Kucing hitam peliharaanku selalu mencakar tas kakak iparku setiap kali ia datang ke rumah. Semua orang menuduhku sengaja melatih kucing itu untuk mempermalukan tamu. Namun saat tas itu akhirnya benar-benar robek dan memperlihatkan cincin warisan mendiang ibuku, kakak iparku langsung gemetar, berlutut di hadapanku, dan memohon agar aku tidak mengatakan apa pun kepada seluruh keluarga.

“Jangan bilang siapa-siapa, Rania! Kakak mohon!”

Siska berlutut di lantai ruang tamu sambil mencengkeram ujung bajuku. Wajahnya pucat, kedua tangannya gemetar. Di samping kakinya, sebuah tas kulit mahal tergeletak dengan bagian samping robek cukup lebar.

Dari dalam tas itu, sebuah cincin emas bermata safir biru menggelinding hingga berhenti tepat di depan kakiku.

Aku mengenali cincin itu.

Bahkan seandainya seluruh dunia mengatakan cincin tersebut bukan milik ibuku, aku tidak akan percaya.

Ada goresan kecil berbentuk bulan sabit di bagian dalam lingkarannya. Goresan yang dibuat Ayah secara tidak sengaja ketika mencoba memperbaiki cincin itu bertahun-tahun lalu.

Itu cincin pernikahan Mama.

Cincin yang hilang dari kamarku tiga bulan lalu.

Dan sekarang, benda itu justru keluar dari tas kakak iparku sendiri.

Aku menatap Siska tanpa berkedip.

“Kak, kenapa cincin Mama ada di tas Kakak?”

Siska membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Di belakangku, Bima, kucing hitam peliharaanku, berdiri dengan bulu sedikit mengembang. Matanya yang kuning menatap Siska tajam.

Untuk pertama kalinya, aku memahami mengapa Bima selalu menyerang tas itu.

Namun yang belum kuketahui adalah bahwa cincin tersebut hanyalah awal dari rahasia yang jauh lebih mengerikan.

Namaku Rania. Usiaku dua puluh tujuh tahun dan aku tinggal bersama Ayah di sebuah rumah dua lantai di kawasan Depok.

Dua tahun lalu, Mama meninggal setelah berjuang melawan penyakit jantung.

Sebelum meninggal, beliau meninggalkan dua benda untukku.

Sebuah surat yang disimpan dalam amplop cokelat.

Dan cincin emas bermata safir yang dikenakannya ketika menikah dengan Ayah.

“Kalau suatu hari Mama sudah tidak ada, simpan cincin ini baik-baik, Nak,” katanya saat itu.

Aku masih mengingat tangan Mama yang kurus ketika menggenggam tanganku.

“Jangan pernah menyerahkannya kepada siapa pun hanya karena kamu merasa tidak enak menolak.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Saat itu, aku mengira Mama hanya sedang mengingatkanku agar menjaga barang berharga.

Aku tidak pernah membayangkan kalimat tersebut akan menjadi peringatan yang menyelamatkanku.

Setahun setelah Mama meninggal, kakak laki-lakiku, Dimas, menikahi perempuan bernama Siska.

Siska cantik, ramah, dan pandai mengambil hati orang.

Setiap datang ke rumah, ia membawa makanan kesukaan Ayah. Ia juga rajin membersihkan dapur dan sering menawarkan diri mengantarkan Ayah ke rumah sakit.

“Beruntung sekali Dimas mendapatkan istri seperti Siska,” kata Ayah berkali-kali.

Aku pun menyukainya.

Sampai tiga bulan lalu, ketika cincin Mama menghilang.

Hari itu aku pulang dari kantor dan mendapati laci meja riasku sedikit terbuka.

Kotak kayu tempat cincin disimpan masih ada, tetapi isinya kosong.

Aku panik.

Selama dua jam aku membongkar seluruh kamar.

Tidak ada hasil.

Ketika kutanyakan kepada Ayah, beliau menggeleng.

“Siska tadi membantu Ayah membersihkan rumah. Mungkin kamu bisa tanya dia.”

Aku langsung menelepon Siska.

“Kak, tadi masuk kamarku?”

“Iya, Ran. Kakak cuma mengganti seprai. Kenapa?”

“Cincin Mama hilang.”

Siska terdiam sesaat.

“Ya ampun! Kamu yakin enggak salah taruh?”

“Aku selalu menyimpannya di kotak kayu.”

“Coba cari lagi. Jangan langsung berpikir macam-macam, ya.”

Aku tidak menuduhnya.

Setidaknya belum.

Namun sejak hari itu, sesuatu berubah.

Setiap kali Siska datang membawa tas kulit cokelatnya, Bima selalu mendesis dan mencakar tas tersebut.

Awalnya kupikir Bima hanya tidak menyukai aroma parfum Siska.

Tetapi perilakunya semakin aneh.

Pernah suatu sore, Bima melompat ke atas meja makan dan menarik tali tas Siska dengan giginya.

Siska langsung menjerit.

“Rania! Kamu sengaja melatih kucing ini menyerang barangku, ya?”

Aku terkejut.

“Kak, Bima enggak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Jangan bohong! Dia cuma menyerang tasku!”

Dimas yang sedang makan langsung membentakku.

“Ran, kalau enggak bisa mengurus kucing, kurung saja! Siska itu tamu di rumah ini.”

Aku menahan air mata.

Bima memang hanya seekor kucing kampung yang kutemukan terluka di pinggir jalan setahun sebelumnya.

Tetapi Mama sangat menyukai kucing.

Ketika melihat Bima pertama kali, aku merasa seolah ada bagian kecil dari kehangatan Mama yang kembali ke rumah.

Karena itulah aku tidak pernah tega mengusirnya.

Sampai kejadian sore itu.

Kami sedang berkumpul merayakan ulang tahun Ayah.

Siska datang membawa kue dan hadiah mahal.

Ketika ia meletakkan tasnya di sofa, Bima tiba-tiba melompat dan mencakar bagian samping tas itu berkali-kali.

“BIMA!”

Siska berteriak sambil menarik tasnya.

Namun terlambat.

Kulit tas yang tampaknya sudah rapuh di bagian jahitan robek.

Sebuah dompet kecil, lipstik, beberapa lembar kuitansi, dan cincin emas bermata safir jatuh ke lantai.

Aku membeku.

Siska buru-buru memungut cincin itu, tetapi aku lebih cepat.

“Kak, ini cincin Mama.”

“Bukan! Itu cincinku!”

Aku membalik cincin tersebut.

Goresan bulan sabit itu masih ada.

“Kalau ini milik Kakak, kenapa ada bekas goresan yang dibuat Ayah?”

Wajah Siska langsung kehilangan warna.

Dimas yang baru keluar dari dapur mengerutkan kening.

“Ada apa ini?”

Siska mendadak berlutut.

“Rania, tolong. Jangan bilang Dimas. Kakak akan jelaskan semuanya.”

Aku menatapnya dengan dada sesak.

“Jelaskan sekarang.”

Siska menangis.

“Kakak cuma meminjamnya.”

“Meminjam tanpa izin selama tiga bulan?”

“Aku terpaksa.”

“Terpaksa untuk apa?”

Siska menoleh ke arah Dimas, kemudian menunduk.

“Aku butuh uang.”

Dimas tampak kebingungan.

“Uang apa, Sis?”

Siska tidak menjawab.

Aku mengambil salah satu kuitansi yang tercecer.

Di bagian atas tertulis nama sebuah tempat gadai swasta di Jakarta Selatan.

Nominal pinjaman yang tertera membuatku terperangah.

Tiga puluh lima juta rupiah.

Namun bukan jumlah uang itu yang membuatku merinding.

Tanggal pada kuitansi tersebut menunjukkan cincin Mama baru ditebus dua hari sebelumnya.

Artinya, selama hampir tiga bulan, cincin itu berada di tempat gadai.

“Kakak menggadaikan cincin Mama?”

Siska menangis semakin keras.

“Aku berniat mengembalikannya sebelum kamu sadar!”

“Tapi aku sudah mencarinya selama tiga bulan!”

Dimas merampas kuitansi dari tanganku.

“Siska, kamu menggadaikan barang peninggalan Mama?”

Siska menutup wajahnya.

“Aku enggak punya pilihan, Mas.”

“Untuk apa uangnya?”

Siska menatap suaminya dengan pandangan putus asa.

“Untuk menutup utang.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah yang sejak tadi duduk di kursi makan akhirnya berdiri.

“Utang siapa?”

Siska menggigit bibir.

“Utang Dimas.”

Aku menoleh kepada kakakku.

Dimas tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.

“Apa maksudmu?”

Siska mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.

“Kamu bilang semua sudah selesai, Mas. Kamu janji enggak akan meminjam lagi.”

Dimas langsung mencoba merebut ponsel itu.

Namun Siska mundur.

“Jangan! Kali ini aku enggak mau menanggung semuanya sendirian!”

Aku belum pernah melihat Siska berteriak kepada suaminya.

Ia membuka percakapan dengan sebuah nomor tidak dikenal.

Di layar terlihat serangkaian pesan penagihan utang.

Ada ancaman penyebaran data pribadi, foto rumah kami, bahkan alamat kantor tempatku bekerja.

Aku merasa darahku membeku.

“Kenapa alamat kantorku ada di sini?”

Siska menangis.

“Karena Dimas memakai datamu sebagai kontak darurat.”

Aku menatap kakakku.

“Mas?”

Dimas mengusap wajahnya.

“Aku bisa jelaskan.”

“Tolong jelaskan kenapa orang asing punya alamat kantorku.”

Dimas akhirnya mengaku.

Enam bulan sebelumnya, ia kehilangan sebagian besar uang tabungannya setelah tergiur investasi bodong.

Alih-alih melapor dan berhenti, ia mencoba mengembalikan kerugian dengan meminjam uang dari beberapa aplikasi pinjaman daring.

Utangnya semakin besar karena bunga dan biaya keterlambatan.

Ketika penagih mulai menghubungi Siska, Dimas memintanya merahasiakan masalah tersebut dari keluarga.

“Aku pikir bisa menyelesaikannya sendiri,” katanya lirih.

Aku memandangnya dengan kecewa.

“Lalu kenapa cincin Mama yang harus dikorbankan?”

Dimas menunduk.

“Aku enggak tahu Siska mengambil cincin itu.”

Siska tertawa getir.

“Kamu memang enggak tahu cincin mana yang kuambil. Tapi kamu tahu aku menjual perhiasanku untuk membayar utangmu. Kamu bahkan meminta aku mencari uang lagi!”

Dimas terdiam.

Ayah duduk kembali dengan wajah pucat.

Aku ingin marah kepada mereka berdua.

Namun sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalaku.

“Kalau cincin itu sudah ditebus dua hari lalu, kenapa Kak Siska masih membawanya ke sini?”

Siska membeku.

Ia menatap cincin di tanganku, kemudian memalingkan wajah.

“Kakak mau mengembalikannya.”

“Kenapa tidak langsung meletakkannya di kotakku?”

“Karena…”

Kalimatnya terhenti.

Aku menunggu.

Siska akhirnya berbisik.

“Karena Kakak mau mengambil surat Mama juga.”

Jantungku seakan berhenti berdetak.

“Surat apa?”

Siska tidak menjawab.

Aku berlari ke lantai atas.

Kotak kayu di meja rias kubuka dengan tangan gemetar.

Surat Mama masih ada.

Tetapi amplopnya terlihat berbeda.

Segel perekat yang dulu kututup sendiri sudah terbuka.

Aku mengambil surat itu dan membacanya.

Isinya adalah pesan terakhir Mama tentang bagaimana aku harus menjalani hidup, menjaga Ayah, dan tidak mengorbankan kebahagiaanku demi menyenangkan orang lain.

Aku sudah membacanya puluhan kali.

Namun kali ini, ada sesuatu yang membuatku tertegun.

Di bagian belakang surat, terdapat bekas lipatan kecil yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.

Aku merabanya.

Sebuah kertas tipis terselip di antara dua lapisan amplop.

Ketika kutarik, terlihat tulisan tangan Mama.

Rania, kalau kamu menemukan catatan ini, periksa dokumen rumah bersama Ayah. Mama menyimpan salinan surat penting di brankas bank. Jangan menandatangani apa pun sebelum kamu memahami semuanya.

Aku langsung turun.

Siska masih menangis.

“Kakak mencari catatan ini?”

Ia mengangguk lemah.

“Dimas bilang ada surat lain dari Mama.”

Aku menoleh kepada kakakku.

“Mas tahu tentang surat ini?”

Dimas menggeleng terlalu cepat.

“Enggak.”

Tetapi Ayah tiba-tiba berkata dengan suara berat.

“Dimas, cukup.”

Kami semua menatapnya.

Ayah memejamkan mata.

“Papa tahu apa yang sedang kamu cari.”

Dimas membeku.

Ayah kemudian menjelaskan bahwa enam bulan sebelum meninggal, Mama pernah meminta bantuan notaris untuk mengurus kepemilikan rumah.

Rumah yang kami tempati ternyata dibeli menggunakan sebagian besar uang warisan dari orang tua Mama.

Ayah dan Mama telah menyepakati pembagian hak kepemilikan secara resmi.

Setelah Mama meninggal, bagian kepemilikannya diwariskan kepadaku melalui dokumen yang telah disahkan.

Ayah tetap memiliki bagiannya sendiri.

“Kenapa aku enggak pernah diberi tahu?” tanyaku.

“Karena Papa ingin kamu menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja dulu. Semua dokumen aman. Papa pikir belum perlu membebanimu.”

Dimas tiba-tiba berdiri.

“Jadi benar rumah ini sebagian milik Rania?”

Ayah mengangguk.

“Benar.”

Wajah kakakku berubah.

Aku mulai memahami semuanya.

“Mas ingin memakai rumah ini sebagai jaminan utang?”

Dimas tidak menjawab.

Siska justru mengeluarkan sebuah map dari tasnya yang robek.

Di dalamnya terdapat fotokopi sertifikat rumah, identitas Ayah, dan rancangan surat persetujuan penjaminan aset.

Pada halaman terakhir, ada kolom tanda tangan atas namaku.

Aku memandang Dimas dengan perasaan hancur.

“Mas mau aku menandatangani ini?”

“Aku cuma butuh pinjaman untuk membuka usaha. Setelah usahaku berjalan, semuanya akan kembali normal.”

“Dengan mempertaruhkan rumah Papa?”

“Rania, aku kakakmu!”

“Justru karena Mas kakakku, aku enggak menyangka Mas tega melakukan ini!”

Dimas membanting tangannya ke meja.

“Kamu selalu dimanjakan Mama! Bahkan setelah meninggal, Mama masih memberikan semuanya kepadamu!”

Ayah berdiri.

“Jaga ucapanmu, Dimas!”

Namun Dimas sudah telanjur kehilangan kendali.

“Aku anak laki-lakinya! Kenapa Rania yang mendapat bagian rumah lebih besar daripada aku?”

Aku menatap kakakku dengan mata panas.

Selama ini aku mengira masalah kami hanya tentang sebuah cincin.

Ternyata ada rasa iri yang dipelihara bertahun-tahun.

Siska tiba-tiba berdiri dan meletakkan ponselnya di meja.

“Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu.”

Dimas langsung membentak.

“Siska, diam!”

Namun Siska mengabaikannya.

Ia memutar sebuah rekaman suara.

Suara Dimas terdengar jelas.

“Kalau Rania enggak mau tanda tangan, bilang saja Papa butuh biaya pengobatan. Dia pasti luluh. Surat Mama juga harus kamu cari. Siapa tahu ada informasi rekening atau dokumen lain.”

Aku menutup mulut.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Mas mau menggunakan kesehatan Papa untuk membohongiku?”

Dimas mencoba menjelaskan, tetapi Ayah mengangkat tangan.

“Sudah.”

Suara Ayah pelan, namun tegas.

“Papa tidak pernah mengajarkan kalian menyelesaikan masalah dengan mengkhianati keluarga.”

Dimas akhirnya terduduk.

Siska mengusap air matanya.

“Aku salah karena mengambil cincin itu. Aku takut penagih datang ke rumah. Aku juga takut Dimas melakukan sesuatu yang nekat. Tapi itu bukan alasan untuk mencuri.”

Ia menatapku.

“Aku sudah menebus cincin itu memakai uang hasil menjual motorku. Aku datang hari ini untuk mengembalikannya. Soal surat Mama, aku sempat berniat mencarinya karena Dimas terus mendesak. Tapi setelah melihat cincin itu lagi, aku enggak sanggup.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

“Kenapa enggak cerita dari awal?”

“Karena aku malu. Aku ingin terlihat seperti menantu yang baik. Aku takut kalau kalian tahu masalah kami, kalian akan membenciku.”

Aku menarik napas panjang.

“Kak, orang baik juga bisa melakukan kesalahan. Tapi kalau terus menutupinya dengan kebohongan, orang lain yang akhirnya terluka.”

Siska menunduk.

Malam itu, Ayah meminta Dimas dan Siska pulang.

Bukan karena beliau tidak lagi menganggap mereka keluarga, melainkan karena kami semua membutuhkan waktu untuk berpikir.

Keesokan harinya, aku menemani Ayah menemui notaris.

Kami memeriksa seluruh dokumen rumah dan memastikan tidak ada persetujuan penjaminan aset yang pernah diberikan.

Aku juga mengganti kata sandi akun penting, memeriksa penyalahgunaan data pribadiku, dan menyimpan seluruh bukti percakapan terkait pinjaman Dimas.

Ayah menegaskan bahwa beliau tidak akan menjaminkan rumah untuk menutupi utang tersebut.

Dimas harus bertanggung jawab atas keputusan keuangannya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Siska datang sendirian.

Kali ini tanpa tas kulit cokelat.

Ia membawa sebuah amplop berisi uang.

“Ini untuk mengganti biaya yang kamu keluarkan saat mengurus dokumen dan keamanan data,” katanya.

Aku menolak amplop itu.

“Pakai dulu untuk kebutuhanmu, Kak. Tapi aku ingin Kakak tahu, kepercayaanku belum kembali.”

Siska mengangguk.

“Aku mengerti.”

Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya sudah tinggal sementara bersama orang tuanya.

Ia dan Dimas sedang menjalani konseling pernikahan. Dimas juga mulai bekerja tambahan dan berusaha menyelesaikan utangnya melalui jalur yang benar.

“Aku belum tahu apakah pernikahan kami bisa diselamatkan,” ucap Siska. “Tapi aku enggak mau lagi hidup dengan kebohongan.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Siska tanpa senyum sempurna yang selalu dipasangnya di depan keluarga.

Ia terlihat lelah.

Namun juga lebih jujur.

Sebelum pulang, Siska menatap Bima yang sedang tidur di dekat jendela.

“Kucingmu ternyata lebih pintar daripada kita semua.”

Aku tersenyum tipis.

“Dia cuma tahu ada sesuatu yang enggak beres.”

Setelah Siska pergi, aku mengambil cincin Mama dari kotak kayu.

Aku memutuskan memakainya untuk pertama kali.

Cincin itu terasa sedikit longgar di jariku.

Saat sedang memperhatikannya, Ayah masuk membawa sebuah kotak kecil.

“Papa hampir lupa memberikan ini.”

Di dalamnya terdapat foto lama Mama sedang menggendong seekor anak kucing hitam.

Aku terkejut.

“Papa, ini…”

Ayah tersenyum sedih.

“Itu kucing yang Mama pelihara sebelum kamu lahir. Namanya juga Bima.”

Aku memandang foto itu lama sekali.

“Kenapa Papa enggak pernah cerita?”

“Papa baru ingat waktu melihat Bima tidur di kursi kesukaan Mama. Dulu Mama selalu bilang, kucing hitam bukan pembawa sial. Mereka hanya sering disalahpahami.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

Malam itu, aku duduk di kamar dan kembali membaca surat Mama.

Ada satu kalimat yang selama ini sering kulewati begitu saja.

Jangan pernah mengukur kasih sayang seseorang dari seberapa manis kata-katanya. Lihatlah apa yang ia lakukan ketika tidak ada orang yang memperhatikan.

Aku menatap cincin di jariku.

Selama ini aku menganggap peninggalan Mama hanyalah dua benda berharga.

Sebuah surat dan sebuah cincin.

Ternyata Mama meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Keberanian untuk mengatakan tidak.

Keberanian untuk melindungi diri sendiri.

Dan keberanian untuk menerima bahwa orang yang kita cintai pun bisa mengecewakan kita.

Tiga bulan kemudian, Dimas datang meminta maaf.

Ia tidak membawa hadiah, tidak meminta uang, dan tidak mencoba membenarkan kesalahannya.

Ia hanya duduk di hadapanku dan berkata, “Aku iri kepadamu sejak Mama masih hidup. Aku selalu merasa Mama lebih menyayangimu. Padahal aku terlalu sibuk menghitung apa yang kamu dapatkan sampai lupa melihat apa yang sudah diberikan kepadaku.”

Aku mendengarkannya sampai selesai.

“Aku belum bisa percaya lagi seperti dulu, Mas.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku berharap Mas benar-benar berubah. Bukan supaya dimaafkan, melainkan supaya Mas enggak menyakiti siapa pun lagi.”

Dimas mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Kami tidak langsung berpelukan.

Tidak semua luka sembuh hanya karena seseorang mengucapkan maaf.

Namun hari itu, untuk pertama kalinya, kakakku tidak meminta apa pun dariku.

Ketika ia hendak pulang, Bima berjalan mendekatinya.

Dimas berhenti, lalu mengulurkan tangan dengan hati-hati.

Bima mengendus jemarinya.

Setelah beberapa detik, kucing itu membiarkan Dimas mengelus kepalanya.

Aku tersenyum.

Mungkin Bima tidak pernah benar-benar membenci siapa pun.

Ia hanya melindungi sesuatu yang tidak mampu dijaga oleh manusia.

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di balik atap rumah, aku menggendong Bima dan duduk di kursi kesukaan Mama.

Cincin safir di jariku berkilau terkena cahaya senja.

Aku akhirnya mengerti mengapa Mama berpesan agar aku tidak menyerahkannya hanya karena merasa tidak enak menolak.

Mama bukan sedang mengajariku mempertahankan emas.

Beliau sedang mengajariku mempertahankan harga diri.

Dan kadang-kadang, orang pertama yang harus kita hadapi untuk mempertahankannya justru seseorang yang selama ini kita panggil keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang