Tengah malam, seorang nenek berusia 72 tahun nekat memanjat pagar untuk kabur dari rumah anaknya. Ketika ia mengungkap alasan sebenarnya, semua orang yang mendengarnya tak kuasa menahan air mata…

“Bu Sulastri? Ya Allah, Ibu mau ke mana jam segini?”

Suara laki-laki dari dalam mobil itu membuat tubuh Bu Sulastri gemetar semakin hebat.

Perempuan berusia 72 tahun itu berdiri terpaku di tengah gang sempit kawasan Bekasi. Sandal jepitnya basah oleh genangan air, lutut kanannya berdarah, sementara sebuah tas kain lusuh menggantung di bahunya.

Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari.

Laki-laki yang baru saja turun dari mobil adalah Pak Hendra, tetangga lama yang rumahnya hanya berjarak beberapa pintu dari kediaman Arif.

Pak Hendra baru pulang mengantar istrinya ke rumah sakit ketika melihat seorang perempuan tua berjalan sendirian.

Namun yang membuatnya benar-benar terkejut bukanlah keadaan Bu Sulastri.

Melainkan amplop cokelat tua yang digenggam erat di tangan perempuan itu.

“Bu, kenapa sampai keluar lewat pagar? Tadi saya lihat bangku plastik di samping rumah Arif. Ibu jatuh?”

Bu Sulastri buru-buru menyembunyikan amplop tersebut ke dalam tas.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma mau pulang.”

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah saya sendiri.”

Pak Hendra terdiam.

Selama enam tahun mengenal keluarga itu, ia selalu mengira Bu Sulastri hidup bahagia bersama anak sulungnya.

Setiap pagi perempuan tersebut terlihat menyiram tanaman. Sesekali ia mengantar cucunya sampai depan pagar. Kalau ada tetangga yang menyapa, senyumnya tidak pernah hilang.

Tetapi malam itu, wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh tempat berlindung.

“Rumah Ibu di Klaten?”

Bu Sulastri mengangguk.

“Naik apa jam segini?”

“Saya belum tahu, Pak.”

Jawaban itu membuat dada Pak Hendra sesak.

Ia membuka pintu belakang mobil.

“Masuk dulu, Bu. Kita bicara di rumah saya. Luka Ibu harus dibersihkan.”

Bu Sulastri menggeleng.

“Jangan bilang Arif, ya, Pak. Saya mohon.”

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Pak Hendra tidak sanggup membantah.

Akhirnya ia membawa perempuan tua itu pulang ke rumahnya.

Istri Pak Hendra, Bu Ratna, yang baru selesai menjalani pemeriksaan di rumah sakit, langsung mengambil kotak obat ketika melihat lutut Bu Sulastri.

“Astaga, Bu Lastri. Kenapa sampai begini?”

Bu Sulastri hanya menunduk.

Saat Bu Ratna membersihkan lukanya, perempuan tua itu berusaha menahan tangis. Namun ketika kapas menyentuh kulitnya yang tergores, air matanya akhirnya jatuh.

“Bukan sakit lukanya yang bikin saya menangis, Ratna.”

“Lalu apa, Bu?”

Bu Sulastri memandang kedua tetangganya bergantian.

“Saya sudah tidak punya tempat di rumah anak saya sendiri.”

Kalimat itu keluar begitu pelan, tetapi membuat ruang tamu mendadak sunyi.

Perlahan, Bu Sulastri menceritakan semuanya.

Tentang sindiran Rina setiap kali ia mengambil makanan. Tentang lampu kamar mandi yang lupa dimatikan. Tentang uang pensiun yang diam-diam ia gunakan untuk membeli kebutuhan cucunya.

Dan tentang percakapan yang didengarnya beberapa jam sebelumnya.

“Rina mau menjual tanah saya di Klaten. Katanya uangnya bisa dipakai kalau saya nanti dimasukkan ke panti lansia.”

Bu Ratna menutup mulutnya.

“Arif bilang apa?”

Bu Sulastri menggeleng.

“Itulah yang paling menyakitkan. Anak saya tidak membela saya.”

Pak Hendra menarik napas panjang.

“Bu, tanah itu masih atas nama Ibu, kan?”

“Masih.”

“Lalu kenapa Ibu membawa amplop itu?”

Bu Sulastri membuka tas kainnya.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan amplop cokelat yang sudut-sudutnya sudah menguning.

Tangannya bergetar ketika mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Ada surat lama, fotokopi sertifikat tanah, dan selembar kuitansi bertanggal hampir tiga puluh tahun lalu.

Pak Hendra memperhatikan kuitansi tersebut.

Nama yang tertulis di sana membuat dahinya berkerut.

“Ini pembayaran apa, Bu?”

Bu Sulastri menatap kertas itu cukup lama sebelum menjawab.

“Biaya sekolah Arif.”

Pak Hendra terdiam.

“Sebanyak ini?”

Bu Sulastri tersenyum pahit.

“Dulu Arif hampir berhenti kuliah karena bapaknya terkena PHK. Kami tidak punya uang. Jadi saya menjual sawah warisan orang tua saya.”

Ia mengusap matanya.

“Suami saya sampai menangis waktu itu. Katanya, tanah itu satu-satunya pegangan kami.”

“Lalu kenapa tetap dijual?”

“Karena Arif bilang ingin menjadi orang berhasil supaya nanti bisa menjaga kami.”

Bu Ratna menggenggam tangan perempuan tua itu.

“Dan sekarang?”

Bu Sulastri tertawa kecil, tetapi air matanya terus mengalir.

“Sekarang saya malah takut menjadi tanggung jawabnya.”

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Kemudian Bu Sulastri mengeluarkan selembar surat lain.

Kertas itu ditulis tangan dengan tinta biru yang mulai memudar.

“Ini surat almarhum suami saya. Dia menulisnya sebelum meninggal.”

Pak Hendra membaca beberapa baris pertama.

Surat tersebut bukan wasiat mengenai pembagian harta.

Melainkan pesan seorang suami kepada istrinya.

Jika suatu hari anak-anak terlalu sibuk dengan hidup mereka, pulanglah ke rumah kita. Jangan merasa bersalah karena ingin hidup tenang. Rumah itu kubangun bukan supaya anak-anak berebut warisan, melainkan supaya kamu selalu punya tempat untuk kembali.

Bu Ratna tidak sanggup menahan tangis.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Karena saya malu.”

“Malu kenapa?”

“Malu mengakui bahwa saya tidak bahagia tinggal bersama anak yang saya besarkan sendiri.”

Menjelang subuh, Pak Hendra menawarkan diri mengantar Bu Sulastri ke terminal setelah lukanya membaik.

Namun sebelum mereka sempat berangkat, telepon genggam Pak Hendra berdering.

Nama Arif muncul di layar.

“Pak Hendra, maaf mengganggu pagi-pagi. Bapak lihat Ibu saya?”

Pak Hendra melirik Bu Sulastri.

Perempuan itu langsung menggeleng ketakutan.

“Ibu ada bersama saya. Beliau aman.”

“Apa? Kok bisa?”

“Lebih baik kamu datang ke rumah saya.”

Dua puluh menit kemudian, Arif tiba bersama Rina.

Wajah Arif pucat. Sementara Rina terlihat kesal karena harus keluar rumah sebelum matahari terbit.

Begitu melihat Bu Sulastri duduk di sofa, Rina langsung berseru.

“Ibu! Kenapa pergi diam-diam? Kami sampai panik! Kalau tetangga tahu, mereka pasti mengira kami memperlakukan Ibu macam-macam!”

Bu Sulastri menunduk.

Pak Hendra berdiri.

“Bu Rina, sebaiknya bicara baik-baik.”

“Tapi ini urusan keluarga kami, Pak.”

“Benar. Dan saya berharap keluarga ini masih tahu bagaimana memperlakukan orang tua.”

Rina terdiam, wajahnya memerah.

Arif mendekati ibunya.

“Bu, kenapa tidak bilang kalau mau pulang ke Klaten?”

Bu Sulastri mengangkat wajah.

“Kalau Ibu bilang, kamu akan mengizinkan?”

“Tentu saja, Bu.”

“Lalu kenapa semalam kamu membicarakan menjual tanah Ibu untuk biaya panti lansia?”

Wajah Arif langsung berubah.

Rina menoleh tajam kepada suaminya.

“Ibu menguping pembicaraan kami?”

Bu Sulastri menatap menantunya.

“Ibu cuma mau mengambil air minum.”

“Jadi Ibu salah paham. Kami cuma sedang membicarakan kemungkinan.”

“Rina.”

Untuk pertama kalinya, suara Bu Sulastri terdengar tegas.

“Kalau suatu hari kamu sudah tua, lalu anakmu membicarakan ke mana kamu akan dipindahkan tanpa bertanya kepadamu, bagaimana perasaanmu?”

Rina membuka mulut, tetapi tidak menjawab.

Bu Sulastri melanjutkan.

“Ibu tidak marah kalau kalian merasa keberatan merawat Ibu. Ibu tahu kalian punya banyak pengeluaran. Tapi kenapa tidak bicara langsung?”

Arif duduk di hadapannya.

“Bu, aku tidak pernah berniat membuang Ibu.”

“Tapi kamu juga tidak pernah membela Ibu.”

Kalimat itu membuat Arif membeku.

Bu Sulastri mengambil amplop dari tasnya.

“Kamu ingat ini?”

Arif menerima kuitansi lama tersebut.

Ia membaca tanggal dan nama perguruan tinggi yang tertera di sana.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Ini… biaya kuliahku?”

Bu Sulastri mengangguk.

“Dulu bapakmu ingin mempertahankan sawah. Tapi Ibu bilang pendidikanmu lebih penting.”

Arif menunduk.

“Kamu pernah berjanji akan membelikan Ibu rumah besar kalau sudah bekerja.”

“Aku ingat, Bu.”

“Ibu tidak pernah meminta rumah besar itu, Rif. Ibu cuma ingin punya tempat di mana Ibu tidak takut mengambil sepotong ayam dari meja makan.”

Air mata Arif jatuh ke atas kuitansi.

Rina yang sejak tadi berdiri akhirnya duduk perlahan.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi, telepon Rina berbunyi.

Ia melihat layar dan langsung mematikannya.

Beberapa detik kemudian, telepon itu kembali berdering.

Arif mengerutkan kening.

“Siapa?”

“Bukan siapa-siapa.”

“Rina, siapa?”

Rina tampak gugup.

“Agen properti.”

Bu Sulastri menatap menantunya.

“Agen properti?”

Arif merebut perhatian istrinya dengan tatapan tajam.

“Properti apa?”

Rina tidak menjawab.

Akhirnya Arif meminta melihat percakapan di ponselnya.

Ternyata selama dua minggu terakhir, Rina telah menghubungi seorang perantara tanah di Klaten.

Ia bahkan sudah mengirimkan foto rumah peninggalan ayah Arif dan menanyakan perkiraan harga jualnya.

“Rina! Kamu melakukan ini tanpa sepengetahuanku?”

“Aku cuma mencari informasi!”

“Kamu bilang semalam baru terpikir menjual tanah itu!”

Rina mulai menangis.

“Aku capek, Mas! Aku capek mengurus semuanya!”

“Urus apa?” tanya Bu Sulastri lirih.

Rina terdiam.

“Setiap pagi Ibu memasak. Ibu menjaga anak-anak kalau kalian lembur. Ibu mencuci pakaian sendiri. Kalau Ibu sakit, Ibu pergi ke puskesmas pakai uang pensiun.”

Bu Sulastri menarik napas.

“Bagian mana yang paling memberatkanmu, Nak?”

Pertanyaan itu membuat Rina tidak sanggup menatapnya.

Setelah lama terdiam, Rina akhirnya mengaku.

Tiga bulan sebelumnya, ia kehilangan sebagian besar tabungannya karena tertipu investasi daring. Uang tersebut awalnya disiapkan untuk biaya pendidikan kedua anaknya.

Ia takut mengaku kepada Arif.

Ketika mengetahui harga tanah di Klaten meningkat, ia mulai berpikir menjual tanah mertuanya dapat menyelesaikan masalah.

“Aku panik, Mas. Aku takut kamu marah.”

Arif memejamkan mata.

“Jadi kamu memilih membuat Ibu merasa tidak diinginkan?”

Rina menangis semakin keras.

“Aku tidak menyangka Ibu sampai pergi.”

Bu Sulastri memandangnya tanpa kebencian.

“Rina, kalau kamu sedang kesulitan, seharusnya bilang. Ibu mungkin tidak punya banyak uang, tapi Ibu masih punya telinga untuk mendengarkan.”

Rina menutup wajahnya.

“Maafkan aku, Bu.”

Bu Sulastri tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengambil tas kainnya dan berdiri.

“Ibu tetap akan pulang ke Klaten.”

Arif segera memegang tangannya.

“Jangan, Bu. Aku janji semuanya akan berubah.”

Bu Sulastri tersenyum sedih.

“Dulu kamu juga pernah berjanji begitu kepada bapakmu.”

Arif terdiam.

“Ibu tidak pergi karena membenci kalian. Ibu pergi karena ingin menjalani sisa umur Ibu tanpa merasa menjadi beban.”

Arif menangis sambil berlutut di hadapan ibunya.

“Kasih aku kesempatan, Bu.”

Bu Sulastri mengusap rambut putranya seperti ketika Arif masih kecil.

“Kesempatan itu bukan untuk menahan Ibu di sini. Kesempatanmu adalah belajar menjadi ayah yang tidak membuat anak-anakmu takut pulang.”

Seminggu kemudian, Bu Sulastri benar-benar kembali ke Klaten.

Arif mengantarnya sendiri.

Ketika mobil memasuki halaman rumah sederhana yang sudah lama kosong, Bu Sulastri langsung menangis.

Pohon mangga yang ditanam suaminya masih berdiri di samping sumur.

Dinding rumah memang mulai kusam, tetapi lantainya masih utuh. Beberapa tetangga lama datang membantu membersihkan halaman.

Arif berusaha membujuk ibunya kembali ke Bekasi setelah rumah diperbaiki.

Namun Bu Sulastri menolak dengan lembut.

“Ibu ingin tinggal di sini.”

Tiga hari kemudian, saat membersihkan lemari kayu peninggalan ayahnya, Arif menemukan sebuah kotak besi kecil.

Di dalamnya terdapat buku tabungan lama, beberapa surat, dan sebuah buku catatan.

Arif membuka halaman pertama.

Tulisan tangan ayahnya memenuhi hampir seluruh halaman.

Hari ini Sulastri menjual sawah warisannya. Aku tahu dia menangis diam-diam semalam. Arif tidak boleh tahu berapa besar pengorbanan ibunya. Biarlah anak itu belajar dengan tenang.

Arif membalik halaman berikutnya.

Ada catatan mengenai biaya kuliah, biaya kos, uang makan, hingga biaya wisuda.

Pada halaman terakhir, ayahnya menulis sesuatu yang membuat Arif terduduk di lantai.

Kalau suatu hari Arif membaca buku ini, Bapak cuma ingin kamu tahu satu hal. Ibumu tidak pernah meminta kamu membalas semua pengorbanannya. Dia hanya ingin kamu hidup baik. Tetapi kalau kamu sudah mampu membahagiakan banyak orang, jangan sampai ibumu menjadi satu-satunya orang yang takut meminta segelas air di rumahmu.

Arif menangis begitu keras hingga Bu Sulastri datang dari dapur.

“Rif, kenapa?”

Arif memeluk kaki ibunya.

“Maafkan aku, Bu. Aku benar-benar tidak tahu.”

Bu Sulastri memeluk bahu putranya.

“Kamu tidak harus tahu semuanya, Nak.”

“Tapi aku seharusnya melihat penderitaan Ibu.”

Bu Sulastri mengusap air matanya.

“Kalau begitu, mulai sekarang lihatlah orang-orang yang masih ada di sekitarmu.”

Setelah kembali ke Bekasi, Arif tidak langsung meminta Rina melupakan kejadian tersebut.

Mereka mulai menjalani konseling keluarga dan menyusun ulang keuangan rumah tangga. Rina mengakui kesalahannya kepada anak-anak tanpa menyalahkan nenek mereka.

Sementara itu, Arif mulai rutin menelepon ibunya setiap malam.

Bukan untuk menyuruhnya pulang.

Melainkan untuk bertanya apakah ia sudah makan, bagaimana keadaan kebunnya, dan apakah bunga melati di depan rumah sudah mekar.

Dua bulan kemudian, Arif datang ke Klaten bersama Rina dan kedua anaknya.

Rina membawa bibit mawar putih.

“Bu, boleh saya tanam ini di halaman?”

Bu Sulastri mengangguk.

“Boleh. Tapi kamu harus rajin menyiramnya kalau datang lagi.”

Rina menangis sambil tersenyum.

“Saya akan datang lagi, Bu.”

Malam itu, setelah semua orang tidur, Arif melihat ibunya duduk sendirian di teras.

Ia menghampirinya.

“Bu, ada yang ingin kutanyakan.”

“Apa, Rif?”

“Waktu Ibu memanjat pagar malam itu, kenapa Ibu membawa amplop surat Bapak? Kenapa bukan sertifikat tanah yang asli?”

Bu Sulastri terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab pelan.

“Karena Ibu takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau Ibu meninggal di jalan, orang-orang cuma menemukan perempuan tua tanpa identitas yang membawa sedikit pakaian.”

Arif merasakan dadanya seperti diremas.

“Jadi Ibu membawa surat Bapak supaya orang tahu siapa Ibu?”

Bu Sulastri menggeleng.

“Bukan.”

Ia menatap halaman yang diterangi cahaya bulan.

“Di amplop itu ada alamat rumah ini. Ibu berharap, kalau sesuatu terjadi, ada orang yang mau mengantarkan Ibu pulang.”

Arif menangis tanpa suara.

Bu Sulastri menggenggam tangan putranya.

“Tapi sekarang Ibu sudah sampai, Rif. Ibu sudah pulang.”

Keesokan paginya, sebelum kembali ke Bekasi, Arif memasang sebuah papan kayu kecil di dekat pintu rumah.

Ia menuliskan nama kedua orang tuanya di sana.

Rumah Sulastri dan Darsono.

Ketika melihat papan itu, Bu Sulastri tersenyum.

“Kenapa repot-repot, Nak?”

Arif memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Supaya semua orang tahu rumah ini milik siapa.”

Bu Sulastri menggeleng lembut.

“Rumah bukan soal nama yang tertulis di pintu, Rif.”

“Lalu soal apa, Bu?”

“Soal siapa yang membuat kita merasa diterima ketika pulang.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika Bu Sulastri akhirnya meninggal dengan tenang di rumah kecilnya di Klaten, Arif menemukan amplop cokelat tua itu tersimpan rapi di bawah bantal ibunya.

Di dalamnya masih ada surat ayahnya.

Namun kini terdapat selembar kertas baru dengan tulisan tangan Bu Sulastri.

Untuk anak-anakku, Ibu tidak pernah menyesal membesarkan kalian. Ibu juga tidak pernah menghitung berapa banyak yang sudah Ibu berikan. Kalau suatu hari kalian menjadi tua, semoga kalian selalu punya rumah yang pintunya terbuka tanpa harus meminta izin untuk masuk.

Di bagian paling bawah, ada satu kalimat yang membuat Arif kembali menangis seperti anak kecil.

Ibu sudah memaafkan kalian sejak malam ketika Ibu memanjat pagar itu. Ibu hanya membutuhkan waktu untuk belajar mencintai diri Ibu sendiri.

Arif menyimpan surat tersebut sepanjang hidupnya.

Dan sejak hari itu, setiap kali seseorang bertanya mengapa ia begitu perhatian kepada orang-orang lanjut usia di lingkungannya, Arif selalu menjawab dengan kalimat yang sama.

“Karena dulu, ibu saya harus memanjat pagar rumah anaknya sendiri hanya untuk menemukan jalan pulang.”

Ia kemudian terdiam sebelum menambahkan sesuatu yang tidak pernah gagal membuat orang-orang di sekitarnya menundukkan kepala.

“Padahal, seharusnya sayalah yang membukakan pintu untuknya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang