“Ulurkan tanganmu, Nisa! Jangan membuat Kakak mengulang perintah!”
Suara Rina menggema di kamar mandi yang sempit. Aku berdiri gemetar di hadapannya, sementara air dari baskom yang ditendangnya masih menggenang di lantai.
Di tangan kakakku terdapat sebuah jarum jahit.
Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menurut.
“Maaf, Kak. Aku janji tidak akan membuat Kakak marah lagi.”
“Kalau begitu, berikan tanganmu!”
Dengan air mata mengalir di pipi, aku perlahan mengulurkan tangan kanan.
Rina mencengkeram pergelangan tanganku. Ujung jarum itu semakin mendekat ke kulitku.
Namun, sebelum sempat menyentuh tanganku, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
“Apa yang sedang kalian lakukan?”
Suara Kak Raka membuat kami sama-sama tersentak.
Rina buru-buru menyembunyikan jarum di balik punggungnya. Wajahnya yang tadi penuh kemarahan mendadak berubah menjadi pucat.
“Kak, aku cuma sedang bercanda dengan Nisa.”

Raka tidak menjawab.
Matanya tertuju pada tanganku yang gemetar, kemudian pada kotak jarum yang tergeletak di pangkuan Rina.
“Nisa, kemari.”
Aku tidak bergerak.
Selama delapan tahun hidupku, tidak pernah ada orang yang memanggilku dengan nada seperti itu ketika Kak Rina sedang marah.
Bukan membentak.
Bukan memerintah.
Melainkan seolah benar-benar ingin melindungiku.
“Nisa,” ulangnya lembut. “Kakak tidak akan memarahimu. Kemarilah.”
Aku melangkah mendekatinya.
Raka berjongkok dan memegang kedua tanganku. Ketika melihat bekas luka kecil yang tersebar di jari dan lenganku, wajahnya berubah.
“Siapa yang melakukan ini?”
Aku langsung menunduk.
“Tidak ada, Kak. Aku cuma ceroboh.”
Raka menatapku lama.
Kemudian dia menoleh kepada Rina.
“Sejak kapan kamu menggunakan jarum untuk menghukum adikmu?”
Rina langsung menangis.
“Kakak salah paham! Aku tidak pernah menyakitinya! Nisa memang sering menjatuhkan barang dan membuatku kesal. Aku hanya ingin mengajarinya supaya lebih hati-hati.”
Raka mengambil kotak jarum itu.
Di dalamnya terdapat beberapa jarum, benang, dan selembar kain kecil yang penuh bekas tusukan.
Dia menutup kotak tersebut perlahan.
“Kita bicarakan ini besok.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak tidur di lantai kamar Kak Rina.
Kak Raka membawaku ke kamar tamu.
Dia mengambil kotak obat, membersihkan luka di tanganku, lalu membalut beberapa jariku dengan hati-hati.
“Perih?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Padahal rasanya sangat perih.
Raka menghela napas.
“Nisa, kalau sakit, kamu boleh bilang sakit.”
Aku menatapnya kebingungan.
“Memangnya boleh, Kak?”
Tangannya berhenti bergerak.
“Apa maksudmu?”
“Kalau aku menangis, Kak Rina bilang aku cengeng. Ibu juga bilang anak baik harus bisa menahan sakit.”
Raka menundukkan kepala.
Beberapa saat kemudian, dia menarikku ke dalam pelukannya.
Aku membeku.
Pelukan itu berbeda dari pelukan Ibu.
Ibu biasanya memelukku setelah tubuhku terluka. Namun, Kak Raka memelukku ketika aku belum melakukan apa pun untuk mendapatkannya.
Entah mengapa, hal itu justru membuatku menangis semakin keras.
Keesokan paginya, aku terbangun karena mendengar pertengkaran dari ruang tengah.
“Raka! Kamu baru pulang sehari sudah berani mengatur keluarga ini?”
Itu suara Ayah.
“Ayah menyebut ini keluarga? Anak delapan tahun tidak sekolah, bekerja sepanjang hari, dan tubuhnya penuh luka!”
“Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya merawat Rina!” balas Ibu.
“Aku tahu, Bu. Aku pernah melakukannya selama bertahun-tahun. Tapi Nisa bukan pengganti tenaga perawat!”
Aku berdiri di balik pintu kamar.
Kemudian terdengar suara Rina.
“Kakak berubah sejak pergi dari rumah. Dulu Kakak paling menyayangiku.”
“Aku masih menyayangimu, Rin. Tapi menyayangimu bukan berarti membiarkan kamu menyakiti orang lain.”
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu Ibu mengatakan sesuatu yang membuat dadaku terasa dingin.
“Kalau Nisa tidak merawat Rina, untuk apa kami membesarkannya selama ini?”
Aku tidak memahami seluruh makna kalimat itu.
Namun, aku mengerti bahwa keberadaanku di rumah memiliki sebuah harga.
Dan harga itu adalah hidupku sendiri.
Siang harinya, Kak Raka mengajakku keluar.
Dia membelikanku sandal baru, dua pasang pakaian, sebuah tas sekolah berwarna biru, dan kotak pensil bergambar kelinci.
Ketika kami melewati toko buku, aku berhenti di depan etalase.
Raka mengikuti arah pandanganku.
“Kamu mau buku itu?”
Aku mengangguk malu-malu.
“Boleh aku melihatnya saja, Kak?”
Dia masuk ke toko dan membeli buku belajar membaca, buku tulis, serta sekotak pensil warna.
Di sebuah warung bakso, Raka memintaku membuka buku tersebut.
“Coba baca ini.”
Aku menatap huruf-huruf yang tersusun di halaman pertama.
“A… ku…”
Raka tersenyum.
“Bagus. Lanjutkan.”
“Aku… suka… membaca.”
Aku berhasil menyelesaikan satu kalimat.
Raka menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Siapa yang mengajarimu?”
“Tidak ada. Aku belajar dari buku bekas Kak Rina. Kadang aku bertanya kepada Sari, anak tetangga.”
Raka terdiam cukup lama.
Kemudian dia mengusap kepalaku.
“Nisa, mulai sekarang kamu akan sekolah.”
Aku memeluk tas biru itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya, aku merasa masa depanku mungkin tidak hanya berisi baskom, obat-obatan, dan kursi roda.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Ketika kami pulang, Ibu sudah menunggu di ruang tamu.
Dia melihat belanjaan kami dengan wajah masam.
“Untuk apa membuang uang sebanyak itu?”
“Untuk kebutuhan sekolah Nisa,” jawab Raka.
Ibu mendengus.
“Rina membutuhkan kursi roda baru. Kamu malah menghamburkan uang untuk anak yang belum tentu bisa belajar.”
Raka meletakkan tas belanja di meja.
“Aku sudah menghubungi sekolah dasar terdekat. Besok Nisa akan menjalani pemeriksaan kemampuan dasar agar bisa ditempatkan di kelas yang sesuai.”
“Kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri!”
“Aku juga sudah menghubungi layanan rehabilitasi di rumah sakit. Rina perlu diperiksa kembali.”
Wajah Rina mendadak menegang.
“Tidak perlu, Kak. Aku sudah bertahun-tahun menjalani terapi. Dokter bilang kondisiku tidak akan berubah.”
“Aku hanya ingin memastikan kebutuhan perawatanmu terpenuhi.”
“Tidak!”
Teriakan Rina membuat kami terkejut.
Dia segera menunduk.
“Maksudku… aku takut kecewa lagi.”
Aku memandang kakakku dengan perasaan aneh.
Selama ini, Rina selalu mengeluh karena tidak bisa berjalan.
Mengapa dia justru begitu takut ketika Kak Raka menawarkan pemeriksaan?
Malam itu, aku menemukan jawabannya secara tidak sengaja.
Aku terbangun karena haus.
Ketika melewati kamar Rina, aku mendengar suara benda jatuh.
Pintunya sedikit terbuka.
Aku mengintip.
Rina sedang berdiri di samping tempat tidur.
Kedua tangannya berpegangan pada lemari, sementara kakinya menopang tubuhnya sendiri.
Aku hampir berteriak kegirangan.
Kak Rina bisa berdiri!
Namun, sebelum aku sempat memanggilnya, Rina menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Wajahnya langsung berubah pucat.
“Nisa…”
Aku tersenyum lebar.
“Kak! Kakak bisa berdiri! Aku mau memberi tahu Ayah dan Ibu!”
“JANGAN!”
Rina bergerak terlalu cepat, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terduduk di lantai.
Aku berlari menghampirinya.
Namun, dia justru mencengkeram lenganku.
“Dengarkan Kakak baik-baik. Kalau kamu memberi tahu siapa pun, Kakak tidak akan pernah memaafkanmu.”
“Tapi Kak…”
“Kamu ingin Kakak mati karena sedih?”
Aku langsung menggeleng ketakutan.
Rina menangis.
“Kakak hanya bisa berdiri sebentar. Kakak belum bisa berjalan normal. Kalau orang-orang tahu, mereka akan memaksa Kakak melakukan semuanya sendiri. Mereka akan meninggalkan Kakak.”
Aku memeluknya.
“Tidak, Kak. Aku tidak akan meninggalkan Kakak.”
Rina mengusap rambutku.
“Anak baik. Jangan bilang siapa-siapa.”
Aku mengangguk.
Namun, dari balik pintu, terdengar suara seseorang.
“Sudah terlambat, Rina.”
Kak Raka berdiri di lorong.
Wajahnya tampak sangat pucat.
Rina langsung menangis histeris.
“Kak, aku bisa menjelaskan!”
Raka masuk dan membantunya duduk di tempat tidur.
“Aku tidak marah karena kamu bisa berdiri. Aku marah karena kamu mengancam Nisa agar menyembunyikannya.”
Rina menutup wajah.
“Aku takut, Kak.”
“Takut apa?”
“Takut kalian tidak membutuhkanku lagi.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Kak Rina menangis tanpa memarahiku.
Keesokan harinya, Raka membawa kami berdua ke rumah sakit di Yogyakarta.
Dokter rehabilitasi memeriksa kondisi Rina dan membaca seluruh riwayat pengobatannya.
Ternyata, Rina mengalami cedera saraf akibat kecelakaan ketika masih kecil. Kondisinya memang serius, tetapi beberapa tahun terakhir kemampuan geraknya telah menunjukkan perkembangan.
Dia mampu berdiri dengan bantuan dan berpotensi meningkatkan kemandiriannya melalui terapi lanjutan.
Dokter juga menjelaskan bahwa perkembangan itu tidak berarti Rina sudah sembuh atau mampu berjalan tanpa bantuan.
Raka mendengarkan dengan saksama.
Namun, ketika dokter bertanya kapan terakhir kali Rina mengikuti terapi, Ibu menjawab dengan gugup.
“Sudah lama, Dok. Kami tidak punya biaya.”
Raka mengerutkan kening.
“Bu, setiap bulan aku mengirim uang khusus untuk terapi Rina.”
Aku menoleh kepada Ibu.
Wajahnya seketika berubah.
“Uang itu dipakai untuk kebutuhan rumah.”
“Berapa yang Ibu pakai?”
Ibu tidak menjawab.
Raka mengeluarkan ponselnya.
“Selama enam tahun aku mengirim hampir dua ratus juta rupiah. Aku juga membayar biaya pemeriksaan melalui rekening Ayah. Kenapa terapi Rina justru dihentikan?”
Ayah membentak.
“Kamu sedang menuduh orang tuamu mencuri?”
“Aku sedang bertanya ke mana uang itu pergi!”
Pertengkaran mereka terhenti ketika dokter meminta kami keluar dari ruang pemeriksaan.
Namun, masalah sebenarnya baru terungkap tiga hari kemudian.
Raka meminta salinan catatan transaksi dan kuitansi pengobatan yang disimpan Ayah.
Dari dokumen itu, dia menemukan sejumlah pembayaran yang tidak pernah sampai ke tempat terapi.
Sebagian uang ternyata digunakan untuk membayar cicilan mobil Ayah dan utang usaha keluarga.
Yang lebih menyakitkan, Ayah dan Ibu selama ini memberi tahu Raka bahwa aku sudah bersekolah.
Mereka bahkan pernah mengirim foto seorang anak perempuan berseragam sekolah.
Anak itu bukan aku.
Melainkan Sari, tetangga kami.
Ketika Raka menunjukkan foto tersebut, Ibu akhirnya menangis.
“Kami hanya ingin kamu tenang bekerja di Jakarta.”
“Jadi kalian berbohong selama bertahun-tahun?”
“Kami tidak punya pilihan!”
Raka menggeleng.
“Kalian punya pilihan, Bu. Kalian hanya memilih yang paling mudah bagi kalian.”
Ayah bangkit dari kursinya.
“Kalau kamu merasa paling benar, bawa saja Nisa pergi!”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku memandang Ayah dengan ketakutan.
Selama ini, aku percaya bahwa jika aku cukup rajin, cukup patuh, dan cukup berguna, Ayah suatu hari akan menyayangiku.
Namun, ternyata dia bisa menyuruhku pergi semudah membuang barang yang tidak lagi dibutuhkan.
Raka berjongkok di hadapanku.
“Nisa, kamu mau tinggal bersama Kakak?”
Aku menatap Rina.
Dia duduk di kursi rodanya dengan wajah basah oleh air mata.
“Kalau aku pergi, siapa yang akan merawat Kak Rina?”
Raka menggenggam tanganku.
“Itu tanggung jawab orang dewasa, bukan tanggung jawabmu.”
“Tapi Kak Rina akan sendirian.”
“Kakak akan membantu mencarikan perawatan yang tepat. Rina juga akan melanjutkan terapi. Kamu tetap boleh menyayanginya tanpa harus mengorbankan hidupmu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Seluruh hidupku dibangun di atas satu keyakinan bahwa aku hanya berharga ketika seseorang membutuhkanku.
Jika aku berhenti merawat Kak Rina, apakah masih ada orang yang mau menyayangiku?
Seolah memahami pikiranku, Raka berkata pelan.
“Nisa, Kakak ingin kamu ikut bukan karena Kakak membutuhkan bantuanmu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kamu adikku.”
Aku menangis.
Bukan karena takut.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, seseorang memberiku alasan untuk dicintai tanpa meminta imbalan apa pun.
Beberapa hari berikutnya, Raka berkonsultasi dengan pekerja sosial dan pihak berwenang mengenai pengasuhanku. Setelah keselamatanku dipastikan dan pengaturan pengasuhan sementara disepakati melalui proses yang sesuai, aku diizinkan tinggal bersamanya.
Rina tetap bersama orang tua kami, tetapi Raka membantu mengatur pemeriksaan dan terapi lanjutan. Dia memastikan biaya perawatan dibayarkan langsung kepada penyedia layanan.
Sebelum aku pergi, Rina memanggilku ke kamarnya.
Aku berdiri di ambang pintu sambil memeluk tas biruku.
“Nisa,” katanya lirih. “Kamu membenci Kakak?”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kenapa kamu mau pergi?”
Aku menatap kedua tanganku.
Bekas luka kecil masih terlihat di beberapa jari.
“Aku ingin sekolah, Kak.”
Rina menangis.
“Kakak minta maaf.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Selama bertahun-tahun, aku selalu diminta memaafkan orang lain sebelum mereka benar-benar berhenti menyakitiku.
Kali ini, aku hanya berkata, “Aku harap Kakak cepat membaik.”
Lalu aku berjalan keluar.
Enam bulan kemudian, hidupku berubah.
Aku tinggal bersama Kak Raka di sebuah rumah kontrakan sederhana di Yogyakarta, tidak jauh dari tempat kerjanya yang baru.
Setiap pagi, aku mengenakan seragam sekolah.
Aku belajar membaca dengan lancar, berhitung, menggambar, dan bermain bersama teman-teman sekelasku.
Awalnya, aku selalu ketakutan ketika melakukan kesalahan.
Pernah suatu hari aku tidak sengaja memecahkan gelas di dapur.
Aku langsung berlutut dan menangis.
“Maaf, Kak! Aku akan membersihkannya! Jangan marah!”
Raka bergegas menghampiriku.
Dia tidak memarahiku.
Dia hanya memeriksa apakah kakiku terluka.
Kemudian dia berkata, “Gelas bisa dibeli lagi, Nisa. Tapi kamu tidak bisa diganti.”
Kalimat itu terus kuingat.
Perlahan, aku belajar bahwa kesalahan tidak selalu harus dibayar dengan rasa sakit.
Aku juga mulai mengikuti konseling untuk membantuku memahami pengalaman masa kecilku.
Kadang aku masih terbangun karena mimpi buruk.
Kadang aku masih merasa bersalah ketika sedang bermain, seolah seharusnya aku berada di rumah untuk merawat seseorang.
Namun, setiap kali perasaan itu datang, Raka selalu mengingatkanku bahwa aku berhak menjadi anak-anak.
Suatu sore, sepulang sekolah, aku menemukan sebuah amplop di meja makan.
Di dalamnya terdapat surat dari Rina.
Tulisan tangannya tidak serapi dulu.
Dia bercerita bahwa kini dia mengikuti terapi tiga kali seminggu dan mulai belajar melakukan beberapa kegiatan sehari-hari dengan bantuan alat khusus.
Dia juga mengaku sedang menjalani konseling.
Pada bagian akhir surat, terdapat sebuah kalimat yang membuatku menangis.
“Nisa, dulu Kakak selalu berkata bahwa kamu adalah satu-satunya tempat Kakak bergantung. Sekarang Kakak mengerti bahwa itu bukan kasih sayang, melainkan beban yang Kakak letakkan di pundakmu. Kakak tidak meminta kamu kembali. Kakak hanya berharap suatu hari nanti kamu bisa mengingat Kakak tanpa merasa takut.”
Aku melipat surat itu perlahan.
Malamnya, aku bertanya kepada Raka tentang sesuatu yang sejak lama mengganggu pikiranku.
“Kak, kenapa dulu Kakak pergi dan tidak pernah pulang?”
Raka terdiam.
Kemudian dia mengambil sebuah kotak kayu dari lemari.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.
Salah satunya memperlihatkan seorang remaja laki-laki menggendong bayi perempuan.
Remaja itu adalah Kak Raka.
Bayi itu adalah aku.
“Aku berumur tujuh belas tahun ketika kamu lahir,” katanya.
Dia mengusap foto tersebut.
“Waktu itu, Ayah dan Ibu mengatakan bahwa kamu akan menjadi teman Rina. Aku senang sekali punya adik lagi.”
Raka menarik napas panjang.
“Tapi setelah beberapa tahun, aku mulai melihat mereka menyerahkan pekerjaan merawat Rina kepadamu. Aku pernah bertengkar dengan Ayah karena itu.”
“Kenapa Kakak tidak membawaku pergi?”
“Karena waktu itu aku masih sangat muda. Aku belum punya pekerjaan tetap, belum punya tempat tinggal, dan aku tidak tahu bagaimana melindungimu dengan benar.”
Matanya memerah.
“Aku pergi untuk bekerja. Aku percaya ketika Ayah dan Ibu mengatakan kamu sudah sekolah dan hidup dengan baik. Aku seharusnya memeriksa sendiri.”
Aku memegang tangannya.
“Kakak sudah pulang.”
Raka memelukku erat.
“Iya, Nisa. Dan kali ini Kakak akan melakukan yang terbaik agar kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Setahun kemudian, sekolah mengadakan acara membaca cerita di depan kelas.
Aku terpilih untuk membacakan karanganku sendiri.
Ketika namaku dipanggil, aku naik ke panggung kecil dengan tangan gemetar.
Di barisan kursi paling belakang, Kak Raka duduk sambil tersenyum.
Aku membuka kertas dan mulai membaca.
“Dulu aku mengira anak yang baik adalah anak yang tidak pernah menangis, tidak pernah menolak, dan selalu melakukan apa yang diminta orang lain.”
Suaraku sempat bergetar.
“Tetapi sekarang aku tahu, anak yang baik juga boleh merasa lelah. Anak yang baik boleh mengatakan tidak. Dan anak yang baik tidak harus terluka untuk mendapatkan pelukan.”
Aku melihat Raka mengusap matanya.
Kemudian aku membaca kalimat terakhir.
“Aku pernah dilahirkan karena seseorang membutuhkan tenagaku. Tetapi sekarang aku hidup karena aku memiliki masa depan yang ingin kuperjuangkan.”
Seluruh ruangan bertepuk tangan.
Setelah acara selesai, Raka menghampiriku sambil membawa sebuah buku baru.
Di halaman pertamanya, dia menulis sebuah kalimat.
Untuk Nisa, adikku yang berhak memilih jalan hidupnya sendiri.
Aku memeluk buku itu.
Kemudian aku bertanya, “Kak, kalau nanti aku sudah besar, aku boleh menjadi dokter?”
Raka tersenyum.
“Tentu saja.”
“Kalau menjadi guru?”
“Boleh.”
“Kalau menjadi penulis?”
“Juga boleh.”
Aku berpikir sebentar.
“Lalu kalau aku belum tahu ingin menjadi apa?”
Raka tertawa kecil dan mengusap kepalaku.
“Itu juga boleh, Nisa. Kamu masih punya banyak waktu.”
Aku tersenyum lebar.
Dulu, setiap kali memikirkan masa depan, aku hanya melihat sebuah kamar sempit, kursi roda, dan pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Sekarang, untuk pertama kalinya, aku melihat begitu banyak kemungkinan.
Dan ternyata, hal paling membahagiakan dalam hidupku bukanlah ketika seseorang mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku.
Melainkan ketika seseorang menggenggam tanganku dan berkata bahwa aku bebas menentukan hidupku sendiri.
