“Apa yang baru saja kamu unggah, Samantha?”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar ketakutan yang sesungguhnya dalam suara ibuku.
Aku masih duduk di halte dekat pusat ujian ketika pertanyaan itu terdengar dari ponsel. Pergelangan kakiku berdenyut akibat terjatuh di depan warung makan. Sikuku lecet, perutku kosong, dan seluruh tubuhku terasa lelah.
Namun, anehnya, hatiku justru jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

“Aku hanya mengunggah apa yang sebenarnya terjadi, Ma.”
“Hapus sekarang juga!”
Suara ibuku meninggi begitu keras sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.
“Kamu mau menghancurkan hidup Mama? Kamu tahu berapa banyak orang yang sudah melihat video itu?”
“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya cukup banyak.”
“Samantha!”
Aku memejamkan mata.
Dalam kehidupanku sebelumnya, setiap kali ibuku menyebut namaku dengan nada seperti itu, aku pasti langsung ketakutan. Aku akan meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan apa pun.
Namun, kali ini berbeda.
“Ma, aku harus kembali mengikuti sesi ujian berikutnya. Kalau Mama memang membutuhkan pertolongan, petugas sudah berada di sana. Dengarkan mereka.”
“Kamu pikir semuanya selesai begitu saja? Mama akan bilang kepada semua orang bahwa kamu sengaja membuat rekaman palsu!”
“Silakan, Ma. Rekaman aslinya sudah kusimpan.”
Sebelum dia sempat menjawab, aku menutup telepon.
Tanganku gemetar.
Bukan karena menyesal, melainkan karena untuk pertama kalinya aku berhasil mengatakan tidak tanpa meminta izin kepada siapa pun.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Saya Ratri, pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Saya sudah melihat unggahanmu. Apakah kamu berada di tempat aman?
Aku membaca pesan itu dua kali.
Belum sempat membalas, pesan berikutnya masuk.
Jangan pulang sendirian hari ini. Jika kamu bersedia, kami bisa membantumu mendapatkan pendampingan hukum.
Aku mengetik alamat pusat ujian, lalu mengirimkan lokasiku.
Setelah itu, aku kembali membuka media sosial.
Jumlah penonton video yang kuunggah sudah melewati delapan ratus ribu.
Video pertama memperlihatkan ibuku sedang duduk santai di sofa rumah kami sambil berbicara melalui telepon.
“Kalau Samantha tetap nekat ikut ujian, aku tinggal naik ke rooftop apartemen. Dia pasti datang. Anak itu paling takut kalau orang lain menganggapnya durhaka.”
Video kedua jauh lebih mengejutkan.
Dalam rekaman tersebut, ibuku berbicara dengan seseorang bernama Tante Mira, sahabat dekatnya.
“Kalau dia diterima di universitas negeri dan tinggal di asrama, siapa yang akan mengurus rumah? Siapa yang akan menemaniku? Aku tidak mau kehilangan anak hanya karena dia merasa sudah pintar.”
Tante Mira terdengar bertanya, “Tapi kalau dia membencimu bagaimana?”
Ibuku tertawa.
“Anak perempuan tidak mungkin benar-benar meninggalkan ibunya. Apalagi kalau seluruh keluarga membuatnya merasa bersalah.”
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Selama ini aku mengira ibuku hanya takut kehilangan diriku.
Namun, mendengar kata-katanya sekali lagi membuatku memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Dia bukan takut aku pergi.
Dia takut kehilangan kendali.
Aku mematikan ponsel ketika bel masuk sesi berikutnya berbunyi.
Di gerbang, seorang petugas keamanan menghadangku.
“Kamu Samantha?”
Aku mengangguk.
Dia memandang kakiku yang pincang, kemudian mengeluarkan sebuah kursi plastik.
“Duduk dulu. Saya panggil petugas kesehatan.”
Aku terkejut.
“Bapak tidak akan menyuruh saya pulang?”
Pria itu mengernyit.
“Kenapa harus pulang? Kamu masih punya ujian, kan?”
Kalimat sederhana itu hampir membuatku menangis.
Tidak semua orang membenciku.
Ternyata masih ada orang yang mampu melihatku sebagai seorang anak yang sedang memperjuangkan masa depannya.
Seorang petugas kesehatan membersihkan luka di sikuku dan memeriksa pergelangan kakiku. Untungnya, tidak ada tanda cedera serius. Setelah diberi kompres dingin dan perban elastis, aku diperbolehkan kembali mengikuti ujian.
Saat masuk ruangan, aku melihat seorang siswi berkacamata melambaikan tangan.
Namanya Alya. Kami pernah bertemu dalam kompetisi matematika tingkat provinsi.
“Aku menyimpan roti untukmu,” bisiknya sambil menyodorkan sebungkus roti cokelat. “Tadi aku lihat kamu belum makan.”
Aku menatap roti itu.
“Kenapa kamu membantuku?”
Alya mengangkat bahu.
“Karena kamu lapar. Memangnya harus ada alasan lain?”
Aku menggigit bibir untuk menahan tangis.
Di kehidupan pertamaku, aku menghabiskan bertahun-tahun untuk mendapatkan kasih sayang ibuku, tetapi selalu merasa tidak cukup baik.
Hari itu, seorang gadis yang hampir tidak kukenal memberiku roti tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Aku baru memahami betapa berbedanya perhatian yang tulus dengan kasih sayang yang dijadikan alat tawar-menawar.
Sesi ujian kedua berlangsung hampir tiga jam.
Aku mengerjakan setiap soal dengan hati-hati. Sesekali bayangan ibuku muncul di kepalaku, tetapi aku memaksa diri untuk kembali berkonsentrasi.
Aku sudah kehilangan kesempatan ini sekali.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya lagi.
Ketika ujian berakhir, langit Jakarta mulai gelap.
Di luar gerbang, puluhan orang berdiri sambil memegang ponsel.
Beberapa wartawan berusaha mendekat.
“Samantha! Benarkah ibumu sengaja mengancam bunuh diri?”
“Apakah kamu menyesal tidak menolongnya?”
“Bagaimana hubungan kalian sekarang?”
Aku membeku.
Tiba-tiba seorang perempuan berblazer abu-abu berdiri di depanku.
“Maaf, dia masih di bawah umur. Tolong beri ruang.”
Perempuan itu memperlihatkan kartu identitasnya.
“Saya Ratri. Kita tadi berkirim pesan.”
Di sampingnya berdiri seorang perempuan lain yang memperkenalkan diri sebagai Bu Dina, konselor dari layanan perlindungan anak.
Mereka membawaku menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari gerbang.
Begitu pintu tertutup, aku akhirnya menangis.
Bukan tangisan keras.
Air mataku hanya mengalir tanpa bisa kuhentikan.
Bu Dina memberikan tisu.
“Kamu sudah melakukan sesuatu yang sangat berat hari ini.”
Aku menggeleng.
“Semua orang bilang aku anak durhaka.”
“Orang boleh memiliki pendapat,” jawabnya lembut. “Tetapi keselamatan ibumu bukan tanggung jawab yang boleh dipaksakan kepada seorang anak melalui ancaman.”
Aku menunduk.
“Bagaimana keadaan Mama?”
Bu Ratri membuka ponselnya.
“Dia sudah dibawa turun oleh petugas. Tim medis sedang melakukan pemeriksaan. Untuk saat ini, dia berada dalam pengawasan.”
Aku mengembuskan napas lega.
Walaupun ibuku telah menyakitiku berkali-kali, aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Aku hanya ingin hidupku menjadi milikku sendiri.
Namun, masalah ternyata belum selesai.
Malam itu, ketika kami tiba di sebuah rumah aman sementara, Bu Ratri menerima telepon dari rekannya.
Ekspresinya langsung berubah serius.
“Samantha, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Ibumu membuat laporan polisi. Dia menuduhmu memalsukan rekaman dan mencemarkan nama baiknya.”
Aku tidak terkejut.
Itulah cara ibuku menghadapi setiap masalah.
Ketika tidak bisa mengendalikan seseorang dengan rasa bersalah, dia akan menggunakan ketakutan.
“Apakah aku akan ditangkap?”
“Tidak otomatis. Laporan bukan berarti kamu bersalah. Kami akan memastikan hakmu terlindungi dan memeriksa seluruh bukti secara benar.”
Bu Ratri berhenti sejenak.
“Tapi ada satu hal lain. Kami menemukan sesuatu yang janggal dalam dokumen pendidikanmu.”
Aku menatapnya.
“Dokumen apa?”
“Surat pengunduran diri dari program beasiswa persiapan kuliah yang pernah kamu ikuti.”
Jantungku seakan berhenti.
“Aku tidak pernah mengundurkan diri.”
“Itulah masalahnya.”
Dia memperlihatkan salinan sebuah surat.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan atas namaku.
Namun, bentuk hurufnya berbeda.
Aku mengenali tulisan itu.
Itu tulisan ibuku.
Tiga bulan sebelumnya, aku mendapatkan kesempatan mengikuti program pembinaan calon mahasiswa berprestasi yang diselenggarakan sebuah yayasan pendidikan di Jakarta.
Program tersebut menyediakan pelatihan akademik, pendampingan pendaftaran universitas, dan bantuan biaya hidup bagi peserta terpilih.
Aku ingat betul betapa bahagianya diriku saat menerima pemberitahuan kelulusan seleksi.
Namun, beberapa hari kemudian, pihak yayasan mengabarkan bahwa tempatku telah diberikan kepada peserta lain karena keluargaku mengajukan pengunduran diri.
Ketika kutanyakan kepada ibuku, dia mengatakan pihak yayasan telah salah mengurus berkas.
Aku mempercayainya.
Sekarang, kenyataannya terbuka.
“Jadi Mama yang membatalkannya?”
Bu Ratri mengangguk perlahan.
“Kami belum bisa memastikan seluruh prosesnya, tetapi dokumen ini menunjukkan adanya dugaan pemalsuan tanda tangan. Pihak yayasan bersedia membantu memeriksanya.”
Aku tertawa kecil.
Tawa yang terdengar asing bahkan bagi telingaku sendiri.
Selama ini aku mengira hari ujian adalah satu-satunya kesempatan yang berusaha dihancurkan ibuku.
Ternyata dia sudah memulainya jauh sebelumnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku terus memikirkan masa kecilku.
Ketika berusia sembilan tahun, ibuku menangis karena aku ingin mengikuti perkemahan sekolah.
Ketika berusia dua belas tahun, dia jatuh sakit setiap kali aku mendapat kesempatan mengikuti lomba di luar kota.
Ketika berusia lima belas tahun, dia mengancam akan meninggalkan rumah karena aku menolak berhenti mengikuti bimbingan belajar.
Setiap kali aku mencoba tumbuh, selalu ada keadaan darurat yang memaksaku kembali ke sisinya.
Dulu aku menyebutnya kasih sayang.
Sekarang aku tahu, itu adalah kurungan yang pintunya dibuat dari rasa bersalah.
Keesokan paginya, sebuah nomor asing meneleponku.
Aku hampir mengabaikannya sampai sebuah pesan masuk.
Samantha, ini Tante Mira. Ada sesuatu tentang ayahmu yang harus kamu ketahui.
Aku langsung menelepon balik.
Ayahku meninggal ketika aku berusia enam tahun. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan ibuku.
Menurut ceritanya, ayah pergi bekerja ke luar negeri, lalu meninggal dalam kecelakaan.
Aku tidak pernah melihat surat kematian atau makamnya.
Setiap kali bertanya, ibuku akan menangis dan mengatakan aku sengaja membuka luka lama.
“Tante mau bicara apa?” tanyaku.
Di seberang telepon, Tante Mira terdengar terisak.
“Maafkan Tante, Samantha. Tante sudah terlalu lama diam.”
Dadaku terasa sesak.
“Ayahmu tidak meninggal.”
Aku mencengkeram ponsel.
“Apa?”
“Dia masih hidup.”
Dunia di sekelilingku seakan berhenti bergerak.
Tante Mira menjelaskan bahwa orang tuaku berpisah ketika aku masih kecil. Ayahku kemudian pindah ke Bandung setelah konflik panjang mengenai hak pengasuhan.
Selama bertahun-tahun, dia berusaha menghubungiku.
Dia mengirim surat, hadiah ulang tahun, bahkan uang untuk biaya sekolah.
Namun, ibuku menyembunyikan semuanya.
“Kenapa Mama melakukan itu?”
“Karena dia takut kamu memilih tinggal bersama ayahmu.”
Aku tidak sanggup menjawab.
“Dulu Tante percaya bahwa ibumu hanya terlalu takut kehilanganmu. Tapi setelah melihat apa yang terjadi kemarin, Tante sadar diamnya Tante ikut menyakitimu.”
Sore itu, dengan pendampingan Bu Ratri, aku bertemu seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun di sebuah ruang pertemuan.
Rambutnya mulai beruban.
Matanya merah.
Ketika melihatku, dia berdiri begitu cepat sampai kursinya hampir terjatuh.
“Samantha?”
Aku menatap wajahnya.
Ada sesuatu yang terasa akrab.
Bentuk matanya.
Garis senyumnya.
Dan lesung pipi kecil di sebelah kiri.
Persis seperti milikku.
“Ayah?”
Pria itu menutup mulutnya dengan tangan.
Air matanya jatuh.
“Ayah pikir kamu tidak mau bertemu Ayah.”
Aku menggeleng sambil menangis.
“Aku pikir Ayah sudah meninggal.”
Dia mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah dariku.
“Boleh Ayah memelukmu?”
Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan terakhirku.
Selama tujuh belas tahun, hampir tidak ada orang dewasa dalam hidupku yang meminta izin sebelum menentukan sesuatu untukku.
Aku mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya sejak kecil, aku merasakan pelukan yang tidak menuntut apa pun.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan terhadap dokumen beasiswaku mulai berjalan. Rekaman-rekaman yang kuunggah juga diperiksa keasliannya.
Ibuku akhirnya mengakui bahwa dia sengaja membuat keributan di atap apartemen agar aku meninggalkan ujian.
Namun, dia tetap menolak menganggap tindakannya salah.
“Aku melakukan semuanya karena sayang kepada anakku,” katanya dalam pertemuan keluarga yang didampingi konselor.
Aku duduk di seberangnya.
Wajahnya tampak lebih tua daripada yang kuingat.
Untuk sesaat, aku hampir merasa bersalah.
Kemudian dia menambahkan, “Kalau Samantha tidak terlalu egois, semua ini tidak akan terjadi.”
Aku menarik napas.
“Ma, aku tidak pernah meminta Mama mengorbankan hidup Mama untukku.”
Dia terdiam.
“Aku juga tidak pernah meminta Mama membatalkan beasiswaku, menyembunyikan surat Ayah, atau mempermalukanku di depan orang banyak.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.”
“Aku tahu, Ma.”
Aku menatapnya.
“Karena selama ini Mama membuatku merasa harus meninggalkan diriku sendiri supaya Mama tidak merasa sendirian.”
Ruangan menjadi sunyi.
Ibuku menunduk.
Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti dia benar-benar akan berubah.
Namun, aku tahu satu hal.
Aku tidak perlu menunggu perubahan itu untuk mulai menyelamatkan hidupku.
Dua bulan kemudian, hasil seleksi masuk Universitas Indonesia diumumkan.
Aku duduk di depan laptop bersama Ayah dan Bu Dina.
Tanganku gemetar ketika memasukkan nomor peserta.
Halaman memuat beberapa detik.
Kemudian sebuah tulisan muncul.
Selamat. Anda dinyatakan lulus seleksi.
Aku diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Ayah langsung menangis.
Bu Dina memeluk bahuku.
Sementara aku hanya menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
Dalam kehidupanku yang pertama, hari pengumuman hasil ujian adalah hari ketika aku kehilangan harapan.
Namun, kali ini aku mendapatkan kembali masa depanku.
Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ibuku.
Samantha, Mama sudah membaca surat-surat yang dulu Ayah kirimkan kepadamu. Mama baru sadar bahwa selama ini Mama begitu takut ditinggalkan sampai tidak menyadari bahwa Mama sendiri yang membuatmu kesepian. Mama tidak akan memintamu pulang. Mama hanya ingin kamu tahu bahwa Mama sedang mencoba belajar hidup tanpa menjadikanmu alasan untuk setiap ketakutan Mama.
Aku membaca surat itu berulang kali.
Kemudian aku melipatnya dan menyimpannya di dalam laci.
Aku belum siap memaafkan semuanya.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku juga tidak merasa wajib membencinya.
Pada hari pertama kuliah, aku berdiri di depan gerbang kampus sambil membawa tas ransel dan sebuah buku catatan baru.
Ayah mengantarku sampai pintu masuk.
“Kalau ada apa-apa, telepon Ayah, ya.”
Aku tersenyum.
“Ayah tidak takut aku pergi jauh?”
Dia tertawa kecil.
“Tentu Ayah akan rindu.”
Aku menunduk.
“Tapi?”
Ayah mengusap kepalaku.
“Tapi tugas orang tua bukan membuat anaknya selalu tinggal di samping mereka. Tugas kami adalah membantunya tumbuh sampai dia berani berjalan sendiri.”
Aku memeluknya erat.
Saat berjalan memasuki kampus, ponselku bergetar.
Sebuah pengingat kalender muncul di layar.
Hari ini, pukul 08.00.
Aku berhenti.
Itu adalah pengingat yang kubuat sendiri pada hari ketika aku kembali ke masa lalu.
Tulisan di dalamnya hanya satu kalimat.
Samantha, jika kamu membaca ini, berarti kamu berhasil memilih dirimu sendiri.
Aku tersenyum sambil menangis.
Dulu aku mengira kesempatan kedua diberikan kepadaku untuk membalas dendam kepada ibuku.
Ternyata bukan.
Kesempatan kedua itu datang agar aku memahami sesuatu yang tidak pernah kupelajari dalam kehidupan pertamaku.
Bahwa mencintai keluarga tidak berarti harus menyerahkan seluruh masa depan kepada mereka.
Bahwa seorang anak boleh menyayangi orang tuanya tanpa harus menanggung semua luka mereka.
Dan bahwa terkadang, tindakan paling berani bukanlah bertahan di tempat yang terus menyakitimu.
Melainkan melangkah pergi, meskipun orang yang paling kamu cintai memintamu tetap tinggal.
Aku menghapus pengingat itu, memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu melangkah menuju ruang kuliah pertamaku.
Kali ini, tidak ada sirene polisi.
Tidak ada ancaman dari atap gedung.
Tidak ada kerumunan orang yang memaksaku memilih antara masa depan dan rasa bersalah.
Hanya ada langit pagi, halaman kampus yang dipenuhi mahasiswa, dan sebuah kehidupan baru yang akhirnya menjadi milikku.
Dan ketika namaku dipanggil untuk pertama kalinya di ruang kelas, aku menjawab dengan suara lantang.
“Hadir, Bu.”
Satu kata sederhana.
Namun, bagiku, kata itu memiliki arti yang sangat besar.
Karena setelah kehilangan diriku sendiri dalam satu kehidupan, akhirnya aku benar-benar hadir dalam kehidupanku yang kedua.
