Malam ketika Ardi diam-diam mengikuti istrinya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa perempuan yang selama delapan belas tahun dianggapnya tidak memiliki apa-apa itu akan membuat seluruh hidupnya berantakan hanya dalam hitungan hari.
Di balik pintu kaca sebuah pusat seni mewah di Jakarta Selatan, Ardi melihat pemandangan yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Sari, istrinya, sedang berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang berpakaian elegan. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun membungkuk hormat kepadanya, sementara beberapa tamu lain bertepuk tangan.
Namun, bukan itu yang membuat Ardi hampir jatuh pingsan.
Di dinding utama ruangan tersebut terpampang sebuah lukisan besar bergambar perempuan yang sangat dikenalnya.
Perempuan itu adalah Sari.
Di bawah lukisan terdapat tulisan yang membuat kedua lutut Ardi gemetar.
Selamat Datang Kembali, Saraswati Mahendra, Pendiri Yayasan Cahaya Perempuan.
Ardi membaca tulisan itu berulang kali.
Saraswati Mahendra?

Nama itu pernah didengarnya bertahun-tahun lalu, ketika ia masih bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan properti. Nama seorang perempuan dari keluarga pengusaha kaya yang konon menghilang dari dunia bisnis setelah mengalami tragedi keluarga.
Tetapi bagaimana mungkin perempuan itu adalah istrinya?
Sari yang dikenalnya hanyalah perempuan sederhana dari Yogyakarta. Ketika mereka menikah, Sari bahkan tidak membawa banyak barang. Hanya dua koper pakaian, beberapa buku, dan sebuah kotak kayu tua yang selalu disimpannya di lemari.
Selama delapan belas tahun, Sari memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat kedua orang tua Ardi yang sudah lanjut usia.
Ia jarang membeli pakaian baru.
Ia tidak pernah meminta perhiasan.
Bahkan ketika Ardi mulai sukses dan memiliki perusahaan kontraktor sendiri, Sari tetap memilih berbelanja di pasar tradisional.
Ardi selalu menganggap kesederhanaan itu sebagai bukti bahwa istrinya tidak memiliki ambisi.
Ternyata ia salah besar.
“Pak, Bapak mau masuk?”
Suara petugas keamanan membuat Ardi tersentak.
“Saya… saya mengenal perempuan itu,” jawabnya sambil menunjuk ke dalam.
Petugas tersebut melihat ke arah Sari, lalu tersenyum sopan.
“Oh, Ibu Saraswati? Beliau tamu kehormatan sekaligus pendiri yayasan ini.”
“Pendiri?”
“Iya, Pak. Acara malam ini untuk meresmikan program beasiswa seni bagi perempuan yang mengalami kesulitan ekonomi. Ibu Saraswati sudah lama mendukung program seperti ini.”
Ardi merasa tenggorokannya mengering.
“Sejak kapan?”
“Kalau tidak salah, yayasan ini berdiri hampir dua puluh tahun lalu.”
Hampir dua puluh tahun.
Lebih lama daripada usia pernikahannya.
Ardi mundur perlahan. Ia menempelkan punggung ke pilar, berusaha memahami apa yang baru saja didengarnya.
Tiba-tiba, dari dalam gedung, seorang perempuan muda mendekati Sari sambil membawa sebuah map.
Ardi mengenali wajah itu.
Nadia.
Putri sulungnya yang berusia dua puluh dua tahun.
Selama ini Nadia bekerja di sebuah perusahaan konsultan dan tinggal di apartemen dekat kantornya. Ardi mengira putrinya tidak mengetahui masalah rumah tangganya.
Namun malam itu Nadia memeluk Sari dengan hangat, lalu menggandeng tangan ibunya menuju panggung.
Seorang pembawa acara mengumumkan sesuatu melalui mikrofon.
“Malam ini, kita juga menyambut generasi penerus Yayasan Cahaya Perempuan, Nona Nadia Prameswari, yang akan memimpin program pengembangan usaha bagi para ibu tunggal.”
Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.
Ardi mencengkeram pilar.
Putrinya juga mengetahui semuanya.
Hanya dirinya yang tidak tahu.
Ketika acara selesai, Ardi buru-buru meninggalkan gedung sebelum Sari melihatnya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Mengapa Sari menyembunyikan identitasnya?
Mengapa Nadia ikut merahasiakannya?
Dan yang paling mengganggu, seberapa kaya sebenarnya istrinya?
Ketika tiba di rumah, Rani sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan piyama sutra yang baru dibelikan Ardi.
“Mas dari mana? Kok mukanya pucat?”
Ardi tidak menjawab.
“Jangan bilang Mas benar-benar mengikuti Mbak Sari?”
“Diam dulu, Ran.”
Rani terkejut mendengar nada suaranya.
“Kenapa? Ketahuan selingkuh, ya?”
Ardi menatapnya tajam.
“Aku bilang diam.”
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, Rani memilih tidak membantah.
Sari pulang hampir pukul sebelas malam.
Ia mengenakan gaun merah yang sama, tetapi wajahnya tampak lebih tenang daripada sebelumnya.
Ardi menunggunya di ruang makan.
“Dari mana kamu?”
Sari berhenti sejenak.
“Ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Urusan pribadi.”
Ardi tertawa pendek.
“Sejak kapan kamu punya urusan pribadi yang tidak boleh diketahui suamimu?”
Sari memandangnya lama.
“Sejak suamiku memutuskan membawa perempuan lain untuk tinggal di rumah kami.”
Kalimat itu diucapkan tanpa meninggikan suara.
Namun Ardi merasa seperti ditampar.
“Aku melihatmu malam ini,” katanya akhirnya.
Sari tidak menunjukkan keterkejutan.
“Aku tahu.”
Ardi membeku.
“Kamu tahu aku mengikutimu?”
“Aku melihatmu berdiri di belakang pilar. Petugas keamanan juga memberi tahu bahwa ada pria yang terus memperhatikanku.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menghampiriku?”
Sari meletakkan tasnya di atas meja.
“Karena aku tidak lagi berkewajiban menjelaskan setiap langkahku kepada seseorang yang sudah berhenti menghormatiku.”
Ardi kehilangan kata-kata.
“Sari, sebenarnya siapa kamu?”
Perempuan itu menarik kursi dan duduk.
“Orang yang sama dengan perempuan yang kamu nikahi delapan belas tahun lalu.”
“Tapi nama Saraswati Mahendra itu…”
“Nama lengkapku.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang bahwa kamu berasal dari keluarga Mahendra?”
Sari menghela napas panjang.
“Aku pernah mengatakannya, Ardi. Saat kita baru menikah, aku bercerita tentang keluargaku dan pekerjaan yang kutinggalkan sementara. Kamu bilang tidak tertarik mendengar masa laluku. Kamu ingin istri yang fokus mengurus rumah.”
Ardi mencoba mengingat.
Memang benar.
Dulu ia sering memotong pembicaraan Sari ketika istrinya membahas pendidikan, investasi, atau rencana membangun lembaga sosial.
Menurutnya, semua itu terlalu rumit untuk seorang ibu rumah tangga.
“Tapi kenapa kamu tidak pernah membicarakannya lagi?”
“Karena setiap kali aku mencoba, kamu selalu mengatakan hal yang sama.”
Sari menatap langsung ke matanya.
“Jangan sok pintar. Urus saja dapur.”
Ardi menunduk.
Ia pernah mengucapkan kalimat itu berkali-kali.
Sari berdiri dan mengambil tasnya.
“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”
“Pengacara? Untuk apa?”
“Perceraian.”
Ardi langsung bangkit.
“Kamu tidak bisa memutuskan semuanya sendiri!”
Sari tersenyum getir.
“Lucu sekali. Ketika kamu membawa Rani ke rumah, kamu juga tidak meminta persetujuanku.”
Malam itu Sari masuk ke kamar tamu dan mengunci pintunya.
Ardi tidak bisa tidur.
Pagi berikutnya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Seorang perempuan berjas abu-abu turun sambil membawa tas dokumen.
Namanya Ratna Kusuma, pengacara keluarga Mahendra.
Di ruang tamu, Ratna menyerahkan surat permohonan perceraian dan beberapa dokumen kepada Ardi.
“Pak Ardi, Ibu Saraswati meminta agar seluruh proses dilakukan secara tertib. Beliau tidak berniat mempermalukan Bapak di hadapan publik.”
Ardi membolak-balik dokumen itu dengan tangan gemetar.
“Bagaimana dengan rumah ini?”
Ratna membuka berkas lain.
“Rumah ini merupakan aset pribadi Ibu Saraswati yang dibeli sebelum pernikahan. Sertifikatnya masih atas nama beliau.”
Ardi terdiam.
Selama ini ia mengira rumah besar di kawasan Pondok Indah itu merupakan hasil kerja kerasnya.
Memang, ketika mereka menikah, Sari mengatakan rumah tersebut adalah pemberian keluarganya.
Namun setelah bertahun-tahun tinggal di sana, Ardi mulai menganggapnya milik sendiri.
“Mobil-mobil di garasi?”
“Dua kendaraan atas nama perusahaan Bapak. Satu kendaraan atas nama Ibu Saraswati.”
Ardi mengembuskan napas lega.
Setidaknya masih ada sesuatu yang menjadi miliknya.
Namun Ratna belum selesai.
“Ada satu persoalan lain yang perlu kita bahas.”
Ia mengeluarkan dokumen perjanjian investasi.
“Tiga tahun lalu, perusahaan Bapak menerima pendanaan sebesar dua puluh lima miliar rupiah dari PT Mahendra Kapital melalui skema investasi yang disertai jaminan pribadi dan sejumlah aset perusahaan.”
Ardi mengangguk.
Ia sangat mengenal investasi itu.
Dana tersebut menyelamatkan perusahaannya ketika hampir bangkrut akibat proyek apartemen yang gagal.
“Tapi apa hubungannya dengan Sari?”
Ratna menatapnya dengan tenang.
“PT Mahendra Kapital merupakan perusahaan investasi yang dikendalikan Ibu Saraswati.”
Ardi merasa dadanya sesak.
“Tidak mungkin.”
“Dokumennya lengkap, Pak.”
“Jadi selama ini…”
“Ibu Saraswati mengetahui perusahaan Bapak sedang mengalami kesulitan. Beliau menyetujui investasi itu melalui tim profesional, tanpa meminta namanya diungkapkan kepada Bapak.”
Ardi teringat malam ketika ia pulang membawa kabar bahwa seorang investor besar bersedia menyelamatkan perusahaannya.
Sari sedang menyiapkan makan malam.
Ia hanya tersenyum dan berkata bahwa dirinya ikut bahagia.
Ardi malah membanggakan kecerdasannya mendapatkan investor.
Bahkan ia sempat mengatakan bahwa Sari tidak akan memahami bagaimana kerasnya dunia bisnis.
Sekarang semua kenangan itu terasa seperti ejekan terhadap dirinya sendiri.
“Apakah Sari akan menarik seluruh uangnya?” tanyanya ketakutan.
“Perjanjian investasi tetap berlaku sesuai ketentuannya. Tetapi tim audit menemukan beberapa transaksi yang perlu dijelaskan.”
Ratna menggeser selembar laporan ke hadapannya.
“Termasuk pembayaran apartemen, perjalanan pribadi, dan pembelian barang mewah menggunakan rekening operasional perusahaan.”
Wajah Ardi berubah pucat.
Apartemen itu dibelinya untuk Rani sebelum perempuan tersebut pindah ke rumah.
Perjalanan pribadi yang dimaksud adalah liburan mereka ke Bali.
“Ini urusan internal perusahaan saya.”
“Benar. Karena itu, auditor meminta klarifikasi terlebih dahulu. Jika terbukti ada penyalahgunaan dana, konsekuensinya akan ditentukan berdasarkan dokumen dan hukum yang berlaku.”
Setelah Ratna pergi, Ardi duduk terpaku hampir satu jam.
Rani muncul dari lantai atas.
“Mas, tadi siapa? Kok serius sekali?”
Ardi menatap perempuan itu.
“Rani, kamu masih punya tabungan yang kuberikan bulan lalu?”
Rani mengerutkan kening.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Aku butuh uang untuk menyelesaikan masalah perusahaan.”
“Masalah apa?”
“Perusahaanku sedang diaudit.”
Rani terdiam sesaat.
Lalu wajahnya berubah.
“Jangan bilang kita akan bangkrut?”
“Belum tentu.”
“Tapi rumah ini aman, kan?”
Ardi tidak menjawab.
“Mas?”
“Rumah ini milik Sari.”
Rani terbelalak.
“Apa?”
“Dan investor terbesar perusahaanku juga dia.”
Untuk beberapa detik, Rani hanya memandangnya.
Kemudian ia tertawa gugup.
“Mas bercanda, ya?”
Ardi menggeleng.
Rani langsung mengambil ponselnya.
“Aku harus pergi sebentar.”
“Ke mana?”
“Ke rumah teman.”
“Katanya kamu mencintaiku?”
Rani berhenti di dekat tangga.
“Aku memang sayang sama Mas. Tapi aku juga harus memikirkan masa depanku.”
Ardi menatapnya tidak percaya.
Perempuan yang selama berbulan-bulan mengatakan tidak bisa hidup tanpanya itu mulai memasukkan pakaian ke koper.
Sore harinya, Rani pergi.
Ia hanya meninggalkan pesan singkat bahwa hubungan mereka sebaiknya diakhiri sampai keadaan membaik.
Ardi membaca pesan itu berkali-kali.
Barulah ia memahami betapa mudahnya seseorang mengucapkan cinta ketika semuanya tersedia.
Namun penderitaannya belum berakhir.
Dua hari kemudian, ayahnya, Pak Hendra, memanggil Ardi ke kamar.
Pria berusia tujuh puluh delapan tahun itu duduk di kursi roda dekat jendela.
“Sari sudah cerita kepada Bapak,” katanya.
Ardi menunduk.
“Pak, aku bisa menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
Pak Hendra memandang putranya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu tahu siapa yang membayar biaya operasi jantung Bapak lima tahun lalu?”
Ardi mengangkat wajah.
“Aku.”
Pak Hendra menggeleng perlahan.
“Bukan. Waktu itu perusahaanmu sedang kesulitan. Kamu bilang uangnya berasal dari pinjaman teman.”
Ardi terdiam.
“Sari yang membayar semuanya. Dia bahkan meminta rumah sakit tidak memberitahumu karena tidak ingin membuatmu malu.”
Pak Hendra menarik napas berat.
“Ibumu juga tahu. Kami berdua sudah lama tahu siapa Sari sebenarnya.”
“Kenapa Bapak tidak pernah bilang?”
“Karena Sari meminta kami merahasiakannya. Dia ingin kamu mencintainya sebagai istri, bukan karena hartanya.”
Ardi menutup wajah dengan kedua tangan.
“Dan aku malah…”
“Kamu membawa perempuan lain ke rumah yang dibeli istrimu. Kamu mempermalukannya di depan orang tuamu sendiri.”
Suara Pak Hendra bergetar.
“Bapak membesarkanmu dengan harapan kamu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Bukan laki-laki yang merasa berhak menyakiti perempuan hanya karena perempuan itu memilih diam.”
Air mata Ardi akhirnya jatuh.
Selama delapan belas tahun, ia menganggap kesabaran Sari sebagai kelemahan.
Ia tidak pernah menyadari bahwa perempuan itu memiliki begitu banyak kesempatan untuk meninggalkannya, tetapi memilih bertahan demi keluarga.
Seminggu kemudian, Ardi mendatangi pusat seni tempat ia pertama kali melihat identitas asli istrinya.
Sari sedang memeriksa beberapa lukisan bersama Nadia.
Ketika melihat ayahnya datang, Nadia langsung berdiri di depan ibunya.
“Ayah mau apa?”
“Ayah hanya ingin bicara dengan Ibu.”
Nadia menatapnya dingin.
“Ayah sudah cukup banyak membuat Ibu menderita.”
“Nadia, tolong.”
Sari menyentuh lengan putrinya.
“Tidak apa-apa. Ibu bisa bicara dengannya.”
Mereka duduk di sebuah ruang kecil yang menghadap taman.
Ardi memperhatikan wajah Sari.
Perempuan itu tampak berbeda.
Bukan karena riasannya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Sari terlihat benar-benar bebas.
“Aku minta maaf,” kata Ardi.
Sari mengangguk.
“Aku mendengarnya.”
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
“Beberapa hal tidak bisa diperbaiki hanya dengan penyesalan.”
“Aku akan meninggalkan Rani.”
“Dia sudah meninggalkanmu, Ardi.”
Ardi tersentak.
Sari melanjutkan dengan tenang.
“Aku tidak pernah ingin kamu kehilangan perusahaanmu. Aku juga tidak pernah berharap Rani meninggalkanmu. Aku hanya ingin keluar dari pernikahan yang tidak lagi menghargai keberadaanku.”
Ardi menelan ludah.
“Kenapa kamu baru sekarang memutuskan pergi?”
Sari terdiam cukup lama.
Kemudian ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan Sari yang masih muda, berdiri di depan sebuah galeri seni bersama seorang perempuan berambut pendek.
“Ini adikku, Maya.”
Ardi mengangguk pelan.
Ia tahu Maya meninggal sebelum mereka menikah, tetapi tidak pernah mengetahui kisah lengkapnya.
“Dulu Maya menikah dengan laki-laki yang selalu merendahkannya. Dia berhenti melukis, berhenti bekerja, bahkan berhenti bertemu teman-temannya karena ingin mempertahankan rumah tangga.”
Suara Sari mulai bergetar.
“Ketika akhirnya Maya berani pergi, dia sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Tidak lama kemudian, dia meninggal karena sakit. Sebelum meninggal, dia memintaku berjanji untuk tidak menghabiskan hidup hanya demi menyenangkan orang lain.”
Sari mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
“Aku mendirikan yayasan itu untuk mengenangnya. Tetapi ironisnya, aku sendiri perlahan menjalani kehidupan yang sama.”
Ardi menunduk semakin dalam.
“Ketika kamu membawa Rani ke rumah, aku sadar bahwa aku sudah terlalu lama mengingkari janjiku kepada Maya.”
“Jadi setiap malam kamu pergi…”
“Aku kembali bekerja. Mengurus yayasan, bertemu para seniman, dan menyelesaikan proyek yang bertahun-tahun kutunda.”
Sari tersenyum kecil.
“Gaun-gaun itu bukan untuk menarik perhatian laki-laki lain. Aku hanya ingin kembali melihat perempuan yang dulu kukenal ketika bercermin.”
Ardi menangis tanpa suara.
Ia baru memahami bahwa selama ini ia tidak kehilangan istrinya karena seorang pria lain.
Ia kehilangan Sari karena perbuatannya sendiri.
“Masih adakah kesempatan untuk kita?” tanyanya lirih.
Sari memandangnya dengan mata basah.
“Aku sudah memberimu delapan belas tahun, Ardi. Sekarang izinkan aku memberikan sisa hidupku kepada diriku sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputuskan.
Ardi pindah ke sebuah apartemen sederhana di Jakarta Timur. Perusahaannya masih beroperasi, tetapi ia harus menjual sebagian aset untuk mengembalikan dana yang digunakan secara tidak semestinya dan memenuhi kewajiban bisnisnya.
Sari tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Ardi.
Ia hanya memastikan segala sesuatu diselesaikan dengan adil.
Kedua orang tua Ardi tetap tinggal di rumah lama atas persetujuan Sari. Ia bahkan masih mengunjungi mereka setiap akhir pekan, membawa makanan kesukaan Ibu Hendra dan menemani Pak Hendra berbincang di taman.
Suatu sore, Nadia bertanya kepada ibunya.
“Bu, kenapa Ibu masih baik kepada Kakek dan Nenek? Bukankah mereka keluarga Ayah?”
Sari tersenyum.
“Karena hubungan Ibu dengan mereka tidak harus berakhir hanya karena pernikahan Ibu berakhir. Mereka juga pernah menyayangi Ibu dengan tulus.”
Nadia memeluknya.
“Aku bangga sama Ibu.”
Setahun kemudian, sebuah pameran seni besar diselenggarakan di Jakarta.
Di antara puluhan karya yang dipajang, terdapat satu lukisan yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan berdiri di depan cermin.
Di belakangnya terlihat rumah besar dengan pintu tertutup.
Sementara di dalam cermin, perempuan tersebut tampak berdiri di sebuah taman luas yang dipenuhi cahaya matahari.
Judul lukisan itu adalah Perempuan yang Pulang kepada Dirinya Sendiri.
Ardi datang diam-diam ke pameran tersebut.
Ia berdiri lama di depan lukisan itu.
Kemudian ia melihat Sari di seberang ruangan.
Perempuan itu mengenakan gaun putih sederhana, tertawa bersama Nadia dan beberapa sahabatnya.
Ardi ingin menghampiri.
Namun langkahnya terhenti ketika seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun mendekati Sari sambil membawa sebuah buku gambar.
“Ibu Sari, lihat! Aku sudah bisa melukis wajah Ibu!”
Sari berjongkok dan memeluk anak itu.
“Bagus sekali, Sayang. Kamu hebat.”
Seorang pengunjung menjelaskan kepada Ardi bahwa anak tersebut merupakan penerima beasiswa yayasan. Ibunya adalah seorang penyintas kekerasan rumah tangga yang kini bekerja sebagai pengajar seni.
Ardi kembali menatap lukisan di depannya.
Barulah ia mengerti sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan rumah, uang, atau perusahaan.
Selama delapan belas tahun, ia memiliki kesempatan mengenal seorang perempuan luar biasa.
Namun ia terlalu sibuk merasa lebih hebat untuk benar-benar melihatnya.
Ketika Ardi hendak pergi, matanya menangkap tulisan kecil di sudut bawah lukisan.
Tulisan tangan Sari.
“Aku pernah mengira rumah adalah tempat seseorang menungguku pulang. Kini aku tahu, rumah adalah tempat aku tidak perlu kehilangan diriku sendiri.”
Ardi berdiri membeku.
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar tanpa menemui Sari.
Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha meminta perempuan itu kembali.
Sebab akhirnya ia memahami bahwa mencintai seseorang juga berarti menghormati keputusannya untuk pergi.
Di dalam galeri, Sari sempat melihat punggung Ardi menghilang di balik pintu kaca.
Nadia mendekatinya.
“Ibu baik-baik saja?”
Sari mengangguk.
“Lebih baik daripada yang pernah Ibu bayangkan.”
Ponselnya kemudian bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
Terima kasih karena telah membantu saya dan anak saya memulai hidup baru. Dulu saya hampir menyerah, tetapi kisah Ibu membuat saya berani pergi.
Sari membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia menatap lukisan Maya yang tergantung di ujung ruangan.
Dalam hati, ia berbisik bahwa janji mereka akhirnya ditepati.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Sari kembali berdandan cantik.
Namun kali ini tidak ada suami yang mengikutinya dengan penuh kecurigaan.
Tidak ada perempuan lain yang menunggu di rumah untuk merendahkannya.
Dan tidak ada lagi alasan baginya untuk menyembunyikan kebahagiaan.
Ketika Nadia bertanya ke mana mereka akan pergi, Sari tersenyum lebar.
“Kita makan malam. Ibu yang traktir.”
“Untuk merayakan apa?”
Sari menggenggam tangan putrinya.
“Untuk merayakan hidup yang akhirnya benar-benar menjadi milik Ibu.”
Mereka berjalan keluar bersama, meninggalkan galeri yang masih dipenuhi pengunjung.
Di belakang mereka, lukisan perempuan di depan cermin itu tetap tergantung dengan tenang.
Dan untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, Sari tidak sedang meninggalkan rumah.
Ia sedang pulang kepada dirinya sendiri.
