“Selama dua belas tahun, kami berempat mengirimkan uang miliaran rupiah demi memberikan kehidupan yang layak kepada Ayah. Namun, ketika kami pulang ke Indonesia secara bersamaan tanpa memberi kabar, yang kami temukan bukanlah rumah baru… melainkan sebuah perahu tua yang nyaris hancur dimakan usia di tepi danau.”

“Jangan mendekat! Kalian bisa ikut celaka!”

Itulah enam kata pertama yang keluar dari mulut Ayah ketika melihat kami berempat berdiri di tepi Danau Rawa Pening.

Aku membeku.

Selama dua belas tahun, aku membayangkan bagaimana Ayah akan menyambut kepulangan kami. Mungkin beliau akan menangis bahagia, memeluk kami satu per satu, lalu mengajak kami makan bersama seperti dahulu.

Namun, lelaki tua yang duduk di dalam perahu reyot itu justru terlihat ketakutan.

“Ayah, ini Laras,” ucapku dengan suara bergetar. “Kami pulang, Yah.”

Ayah menatap wajahku lama sekali. Matanya yang cekung mulai berkaca-kaca.

“Laras? Raka? Dimas? Sari?”

Sari tidak mampu menahan diri. Dia berlari mendekat, berlutut di samping perahu, lalu menggenggam kedua tangan Ayah.

“Ya Allah, Ayah kenapa sampai begini?”

Kulit tangan Ayah kasar dan dipenuhi bekas luka. Tubuhnya begitu ringan ketika Raka membantu beliau berdiri, seolah hampir tidak ada lagi daging yang menempel pada tulangnya.

“Ayah sudah makan?” tanya Dimas.

Ayah mengangguk, tetapi matanya justru melirik wadah plastik berisi ikan asin.

Aku membuka termos kusam di dekat kakinya. Isinya hanya air putih yang sudah dingin.

Dadaku terasa sesak.

“Ayah, selama ini uang yang kami kirim dipakai untuk apa?”

Pertanyaan itu membuat wajah Ayah berubah.

Beliau menunduk, lalu berbisik, “Kalian masih mengirim uang?”

Kami saling berpandangan.

“Ayah tidak tahu?” tanyaku.

Ayah menggeleng pelan.

“Bagas bilang kalian sudah tidak mau mengurus Ayah. Katanya, kalian punya keluarga dan kehidupan sendiri. Ayah tidak boleh mengganggu.”

Sari langsung menangis tersedu-sedu.

“Itu bohong, Yah! Kami mengirim uang setiap bulan!”

Raka mengepalkan tangan.

“Bagas sudah keterlaluan.”

Namun, Ayah tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

“Jangan cari dia sekarang.”

“Kenapa, Yah?”

Ayah memandang ke arah jalan setapak di belakang kami.

“Dia punya orang yang mengawasi tempat ini.”

Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggung.

Belum sempat bertanya lebih jauh, sebuah sepeda motor berhenti sekitar lima puluh meter dari perahu. Pengendaranya mengenakan jaket hitam dan helm tertutup.

Lelaki itu memperhatikan kami beberapa detik sebelum berbalik arah.

Ayah langsung gemetar.

“Sudah terlambat,” bisiknya.

Kami membawa Ayah ke sebuah klinik di Ambarawa. Dokter menemukan tanda-tanda kekurangan gizi, anemia, dan infeksi pada luka di kedua kakinya. Beliau harus menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.

Ketika perawat membersihkan luka Ayah, aku melihat bekas memar lama di lengan kirinya.

“Ayah jatuh?”

Beliau diam.

“Ayah, tolong jawab.”

“Ayah sudah tua, Nak. Kadang suka terbentur.”

Aku tahu beliau berbohong.

Malam itu, setelah Ayah tertidur di ruang perawatan, kami berkumpul di lorong rumah sakit.

Dimas membuka laptop dan menunjukkan catatan transfer yang selama ini disimpannya.

“Dua belas tahun. Total uang kita hampir delapan miliar rupiah. Sebagian dikirim langsung ke rekening Bagas, sebagian lagi ke rekening atas nama Ayah yang katanya dia kelola.”

Raka memukul pahanya sendiri.

“Kita bodoh sekali.”

“Jangan menyalahkan diri dulu,” kataku. “Kita harus tahu semuanya.”

Sari mengusap air matanya.

“Aku pernah minta video call dengan Ayah. Bagas selalu bilang sinyal jelek atau Ayah sedang tidur.”

Aku teringat sesuatu.

“Foto-foto yang dia kirim selalu memperlihatkan Ayah duduk di teras yang sama.”

Dimas segera membuka folder foto lama.

Setelah memperbesar beberapa gambar, kami menemukan sesuatu yang mengerikan.

Jam dinding di belakang Ayah menunjukkan pukul 09.15 pada enam foto yang katanya diambil pada bulan berbeda.

Bahkan lipatan taplak mejanya sama persis.

Bagas telah menggunakan foto lama berulang kali.

Keesokan paginya, kami mendatangi rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga kami.

Pemilik rumah bernama Pak Hendra. Setelah mengetahui identitas kami, beliau mengundang kami masuk dan menunjukkan salinan dokumen pembelian rumah.

“Rumah ini saya beli enam tahun lalu,” katanya.

“Dari siapa?”

“Bagas Prasetyo. Dia membawa surat kuasa dari Pak Darma.”

Aku membaca dokumen itu dengan tangan gemetar.

Tanda tangan Ayah tercantum di halaman terakhir.

Namun, ada sesuatu yang janggal.

Ayah selalu menulis namanya dengan huruf D yang melengkung panjang. Tanda tangan pada surat tersebut berbeda.

“Bapak pernah bertemu langsung dengan Ayah kami?”

Pak Hendra menggeleng.

“Tidak. Semua diurus Bagas dan seseorang yang mengaku sebagai perwakilan keluarga.”

Beliau kemudian menunjukkan foto saat penyerahan kunci rumah.

Di dalam foto itu, Bagas berdiri bersama seorang lelaki berjas abu-abu.

Aku mengenali wajah lelaki tersebut.

Namanya Surya.

Dia adalah teman lama mendiang suamiku yang pernah bekerja sebagai perantara jual beli properti.

Yang lebih mengejutkan, enam bulan sebelumnya, Surya sempat menghubungiku di Spanyol dan menawarkan investasi tanah di sekitar Rawa Pening.

Aku menolaknya karena sedang menabung untuk membangun rumah Ayah.

Mengapa dia terlibat dalam penjualan rumah keluarga kami?

Kami belum menemukan jawabannya ketika teleponku berdering.

Nama Bagas muncul di layar.

Aku mengangkatnya sambil mengaktifkan pengeras suara.

“Halo, Tante Laras. Katanya Tante pulang ke Indonesia?”

Suaranya terdengar ramah seperti biasa.

“Iya, Gas. Kami sedang bersama Ayah.”

Hening beberapa detik.

“Oh, bagus dong. Kakek sehat, kan?”

Aku hampir kehilangan kesabaran.

“Kamu tahu Ayah tinggal di perahu?”

Bagas tertawa kecil.

“Ah, Kakek memang keras kepala. Sudah saya suruh tinggal di rumah, tetapi beliau lebih suka dekat danau.”

“Rumah yang mana, Gas? Rumah lama sudah kamu jual.”

Kali ini dia tidak langsung menjawab.

“Tante jangan percaya omongan orang. Nanti saya jelaskan.”

“Kami juga ingin tahu ke mana hampir delapan miliar rupiah yang kami kirim.”

Nada suaranya mendadak berubah.

“Tante sebaiknya jangan ikut campur urusan yang tidak Tante pahami.”

Telepon terputus.

Raka langsung berdiri.

“Aku akan cari dia.”

“Tidak,” kataku. “Kita cari bukti dulu.”

Sore harinya, seorang perempuan paruh baya mendatangi rumah sakit.

Namanya Bu Wati, penjual makanan di dekat dermaga.

Begitu melihat Ayah, dia menangis.

“Pak Darma, akhirnya anak-anak Bapak pulang juga.”

Bu Wati bercerita bahwa Ayah mulai tinggal di perahu sekitar lima tahun lalu.

Awalnya, Bagas mengatakan rumah sedang direnovasi. Ayah diminta pindah sementara ke sebuah kontrakan kecil.

Namun, beberapa bulan kemudian, Bagas berhenti membayar sewa.

Ayah terpaksa pergi.

“Beliau pernah bekerja membersihkan perahu wisata,” kata Bu Wati. “Kalau ada sisa makanan, saya bungkuskan. Tetapi beliau sering menolak karena malu.”

Aku menutup mulut.

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu kami?”

Bu Wati mengeluarkan sebuah ponsel tua dari tasnya.

“Pak Darma pernah meminjam telepon saya untuk menghubungi Mbak Laras. Tetapi nomor yang diberikan Bagas ternyata bukan nomor Mbak.”

Aku memeriksa nomor itu.

Nomornya berbeda dua angka dari nomor lamaku.

Bu Wati melanjutkan dengan suara pelan.

“Dua tahun lalu, Pak Darma pernah mencoba melapor. Tetapi setelah itu ada orang datang mengancam beliau. Katanya, kalau beliau terus mencari masalah, anak-anaknya di luar negeri akan celaka.”

Kini aku mengerti mengapa Ayah menyuruh kami menjauh.

Beliau bukan tidak ingin bertemu kami.

Beliau takut kehilangan kami.

Malam itu, Ayah akhirnya bersedia menceritakan semuanya.

Enam tahun sebelumnya, Bagas datang membawa beberapa dokumen. Dia mengatakan rumah keluarga harus dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman renovasi.

Ayah yang tidak memahami urusan administrasi menandatangani beberapa lembar kertas.

Beberapa bulan kemudian, rumah itu berpindah tangan.

“Bagas bilang Ayah harus diam,” ujar Ayah. “Katanya, kalau kalian tahu, kalian akan pulang dan kehilangan pekerjaan.”

“Ayah percaya?”

Ayah menatapku dengan mata basah.

“Ayah tidak tahu harus percaya siapa, Ras. Setiap kali Ayah meminta bicara dengan kalian, Bagas bilang kalian sedang sibuk. Lama-lama Ayah merasa mungkin memang sudah tidak dibutuhkan.”

Aku memeluk beliau erat.

“Tidak pernah, Yah. Tidak satu hari pun kami berhenti memikirkan Ayah.”

Ayah menangis tanpa suara.

Keesokan harinya, kami mendatangi kantor polisi dengan membawa bukti transfer, foto, dokumen penjualan rumah, dan keterangan Bu Wati.

Seorang penyidik bernama Inspektur Aditya menerima laporan kami.

Namun, penyelidikan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan kami.

Rekening Bagas ternyata menerima uang dari beberapa keluarga pekerja migran lainnya.

Polanya hampir sama.

Anggota keluarga bekerja di luar negeri, sementara Bagas menawarkan jasa mengurus orang tua atau properti mereka di Indonesia.

Uang masuk secara rutin, tetapi sebagian besar dialihkan ke perusahaan yang dikendalikan Surya.

Perusahaan itu bergerak dalam bisnis properti dan investasi wisata.

Yang membuatku semakin marah, salah satu proyek mereka adalah pembangunan penginapan mewah di sekitar Rawa Pening.

Tanah yang dahulu milik keluarga kami ternyata menjadi bagian dari rencana pengembangan proyek tersebut.

“Jadi rumah Ayah dijual untuk membiayai bisnis mereka?” tanyaku.

Inspektur Aditya mengangguk.

“Itu salah satu dugaan yang sedang kami selidiki. Tetapi kami membutuhkan bukti hubungan antara transaksi dan pemalsuan dokumen.”

Dimas kemudian menemukan petunjuk penting.

Selama bertahun-tahun, Bagas mengirimkan laporan pengeluaran bulanan melalui email. Kami jarang memeriksanya secara terperinci karena jumlahnya terlihat wajar.

Namun, setelah dicocokkan, beberapa kuitansi berasal dari toko yang sudah tutup sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Ada pula tagihan pengobatan dari klinik yang menyatakan Ayah tidak pernah menjadi pasien mereka.

Semua dokumen itu kami serahkan kepada penyidik.

Tiga hari kemudian, Bagas datang ke rumah sakit.

Dia mengenakan kemeja mahal dan membawa sekeranjang buah.

Begitu melihat kami, dia tersenyum.

“Tante, Om, sepertinya ada kesalahpahaman.”

Raka langsung berdiri, tetapi aku menahannya.

“Duduk, Gas,” kataku.

Bagas meletakkan keranjang buah di meja.

“Saya memang memakai sebagian uang untuk investasi. Tetapi semuanya demi masa depan keluarga.”

“Masa depan keluarga siapa?” tanyaku. “Ayah sampai makan ikan asin di perahu lapuk.”

Bagas menunduk sebentar.

“Saya berniat mengembalikan semuanya.”

“Dengan menjual rumah tanpa persetujuan Ayah?”

Wajahnya memucat.

Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini uang lima ratus juta. Anggap saja permintaan maaf.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Kami tidak sedang menawar harga penderitaan Ayah.”

Bagas mulai kehilangan kesabaran.

“Tante pikir gampang mengurus orang tua selama dua belas tahun? Kalian enak tinggal di luar negeri, tinggal kirim uang!”

Dari ranjang, terdengar suara lemah.

“Bagas.”

Kami menoleh.

Ayah ternyata sudah terbangun.

“Kakek tidak pernah meminta kamu menjadi kaya karena mengurus Kakek.”

Bagas terdiam.

Ayah melanjutkan, “Dulu, waktu ibumu meninggal, Kakek yang membiayai sekolahmu. Kakek tidak pernah meminta balasan. Kakek cuma berharap kamu tumbuh menjadi orang baik.”

Untuk pertama kalinya, wajah Bagas menunjukkan rasa malu.

Namun, rasa malu itu tidak bertahan lama.

Dia mengambil kembali amplopnya dan berdiri.

“Kalau begitu, selesaikan saja lewat pengacara.”

Dia pergi tanpa menoleh.

Dua minggu kemudian, penyidik memperoleh bukti tambahan dari mantan pegawai Surya.

Perempuan bernama Niken itu menyerahkan salinan percakapan, dokumen transaksi, dan rekaman rapat yang pernah disimpannya.

Menurut Niken, Surya mengatur pemindahan aset milik sejumlah lansia dengan menggunakan surat kuasa yang keabsahannya diragukan.

Bagas bertugas mendekati keluarga dan mengendalikan komunikasi.

Namun, ada satu fakta yang membuat kami terpukul.

Bagas bukan hanya mengambil uang.

Dia juga pernah mengajukan permohonan pinjaman menggunakan dokumen identitas Ayah.

Sebagian dana pinjaman tersebut masuk ke rekening perusahaan Surya.

Akibatnya, Ayah tercatat memiliki kewajiban keuangan yang bahkan tidak pernah beliau pahami.

Penyelidikan berkembang menjadi perkara dugaan penipuan, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana terkait aliran dana.

Bagas dan Surya akhirnya ditahan setelah penyidik memperoleh bukti yang dinilai cukup.

Proses hukum masih panjang. Kami sadar tidak semua uang dapat kembali, dan status beberapa aset harus diputuskan melalui jalur hukum.

Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ayah dapat tidur tanpa takut seseorang datang mengusirnya.

Kami menyewa rumah kecil yang nyaman di Ambarawa sambil menunggu pembangunan rumah baru di tanah yang telah kami beli.

Sari mengatur pemeriksaan kesehatan Ayah. Raka memperbaiki kursi roda bekas yang kami gunakan sementara. Dimas memasang lampu taman agar Ayah bisa duduk menikmati udara sore.

Aku sendiri memutuskan memperpanjang cuti dan mempertimbangkan untuk bekerja lebih dekat dengan rumah.

Suatu malam, ketika kami sedang makan bersama, Ayah tiba-tiba berkata, “Kalian tahu kenapa Ayah tetap tinggal di perahu itu?”

Aku menjawab, “Karena Ayah tidak punya tempat lain?”

Beliau menggeleng.

“Awalnya memang begitu. Tetapi setelah itu, Ayah sebenarnya punya kesempatan tinggal di rumah singgah yang ditawarkan orang baik.”

Kami terkejut.

“Kenapa Ayah menolak?” tanya Sari.

Ayah menatap kami satu per satu.

“Karena perahu itu tempat kalian belajar berenang. Tempat ibu kalian dulu memasak ikan hasil tangkapan Ayah. Setiap kali Ayah melihat danau, Ayah merasa keluarga kita masih lengkap.”

Air mataku kembali mengalir.

Ayah kemudian meminta kami mengambil sebuah kotak kayu kecil yang selama ini disimpan di bawah tikarnya.

Kotak itu sudah sangat tua.

Di dalamnya terdapat empat amplop berwarna kecokelatan.

Masing-masing bertuliskan nama kami.

Aku membuka amplop milikku.

Di dalamnya ada surat bertanggal sebelas tahun lalu.

Laras, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, Ayah ingin kamu tahu bahwa Ayah bangga kepadamu. Tetapi jangan habiskan seluruh hidupmu hanya untuk membahagiakan Ayah. Ayah lebih ingin melihatmu hidup tenang.

Tanganku bergetar.

Raka membuka suratnya. Dimas dan Sari melakukan hal yang sama.

Ternyata Ayah menulis surat untuk kami setiap tahun, tetapi tidak pernah berhasil mengirimkannya.

Ada puluhan surat yang tersimpan dalam kotak itu.

Sebagian menceritakan cuaca di Ambarawa. Sebagian berisi doa dan kenangan masa kecil.

Namun, surat terakhir membuat kami semua terdiam.

Surat itu ditulis hanya tiga minggu sebelum kepulangan kami.

Anak-anakku, Ayah sudah semakin lemah. Kalau kalian tidak sempat pulang, Ayah tidak marah. Ayah cuma berharap kalian tidak saling menyalahkan ketika Ayah sudah tidak ada. Uang bisa dicari lagi, tetapi jangan sampai kalian kehilangan kasih sayang satu sama lain.

Aku menangis sambil memeluk Ayah.

Selama ini, kami mengira uang adalah cara terbaik untuk membalas pengorbanannya.

Kami bekerja lembur, menahan rindu, dan melewatkan begitu banyak hari raya demi mengirimkan jumlah yang lebih besar setiap bulan.

Namun, orang yang ingin kami bahagiakan justru menjalani hari-harinya dengan menunggu suara kami.

Beberapa bulan kemudian, rumah baru Ayah akhirnya selesai dibangun.

Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki teras luas yang menghadap ke taman kecil. Ada kamar yang nyaman, dapur bersih, dan ruang keluarga tempat kami bisa berkumpul.

Pada hari pertama menempatinya, Ayah meminta sesuatu yang tidak pernah kami duga.

“Ayah ingin perahu tua itu dibawa ke halaman.”

Raka tertawa heran.

“Untuk apa, Yah? Perahunya sudah hampir hancur.”

“Perbaiki sedikit. Jangan dibuang.”

Kami menuruti permintaannya.

Perahu itu dibersihkan dan diperkuat, lalu diletakkan di bawah pohon mangga sebagai tempat duduk.

Di sampingnya, Ayah memasang sebuah papan kayu.

Tulisan pada papan itu membuat setiap orang yang berkunjung terdiam.

Di sinilah aku pernah merasa paling miskin, bukan karena tidak punya uang, melainkan karena merindukan anak-anakku.

Setahun kemudian, kami berempat kembali berkumpul di Ambarawa untuk merayakan ulang tahun Ayah yang ketujuh puluh delapan.

Bagas masih menjalani proses hukum. Sesekali, melalui pengacaranya, dia mengirimkan surat permintaan maaf.

Ayah tidak pernah membalas dengan kebencian.

Beliau hanya berkata bahwa memaafkan seseorang tidak berarti membebaskannya dari tanggung jawab.

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam, Ayah duduk di perahu tua yang kini berada di halaman rumah.

Aku menghampirinya sambil membawa dua cangkir teh hangat.

“Ayah bahagia sekarang?”

Beliau tersenyum.

“Bahagia sekali.”

“Kalau begitu, apa lagi yang Ayah inginkan?”

Ayah memandang ke arah ruang keluarga. Raka sedang bercanda dengan Dimas, sementara Sari menyiapkan makan malam.

Lalu beliau menggenggam tanganku.

“Dulu Ayah selalu menunggu kalian pulang membawa sesuatu. Sekarang Ayah tahu, yang paling berharga bukan apa yang kalian bawa.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

“Apa, Yah?”

Ayah tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Kalian sendiri.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, kami makan berlima di meja yang sama.

Tidak ada makanan mahal. Hanya nasi hangat, sayur bening, tempe goreng, dan ikan bakar kesukaan Ayah.

Namun, ketika melihat beliau tertawa mendengar cerita Raka, aku menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikiran kami.

Kami telah menghabiskan hampir delapan miliar rupiah untuk membangun kehidupan yang layak bagi Ayah.

Tetapi kebahagiaan yang benar-benar beliau tunggu ternyata tidak pernah membutuhkan uang sebanyak itu.

Hanya membutuhkan empat anak yang akhirnya pulang.

Dan sebuah meja makan yang tidak lagi menyisakan kursi kosong.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang