalam foto itu terlihat berusia sekitar dua puluh lima tahun. Rambutnya sebahu, wajahnya manis, dan senyumnya begitu hangat.

Namun, yang membuatku merinding bukan wajahnya.

Melainkan latar belakang foto tersebut.

Perempuan itu sedang berdiri di halaman belakang rumah yang kini kutempati.

Di sampingnya terlihat pohon kamboja yang sama.

Aku membalik foto itu.

Ada tulisan tangan yang mulai memudar.

Untuk Maya, semoga rumah ini menjadi awal kehidupan baru kita. 14 Februari 2019.

Di bawahnya tertulis sebuah nama.

Rendra.

Aku mengerutkan kening.

Siapa Maya? Siapa Rendra? Dan mengapa barang-barang mereka dikubur di halaman rumah ini?

Aku mengambil telepon genggam tersebut.

Baterainya sudah habis.

Untungnya, aku masih memiliki pengisi daya lama dengan konektor yang cocok.

Sambil menunggu baterainya terisi, aku memeriksa dokumen di dalam kotak.

Sebagian besar berupa fotokopi surat perjanjian, bukti transfer, dan beberapa lembar catatan tangan.

Salah satu dokumen membuat dadaku berdebar.

Itu adalah surat pengaduan kepada kepolisian yang belum ditandatangani.

Di bagian atas tertulis nama lengkap seorang perempuan.

Maya Anggraini.

Isi surat itu menjelaskan dugaan penipuan penjualan rumah dan pemalsuan tanda tangan dalam transaksi properti.

Alamat rumah yang tercantum sama persis dengan tempat tinggalku sekarang.

Namun, bagian paling bawah membuat tengkukku terasa dingin.

Jika sesuatu terjadi kepada saya, orang yang harus diperiksa pertama kali adalah Rendra Pratama.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarku.

Tok. Tok. Tok.

Aku buru-buru memasukkan seluruh dokumen ke dalam kotak.

“Siapa?”

“Ini Ibu, Nak.”

Suara Bu Rosa terdengar pelan.

Aku membuka pintu sedikit.

Ia berdiri sambil membawa sepiring nasi dan telur goreng.

“Kamu belum makan sejak pagi, kan?”

Aku mengangguk.

“Terima kasih, Bu.”

Perempuan itu menyerahkan piring, tetapi sebelum pergi, ia memandang ke arah meja.

“Kamu sudah membuka tas itu?”

Aku terdiam.

Bu Rosa menarik napas panjang.

“Kalau kamu ingin tetap tinggal di sini, jangan mencari tahu lebih jauh.”

“Kenapa, Bu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Maya?”

Piring di tanganku hampir terlepas ketika melihat wajah Bu Rosa berubah.

“Dari mana kamu tahu nama itu?”

“Ada fotonya di dalam kotak.”

Bibir perempuan tua itu bergetar.

Untuk sesaat, matanya tampak berkaca-kaca.

Namun, ia segera memalingkan wajah.

“Maya sudah meninggal.”

Aku terdiam.

“Kapan?”

“Tujuh tahun lalu.”

“Bagaimana dia meninggal?”

Bu Rosa menatapku lama.

“Kecelakaan.”

Setelah itu, ia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Sekitar pukul sebelas, telepon genggam lama yang kuisi dayanya akhirnya menyala.

Layarnya retak, tetapi masih berfungsi.

Tidak ada kartu SIM di dalamnya.

Aku membuka galeri.

Ada puluhan foto Maya bersama seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut pendek.

Pria itu terlihat ramah.

Namun, semakin jauh aku melihat foto-foto tersebut, semakin jelas perubahan pada wajah Maya.

Dalam beberapa foto terakhir, ia tampak kurus dan murung.

Ada bekas memar di lengannya.

Lalu aku menemukan sebuah rekaman suara.

Tanggal pembuatannya menunjukkan 3 Juni 2019.

Aku menekan tombol putar.

Awalnya hanya terdengar suara napas perempuan.

Kemudian terdengar bisikan.

“Kalau ada yang menemukan rekaman ini, tolong jangan percaya kalau mereka bilang aku pergi meninggalkan rumah.”

Aku menegakkan tubuh.

Suara Maya terdengar gemetar.

“Rendra sudah menjual rumah ini menggunakan tanda tanganku. Aku baru tahu setelah ada orang datang membawa surat. Dia bilang semuanya cuma urusan bisnis, tetapi aku menemukan bukti bahwa dia melakukan hal yang sama kepada beberapa orang.”

Terdengar suara pintu dibanting.

Maya terdiam beberapa detik.

Kemudian ia kembali berbisik.

“Aku sudah menyimpan salinan dokumen. Besok aku akan melapor ke polisi.”

Rekaman berhenti mendadak.

Aku memandangi layar dengan tangan dingin.

Jika Maya benar-benar meninggal karena kecelakaan, mengapa barang-barangnya disembunyikan?

Dan mengapa Bu Rosa begitu takut ketika melihat kotak itu?

Pukul tiga dini hari, suara ketukan kembali terdengar.

Tok. Tok.

Kali ini aku sudah bersiap.

Aku mematikan lampu kamar dan berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap halaman belakang.

Dari celah tirai, aku melihat sesosok pria berdiri di dekat pintu belakang.

Tubuhnya tinggi.

Ia mengenakan jaket hitam dan topi.

Pria itu mengetuk pintu tiga kali, lalu menunggu.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Bu Rosa muncul.

Aku tidak bisa mendengar seluruh percakapan mereka, tetapi suara pria itu terdengar cukup jelas.

“Barangnya sudah ketemu?”

Bu Rosa menggeleng.

“Belum.”

“Jangan bohong, Rosa. Saya lihat potnya sudah pecah.”

Jantungku serasa berhenti.

Pria itu tahu tentang pot bunga.

“Ada anak kos baru,” jawab Bu Rosa. “Dia tidak tahu apa-apa.”

Pria tersebut mendekat.

“Kalau sampai dia menemukan kotak itu, Ibu tahu akibatnya.”

Aku mundur dari jendela.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah menjauh.

Aku baru berani bernapas setelah halaman kembali sunyi.

Pagi harinya, aku memutuskan untuk mencari informasi.

Melalui internet, aku menemukan sebuah berita lama tentang perempuan bernama Maya Anggraini yang meninggal dalam kecelakaan mobil di kawasan Bulacan, Filipina, pada Juni 2019.

Namun, berita itu hanya mengutip pernyataan suaminya.

Tidak ada keterangan saksi ataupun penjelasan rinci tentang kecelakaan tersebut.

Nama suaminya adalah Rendra Pratama.

Foto yang menyertai berita itu membuat darahku berdesir.

Wajahnya sama dengan pria dalam galeri telepon Maya.

Aku kemudian mencari nama Rendra.

Ternyata ia pernah terlibat dalam beberapa sengketa properti, tetapi sebagian kasusnya berakhir tanpa proses pengadilan.

Aku menyimpan seluruh informasi itu.

Kemudian aku menelepon sahabatku, Dimas, yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor hukum di Quezon City.

Setelah mendengar ceritaku, Dimas langsung berkata, “Jangan hadapi orang itu sendirian. Foto semua dokumen, kirimkan kepadaku, lalu bawa barang aslinya ke polisi.”

“Apa menurutmu Maya dibunuh?”

“Aku tidak bisa menyimpulkan itu. Tapi kalau rekamannya asli, setidaknya ada dugaan penipuan yang perlu diselidiki.”

Aku mengikuti sarannya.

Seluruh dokumen kupotret dan kukirimkan melalui surel.

Namun, ketika hendak meninggalkan rumah, Bu Rosa sudah menungguku di ruang tengah.

Ia duduk dengan wajah lelah.

“Kamu mau ke kantor polisi?”

Aku berhenti.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Karena tujuh tahun lalu, Maya juga mengatakan hal yang sama.”

Aku memandangnya tanpa berkedip.

Bu Rosa menundukkan kepala.

“Aku berbohong kepadamu, Marco.”

Perempuan tua itu mulai menangis.

“Maya bukan orang asing. Dia anak perempuanku.”

Aku merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.

Bu Rosa menjelaskan bahwa Maya menikah dengan Rendra ketika masih bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan properti.

Pada awalnya, kehidupan mereka bahagia.

Namun, setelah Rendra mengalami masalah keuangan, ia mulai menggunakan nama Maya untuk mengajukan pinjaman dan menjual aset tanpa persetujuannya.

Maya berusaha mengumpulkan bukti.

Ketika mengetahui suaminya terlibat dalam pemalsuan dokumen, ia berniat melapor.

“Tapi malam sebelum dia pergi ke kantor polisi, Rendra datang bersama dua orang,” kata Bu Rosa.

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mereka bertengkar hebat. Aku mendengar Maya berteriak. Waktu aku keluar kamar, dia sudah tidak ada.”

“Lalu?”

“Rendra bilang Maya pergi menenangkan diri. Tiga hari kemudian, dia membawa kabar bahwa Maya meninggal dalam kecelakaan di Filipina.”

“Apakah Ibu melihat jenazahnya?”

Bu Rosa menggeleng.

“Tidak pernah.”

Aku terdiam.

“Kenapa Ibu tidak melapor?”

“Aku melapor. Berkali-kali. Tapi Rendra membawa dokumen kematian dan mengatakan Maya pergi ke Filipina atas kemauannya sendiri. Aku tidak punya bukti untuk membantahnya.”

Ia mengusap air mata.

“Beberapa minggu setelah Maya menghilang, aku menemukan kotak itu di kamarnya. Aku takut Rendra mengambilnya, jadi kusembunyikan di bawah pot kamboja.”

“Lalu kenapa Ibu menyuruhku mengembalikannya?”

“Karena Rendra terus mengawasi rumah ini. Aku tidak mau ada orang lain yang celaka.”

Aku memandangi perempuan tua itu.

“Kenapa Ibu menyewakan kamar ini hanya 500 peso?”

Bu Rosa tersenyum getir.

“Supaya ada orang yang tinggal di sini. Aku takut sendirian. Tapi setiap penyewa pergi setelah mendengar ketukan malam hari.”

Aku teringat pria berjaket hitam.

“Rendra masih datang?”

Bu Rosa mengangguk.

“Dia ingin aku menyerahkan sertifikat asli rumah ini. Selama rumah masih atas namaku, dia tidak bisa menjualnya.”

Aku menarik napas panjang.

“Bu, kita harus pergi sekarang.”

Namun, sebelum Bu Rosa sempat berdiri, terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.

Wajahnya langsung pucat.

“Dia datang.”

Pintu depan diketuk keras.

“Rosa! Buka!”

Aku segera menghubungi Dimas dan mengirimkan lokasi.

Lalu aku menyalakan perekam suara di teleponku.

Bu Rosa membuka pintu.

Rendra masuk bersama seorang pria bertubuh besar.

Wajahnya persis seperti dalam foto.

Tatapannya langsung tertuju kepadaku.

“Jadi ini anak kos baru itu?”

Aku berusaha terlihat tenang.

“Ada perlu apa, Pak?”

Rendra tersenyum tipis.

“Saya cuma ingin mengambil barang milik keluarga.”

“Barang apa?”

“Kotak besi yang kamu temukan.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana Bapak tahu?”

Senyumnya menghilang.

“Jangan banyak bertanya.”

Bu Rosa berdiri di depanku.

“Cukup, Rendra. Kamu sudah mengambil terlalu banyak dari keluarga kami.”

Rendra tertawa pendek.

“Ibu masih menganggap Maya korban? Dia sendiri yang membuat semuanya kacau.”

“Lalu kenapa kamu berbohong soal kematiannya?” tanyaku.

Rendra menoleh tajam.

“Anak muda, kamu tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Ia melangkah mendekat.

“Maya seharusnya diam. Aku sudah memberinya kesempatan.”

Bu Rosa mulai menangis.

“Apa yang kamu lakukan pada anakku?”

Untuk pertama kalinya, wajah Rendra terlihat kehilangan kendali.

“Aku tidak membunuhnya!”

Ruangan mendadak sunyi.

Rendra menyadari apa yang baru saja dikatakannya.

Aku menatapnya.

“Tidak ada yang menuduh Bapak membunuhnya.”

Ia mengepalkan tangan.

Saat itulah telepon genggamku bergetar.

Pesan dari Dimas masuk.

Polisi sedang menuju lokasi. Jangan memancing keributan.

Aku mencoba mengulur waktu.

“Kalau Maya benar-benar meninggal, kenapa Bapak masih mencari kotak itu?”

Rendra menghela napas kasar.

“Karena dokumen di dalamnya bisa menghancurkan semua yang sudah kubangun.”

Pria bertubuh besar di belakangnya tiba-tiba bergerak ke arahku.

Aku mundur.

Namun, sebelum ia sempat meraih tanganku, terdengar suara sirene dari luar.

Rendra menoleh panik.

Dua petugas kepolisian masuk melalui pintu yang masih terbuka.

Dimas berdiri di belakang mereka.

Aku segera menyerahkan telepon dan menunjukkan rekaman percakapan.

Rendra berusaha menyangkal semuanya.

Namun, ketika polisi memeriksa kotak besi dan dokumen yang kubawa, ekspresi wajahnya berubah.

Ia dan pria yang bersamanya dibawa untuk diperiksa lebih lanjut.

Aku mengira semuanya akan selesai di sana.

Ternyata aku salah.

Tiga hari kemudian, Dimas meneleponku.

“Marco, kamu harus datang ke kantor.”

“Ada apa?”

“Ada sesuatu yang aneh dengan laporan kematian Maya.”

Aku segera berangkat.

Di kantor, Dimas menunjukkan salinan dokumen yang diperoleh penyidik.

Dokumen kematian Maya ternyata menggunakan identitas yang tidak sesuai dengan catatan imigrasi.

Tidak ditemukan bukti bahwa Maya pernah meninggalkan Filipina sebagai jenazah yang dipulangkan ke Indonesia.

Bahkan, catatan perjalanan menunjukkan bahwa Maya masuk ke Filipina pada Juni 2019, tetapi tidak ada catatan resmi tentang kepulangannya.

“Jadi Maya mungkin masih hidup?” tanyaku.

Dimas mengangguk perlahan.

“Itu kemungkinan yang sedang diselidiki.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan mengungkap sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Rendra ternyata menggunakan jaringan pemalsuan identitas untuk menyembunyikan sejumlah transaksi ilegal.

Maya sempat dibawa ke Filipina dengan ancaman terhadap keselamatan ibunya.

Namun, sebelum rencana Rendra berjalan lebih jauh, Maya berhasil melarikan diri dengan bantuan seorang pekerja sosial.

Karena takut ditemukan, ia hidup menggunakan identitas perlindungan sementara dan kemudian bekerja di sebuah pusat bantuan perempuan.

Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ibunya sudah meninggal.

Rendra sengaja menunjukkan surat kematian palsu Bu Rosa agar Maya tidak pernah berusaha pulang.

Sementara itu, Bu Rosa diberi tahu bahwa Maya telah meninggal.

Keduanya dipisahkan oleh kebohongan yang sama.

Ketika penyidik akhirnya berhasil menghubungi Maya melalui lembaga bantuan hukum di Filipina, perempuan itu menangis begitu mendengar nama ibunya.

Sebulan kemudian, aku berdiri di Bandara Internasional Ninoy Aquino bersama Bu Rosa.

Tangannya terus gemetar.

“Apa benar dia masih hidup, Marco?”

Aku mengangguk.

“Iya, Bu.”

Ketika seorang perempuan berambut pendek keluar dari pintu kedatangan, Bu Rosa langsung membeku.

Perempuan itu terlihat lebih tua daripada dalam foto.

Ada garis kelelahan di wajahnya.

Namun, senyumnya masih sama.

“Ibu?”

Suara itu membuat Bu Rosa menutup mulutnya.

“Maya?”

Perempuan tersebut berlari.

Mereka berpelukan begitu erat hingga aku harus memalingkan wajah untuk menyembunyikan air mata.

Tujuh tahun.

Selama tujuh tahun, seorang ibu meratapi anak yang sebenarnya masih hidup.

Dan seorang anak merindukan ibu yang dikiranya telah meninggal.

Beberapa bulan kemudian, Rendra menghadapi proses hukum atas dugaan pemalsuan dokumen, penipuan properti, ancaman, dan keterlibatannya dalam penyekapan Maya.

Aku akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di Quezon City.

Suatu sore, ketika aku pulang ke kontrakan, kulihat Bu Rosa dan Maya sedang menanam pohon kamboja baru di halaman belakang.

Pot lama yang pecah sudah dibuang.

Sebagai gantinya, mereka menanam pohon itu langsung di tanah.

“Marco,” panggil Bu Rosa sambil tersenyum. “Mulai bulan depan, kamu tidak perlu bayar sewa lagi.”

Aku tertawa kecil.

“Jangan begitu, Bu. Nanti Ibu rugi.”

Bu Rosa menggeleng.

“Kamu sudah mengembalikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.”

Aku memandangi pohon kamboja itu.

Dulu, aku menganggap rumah tersebut sebagai tempat paling menyeramkan yang pernah kutinggali.

Ketukan pukul tiga dini hari, pot yang bergeser, dan kotak misterius di bawah tanah membuatku hampir melarikan diri.

Namun, sekarang aku mengerti.

Yang paling menakutkan di rumah itu bukanlah hantu.

Melainkan kebohongan yang membuat dua orang saling kehilangan selama bertahun-tahun.

Ketika hendak masuk kamar, Maya tiba-tiba memanggilku.

“Marco, tunggu sebentar.”

Ia menyerahkan sebuah amplop kecil.

Di dalamnya terdapat foto lama dirinya bersama Bu Rosa.

Pada bagian belakang foto, tertulis sebuah kalimat.

Terima kasih karena tidak membiarkan kisah kami tetap terkubur.

Aku tersenyum.

Namun, sebelum sempat mengucapkan terima kasih, Maya mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Sebenarnya, malam sebelum aku dibawa pergi, aku sudah menyiapkan kotak itu untuk Ibu. Aku tahu Rendra akan mencarinya.”

“Lalu kenapa disembunyikan di bawah pot?”

Maya menatap pohon kamboja yang baru ditanam.

“Karena waktu kecil, setiap kali aku menyembunyikan sesuatu yang penting, Ibu selalu tahu harus mencarinya di bawah tanaman kesayangannya.”

Aku menoleh ke arah Bu Rosa.

Perempuan tua itu sedang menyiram tanaman sambil tersenyum.

Barulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak kupikirkan.

Bu Rosa sebenarnya tahu persis di mana kotak itu disembunyikan.

Ia hanya terlalu takut untuk membukanya.

Dan mungkin, selama tujuh tahun, ia menunggu seseorang yang cukup berani untuk melakukan apa yang tidak sanggup dilakukannya sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di sana, tidak terdengar ketukan pukul tiga dini hari.

Rumah tua tersebut akhirnya benar-benar tenang.

Bukan karena misterinya telah hilang.

Melainkan karena kebenaran yang selama ini terkubur akhirnya menemukan jalan pulang.

Dan aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

Terkadang, keputusan yang kita ambil karena keterpaksaan justru membawa kita ke tempat di mana kehadiran kita paling dibutuhkan.

Aku datang ke rumah itu hanya untuk mencari kamar murah.

Namun, tanpa pernah kuduga, aku justru membantu seorang ibu menemukan kembali anaknya.

Dan dari sebuah pot bunga yang pecah, dua kehidupan yang telah lama terpisah akhirnya bisa tumbuh bersama lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang