Setelah 18 Tahun Mencari Putriku yang Hilang, Sahabatnya Justru Berusaha Merebut Tempat dan Kasih Sayang Keluargaku

Senyum Nadia membeku ketika seorang tamu menyebutnya sebagai anak buah Rani. Untuk sesaat, gadis itu lupa memasang wajah polos yang selama ini menjadi senjata andalannya.

Aku melihat perubahan itu dengan jelas.

Namun, yang membuatku lebih waspada adalah sesuatu yang muncul tepat di depan mataku.

【Nadia mulai kehilangan kendali. Dalam cerita aslinya, pesta ini seharusnya menjadi awal kehancuran Rani.】

【Tenang saja. Masih ada kejutan berikutnya. Nadia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mencuri gaun.】

Aku menggenggam gelas di tanganku lebih erat.

Selama delapan belas tahun, aku mencari putriku ke seluruh penjuru Indonesia. Aku menghabiskan uang, waktu, dan hampir seluruh harapanku. Sekarang, ketika anak itu akhirnya kembali, ada seseorang yang ingin merebut tempatnya.

Aku tidak akan membiarkannya.

Di atas panggung, Rani masih tertawa bersama beberapa tamu muda. Rambut pelanginya berkilau di bawah lampu kristal. Untuk pertama kalinya, aku melihat putriku menikmati perhatian orang lain tanpa harus berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.

Lalu Nadia mendekatinya.

“Kak Rani, aku mau bicara sebentar. Berdua saja.”

Rani menoleh kepadaku.

“Ma, aku keluar sebentar, ya.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Jangan lama-lama. Mama masih punya hadiah untukmu.”

Rani mengangkat alis.

“Hadiah lagi? Mama mau bikin aku jadi anak manja?”

“Memangnya tidak boleh?”

Dia tertawa kecil sebelum mengikuti Nadia menuju taman belakang.

Aku segera memberi isyarat kepada Pak Hendra, kepala keamanan keluarga kami.

“Tolong awasi mereka dari jauh. Jangan sampai Rani merasa diikuti.”

Pak Hendra mengangguk.

Belum sampai sepuluh menit, seorang pelayan berlari menghampiriku dengan wajah pucat.

“Bu Maya, ada masalah di ruang penyimpanan hadiah.”

Aku langsung menuju ruangan tersebut.

Di sana, Dimas berdiri dengan wajah tegang. Di tangannya terdapat sebuah kotak perhiasan yang terbuka.

Kalung berlian peninggalan almarhum suamiku telah hilang.

“Ma, kalung Papa tidak ada!”

Aku memandang kotak kosong itu.

Kalung tersebut bukan sekadar perhiasan mahal. Suamiku membelinya untuk diberikan kepada Rani ketika dia berusia delapan belas tahun. Setelah putri kami diculik, kalung itu kusimpan bersama surat yang ditulis suamiku sebelum meninggal.

“Siapa yang terakhir masuk ke sini?” tanyaku.

Dimas menjawab cepat.

“Petugas keamanan bilang Rani sempat terlihat di dekat ruangan ini.”

Aku menoleh perlahan.

“Kamu menuduh adikmu?”

“Aku cuma menyampaikan fakta, Ma.”

“Fakta bahwa dia berada di dekat ruangan ini, atau fakta bahwa dia mencuri kalung?”

Dimas terdiam.

Saat itulah Nadia muncul bersama Rani.

“Ada apa?” tanya putriku.

Dimas langsung mengangkat kotak perhiasan.

“Kalung peninggalan Papa hilang. Kamu tadi ke sini?”

Rani mengerutkan kening.

“Aku lewat koridor ini waktu mencari toilet. Memangnya kenapa?”

“Kamu tahu harga kalung itu?”

Wajah Rani langsung mengeras.

“Kakak mau bilang aku maling?”

Nadia buru-buru berdiri di antara mereka.

“Kak Dimas, jangan begitu. Kak Rani memang dulu sering mengambil barang orang, tapi itu karena keadaan memaksanya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rani menatap Nadia.

“Apa maksudmu?”

Nadia terlihat terkejut oleh ucapannya sendiri.

“Aku cuma mau membelamu, Kak. Dulu kita pernah mengambil makanan dari minimarket karena kelaparan. Aku tahu Kakak bukan orang jahat.”

Dimas menghela napas panjang.

“Rani, kalau kamu membutuhkan uang, bilang saja. Jangan membawa kebiasaan lama ke rumah ini.”

Aku melihat tangan putriku mengepal.

Dia tidak menangis.

Justru itulah yang membuat dadaku terasa sakit.

Anak yang terbiasa hidup di jalanan sering kali belajar menyembunyikan luka di balik kemarahan.

“Rani,” panggilku lembut. “Mama percaya kamu.”

Dia menatapku.

“Benarkah?”

“Benar.”

Aku kemudian memandang semua orang.

“Kalung itu disimpan di ruangan dengan kamera keamanan. Kita tidak perlu menuduh siapa pun.”

Wajah Nadia berubah pucat.

【Celaka! Dalam cerita aslinya, Maya langsung mengusir Rani karena menganggapnya pencuri!】

【Kenapa ibu ini selalu bertindak berbeda?】

Aku hampir tersenyum.

Ternyata bahkan komentar-komentar aneh itu mulai kebingungan.

Pak Hendra segera membawa rekaman kamera keamanan.

Kami menontonnya bersama.

Pada pukul tujuh lewat dua belas menit, Nadia terlihat memasuki ruangan penyimpanan hadiah. Dia membuka lemari, mengambil kotak perhiasan, kemudian memasukkan sesuatu ke dalam tas kecilnya.

Dimas membelalakkan mata.

“Nadia?”

Nadia langsung menangis.

“Aku tidak mencurinya! Aku cuma ingin melihat!”

Aku melipat tangan.

“Kalau begitu, keluarkan kalungnya.”

Dengan tangan gemetar, Nadia membuka tasnya.

Namun, tas itu kosong.

Dia segera mengangkat wajah.

“Lihat, Tante! Tidak ada apa-apa!”

Aku memperhatikan rekaman sekali lagi.

Pada pukul tujuh lewat lima belas menit, Nadia keluar dari ruangan. Beberapa detik kemudian, dia berhenti di dekat pot tanaman besar.

Aku menoleh kepada Pak Hendra.

“Periksa pot tanaman di koridor barat.”

Lima menit kemudian, kalung itu ditemukan.

Nadia terduduk lemas.

Rani memandang sahabatnya dengan ekspresi sulit dipercaya.

“Kenapa kamu melakukan itu?”

“Aku cuma takut!” Nadia terisak. “Aku takut semua orang lebih menyayangimu setelah kamu pulang!”

Rani mengerutkan kening.

“Tapi kamu sahabatku.”

“Itulah masalahnya!” Nadia tiba-tiba berteriak.

Semua orang terdiam.

Air mata akhirnya benar-benar mengalir di pipinya.

“Sejak kecil, semua orang selalu melihatmu! Kamu berani, kamu kuat, kamu selalu melindungi orang lain. Bahkan ketika kita sama-sama miskin, orang-orang tetap lebih menghormatimu!”

Rani mundur selangkah.

“Aku melindungimu karena kita teman.”

“Tapi aku tidak mau selamanya menjadi orang yang harus kamu lindungi!”

Aku mendekati Nadia.

“Jadi kamu ingin membuat Rani terlihat seperti pencuri agar keluarga ini membencinya?”

Nadia menunduk tanpa menjawab.

Keheningannya sudah cukup.

Aku meminta Pak Hendra menyimpan rekaman itu sebagai bukti. Kemudian aku meminta Bu Sri membawa Nadia ke kamar tamu.

“Besok pagi, kita akan membicarakan tempat tinggalmu selanjutnya.”

Dimas tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku menghentikannya.

“Kamu juga ikut Mama.”

Di ruang kerja, aku menatap putra sulungku.

“Dimas, Papa meninggal ketika kamu berusia dua puluh tahun. Sejak itu, kamu membantu Mama mengurus perusahaan. Mama selalu bangga kepadamu.”

Dimas menunduk.

“Tapi malam ini kamu membuat Mama sangat kecewa.”

“Ma, aku tidak tahu Nadia seperti itu.”

“Masalahnya bukan Nadia. Masalahnya adalah kamu begitu mudah mempercayai orang asing, tetapi begitu sulit mempercayai adik kandungmu sendiri.”

Dimas terdiam lama.

“Aku cuma tidak terbiasa melihat Rani seperti itu.”

“Seperti apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil sebuah foto dari laci.

Foto itu memperlihatkan Dimas kecil sedang menggendong bayi perempuan berusia beberapa bulan.

“Kamu dulu menangis selama tiga hari ketika adikmu hilang. Kamu bilang akan mencarinya sampai ketemu.”

Mata Dimas memerah.

“Kalau Rani tumbuh menjadi gadis yang rapi, pintar, dan lembut, apakah kamu baru mau mengakuinya sebagai adik?”

Air mata jatuh dari matanya.

“Tidak, Ma.”

“Kalau begitu, jangan hukum dia karena penderitaan yang tidak pernah dia pilih.”

Malam itu, Dimas mengetuk pintu kamar Rani.

Aku melihatnya dari ujung koridor.

Rani membuka pintu dengan wajah kesal.

“Apa lagi?”

Dimas menunduk.

“Kakak minta maaf.”

Rani terdiam.

“Kakak salah. Seharusnya Kakak melindungimu, bukan malah menuduhmu.”

Putriku menatapnya lama.

Kemudian dia berkata pelan.

“Aku tidak butuh Kakak melindungiku. Aku cuma mau Kakak percaya kalau aku bukan orang jahat.”

Dimas menangis.

Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Rani membiarkan kakaknya memeluknya.

Aku mengira masalah telah selesai.

Ternyata aku salah.

Keesokan paginya, Pak Hendra datang membawa sebuah laporan.

“Bu Maya, kami memeriksa latar belakang Nadia sesuai permintaan Ibu.”

Aku membuka berkas itu.

Ayah Nadia memang seorang peminum berat. Namun, laporan kepolisian menunjukkan bahwa pria tersebut telah meninggal dua tahun lalu.

Ibunya masih hidup dan bekerja sebagai penjahit di Bekasi.

Lebih mengejutkan lagi, Nadia ternyata tidak pernah tinggal bersama Rani selama masa kecil mereka.

Mereka baru bertemu tiga tahun lalu.

Aku membaca halaman berikutnya.

Di sana terdapat catatan transaksi bank.

Selama enam bulan terakhir, Nadia menerima sejumlah uang dari seseorang bernama Surya Pranoto.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Nama itu tidak asing.

Surya adalah mantan sopir keluarga kami.

Delapan belas tahun lalu, dia menghilang tepat pada hari Rani diculik.

Aku segera menghubungi penyidik swasta yang selama bertahun-tahun membantuku mencari putriku.

“Pak Arif, saya menemukan nama Surya Pranoto.”

Di ujung telepon terdengar keheningan panjang.

“Bu Maya, jangan biarkan Nadia meninggalkan rumah.”

Aku membeku.

“Kenapa?”

“Karena Surya baru saja keluar dari penjara tiga bulan lalu. Dan kami punya alasan kuat untuk menduga dia bukan satu-satunya orang yang terlibat dalam penculikan putri Ibu.”

Aku langsung menuju kamar Nadia.

Namun, kamar itu kosong.

Jendela terbuka.

Di atas meja terdapat sebuah ponsel lama.

Layarnya menyala, memperlihatkan pesan terakhir.

Bawa Rani ke tempat yang sudah ditentukan. Kalau gagal, kamu tahu akibatnya.

Aku segera berlari ke kamar putriku.

Kosong.

Di atas tempat tidur hanya ada secarik kertas.

Mama, Nadia bilang ibunya sedang dalam bahaya. Aku pergi sebentar untuk menolongnya. Jangan khawatir.

Tanganku gemetar.

Delapan belas tahun lalu, aku kehilangan putriku karena mempercayai orang yang salah.

Hari ini, seseorang mencoba mengulang tragedi yang sama.

Aku menelepon Rani berkali-kali.

Tidak ada jawaban.

Pak Hendra segera melacak lokasi ponselnya. Sinyal terakhir terdeteksi di sebuah gudang kosong kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Aku menghubungi polisi sebelum berangkat bersama tim keamanan.

Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi kenangan buruk.

Hari ketika Rani hilang.

Sepatu mungilnya yang tertinggal di taman.

Suamiku yang jatuh sakit karena tidak sanggup menerima kenyataan.

Dan delapan belas ulang tahun yang kulewati tanpa mendengar suara putriku.

Aku tidak akan kehilangan dia lagi.

Ketika kami tiba, polisi sudah mengepung gudang.

Dari dalam terdengar suara laki-laki berteriak.

“Di mana dokumen warisan itu?”

Aku mengenali suara tersebut.

Surya.

Kemudian terdengar suara Rani.

“Aku bahkan tidak tahu dokumen apa yang kamu maksud!”

Aku berusaha mendekat, tetapi polisi menahanku.

Melalui celah pintu, aku melihat putriku duduk di kursi dengan kedua tangan terikat.

Nadia berdiri di samping seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

Wajah pria itu tampak jauh lebih tua daripada dalam ingatanku.

Namun, aku tidak mungkin salah mengenalinya.

Surya Pranoto.

“Kamu bilang cuma mau menakutinya!” Nadia berteriak. “Kamu tidak bilang akan menyakitinya!”

Surya menampar meja.

“Diam! Kalau bukan karena kamu terlalu bodoh, keluarga Larasati sudah menyerahkan semuanya!”

Rani menoleh kepada Nadia.

“Jadi selama ini kamu mendekatiku karena dia?”

Nadia menangis.

“Aku tidak punya pilihan.”

“Kamu selalu punya pilihan,” jawab Rani.

Surya mendekati putriku.

“Delapan belas tahun lalu, seharusnya kamu tidak pernah kembali.”

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah map lusuh.

“Papamu meninggalkan saham perusahaan untukmu. Kalau kamu tidak ditemukan, saham itu akan tetap berada dalam pengelolaan keluargamu. Tapi sekarang kamu muncul dan semuanya menjadi rumit.”

Rani menatapnya tajam.

“Jadi kamu menculikku karena uang?”

Surya tertawa pahit.

“Bukan aku yang merencanakannya.”

Sebelum dia melanjutkan, terdengar suara kaca pecah dari sisi belakang gudang.

Polisi bergerak cepat.

Surya mencoba melarikan diri, tetapi langsung ditangkap.

Nadia jatuh terduduk.

Aku berlari menghampiri putriku.

“Rani!”

“Mama?”

Aku memeluknya begitu erat sampai dia mengeluh kesakitan.

“Ma, aku masih hidup. Jangan diremas begitu!”

Aku menangis sambil tertawa.

“Anak nakal! Kenapa pergi tanpa memberi tahu Mama?”

Rani menunduk.

“Aku kira Nadia benar-benar membutuhkan pertolongan.”

Aku mengusap wajahnya.

“Kamu boleh menolong orang lain, Sayang. Tapi kamu juga harus belajar melindungi dirimu sendiri.”

Dia mengangguk pelan.

Saat polisi membawa Surya keluar, aku menghentikan langkah mereka.

“Siapa yang menyuruhmu menculik putriku delapan belas tahun lalu?”

Surya memandangku.

Kemudian dia tertawa.

“Orang yang paling kamu percaya.”

Darahku terasa membeku.

“Siapa?”

“Adik iparmu sendiri. Bagas Larasati.”

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

Bagas adalah adik almarhum suamiku.

Selama delapan belas tahun, dia ikut membantu pencarian Rani. Dia menghadiri setiap ulang tahun putriku yang hilang. Bahkan dia pernah menangis di depan makam suamiku sambil berjanji akan menemukan keponakannya.

Ternyata semua itu sandiwara.

Penyelidikan berikutnya mengungkap bahwa Bagas memiliki utang besar ketika Rani masih bayi. Dia berharap penculikan itu akan memaksa suamiku membayar uang tebusan dalam jumlah fantastis.

Namun, rencana tersebut gagal ketika Surya membawa Rani terlalu jauh dan kehilangan kontak dengan komplotannya.

Rani kemudian ditinggalkan di sebuah terminal di Jawa Barat sebelum akhirnya diasuh oleh keluarga miskin.

Bagas tidak pernah mengetahui keberadaannya.

Ketika berita penemuan Rani tersebar, dia panik. Dia menghubungi Surya yang baru bebas dan menyusun rencana untuk kembali menyingkirkan Rani dari keluarga kami.

Nadia dipilih karena kedekatannya dengan putriku.

Semua transaksi dan percakapan mereka akhirnya menjadi bukti penting dalam penyelidikan.

Bagas ditangkap dua hari kemudian.

Nadia juga harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya.

Sebelum dibawa pergi, dia meminta bertemu Rani.

Aku menyerahkan keputusan itu kepada putriku.

Rani berdiri di hadapannya tanpa ekspresi.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau ada orang yang mengancammu?”

Nadia menangis.

“Karena aku takut kehilangan kesempatan hidup enak. Awalnya aku cuma diminta mendekatimu. Tapi setelah melihat rumahmu, keluargamu, dan cara ibumu menyayangimu, aku mulai berpikir…”

“Kamu ingin mengambil semuanya?”

Nadia mengangguk.

“Aku iri kepadamu.”

Rani tertawa kecil, tetapi matanya basah.

“Lucu, ya. Dulu aku iri kepadamu karena kamu masih punya ibu. Aku bahkan pernah bekerja dua minggu supaya bisa membelikanmu hadiah ulang tahun.”

Nadia menangis semakin keras.

“Aku tahu.”

“Ternyata yang kamu inginkan bukan persahabatan kita.”

Rani menarik napas panjang.

“Aku tidak membencimu, Nadia. Tapi aku tidak mau lagi menjadi orang yang kamu manfaatkan.”

Kemudian dia berbalik dan menggenggam tanganku.

Kami meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan keluarga kami perlahan berubah.

Dimas mulai mengajak Rani makan bersama setiap akhir pekan. Kadang mereka bertengkar karena hal sepele, tetapi aku tahu hubungan mereka semakin dekat.

Rani memutuskan mengikuti program pendidikan kesetaraan sambil mengambil kursus desain grafis.

Ternyata dia memiliki bakat menggambar yang luar biasa.

Tato burung hitam di pinggangnya merupakan gambar buatannya sendiri.

Suatu malam, aku bertanya tentang maknanya.

Rani tersenyum.

“Burung itu kelihatan seperti mau terbang, tapi sayapnya belum terbuka.”

“Kenapa?”

“Karena dulu aku merasa tidak punya tempat untuk pulang.”

Aku terdiam.

Dia kemudian mengambil buku gambar dan memperlihatkan desain baru.

Burung yang sama kini terbang dengan kedua sayap terbentang.

Di bawahnya tertulis dua kata.

Pulang akhirnya.

Air mataku langsung jatuh.

Rani tertawa sambil memelukku.

“Mama jangan menangis terus. Nanti cepat keriput.”

Aku mencubit pipinya.

“Anak kurang ajar!”

Dia tertawa semakin keras.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, rumah kami dipenuhi suara tawa yang benar-benar utuh.

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama ini, aku mengira tugasku adalah menemukan putriku dan membawanya pulang.

Ternyata itu baru permulaan.

Menjadi seorang ibu bukan sekadar memberikan rumah mewah, pakaian mahal, atau masa depan yang terjamin.

Menjadi ibu berarti tetap menggenggam tangan anakmu ketika seluruh dunia menghakiminya.

Berarti percaya kepadanya ketika orang lain meragukannya.

Dan berarti mengajarinya bahwa kasih sayang tidak harus dibayar dengan pengorbanan diri tanpa batas.

Pada ulang tahunnya yang kesembilan belas, Rani datang ke kamarku membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat gelang sederhana dari benang warna-warni.

“Aku membuatnya sendiri,” katanya malu-malu. “Tidak mahal seperti hadiah Mama.”

Aku langsung mengenakannya.

“Ini hadiah terindah yang pernah Mama terima.”

Rani memelukku.

Lama sekali kami tidak berbicara.

Kemudian dia berbisik di dekat telingaku.

“Ma, terima kasih sudah mencariku selama delapan belas tahun.”

Aku memejamkan mata.

“Mama akan mencarimu bahkan kalau harus menunggu seumur hidup.”

Dia menggeleng.

“Sekarang Mama tidak perlu mencari lagi.”

Aku memeluknya semakin erat.

Karena akhirnya, setelah delapan belas tahun kehilangan, aku bukan hanya menemukan putriku.

Aku juga berhasil membuatnya percaya bahwa dia tidak akan pernah ditinggalkan lagi.

Dan kali ini, tidak seorang pun bisa merebut tempatnya di rumah kami.

Sebab sejak awal, tempat itu memang hanya miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang